
CHAPTER 29
Rajawali Keluar Sarang
" Sahabat Wijaya dan
yang lainnya, tolong dibantu untuk mengatasi keadaan ini. Dan, aku rasa
pertemuan kali ini sampai di sini!" lanjut Pangeran Ludiro.
" Siap, Paduka. Perintah
akan kami laksanakan. Dan mohon ijin untuk segera melaksanakan tugas,"
Gopara mewakili teman-temanya meminta ijin kepada Pangeran Ludiro dan
bergegas meninggalkan Pavilliun Garuda.
Malam merambat cepat. Udara dingin menyungkup, dan langit gulita tanpa rembulan dan gemintang.
Ludiro segera meninggalkan Villa Garuda menuju bangunan utama istana Pangeran yaitu Grha Hening Jiwa.
*
Ratu Xenia sedang dalam
peraduan setelah lepas meninabobokan si kembar Mahendradatta dan
Mahagittadantta yang sekarang sudah terpulas dalam dekapan mimpi kanak
yang indah.
Berkelebat bayangan
putih dan desir aroma tubuh yang sangat dikenalnya. Tanpa memberikan
perlawanan akan semua kepekaan rasa dan syaraf semua inderanya, Xenia
yang masih terpejam menerima dengan halus ciuman di keningnya.
Ludiro,
suaminya tepat berada di sisi pembaringannya. Bisiknya lembut
membangunkannya, sebenarnya Xenia masih dalam keadaan terjaga.
" Dinda, aku akan pergi
ke Istana. Kabar terbaru, Baginda Raja terculik oleh musuh," suara
lembut Ludiro membawa kabar itu membuatnya terkejut dan terjaga.
" Baginda Raja, diculik?" tanyanya mencari kebenaraan yang barusan didengarnya.
Ludiro hanya mengangguk
pelan. Sorot matanya sangat prihatin. Walaupun biasanya ia sabar dan
tenang. Namun kasus penculikan luar biasa ini, tak urung mengaduk emosi
dan perasaannya. Junjungannya, lambang negara, mengapa bisa dengan mudah
terjadi seperti ini.
Xenia, memahami apa yang ada dalam pikiran dan hati Ludiro, walaupun tak terkatakan sepatahpun, ia sangat paham.
" Pergilah, lakukan yang
terbaik, suamiku!" ijinnya membuat Ludiro tersenyum samar, ***
jemari tangannya mesra dan mata setajam Rajawali membinarkan tekad dan
semangat menghujam mesra ke dalam hatinya.
Kemudian, diiringinya
suaminya ke kamar sebelah untuk berpamitan kepada si kembar dengan
hati-hati memberikan ciuman kasih sayang.
Ludiro berpaling,
menatap dalam ke manik mata Xenia, mengungkapan bahasa yang hanya bisa
dimengerti oleh Xenia dan kemudian berkelabat cepat menuju Istana Asoka.
*
Ludiro mempergunakan
ajian ringan tubuhnya, Lesatan Rajawali Membelah Awan meluncur cepat ke
arah Istana Asoka yang sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari
istana miliknya. Kalau dari Istana Grha Hening Jiwa, puncak atap istana
masih terlihat jelas menjulang tinggi.
Langit malam kali ini
bersih, rembulan dan gemintang berpesta pora mencemerlangkan malam
menggantung di Asoka. Namun suasana alam yang indah bertolak belakang
dengan suasana duka dan berkabut di dalam istana.
Bayangan putih besar
terus melesat masuk melalu tembok istana yang tinggi. Para penjaga yang
bertugas mahfum siapa yang datang. Tanpa berani merintangi dan hanya
menunjukkan sikap sempurna dan menghormat ke arah berkelebatnya bayangan
putih, sang junjungannya juga, Pangeran Ludiro.
*
Perdana Menteri Banara,
sedikit melamun dengan mata berbinar cemerlang, sesenyum tipis samar
tertarik dari sudut bibirnya. Tangan kanannya yang memegang ujung kursi
berlengan sepasang Naga, kursi kebesaraan Baginda Raja, nampak tegang
dan berkeringat. Keringat yang mewakili hasrat sang empunya yang semakin
mengeliat dan tidak sabaran.
