
CHAPTER 31
Pengejaraan Ke Barat Laut
Larasati hatinya sudah terjerat, ia berjalan limbung tidak bersemangat memasuki balai pertemuan di Istana.
Semua orang sudah berkumpul di sana tidak terkecuali ibunya Nyai Puspa Sagopi.
Diayunkan langkahnya menuju tempat duduk ibunya. Ada satu kursi kosong yang sengaja disiapkan ibunya untuknya.
Kedatangannya membuat semua mata memandangnya dengan kagum, terpesona dan birahi.
Masih muda cantik, ranum dan montok berjalan gemulai melintasi balai pertemuan untuk bergabung dengan ibunya.
Mata-mata lapar dan
mengilar keluar dari sorot mata para dedengkot yang biasa mengumbar
nafsu. Apalagi setelah ia duduk di samping ibunya. Sama-sama cantik bak
pinang dibelah dua.
Bukan Larasati tidak merasa semua mata lapar ditunjukkan padanya, tapi kali ini hatinya lagi tidak berselera.
Ia tersenyum kepada
hadirin sangat dipaksakan. Ibunya melihat ia tersenyum sumbang,
menyenggolnya meminta penjelasan. Namun, ia hanya diam dan pura-pura
menyimak apa yang dikatakan Guru Negara Jumala.
Sambil melirik ke
seluruh yang hadir. Ia mendapati, wajah-wajah aneh, sangar dan
menakutkan. Teman-teman ibunya adalah para tokoh golongan hitam dan para
penjahat. Yang berniat menumpang kenikmatan dan kekuasaan melalui
gerakan bawah tanah untuk menggulingkan Raja yang syah.
Terus mengedar matanya,
dan tepat matanya menangkap wajah tampan berambut ikal milik Baskoro
yang pernah bertemu kemarin lalu. Matanya tang tajam menatapnya dan
kemudian melempar senyum termanis.
Aih, ternyata pemuda ikal ini satu golongan dengan ibunya.
*
Pikiran Larasati melayang mencari bayang Ganesha. Tubuhnya ada di ruang itu, pikirannya terbang melayang tak tentu arah.
" Lakukan semua yang sudah menjadi tugasnya, dan bersiaplah di pos masing-masing. Tunggu perintah selanjutnya.
Tujuan bersama kita sudah di depan mata. Tinggal satu langkah lagi.
Akan tetapi kali ini kita harus bersabar dan menunggu. Bersiap untuk menunggang peristiwa yang akan terjadi dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya buat kita.
Aku rasa pertemuan kali ini cukup di sini.
Sebelum
kembali ke tempat masing-masing, nikmatilah suguhan yang telah
disiapkan oleh junjungan kita, Perdana Menteri Banara," suara Jumala
jelas dan mengakhiri pertemuan.
Bersama ditutupnya
pertemuan, keluarlah seperti kupu-kupu dan kumbang muda, yang
cantik-cantik dan tampan membawa aneka hidangan. Makanan yang aneka
macam dan cawanan anggur aneka warna.
Melenggak lenggok, tegap gagah menyajikan senuanya untuk meramaikan pesta.
Musik pun mengalun, dan keluarlah para penari cantik gemulai dengan tarian yang indah dan suka cita.
Semua bergembira, semua berpesta. Menyesap anggur, ikut menari dan menyanyi.
Larasati melihat itu semua membuat hatinya tawar ternyata.
Entah mengapa hasratnya untuk bergelimang dengan orang-orang segolongan ini ternyata kini hampir memudar sudah?
Hanya beberapa hari bergaul dengan Ganesha yang ramah, baik hati dan kesatria membuat ia muak berada di sini.
Di antara manusia penuh nafsu, penuh dendam, penuh hasrat yang menghalalkan segala cara.
Ia semakin muak ketika Baskoro menghampirinya.
" Hai, cantik. Ternyata kita segolongan, ya. Ayo, kita nikmati pesta!
