
CHAPTER 28
Baginda Raja Lenyap
Keadaan yang memburuk
dan keamanan yang tidak sepenuhnya. Karena masing-masing lebih
mengutamakan kepentingan diri pribadi dari pada kepentingan Negeri
Asoka.
Saling berlomba
mengambil dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Dari pejabat yang
menduduki tempat penting, sampai menjalar dan diikuti seperti wabah
penyakit layaknya.
Dari atas turun ke
bawah. Atasnya bijaksana, kebawahpun akan mengikuti contoh tauladan
pejabat pusatnya. Rajanya bijaksana dan adil, perangkat negeri yang ke
bawah pun akan seperti itu pula.
*
Jaman keemasan Asoka sudah memudar.
Raja baru hanya memikirkan kebutuhan dan kesenangan diri sendiri. Rakyat tidak pernah ada sekali pun di hatinya.
Ia sudah menyerahkan total segala urusan kerajaan kepada pamandanya, Perdana Menteri Banara.
Kalau bisa, sebenarnya
ia lebih memilih bersantai, berfoya-foya, bercengkerama dengan puluhan
selirnya. Daripada mengurusi negara, yang membuat kepalanya pusing.
Lebih baik, ia bersenang-senang menikmati cahaya rembulan dengan secawan arak di tangan.
Melihat para selirnya yang cantik dan bertubuh menawan, yang saling berlomba-lomba menyenangkan hatinya.
Raja Baruna, sudah mabuk
rupanya. Ia berdiri mengikuti hiburan tari-tarian dari selir-selirnya
yang memang pandai bermain musik dan menari.
Dengan terhuyung-huyung
melangkah, dan mulut mulai tidak terkendali, Raja yang harusnya
berwibawa dan perkasa, malah meracau, menyanyi sumbang mengejar irama
dan nada musik yang memeriahkan pesta malam ini.
Ya, bukan hanya malam ini saja. Hampir tiap malam seperti ini.
Perdana Menteri Banara
sebagai pamandanya, malah membiarkan semua yang terjadi. Malah terkadang
ikut memanaskan suasana malam, agar Sang Raja tetap terjerat dalam
kesenangan yang memabukkan.
Hanya sepuluh penjaga khusus kerajaan yang ia siapkan, untuk mengamankan baginda raja.
Terlalu
sedikit. Itu pun, para penjaga selalu ikut larut dalam setiap pesta.
Sang Raja menitahkan mereka meramaikan pesta, tidak bisa menolak. Pucuk
di cinta ulam tiba, batin mereka gembira.
Raja berpesta, penjaga berpesta.
Raja mabuk, penjaganya mabuk juga.
Sehingga malam yang
semakin tua, mereka tidak pernah menyangka dan menyadari, ada gerakan
enam orang bertubuh tinggi tegap, dengan berpakaian serba hitam ketat.
Wajahnya ditutup cadar hitam, berloncatan dengan ringan ke atas tembok
istana.
Bergerak meloncat dengan cepat, di atas gedung-gedung istana, menuju ke tempat tinggal raja.
Bayangan itu, sepertinya sudah sangat hapal, tempat-tempat yang tidak dijaga oleh pengawal.
Gerakan cepat, dan tanpa suara melumpuhkan para penjaga khusus yang setengah mabuk.
Terus ke pusat sasaran,
menebar ilmu bius dan totokan jarak jauh, melumpuhkan para selir yang
tidak sempat berteriak, karena cepatnya sergapan itu.
Baginda tergantung
tariannya, dan terputus nyanyian sumbangnya. Tubuhnya terhuyung tertiup
angin... Berhenti setengah jalan, karena pemain musik, penari, penyanyi,
yang semua merupakan selir raja, bertumbangan pingsan karena bius atau
timpukan batu yang menotok urat sadar mereka.
" Hai, mengapa ber..berhenti?" teriak Raja mabuk marah.
Tidak ada suara balasan.
