
CHAPTER 3
Dendam Di Bawa Mati
Dengan langkah terseret seret kepayahan. Dipaksa untuk secepat dan sejauh mungkin meninggalkan BUKIT MAWAR..
Tubuhnya
terasa sakit..bekas luka Pemuda Biru dan Setan cantik penghuni bukit
itu membuatnya sangat menderita. Luka dalam yang sangat parah.
Namun yang lebih parah
adalah luka di hatinya...dua orang yang membuatnya sengsara dan gadis
dusun sialan itu...yang membuat hidupnya..jadi begini..
Langkahnya terseok seok pandangannya mengabur...tanpa disadarinya langkahnya menuju jurang menganga didepannya...
Bayangan wajah wajah dan
gelegak dendam memyesakkan kepalanya...hingga ketika..kaki kanannya
menginjak tempat kosong....terlambat sudah..
" Aaaaaaaa......,"
lengkingan menyayat dari BAGUS HANDOKO, yang terguling jatuh ke
jurang..dalam tak terkira..membawa serta juga ....SETUMPUK
DENDAM....yang membakar hatinya....lenyap....di jurang yang tak
berdasar....
Seekor burung berkelepak terbang menjauhi jurang maut..
Siangpun belum purna menampakkan wajahnya...bahkan sisa kabut masih ada...
Kembali memudarkan pandangan ...mengabut tebal diatas jurang...
Bersambung....
Kebimbangan Ludiro
Terakhir pengejaran sampai pantai Selatan membuat LUDIRO benar benar terkejut dan tidak menyangka,..bahwa orang yang
menggegerkan rimba persilatan dan menggoncangkan negeri ASOKA adalah
sahabatnya sendiri. SANTIKA si pemuda biru adanya.
Ia jadi kebingungan.
Karena baginya, semua kematian itu adalah merupakan sebab akibat. Dimana
SANTIKA menjadi bagian dari mata rantai itu. Semua yang dilakukan
SANTIKA merupakan rantai karma. Siapa yang menabur angin, ia akan menuai
badai.
Semua yang diburu dan dibunuh SANTIKA adalah orang orang yang menjadi penyebab terbunuhnya kedua orang tuanya.
Baik dari golongan putih apalagi dari golongan hitam.
Ia tidak bisa secara mutlak menyalahkan SANTIKA.
Semua itu lebih tepat
adalah urusan pribadi..yang kebetulan yang menjadi korban balas dendam
itu adalah bagian dari rakyat ASOKA.
Ia harus menemukan SANTIKA segera. Ia harus menyakinkan akhir dari perburuan itu.
Dan memastikan agar SANTIKA tidak akan kesalahan tangan.
Langit di pantai selatan
berarak jingga memanjang indah. Cahaya mentari sepotong menampakan
bayang bayang diatas gelombang yang saling berkejaran...
LUDIRO mengejar ke arah barat, walaupun berat rasanya melepas Gadis Merah yang membawa lari tubuh luka gurunya....
Sesaat ia berhenti gamang...
Lalu...
Ahhh.....kedua kakinya tiba tiba berlari memutar ke arah mana gadis itu lenyap.....
Mentari luruh dicakrawala barat, langit gelap angin dingin...
Pengembaraan PANGERAN LUDIRO semakin menarik...
Bersambung......
Paramitha, Who Is She?
Di Villa Rembulan
" Ayahnda,....kakang
LUDIRO. sudah hampir 3 bulan ini, tidak kesini, ya?," suara manja gadis
bangsawan nan cantik berkulit putih lembut. Wajahnya sangat cantik
bersinar. Rambutnya hitam panjang tersembunyi dibalik mahkota puteri
mungil penuh permata mutu manikam.
Matanya
bening bulat berbulu mata lentik. Pas dengan alis matanya yang
melengkuk bak bulan muda. Bening indah laiknya Bintang Kejora. Senyum
menggantung manis dibibir tipisnya merah muda dan hidung mancung nan
mungil. Wajahnya oval mungil....Sang Puteri hiasan Villa Rembulan,
puteri terkasih Panglima Perang Negeri ASOKA, BANARA , adik sang raja
BENGALA.
Sang puteri jelita adalah PARAMITHA...
Puteri jelita lemah lembut tampak diluarnya. Siapa sangka ia adalah puteri perkasa.
Karena kecintaannya akan ilmu silat , Panglima BANARA harus mendatangkan guru guru silat pilihan.