Mari
minum dan menari, dan... hmmm aku pun siap menghangatkanmu," katanya
kurang ajar sambil mengangkat alisnya dan menebar senyum mengundang.
Larasati, paham akan niat yang tersembunyi dari Baskoro. Ia sudah sangat berpengalaman.
Baskoro,
tinggi gagah dan tampan, namun begitu liar berbeda sekali dengan
Ganesha... Ah... kembali lagi ingatannya tentang Ganesha?
Larasati hanya
menggeleng memberikan isyarat penolakan kepada Baskoro. Ia memilih duduk
diam di antara keramaian pesta. Dari sudut matanya ia melihat ibunya
Nyai Puspa Sagopi, sudah jatuh dalam pelukan pemuda tampan yang memang
sengaja disiapkan untuk menjamu tamu wanitanya. Demikian juga untuk para
lelakinya, disiapkan gadis cantik menawan.
Baskoro tidak memaksa, ia segera berbalik meneruskan pestanya.
*
Grha Hening Jiwa begitu
megah. Istana milik Pangeran Ludiro sang penyuka dan penikmat seni.
Keindahan istananya adalah cerminan citarasa seni yang dimiliki.
Pangeran Ludiro membawa rombongan itu ke Villa Garuda.
Ganesha berjalan di samping ayahnya.
" Ganesha, apa
hubunganmu dengan Hrastu Bhumi? Mengapa ilmumu yang bisa merubah diri
menjadi besar dan bisa berputar seperti gasing, persis milik pembrontak
Hrastu Bhumi?," tanya ayahnya masih penasaran.
" Oya, satu lagi, mengapa perbawa ajian Bianglala Pengejar Roh berubah dingin?" kejarnya lagi.
" Maaf, Ayah. Ilmu yang
pernah ayah ajarkan kepadaku, oleh penolongku yaitu kakek guru Pradalbo
dari Negeri Tanpa Langit, diubah menjadi seperti itu, dihilangkan
perbawa panas atau kandungan ganasnya.
Bianglala Pengejar Roh,
diubah menjadi Bianglala Pengingat Sukma, sedang Bayangan Seruling
Pencabut Nyawa diubah menjadi Bayangan Seruling Pemikat Sukma," terang
Ganesha, yang didengarkan oleh yang lain.
" Kakek Pradalbo adalah
kakak seperguruan dari Hrastu Bhumi, yang sengaja dicari untuk diberi
hukuman karena telah melakukan makar di Negeri Tanpa Langit dan merusak
nama perguruan. Sayang setelah gagal mencelakakan aku, ia hilang entah
kemana," lanjutnya lagi.
Dari keterangan Ganesha, kecurigaan Santika hilang sudah.
Jurus dan ajian mirip,
ternyata berasal dari satu sumber. Untung saja, dasar semua ilmu yang
dimiliki Ganesha dari golongan putih.
Pantas sekali Ganesha begitu sakti seperti itu.
" Anakku, di manakah aku
bisa menemui Kakek Pradalbo. Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena
telah mengasuh dan membimbingmu menjadi seperti ini?" tanya Santika
lagi.
" Itulah yang menjadi masalah Ayah. Kakek Guru berpesan kepadaku, ' Jangan di cari. Kalau memang berjodoh. Kita semua akan bisa bertemu'
begitulah pesannya, Ayah," penjelasaan Ganesha semakin mempertegas
bahwa sang penolong atau kakek gurunya itu adalah pendekar tanpa pamrih.
Santika hanya bisa mengangguk setuju dan paham sekali.
*
Rombongan memasuki Villa Garuda menuju ruang pertemuan. Semua undangan sudah hadir dan menempati kursi yang telah disediakan.
Radar berteriak lantang. Melihat junjungannya memasuki ruang pertemuan.
" Pangeran Ludiro, telah
hadir bersama rombongan," suara bergema memenuhi setiap ruang Villa
Garuda. Semua tamu undangan berdiri menghormat.
Pangeran Ludiro yang berpakaian putih khasnya menuju kursi terbesar di ujung meja berhias ukiran Rajawali Emas yang gagah.