Tidak ada gesekkan ataupun gerakkan. Hanya kesiur angin yang tiba-tiba
datang, dan enam orang yang bertopeng telah berdiri mengurung dirinya.
Dengan pandangan berbayang, dan merasakan keganjilan suasana, raja berteriak memanggil pengawalnya.
" Pengawal... hai... mana pengawalnya?" teriak Raja sambil terhuyung-huyung.
Buntaran benar-benar
angkat topi, kepada gurunya Restu Bhumi. Peta penyergapan yang telah
disiapkan oleh Restu Bhumi persis di setiap inci-nya. Tidak meleset
gambaran istana, dengan kenyataannya. Persis. Seakan gurunya benar-benar
pernah berada di istana Asoka.
Buntaran tidak pernah
tahu, atau belum tahu. Ia tidak pernah menyangka bahwa gurunya pernah
menjadi Guru Negara di negeri ini, puluhan tahun yang lalu!
Buntaran adalah pimpinan
rahasia khusus yang diselundupkan untuk memimpin serangan ini, menjadi
pemimpin lima orang pasukan khusus yang telah dikirim terlebih dahulu,
untuk memuluskan rencana. Ternyata apa yang diperhitungkan gurunya
meleset besar, mengenai kekuatan pengamanan istana.
Misi berjalan mulus,
tidak ada rintangan berarti. Restu Bhumi pun tidak pernah menyangka
bahwa ada usaha pengembosan dari dalam yang merongrong kekuatan Istana.
Dan dengan mudah Buntaran dan kelima pembantunya berhasil menyusup
istana.
Kini mereka berhadapan dengan Raja di sebuah kerajaan besar Negeri Asoka, yang keadaannya sangat mengenaskan.
Tanpa kata dan gerakan
yang cepat, tangannya yang kekar panjang melancarkan dua totokan untuk
melumpuhkan Raja. Disambar sebelum jatuh, dan dipanggul seperti potongan
batang pisang layaknya. Meloncat dan melewati tembok luar kerajaan,
berlari cepat menuju ke arah Barat Laut.
Sedang si Kumis
melintang, sengaja mengerakkan tanda bahaya, sehingga malam itu, di
istana ramai bergemuruh suara genta, suara lonceng seakan ada pesta.
Yang mengejutkan semua pengawal kerajaan dan Perdana Menteri Banara sendiri.
Banara segera meloncat
dari tubuh polos mempesona Alamanda selirnya. Buru-buru berpakaian dan
selanjutnya melesat meluncur ke arah istana Baginda Raja.
Sampai di tempat Baginda biasa bercengkerama, telah hadir puluhan pengawal istana, yang siap menunggu perintah.
Banara melihat sepuluh orang pengawal khusus yang di tempatkan pingsan tertotok dalam posisi di pos penjagaannya masing-masing.
Para selir yang berpesta masih pingsan semua.
Hanya
satu yang masih tersadar, karena ia berlaku cerdik melihat sergapan
itu, ia cepat-cepat berpura-pura pingsan dengan membungkus mukanya
dengan selendang. Sehingga terbebas dari asap bius.
Bulan Ke Tujuh nama selir itu yang menceritakan kejadian singkat itu.
" Ampun... Perdana
Mentri... Baginda Raja Baruna telah di culik oleh enam orang bertopeng
hitam, dan melarikan Raja ke arah Barat Laut," ujarnya ketakutan.
Mendengar penuturan
selir itu, otak Banara berkerja cepat, ia segera memberikan kode kepada
pengawal istana. Dua kode sekaligus, yaitu pengejaran dan pembiaran.
Seperti yang pernah Banara sampaikan kepada semua pengawalnya.
" Kusuma, cepat kerahkan
pasukanmu, lakukan pengejaran," perintahnya cepat. Tanpa bertanya
dengan sigap, Kusuma memberikan komando untuk melakukan pengejaran.