Pikirannya mengambang
dalam potongan-potongan peristiwa dan rangkaian puzzle rencana yang ada
di pikiran dan hatinya. Dalam jeratan pikirannya sendiri, sampai ia
tidak sadar bahwa Ludiro sudah berdiri tegak di hadapannya.
Ia
sedikit tersentak, ketika mendengar dehem Ludiro, namun secepat kilat
reaksinya, ia berhasil menyembunyikan apa yang tadi terlintas di
hatinya, dan memalingkan wajahnya menatap lurus kepada Ludiro, adiknya
sendiri.
" Kakanda Perdana
Menteri, apakah yang sebenarnya terjadi?" suara halus Ludiro mengajukan
pertanyaan langsung ke inti permasalahan.
" Aih... Adinda... mari
duduk dulu!" tawar Banara kepada Ludiro, sambil memilih kursi di balai
pertemuan Naga yang berbentuk oval.
Ludiro memilih kursi
kayu jati berukiran naga dengan warna merah dan bergaris kuning keemasan
di samping kanan Banara kakaknya. Wajahnya tenang bak telaga Bidadari
yang dalam, tidak beriak oleh emosi. Ditatapnya wajah Banara dengan
tenang.
Untuk sedetik pertama,
Banara terkejut dan bergetar hatinya, namun ia sangat lihai
mengendalikan perasaan hatinya. Tidak terlihat sama sekali kegugupan di
wajah dan di sikapnya.
" Adinda... kita
kecolongan. Musuh teramat lihai. Semua penjaga berhasil dilumpuhkan
dengan asap bius penghilang kesadaran, totokan jarak jauh dan timpukkan
batu yang membuatnya pingsan," tutur Banara hati-hati. Tatapannya tidak
lepas kepada Ludiro yang matanya tenang tak beriak.
Ludiro untuk sesaat
tidak memberikan komentar apapun. Ditampung semua cerita versi Banara
yang menurut kisik hatinya yang paling dalam, banyak kejanggalan yang
ditangkap dari cerita itu.
Namun dipermukaan
diakpnya, Ludiro hanya diam, menanti dan mendengarkan lanjutan cerita
Banara seperti, rangkaian kisah yang telah dituturkan sebelumnya.
Sampai di akhir cerita,
Ludiro geming. Semua cerita diterima dan digunakan Ludiro sebagai awal
informasi yang akan digunakan untuk mengambil langkah yang tepat.
Ludiro berlaku cerdik juga, ia tidak menyanggah maupun memberikan komentar akan semua cerita kakaknya.
Dari ujung matanya ia melihat pasukan pengawal dan keamanan ditambah untuk berjaga-jaga.
" Tindakan yang terlambat dan tidak masuk akal,"batin Ludiro.
" Hamba Jumala, datang menghadap, Perdana Menteri dan Pangeran Ludiro," suara lantang mengisi jeda cerita Banara.
Setelah datang menyembah dan menghadap kepada junjungannya.
" Jumala, kumpulkan
jago-jago istana. Siapkan satu bagian untuk melakukan pengejaran
susulan, satu lagi perketat istana, jangan sampai ada serangan susulan,"
suara perintah tegas keluar dari Perdana Menteri.
Belum sempat memberikan
jawaban, ada suara jernih tegas terdengar dan sosoknya berdiri menyembah
di samping Jumala sang Guru Negara.
" Ampun, Paduka Perdana
Menteri... Pengejaran menemui ujung jalan... Terpaut jarak seperempat
hari. Para penculik mempergunakan ilmu ringan tubuh yang lihai sekali.
Ini, hanya sebuah panji yang tertinggal di atas pasir," Kudanyali
mengangsurkan sebuah panji bergambara Naga Menelan Matahari kepada
Perdana Menteri.
