
CHAPTER 20
Tiga Naga
Lingga sangat bahagia melihat bersatunya kembali Nyi Mayang dan Ki Denawa.
Dua orang tua yang dihormati dan disayangi.
Meskipun mereka tidak bisa bersatu dalam sebuah perkawinan, namun bersatunya hati mereka, adalah sesuatu yang luar biasa dan patut di syukuri dan di rayakan.
Kini seolah ia memiliki " orang tua " lengkap. Seorang Ayah dan Seorang Ibu
Tanpa terasa ia terharu dan menitikan air mata. Kisah cinta yang sangat luar biasa batinnya bahagia.
Kegembiraannya malah mengingatkan kepada kisah cintanya sendiri.
Cintanya kepada Paramitha.
Ia sudah menyakinkan dirinya, bahwa ia benar- benar mencintai Paramitha dan sebaliknya Paramithan mencintainya, dengan sangat bahkan.
Akan tetapi, ia masih merasa " minder " tidak percaya diri.
Status sosialnya yang " papa " dan tak berpunya, dan Paramitha adalah seorang puteri bangsawan, keponakan raja Asoka lagi.
Ah.. Lingga menjadi gelisah sendiri, memikirkan kisah cintanya.
Sementara angannya melayang jauh..
Seekor burung merpati berwarna biru megan pengantar surat milik Pangeran Ludiro, terlihat dari tanda bendera rajawali terbuat dari gelang perak di kaki burung itu berkelepak menuju ke arahnya.
Terbang rendah dan kemudian hinggap di depan jendela kamarnya.
Merpati megan itu membawa sepucuk surat untuk Lingga.
Ia ingat dulu.
Sebelum mereka berpisah di Perguruan Bhumi Langit. Pangeran Ludiro pernah berpesan kepada semua yang hadir.
Pangeran Ludiro mempunyai alat untuk bertukar informasi atau berhubungan atau berkomunikasi dengan mengirimkan merpati pengantar surat seperti ini.
Sudah dua kali ia pernah menerima surat dari Pangeran Ludiro. Yang pertama, mengabarkan tentang hari pernikahan Santika dengan Kinanti.
Yang kedua, mengabarkan dan mengundang untuk hadir dalam pernikahan Pangeran Ludiro dengan Puteri Xenia dari negeri Tanpa Langit.
Dan ini yang ketiga kalinya. Ada apakah gerangan?
Buru-buru ia mengambil dan membuka surat yang terikat di kaki Merpati Megan itu.
Di bacanya isi surat itu dengan cepat.
" Sahabatku Lingga, aku menantikan kehadiranmu. Untuk memberikan selamat kepada sepasang anak kembar kami"
Tertanda Ludiro dan Xenia.
Aha..rupanya adalah kabar gembira dari sahabatnya Ludiro.
Ia harus bergegas untuk mengabulkan undangan itu.
***
Lingga telah meminta ijin kepada ibunya, tentang niatnya untuk pergi ke kota raja memberikan selamat kepada sahabatnya.
Dan Lingga juga memohon kepada Ki Denawa untuk menjaga Ibunya selama ia pergi.
Permohonan yang di terima dan di kabulkan dengan senang hati oleh Ki Denawa.
" Lingga anakku, hati-hatilah di jalan. Jangan lupa mampirlah kau ke tempat Paramitha. Sampaikan salam Ibu kepadanya!," pesan ibunya melepas kepergiannya. Lingga hanya bisa mengangguk dan mengiyakan.
Ibunya sekarang semakin terlihat segar dan ceria. Kebahagiannya terpancar jelas dari raut wajahnya.
Lingga berpamitan dengan memeluk dan kemudian mencium tangan Ibunya, memohon restu.
Tak lupa ia juga mendapat pesan khusus dari Ki Denawa, agar selalu berhati-hati dan selalu menunaikan kewajiban dan darma pendekar di manapun ia berada.
***
Melesatlah bayangan abu-abu hitam dengan ajian meringankan tubuh Walet Merah Sakti ke arah Utara.
Menuju kotaraja Asoka.
***
Sementara itu..
Di istana negeri Asoka. Di ruang pribadi Baginda Raja Bengala, raja Negeri Asoka.
