
CHAPTER 24
Pulau Kabut Sirna
Sementara itu ditempat lain.
Sepuluh tahun kemudian.
Ini ada diseberang nan jauh dari Negeri Asoka. Di sebuah pulau kecil ditengah lautan, di sebelah utara. Pulau yang misterius itu, sudah lama tidak berpenghuni. Pulau itu bernama Pulau Kabut Sirna.
Pulau yang tidak akan terlihat begitu saja.
Selalu terselimuti kabut, hampir sepanjang tahun. Beberapa kali saja, pulau itu terlihat. Hanya beberapa menit, kemudian kembali menghilang ditelan kabut.
Pulaunya kecil, di kelilingi tebing curam dan terjal . Ombak nya besar, selalu menderu, berdebur pecah menghantam tebing karang terjal.
Banyak kapal besar maupun pelaut atau nelayan yang tersesat di wilayah ini. Kapalnya akan menghantam karang atau tebing yang tersembunyi di balik kabut ini.
Karena kemisteriusannya, wilayah yang selalu berkabut ini selalu di hindari dan di jauhi.
Siapapun yang nekat, malapetaka akan di dapatnya. Kapalnya pecah dan karam, atau malah hilang dan tidak dapat kembali.
Kabut terus mengurung laut yang bergelombang tinggi. Dan cerita yang melatari keanehan dan kemisteriusan pulau ini pun semakin tersiar luas.
Yang mengakibatkan Pulau Kabut Sirna ini seperti tidak berpenghuni?
Tunggu...
Dari puncak ombak yang bergulung-gulung..ada..bayangan kuning..hilang timbul diantara ganasnya lidah dan tangan ombak.
Bayangan itu meloncat, berputar, terbang, menyelinap keluar masuk diantara dahsyatnya ombak. Melesat diatas ombak.
Luar biasa, bayangan kuning itu seperti Naga Kuning Muda yang sedang bermain dengan ganasnya ombak.
Srettt...trap..trap...trapp memecah, melenting, menyusup
ombak ...ternyata bayangan.itu,.
adalah....
Seorang pemuda berpakaian kuning.... .Aih..hanya beralas dua potong..kayu di kedua kaki nya
Meluncur di atas permukaan ombak...siir..siir...plakkk... Kedua kaki menghentak memukul ombak....syuuttt melenting tinggi, bersalto tujuh kali..seperti Naga Kuning Muda terbang, kemudian hinggap tanpa suara di sebuah karang besar di Pulau Kabut Sirna.
Seorang pemuda berpakaian kuning gading. Rambutnya tergerai basah jatuh ke bahunya. Wajahnya bulat tampan. Hidungnya mancung. Bibirnya selalu tersenyum.
Matanya bening berbinar binar, memandang asyik ke arah Selatan terjauh. Walau pandangannya terhalang kabut, namun dia yakin.
Di sana..di tempat yang jauh itu, ada kehidupan lain.
Ia masih berdiri, pakaiannya yang kuning basah, membungkus ketat badannya.
Tingginya, sama rata rata pemuda seumurnya, badan sedang dan liat. Warna tubuhnya sawo muda, terlihat pada warna wajah dan anggota badannya yang mulai liat berotot.
Berdirinya tegak, rambut dan pakaiannya mulai kering tertiup angin yang menderu deru, sore itu.
Melihat suasana sore itu, yang hening..hanya suara debur ombak dan deru angin, sesekali jerit camar terdengar.
Perlahan ia melolos sebatang seruling yang terselip dipinggangnya. Dan ditiupnya.
Suaranya semula rendah, samar.
Mengalun seperti ombak
Mengalir seperti angin
Kemudiaan suara mulai meninggi, berpadu dengan suara suara alam di sekitarnya, membentuk sebuah harmoni.
Di mainkannya seruling dengan naluri, rasa, penghayatan, menyesap semua elemen elemen alam dan kehidupan.
