Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 18


__ADS_3

CHAPTER 18


Akhir dari Cinta


Semua tokoh tokoh yang hadir di Perguruan Bhumi Langit, sudah kembali ke tempat masing-masing.


Nyi Dyah Puspa, Ranti dan anak buah lainnya kembali ke Bukit Mawar.


Ki Yadara, Manggala dan anak buahnya yang lain kembali ke Gunung Wilis.


Ki Gompala dan Ki Sardula serta anak buahnya kembali ke masing-masing tempat asalnya.


Ke Danau Minai dan Bukit Baron.


***


Bara dendam telah padam, karena semua orang yang di tunggangi menemui kematian.


Namun Cinta ?


Perasaan yang terlahir murni dari keinginan untuk membahagiakan dan dibahagiakan oleh orang yang mencintai atau di cintai juga menuju akhir yang membahagiakan.


Pangeran Ludiro ternyata hatinya tertambat kepada Puteri Xenia.


Demikian juga sebaliknya.


Pengalaman yang singkat dalam menghadapi lawan di geger Undangan Maut membuat hati mereka bertaut.


Saling memuji dan saling mengagumi.


Memudahkan cinta tumbuh dengan seketika.


Pangeran Ludiro memohon ijin kepada Ki Denawa sebagai guru Puteri Xenia untuk mengajak sang puteri mengunjungi istana Asoka, untuk di perkenalkan dengan keluarga Kerajaan Asoka.


Selang beberapa saat berangkatlah Pangeran Ludiro dengan Puteri Xenia dengan kereta kencana menuju Istana Asoka.


***


Adapun Lingga, setelah mengetahui bahwa Permadi adalah samaran Paramitha, dan Paramitha adalah seorang puteri atau bangsawan tinggi, yang cantik jelita, dengan mudah ia akan jatuh cinta. Namun ia menyadari kedudukannya yang sebatang-kara dan miskin.


Ia merasakan bagaikan pungguk merindukan rembulan.


Meskipun ia tahu dan menyadari akan tingkah laku, dan perhatiaan Paramitha kepadanya.


Ia tahu Paramitha mencintainya.


Sebagai gadis manja dan jujur, walaupun ia memiliki aturan dan tata krama kerajaan.


Namun ketika cinta telah memilih, ia siap mengikuti kata hatinya.


Paramitha dapat menangkap keraguan Lingga.


Dan dengan bijaksana ia tidak mau mendesak dan membiarkan Lingga untuk memantapkan hatinya.


Apalagi Paramitha tahu, Lingga masih memiliki satu tugas yang penting untuk mempertemukan Ki Denawa dengan Nyi Mayang Sari, seperti janjinya kepada Ki Denawa.


***


Santika dan Kinanti, setelah mendapat restu orang tua Kinanti, Ki Cemani dan istri, sekarang mendapatkan restu dari Ki Denawa sebagai wakil atau pengganti orang tua Santika.


Santika menolak dengan halus ketika Ki Denawa mengajukan diri untuk segera melamar kepada keluarga Kinanti.


Santika dan Kinanti beralasan menunggu keputusan terakhir dari Ki Denawa yang akan menagih janji kepada Lingga tentang keberadaan Nyi Mayang Sari, guru sekaligus ibu angkat Lingga.


***


" Ha..ha..ha..Lingga..semua urusan sudah selesai.


Sekaranglah saatnya, kamu memenuhi janjimu!" tagih Ki Denawa kepada Lingga.


Lingga dengan segera menyanggupi permintaan Ki Denawa.


Maka berangkatlah mereka. Lingga, Paramitha, Santika, Kinanti dan Ki Denawa, menuju Jurang di ujung Bukit Baron di mana Nyi Mayang Sari tinggal di dalam bukit itu.


Lingga menceritakan keadaan Nyi Mayang Sari, selama dalam perjalanan kepada Ki Denawa.


Lingga menangkap raut penyesalan yang dalam dari Ki Denawa.


Setiap ia mendengar nama Mayang Sari di sebut, hatinya seakan teriris-iris.


Cinta yang dimiliki untuk Nyi Mayang Sari, tidaklah lekang oleh waktu dan jaman.


Sudah berapa tahun, hampir 30 tahun sudah, perpisahaannya dengan Nyi Mayang Sari.


Semenjak peristiwa duel di samping air terjun Hutan Baron.


Duel antara dirinya dan Yadara sahabat, sekaligus rivalnya dalam merebut cinta Mayang Sari.


