
**CHAPTER 23
Ooh... Anakku**
Angin dingin masih bertiup
Matahari mulai bergeser
Gunung Panca yang biasa hening
Ada api mulai membakarnya
Ganesha yang telah di kuasainya di sangkutkan di salah satu pokok pohon mati yang ada di pinggir tebing.
Jalan darah bergeraknya ditotok, dan otot gagunya juga.
Ganesha kaku, terayun-ayun di udara.
Meskipun dalam posisi seperti itu, naga kecil itu tidaklah menangis. Matanya yang besar bulat terpentang lebar dan tidak mengenal takut!
Hrastu Bhumi dengan kepercayaan diri, keyakinan tinggi akan mampu mengalahkan Santika, dan Kinanti, sehingga ia tidak memakai cara licik, untuk menekan Santika dengan menyandera anaknya.
***
Kinanti, melihat Ganesha tidak berada dalam cengkeraman Hrastu Bhumi, lega hatinya.
Ia kembali kosentrasi mempercepat serangan kepada Si Iblis Wanita yang mencecarnya dengan suara cemeti yang meledak-ledak di udara, dan tawa genit yang melengking, menggetarkan jantungnya.
Untung saja, suara seruling bagai jeritan naga marah di angkasa membelah cuitan angin yang dingin melabrak datang, langsung terjun ke gelanggang.
Sabetan seruling baja biru mengaung mengusung ajian Bianglala Pengejar Roh, mengagetkan si Iblis Cantik, yang dengan sigap memutar cemeti ekor sembilannya menjadi baling-baling memunahkan terjangan Santika.
Hrastu Bhumi, segera memberi kode untuk mengeroyok Santika.
" Santika hati-hati, yang gundul pucat, itu Hrastu Bhumi," teriak Kinanti memperingatkan Santika.
Santika melengak mendengar teriakan Kinanti. Ia membatin, beda sekali Hrastu Bhumi yang sekarang dengan yang dulu, bak bumi dengan langit. Kalau tidak diberitahu, tak akan percaya jika si tinggi kurus pucat itu adalah Hrastu Bhumi. Belum sempat memperhatikan dengan seksama, angin panas dan angin dingin telah melabraknya.
Dua laki-laki kurus ternyata kembar identik. Sama persis perawakan dan bentuk wajahnya, tidak ada perbedaan secara lahiriah.
Yang membedakan adalah pakaiannya yang satu serba kuning, yang lainnya warna biru.
Kulit keduanya sama-sama hitam, begitu kontrasnya dengan warna pakaiannya.
Satu lagi, tenaga dalam yang dimiliki berbeda. Yang kuning tenaga dalamnya berprebawa panas mengedigkan.
Yang biru tenaga dalam dingin membekukan.
Santika tidak ayal lagi, apalagi Hrastu Bhumi membantu mengeroyok dengan merapal ajian barunya, Badai Es Menerjang Bukit.
Santika, membentengi tiga serangan tingkat tinggi. Diputarnya seruling biru, sekaligus merapal ajian Bayangaan Seruling Pencabut Nyawa di lambari tenaga dalamnya Kasih Pemutus Duka.
Sinar putih terang benderang menyelimuti tubuh birunya.
Dari putaran seruling yang menjadi benteng pelindung, meloncat cahaya putih bagai loncatan meteor.
Dari tangan kiri di dorongnya tenaga meteor memotong serangan dingin dari Si Kembar Baju Biru, Krepa yang melontarkan ajian Semburan Es, terdengar bunyi ledakan yang melontarkan percikan serpihan es yang berhambur ke udara dan mendorong tubuh si Krepa terbang ke udara dengan melontarkan gumpalan darah dari mulutnya.
Dan kibasan seruling birunya melontarkan dua tiga meteor yang menderu menghantam Si Krepi telak, karena Pukulan Matahari Sejengkalnya, kalah kuat dari Kasih Pemutus Duka.
Dua kambratnya tumbang!
Hrastu Bhumi, tidak menyangka, Santika yang dulu tingkatannya masih jauh di bawahnya, ternyata sekarang lebih sakti.
