Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 2


__ADS_3

CHAPTER 2


Santika Begins


Di perguruan RAJAWALI SAKTI...


Pagi masih berembun..udara segar tersesap dari sisa tetes terakhir embun dan terpaan matahari pagi. Di sudut agak terpisah dari bangunan yang lain, tepatnya di bangunan tempat Tegar Prakoso menghabiskan hari hari penyesalan. Tampak sinar biru gulung, melayang, melenting, mengelinding di tanah. Udara berubah ubah terdorong oleh tenaga dalam yang bergelombang dari sosok biru itu. Pasir dan debu berterbangan. Daun daun berkerisik tertiup angin pukulan dan lejitan sosok biru yang terus memainkan ajian dan jurus yang luar biasa.


Sementara matahari sudah tidak lagi malu malu membagi sinarnya. suara kicauan beburungan di Lereng Gunung Wilis mulai bersahutan seakan tidak terusik oleh " badai " yang diakibatkan oleh belahan dan loncatan tenaga dalam. Tidak terusik, bahkan seakan menjadi musik indah sebagai latar belakang yang enak dilihat mata dan enak didengar telinga.


Saking asyiknya berlatih sosok biru yang ternyata adalah SANTIKA, tidak merasakan kehadiran Kakek YADARA, yang mengangguk angguk puas, melihat betapa dahsyatnya ilmu peninggalan TEGAR PRAKOSO yang telah diwariskan kepada SANTIKA. Selain kemukzizatan yang diperoleh SANTIKA ketika duel terakhir dengan TEGAR PRAKOSO. Akibat terpaan sinar putih terang yang menghantam tubuh SANTIKA kala itu. Ternyata, sesungguhnya adalah transfer energi dan tenaga dalam yang luar biasa dari TEGAR PRAKOSO kepada SANTIKA.


Yang akibatnya, bukan hanya SANTIKA mendapatkan tambahan tenaga dalam, juga semua racun yang menghuni di tubuh dan " hati " SANTIKA ikut lenyap.


Pengaruh ilmu ajian KASIH PEMUTUS DUKA, yang ditinggalkan TEGAR PRAKOSO dalam bentuk sebuah buku tipis yang isinya hanya 3 lembar saja, diwariskan kepada SANTIKA , di ajarkan dan dibimbing oleh Kakek YADARA, hanya butuh beberapa hari saja, SANTIKA mampu menguasai nya dengan sempurna.


Untuk sesaat kemudian " Badai Biru " surut dan sirna, nampaklah sosok SANTIKA yang kemudian berlutut menyembah kepada Kakek YADARA , " Maafkan, saya Kakek Guru, yang terlalu asyik berlatih, sehingga kehadiran Kakek Guru saya sampai tidak menyadarinya ".


Kakek YADARA paham dan maklum, bukan SANTIKA tidak mengetahui kehadirannya, akan tetapi jika dengan mendadak SANTIKA menghentikan rapalan dan ajian KASIH PEMUTUS DUKA akan bisa membahayakan keseimbangan tenaga dalamnya, yang juga bisa menyebabkan ia terluka dalam.


" SANTIKA, tidak perlu sungkan.....aku bangga melihat kemajuan dan hasil dari kerja kerasmu beberapa hari ini. Aku harap ilmu yang terakhir ini akan semakin membuatmu sadar, bahwa tingginya ilmu tidak akan ada batasnya, di atas langit ada langit. Dan dirimu akan " terlahir kembali " sebagai manusia baru. Dengan ilmu yang baru, kebijaksanaan baru, mental baru, semangat baru, menjadi " PENDEKAR BARU " yang selalu berpegang pada kebenaran dan keadilan, SANTIKA," dengan hormat SANTIKA mendengar dan mematuhi segala wejangan dari Kakek Guru YADARA.


Ia membulatkan tekad yang lalu telah berlalu. Segala penyesalan sudah dilakukan dan kini ia akan menjadi " MANUSIA BARU "...SANTIKA YANG BARU ...


Bersambung...


Bidadari Angin Timur


Mmmm....


Luar biasa..semua celah titik lemah dapat ditutupnya. Walaupun gerakannya gemulai dan indah namun semua serangan yang ditujukan kepadanya dapat dihalau hanya dengan kibasan, lecutan selendang jingganya. Kadang berfungsi seperti kipas, menangkis dan mengibas. Bisa pula menjadi lentur , melecut dan menampar. Yang paling berbahaya bila selendang jingga itu menjadi keras. Terisi tenaga dalam. Mampu menusuk, mampu memberikan totokan yang mematikan.