Duel yang terjadi karena ia sangat cemburu. Ia di butakan oleh rasa cemburunya.


Setelah ia mengetahui bahwa Mayang Sari lebih memilih Yadara dan bukan memilih dirinya.


Ah..kejadian puluhan tahun yang lalu seakan berkelebat nyata di depan matanya.


Ia masih ingat sekali, akibat kesalahan tangan olehnya, Mayang Sari harus terluka dan hilang jatuh kedalam air terjun.


Ia menganggap Mayang sudah mati.


Mati karena kesalahannya.


Karena rasa penyesalannya yang dalam, membuat perangainya menjadi berubah.


Dan dari seorang pendekar muda berubah menjadi tokoh abu-abu. Di bilang tokoh lurus atau putih ya, tindakannya terlalu kejam dan telengas.


Di bilang tokoh sesat, ya tindakan kejamnya untuk penjahat-penjahat saja!


Hingga nama berkibar sebagai Tokoh Nomer Satu di Negeri Asoka dengan gelaran Si Setan Berkabung.


Hidup berkabung. karena kegagalan cintanya.


Kini, ia bertemu Lingga yang bisa dianggap sebagai anak dari Mayang.


Harapannya tiba-tiba muncul, cinta yang hanya tersembunyi sementara di ruangan kosong hatinya, muncul kembali.


Bahkan lebih dahsyat. Karena ia menyadari bahwa betapa menderitanya Mayang setelah peristiwa itu.


Hidup sendiri didalam tempat terasing, yang siapapun tidak pernah menduga. Bahwa sungai di bawah tanah itu ada.


Dan Mayang selamat, masih hidup dalam keadaan buta.


Ia berandai-andai, jika boleh, biarlah ia yang akan menebus kesalahannya dengan mempersembahkan cintanya yang suci kepada Mayang Sari.


***


Hari masih pagi


Cahaya matahari bersinar lembut


Suara celoteh beburungan yang bermain di ranting-ranting menampilkan irama yang harmoni.


Embun masih bergelantung manja di ujung daun.


Aroma rumput basah masih menguar manis.


Suasana yang menyamankan hati.


Jurang yang begitu curam masih tertutup kabut.


Sisi gunung yang terjal dan misterius tidak terlihat dasarnya.


Semula tidak ada seorang pun yang bisa naik atau turun kesana. Hanya beburungan atau makhluk yang bersayap dan bisa merayap saja yang bisa.


Kini, ada satu orang pendekar muda yang sakti, Lingga Si Jari Sakti..yang mampu memanjat atau menuruni jurang itu.


Mereka berlima sudah sampai di Jurang yang tak berdasar, di balik bukit Hutan Baron.


Lingga sudah menyampaikan kepada Ki Denawa akan keadaan yang sulit disana.


Dan Ki Denawa juga sudah melihat sendiri, betapa sulit medan yang akan dilewatinya.


Setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki, Denawa merasa tidak sanggup untuk turun kesana.


Hanya satu-satu orang yang mampu melakukkannya yaitu Lingga sendiri!


" Ki Denawa, ibunda Mayang pernah menyampaikan kepadaku. Apapun yang terjadi, ia tidak pernah mau keluar dari goa bawah gunung ini.


Pesan itu, pernah disampaikan, sebelum aku pergi mencari kabar tentang Ki Yadara dan Ki Denawa," ujar Lingga meminta pendapat kepada yang ada disitu.


" Kira-kira benda atau apapun yang mampu merubah pemikiran dan tekad ibu?" lanjut Lingga dengan pertanyaan yang mengambang.


Ki Denawa tiba-tiba menyodorkan sebuah batu hiasan berwarna merah delima yang terasa sangat dingin ke tangan Lingga.


Hiasan yang berbentuk burung walet merah yang sangat cantik dan indah.


Berasa dingin di genggaman dan menguarkan aroma yang manis aneh dan menenangkan.


" Cobalah, kau berikan ini kepada ibumu Lingga. Ini adalah hiasan yang khusus aku pesan untuk ..dulu..saat aku menyatakan cintaku.. ," agak bergetar suara Denawa saat mengatakan itu.


" Aku mengandalkanmu, Lingga!" lanjut Denawa, membuat Lingga bersemangat kembali.


Di genggamnya erat-erat hiasan Walet Merah itu, ia merasakan rasa dingin dan menyegarkan yang seketika membangkitkan semangatnya.


Ia memandang ke arah Paramitha yang sedari tadi hanya berdiri diam tanpa bersuara.