Berturut, Santika, Ganesha, Kinanti, Kemala Ayu mengambil sisi sebelah kanan di depan Pangeran Ludiro.
Sedang Lingga, Paramitha dan Pramesti mengambil duduk sebelah kiri di depan Pangeran Ludiro.
__ADS_1
Setelah sejenak hening. Pangeran Ludiro berdiri dari kursinya.
Badannya
tegap kukuh, wajahnya tampan dengan kumis dan jenggot tipis menambah
kejantanan dan kewibawaannya. Tatapan matanya tajam dalam.
" Selamat malam,
sahabat-sahabatku semua. Terima kasih atas kehadiran dan kelapangan hati
sahabat semua mengabulkan undanganku. Ada yang menerima undangan
langsung dari utusanku, ada juga yang hanya menerima undangan yang
dibawa khusus oleh burung-burung piaraanku. Tidak mengurangi rasa
hormatku.
Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih," suara Pangeran Ludiro perlahan dalam dan berwibawa, membekas bagi para pendengarnya.
Tatapnya mengitar ke arah sekelilingnya. Lalu lanjutnya :
" Sahabat semua, malam
ini aku kumpulkan di tempat ini dengan tujuan untuk membahas,
merundingkan permasalahan berat yang melanda Negeri Asoka ini. Selain
hilangnya Baginda Raja yang sangat luar biasa, juga untuk membahas
kelanjutan menghadapi keadaan genting negeri ini," perlahan namun pesan
yang ingin disampaikan sangat jelas.
" Sebelumnya aku perkenalkan dari sisi kanan tengah.
Kartiko
murid utama Perguruan Rajawali Sakti. Yang mewarisi ilmu Pedang Kepakan
Sayap Rajawali dan ilmu pukulan Rajawali Sakti Meniti Pelangi, wakil
dari Guru Yadara." Nama yang disebut dan diperkenalkan, berdiri dan
melempar senyum ke sekeliling sambil mengangkat kedua tangan di depan
dada memberi hormat.
" Selanjutnya Ki
Manggala, Ki Warso dan Ki Jayabaya wakil dari Guru Ki Sardulo yang telah
menguasai ajian Cakar Macan," suara terang jelas. Kemudian:
" Karsih dan Sekar
mewakili Guru Dyah Puspa dari Timur, yang menguasai ajian Selendang
Penebar Mawar,"mendengar perkenalan itu, Kinanti melempar senyum ke arah
saudara seperguruannya, wajahnya terlihat senang dan bangga.
" Yang terakhir wakil
dari perguruan Gajah Hoya, wakil dari Guru Gompala yang telah menguasai
ajian Gajah Agni dan Terompet Gajah Pengusik Rimba, Ki Rangga.
Semua adalah mewakili guru-guru beliau terhormat yang tidak bisa turun gunung lagi untuk berjuang bersama ,"
" Selanjutnya berturut
ke arah kiri, Sahabat Wijaya, bekas Kepala Tilik Sandi Asoka, Gopala
Menteri Kehakiman, Supala Menteri Keuangan, dan Hasada Menteri Urusan
Rumah Tangga, menteri lama di masa Raja Bengala,"
Semua mata memandang ke arah para menteri lama yang telah " disingkirkan " dari lingkungan istana".
" Yang cantik muda itu
adalah Kemilau Kemuning putri dari Hartawan Paling Dermawan di Negeri
Asoka, Cipta Hanggada," Kemilau menjadi tersipu diperkenalkan seperti
itu, senyumnya mengambang di wajah cantiknya. Dari ujung matanya ia
melirik ke seberang ke arah Ganesha.
Perasaan hatinya sangat bahagia, ternyata Ganesha masih mengenalinya. Semula ia terkejut melihat Ganesha ada di ruangan itu. " Siapakah dia sebenarnya?" batinnya penasaran.
" Selanjutnya mungkin ada yang belum kenal atau hanya kenal ceritanya saja.