Bahkan karena rejeki yang baik buat sang puteri.
Tokoh sakti tua dari Biara TERATAI PUTIH..KEMALA SARI si PEDANG TERATAI WELAS ASIH menjadi gurunya.
Aneka
ilmu silat dikuasainya. Jurus PEDANG TERATAI dan Ajian WELAS ASIH
adalah Ilmu yang tertinggi. Tidak sembarang orang bisa mengalahkannya.
"
Ayahnda....aku ingin menyusul kakang LUDIRO ya. Aku ingin mencari
pengalaman ... seperti kakang ya... ," ? rengeknya seperti anak manja ke
Ayahnya.
Keinginan mengembara sudah sering sekali di minta oleh PARAMITHA. Akan tetapi BANARA tidak pernah mengabulkan.
Permintaan
kali ini mungkin akan lain. Apalagi sisi petualang BANARA sebenarnya
menyetujui, apalagi ilmu yang dikuasai puterinya semakin tinggi.
Keesokan
harinya ada seekor kuda putih besar tinggi dan gagah...melesat kencang
laksana terbang keluar dari gerbang gedung panglima perang BANARA.
Seorang
pemuda kecil sangat tampan berpakaian biru muda menyoreng pedang
berkepala naga membedal kuda putih itu, keluar kota ASOKA.
Bersambung....
Perjalanan ke Barat
Kembali mengikuti perjalanan SANTIKA..
Dari Pegunungan Wilis
tempat Perguruan Rajawali Sakti, SANTIKA baru melanjutkan perjalanannya
menuju ke Barat. Dengan niat menemui gurunya SETAN BERKABUNG si DENAWA.
Sebenarnya ia agak was
was menemui gurunya. Apalagi ia harus mempertanggung jawabkan semua yang
telah dilakukannya. Semua pesan yang sesungguhnya merupakan cita cita
gurunya gagal total.
Ia hanya berhasil menuntaskan dendam pribadinya walapun tidak semuanya. Musuh musuh orang tuanya tewas.
Tapi yang paling menyedihkan hatinya, musuh utamanya, yang menyebabkan bencana ini berawal adalah TEGAR PRAKOSO.
Setelah duel terakhir,
PEDANG PEMIKAT SUKMA lenyap bersama tubuh TEGAR PRAKOSO yang sengaja
mengalah demi memutus karma dendam dan secara tidak langsung memindahkan
tenaga dalamnya ke tubuh SANTIKA, dan menghilangkan pengaruh buruk
pukulan Selaksa Racun dari MINARTI, Bidadari Selaksa Racun didalam
tubuhnya.
Ia belum berhasil
__ADS_1
mengangkat tinggi namanya didunia persilatan untuk menjadi jago nomor
satu, pedangnya lenyap dan musuhnya secara tidak langsung menjadi " GURU
" bagi dirinya.
Matahari telah condong kebarat.
Bayangan malam telah menggantung.
SANTIKA harus mempercepat larinya, agar ia tidak jatuh malam, ketika sampai di LEMBAH KEMATIAN.
Goa di Lembah Kematian
tidak ada yang berubah, masih sama seperti dahulu ketika ia tinggalkan.
Masih sunyi dan menyeramkan. Karena siapapun tahu, Lembah ini adalah
tempat tinggal Datuk Barat yang mengerikan..salah salah bisa hilang
nyawa. bila sampai tersesat kesitu.
Langit mulai gelap. Udara dingin mengalir sepanjang lembah.
Seluruh
goa sudah diperiksa oleh SANTIKA, akan tetapi sosok gurunya tidak ia
temukan. Tempat tinggal gurunya walau menyeramkan, nampak rapi dan
bersih. Debu dan udara lembab belum terlihat. Berarti gurunya pergi
meninggalkan lembah belum begitu lama.
Malam semakin luruh
Rembulan sepi sendiri
Menggantung disepoinya angin
Suara binatang malam dan
Kelepak kelelawar menerabas dedaunan yang digoyang angin.
Jerit dan bunyi nya memotong sunyi malam di Lembah Kematian....
SANTIKA menghela nafas penyesalan. Gundahnya belum jua terobati.....
SANTIKA...meninggalkan pesan diatas bebatuan pipih didepan gua.
Melalui guratan ujung seruling birunya. ....
Salam hormat Guru
Murid datang berkunjung
Maafkan, jika Murid sudah lama sekali tidak mengunjungi, Guru. Murid berharap Guru dalam keadaan sehat selalu..