KINANTI si Bidadari Angin Timur pewaris ILMU SELENDANG PENEBAR MAWAR murid kesayangan DYAH PUSPA pemilik BUKIT MAWAR, seorang kembang dusun sederhana menjelma menjadi wanita muda perkasa.


Bersambung.....


Malang Si Lingga Sayang


Diperguruan MACAN PUTIH


10 tahun yang lalu


Seorang bocah yatim piatu, diselamatkan oleh SARDULO


Karena kedua orang tuanya tewas dibunuh perampok didekat kawasan HUTAN BARON.


LINGGA anak itu, kemudian menjadi penghuni perguruan MACAN PUTIH sebagai pelayan pribadi SARDULO sang ketua.


Merasa mendapat budi yang besar karena pertolongan itu. Membuat LINGGA sangat berterima kasih dengan berkerja rajin dan bersungguh sungguh.


Menyiapkan air, untuk keperluan memasak, minum dan mandi sang ketua. Juga melakukan pekerjaan rumah yang lain. Seperti mencari kayu bakar.


Setiap pagi ia mencari kayu bakar di Hutan Baron didekat perguruan itu.


Setiap pagi harus melewati lapangan luas, tempat murid murid perguruan berlatih ilmu cakar Macan Putih dan berlatih pukulan yang lain.


LINGGA sebenarnya ingin pandai bersilat juga untuk menjaga dirinya, agar kejadian menyedihkan tidak terjadi lagi di kehidupannya mendatang.


Namun keinginan tinggal keinginan, LINGGA tidak sampai hati untuk memohon menjadi murid sang Ketua, yang dianggap telah begitu berjasa kepada dirinya.


Seperti pagi ini..matahari masih belum tinggi, sinarnya masih belum mampu menembus kerimbunan Hutan Baron, udara sejuk, embun masih bergelatung indah di ujung dedaunan.


Cemerlang berwarna warni tertimpa sinar cemerlang matahari.


Suara beburungan dan satwa lainnya menyemarakan pagi yang permai.


LINGGA berusia 15 tahunan. Rambutnya panjang ikal. Diikat dengan kain kepala hijau. Pakaiannya berwarna hijau longgar. Wajahnya bulat sederhana, kelihatan gagah. Bibirnya kelihatan terkatup jarang tersenyum, berperangi pendiam rupanya, tingginya rata rata seperti pemuda tanggung seusianya.


Pagi ini tidak seperti biasanya,.. kali ini, Ia mengumpulkan kayu bakar agak jauh masuk kehutan. Karena ia sangat penasaran sekali, diujung hutan ada bukit dan disana terletak air terjun yang tersembunyi. Dan ia menuju kesana.


*


Benar juga, setelah beberapa saat mendaki, terdengarlah suara deburan air yang jatuh menimpa bebatuan, udarapun lebih dingin dan berkabut.


LINGGA meletakkan kayu bakar yang berhasil ia kumpulkan di dekat pohon Jati besar.


Ia mempercepat langkahnya menuju air terjun.


Pemandangan yang luar biasa.


Baru pertama kali ditemuinya seumur hidup..


Air yang menderu jatuh dari bukit kecil menimpa bebatuan besar dibawah, kemudian mengalir kesebuah sungai, yang ternyata mengalir ke sungai yang ada disamping perguruan Macan Putih.


Tanpa sadar LINGGA meloncat terjun ke lubuk air di bawah air terjun setelah melepas pakaiannya.


" Byuuuur.....air berdebur, bercipratan ke udara yang berembun.....ahhh...," segar sekali, nyesss....terasa keseluruh badan sampai dihati...


LINGGA dengan senangnya bermain air, berenang dan menyelam. Mencoba derasnya air terjun yang jatuh dengan berdiri dibawahnya.


Air dingin menerpa kepala dan badannya...luar biasa ..sensasi yang luar biasa ..indah..dan nikmat...sukar di lukiskan kata kata...


Ada tiga air terjun dibukit itu. Dijelajahi semuanya, sampai yang air terjun paling kanan yang ketiga lebih kecil. Agak tersembunyi dibalik semak dan ranting ranting pohon raksasa yang menjulur ke arah air terjun...dan kelihatan jarang dikunjungi...kurang asyikkk..


