
CHAPTER 35
Raja Baru dan Pengkhianatan
Pertempuran terus berlangsung. Korban sudah berjatuhan. Baik dari pihak Sangga Langit, juga dari pihak Asoka.
Tewas karena tusukan tombak, tebasan golok, maupun akibat pukulan tenaga dalam dan segala racun.
Pagi telah beranjak. Sang surya membagi sinar yang hangat.
Semesta raya begitu gemilang.
Namun, semua suasana indah hangat dikhianati oleh peristiwa yang telah berlangsung dari semalam hingga pagi menjelang!
Perang terus berkecamuk, sampai suatu saat terdengar teriakan menggelegar. Suara itu datangnya dari sebuah kereta kuda yang teronggok di arena pertempuran.
Kusirnya sudah tewas. Kuda penariknya tergelimpang mati juga.
Kereta kuda itu cukup besar dan beroda empat.
Dari sinar matahari menyoroti sosok tinggi kurus berkulit pucat berdiri di atas atap kereta kuda, dengan menjinjing sesosok tubuh berpakaian bangsawan.
" Berhenti... Berhenti semua..!" teriakannya dilambari tenaga dalam yang kuat.
Semula teriakkan itu tidak mendapatkan respon. Sampai sosok itu mengulangi teriakkannya.
" Berhenti semua... Kalau tidak... Aku bunuh raja kalian... Aku Restu Bumi... tidak akan berpikir dua kali untuk mencabut nyawanya," teriaknya sambil memutar tubuh sosok yang dijinjingnya. Tampaklah wajah Banara raja Asoka yang baru dalam keadaan pingsan dan terluka dalam.
" Duaar... Duaaarrr... !" suara ledakkan menghantam tanah di depan kereta kuda tempatnya menenteng tubuh raja Asoka.
Secara spontan semua pertempuran berhenti.
Semua mata memandang ke arah laki-laki botak kurus bermuka pucat yang berhasil melukai dan menawan raja Asoka.
Raja Gomora dengan cepat berkelebat ke arah Restu Bumi, anteknya yang telah berhasil meringkus raja Asoka. Dengan pedang bermata duanya " diawang-awangkan" ia tertawa dan selanjutnya berteriak menggelegar.
" Ha... Ha... Ha... siapa yang tidak mau tunduk dan menyerah, raja kalian akan aku bunuh!" tawanya keras dan gerak-geriknya mengancam keselamatan raja. Selanjutnya pedang bermata duanya diancamkan ke leher putih milik Banara raja Asoka.
Semua tentara Asoka kebingungan. Melihat rajanya dalam gengaman musuh, akhirnya dengan terpaksa mereka menyerah.
Lain lagi bagi para pasukan pendam yang mempunyai tujuan pribadi. Mereka hanya mencari keuntungan sendiri. Menjual jasa untuk kekuasaan atau hadiah harta benda.
Melihat junjungannya takluk. Berarti kesempatan mendapatkan kekuasan dan numpang kemuliaan gagal total. Bagaimana mungkin mereka tetap mendukung raja yang terluka?
" Menyerahlah.... Lempar senjata kalian... dan bergabunglah dengan kami. Bergabung dengan kejayaan aku Gomora penguasa Negeri Sangga Langit yang jaya... Atau.... kami akan membasmi kalian sampai habis..!" suaranya menggelegar jelas dan tegas.
Hanya ada dua pilihan, menyerah dan melempar senjata atau bergabung dengan para penjajah itu.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan karena tentara musuh membanjir bagai bah memasuki kota dan menguasai istana, membuat tentara Asoka serentak menyerah, sia-sia jika melawan, hanya akan menyerahkan nyawa. Cari aman dulu. Siapa tahu ada perkembangan yang menguntungkan. Tentara yang cerdik berpura-pura menyerah, atau ada yang ketakutan tanpa pikir panjang mengikuti ancaman Gomora.
Berturut-turut semua senjata yang dipakai dilempar ke tanah. Kemudian mereka berlutut menyembah kepada Raja Gomora..
