
CHAPTER 19
Banara dan Selir Terkasih
Geger Hrastu Bhumi sudah berakhir. Panglima Banara begitu terkejut saat peristiwa itu. Ia tidak menyangka bahwa Guru Negara atau gurunya pribadi yang menjadi biang kerok tindakan makar terhadap Raja Bengala, kakaknya.
Untung saja, geger itu bisa segera diatasi. Sepak terjang pendekar-pendekar muda yang sangat luar biasa. Cekatan dan penuh kewaspadaan.
Jebakan Hrastu Bhumi dan kambratnya, selicik dan selicin apapun berhasil di tumpas semua.
Hanya satu yang disayangkan. Hrastu Bhumi sebagai otak di balik makar itu berhasil lolos dari penangkapan, walaupun sudah terluka dalam sangat parah.
Sepeninggalan Hrastu Bhumi, kedudukan Guru Negara kini kosong.
Banara sudah membuka kesempatan untuk para tokoh dunia persilatan yang mumpuni dan sakti untuk menjadi Guru Negara, namun sampai sekarang masih juga belum terisi posisi tersebut.
Kalau mengingat-ingat tentang sepak terjang Hrastu Bhumi, entah mengapa di dalam sudut hati Banara yang paling dalam merasakan ada dorongan yang aneh?
Ada sesuatu yang menghangat dan menggelegak dari dalam jiwanya.
Begitu menantang dan penuh nikmat.
Ah,..Banara, cepat-cepat mengusir rasa aneh yang timbul itu.
Apalagi ketika dilihatnya selir barunya yang cantik datang menghampiri dirinya, yang sedang asyik bersantai dan sedikit melamun.
Alamanda adalah selir terbaru yang belum lama menghuni istana Kamayudha milik Panglima Banara.
Alamanda adalah anak seorang hartawan di Barat Laut Negeri Asoka, Sugiharta yang mempunyai puluhan kapal nelayan dan kapal pengiriman barang.
Anak tunggal Sugiharta yang selalu di manjakan dan mempunyai ambisi tentang harta dan jabatan seperti ayahnya.
Alamanda biasa hidup enak dan menjadi tuan puteri di tempat tinggalnya.
Dalam perjalanan untuk mengawasi keamanan di Negeri Asoka, kebetulan Banara lewat di daerah Hartawan Sugiharta dan di jamu oleh hartawan itu.
Di situlah Banara bertemu Alamanda anak tunggal yang cantik kesayangan Sugiharta.
" Pucuk di cinta ulam tiba "
Sugiharta bisa menumpang kemuliaan lewat anaknya jika berhasil " memikat " Panglima Perang yang berpengaruh ini.
Ternyata kelebihan harta dan kekayaan masih belum cukup untuk Sugiharta.
Dan semua keinginan Sugiharta terpenuhi.
Kini Alamanda yang cantik sudah berada di istana megah Kamayudha milik Banara sebagai selir baru!
" Kakanda Banara, ini teh hijau yang hangat dan potongan gandum yang lezat untuk sarapan," Alamanda melenggok memikat ke arah Banara dan meletakkan sarapan di meja di samping tempat Banara duduk.
Aroma wangi tubuh dan rambut basah Alamanda membangkitkan hasrat Banara. Ia juga merasa heran, kenapa begitu bersemangat dan bergairah kehidupan dirinya belakangan ini.
Ya, semenjak Alamanda ada di istananya, Ia merasa lebih bergairah dan perkasa.
Sambil menyesap teh hijaunya yang hangat, ia melihat kearah Alamanda yang sedang memandangnya dengan ekspresi memikat dan menggoda.
Baru beberapa sesap teh. dan potongan gandum yang ia nikmati, hasratnya ia rasakan menghangat dan bangkit.
Ah..menuntut pelepasaan. Dengan cepat Banara bangkit dari kursinya dan menghampiri Alamanda yang sudah paham akan maksud Banara.
Karena ialah yang dengan sengaja menggoda dan memikat Banara dengan sikap, gerakan, senyum yang menggoda dan mengundang.
Banara segera meraih Alamanda diangkat pinggangnya yang ramping dan di pondongnya.
Banara tidak tahan. Sambil memondong, di ciuminya Alamanda yang tertawa cekikikan manja.
Mereka kembali kekamarnya, untuk menikmati permainan asmara yang tak pernah padam.