" Kakanda, Bengala. Tolong, kabulkan permintaanku.
Kakanda layak memberikan hadiah bagi kedua pahlawan muda. Yaitu Lingga dan Santika. Walaupun mereka melakukan semua itu, pasti tanpa pamrih, tanpa meminta imbalan.
Pantaslah, apabila Kakanda memberikan kedudukan atau harta benda untuk mereka," Pangeran Ludiro mengingatkan akan jasa-jasa pendekar muda itu yang telah berhasil menyelamatkan dan menumpas makar dari Hrastu Bhumi.
" Ya, Dinda. Aku juga sudah berniat dari awal. Hanya karena belum ada waktu yang pas untuk memanggil dan menganugerahi pangkat dan harta kepada mereka.
Kau atur saja Dinda. Panggil mereka berdua kemari dengan pasangannya masing-masing," Raja nampak bersemangat untuk segera bertemu para penolongnya.
Ya pantas sekali mereka mendapat anugerah itu. Karena tokoh yang lain yang ikut dalam pemadaman pemberontakan Hrastu Bhumi, telah di beri hadiah akan jasa-jasanya.
Di kirim ke tempat mereka tinggal.
Hanya kedua orang pendekar muda itu yang belum mendapatkan anugerah.
" Kakanda Raja, kalau boleh Dinda usul. Untuk Lingga, setidaknya berilah anugerah pangkat. Agar ia tidak merasa rendah diri lagi.
Aku tahu Lingga mempunyai hubungan khusus dengan keponakan kita, Paramitha.
Mereka saling cinta, namun Lingga terlalu sungkan dan rendah diri.
Memandang dirinya, status dirinya yang harus memetik bunga Negeri Asoka, Paramitha itu".
Raja Bengala, hanya mengangguk-angguk mendengar semua penuturan itu dari Pangeran Ludiro.
***
Begitulah awal pemanggilan Lingga ke istana Pangeran, agar tidak terlalu mencolok, di buatlah alasan yang halus.
Jika di sampaikan secara langsung niat Raja Bengala, maka kemungkinan besar Lingga akan menolak atau dengan berat hati, ia bersedia datang.
Aha..
Dengan cerdik Ludiro mengatur kedatangan Santika dan Lingga dengan alasan, untuk memberikan doa dan selamat atas kelahiran kedua anaknya yang kebetulan lahir sehat dan kembar.
Ludiro dan Xenia bersepakat memberi nama kedua anak laki-laki kembarnya, Mahendradatta dan Mahagitadantta.
Anak kembarnya yang montok dan tampan.
__ADS_1
Santika, Kinanti dan Lingga, ia undang untuk datang ke kota raja Asoka untuk bertemu keluarganya dahulu.
* * *
Matahari masih belum beranjak pergi
Udara masih begitu segar
Sisa embun yang luruh dari ujung daun
Aroma rerumputan basah masih sangat kental
Di bawa angin pagi yang begitu segar
Bunga-bunga indah bermekaran aneka warna di taman yang sejauh mata memandang, tempat hidup pepohonan dan bunga aneka jenis.
Kupu-kupu aneka warna yang cantik, datang menyerbu ke putik kembang dan bunga yang harum merekah.
Sementara perenjak bersahut-sahutan di taman yang berada di dalam Villa Rajawali tempat tinggal Pangeran Ludiro dan Puteri Xenia.
Begitu asri.
Begitu riuh.
Begitu tenang dan damai.
Ada kupu-kupu, ada suara prenjak bersahutan, sebuah pertanda akan datangnya tamu.
Tamu yang telah lama di rindukan.
Tiba-tiba kupu-kupu yang asyik berterbangan terusik dengan berkelebatnya dua bayangan biru dan merah.
Kupu-kupu itu terbang membumbung tinggi meninggalkan taman yang penuh bunga.
Dan ditaman itu telah berdiri dengan gagah Santika Pendekar Seruling Biru, Kinanti Bidadari dari Timur dan seorang anak laki-laki yang gagah, berusia tujuh tahun dalam gandengan Kinanti.
Taklama berselang, datang lagi bayangan abu-abu hitam berkelebat di sisi Santika menerbangkan jubah birunya dan Lingga Pendekar Jari Sakti pun sudah hadir di situ.