Hanya pandangan matanya yang jeli indah menatap lekat-lekat ke arah Lingga.

__ADS_1


Menyisiri dan menyisip dalam kehatinya. Mengirim aura semangat dan doa untuk keberhasilan Lingga.


Lingga tanpa sadar, tersenyum dan mengangguk lembut ke arah Paramitha.


Bergeser pandangannya ke arah Santika dan Kinanti.


Hampir sama dengan Paramitha.


Walaupun mereka memandang tanpa bicara akan tetapi Lingga mampu merasakan pandangan pengertiaan dan doa disana


Hiasan Walet Merah ia selipkan di lipatan baju abu-abunya bagian dalam.


Di hirupnya udara gunung yang masih sejuk di atas gunung itu.


Sekali lagi ia memandang Ki Denawa yang ia lihat mengangguk.


Lalu memandang Paramitha..


Dan..


" Huuppp...," tubuhnya berbalik dan terjun kebawah bagaikan burung raksasa abu-abu, menembus kabut dan hilang dari pandangan.


Tanpa di sadari Paramitha bergerak ke arah Lingga meloncat. Hatinya terkejut juga. Walaupun ia tahu, kesaktian Lingga.


Paramitha hanya memandang bayangan tubuh Lingga, yang segera lenyap di telan kabut di jurang itu!


***


Lingga mengepos ilmu ringan tubuhnya Walet Merah Sakti melayang bagaikan burung walet itu sendiri.


Tubuhnya meluncur turun menembus kabut dan menuju deras ke arah pintu goa yang ada di bawah.


Lingga mengurangi tenaga dorongan luncurannya dengan menyiapkan jurus Jari Sakti Menusuk Matahari.


Di melejit ke arah dinding jurang.


Dan..tap- jari tangannya mencengkram dan kakinya menekan dinding jurang, melekat seperti cicak.


Dengan bergerak cepat menuruni tebing jurang. Kemudian melenting jungkir balik..hup..masuk ke pintu gua.


***


Suasana dan aroma gua yang khas. Langsung menyerbu paru-parunya.


Membuatnya tiba-tiba sangat rindu, akan tempat ini.


Tempat yang merubah nasib dan merubah hidupnya.


Tempat di mana ia di tempa oleh kemalangan hidup dan akhirnya malah berubah menjadi keberuntungan bagi hidupnya.


Tempat yang di kenalnya.


Dan Nyi Mayang Sari pengganti ibu yang di rinduinya.


Sedang apakah ibu?


Hatinya bergetar mengingat ibu angkatnya.


Yang membuat mempercepat langkahnya menuju gua putih tempat tinggal Nyi Mayang.


Keadaan gua masih seperti dulu. Bersih, rapi dan benderang kena pantulan sinar matahari.


Udaranya pun masih sejuk terasa.


Tempatnya bersih, berlantai marmer alam berwarna putih.


Langkah Lingga yang seringan kapas tidak mampu mengelabuhi Nyi Mayang Sari yang sedang bersemedi diatas batu hijau bundar, tempat dahulu Lingga di obati.


Memunahkan racun yang menyerangnya.


" Siapa,..Lingga..," suara jernih Nyi Mayang Sari menegurnya.


Pendengarannya sangat tajam.


" Ibu..," tak kuasa Lingga menahan haru. Di tubruknya batu bundar itu. Di raih tangan yang putih kurus dari Nyi Mayang Sari.


Di ciuminya dengan hikmat.


Nyi Mayang mengelus rambut panjang Lingga dan pundaknya.


Matanya yang buta bergerak-gerak.


Wajahnya masih tampak bersih, dan cantik. Terlihat sehat dan segar.


Rambutnya disanggul rapi...pakaiannya longgar berwarna merah muda.


" Anakku Lingga, ibu sangat rindu kepadamu. Apa kabarmu, Nak?" Nyi Mayang menghentikan semedinya dan membimbing Lingga untuk duduk disampingnya.


Di rabanya Lingga dengan sayang. Lingga mendapatkan perlakuan seperti itu menjadi terharu hatinya.


Hatinya tersentuh dengan kelembutan dan kasih sayang ibunya.


Nyi Mayang mendengar ucapan Lingga, nampak tersenyum manis.


Sisa kecantikannya tidak pernah luntur rupanya.


" Kabar tentang Ki Yadara dan Ki Denawa..dan cerita selama perjalan pengembaraan," lanjut Lingga hati-hati.


Ada perubahan di wajah tua nan cantik. Nampak gembira mendengar kabar yang di bawa Lingga.