Hanya dengan sekali pukul dua kambratnya tumbang, semua karena salah perhitungan. Mereka menganggap enteng sepasang pendekar ini.
Sekali lagi Hrastu Bhumi kecele.
Santika melepaskan serangan dengan tenaga dalam level tujuh, tanpa basa-basi karena tahu siapa yang dihadapinya. Dulu di geger Bhumi Langit ( lihat Kisah Jari Sakti ), Santika pernah dipecundangi oleh Hrastu Bhumi.
Pukulan Badai Es Menerjang Bukit, sudah terlontar bergelombang, susul menyusul.
Menghantam ke arah Santika yang dalam posisi terbuka, karena habis melontarkan pukulan ke dua jurusan yang menyedot enam bagian tenaga dalamnya.
Untung saja, dengan gesit, Santika berhasil menutup lobang kelemahannya, Bianglala Pengejar Roh miliknya sudah mencapai tingkatan yang tertinggi, mengalir secara spontan seperti aliran darahnya sendiri.
Otaknya berfikir, tenaga dalam menyebar secara otomatis memberikan perlindunganm maupun serangan balik.
Serangan Hrastu Bhumi, tidak berhasil menembus pertahanan Santika, meskipun tenaganya sangat dahsyat, tapi serangannya bagaikan hujan es yang membadai, seolah-olah memasuki pusaran api yang bergolak. Plass..runtuh!
Santika berhasil memperbaiki posisinya. Seruling baja birunya di getarkan kembali, tenaga dalam Kasih Pemutus Duka tingkat sembilan di rapalnya.
Lengkingan naga marah membersit dari tubuh Santika menjelma menjadi sosok naga putih terang benderang, melesat bagaikan meteor mengejar ke arah Hrastu Bhumi yang mati-matian menyelamatkan diri, dengan membuang diri ke belakang dan menjejakkan kaki kurusnya melejit tinggi sepuluh depa.
Mengelakkan hujan meteor berbentuk naga itu dan serangan suara lengkingan naga yang mengganggu jantungnya.
Sambil memperbaiki posisinya, Hrastu sempat melirik kepada Krepa, Krepi dan Remona.
Krepa dan Krepi saling menolong dengan bergantian mengobati dan menyalurkan tenaga dalam.
Remonapun terlihat keteter!
Kinantipun mempunyai ilmu simpanan yang tidak kalah dahsyat. Kinanti mendapat ilmu baru hasil paduan senjata selendang dan senjata rahasia mawar merahnya.
Ajian yang bisa dilontarkan bersamaan. Saat ia menyabetkan selendang, senjata rahasia mawar merahpun bisa sekalian menyerang lawan.
Tarian Hujan Mawar.
Selendang merahnya yang bisa mengeras dan lentur berhasil membuat dua lembar cemeti Remona putus terbakar.
Belum lagi hujan mawar merah membuat sibuk Remona.
Mawar merah yang terbuat dari lempangan baja tipis, bila di lontarkan dengan tenaga dalam akan berubah sekuat dan setajam pisau belati yang di lempar.
Satu, dua berhasil melukai pundaknya. Membuat gerakan Remona menjadi mengendur.
***
__ADS_1
Hrastu Bhumi, terus mundur dan menghindar, kembalinya ke Negeri Asoka untuk membalas dendam, ternyata tidak berjalan mulus.
Musuhnya semakin meningkatkan ilmu dan kesaktiannya, sedang dirinya sendiri, malah banyak kehilangan kesaktian akibat tusukan Inti Gerhana.
Ia menciptakan ilmu yang baru, ternyata tidak mampu menghadapi kesaktian Santika.
Malah dirinya terdesak dengan serbuan meteor yang tidak semakin melemah, malah semakin kuat.
Santika merapal ajian tingkat ke sepuluh, level tertingginya.
" Hiaaaa..," teriakannya mengiringi serangan yang membadai. Hrastu yang terdesak dan sudah kerepotan, terpaksa mengadu tenaganya.
Cahaya putih seterang meteor bertemu dengan sinar biru menggiriskan , meledak di udara, menerbitkan loncatan cahaya bagai kembang api diudara.