Istana geger. Kabar sengaja cepat disebar. Bahwa Baginda Raja Baruna telah diculik penjahat.
Dan Perdana Menteri Banara telah memerintahkan pengejaran.
Banara melakukan siasat sambil menyelam minum air.
__ADS_1
Ini adalah kejadian yang sangat menguntungkan dirinya.
Ia bisa meminjam tangan dan mengambil keuntungan dari peristiwa penculikan ini.
Menyingkirkan Raja, melalui tangan orang lain.
Itulah sebabnya, ia
memberikan dua kode sekaligus kepada Kusuma, untuk cepat melakukan
pengejaran. Dan setelah itu diperjalanan sekaligus melakukan pembiaran,
dikejar tapi tetap diatur jarak. Dibiarkan para penculik lolos, membawa
Raja, menyeberangi laut menuju ke arah Barat.
Pasukan pengawal
pantaipun, setali tiga uang, semua sudah dalam gengeman Banara, tetap
melakukan pengejaran, tapi tetap berjarak.
***
Buntaran dan lima anak
buahnya, sebenarnya sudah bersiap-siap bertempur dengan pengawal,
penjaga, atau siapa saja yang berniat menghalangi usaha penculikan ini.
Mulai melewati tembok
istana, dan pelarian selanjutnya. Buntaran dapat melihat bahwa tentara
kerajaan Istana Asoka melakukan pengejaran. Menempel ketat, tapi anehnya
bukan mempercepat pengejaran dan merampas Rajanya. Bukan. Para
pengejarnya menempel terus tapi tetap menjaga jarak pengejaran.
Ah, tanpa ambil pusing,
Buntaran cepat melakukan pelarian ke arah Barat Laut, menuju kapal
rahasia yang sengaja menunggu di tepi pantai tersembunyi.
Meloncat ke atas kapal,
dan segera berlayar ke arah Barat, menuju kerajaan Sangga Langit di
sebrang lautan sana, tak lupa, sengaja meninggalkan jejak pelarian
mereka, salah satunya, dengan menjatuhkan panji kuning bergambar seekor
naga menelan matahari, teronggok di tepi pantai, mengesankan bahwa panji
itu terjatuh karena terburu-buru.
Padahal siasat itu
memang telah direncanakan Restu Bhumi, sengaja mencari alasan agar Asoka
bentrok dengan Sangga Langit. Dan selanjutnya akan terjadi perang
besar-besaran antara dua negara itu.
Penculikan yang sengaja meninggalkan jejak!
Bersambung...
Rajawali Murka
SEMENTARA ITU
Di Paviliun Rajawali
Sore nan indah. Udara sejuk mengalir lembut. Menggoyangkan dedaunan sawo rindang diatas bangunan saung.
Saung yang di bangun di taman luas dibelakang Paviliun.
Saung berdiri indah diatas sebuah kolam ikan yang jernih.
Suara pancuran yang gemericik dan suara beburungan yang digantung di sudut sudut taman, menciptakan musik alam nan harmoni.
Senja membisikan kerinduan
Nyanyian asmara nan manis
Lahir dari rasa cinta terindah
Suaranya
lembut, penuh perasaan dan penghayatan. Syair cinta yang indah mengalir
jernih, dari seorang laki laki gagah dan tampan.
Ludiro adanya. Adik bungsu mendiang Raja Bengala.
***
" Mohon menghadap yang mulia...?" suara Radar, pengawal pribadi Pangeran Ludiro lantang.
Radar
bersoja ke arah Pangeran Ludiro, pengawal setia yang berusia 45 tahun
berbadan tegap dan gagah. Rambutnya diikat rapi, kumisnya hitam tebal
menambah kegagahannya. Baju seragamnya berwarna biru tua ringkas. Dengan
Ludiro.
"
Ya... Radar... ada apa? Rembang Senja seperti ini, kau menghadap?"