Air, ombak, angin, badai, karang, tebing, teriakan beburungan, jerit satwa lain. Ia bermain sekian lama, terhanyut menyatu dengan alam.
Sosoknya berdiri tegak tinggal bayang, karena rembang petang mulai turun. Ia masih disana diam melihat jauh dilangit.
Siapa tahu rembulan kali ini akan muncul mampu menyingkap kabut. Menjadi pertanda, yang indah baginya.
***
Pagi baru muncul.
Suasana pulau masih temaram, karena kabut tidak setebal biasanya.
Sosok pemuda berpakaian kuning, masih terlihat bersemedi. Menyerap semua yang ada disekitarnya, kemudian dipusatkan dalam hening penyatuan. Antara alam dan jiwanya. Menyelaraskan keduanya.
Duduk semedi di atas karang putih datar berbentuk oval tidak jauh dari sebuah rumah sederhana. Satu satunya di Pulau Kabut Sirna.
Tiba-tiba bayangan merah melesat kearah pemuda itu. Tanpa suara, berdiri tegak menjulang.
Seorang kakek raksasa, karena tinggi dan besar badannya, dua kali lipat orang biasa. Serba merah, Rambut, wajah, warna kulit dan juga pakaiannya. Semua merah adanya.
" Ganesha, bangun dari semedimu," suaranya menggelegar sesuai dengan postur tubuhnya yang besar. Di kibaskan tangan yang besar dengan mengeluarkan deru angin ke arah Ganesha yang bersemedi.
Suara yang menggelegar dan deru angin memusat kearahnya, dengan tenang semua diserap oleh tubuhnya. Kemudian perlahan matanya terbuka dan dengan sigap bangun dan menghormat
" Selamat pagi, kakek guru ", salam Ganesha , kemudian duduk bersila.
Hening sesaat.
Di langit hanya terdengar kepak burung. Lalu menghilang.
" Ganesha...sudah sepuluh tahun , engkau bersamaku," ucap Kakek raksasa serba merah , kemudian duduk didepan Ganesha.
" Usiamu kini sudah 20 tahun. Aku Pradalbo , sudah mewariskan semua ilmuku yang tak seberapa kepadamu,"
Ganesha memandang hormat dan sayang kepada Kakek Pradalbo.
Ia mempunyai firasat tidak enak kali ini. Tidak biasa Kakek Gurunya. seserius ini.
***
10 tahun yang lalu
Pradalbo membawa seorang bocah umur 10 tahun ke tempat tinggalnya di Pulau Kabut Sirna.
Ganesha nama anak itu, di selamatkan ketika jatuh dari gunung Panca.
__ADS_1
Kemudian dijadikan murid pewaris ilmunya.
Pradalbo adalah seorang pendeta sakti dari Negeri Tanpa Langit. Terdampar di Pulau Kabut Sirna, saat pelariannya menyelamatkan diri dari antek penguasa lalim di negerinya.
Ganesha diasuh dan didik menjadi pewarisnya. Hidup di pulau yang tersembunyi. Pulau penuh keajaiban dan bahaya
Tidak hanya ilmu kesaktiaan yang diajarkan oleh Pradalbo. Ilmu mengenal racun, pengobatan dan ilmu sihir, semua diajarkan.
Selain berbakat baik, juga tinggal di tempat yang ajaib itu, membuat Ganesha tumbuh berbeda dengan anak anak lain.
Semua indera di tubuhnya berfungsi melebihi keadaan normal. Pengelihatan, pendengaran, perasaannya.
Demikian juga daya tahan tubuhnya. Pulau ajaib itu memiliki empat musim. Memiliki bagian yang berbeda yang sangat berbahaya dan mematikan.
Ada kabut racun, ada lumpur hisap, ada tempat yang penuh binatang beracun dan berbisa.
Pulau yang sangat berbahaya.
Hanya orang yang mempunyai kesaktian tinggi yang bisa menaklukannya.