Salam hormat.
Bersama semilirnya angin...
SANTIKA berkelebat cepat kearah utara menuju kotaraja ASOKA berniat menemui sahabatnya Pangeran LUDIRO.
Bersambung.....
Air Terjun di Balik Gunung
Tangan arus terus
menyeretnya ke gua didalam sungai dibalik air terjun yang
tersembunyi..badan dan kepalanya,terseret..terbentur dinding
batu....terus ..sampai kesadaran lenyap sudah.
Hampir setengah harian,
badan yang kecil itu direjam bebatuan dan terseret air timbul tenggelam.
Hingga dikelokan sungai didalam gunung, air melemparkannya ke sudut
dataran berlumut berwarna merah sebelum sempat terjatuh diujung gunung
itu yang merupakan ujung awal sebuah air terjun yang tinggi . Air terjun
lagi dibalik gunung. Jauh berpunggungan dengan air terjun ketiga saat
LINGGA terseret arus.
Tubuh kecil itu terhempas dalam keadaan pingsan. Ataukah sudah meninggal ?
Sinar matahari
langsung tidak sampai kedalam gua didalam gunung itu. Sinar matahari
terpantul oleh batu putih pipih di ujung gua, yang langsung keluar
sebagai air terjun.
Walaupun didalam gua, namun begitu udara dapat bebas keluar masuk...dari luar gunung ke dalam gua.
Sudah dua hari LINGGA terkapar didataran berlumut merah.
Hidup atau matikah ia?
Didalam goa berlumut merah..
Udara yang sejuk dan pantulan sinar mentari pagi..menerobas kedalam goa.
Tepat menimpa sosok yang terkapar
tak perdaya...
Gemericik air yang mengalir ...
Dan desau angin semilir...
Menyadarkannya....
Ada pergerakan kecil di ujung jari tangan LINGGA dan bergetarnya kedua kelopak matanya.....
" Ah......, " keluhnya tersadar. Ia terasa badan nya terasa sakit, nyeri dan pedih.....dicobanya dibuka matanya perlahan...
Nampak bayangan berputar, pudar, buram...perlahan menjadi nyata terang....
" Ah....apa yang terjadi, aku ada dimana?" batinnya bertanya.
Baru terasa dingin,
punggungnya , ternyata ia terbaring diatas tanah merah..di pinggir
sungai. Suara air sungai mengalir..mempercepat kesadarannya. Setelah
kesadarannya benar benar pulih, dan ia merasakan betapa sakit terasa
seluruh badannya.
Ia mencoba bangkit, akan
tetapi kedua kakinya masih terasa lemas. Ia hanya dapat bergeser
sedikit menyandarkan tubuhnya..di sebuah batu berwarna merah di dekat
tubuhnya terdampar.
" Ohhh....aku ada
didalam gua dibawah gunung...aku terseret arus kesini rupanya...",
batinnya lagi. Setelah dilihatnya sekeliling tempatnya duduk dan
diingatnya kejadian sebelumnya...
Di rabanya seluruh tubuhnya, ditekan, digerakkan...berulang ulang....
" Ooo...terima kasih
Tuhan," tidak ada anggota badannya yang terluka berat. Patah dan
keseleo, juga tidak ada. Hanya pakaian hijaunya yang dipakai , sobek
disana sini, dan kotor karena terkena lumpur sungai.
Disetiap pakaian yang
sobek, terdapat luka, luka sobek yang telah mengering, memar dan bengkak
ditubuh dan kepala akibat terbentur batu, maupun dinding sungai dalam
goa ini rupanya...
" Ahh......aduh....," nyeri sekali rupanya....dan...
"....oohhh...kruyuk kruyuk", perutnya berbunyi karena lapar..kelaparan.
Kesadaarannya pulih membuatnya merasakan semua lukannya dan merasakan pula bahwa perutnya sangat lapar.
Dikitarkan pandangannya ke sekeliling dari tempatnya bersandar.
Tempatnya bersandar tepat.berada di tepi sungai di dalam gunung...sambungan dari air terjun di sisi gunung.
Tanah dan batu serba merah.....dan tanaman perdu dan lumut berwarna merah pula...
Di sudut kirinya, tepat
tertimpa sinar matahari..ada sebuah pohon buah kerdil...disalah satu
tangkainya...ada buah berwarna jingga keemasan ditimpa matahari,..hanya
satu satunya...kelihatan sangat menggiurkan. .....