" Blaaammm!"
" Oohh!"
Santika merasakan gelombang angin pukulan dingin ke arah dadanya. Secepat kilat Santika melejitkan badan kebelakang, pukulan itu berhasil di hindarinya. Dan dengan kekuatannya ia berhasil menetralisir semua hawa dingin yang menyerangnya.
Di lain pihak, serangan meteor dari Kasih Pemutus Duka, berhasil lolos dari pertahanan Hrastu Bhumi, pukulan itu melenceng sedikit dari sasaran, karena Santika harus mengelakan serangan.
Pukulan Kasih Pemutus Duka menyengat Hrastu Bhumi. Sengatan rasa dinginpun menghantam pundak kirinya, terasa sangat sakit, bahu dan tangan kirinya terasa sangat dingin. Mungkinkah hancur pundaknya?
Keadaan tidak menguntungkan Hrastu, gawat dan membahayakan. Ia harus secepatnya mengambil keputusan.
Hrastu Bhumi, secepat kilat memberikan kode " mundur " .
Para kambrat tidak berpikir dua kali.
Krepa dan Krepi secepat kilat melejit dan melompat ke arah tebing jurang tempat dia datang.
Remona melepas Kinanti, meledakan cemeti ekor tujuhnya,
menyerang tujuh tempat berbahaya dari Kinanti yang membuatnya mundur untuk mengelak.
Dan kesempatan itu di gunakan Remona meninggalkan gelanggang, melayang jauh dan menukik ke tebing jurang, dari mana ia datang juga.
Hrastu Bhumi, yang terluka dan mencoba meloloskan diri. Mengikuti kambaratnya sudah berhasil lolos meninggalkan tempat berbahaya itu.
Dengan cerdik ia melepaskan pukulan jarak jauhnya dengan tangan kanannya. Walau tenaga berkurang namun masih sangatlah berbahaya. Pukulan di lancarkan, bukan..ke arah Santika, namun ke arah jauh..ke arah Ganesha yang di gantung di pokok pohon di pinggir jurang.
" Jangan...!," teriak Kinanti memburu secepat kilat ke arah Ganesha..namun terlambat..
Santika dengan kekuatan tenaga dalamnya, berusaha menggetarkan seruling baja birunya, loncatan meteor terang berusaha memotong pukulan jarak jauh Hrastu Bhumi, tidak berhasil juga..hanya bisa membelokkan arah pukulan.
Bukan menghantam langsung tubuh Ganesha, akan tetapi pukulan itu telak menghajar pokok pohon tempat Ganesha tergantung.
" Daaarrr," suaranya menggelegar dan tumbanglah pohon itu, rubuh ke arah jurang.
Bersama..tubuh Ganesha..
" Ooo..anakku Ganesha," Kinanti melepaskan selendangnya melibat ke arah jatuhnya pokok pohon itu..
Pohon terlibat, terlilit, namun tubuh Ganesha terus meluncur ke bawah jurang..
" Ganeshaaaaaa.. ," semua sia-sia dan terlambat.
Santika dan Kinanti sampai di tepi jurang bersamaan.
Hanya bisa menatap nanar dan terpana.
Sudah 30 depaan jaraknya tubuh Ganesha meluncur cepat ke bawah..
Gunung Panca di puncak tertinggi. Dan Ganesha meluncur bagai peluru.
Tidak akan bisa di selamatkan.
Tidak akan bisa selamat.
Kecuali..
Dengan mata kepala sendiri, Santika dan Kinanti melihat bayangan besar berwarna merah seperti burung raksasa menyambar tubuh Ganesha, dan..
Kemudian tubuh Ganesha dan bayangan merah besar itu, lenyap menerjang rimbunan dedaunan yang menutupi jurang di bawah sana.
Kinanti tidak kuat menahan pukulan batinnya, semula ingin meronta dan meloncat menyusul Ganesha. Untung saja Santika cepat tanggap dan menangkap tubuh Kinanti, saking menyesalnya ia pingsan seketika!
Bersambung..