***
Sambil memandang pantai yang masih tertutup kabut, Kakek Pradalbo menyambung ucapannya.
" Ganesha,....alam disini telah membantu penyempurnaan ilmumu. Akan tetapi , kamu harus ingat. Di atas langit ada langit. Masih banyak orang yang mempunyai ilmu kesaktian tinggi diluar sana.
Pesan ku. Jangan sombong, jangan lupa diri. Kamu harus terus belajar.
Jangan mudah melukai dan membunuh. Sadarkan mereka!
Saat mereka berbuat jahat, dapat dipastikan, kesadaran diri dan Tuhan tidak ada di hati mereka".
Cukup banyak wejangan yang diberikan Kakek Pradalbo kepada Ganesha. Ia hanya menggangguk takzim, menyerap semuanya, di simpan dalam- dalam dihatinya, dijadikannya bekal dalam kehidupan mendatang.
Kakek Guru Pradalbo, menarik nafas panjang. Ditatapnya Ganesha lekat-lekat.
Sejak kehadiran Ganesha hidupnya sepuluh tahun belakangan ini menjadi berwarna dan bersemangat .
Tapi..
Ada pertemuan ada perpisahan.
" Ganesha , coba kamu ambil seruling bambu gading milikmu?" Ganesha dengan sigap melolos seruling itu dari pinggangnya. Didengarnya suara Gurunya lagi.
" Di seruling itu, ada guratan tulisan nama. Itulah namamu.
Kini tibalah saatnya, kamu untuk kembali ke dunia ramai.
Ke Negeri Asoka di seberang sana. Di sebuah gunung yang bernama Gunung Panca
Tempat tangan takdir menempatkan aku muncul menyelamatkanmu.
Kamu jatuh ke jurang, dalam keadaan tertotok, kaku dan gagu.
Sebelum kamu jatuh, aku sempat melihat pertempuran, seorang laki-laki berkulit dan berpakaian serba biru, bertempur dengan laki-laki tua tinggi kurus gundul berkulit pucat berpakaian putih lebar, tiga orang lagi temannya.
Si kurus gundul yang melepaskan pukulan jarak jauh menghantam tubuhmu.
Pukulan itu meleset, karena di belokkan oleh tenaga dalam putih terang yang keluar dari suling baja biru. Tubuhmu tidak terhantam pukulan, pukulan itu meleset arahnya menghantam pokok kayu tempat dirimu di gantung di sana. Pokok kayu hancur dan tumbang jatuh ke jurang bersama dirimu.
Aku tidak sempat melihat akhir dari pertempuran itu. Karena aku segera meloncat ke dalam jurang untuk menyelamatkanmu.
Selidikilah asal usulmu. Aku yakin laki-laki serba biru itu dan wanita cantik berbaju putih yang tinggal di gunung Panca, ada kaitannya dengan asal usulmu. Setidaknya, kamu bisa mencari kabar dari sana!" Ganesha menyimak semua cerita gurunya.
Baru kali ini, ia mengetahui asal usulnya.
***
" Ganesha..tiba saatnya kita berpisah. Ada pertemuan ada perpisahan. Aku akan kembali ke Negri Tanpa Langit.
Jika, kamu rindu, dan Tuhan..mentakdirkan ..kita bertemu...kamu bisa mencari aku ditempat ini.
Tidak ada hutang budi diantara kita. Itu semua takdir!".
Terasa angin lirih berkelebat. Ganesha menyadari bahwa Kakek Gurunya telah pergi
Dari kejauhan masih terdengar suara Kakek Guru.
" Ingat semua pesanku". Kemudian suaranya hilang kebalik kabut.
Semua serba tiba tiba. Ganesha belum sempat berterima kasih.
***
Kabut masih menyelimuti Pulau Kabut Sirna..
Ganesha mengatur layar, mengarahkan perahunya ke Negeri Asoka nun jauh disana.
Sekali lagi, di lihatnya Pulau di mana selama ini ia hidup berdua dengan Kakek Guru Pradalbo.