Ludiro menjawab. Terlihat sepasang alisnya terangkat sedikit. Agak
terganggu rupanya, meskipun Ludiro tetap meneruskan menulis syair.
"
Maaf, beribu maaf, Yang Mulia. Hamba telah berani mati, menganggu...,"
Ludiro hanya mengangguk dan perlahan merapikan semua peralatan untuk
menulis syair.
Radar
melanjutkan," Menteri Kehakiman lama dan yang lainnya datang menghadap.
Semua sudah hamba terima dan berkumpul di Ruang Pertemuan Garuda, Yang
Mulia..."
LUDIRO bertepuk kearah pintu yang menghubungkan bangunan utama dan taman....
Segera
berhambur satu orang berpakaian biru seperti Radar yaitu Sotama yang
mempunyai tugas untuk menyiapkan dan membereskan semua keperluan
junjungannya untuk bersantai di taman. Baik menulis syair, melukis,
ataupun bermain musik.
Dengan sigap dan cekatan, semua rapi dibereskannya.
Kemudian Ludiro beranjak ke Pavilliun Garuda yang tidak berjarak jauh dari saung tempat menulis syair, diikuti oleh Radar.
Langkahnya satu-satu... gagah bagai rajawali... jantan!
Senja semakin turun... rembang petang luruh... diluar kaki langit mulai hilang warna kesumbanya
Dilangit bulan muda sudah nampak dibalik bayang beburungan malam yang terbang melintas....
Lampu-lampu mulai dinyalakan
Istana Pangeran Ludiro tampak terang dan indah....
Di Pavilliun Garuda.,
Ruangan jadi hening, ketika Pangeran Ludiro, memasuki Pavilliun Garuda diikuti oleh Radar.
Di
dalam terdapat meja dan kursi ukiran indah yang ditata melingkar. Di
tengah susunan terdapat kursi ukiran berwarna kuning emas, besar dan
tinggi berhias ukiran seekor burung garuda.
Pangeran Ludiro segera menduduki kursi tersebut.
Disapukan pandangan matanya ke sekeliling.
Nampak,
tepat di sebrang mejanya, adalah Gopara Menteri Kehakiman yang lama.
Badannya yang gemuk besar nampak segar, sayang wajahnya yang bulat mulus
nampak cemas, tidak seperti biasanya, selalu bersikap tenang dan
berwibawa.
Ada
sekitar empat pejabat lama yang hadir... mereka semua adalah " korban
penyingkiran" Perdana Menteri Banara, karena dianggap tidak sepaham dan
membahayakan.
Sebelah
kanannya nampak Supala Menteri Keuangan Lama yang bertubuh kurus dengan
wajah yang panjang berkumis tipis. Terlihat sedikit gelisah dan sedih.
Sebelah
kiri Menteri Gopara adalah Wijaya Kepala Tilik Sandi lama, yang gagah
tampan. Dengan dandanan bersih dan wajah jantan yang selalu tersenyum.
terkenal mantan pejabat yang mempunyai ilmu kepandaian silat tinggi.
Yang terakhir Hasada, Menteri Urusan Rumah Tangga Kerajaan...
yang
tinggi langsing berwajah tirus bersih, dari wajahnya kelihatan sosok
ini adalah orang selalu berhati-hati, penuh perhitungan.
Selebihnya
adalah beberapa orang pembantu utama yang mempunyai peran tak kalah
penting di tatanan pemerintahan kerajaan yang lama.
__ADS_1
"
Sahabat... angin apa yang membawa Anda semua kemari?" Pangeran Ludiro
mengawali dengan menebarkan senyum dan pandangan kepada semua yang
hadir.
Wajahnya semakin cemerlang dan tampan . Matang, pembawaannya.
" Mohon beribu maaf, Paduka. Berani mati menganggu," Gopara memulai pembicaraan mewakili ke tiga temannya.
Wajahnya yang bulat menampilkan kecemasan. Demikian juga menteri lama yang lain.