Perutnya terus berbunyi
dan minta diisi..karena tuntutan lapar ...LINGGA memaksakan diri
..dengan cara merangkak kearah pohon itu.
Pohon buah kecil berdiri diatas gundukan tanah dan batu...dikelilingi...perdu dan rerumputan merah...
Perlahan..merangkak,
mendekati..walaupun ke dua kakinya belum bisa dipakai untuk
berdiri..tapi cukup kuat untuk dipakai merangkak..
Perlu beberapa
__ADS_1
saat...sampailah ia didepan pohon itu...secepatnya dipetiknya buah itu,
dan langsung dimakannya..rasanya sangat manisss....
Tarikan tangannya
memetik buah itu tanpa ia sadari menyebabkan gerakan perdu dan geseran
batu disekitar pohon.....bersamaan itu...
LINGGA mengunyah buah
dengan lahap..dan.." syuutttt " sebuah bayangan putih panjang kecil
kontras dengan warna merah ditempat itu..menyambar kearah tangan yang
sedang menyantap buah...
" Aduuhhhh......," jerit
LINGGA terkejut dan kesakitan. Sepotong buah jingga keemasan yang belum
sempat dimakan terpental jatuh..mengelinding kearah sungai...
Lengannya terasa sakit sekali, secara reflek tangannya yang kiri meraih tangannya yang kanan yang terasa saaakkiiittt.
Terpeganglah...." sesuatu " yang menempel di tangannya.
Ia terkejut, ternyata yang membuat tangannya sakit adalah seekor ular putih.kecil..yang.menggigit tangannya...
Ditariknya ular itu
sambil menahan sakit yang luar biasa. Dan seketika dirasakan seluruh
badannya " terserang " hawa dingin..yang menyakitkan juga.
Terjadi keanehan...ular
putih itu tiba tiba mengeluarkan asap jingga yang harum..rupanya..ular
itu " terbakar mati"...meleleh dan mencair...hilang....tak berbekas..
Badan LINGGA yang semula kedinginan dan sangat sakit....
berubah menjadi hangat..nyaman....tapi...tiba tiba berubah...panas....panas sekali membakar.....
" Aaaaaaa....panas...panas...," jeritnya kepanasan.
LINGGA tidak kuat menahan rasa panas....dan jatuh pingsan kembali...
**
Kejadian sebenarnya....
Ketika LINGGA memakan buah Jingga keemasan...sebenarnya buah itu " buah beracun " akan tetapi efeknya baru muncul jika bertemu racun ular putih.
Buah Jingga keemasan sebenarnya buah beracun yang bernama KALA JINGGA bersifat panas....dan ular putih..yang bernama PETHAK NAGA yang mempunyai sifat dingin.....
Buah KALA JINGGA mempunyai racun yang sangat kuat....dan ular PETHAK NAGA seolah sebagai " penjaga" buah tersebut. Tidak kurang pula kandungan racunnya. Dan dua duanya,
" masuk" kedalam tubuh kecil LINGGA.
Dan akibatnya nyawa LINGGA, berada diujung tanduk.
Untung saja, teriakkan kepanasan, sebelum LINGGA jatuh pingsan, ada yang mendengar...
Dan juga
Tuhan
mempunyai rencana yang lain...sebuah bayangan putih berkelebat,
menemukan, memeriksa dan kemudian menyambar tubuh malang LINGGA yang
pingsan untuk diselamatkan...
Bersambung....
Nyi Mayang si Walet Merah
Bayangan putih membawa tubuh kecil LINGGA...ke arah ujung sungai, mendekati air terjun. Disebuah goa yang bersih. Anehnya, tempat itu berwarna putih semua.
Tempatnya bersih, berlantai marmer alam berwarna putih.
Ditengahnya ada batu bundar berwarna hijau gelap....disanalah tubuh LINGGA dibaringkan.
Sosok penolong itu seorang wanita tua yang buta....wajahnya masih tampak bersih, terlihat sisa kecantikan di masa muda.
Rambutnya disanggul rapi...pakaiannya longgar berwarna merah muda.....
Walaupun buta, wanita tua itu mempunyai pendengaran sangat tajam.
Mendengar jeritan LINGGA tubuhnya segera melesat mencari arah suara itu, yang memang tidak jauh dari tempatnya tinggal.
Ditemukannya ...asal suara itu...terdengar helaan nafas yang lambat dan putus..putus...tak salah lagi...ada orang terluka.