" Ampun, Baginda Perdana
Menteri, dari laporan saksi yang sempat bersembunyi melihat enam orang
asing dengan membopong satu sosok, bergegas, melepas sauh kapal yang
sengaja disembunyikan. Segera dengan cepat bertolak memasang layar ke
arah Barat," suara Kudanyali memberikan laporan.
Mendengar laporan itu,
raut muka Ludiro tidak berubah banyak, hanya ujung alis kanannya
terangkat sedikit dan sepasang matanya berkilat sesaat.
" Kudanyali, mengapa
bisa terjadi seperti itu?... Kalian memang tidak becus... Jumala,
tangkap Kudanyali dan pasukannya, beri hukuman karena sudah gagal dalam
tugas," teriak Banara marah. Suaranya menggelegar, membuat Kudanyali,
terbang nyalinya.
" Tapi... Bagin... ,"
suara Kudanyali terputus protesnya. Karena Jumala dengan cepat
menggusurnya dari dalam Ruang Pertemuan untuk dijebloskan ke penjara,
segera diberi hukuman.
Malam terus merangkak
Semua cerita yang
diungkapkan Banara kepada Ludiro, membuat semuanya menjadi tidak masuk
akal. Ada " sesuatu " yang mengganjal di benak Ludiro. Ada yang kurang.
Atau ada bagian yang hilang.
__ADS_1
Otak Ludiro berputar
cepat. Sebegitu banyak hal, yang seakan tidak bersambung dalam semua
kejanggalan tentang hilangnya Baginda Raja. Membuat Ludiro sedikit
banyak sudah bisa mengambil sebuah kesimpulan. Dan kesimpulan itu
membuatnya merinding, kuduknya dingin.
Ada sebuah sekenario " domplengan " yang menunggangi peristiwa ini. Jago-jago istana, bukanlah jago
kacangan. Semua adalah pasukan khusus. Menurut nalar tak akan semudah
itu bisa dipecundangi oleh musuh.
Kecuali... ?
Melihat Ludiro hanya
diam, tanpa memberikan komentar apapun tentang semua yang disampaikan
akan peristiwa yang terjadi. Membuat Banara menjadi gelisah. Walaupun
dari keadaan luarnya, marah dan begitu serius, namun di dalam hatinya
yang paling tersembunyi, ada keringat dingin mulai mengembang.
Banara tahu, adiknya Ludiro, bukanlah orang bodoh. Ia harus terus meningkatkan kewaspadan menghadapinya.
Menjelang pagi, semua
yang ingin diketahui Ludiro sudah terkumpul semua. Ia sempat memeriksa
dan mengecek kebenaran, kepada 10 pengawal raja dan puluhan selir yang
berada di sekitar atau menemani Baginda Raja semalam.
Malam yang penuh kegembiraan, menyanyi, menari dan mabuk-mabukkan.
Ya, mereka semua mabuk. Tidak terkecuali Baginda Raja.
Atau Baginda Raja yang mengajak mereka semua bersenang-senang sampai mabuk?
Satu lagi yang berhasil
ditarik kesimpulan oleh Ludiro bahwa para penculik itu, begitu cepat dan
tepat, seakan mengetahui pasti keadaan di Istana Asoka.
Pasukan pengawal ada di mana? Baginda ada di mana? Sedang berbuat apa? Sisi bagian mana yang lemah? Sehingga mudah ditembus.
Skenario pelarianpun, sudah tersusun rapi dan mulus.
Mengapa para tilik sandi tidak ada yang tahu akan hal ini?
Mengapa pengejaran bisa gagal?
Yang lebih aneh lagi, tidak ada sama sekali perlawanan, atau bentrok antara penculik dengan pasukan keamanan?
Sama sekali, tidak ada.
Penculikan yang berjalan sangat mulus sekali.
Dan sangat mencurigakan?
Setelah semua dirasakan cukup, Ludiro berpamitan kepada kakaknya Perdana Mentri Banara.