Di genggamnya jari-jari Lingga erat-erat," Ayo, ceritakanlah, Nak!" katanya tidak sabar.


Lingga dengan perlahan dan jelas menceritakan petualangannya. Dari mulai pertama bertemu Ki Sardula, Ki Gompala, Ki Yadara dan terakhir bertemu dengan Ki Denawa.


Ia juga menceritakan petualangannya membongkar kejahatan Hrastu Bhumi dan komplotannya.


Nyi Mayang, mendengarkan dengan rasa tertarik dan penasaran.


Ia sangat bangga mendengar anaknya mendapatkan anugerah ilmu-ilmu yang hebat dari tokoh-tokoh sakti sahabatnya.


Dan betapa gembira dan bangga hatinya..saat Lingga menceritakan pertempuran di Undangan Maut yang menghebohkan itu.


Lingga selalu memperhatikan perubahan sikap dan mimik ibunya.


Ia menangkap mimik gembira dan kecewa kemudian, ketika Lingga menceritakan tentang pertemuannya dengan Ki Yadara.


Gembira ketika mendengar bahwa Yadara masih hidup dan sehat. Menjadi ketua Perguruan Rajawali Emas yang disegani dan terkenal!


Dan kemudian ia muram ketika menyadari Yadara sudah berhasil melupakan cintanya.


Menikah dengan wanita yang kini mendampinginya.


Lingga menatap perubahan sikap ibunya.


Beda saat Lingga menceritakan keadaan Ki Denawa. Sikapnya biasa-biasa saja.


Rasa kecewa hatinya masih terlihat dari sikap dan perhatiannya.


" Ibu, mari ikut Lingga keluar dari tempat ini. Sudah waktunya ibu meneruskan hidup ibu. Menemukan kebahagiaan. Ayo, ibu! Ada seseorang yang menanti dan mengharap bertemu dengan ibu!," bujuk Lingga hati-hati sambil menyerahkan hiasan batu yang berbentuk walet merah yang ia keluarkan dari bajunya.


Ia letakkan hiasan Walet Merah di tangan kurus ibunya.


Rasa dingin dan sejuk yang keluar dari hiasan batu itu meresap kedalam genggaman ibunya.


Nyi Mayang begitu terkejut, mendengar penuturan dan menerima hiasan batu, yang ia tahu, perhiasan itu milik siapa.


Ia sangat mengenal perhiasan itu. Ia pernah menolak menerima perhiasan batu indah itu sebagai tanda pernyataan cinta dari Denawa.


Tanpa di sadari, hatinya tergetar.


Ia menangkap isyarat yang di berikan Denawa lewat hiasan Walet Merah, ia paham sekali.


Denawa masih mencintainya.


Denawa masih menunggu dengan cintanya.


Nyi Mayang mengeluh dan merasa lemas setelah benar-benar yakin akan maksud Denawa kepada dirinya.


" Ibu.., Ki Denawa mengharapkan, ibu mau keluar dari sini. Melupakan semua kejadian masa lalu. Dan memulai hidup baru," hati-hati Lingga membujuk ibunya.


Sekian lama Ibunya hanya bisa diam dan termenung. Ia sudah bertekad untuk mengakhiri hidupnya di tempat ini. Melupakan semua kemalangan dan kegagalannya.


Ia hanya berharap kenangan manis dengan Lingga yang akan menemani akhir hidupnya.


Lingga sangat was-was melihat ibunya hanya terpekur, diam tanpa memberi jawaban.


Ah, gagallah usahanya membujuk ibunya.


Tiba-tiba berkesiur angin yang sangat pelan. Lingga menangkap gerak dan helaan nafas dari arah pintu gua. Sebelum ia bereaksi, Nyi Mayang ternyata lebih peka juga pendengaraanya.


" Siapa,..di sana?"tanya sambil bergeser dari samping Lingga.


" Ma..mayang..," suara teguran itu sangat menggetar. Sosok hitam tinggi besar yang perkasa, hampir tak kuasa untuk mengucapkan satu kata itu.


Denawa menyusul Lingga. Dan kini berdiri tertegun dan terharu melihat Mayang Sari.


Wanita  yang selalu dicintainya.


Wanita yang selalu menghias mimpi-mimpinya yang selalu menjadi bunga tidurnya.


Wanita ini juga yang membuat hari-hari dan hatinya didalam jurang penyesalan yang dalam.


Wanita yang merubah semua prilakunya.