Dihampirinya dan diangkatnya cepat....tubuhnya terasa panas dan mulunya tercium sisa buah ..yang baunya...persis yang pernah ia makan dahulu.
Anak muda ini terluka keracunan....sama dengan dirinya..bahkan racun itu menyebabkannya mengalami kebutaan. Untung tidak sampai merengut nyawanya. Karena ia menemukan batu hijau gelap pemunah racun.
Dimana ia sekarang meletakkan tubuh LINGGA disana.
*
Di empat puluh tahun yang lalu, penolong itu dikenal sebagai NYI MAYANG si WALET MERAH.
Yang mempunyai kisah asmara segitiga..diwaktu mudanya.
Antara KI YADARA, DENAWA dan NYI MAYANG.
Cinta segitiga yang membawa korban NYI MAYANG sendiri.
DENAWA dan YADARA semula adalah sahabat. Walaupun mempunyai karakter yang berbeda, tapi masih tetap terjalin persahabatan antara mereka berdua.
YADARA mempunyai sifat, ramah, lembut, dan suka mengalah.
Berbanding terbalik dengan DENAWA, mempunyai sifat, berangasan, mudah marah, telengas dan maunya menang sendiri.
Ketika muda, mereka berdua adalah sepasang pendekar yang
selalu menjunjung kebenaran dan keadilan, menumpas kejahatan.
Dimana saja mereka berada, sepak terjang nya membuat para penjahat menjadi hilang nyali..lebih baik..nenghindar jauh jauh...
Apalagi jika bertemu DENAWA, penjahat tidak ada ampun lagi. Nyawanya pasti melayang.
Demikianlah mereka berdua bagai sinar fajar di tengah kegelapan.
Sampai suatu saat persahabatan mereka "retak" karena kehadiran seorang pendekar wanita yang cantik jelita yang berhasil meruntuhkan hati mereka. MAYANG SARI, si Walet Merah.
DENAWA yang wataknya terbuka dan brangasan, langsung jatuh cinta mati kepada MAYANG SARI, namun perasaan cintanya bertepuk sebelah tangan,
MAYANG SARI menjatuhkan pilihan hatinya kepada sahabatnya YADARA yang lemah lembut.
Semula DENAWA mampu menerima kenyataan pahit itu, Akan tetapi, bersama berlalu waktu, melihat keakraban dan kemesraan YADARA dan MAYANG SARI hatinya tak urung tersulut api cemburu, Cemburu yang terus berkobar ...hingga terjadilah malapetaka itu,,sebagai puncak dari panasnya bara cinta dan cemburu...
Terjadilah pertempuran antara dua sahabat DENAWA dan YADARA....
Pertandingan dua pendekar muda.yang sama sakti...sama sama kuat...hingga sampai tiga hari tanpa henti bertempur....menyisakan kecemasan dihati MAYANG SARI... yang sebenarnya sama sam mencintai kedua pria tersebut... walaupun dalam bentuk yang berbeda...
DENAWA sebagai cinta kepada seorang kakak..
YADARA sebagai cinta kepada kekasih....
MAYANG SARI sudah berusaha menjelaskan semuanya dan berusaha mendamaikan.... akan tetapi BARA CEMBURU sudah begitu menghanguskan hati DENAWA,,,
YADARA yang dulunya sahabat terbaiknya...berubah menjadi lawan yang harus dilenyapkan...atau...biarlah dua duanya sama sama mati dan sama sam tidak berhasil mendapatkan MAYANG SARI.....
Pertempuran kedua sahabat akhirnya mendekati HUTAN BARON..kearah arah terjun di ujung hutan.
Pertempuran mencapai puncaknya...YADARA mengeluarakan jurus dan ajian RAJAWALI EMAS, miliknya yang tertinggi, karena di tahu bahwa DENAWA tidak mau kalah dan memilih mati bersama.
Sedang DENAWA juga dari awal pertempuranpun sudah mempergunakan jurus dan ajian andalannya dengan tujuan membunuh YADARA....Matanya sudah gelap, hatinya pun telah gelap....BAYANGAN PEDANG miliknya ditebar mencari mangsa....
Terdengar teriakan dan deru jurus dan ajian yang dirapal menggunakan tenaga dalam yang tertinggi...
" Hiaaaaattttt.!!!!!......Hrrrrggghhhh.....!!!!!," angin pukulan dan deru tenaga dalam membungkus ketat dan hawa pembunuhan mengambang begitu kental...