Pramesti,
ini adalah terhitung cucuku sendiri, Paramitha adalah keponakanku dan
inilah Lingga Pendekar Jari Sakti suaminya, yang telah bahu membahu
dengan para patriot lain untuk menyelamatkan Negeri Asoka dari makar
penjahat Hrastu Bhumi," dengan bersahaja keluarga pendekar dan turunan
raja ini memberi hormat dengan tersenyum tanpa memperlihatkan sedikitpun
kesombongan.
" Dan yang terakhir yang
selalu menghebohkan sepak terjangnya adalah Santika Pendekar Seruling
menjadi konon dari berita yang aku terima dikenal sebagai Pendekar
Siluman yang muncul dari Timur Laut Negeri Asoka, Kinanti dan Kemala
Ayu, isteri dan anak perempuan dari Pendekar Santika," lanjut Pangeran
Ludiro dengan mata berbinar.
Santika sekeluarga
dengan bersahaja memberikan salam penghormatan kepada semua. Malah
Santika terlihat jengah mendapat pujian penghormatan seperti itu.
Yang membuat penasaran
para hadirin adalah kedatangan Ganesha yang dijuluki sebagai Pendekar
Siluman, aih... seperti apa ya kesaktiannya.
Yang lebih penasaran lagi adalah Kemilau Kemuning " mengapa
Ganesha dijuluki sebagai Pendekar Siluman? Jahatkah dia? Atau ilmunya
yang dimilikinya ilmu hitam? Tapi, tidak mungkin begitu, ia kan anak Pendekar Santika? kebingungan mengusik hatinya. Pandangan matanya tidak lepas dari gerak-gerik Ganesha di seberangnya.
Kembali terdengar suara Pangeran Ludiro yang jelas dalam dan berwibawa.
" Langsung kepada inti permasalahan. Karena kita harus bergerak cepat.
Gerakan ini dibagi 3 bagian.
Bagian
pertama, bertugas untuk melakukan penyelidikan, pengejaran dan merebut
Baginda Raja kembali. Tolong, Wijaya berikan gambar atau denah Istana,
dan wilayah Asoka sampai kepesisir Utara tempat penculik dan Baginda
Raja menghilang kepada Santika yang memimpin kelompok satu dibantu oleh
Lingga dan anak Ganesha!" perintah Ludiro kepada Wijaya.
" Bagian Kedua, dipimpin
oleh Wijaya bertugas mengumpulkan semua pendekar, para patriot, rakyat
jelata yang masih setia kepada Negeri Asoka, dan tidak ingin Negeri
Asoka Musnah.
Para wakil dari perguruan, tolong dibantu menyiapkan
kekuatan dengan melatih rakyat sukarelawan untuk menjadi tentara
cadangan!" Wijaya mengangguk cepat dan siap menunaikan tugas.
" Bagian yang terakhir
dipimpin oleh Paramitha dan Kinanti, membantu keamanan ibukota Asoka.
Dan membantu konsilidasi Menteri Gopara dan Menteri lainnya untuk
mempersiapkan segala aspek dan kebutuhan untuk jalannya roda
pemerintahan di segala segi agar lebih baik!" ringkas, taktis
masing-masing diberi tugas.
Pertemuan di Villa Garuda masih terus berlanjut untuk membicarakan semua yang dibutuhkan secara terperinci.
Sesuai
perintah Pangeran Ludiro, semua tetap menunggu perkembangan apa yang
terjadi. Namun dalam keadaan menunggu, semua harus bergerak untuk
mempersiapkan semuanya.
*
Setelah mendapat penjelasan tentang keadaan Istana dan Wilayah yang menjadi bagian dari alur penculikan.
Segera saja Santika, Lingga dan Ganesha. Bergerak cepat berangkat keesokan harinya.
Telah disepakati, Lingga memeriksa dan meyelidiki jejak ke Istana.
Santika bergerak menyisir dari sisi Barat ke arah pesisir Utara.
Ganesha bergerak menyisir dari sisi Timur ke arah pesisir Utara.