Bersama pagi yang mulai
menyingsing kuning, sebuah bayangan putih besar melesat terbang
meninggalkan Istana Asoka menuju Grha Hening Jiwa.
Bersambung....
Semua Bergerak Menuju Istana
Dengan gerak cepat,
Ludiro dengan bantuan Waskito menyebar berita kehilangan Raja ini kepada
para sahabatnya untuk meminta masukan ataupun bantuan dengan melepas
beberapa puluh burung Dara pilihan pembawa surat.
Di pagi yang masih dingin, berterbanganlah puluhan burung Dara pembawa pesan ke delapan penjuru mata angin.
Tidak lama Wijaya pun hadir di Villa Garuda dengan beberapa bekas anak buahnya, untuk berunding dengan Pangeran Ludiro.
*
Untuk sementara waktu,
kita tinggalkan Ludiro yang sedang menyusun rencana untuk melakukan
persiapan guna melakukan pengejaran yang akan dibantu oleh para pendekar
yang akan segera berdatangan ke Grha Hening Jiwa, istana milik Pangeran
Ludiro!
*
Sepasang suami istri yang tampan dan cantik bergegas menuju kota raja dari arah Barat.
Suami
yang berwajah tampan dan gagah dengan kumis tipis menghias di wajahnya
yang tampan dengan senyum samar misterus khas miliknya. Tidak ada yang
berubah pada dirinya, malah terlihat lebih matang 40 an tahun usianya
kini.
Ada yang lebih khas
sebagai ciri pendekar yang satu ini. Semua wajah dan kulit tubuhnya
berwarna biru. Ya, dialah Santika si Pendekar Seruling Biru yang pernah
menggegerkan Negeri Asoka dengan sepak terjangnya yang mengerikan
mengejar dan menuntut balas akan kematian orang tuanya ( Baca : Serial
Pedang Pemikat Sukma )
Sang istri pun setali
tiga uang, tetap cantik bahkan semakin cantik dan matang. Senyumnya
selalu menghiasi bibirnya. Setangkai mawar merah tersemat di ujung
rambut kepalanya, rambut yang panjang yang disanggul indah dengan hiasan
rambut berbentuk mawar merah juga.
Tubuh tinggi semampai
dengan wajah khas yang cantik, bajunya serba merah dan selandang merah
panjang mengikat pinggangnya yang tetap langsing
istri Santika yang ikut bahu membahu menyelamatkan Raja Bengala dalam
Persekutuan Maut untuk makar yang dilakukan oleh Hrastu Bhumi si Guru
Negara Asoka dibantu antek-anteknya yang gagal ( Baca : Pendekar Jari
Sakti )
Sepasang suami istri
pendekar yang berencana ke kota raja. Menuju istana sahabatnya Pangeran
Ludiro. Sudah lama tinggal di Barat, ternyata merasa rindu petualangan
dan rindu juga kepada sahabatnya, terutama si Kembar Mahendradatta dan
Mahagintadantta, sudah sebesar apa sekarang?
Sekalian siapa tahu
bertemu dengan anak perempuannya Kemala Ayu yang sudah 2 bulanan ini
mengembara, meluaskan pengalaman dan menjalankan darma pendekar.
Dan satu lagi, siapa
tahu anak sulungnya yang hilang sepuluh tahun yang lalu, Ganesha bisa
diketahui jejaknya. Sepasang suami istri ini belum kehilangan harapannya
untuk bertemu anaknya.
Santika dan Kinanti
melanjutkan perjalanan ke ibukota. Tak lupa melakukan penunaian darma
pendekar. Memberantas kejahatan dan menegakkan keadilan.
*
Dari atas sebuah
titik hitam membelah langit menjelang siang. Melesat dari Utara terbang
cepat ke arah Tenggara di Lembah Penantian.
Meneba meluncur
dan menukik cepat ke arah wuwungan rumah terbesar dan mengelepak ke arah
jendela kemudian mendekur berbunyi di langkan jendela kamar Lingga si
Pendekar Jari Sakti.