Bayangan emas YADARA terbang bagai Rajawali Raksasa memapasi bayangan putih bagai Naga Raksasa milik DENAWA bertemu di udara...saling dorong...saling pukul..saling serang...saling tangkis....saling mencari celah kelemahan untuk saling mengalahkan...... semua pikiran dan tenaga terpusat kepada duel maut ini...sehingga mereka berdua tidak sadar bahwa ada orang ketiga disana yang selalu was was, sedih, kecewa, melihat " pertempuran bodoh" tersebut....
HIngga semuanya terlambat.......
Bayang merah muda melesat sebat, nekat memisahkan pertempuran kedua sahabat itu....
Dapat dibayangkan betapa terkejutnya keduanya...pukulan sama sama sudah terlanjur dikeluarkan tidak bisa ditarik kembali...namun.... " sasaran " serangan sudah berubah.....
Bayangan merah adalah MAYANG SARI yang memotong arah kedua serangan itu dan menjadikan dirinya sendiri sebagai sasaran ......
" Aaaaaaaaaaaa..................Byuuurrrrr!!!, " jeritan panjang terdengar mengenaskan...tubuh MAYANG SARI terpental bagai layang layang putus....jatuh terjebur kearah air terjun ketiga...dan hilang ditelan arus air yang tiba tiba muncul menghisap tubuh cantik itu...
YADARA terkejut sekali...walaupun berhasil memiringkan pukulannya, namun pukulan masih menghantam pundak MAYANG SARI.....
" MAYANG..........,! " jeritnya melihat itu dan segera tubuhnya melesat mengejar dan terjun ke arah tubuh MAYANG SARI menghilang....segera menyelam......
Sedang DENAWA...pukulan dahsyatnnya menghantam telak dada MAYANG SARI...
Mulutnya terbungkam...kedua tangannya lemass.... pandangannya nanar ..kearah menghilangnya tubuh...MAYANG SARI dan YADARA....ditelan air terjun...
Hampir seperempat hari... DENAWA berdiri tertegun ...terlongong....tidak melakukan sesuatu....hingga....... dilihatnya buih air bergelembung berisi udara....
" Huaaaaaaaahhhh.......," di lihatnya YADARA muncul dari air terjun...sendiri....
Segera ditubruk tubuh basah YADARA....lenyap sudah api pembunuhan tadi...di guncang guncangkan tubuh YADARA dengan wajah cemas.....
" MAYANG...... MAYANG mana , YADARA ?...," tanyanya gugup.....
YADARA sekejap menatap DENAWA....kemudian dengan raut sedih..ia menggeleng.....
" MAYANGGGG.......Arrrggggggghhhhhh, ...Buummm...Buummmmm,,,," teriak DENAWA seperti kesetanan... Ia kecewa, sedih, marah dan menyesal......MAYANG hilang tidak berhasil diselamatkan oleh YADARA,,,,,MAYANG terbunuh terkena pukulannya,,,,..
Dalam kemarahan dan penyesalannya dua pukulan dahsyat di lepas menghantam tebing tebing air terjun di Hutan Baron.....seperti orang gila ia melesat pergi kearah barat...
Meninggalkan YADARA yang masih berdiri lemas tidak berdaya...memandangi air terjun yang kembali berdebur seperti sedia kala..ia masih tidak percaya telah kehilangan kekasih yang dicintainya,,,hanya karena pertempuran bodoh tadi...
Beberapa puluh tahun kemudian.....
Muncullah Perguruan RAJAWALI EMAS yang dipimpin YADARA di Pegunungan Wilis..YADARA berhasil memumpus masa lalunya,,,kemudian menikah dengan wanita sederhana..hidup bahagia dengan keluarga dan anak muridnya yang tak terhitung jumlahnya.
Sedang didaerah Barat, munculah tokoh aneh yang tidak lain adalah DENAWA...Ia tidak menikah..hidup membujang....setiap saat masih mengenangkan wanita yang dicintainya ....
Wataknya semakin aneh...tidak hanya orang jahat, atau orang baik...asalkan suasana hatinya lagi tidak enak...jangan di tanya dosa..
Nyawa nyawa akan melayang jika bertemu dengannya...
Semula adalah seorang pendekar, karena kecewa, oleh dendam asmara..berubah menjadi mengerikan ....menjadi Datuk Sesat bergelar SETAN BERKABUNG tinggal di Lembah Kematian.
Bersambung....
__ADS_1