Selamat tinggal..bisiknya dalam hati.
Di tinggalkannya kabut, ditinggalkannya semua kenangan.
Matahari ranum, membawa Ganesha menjalani pengembaraannya.
Bersambung...
Pagi baru muncul.
Suasana pulau masih temaram, karena kabut tidak setebal biasanya...
Sosok remaja berpakaian kuning, masih terlihat bersemedi. Menyerap semua yang ada disekitarnya, kemudian dipusatkan dalam hening penyatuan. Antara alam dan jiwanya. Menyelaraskan keduanya. Duduk semedi di atas karang putih datar berbentuk oval tidak jauh dari sebuah rumah sederhana. Satu satunya di Pulau Kabut Sirna.
Tiba..tiba bayangan merah melesat kearah remaja itu. Tanpa suara, berdiri tegak menjulang.
Seorang kakek raksasa, karena tinggi dan besar badannya, dua kali lipat orang biasa. Serba merah, Rambut, wajah, warna kulit dan juga pakaiannya. Semua merah adanya.
" Ganesha.., bangun dari semedimu," suaranya menggelegar sesuai dengan postur tubuhnya yang besar. Di kibaskan tangan yang besar dengan mengeluarkan deru angin ke arah Ganesha yang bersemedi.
Suara yang menggelegar dan deru angin memusat kearahnya..dengan tenang semua diserap oleh tubuhnya. Kemudian perlahan matanya terbuka dan dengan sigap bangun dan menghormat
" Selamat pagi, kakek guru ", salam Ganesha , kemudian duduk bersila.
Hening sesaat.
__ADS_1
Di langit hanya terdengar kepak burung. Lalu menghilang.
" Ganesha...sudah lima tahun , engkau bersamaku," ucap Kakek raksasa serba merah , kemudian duduk didepan Ganesha.
" Usiamu kini sudah 20 tahun. Aku Pradalbo , sudah mewariskan semua ilmuku yang tak seberapa kepadamu,"
Ganesha memandang hormat dan sayang kepada Kakek Pradalbo.
Ia mempunyai firasat tidak enak kali ini. Tidak biasa Kakek Gurunya. seserius ini.
***
10 tahun yang lalu
Pradalbo membawa seorang bocah umur 10 tahun ke tempat tinggalnya di Pulau Kabut Sirna.
Ganesha nama anak itu, di pertempuran di atas gunung Panca.
Dijadikan murid pewaris ilmunya.
Pradalbo adalah seorang pendeta sakti dari Negeri Tanpa Langit. Terdampar di Pulau Kabut Sirna, saat pelariannya menyelamatkan diri dari antek penguasa lalim di negerinya.
Ganesha diasuh dan didik menjadi pewarisnya. Hidup di pulau yang tersembunyi. Pulau penuh keajaiban dan bahaya
Tidak hanya ilmu kesaktiaan yang diajarkan oleh Pradalbo. Ilmu mengenal racun, pengobatan dan ilmu sihir, semua diajarkan.
Selain berbakat baik, juga tinggal di tempat yang ajaib itu, membuat Ganesha tumbuh berbeda dengan anak anak lain.
Semua indera di tubuhnya berfungsi melebihi keadaan normal. Pengelihatan, pendengaran, perasaannya.
Demikian juga daya tahan tubuhnya. Pulau ajaib itu memiliki empat musim. Memiliki bagian yang berbeda yang sangat berbahaya dan mematikan.
Ada kabut racun, ada lumpur hisap, ada tempat yang penuh binatang beracun dan berbisa.
Pulau yang sangat berbahaya.
Hanya orang yang mempunyai kesaktian tinggi yang bisa menaklukannya.
***
Sambil memandang pantai yang masih tertutup.kabut, Kakek Pradalbo menyambung ucapannya.
" Ganesha,....alam disini telah membantu penyempurnaan ilmumu. Akan tetapi , kamu harus ingat. Di atas langit ada langit. Masih banyak orang yang mempunyai ilmu kesaktian tinggi diluar sana.