Ludiro tidak menanggapi hanya mengangguk dan tersenyum samar menunggu lanjutan pembicaraan Gopara.
"
Paduka, hamba berani lancang menghadap karena cemas melihat keadaan
yang terjadi di negeri ini. Bukan karena rasa iri dan omong kosong.
Bukan karena dendam " disingkirkan" dari lingkaran kekuasaan, bukan...
sekali lagi bukan karena itu... Ini semua demi keselamatan negara yang
sama-sama kita cintai," lanjut Gopara dengan nada risau.
"
Dari sahabat Wijaya, walaupun tidak bertugas lagi, namun karena
kecintaan, tetap melakukan kegiatannya. Memberikan laporan keadaan
negeri yang sangat memperhatinkan," lanjut Gopara sambil berpaling ke
arah Wijaya meminta dukungan.
Ludiro menatap Wijaya dan mengangguk sebagai isyarat memperkenankan Wijaya bicara.
Melihat isyarat itu, Wijaya mengangguk dan melanjutkan memberikan penjelasan.
" Mohon maaf beribu maaf... Benar yang dikatakan Kakang Gopara Baginda.
Keadaan
rakyat semakin memprihatinkan. Rakyat dibebani pajak dan terjerat
hutang oleh para pejabat daerah yang mulai sewenang-wenang.
Rakyat mulai banyak kehilangan sawah dan tanahnya untuk membayar hutangnya.
Sementara
para pejabat mulai bertindak sewenang-wenang karena mempunyai kekuasaan
dan kekuatan. Punya penjaga, tukang pukul yang semuanya direkrut dari
kalangan hitam, orang jahat, Paduka,"
Keadaan di Pavilliun Garuda menjadi hening dan aroma keresahan tercium kuat di udara.
Ludiro
beberapa kali menarik nafas gundah. Walau raut wajahnya belum terlihat
berubah, karena sejatinya Ludiro, juga menyebar anak buahnya untuk
melihat atau mengawasi jalannya pemerintahan dan keadaan negera
seluruhnya.
"
Demikian juga di ibukota. Para pejabat mempunyai penjaga dan tukang
pukul... sama, yang direkrut dari golongan sesat juga... untuk
mengamankan dan menjaga kekuasaannya. Tak jarang para tukang pukul itu
bertindak sewenang-wenang.
Mereka sangat keras dan jahat kepada rakyat jelata dan sangat tunduk menjilat kepada tuannya si pejabat itu.
Kejahatan timbul di mana-mana. Karena petugas keamanan sudah kongkalikong dengan para penjilat dan penjahat itu.
Kejahatan, pencurian, perampokan, pembunuhan bahkan pemerkosaan semakin sering terjadi, datang bagaikan wabah penyakit saja.
Karena petugas keamanan, tentara sudah tidak perduli lagi akan keamanan negara.
Mereka hanya perduli akan keamanan majikan dan diri sendiri.
Yang
lebih parah... adalah keadaan Sang... ," suara Wijaya terputus.
Wajahnya langsung pias pucat, karena terlalu bersemangat memberikan
laporan yang selalu membuat hatinya sakit dan gemas, melihat negara yang
dicintainya berubah seperti itu. Menurutnya semua ini terjadi karena
Sang Raja sebagai penguasa tertinggi tidak menjalankan fungsinya.
Kata-kata itu sudah terlepas di ujung bibirnya dan ditarik kembali.
" Mohon ampun... Seribu kali ampun Paduka. Hamba sudah berbuat lancang!" Wijaya nampak ketakutan karena sudah kelepasan omong.
Keadaan menjadi hening. Semua tamu tertunduk gelisah, karena melihat junjungannya hanya diam tidak bereaksi.
Di luar malam sudah mulai menjelang
Udara dingin dan suasana gelap mulai turun bersama tirai malam yang luruh
Jerit beburungan malam mulai terdengar melintas.