*
Berbeda dengan para tokoh sesat yang menjadi pentolan tentara pendam, mereka berhitung dan berpikir ulang. Untuk apa mereka mengorbankan nyawa dengan sia-sia? Tujuan mereka mengabdi kepada Raja untuk memperoleh kemuliaan, pangkat dan kekayaan, bukan yang lain.
Nah, yang diharap dan diandalkan kini sudah kalah.
Raja yang mereka ikuti sudah jatuh ke tangan musuh. Percuma membela mati-matian.
Mereka dengan cepat menghitung untung ruginya,
selanjutnya dengan cepat memutuskan untuk memilih tuan baru yaitu Raja Gomora dari Negeri Sangga Langit.
Serentak tanpa dikomando, mereka memosisikan diri dalam barisan Raja Gomora. Para pengkhianat menjual harga diri dan kecintaan kepada bangsanya. Karena mengejar kemuliaan, pangkat dan derajat, tidak perduli, apapun dilakukan... Demi pemenuhan nafsunya...
Melihat itu Gomora sangat gembira... sambutnya...
" Ha... Ha... Ha.... tepat sekali pilihan kalian. Ayo.... ma---
" Tunggu dulu... tidak semudah itu..!" suara Gomora terputus oleh suara yang dikirim dari jarak jauh.
Suaranya yang tegas dan berwibawa, dilambari tenaga dalam tingkat tinggi...
Suaranya belum hilang masih ada gemanya, sosoknya yang serba putih, berkelebat datang dan kemudian berdiri tegak di atas wuwungan bangunan tepat di depan Restu Bumi yang menyandera Raja Banara dan di sampingnya Raja Gomora yang berdiri dengan congkak.
Pendatang itu wajahnya tampan gagah dengan kumis tipis, menaungi mulutnya yang menggaris keras, dengan sebuah kipas baja emas di tangan kanannya.
Dikebutkan kipasnya ke arah prajurit Asoka yang takluk menyerah. Teriaknya marah:
" Dasar pengecut tak berguna... belum apa-apa sudah menyerah, mana semangatmu?"
Dari kipas yang dikebutkan mengalir angin pukulan yang dahsyat memaksa prajurit pengecut itu terangkat naik, dan sebagaian ada yang terpelanting
terbang, tunggang langgang.
Pangeran Ludiro dengan wajah kereng memandang para penyerbu Asoka..
Raja Gomora sangat terkejut melihat kehadiran lelaki jantan serba putih. Belum hilang rasa keterkejutannya...
Terdengar sorak-sorai dari segala penjuru arah....
Genderang dan terompet perang dipukul dan ditiup berulang-ulang.... Mengawal pergerakan pasukan Asoka yang berpakaian hitam dengan tanda pita kuning di lengannya.
" Hidup.... Pangeran Ludiro... Hidup Asoka," teriak tentara dan rakyat yang bergabung untuk bela negeri.
Suara teriakkan itu datang bergulung-gulung bersama kemunculan mereka yang bersenjata apa saja. Mengepung tentara Sangga Langit... yang telah menguasai Istana Asoka.
Raja Gomora, bergetar hatinya, firasatnya sekarang menjadi kenyataan... Musuh sesungguhnya sebenarnya Ludiro ini... bukan Raja lemah itu.. Dua musuh... lolos di luar perhitungannya..
Mereka ternyata telah terjebak...!
" Siasat yang lihai.."
Dua musuh yang harusnya dihadapi.
Harusnya...!
Tapi semua sudah terlambat. Ia harus bertindak cepat untuk mengambil kesempatan. Keadaan kapan saja bisa berbalik ?
Siapa yang menguasai?
Siapa yang dikuasai?
__ADS_1
Gomora berpaling cepat ke Restu Bumi
" Restu... Mengapa bisa begini?" tanyanya gusar, sambil memandang gelisah, kedatangan gabungan pasukan dan rakyat.
Gomora menyadari, sehebat apapun mereka, kuatnya tentara, kuatnya persenjataan ataupun persiapan logistik dan perbekalan. Sejatinya mereka adalah tamu... Pendatang... Yang kekuatannya " TERBATAS " , dibandingkan tuan rumah, Negeri yang menjadi sasaran ekspansinya, peluasaan jajahan untuk niat "dicaplok" nantinya.