" Kur wok... Kur wok,"
suara burung Dara mengejutkan Pramesti yang sedang asyik membersihkan
kamar ayah ibunya. Remaja cantik, warisan dari Ibunya. Dan sedikit
pendiam seperti Ayahnya. Selalu bersikap tenang dan bersikap hati-hati.
Umur 15 tahunan dengan rambut panjang yang digelung indah dengan tusuk
konde burung Walet merah indah.
Matanya bulat indah cemerlang hidungnya mancung, bibirnya tipis dengan senyum menawan.
Bajunya hijau pupus.
Dengan cepat ia
menangkap burung Dara jinak pembawa pesan. Burung milik Kakeknya
Pangeran Ludiro. Segera ia berlari menuju halaman depan di bawah pohon
Mahoni besar.
Ayah dan ibunya sedang
bercengkerama di sana. Lingga si Pendekar Jari Sakti dan Paramitha adik
keponakan Pangeran Ludiro. Paramitha anaknya Perdana Menteri Asoka
Banara ( Baca : Pendekar Jari Sakti ).
Lingga semakin matang,
matanya tajam dan senyum ramah di bibirnya serasi dengan Si Cantik
Paramitha yang lincah dan ramah. Wajahnya semakin cantik matang
cemerlang.
" Ayah... ada burung
Dara Surat dari Kakek Ludiro dan ada pesan di kakinya," suara riang dari
bibir indah milik Pramesti yang menyerahkan burung itu kepada Ayahnya.
Burung Dara warna
belorok hitam putih, menggelepar di tangan Lingga, dengan cekatan
diambilnya sepucuk surat yang terikat dalam pipa besi kecil di kaki dan
dibacanya.
" Apa... Baginda Raja
diculik?," terkejut Lingga membaca isi surat dari Ludiro. Berisi tentang
kabar hilangnya Raja dan permintaan untuk segera memberikan bantuan.
" Ayo, Dinda kita tidak
bisa menunggu lama lagi. Segera berkemas. Dan berangkat ke Ibu Kota!"
ujar cepat Lingga. Paramitha mengangguk cepat.
" Keponakannya, Baginda Raja Baruna diculik. Ah,... aneh sekali," batin Paramitha.
" Hore... Horee... ke Istana... ke Istana!" teriak riang Pramesthi.
Iya sudah lama sekali
tidak berkunjung ke Istana, bertemu dengan Kakek, Paman dan
saudara-saudaranya. Terutama si kembar yang lucu itu.
Ia kegirangan hingga lupa kabar hilangnya Baginda Raja. Berita terpenting, sebagai alasan mereka harus ke ibukota.
Tidak lama kemudian setelah berkemas segeralah anak beranak meninggalkan Lembah Penantian menuju Istana Asoka.
*
Demikian pula,
masing-masing dari pintu perguruan setelah menerima surat Pangeran
Ludiro mengirimkan wakilnya masing-masing. Dari Perguruan Rajawali Emas,
__ADS_1
Perguruan Mawar Merah, Perguruan Gajah Hoya dan Perguruan Macan Putih.
Berbondong segera menuju Istana Asoka.
*
Siang mengambang di Hutan Jati. Udara yang hangat dan sesekali semilir datang menggoyangkan rimbun dedaunannya.
Ganesha baru saja
melepas lelah setelah menyantap bekalnya sebungkus nasi hangat dan
sepotong ayam bakar yang sempat dibelinya tadi sebelum melanjutkan
perjalanan ke ibu kota. Dari petunjuk penduduk yang ditemui, kemungkinan
tiga hari lagi ia akan sampai di Ibukota jika ditempuh dengan berjalan
kaki.
Bagi Ganesha mungkin
akan lebih cepat waktu yang ditempuhnya karena ia bisa mempergunakan
ajian peringan tubuh yang kecepatannya melebihi kecepatan kuda terbaik
yang ada di jaman ini.
Di ujung hutan tadi ia
bertemu dengan beberapa pemburu yang saling berbincang-bincang. Dan dari
mereka pulalah ia mengetahui bahwa Baginda Raja Baruna hilang diculik
musuh.