Air tidak bebas jatuh kebawah, terhalang jatuhnya oleh ranting dan batang pohon.


Namun LINGGA penasaran dan terdorong menyelidiki apa yang ada di balik air terjun, dan lalu ia menyelam.. ....

__ADS_1


Tiba tiba ada pusaran air kuat yang menariknya kebawah.. LINGGA terkejut..ia berusaha melawan tarikan dengan berenang keatas melawan arus..


Semakin kuat ia meloloskan dari tarikan, semakin kuat ia tertarik kebawah...seakan ada tangan arus kuat yang menahan dan.menarik...


Lama kelamaan daya tahan LINGGA habis. Udara semakin berkurang di dalam paru parunya, air sungaipun sudah banyak masuk kemulutnya..


Tiba tiba sebatang kayu besar terseret arus yang hanyut menghantam kepalanya yang telah timbul tenggelam mencari udara..


Rasa sakit menerjang kepalanya...pandangan matanya mengabur.., nabar...berbayang..


kemudian samar.....gelap ...hitam ...dan hilanglah kesadarannya.


Tangan arus terus menyeretnya ke gua dalam sungai dibalik air terjun yang tersembunyi..


Badan dan  kepalanya,.terseret..terbentur dinding batu....terus menghilang...!!!


Dan di air terjun ketiga kembali tenang, pusaran air sudah tidak terlihat lagi..tenang...damai


..seperti tidak pernah ada kejadian apa apa.


*


Hari itu LINGGA tidak pulang ke perguruan Macan Putih. Sudah tiga hari dilakukan pencarian oleh seluruh penghuni perguruan.


Yang ditemukan hanya seonggok kayu bakar dan sepasang pelapis kaki LINGGA saja.


LINGGA sendiri tidak ditemukan.


Hilang lenyap seperti ditelan bumi.


SARDULO sangat sedih akan keadaan pelayannya yang bernasib malang.


Perlahan...LINGGA terlupakan. Pelayan yatim piatu yang malang...


Matahari kembali keperaduan, malam memeluk Hutan Baron...


Bulan sepotong tersenyum lirih...


Bersambung.....


Diracuni Dendam


Suatu tempat di Pantai Selatan..


Pusara itu masih belum kering. Tanah nya yang masih merah.


Tangisnya yang masih basah.


Wajah cantiknya nampak pucat dan tirus.


Pusara sederhana itu, hanya di tandai sebuah nisan batu. Terletak di kerindangan sepasang pohon kamboja merah.


" MINARTI "


TERKASIH


CEMPAKA masih belum bisa melepas kepergian orang yang sangat dicintainya. Guru terkasih, juga pengganti orang tuanya.


MINARTI tewas karena kalah duel dengan SANTIKA. Pukulan jurus BAYANGAN PEDANG PENGEJAR ROH melalui PEDANG PEMIKAT SUKMA menghantam dada MINARTI dan menguncang isinya. Luka dalam yang tidak berhasil terselamatkan. Racun yang kuat dan kilatan petir menghanguskan isi dadanya.


CEMPAKA seperti layang layang putus. Seperti ayam kehilangan induknya.


Saudara perguruan yang banyak tidak mampu menghibur hatinya.


Tanah merah, air mawar dan taburan bunga tujuh rupa..tergenggam dikedua jari tangannya. Meski wajahnya pucat dan tirus.....akan tetapi sinar matanya merah dan membara. Kesedihannya melahirkan dendam. Dendam yang tidak akan pudar sebelum melihat " PEMUDA BIRU " mati ditangannya. ...


Ia akan buru sampai ke ujung duniapun si PEMUDA BIRU.....juga PEMUDA CERIWIS...


Jemari yang mengepal gemetar. Dendam membakar hatinya.


Tapi ada yang disesalkan hatinya.


Gurunya saja kalah, apalagi dirinya.


Bersambung.....


Cempaka Be Back


Semenjak gurunya tewas, perguruan SELAKSA RACUN, secara otomatis menjadi tanggung jawabnya, ia sekarang menjadi pemimpin .


Tugas semakin berat dipundaknya.


Sebagai pemimpin perguruan dan juga ia mempunyai tugas pribadi yang lebih berat yaitu membalaskan dendam akan kematian gurunya tercinta.