Masih mempunyai sumber daya lain.
Stok makanan, tentara cadangan akan bisa cepat dikoordinasi.
Beda dengan tentara yang dibawanya. Sebatas itu, tidak bisa ditambah lagi.
*
Walaupun Gomora adalah raja penakluk, namun melihat berlapisnya pasukan dan rakyat bergabung, tak urung membuatnya keder juga!
Mereka kini saling berhadap-hadapan... kini...
Satu di pihak Pangeran Ludiro...
Satu lagi pihak Raja Gomora..
Melihat keadaan yang tidak terkendali, Restu Bumi dengan sigap melanjutkan aksinya. Banara sebagai sandera dijadikan alat untuk menekan Ludiro.
" Ludiro... menyerahlah, kalau tidak aku akan bunuh Banara kakak dan rajamu...!" ancam Restu Bumi murka. Ditentengnya tubuh lunglai Banara yang perlahan tersadar....
" Lu... diro... Dia Hras...tu.. Bhu...mi... se... la... mat... kan Asoka!" suara kiriman jarak jauh di kirim Banara menggunakan sisa tenaga dalam yang terakhir, luka yang diderita sangat parah, ditambah putus asa karena segala rencana dan mimpinya gagal total.
Terputus-putus pesannya namun sangat jelas bagi Ludiro.
Setelah itu, daripada malu karena penghianatannya, Banara dengan nekat menelan pil racun yang sudah ia persiapkan, jika menemui keadaan terburuk.
Apa yang dilakukan Banara, diketahui oleh Ludiro, namun ia tidak bisa melakukan pencegahan sama sekali. Banara jauh di luar jangkauan dalam dalam kekuasan si licik Restu Bumi.
Sesaat kemudian Ludiro melihat kakaknya terkulai lemas, melepas nyawa.
Merah selembar wajah Ludiro oleh kemarahan yang meluap... sebelum ia bertindak...
Berkelebat bayangan biru, abu-abu dan kuning... muncul di kiri kanan Ludiro.
Santika, Lingga dan Ganesha telah bergabung.
" Dia itu Hrastu Bhumi, Ludiro... yang pernah menyantroni kediamanku. Tidak ada kapok-kapoknya," geram Santika melihat musuh bebuyutannya..
Restu Bumi melihat kedatangan tiga jagoan Asoka keder juga hatinya... Disentakkan tubuh Banara yang lemas tak bergerak.
Ia tidak mendengar lagi tarikan nafas, dan lunglainya tubuh Banara.
' Ha... Ha... Ha... Raja Asoka tidak berguna... Hiaaa.... Bruukkk," suara Restu Bumi geram, dan melempar mayat Banara, ke tanah, ... di lempar dengan kesal.
Tindakan Restu Bumi bagai menyiram api dengan minyak... Ludiro dan seluruh rakyat Asoka yang hadir menjadi marah...
" Kurang ajar kau Hrastu Bhumi.... di mana tempat, kamu menjadi biang kerok masalah...
Ujudmu sudah berubah, namun hatimu masih rakus dan berambisi semakin tak terkendali. Hai... Gomora... lihatlah... siapa dia...? Ia musuh kami... Musuh rakyat Asoka," suara Ludiro membuat Gomora menjadi tersadar dan paham apa yang sebenarnya terjadi... Ia ternyata hanya dijadikan alat oleh Restu Bumi atau Hrastu Bhumi... Namun nasi sudah menjadi bubur... Yang sudah terjadi tidak bisa ditarik mundur kembali... Melihat gerakan rakyat Asoka yang membanjiri depan Istana... ia yakin sangat... Tentaranya sudah berhasil di kuasai musuh... Kepalang basah...
Ribuan tentaranya yang mengepung istana masih dapat dikerahkan untuk melanjutkan tujuaannya menguasai Asoka, apalagi ia mendapat bala bantuan dari tokoh-tokoh persilatan Asoka yang membelot dan bergabung dengan dirinya.