Pesan ku. Jangan sombong, jangan lupa diri. Kamu harus terus belajar.
Jangan mudah melukai dan membunuh. Sadarkan mereka.
Saat mereka berbuat jahat, dapat dipastikan, kesadaran diri dan Tuhan tidak ada di hati mereka".
Cukup banyak wejangan yang diberikan Kakek Pradalbo kepada Ganesha. Ia hanya menggangguk takzim, menyerap semuanya, di simpan dalam dalam dihatinya dijadikannya bekal dalam kehidupan mendatang.
Kakek Guru Pradalbo, menarik nafas panjang. Ditatapnya Ganesha lekat lekat.
Sejak kehadiran Ganesha hidupnya lima tahun belakangan ini menjadi berwarna dan bersemangat .
Tapi..
Ada pertemuan ada perpisahan.
" Ganesha , coba kamu ambil seruling bambu gading milikmu?" Ganesha dengan sigap melolos seruling itu dari pinggangnya. Didengarnya suara Gurunya lagi.
" Di seruling itu, ada guratan tulisan nama. Itulah namamu.
Kini tibalah saatnya, kamu untuk kembali ke dunia ramai.
Ke Negeri Asoka di seberang sana. Di sebuah gunung yang bernama Gunung Panca
Tempat tangan takdir menempatkan aku muncul menyelamatkanmu.
Kamu jatuh ke jurang, dalam keadaan tertotok, kaku dan gagu.
Sebelum kamu jatuh, aku sempat melihat pertempuran, seorang laki-laki berkulit dan berpakaian serba biru, bertempur dengan laki-laki tua tinggi kurus gundul berkulit pucat berpakaian putih lebar.
Yang melepaskan pukulan jarak jauh menghantam tubuhmu.
Pukulan itu meleset, namun tubuhmu jatuh ke jurang, bersama pokok pohon yang hancur terkena pukulan jarak jauh.
Aku tidak sempat melihat akhir dari pertempuran itu. Karena aku segera meloncat ke dalam jurang untuk menyelamatkanmu.
Selidikilah asal usulmu. Aku yakin laki-laki serba biru itu, yang tinggal di gunung Panca, ada kaitannya dengan asal usulmu. Setidaknya, kamu bisa mencari kabar dari sana!" Ganesha menyimak semua cerita gurunya.
Baru kali ini, ia mengetahui asal usulnya.
***
" Ganesha..tiba saatnya kita berpisah. Ada pertemuan ada perpisahan. Aku akan kembali ke Negri Tanpa Langit.
Jika, kamu rindu ...dan Tuhan..mentakdirkan ..kita bertemu...kamu bisa mencari aku ditempat ini.
Tidak ada hutang budi diantara kita...Itu semua takdir,"!
Terasa angin lirih berkelebat. Ganesha menyadari bahwa Kakek Gurunya telah pergi
Dari kejauhan masih terdengar suara Kakek Guru.
" Ingat semua pesanku". Kemudian suaranya hilang kebalik kabut.
Semua serba tiba tiba. Kepergian Kakek Pradalbo membuat penyesalan di hati Ganesha. Ganesha belum sempat berterima kasih atas pertolongan dan rawatan Kakek Pradalbo. Namun perpisahan telah terjadi dan tidak bisa di tarik kembali.
***
Kabut masih menyelimuti Pulau Kabut Sirna..
Ganesha mengatur layar, mengarahkan perahunya ke Negeri Asoka nun jauh disana.
Sekali lagi, di lihatnya Pulau di mana selama ini ia hidup berdua dengan Kakek Guru Pradalbo.
Selamat tinggal..bisiknya dalam hati.
Di tinggalkannya kabut, ditinggalkannya semua kenangan.
Matahari ranum, membawa Ganesha menjalani pengembaraannya.
Bersambung...
__ADS_1