" Mayang..," pendekar perkasa, tokoh kelas satu di dunia persilatan. Yang tidak akan gentar oleh ribuan senjata lawan.

__ADS_1


Tidak gentar akan kesaktian lawan.


Kini, hanya mengucapkan beberapa patah kata saja, kegagahannya tumbang. Semangatnya terbang.


Denawa hanya mampu memandang Mayang Sari yang begitu kurus, namun tetap cantik. Secantik ketika terakhir kali bertemu itu.


"Aah..," tanpa sadar suara desahan kecewa terlepas dari bibirnya yang bergetar.


Bagai di sambar petir rasa terkejut Nyi Mayang Sari mendengar suara Denawa yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Lingga belum sempat menceritakan kepadanya bahwa Denawa menunggunya diatas gunung sana.


" Denawa. Benarkah..itu kau," tegurnya tidak percaya.


Denawa melangkahkan kaki mendekati Mayang Sari. Dengan hati-hati, menjaga dan menunggu reaksi Mayang.


" Iya, ini aku Mayang..," Denawa tidak mampu melanjutkan ucapannya. Ia terharu, melihat wanita yang di cintainya, menjadi seperti ini.


Menjadi tua, kurus dan buta. Ia melihat sendiri kenyataan yang sebelumnya telah di ceritakan Lingga, tentang keadaanya wanita yang dicintainya sekarang.


Sepanjang perjalanan, Denawa sering melamun, mengenangkan peristiwa dulu.


Dari penuturan Lingga membuat Denawa ingin segera bertemu sendiri dengan Mayang.


Ia tahu betapa kuat pendirian Mayang. Ia ragu akankah Mayang berhasil di bujuk oleh Lingga untuk keluar dari sungai di bawah gunung itu.


Setelah Lingga meloncat dan hilangan dari pandangan tertelan kabut. Denawa mencari kesekeliling gunung itu. Mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk turun ke bawah jurang.


Ia tidak mampu mengikuti jejak Lingga yang dengan kesaktiannya mampu melekat dan merayap seperti cicak di dinding batu gunung yang terjalan dan licin.


Di sebuah hutan kecil yang tidak jauh dari ujung jurang itu, ia menemukan sebuah pohon raksasa yang mempunyai sulur daun yang panjang seperti tali.


Dengan hati gembira dikumpulkannya tali sulur itu sebanyak-banyak. Berulang kali ia angkut. Kemudian dengan bantuan Santika, Kinanti dan Paramitha di sambungnya satu demi satu sulur itu menjadi sebuah tali yang panjang.


Ujung satunya di ikatkan di batang pohon jati besar didekat jurang, di jaga oleh Santika dan yang lainnya.


Dan, ia segera turun melalui tali itu sampai ke mulut gua di balik air terjun. Dan sampailah ia di hadapan wanita yang di cintainya.


***


" Mari, Mayang. Kita tinggalkan tempat ini. Sudah saatnya, kamu keluar dari tempat ini.


Kamu tidak kasihan dengan Lingga anakmu.


Ia membutuhkan seorang ibu yang memberikan restu dari hubungan percintaanya.


Paramitha namanya, ia sedang menunggu Lingga diatas sana," dengan cerdik Denawa meminjam nama Lingga dan Paramitha untuk membujuk Mayang.


Lingga terkejut mendengar apa yang di katakan Ki Denawa tentang hubungannya dengan Paramitha, begitu terus terang dan membuat Lingga sadar, bahwa ia juga mencintai Paramitha.


Ki Denawa dengan tepat membaca keadaan. Dan menggunakanya untuk membujuk Mayang.


Mayang berpaling ke arah Lingga tadi duduk.


Dan ia bertanya," Lingga anakku, benarkah apa yang di kata kan Ki Denawa?" Wajah Nyi Mayang yang semula agak murung. berubah cerah ketika mendengar jawaban Lingga.


" Iya, ibu. Aku tidak punya keluarga selain ibu. Aku mohon, ibu mau meninggalkan tempat ini. Dan merestui hubunganku dengan Paramitha.


Dia menungguku diatas, menunggu, Ibu," di tangkap kedua tangan ibunya dan di ciumi dengan hormat dan sayang.


Melihat Lingga seperti itu, luluhlah hatinya. Ia tidak ingin Lingga, anak yang di cintai nya gagal dalam percintaan seperti dirinya.


Cukup dirinya saja yang menderita karena cinta.


***


Nyi Mayang berhasil di bujuk meninggalkan Goa tempat tinggalnya di bawah gunung selama ini.