Selanjutnya gemuruh genderang, gemuruh terompet perang menguncangkan Asoka yang baru lepas dari embun malam di pagi yang begitu penuh aroma kematian yang mengambang cepat...
Suara balasan genderang dan terompet bersahutan sebagai balasan saat Pangeran Ludiro mengangkat kipas baja emasnya ke angkasa... Teriaknya lantang dilambari tenaga dalam...
" Sejengkal tanah, senyari bumi. Bangkit patriot Asoka, bakar semangatmu... Ayo, kita sambut... mereka yang menyetor nyawa... Hiaaaa... Hiaaa... Iyaaaa... Kiaaaakk.... Kaaaakk...!" suara yang penuh amarah dan lengkingan Rajawali menjadikan tanda perang terbuka antara dua kubu yang berhadapan mulai sudah!
Gerakan dan teriakan mengambang bergemuruh menandai perang campuh yang sudah dimulai.
Tentara Sangga Langit yang dipimpin rajanya bergerak merangsek musuh dan sebagian melindungi istana Asoka yang telah diduduki..
Tentara Sangga Langit memilih lawan masing-masing... Membabat tentara Asoka ataupun rakyat Asoka yang ikut bela negara.
Seperti kawanan semut hitam bertemu semut hitam lainnya yang berbeda koloni untuk saling menguasai dan mengalahkan.
Beradunya senjata, teriakan semangat, jerit kesakitan dan kematian membanjir di depan istana.
Pagi yang harusnya bernas ranum penuh kedamaian menjadi ladang pembantaian.
Debu bergulung ke udara..
Pekik menyorong langit..
Gemuruh gerakan membanjir dan bertemu di titik-titik untuk saling menghabisi dan melenyapkan!
Oo.. Asoka banjir darah..
Oo.. di Asoka, malaikat maut bergentayangan menunaikan tugasnya..
*
Larasati tergopoh-gopoh ketika ia mendengar gemuruh suara genderang dan terompet... Ia tidak menemukan ibunya di kamarnya...
" Ooh... Ada apa?" ketika ia melongokkan kepala dari jendela menemukan orang berbondong-bondong dengan aneka senjata mengalir menuju ke arah Utara.
Penginapannya hanya ratusan tombak jauhnya dari istana.. gerakan dan suara pikuk yang memenuhi jalan-jalan jelas dapat ia lihat dari jendela kamarnya di lantai atas.
Langit Asoka sudah menguning dan angin kematian bergeser memayungi istana Asoka di kejauhan.
Semalam ia tidur larut untuk mempertimbangkan masak-masak semua yang terjadi dengannya... tujuannya pergi ke ibukota dengan ibunya?
Pertemuan dengan Ganesha?
Gamangnya pendiriannya?
Harus terus maju membalas dendam atau?
Kalut hatinya, sehingga tidurnya begitu larut dan melelahkan.
Terbangun karena terkejut mendengar suara gaduh di luar penginapan...
Seringan kapas, tubuhnya yang montok indah dibalut pakaian serba merah muda lolos dari jendela kamar yang sengaja dibentang...
Bayangan merah muda melesat di antara wuwungan rumah menuju keramaian di Istana Asoka.
"Ada apa?
__ADS_1
Perangkah?" batin penuh tanya.
Dan, bayangannya terus memantul ringan di atap-atap angkasa.
*
Kinanti, Puteri Xenia, Paramitha, Kemala Ayu dan Pramesti datang kemudian bersama pasukan cadangan yang terus maju merangsek membantu serangan.
Setiap bertemu pasukan asing sepanjang perjalanan menuju istana, ditundukkan atau dikalahkan. Tentara musuh hanya mempunyai kemampuan berperang dengan mempergunakan senjata. Keahlian bela diri atau silat hanya sebatas kemampuan rata-rata. Lain halnya dengan pendekar wanita yang mempunyai ilmu kesaktian yang tinggi.
Dengan mudah tentara musuh ditaklukan dan dilumpuhkan.
Akibat sepak terjang para tokoh persilatan yang ikut bergabung menyelamatkan negeri Asoka..