Negeri Sebrang Lautan
Lereng terjal berkabut
Gunung Panca menjulang tinggi.
Gagah.
Jalan maut adalah jalan keluar terbaik.
Meluncurlah keempat penyatron, dari Gunung Panca, terjun dari mana mereka datang.
Si kembar Krepa dan Krepi yang terluka, di bantu oleh Hrastu Bhumi dan Remona, bahu membahu menyelamatkan diri.
Dengan ilmu ringan tubuh yang sangat tinggi, kecepatan luncuran begitu cepat. Apalagi, kekhawatiran mereka di kejar oleh sepasang suami istri yang sakti.
Hanya berapa kali luncuran, menghilanglah mereka dari pandangan Santika yang masih terpana dengan lenyapnya Ganesha jatuh dan di sambar oleh bayangan merah besar itu.
Ganesha sudah tidak mungkin di kejar. Untuk sementara Ganesha tidak jadi tewas terjatuh ke jurang, ada dewa penyelamat yang terbang menyelamatkannya. Nanti, bisa di cari. Sekarang yang penting yang di lakukan adalah menyelamatkan Kinanti istrinya.
***
Setelah kejadian itu. Santika dan Kinanti turun gunung. Mencari jejak ke beradaan Ganesha anaknya.
Disekitar gunung Panca telah di selidiki dan di jelajahi.
Namun keberadaan anaknya tidak di temukan.
__ADS_1
Diperluas lagi tempat pencarian. Bahkan Santika telah meminta pertolongan dari para sahabatnya di rimba persilatan. Sekirannya, bertemu atau melihat keberadaan anaknya.
Dari kalangan istana, pasukan Pangeran Ludiropun di sebar dan dikerahkan untuk membantu pencarian Ganesha.
Semua sudah di kerahkan. Segala usaha telah dilakukan, namun Ganesha tetap tidak dapat di temukan.
Ganesha bagaikan hilang di telan bumi.
***
Setengah tahun sudah Ganesha telah hilang. Santika dan Kinanti tetap berusaha menempuh segala cara untuk menemukan Ganesha.
Betapa sedihnya perasaan Kinanthi, anak semata wayangnya harus hilang.
Untung saja Santika selalu menghibur dan memberi pengertian, kepada Kinanti.
Memberikan semangat, dan menyakinkan bahwa Ganesha dalam keadaan baik-baik saja. Karena, seseorang telah menyelamatkannya.
Pencarian tidak kunjung bertemu. Akhirnya Santika dan Kinanti, memutuskan untuk menambah momongan.
Seorang bayi perempuan mungil yang cantik dan montok, setelah Sepasang Pendekar itu kehilangan anak pertamanya.
Anak perempuan itu bernama Kemala Ayu.
***
Sementara itu di sebelah Barat Laut Negeri Asoka, jauh di pinggir pantai di Lautan Barat Laut yang ganas, dan berombak besar.
Empat bayangan biru, kuning, hijau dan putih, bergerak cepat
, melesat bagaikan di kejar setan. Padahal jarak yang ditempuh semenjak turun dari Gunung Panca, sudah berjarak selama satu hari satu malam, namun empat bayangan itu melesat ke arah Barat Laut tanpa henti. Melarikan diri dengan secepat bisa, hingga pelariannya menuju ujung pantai.
Dua orang nelayan tengah bersiap melaut. Sibuk memasang layar dan mempersiapkan segala keperluan untuk mencari ikan. Pagi belumlah tinggi, air masih bergelombang sedang, tapi nasib naas menimpa dua nelayan tanpa dosa. Tanpa ba-bi-bu, dua nelayan itu di buat pingasan oleh Hrastu Bhumi yang merebut kapal kecilnya. Hanya dengan sampokan tangannya yang terkembang, angin pukulannya telak menghantam ke dua nelayan yang pingsan seketika, dan jatuh terpelanting ke pasir pantai yang hangat.
Empat orang segera menyerbu naik perahu yang segera bertolak ke arah Barat, menerjang gelombang laut yang berdebur menderu.