Sebagai pemuda yang baru
keluar dan mengembara, urusan pemerintahan ini, sebenarnya tidak
menarik perhatiaanya. Hanya perasaan ingin tahu saja, yang mendorong ia
bergegas melanjutkan perjalanan ke ibukota.
Namun belum beberapa
depa ia berlari, terdengar lengkingan teriakan dan ledakan suara seperti
cemeti dan beradunya tenaga dalam berasal dari tanah lapang di pinggir
hutan Jati yang asri penuh bunga. Dengan rasa ingin tahu, Ganesha
membelokkan arah larinya, dan bersembunyi di balik pohon Angsana raksasa
Suara ledakan itu
ternyata berasal dari selendang kuning milik gadis muda yang berpakaian
merah dengan pedang beronce emas tersoreng di pinggungnya, gadis galak
yang pernah ia temui, waktu dikeroyok lima orang asing.
Dan... Oala... yang dihadapi adalah gadis cantik angin-anginan yang tertangkap menangis mendengar suara serulingnya waktu itu.
Duhai, begitu sempit dunia ini. Belum lama terpisah, tidak disangka malah bertemu di sini dua-duanya.
Dua-duanya cantik.
Dua-duanya galak.
Saling menyerang lecutan
dan tusukan selendang melawan pedang tipis yang beronce biru milik
gadis angin-angin ternyata mempunyai ilmu pedang yang tidak sembarangan.
" Hiaaa... Tar... Tar...
Ah... ," suara teriakan silih berganti, lecutan selendang yang bergerak
melecut lemas dan berubah cepat mengeras seperti tombak baja, yang
membuat gadis berpakaian hijau pupus itu terkejut dan terpekik, kemudian
berusaha secepat mungkin menangkis dengan pedang tipisnya berusaha
memutus selendang kuning.
Siapa sangka saat mau dipotong, selendang itu menjadi sekeras baja dan mementalkan ayunan pedang.
" Ayo, keluarkan semua
kemampuanmu, gadis binal!" teriak Gadis baju merah galak. Yang kembali
melancarkan serangan selendang yang berubah lemas dan mengeras silih
berganti membingungkan lawan.
Mau tidak mau, si Gadis
Hijau melentingkan badannya ke atas dan memutar jurus Ribuan Tawon
Menghisap Madu. Suara putaran pedangnya cepat bagaikan putaran kitiran
dan mengeluarkan suara dengungan laiknya serbuan ribuan tawon yang
marah.
Gelombang tenaga panas
keluar dari putaran pedang memusat kemudian meluruk cepat ke arah Gadis
Merah yang tidak mau kecolongan merubah serangannya dengan membuat
pertahanan berlapis putaran selendang kuning yang membuyarkan semua
gelombang tenaga dalam. Jurus Sejuta Topan Badai membendung serangan
pedang.
Ganesha yang berada di balik pohon Angsana raksasa, melihat pertempuran itu menjadi heran. Apa yang menjadi pokok masalah, sehingga mereka harus bertempur demikian serunya?
" Hiaaa... Gadis Liar,
jangan lari, terimalah seranganku... Sret... Sret... Hiaaaa... Hiaaa!"
teriakkan Gadis Merah merubah gerakan selendang lemas menjadi kaku keras
melancarkan kembangan jurus campuran Bianglala Pengejar Roh dengan
selendang pengganti pedang atau pun seruling maut yang membuat Ganesha
terkejut sekali.
Jurus itu sama persis
dengan yang dimilikinya. Ia pernah mempelajari jurus itu dengan ibunya,
tidak lama berselang datang musuh yang berhasil menghantamnya jatuh ke
jurang.
Untung kakek guru Pradalbo menyambar dan menyelamatkannya.
Siapakah gadis galak itu, dan apakah hubungannya dengan dirinya dengan gadis itu?
Sementara itu
pertempuran semakin dahsyat, seakan dua orang gadisny memang musuh
bebuyutan. Seakan ingin saling mengalahkan, bahkan saling membinasakan
kalau bisa?