Tentara musuh dari belakang dibikin kocar-kacir yang mengakibatkan kurangnya kekuatan menyerang didepan.
*
Kemilau Kemuning bahu membahu dengan pasukan yang dipimpin Paman Wijaya. Sepak terjangnya trengginas seperti srikandi muda dengan ilmu kesaktian dari Pendekar Pedang Kilat, ilmu pedang Hujan Tujuh Meteor miliknya berkeredep terbang pesat mencari mangsa. Tak terbitung tentara musuh yang berhasil ditotok dengan gagang pedang, atau terluka karena tusukan pedang. Berjatuhan tidak mampu melanjutkan penyerbuan lagi.
Masih untung Kemilau Kemuning tidak bertindak telengas dan ringan tangan... Separah-parahnya, tentara musuh paling tertusuk luka.
Yang jatuh terluka atau tertotok langsung diikat, di pos-pos sepanjang jalan menuju istana.
Demikian dengan kelompok para pejuang lain yang sebagian besar mereka adalah para jago-jago persilatan ikut membantu merangsek musuh. Di paling depan tampak Ki Manggala... diikuti Kartiko dan lain-lainnya. Terus memaju melumpuhkan gerak musuh yang terkejut tidak menyangka ada serangan balasan.
Tentara musuh menjadi kocar-kacir. Para panglima perang musuh, memusatkan perhatian untuk menguasai kerajaan Asoka.
Mereka lengah, tentara pendukungnya dipreteli satu-satu.
*
Pangeran Ludiro berhadapan langsung dengan Raja Gomora.
Tubuhnya yang tegap jantan, ternyata jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan Raja Gomora, namun semua itu tidak membuat undur sejengkalpun.. Kipas baja emasnya ditebar meladeni pedang bermata dua milik Gomora.
Tangan kanan memegang kipas, tangan kiri menyiapkan ajian Kipas Maut Tiupan Salju yang berperbawa dingin.
Gomora yang berlatar belakang tentara menggunakan ilmu perang dan bela diri yang dikuasainya.
" Kiaaaaakkkk.... Hrrrggggg!" pekikan Rajawali dan gerengan marah menandai pertempuran mereka di antara pelaku perang yang haus darah.
*
Restu Bumi di cegat oleh Lingga dan Santika. Musuh lama, musuh bebuyutan bertemu kembali.
" Hati-hati Lingga... si biang kerok ini... pasti punya ilmu simpanan yang lain... Sehingga masih berani mati, menyerbu Asoka," seru Santika memperingatkan, jangan sampai mereka dipecundangi lagi oleh Restu Bumi. Dirapalnya langsung ajian Kasih Pemutus Duka. Tenaga dalam ditarik, kedua lengannya berubah warna putih keperakan cemerlang.
" Jaga baik-baik Santika, jangan sampai lolos lagi,"sahut Lingga sambil mempersiapkan ajian Jari Sakti Menusuk Matahari, sekaligus Jari Sakti Menusuk Rembulan...
Mendengar ucapan Santika dan Lingga, Restu Bumi hanya tertawa besar.
" Ha... Ha... Ha... siapa takut, siapa yang mau kabur? Ayo... bertarung sampai mati....
" Herggggg.... ," gerangan marah berisi tenaga dalam Gerengan Biruang Putih, membuat para tentara yang berjarak puluhan tombak terkena dampaknya, terpelanting terluka pingsan.
Sambil mengerang dirapalnya Ajian Gasing Maut, dan disiapkan ajian di tangan kanan berisi Bara Neraka yang panas menggedikan, tangan kirinya berisi ajian Badai Es Menerjang Bukit berhawa dingin...
Meski tidak berubah besar seperti dulu, namun campuran tiga ilmu tingkat tinggi itu, membawa angin dan suara yang menggelegar.
Seketika ruangan pertempuran tercipta dengan sendirinya..
Sekali lagi Restu Bumi dikerubuti oleh Santika dan Lingga.