***
Perahu kecil meluncur bagaikan peluru, meskipun ketiga penumpangnya terluka, namun tenaga yang tersisa mampu membuat perahu kayu itu terbang di atas gelombang yang ganas. Tenaga dalam yang di miliki ke empat pelarian itu mendorong perahu itu semakin cepat membelah laut menuju pantai di seberang laut yang masih terlihat hanya segaris cakrawala samar. Melaju memecah ombak, mengiris angin, walaupun jarak terentang semakin jauh antara Gunung Panca dan tempatnya kini. Namun keempat orang itu masih menyimpan kecemasan di wajahnya. Hingga kemudian perahu itu menghantam pasir pantai di sebrang laut.
Ambruklah ketiga orang itu kelelahan di atas pasir pantai yang panas.
Remona seorang yang masih tetap bugar, melayangkan pandang ke lautan yang luas tanpa ada tanda-tanda sedikitpun dari pengejarnya
Laut berdebur dengan gelombang tinggi, hanya kesiur angin dan jerit camar penghiasnya di siang yang terik.
Matahari sepenggala, memanaskan pasir pantai yang berwarna putih kelabu.
***
Malam telah turun sepanjang jalan yang berselimut semak belukar, empat pelarian itu meneruskan pelariannya. Menembus berbukitan, menembus hutan yang tampak angker dan seram. Hanya suara kukuk burung hantu dan rembulan pucat menggantung timbul tenggelam di antara ranting yang suaranya menyeramkan di libas oleh angin malam. Hutan Gondo Mayit yang angker. Mendengar namanya saja, orang akan berpikir ulang untuk memasuki kawasan hutan, apalagi di tengah malam seperti ini. Hiih..apalagi, terdengar suara jeritan dan teriakan pertempuran, di tengah hutan begini. Siapa yang bertempur?
" Aaaaa....Ha.ha.ha.ha...," suara jeritan wanita dan tertawa yang seram dari seorang perampok ganas yang sedang menyergap mangsa.
Kepala rampok tinggi besar berbulu lebat sekujur tubuhnya, dengan hidung besar dan mulut lebar. Giginya besar dan panjang menakutkan. Apalagi ia sekarang sedang menyeringai dengan air liur menetes melihat kelinci gemuk putih mulus meringkuk ketakutan di sudut kereta. Melingkarkan lengannya yang mungil bagai pualam di sosok bocah laki-laki bagus yang menangis ketakutan.
Tangan Gento Bulu yang panjang berbulu terulur ingin menangkap dan menarik lengan halus itu, sambil menyeringai senyum seperti orang gila, karena ia merasa betapa empuk mangsanya kali ini. Ia tidak perduli lagi kepada anak buahnya yang mati-matian bertempur dengan pengawalan bangsawan kerajaan ini.
Belum sempat tangannya yang berbulu menjijikan menyentuh.
" Preeet....aaaaa..," jeritan terlontar dari mulutnya karena sebuah cambuk berduri memukul tangannya, sakit dan panas tidak alang kepalang rasanya.
Ia palingkan wajahnya yang seram, matanya yang besar semakin melotot, ketika dalam keremangan malam dan sesekali cahaya rembulan muncul menerangi sosok wanita cantik berbaju hijau pupus dengan senyum yang sangat menawan di bibirnya.
" Huaha..ha..ha..aduh..duh..ada bidadari turun ke bumi. Rejeki nomplok untukku. Sini manis..ayo datang ke pelukanku," katanya kurang ajar. Gento tidak tahu dengan siapa dia berhadapan. Meskipun tangannya merasa perih dan panas karena lecutan cambuk itu, namun nafsunya melihat wanita cantik hijau pupus memegang cambuk ekor tujuh yang tersenyum manis padanya, membuatnya hilang kewaspadaan.
Tanpa bicara dan senyum masih terkulum manis, di kembangkan tangan satu lingkaran penuh dan di lecutkan cambuk ekor tujuhnya, suaranya meledak di angkasa, membuat bayangan merah yang meluncur kembali menyerang ke tujuh bagian tubuh Gento Bulu.