" Ha..ha..ha..selamat datang sahabat-sahabatku," suara ramah dan berwibawa mengalir bagaikan gemerincing genta orang belum ada tapi suaranya sudah menyambut duluan.
Prenjak dan beburungan yang lain yang tadi bersahutanpun, melenting terbang tinggi melanjutkan perburuannya. Bersamaan bayangan putih besar dan biru muda muncul di tingkahi celoteh lucu dua bayi.
Tuan rumah Pangeran Ludiro dan Puteri Xenia dengan dua bayi lucu di dekapan ayah dan ibunya.
Dengan serentak Santika, Kinanti dan Lingga memberikan hormat kepada Tuan Rumah.
" Ah, masih pakai banyak peradatan saja, Ayo, mari duduk bersantai di Gazebo di tengah taman," ulap tangan Ludiro mengajak tamu-tamunya beranjak ke Gazebo.
Bersambung..
Anugerah dari Baginda
Belum lama mereka bersama, saling melepaskan rindu.
Berkelebatlah bayangan kuning gading muda, muncul di depan gazebo di Villa Rajawali.
Puteri cantik jelita dengan senyum manis nan menawan, walaupun sedikit kurus, tampaknya.
Hiasan mahkota mungil di ujung kepalanya yang serasi benar dengan wajahnya yang cemerlang.
Paramitha, mengedarkan pandang ke sekeliling. Di lihatnya Ludiro, pamannya dengan istrinya Puteri Xenia.
Kinanti yang sedang menggendong bayi montok Mahendradatta, dan Santika yang memegang anak laki kecil tampan.
Dan..ia menatap tidak berkedip kepada Lingga yang sedang mengendong sayang Mahagitadantta, keponakan kembarnya yang satu lagi.
Sebenarnya kedatangan Paramitha sudah diatur oleh Ludiro. Tanpa memberitahukan siapa saja yang akan datang.
Ludiro memberikan kejutan yang manis kepada keponakannya yang tersayang.
Dan nampaknya kejutan itu berhasil.
Paramitha tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Santika, Kinanti dan anak kecil montok itu kemungkinan besar adalah anak sahabatnya.
Dan..yang lebih terkejut adalah kehadiran Lingga di Villa Rajawali.
Lingga yang sangat di rinduinya.
Belum habis rasa terkejutnya,
" Nah, Paramitha keponakanku yang cantik sudah datang juga", sambut Ludiro gembira, sambil mengerdipkan matanya sebelah kanan kepada Paramitha.
Tidak urung bersemu merah muda pipi Paramitha. Di goda seperti itu.
Pasti pertemuan ini adalah akal-akalan paman dan bibinya. Pertemuan yang sudah di rencanakan.
Untuk menutupi rasa malu dan jengahnya, ia segera menghambur ke arah Kinanti dan mengambil Mahendradatta, keponakannya yang lucu.
Dan hanya sekilas melempar sudut matanya ke arah Lingga yang kebetulan menatap ke arahnya.
Dua pasang mata penuh kerinduan saling bersirobok, hanya sekejap. Namun mampu membilas semua kerinduan keduanya.
Tiba-tiba tangan kecil montok berusaha menarik bayi mungil yang ada di gendongannya.
" Hee..Ganesha, jangan. Kasihan adik lucu, nanti tangannya sakit di tarik-tarik," cegah Kinanti kepada anaknya, yang berniat menarik bayi lucu itu.
" Ha..ha..tidak apa-apa, mari sini bermain dengan adik kembar yuk," ajak puteri Xenia ramah.
Yang segera di ikuti oleh Kinanti, dan Paramitha.
Puteri Xenia mengambil Mahagitadantta dari gendongan Lingga.
Mereka bersama-sama bermain di taman bunga yang berada tidak jauh dari gazebo.
Pucuk di cinta ulam tiba.
Kesempatan Ludiro untuk berbincang dengan Santika dan Lingga terbuka.
Sebenarnya dari pertama ia ingin menyampaikan alasan mengapa mereka di undang ke ibukota, berhubung ia tidak tega memecah kemesraan mereka bercengkarama, maka untuk sementara di urungkan niatnya.