Dengan di gendong Lingga dan di bantu tali yang di ulur Santika.


Nyi Mayang, Lingga dan Ki Denawa dapat keluar dan menaiki gunung terjal lebih cepat.


Matahari yang sudah condong ke Barat membiaskan sinarnya yang jingga.


Beburungan yang berpasangan dan yang lain berkelompok, siap pulang kandang hari ini.


Nyi Mayang berhasil tiba di atas gunung dengan selamat dalam gendongan Lingga, di susul oleh Ki Denawa.


Paramitha, menyambut keberhasilan Lingga dengan gembira yang tidak di sembunyikan.


Lingga dengan segera mempertemukan Mayang ibunya dengan Paramitha.


" Ibu, ini Paramitha," Paramitha dengan cepat dan mengerti segera menghampiri Nyi Mayang dan menyentuh lembut tangan yang terulur kepadanya.


Kedua tangan itu, tiba-tiba menarik dan memeluknya dengan lembut.


Aroma yang wangi menyesap Paramitha. Nenek yang cantik ini memegang dan meraba wajahnya dengan jari-jarinya yang kurus dengan hati-hati dan lembut.


Bahkan berubah mengelus dan wajahnya yang cantik itu tersenyum dan menggumam,


" Kau Paramitha anak cantik. Cantik..cantik..aku merestui hubunganmu dengan Lingga".


Merah selebar wajah Lingga, malu. Tapi bahagia.


Ia melihat kearah Paramitha juga merah malu.


Nyi Mayang ternyata begitu terus terang.


" Iya, ibu terima kasih," sahut Paramitha malu-malu.


Nyi Mayang segera memeluk Paramitha dengan sayang.


Semua yang hadir melihat itu menjadi terharu dan senang.


Santika dan Kinanti segera memberikan selamat kepada Lingga dan Paramitha.


Ki Denawa hanya diam pandanganya selalu tertuju kepada Nyi Mayang. Pandang cinta dan mendamba.


Tak lupa Lingga, memperkenalkan sahabatnya Santika dan Kinanti.


Kebahagian yang datang


Kepada diri yang mendamba


Bagai angin sejuk


Mengelus hati-hati yang gersang!


Senja akhirnya luruh di balik gunung.


***


Setelah itu masing-masing pulang ke tempatnya.


Lingga, Paramitha dan Nyi Mayang untuk sementara pulang ke tempat asal Nyi Mayang di Lembah Penantian di antara Pegunungan Samara di bagian tengah negeri Asoka.


Santika, dan Kinanti untuk sementara tinggal di rumah sederhana di samping gua besar tempat tinggal Ki Denawa di Lembah Kematian.


Menunggu untuk menjemput kebahagiaan.


***


Selang beberapa waktu kemudian, terjadilah peristiwa yang membahagiakan.


Perkawinan antara Santika dan Kinanti yang di adakan di dusun Cemani tempat tinggal Kinanti.


Acara berlangsung sangat meriah, di hadiri oleh semua tokoh dunia persilataan.


Bahkan Sribaginda Raja Bengala bersedia hadir dan memberikan restu kepada kedua mempelai.


Kedua mempelai yang berbahagia itu akhirnya tinggal di bagian Barat negeri Asoka yaitu tinggal di Gunung Panca Warna tidak jauh dari Lembah Kematian tempat tinggal Denawa .


***


Kebahagian yang satu disusul dengan kebahagiaan yang lain.


Di sepanjang tahun yang penuh tragedi itu, akhirnya di tutup dengan acara perkawinan yang luar biasa.


Perkawinan yang menyatukan dua negara besar.


Negeri Tanpa Langit dan Negeri Asoka.


Pangeran Ludiro memutuskan untuk menikahi Puteri Xenia.


Acara yang luar biasa membahagiakan bagi seluruh rakyat Asoka dan juga rakyat Negeri Tanpa Langit, acara berlangsung tujuh hari tujuh malam.


Pangeran Ludiro memboyong istrinya ke Pavilliun Rajawali tempat atau istana indah milik Pangeran Ludiro.


Sementara itu..


Paramitha kembali ke istananya.


Istana Panglima Banara di Villa Rembulan.


Menanti dengan sabar akan kebahagiaannya sendiri.


Kebahagian dengan Lingga.


Senja begitu indah terlihat dari Villa Rembulan


Warna yang kuning jingga


Menghangatkan hati


Membawa angin lembut

__ADS_1


Yang membawa dendang lagu cinta


Bersambung...


__ADS_2