Gento bagaikan tersengat petir, gulungan tujuh cahaya yang menderu membuat dirinya harus mati-matian jungkir balik dan menangkis dengan golok besar melengkungnya yang telah di lolos dan di ayun bolak-balik menangkis serangan cambuk, berusaha memutuskannya.
Malah sebaliknya bukannya memutus malahan goloknya di libat cambuk dan aliran panas menyengat meluncur melalui badan golok menyerang tangannya. Karena tidak tahan panasnya, golok di lepas, bersamaan datang enam bayangan cambuk berhawa panas menyengat sekujur tubuhnya. Pedas, nyeri dan membuatnya merasa tubuhnya demam, panas seketika. Wajahnya yang seram memucat, keringat sebesar jagung mengaburkan matanya yang lebar, dan dalam hitungan detik selanjutnya ia kabur menyelamatkan diri.
" Ada siluman..siluman," teriaknya ngeri dan ketakutan sangat.
Mendengar teriakan pemimpinnya yang kabur melarikan diri, anggota rampok yang berjumlah delapan melepas mangsa yang tidak seimbang, menyeret dua tubuh temannya yang terluka, menyusul kemana larinya Gento Bulu.
Hrastu Bhumi, belum menurunkan tangan kejam, hanya menggunakan sampokan tangannya saja bagaikan mengusir nyamuk. Lawan sudah di buat jungkir balik. Untung saja mereka semua kabur melarikan diri. Kalau tidak nyawa mereka akan melayang terbang.
" Terima kasih tuan penolong," suara laki-laki perlente datang di hadapan Hrastu Bhumi dan tiga orang temannya.
" Sa-saya Harjamurti, Men-menteri Keuangan Kerajaan Sangga Langit, karena terlambat dalam perjalanan hingga mengalami peristiwa ini. Terima kasih atas pertolongan tuan-tuan dan nyonya," kata Harjamurti yang sedikit masih ketakutan.
" Sehingga, saya, istri dan anak saya, selamat dari sergapan rampok tadi," Harjamurti memandang berkeliling kepada penolongnya. Ia melihat dua kembar aneh sedang terluka. Demikian juga penolongnya yang tinggi kurus ini.
" Maafkan kelancangan saya, siapakah gerangan tuan penolong ini, dan ingin pergi kemanakah malam-malam begini dalam keadaan terluka," tanya Harjamurti dengan takut-takut.
" Ha..ha..ha..awas sekali pandanganmu Tuan Menteri. Aku Restu Bumi dan ini temanku, Gonjala, Gonjali dan Dewi Wilis," Hrastu memperkenalkan nama-nama yang baru untuk menyembunyikan identitas sebenarnya. Tanpa memprotes, ketiga kambratnya hanya mengangguk tersenyum. Karena yakin akan siasat dari sekutunya ini.
***
Sejak itu, Hrastu Bumi berubah nama, demikian pula kambratnya yang lain. Tinggal di pavilliun yang di sediakan Harjamurti untuk bersembunyi dan menyembuhkan luka masing-masing.
Restu Bumi di angkat sebagai guru Buntaran anak laki-laki Harjamurti. Anak laki-laki berusia 10 tahun yang cerdik dan berbakat baik.
Buntaran mendapatkan ilmu gabungan dari keempat guru-guru yang tanpa sungkan mengajarinya dengan tekun.
Yang membuat Harjamurti bahagia dan sangat beruntung. Dia tidak pernah mengetahui cita-cita Restu Bumi untuk menjadikan Buntaran sebagai jagonya untuk membalas dendam lagi ke Negeri Asoka.
***
Dengan kepandaiannya bergaul, Restu Bumi berhasil memasuki lingkungan istana dan di perkenalkan dengan Baginda Raja Gomora Sakti penguasa Kerajaaan Sangga Langit. Raja yang ambisius, bekas panglima perang dan mempunyai ilmu kesaktian tinggi. Tidak jauh di bawah Restu Bumi.
Sekali lagi, Restu Bumi, berhasil menjadi guru negara di Kerajaan Sangga Langit dan berhasil menggesek dan mempengaruhi Raja Gomora untuk menyerbu ke Negeri Asoka.
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampui.
Bersambung.....
__ADS_1