***
" Santika dan Lingga sahabat terbaikku. Sejujurnya aku mengundang kalian kesini hanyalah tujuan antara," mulailah Ludiro menyampaikan maksud undangannya.
Kemudian lanjutnya, " Kalau aku menyampaikan undangan sebenarnya. Pasti kalian berdua tidak akan mau datang kemari.
Maafkan aku. Dengan cara inilah, aku akan berhasil mengundang kalian berdua datang," Ludiro meminta maaf dan mendengar penuturannya itu, malah membingungkan kedua sahabatnya.
Ia menangkap kebingungan di wajah kedua sahabatnya.
Untuk tidak semakin menimbulkan pertanyaan dan sakwasangka.
Di putuskannya untuk bicara yang sebenarnya.
Di tariknya nafas dalam-dalam, agak susah memang untuk menyampaikan pesan dari Baginda Raja.
__ADS_1
" Santika, Kinanti dan Lingga. Besok pagi. Kalian bertiga di panggil menghadap Baginda Raja Bengala. Dan kalian bertiga tidak boleh menolak undangan ini. Ini titah raja Asoka.
Dan aku mohon, kalian juga memandang mukaku, yang telah kalian akui sebagai sahabat," dengan hati-hati Ludiro menyampaikan undangan Baginda Raja, dan dengan cerdik ia memaksa secara halus, agar sahabatnya memenuhi undangan itu.
Santika dan Lingga adalah pendekar muda yang cerdik. Mereka tahu, niat di balik undangan Baginda Raja. Kalau tidak di tempuh cara seperti ini, mereka juga akan menolak mentah-mentah.
Karena memandang muka Ludiro sahabatnya, yang sekaligus adik bungsu Baginda Raja. Mereka akhirnya, tidak tega untuk menolak undangan itu.
Ludiro dengan hati-hati mengamati perubahan sikap kedua sahabatnya.
Hatinya menjadi lega, karena kekeruhan hanya selintas melewati wajah kedua sahabatnya.
Selanjutnya mereka berdua nampak tersenyum berseri, yang segera menghilangkan wajah was-was Ludiro.
***
Untuk selanjutnya, siang itu di Villa Rajawali, terjadi tawa, jerit, tangis dan celoteh yang ramai.
Mereka saling bercengkrama, bersenda gurau, melepas kerinduan, setelah lama, tidak saling bertemu.
Saling bertukar
kabar, saling bercerita.
Tanpa ada sekat, tanpa ada jurang pemisah.
Pertemuan dan berkumpulnya, para pendekar muda, yang terikat tali persahabatan yang luar biasa.
Matahari perlahan menggelincir ke arah Barat. Senja sebentar lagi turun.
Namun keriangan dan kebahagian masih begitu menyelimuti Villa Rajawali. Paviliun indah di Istana Pangeran Muda Ludiro.
***
Ruang Naga adalah ruang yang berada di tengah istana Raja Asoka, tempat raja bertemu dengan pejabat kerajaan dan tamu dari negara asing.
Ruangan yang megah di domnasi warna krem dindingnya.
Dan delapan tiang penyangga yang di hiasi ukiran naga melingkar di tiangnya.
Naga emas yang melingkar gagah, dalam posisi ekor di bawah, dan kepala diatas dengan rahang naga terbuka lebar siap bertarung.
Furnitur dari kayu mahoni yang berukur. dengan jok warna merah beludru sangat kontras dengan sentuhan warna emas di sekeliling ukiran.
Megah dan eksotis.
Di ujung ruangan ada kursi besar berukir naga, di dekat pintu masuk yang menghubungkan ruangan Naga dengan kamar pribadi Raja.
Kursi berukir berukuran lebih kecil, di susun berbentuk oval dengan ujung kepala meja adalah kursi terbesar berukir naga itu.
Ruang Naga sudah penuh dengan tamu-tamu undangan penting.
Para mentri dan para pejabat hadir di ruangan itu.
Nampak Panglima Perang Baruna, Pangeran Muda Ludiro, Santika, Lingga, Puteri Xenia, Puteri Paramitha dan Kinanti.
Berderet di sebelah kanan, di ikuti oleh undangan yang lain, melingkar, akhirnya bersebrangan atau berhadapan.