Pertempuran tingkat tinggi yang membawa aji kesaktian dan ilmu sihir... Gerengan Restu Bumi mengacaukan kosentrasi dan menyerang jantung... Untuk menghilangkan pengaruh itu, Lingga mengeluarkan ajian Auman Macan Putih berseling dengan Terompet Gajah Hoya. Tubuhnya melenting tinggi mengancam bagian dada ke atas tubuh Restu Bumi yang berputar kencang.
Santika bergerak cepat merapal ajian Kasih Pemutus Duka dengan melontarkan bola-bola cahaya perak panas, seperti ledakan meteor saja!
Pertempuran yang seru hidup dan mati. Walaupun Restu Bumi pernah kalah dan terluka, namun kali ini tenaga dan ilmunya meningkat berkali lipat tingginya.
*
Gonjala si kurus hitam berpakaian kuning dengan ajian Sengatan Matahari Sejengkal mendapatkan musuh, Ki Manggala murid tertua dari Perguruan Macan Putih, ilmu cakar macan disiapkan untuk menghadapi, si hitam kurus yang gesit itu. Tubuhnya bagai bara api, menguar panas, sepasang tangannya berwarna merah.
Ki Manggala dengan tenang menghadapi ajian yang mengerikan itu dengan menyiapkan kuda-kuda dan merapal ajian simpanan, Cakar Macan Murka... kedua jemarinya membentuk cakar dan mengeluarkan cahaya kuning menyilaukan... Panas bertemu panas... Membuat udara Asoka menjadi membara!
*
Gonjali berpakaian biru dengan ajian Semburan Es berhadapan dengan Kartiko wakil dari Perguruan Rajawali Emas. Lelaki setengah baya yang gagah, berkumis tipis itu melepaskan pedang lenturnya dari pinggang. Dirapal ajian Kepak Rajawali Sakti yang disalurkan ke pedang lenturnya.
Serangan Gonjali yang berperbawa dingin, Semburan Es mencecar titik-titik penting di tubuh Kartiko.
Dengan tenang Kartiko melayang ringan meladeni serangan yang deras seperti air terjun saja.
Gerakan licin dan luwes, melawan kelincahan dan jurus tenang namun mematikan.
*
Dewi Wilis dan Nyi Dyah Sagopi berpasangan mendapatkan musuh yang setimpal. Kinanti dan Paramitha.
Nyi Dyah Sagopi dengan Cambuk Ekor Tujuhnya, melabrak Kinanti dengan semangat balas dendam.
" Hiaaa... Cetarrr... Cetarrr... Rrrrtt..!" serangan Cambuk yang beracun meledak di angkasa dengan jurus Cambuk Petir Beracun dipapaki oleh Kinanti dengan jurus Tarian Bidadari Pengejar Roh, dengan meliukan selendang merahnya menangkis lecutan cambuk.
Pertempuran ulangan yang lebih dahsyat dari sebelumnya.
*
Baskoro dengan ilmu Kelabang Hijau selaksa racun kehabisan lawan, terpaksa menghadapi lawan Mantan Tilik Sandi Wijaya.
Selain menguasai ilmu perang, ia juga mempunyai kesaktian yang tidak bisa dipandang sebelah mata! Bawaannya tenang dan cerdik.
Wijaya sangat terkejut ketika tangan Baskoro memanjang dan mengeluarkan racun. Dengan cekatan Wijaya melolos kain dibuat menutup muka dan hidungnya. Pedang kembarnya dengan jurus Pedang Kilat Menerjang Awan, dipakai untuk menebas dan menusuk tangan mulur beracun yang menyerangnya.
Wijaya dengan tenang dan penuh perhitungan melayani Baskoro, yang masih belum fokus karena mencari musuh pembunuh Cempaka ibunya. Ia terlambat satu langkah, musuhnya sudah bergebrak dengan si kembar dari Pesisir Pantai Barat guru Buntaran.
Ia melayani Wijaya sambil menunggu kesempatan menyerang Kinanti!
*
Kemala dan Pramesti sepasang pendekar muda tidak mau ketinggalan terjun ke dalam pertempuran, membantu tentara kerajaan Asoka melawan serbuan tentara Sangga Langit..
Bersambung....
__ADS_1