Keadaan Istana Pangeran Ludiro, sudah mulai benderang, karena semua lampu dan penerangan sudah dinyalakan.
Di
Pavilliun Garuda keadaan masih hening. Membuat semua yang hadir tambah
gelisah. Akankah junjungannya menjadi murka mendengar penuturan Wijaya?
Sedang Wijaya sendiri, tertunduk dalam, hatinya berdebar dan tegang, bersiap menerima hukuman...
Untuk
sekian waktu, hening dan sepi mengambang pekat dan wajah-wajah cemas
bertambah menjadi gelisah dan merambat ke arah ketakutan.
Keheningan yang sekian lama dipecahkan oleh suara pelan dan berwibawa dari Pangeran Ludiro.
"
Wijaya dan sahabat yang lainnya. Aku tahu arah pembicaraan ini. Aku pun
tidak menutup mata, dan tetap perduli akan semua keadaan ini.
Sejujurnya
hatiku juga gundah. Melihat keponakan yang sekarang menjadi Raja
junjungan dan kakak yang sekarang menjadi Perdana Menteri. Mengendalikan
roda pemerintahan dan jayanya kerajaan sudah mulai melenceng dari
cita-cita pendahulunya," suara Ludiro pelan teratur dan berwibawa, tanpa
ada perasaan marah atau emosi dalam kata-katanya.
Segenap
yang hadir bernafas lega ketika mendengar suara Pangeran Ludiro, mereka
seakan terselamatkan nyawanya, kekhawatiran kehilangan nyawa hilang
dengan penyataan Pangeran Ludiro itu.
" Keadaanku bagaikan makan buah simalakama. Dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu mati. Dua-duanya adalah satu ikatan.
Namun, kalau dibiarkan seperti ini, Negeri Asoka bisa-bisa tinggal sejarah," lanjut Pangeran Ludiro dengan masygul.
Semua yang hadir diam menyimak, tinggal menunggu keputusan apa yang akan disampaikan oleh Junjungannya.
" Sahabat Gopara...d... ," suara Pangeran terputus oleh Yudhabara, yang merangsek masuk ke Villa Garuda.
"
Ampun... seribu ampun Baginda Ludiro. Hamba lancang masuk," suara cemas
Yudhabara, pasukan khusus yang Ludiro sisipkan di pusat lingkaran
Istana. Yang akan lebih mudah dan cepat memberikan laporan yang tepat
dan terbaru keadaan istana.
" Baginda Raja Baruna... hilang diculik musuh Baginda Pangeran," lanjut cepat Yudhabhara sedikit gemetar.
Bagaikan suara petir tanpa hujan menyambar dan membelah malam yang resah tanpa rembulan dan gemintang.
" Apa...
?" suara Pangeran Ludiro terkejut dan terlonjak berdiri dari kursinya.
Selembar wajahnya yang tampan berwibawa tampak berubah ronanya.
Semua yang hadir di pertemuan itu pun sama terkejut.
Mendengar
kabar Sang Baginda hilang, Pangeran Ludiro menjadi sangat marah.
Pangeran yang biasa sabar, lembut, sekarang berubah laiknya Rajawali
Jantan yang murka!
"
Plakkk... !" tangan kanannya memukul ujung meja di depannya. Meja
panjang itu bergetar dan meninggalkan jejak tapak tangan di
permukaannya. Amblas setengah ruas jari.
Mukanya merah dan matanya berkilat tajam.
" Ini sudah kelewatan!" dengusnya marah.
" Yudhabhara, cepat kembali ke Istana, gerakan semua pasukan untuk membantu pengejaran.
Radar,
bahwa pasukan dari sini, kawal dan amankan istana. Sebagian lakukan
pengawasan dan amati pergerakan Perdana Menteri," lanjut Pangeran Ludiro
memberikan perintah cepat kepada pasukan khususnya.
Pertanda apakah ini?
Apa yang terjadi selanjutnya?
Bersambung....
__ADS_1