Dari jejak yang
ditemukan berupa Panji kuning yang bergambar Naga Menelan Matahari,
dapat diyakini oleh Wijaya sebagai Kepala Tilik Sandi Negara, bahwa
panji itu adalah milik Kerajaan Sangga Langit di seberang lautan Barat
Laut Negeri Asoka dan Gomora sebagai rajanya.
Kemudian selanjutnya akan bertemu di pesisir Utara untuk mengejar ke seberang lautan!
*
__ADS_1
Lingga melakukan
penelitian di sekitar istana. Mencari jejak yang mungkin bisa memberikan
jalan atau tanda-tanda ke mana Baginda Raja Baruna lenyap.
Kedatangan Lingga
membuat Ayah Mertuanya Banara, menjadi waspada dan hati-hati. Walaupun
tanpa sedikitpun perasaan curiga dari Lingga, bahwa Banara mempunyai
andil juga dalam penculikan Baginda Raja. " Pembiaran " dan pengejaran
yang tidak sepenuh hati, sehingga Baginda Raja berhasil di culik adalah
siasat Banara, melempar batu sembunyi tangan. Atau meminjam tangan lain untuk memenuhi kepentingannya.
Penculikan itu adalah skenario di luar dugaan, bak pucuk di cinta ulam tiba.
Maka kehadiran Lingga yang di panggil adiknya Ludiro, perlu di waspadai. Dan ia harus bertindak lebih hati-hati.
Semua penjaga keamanan dan para selir yang menemani Baginda Raja malam itu, kembali ditanyai untuk mengumpulkan penyelidikan.
Kemudian Lingga dengan
kesaktiannya, mencari jejak, di sekitar dinding istana di mana celah
yang lemah sehingga penculik dengan leluasa melakukan aksinya.
Setelah dirasa cukup,
Lingga memohon ijin dan doa restu kepada Perdana Menteri Banara
sekaligus sebagai ayah mertuanya untuk melanjutka misi penyelamatan
Baginda Raja.
" Lakukan tugasmu
sebaik-baiknya. Semoga berhasil menyelamatkan Baginda," restu dan doa
yang keluar dari mulut Banara berbeda 360 derajat dengan yang ada di
hatinya.
Untuk selanjutnya ia harus bergerak dengan hati-hati karena ia merasa Ludiro adiknya sudah memperhatikan sepak terjangnya.
Setelah mendapat doa
restu, berkelebatlah bayangan abu-abu hitam bergerak cepat meninggalkan
istana dengan merapal ajian Walet Merah menuju tempat kesepakatan di
pesisir Utara negeri Asoka.
*
Dengan kesaktiannya
masing-masing penyelidikan itu diselesaikan dengan cepat. Matahari
belumlah tinggi mereka bertiga sudah berkumpul di pesisir Utara. Sekali
lagi, penduduk sekitar yang melihat kejadian itu, ditanyai dan
diperiksa.
Semua informasi sudah
dikumpulkan, dan sebagai tindakan akhir adalah melakukan pengejaran ke
seberang barat laut. Agak menyerong ke Barat.
Rupanya para penculik
melarikan diri ke tempat terdekat dengan pantai. Sehingga akan dengan
mudah meneruskan pelarian lewat lautan. Walaupun lautan yang ditempuh
agak memutar dan jaraknya lebih jauh menuju Negeri Sangga Langit.
*
Bertiga bergegas
menggunakan perahu layar kecil yang cukup untuk tiga orang. Bekal sudah
disiapkan, bertolaklah mereka menuju ke Barat Laut, membelah lautan luas
yang berombak tinggi dan bergelombang ganas.
Untuk mereka bertiga
adalah pendekar-pendekar yang sangat sakti. Keganasan alam, tantangan
dan kesulitan, adalah makanan mereka sehari-hari. Terutama Ganesha yang
lebih paham, mengenai arah angin, gelombang, dan badainya. 10 tahun
lamanya ia hidup di Pulau Kabut Sirna yang keadaan alamnya lebih
berbahaya dan liar jika dibandingkan dengan lautan Barat Laut ini.