Semua ilmu peninggalan gurunya. sudah dikuasai, semuanya. Tenaga dalam yang dikuasai juga sudah tingkat tertinggi. Ilmu pedang TARIAN


BIDADARI MAUT sudah tuntas. Akan tetapi..... semua itu belumlah cukup.?


Inilah yang menggelisahkan hatinya...PEMUDA BIRU itu berilmu sangat tinggi. Kalau ia nekat, sama saja menyerahkan nyawa....tidak..! pikirnya resah.


Hingga malam ini..di kamar bekas gurunya...


Malam gelap bulan tak menggantung seperti biasa. Udara malam ini terasa lebih dingin. CEMPAKA gelisah didalam tidurnya,  karena mimpi buruk selalu menghantuinya. Angin bertiup menjerit jerit seperti lolongan makhluk dari dunia lain.


CEMPAKA menaikkan selimutnya menutupi tubuhnya yang hanya terbalut baju tidur tipis warna merah muda.


Selintas terlihat lekuk tubuhnya yang indah. Sebelum selimut benar benar menutupinya dan cahaya lampu disudut kamar tiba-tiba mati..... ada kesiur angin memasuki jendela kamarnya...yang entah sejak kapan jendela kamar itu terbuka....

__ADS_1


Dalam keadaan sadar dan bukan bermimpi, CEMPAKA merasa ada helaan nafas dan juluran tangan ke arah pundaknya.


Secara reflek tangan menangkis, dan dilancarkan pukulan SELAKSA RACUN sambil berteriak terkejut,


" Siapa...,"?? tubuhnya melenting dan menyambar kearah meja dimana pedang beronce merah berada.


" Sreet ,.....,rrrr....desss.." suara pedang lolos dari sarungnya, dan bergetar terisi tenaga dalam.


CEMPAKA dalam keadaan nanar, belum pulih benar kesadarannya.


Memandang sosok asing yang meloncat ke arah dinding dengan ringan menghindari pukulannya yang mematikan.


Pukulannya menerpa tempat kosong dan menghanguskan dinding kamar.


Dari penerangan yang bergoyang goyang dikamar , nampak sosok asing itu adalah seorang laki laki sekitar berusia 45 tahunan, berbadan tinggi besar, tegap dan berwajah jantan. Matanya melotot kearahnya dan mulutnya mengangga terbuka lebar...


Terkejut dan terpana melihat pemandangan indah menantang didepannya.


Seorang gadis muda cantik. Muka lonjong putih bersih. Alis hitam tipis bak semut beriring. Hidung kecil mancung, pas dengan matanya yang besar bulat dan bibir merah penuh yang basah.


Rambutnya panjang terurai menutupi dua bukit dadanya yang indah. Setengah telanjang, karena hanya memakai baju tidur tipis berwarna merah muda berdiri menantang didepannya.


Sosok asing itu tidak menyahut, malah nampak meleletkan lidah menahan birahi yang tiba tiba bangkit.


Melihat keadaan seperti itu, dengan marah CEMPAKA melancarkan serang pedang dengan merapal jurus TARIAN BIDADARI MAUT....pedang nya berdesing melancarkan 6 jurus sekaligus, mengarah ke titik serang yang mematikan.


Belum hilang rasa takjubnya, sosok asing itu sudah diserang begitu dahsyat...angin pedang mencicit melabrak ke arahnya....


" Hiaatttt.......," tubuhnya melayang keluar kamar, dari jendela tempat yang sama ketika ia masuk. Ia merasa tempat itu terlalu sempit dan tidak menguntungkannya.


CEMPAKA memburunya lolos melalui jendela dan terus melakukan serangan pedang dan ditambahkan pukulan Selaksa Racun ditangan kirinya.


Langit diluar menggantung..bulan muda keluar dari bayang awan....


Beberapa burung dan kelelawar terbang terkejut merasakan deru dan hawa pembunuhan di tempat itu...


Pedang merah meluncur deras menyerang ke titik mematikan yang berbeda...Serang ke mata berhasil di tepis hanya melalui kibasan lengan baju yang longar...dari sosok asing, Hanya dengar mundur setengah langkah tusukan keulu hati dihindarinya...kemudian tubuhnya melambung keatas untuk memunahkan tusukan ketempat rahasia dan tebasan ke arah kaki.....sedangkan pukulan beracun selaksa racun...dengan mudah dimentahkan dengan dorongan kedua tangannya yang mengeluarkan asap hijau bergulung gulung.