Tiba-tiba ada suara teriakan lantang pengawal yang ada di depan pintu tembus.
Pengawal yang berseragam ringkas biru tua, badannya tegap dan kokoh. Wajahnya bersih dan gagah. Sebatang pedang panjang tersembul di balik punggungnya.
" Panjang Umur..Panjang Umur..Panjang Umur..Baginda Raja Bengala..Hidup..Hidup..Hidup", suara jelas dan terang, sampai di kata Hidup, semua hadirin berdiri dan mengikuti teriakan dan doa secara khidmat.
Semua pandangan mata terarah pintu sambungan. Tidak begitu lama muncullah Baginda Raja Bengala dengan wajahnya yang lembut berwibawa. Usianya sudah lima puluh tahun namun ia masih terlihat gagah dengan baju kebesaran yang berwarna putih perak bergambar naga merah didadanya.
Dengan langkah tegap dan pasti
Menuju kursi istimewa untuknya. Duduk, dan dengan isyarat menurunkan tangannya, para hadirin yang semula berdiri menyambut kedatangannya, segera duduk kembali.
Suasana sirap dan hening sesaat.
Di ujung sebelah kiri, Prawita sebagai pembawa acara kerajaan Asoka, berdiri tegap dan segera membuka acara.
" Panjang umur..Panjang Umur..Panjang Umur..Baginda Raja Bengala...Hidup..Hidup..Hidup". Prawita mengawali acara.
" Selamat datang para hadirin. Raja mengundang Anda sekalian kesini.Untuk menjadi saksi atas penganugerahan bagi pahlawan Asoka, yang telah melakukan penyelamatan yang luar biasa.
Menghindarkan Baginda dari makar, dan memadamkan pemberontakan. Semua, yang berjuang dalam penyelamatan saat itu, sudah di anugerahi hadiah masing-masing.
Tinggal tiga pahlawan muda yang hadir disini saja.
Baginda Raja Bengala, memberikan perintah, apapun hadiah yang diberikan tidak boleh ada yang menolak. Ini titah raja!
Mari kita sambut pahlawan-pahlawan itu.
Santika, Lingga dan Kinanti,"ucapan Prawita disambut tepuk tangan dan sorak sorai para hadirin.
Santika, Lingga dan Kinanti tidak bisa menolak dan terpaksa menerima anugerah dari Baginda Raja.
" Dan satu lagi. Baginda Raja telah memutuskan untuk menjadi wali pernikahan saudara Lingga dengan Puteri Paramitha, yang akan di laksanakan tanggal sepuluh, dua bulan kedepan di kediaman Panglima Banara. Semua hadirin di harapkan untuk datang meramaikan dan memberi restu pernikahan tersebut.
Sekali lagi. Ini adalah Titah Raja",
ucapan Prawita yang terakhir membuat terkejut beberapa orang.
Pangeran Ludiro sangat terkejut, ternyata Baginda memberikan hadiah di luar perkiraan, ini sangat membahagiakan.
Yang paling terkejut adalah Lingga sendiri, ia malah terlihat shock, tidak pernah menyangka, anugerah dari Raja ternyata menyangkut kehidupan pribadinya.
Ia berpaling ke arah sisi kanan Raja, ia melihat Panglima Banara, tersenyum bahagia dan mengangguk kepadanya, tanda ia setuju atas keputusan Raja.
Berturut-turut ke arah Ludiro, Santika, Kinanti, terlihat mereka sangat berbahagia dan mendukung sekali.
Terakhir, ia melihat ke arah Paramitha.
Di lihatnya Paramitha, menundukkan muka. Sekujur wajahnya bersemu merah dadu.
Ia menunduk, memainkan jari jemarinya yang lentik.
Selincah apapun ia, seberani apapun, menerima dan mendengar bahwa ia akan segera menikah.
Perasaan malu dan bahagia, mendominasi tingkah lakunya.
Ruang Naga yang hangat
Membawa kabar kebahagian sangat
Menjembatani dua hati yang telah terpikat
Untuk di satukan dalam ikatan yang lebih kuat
Angin berhembus ke delapan penjuru mata angin
Membawa kabar gembira
__ADS_1
Negeri Asoka sebentar lagi kembali berpesta
Bersambung...