Dibantu dengan kekuatan
tenaga dalam, untuk menjalankan perahu, saat mengayuh dayung maupun
memberikan dorongan laju perahu membelah ombak, perjalanan tidak sampai
sehari, bayangan pulau atau batas terdepan Negeri Sangga Langit sudah
terlihat dari laut.
Senja begitu indah dengan warna kesumbanya.
Angin bertiup sejuk
Ombakpun terlihat bersahabat.
Malam dibiarkan turun terlebih dahulu, agar lebih mudah untuk melakukan pendaratan dan melanjutkan penyelidikan.
Santika, Lingga dan Ganesha, tanpa suara menyantap bekal yang sengaja dibawa.
Sekalian menunggu gelap.
Dari tempat yang dipikir
aman, sudah terlihat sebuah benteng tinggi menjulang di atas karang
terjal memanjang dan di masing-masing pos penjagaan berkibar gagah panji
kuning bergambar Naga Menelan Matahari.
Tidak salah negeri Sangga Langit benar ada di depan mata.
*
Restu Bumi, Gonjala, Gonjali, Dewi Wilis dan Buntaran tidak sedikitpun lengah.
Mereka seakan sengaja menunggu lawan untuk menyelamatkan Raja Asoka.
Dari bagian benteng yang
kukuh angker, Restu Bumi tersenyum puas. Rencana berhasil sampai saat
ini. Ia melihat dari atas, ada bayangan perahu kecil berpenumpang tiga
orang mengapung dibalik sebuah karang laut yang tinggi bersembunyi,
namun tidak lepas dari pantauannya yang cerdik.
" Buntaran, atur anak
buahmu untuk menyambut dan merintangi gerakan tiga tamu nanti. Aku yakin
mereka bertiga tidak akan ringan tangan membunuh. Biarkan mereka
bergerak untuk menyelamatkan rajanya. Lakukan perlawanan, dan
perintahkan para penyambut nanti untuk bagaimanapun caranya harus kalah
atau tidak mampu melindungi sandera!" perintah tegas Restu Bumi kepada
muridnya Buntaran.
*
Malam terus turun, tamu
dari lautan sudah mendekat dan segera menambatkan perahu, meloncat gesit
ke arah pantai yang terdiri batu karang terjal menopang benteng yang
tinggi menjulang.
Dengan awas Restu Bumi mampu menangkap bayangan tiga tamunya dibantu cahaya rembulan yang sekali-kali menerangi wajah mereka.
Restu Bumi mengenali
Santika dan Lingga, dan satu lagi yang agak muda ia tidak tahu siapa
sudah bergerak menaiki dinding karang terjal menuju benteng.
Restu Bumi tak lepas
kagum juga melihat Lingga musuh bebuyutannya dengan ilmu jari saktinya
mampu merayapi dinding karang seperti cicak saja.
Santika juga tidak kalah
hebatnya dengan bantuan seruling bajanya dan ilmu ringan tubuhnya mampu
menaiki dinding karang dengan mudah.
Yang terakhir yang termudah, ternyata tidak kalah hebatnya.
Tamu yang datang ternyata adalah pendekar-pendekar sakti dari Negeri Asoka.
Negeri yang membuat dendam Restu Bumi kembali mendidih.
" Ayo, semua mundur. Kecuali Buntaran dan anak buahnya. Beri kesempatan mereka menyelamatkan rajanya.
Buntaran, kamu harus hati-hati, yang serba biru itu adalah Santika Pendekar Seruling Biru.
Yang
abu-abu itu, Lingga Pendekar Jari Sakti. Kamu harus hati-hati, jangan
sampai bentrok keras lawan keras!" katanya tegas memperingatkan muridnya
untuk mentaati rencana yang telah diatur sebelumnya.
Semua mundur menjauh, mengawasi rencana yang telah disusun dari tempat jauh dan aman.
Musuh terus bergerak dengan cepat. Tinggal berapa waktu lagi akan mampu muncul di atas benteng.
Bersambung...
__ADS_1