Semua dilakukan hanya dalam satu gebrakan saja. Hanya menghalau dan menghindar tanpa membalas sedikitpun.


CEMPAKA sangat terkejut, semua serangannya gagal..


" Siapa ...kau sebenarnya...jangan sampai kau mampus tanpa nama..!??...hardiknya menutupi kegelisahannya.


" Terima seranganku...hiaatt..ser..ser..srrr, ". tiba tiba sepasang tangan itu berubah hijau..mengepulkan asap ...dan bertambah panjang..mengejar kearah CEMPAKA.


CEMPAKA berdiri terlongong. Baru kali ini, seumur hidupnya menemui kejadian aneh seperti ini. Serasa bermimpi dan hampir ia tidak percaya...kalau dia tidak merasakan sendiri, bahwa tangan yang memanjang itu mengeluarkan tenaga yang dahysat dan beracun


Baunya sangat amis memuakkan.


Ia yang ahli racunpun..mengakui bahwa pukulan ini sangat berbahaya.


Disiapkan pukulan SELAKSA RACUN tertinggi miliknya untuk menghadapi serangan balasan itu.


Tangannya berubah warna merah ke jingga bergetar, jurus TARIAN MAUT pungkasan disiapkan . Pedang ronce merahnya berputar sengit bak baling baling melindungi dirinya.


Tangan hijau itu seperti punya mata, menyelinap di antara bayangan pedang, menyasar jalan darah berbahaya di tubuhnya. Sekali dua kali.


.terpaksa tertusuk atau tertebas pedang. Anehnya..pedangnya malah tergetar balik, memantul dan membuat jemarinya yang menggengam pedang panas dan kesemutan.


Semua ilmu yang dikeluarkan berhenti ditengah jalan.


Karena serangan balik sosok asing, seakan tahu kemana jurus selanjutnya akan dilakukan. Sedang pukulan beracun andalannya langsung punah bertemu angin pukulan berwarna hijau menggedikan.


CEMPAKA merasa tengkuknya dingin..dan keringat deras membasahi tubuhnya.


" Ha..ha..bocah cantik....makin merangsang saja tubuhmu. Ayo...terima seranganku...he..he..he..," arah serangan sosok hijau berubah. Semula tujuannya untuk mengalahkan, bahkan membunuh berubah dratis...


Dari serangan yang terakhir ia bisa mengukur setinggi apa ilmu lawannya. Dan ilmu dan tenaga dalam apa yang dipakai.


Pukulan tangannya berubah dari menusuk menjadi meraba, dari menampar jadi mengelus.


Meraba dan mengelus bagian tubuh sensitif CEMPAKA.


CEMPAKA gadis muda polos, walaupun hidup bergelimang dengan Gurunya yang sesat, ia belum pernah merasakan sentuhan laki laki.


Serangan sosok hijau membuatnya putus asa, bahkan kini tubuhnya menggigil...dengan rasa berbeda...sentuhan, rabaan, elusan membuatnya semakin hilang kosentrasi...tubuhnya panas dingin..tangan dan kakinya gemetar..nafasnya memburu..pikirannya kacau...pegangan pedangnya mengendur...seluruh tubuhnya bergetar.....sampai ia terkejut...dan segalanya telah terlambat....


" Hiaaat......rebah....!!," teriakan sosok asing itu..mengejutkan...dan..terasalah  jari hijau itu menerobos pertahannya menotok ulu hati..dan tangannya satunya menepuk tengkuk menghilangkan kesadarannya.


CEMPAKA tidak merasakan sakit, namun pandangannya mengabur dan kemudian gelap.


Sebelum CEMPAKA jatuh...sosok asing itu sudah menangkap dan memondongnya...kemudian berkelebat memasuki kamar kembali.


Langit diluar masih sama.


Terang bulan muda masih sama.


Malam masih menggantung...


Perguruan Selaksa Racun masih lelap dalam tidur...


Namun mulai malam ini...


kehidupan CEMPAKA akan berubah....


Lampu diluar kamar masih tetap mati..bersuara klik..klik..klik bolak balik di permainkan angin yang semakin dingin..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2