" Ini tidak boleh terjadi," batin Ganesha.
Apapun
alasan pertempuran itu, Ganesha tidak boleh terlambat bertindak ia
terpaksa harus memisahkan keduanya. Terutama gadis galak baju hijau yang
membuat hatinya berdesir.
Dilolosnya seruling gading dari pinggangnya, ditiupnya dengan pengerahan tenaga dalam...
" Hrrrg... Hoooaaaaaa...
," suara menggeram dan lengkingan seekor naga tiba-tiba muncul di
tengah-tengah pertempuran. Bukan hanya suaranya saja, akan tetapi seekor
naga putih raksasa tiba-tiba muncul di antara gadis hijau dengan gadis
biru.
Meliukkan kepalanya dan
membuka mulut lebar-lebar seakan ingin melahap si gadis hijau, sedangkan
ekornya bergerak cepat menampar si gadis biru.
Dua gadis sakti yang sedang bertempur menjadi terkejut melihat Naga Raksasa itu.
Dua-duanya
secepat kilat menarik serangan dan meloncat ke belakang sejauh bisa
menghindari terkaman mulut Naga dan sampokan ekor Naga.
" Aaah...!"
" Oooh...!"
Seru mereka bersamaan.
Setelah terbebas dari
jangkauan dan dalam tempat yang aman, mereka kembali terkejut karena
secepat ditiup angin, sosok Naga Raksasa itu mengabur, menipis dan
menghilang!
Dan di tempat muncul
Naga tadi, berganti dengan sosok pemuda tampan berdiri gagah berbaju
kuning memegang seruling gading di tangan kanannya, sedang memandang ke
kiri berganti memandang ke kanan dengan senyum yang tak lepas dari
bibirnya.
" Kamu... ?" teriak Gadis Hijau Pupus dengan mata terbelalak mengenali siapa pemuda itu.
" Hai, siapa kamu... turut campur urusan orang lain?" tegur si Gadis Merah marah.
Mendapat tanggapan yang berbeda, tak urung membuat Ganesha salah tingkah. Niatnya baik, malah membuat tersudut.
" Pakai ilmu sulap untuk
menakuti orang lagi. Membuat kaget saja," cerocos si Gadis Merah masih
kesal. Ia kesal setelah tahu Naga Raksasa adalah jadi-jadian dari pemuda
sok akrab ini.
Sedang Gadis Hijau tidak
mengucapkan sepatah kata pun, hanya matanya terbelalak makin kagum
kepada pemuda tampan ini. Ia kasihan melihat pemuda itu menjadi salah
tingkah.
" Maaf, Nona-nona,
memang aku telah lancang mencampuri urusan kalian berdua. Entah mengapa
melihat kalian bertempur seperti itu, aku jadi ngeri. Apa tidak ada cara
lain, untuk menyelesaikan masalah? Mengapa harus bertempur mati-matian
seperti ini. Maaf sekali lagi, terpaksa aku keluarkan ilmu sulap picisan
tadi. Agar semua selamat dan tidak terluka. Maaf!" Ganesha berkali-kali
meminta maaf kerena telah lancang ikut campur. Tapi ia siap menerima
resiko, apapun akibat yang dilakukannya. Ia ingin tahu banyak tentang Si
Gadis Merah yang galaknya minta ampun, mengapa jurus selendangnya sama
dengan jurus serulingnya?
Si Gadis Merah masih cemberut, marah. Matanya melotot kepada pemuda sok akrab itu.
Sedang si Gadis Hijau
tiba-tiba kehilangan suara. Biasanya ia cerewet, lincah dan galak. Entah
mengapa bertemu dengan pemuda tampan ini, ia jadi menahan diri. Ya...
Jangan sampai pemuda tampan ini kabur lagi.
Kelihatannya pemuda tampan ini bukan pemuda sembarangan. Siapa tahu bisa menjadi sekutunya?
Bersambung ....
__ADS_1