Alamanda adalah selir terkasih Banara.
Si cantik yang menawan dan menyimpan bara yang membakar di tubuh dan hatinya.
***
Semenjak kehadiran Alamanda, kehidupan Banara memgalami perubahan yang sangat besar.
Kehidupan lebih bergairah.
Semangatnya lebih menggebu dan meletup-letup.
Tidak hanya gairah asmaranya.
Denyaran yang pernah muncul ketika melamun atau mengingat makar Hrastu Bhumi yang gagal, ia rasakan semakin kuat. Terus mendorong dan mendesak. Denyaran yang halus, perlahan membentuk dan lahir sebagai keinginan.
Hah..gila! Pikirnya terkejut sendiri.
Ia punya keinginan makar?
Ia ingin merebut kekuasaan Raja Bengala kakaknya. Atau kekuasaan Baruna keponakanya, nantinya.
Karena, ia sudah tahu, bahwa sebentar lagi Bengala akan menyerahkan kekuasaanya atau tapuk pemerintahaanya kepada putera Mahkotanya Baruna.
Dan Banara akan di angkat sebagai Perdana Menteri sebagai pendamping keponakannya memerintah kerajaan Asoka.
Perasaan yang aneh terus bergelora, tapi berkat kecerdikannya, ia berhasil menindas perasaan itu, di simpan dibawah tersembunyi di tutupi dengan sikapnya yang tangkas, cepat, dan berpikir taktis, selalu menempatkan kepentingan dan kesejahteraan negeri Asoka di atas segalanya.
Semua orang tahu, semua rakyat paham, Banara adalah Panglima Perang Asoka yang luar biasa.
Selalu memenangkan pertempuraan, jika ada serangan dari luar yang ingin merongrong kewibawan Raja Asoka.
Ataupun, jika ada pemberontakan yang mengganggu kedamaian dan ketentraman Negeri Asoka.
Yang ada dan tampak di luar sangatlah berkilau dan cemerlang.
Yang ada didalam begitu gelap, bercabang dan menakutkan.
Semua tinggal menunggu waktu.
Waktu yang sangat tepat.
***
Banara, akhirnya menemukan dan memilih tokoh sakti yang baru pulang dari perantauan Ki Jumala sebagai Guru Negara.
Jumala tidak hanya mempunyai kesaktian dalam ilmu silat, ia juga sangat menguasai ilmu surat dan sastra.
Keahlian yang sempurna.
Ki Jumala yang mempunyai gelar Pena Sakti, adalah semula seorang sastrawan, setelah di perantauan ia bertemu dengan tokoh sakti, ia tertarik mempelajari ilmu silat.
Ia mempunyai dasar ingatan yang tajam, semua ilmu yang di pelajari begitu cepat ia serap dan kuasai.
Ia malang melintang sebagai pendekar yang menolong kaum lemah dan melawan kejahatan di perantauan dan petualangannya.
Pena Sakti adalah gelar yang mengangkat namanya.
Banara meminta tolong kepada Ludiro untuk melakukan pengujian terakhir dalam kemampuan sastra dan ilmu silatnya.
Dan semua ujian itu mampu di laluinya dengan baik.
Jumala si Pena Sakti, adalah pendekar satrawan tulen.
Bahkan kesaktiannya ada beberapa tingkat diatas Ludiro.
***
Maka, untuk selanjutnya Ki Jumala si Pena Sakti menjadi Guru Negara negeri Asoka.
Yang bertugas untuk memberikan bekal sastra, ilmu pemerintahan, ilmu silat bagi pangeran muda atau putra putri pejabat penghuni kota raja Asoka.
Salah satunya adalah pangeran mahkota Asoka, Baruna sebagai muridnya.
***
Banara yang mempunyai pandang jeli dan cermat. Berhasil menangkap perubahan dari Ki Jumala, yang semula sebagai pendekar tanpa pamrih.
Setelah memperoleh kemuliaan, pangkat, jabatan dan kekayaan.
Sifat dasarnya yang rakus mulai kelihatan. Kesenangan akan dunia mulai kentara.
Diam-diam Banara mengujinya.
Dan setiap tugas, berhasil di selesaikan dengan baik. Banara selalu memberikan hadiah-hadiah.
Emas permata, harta benda, tanah, dan aneka hadiah lainnya.
Semua itu diterima oleh Ki Jumala dengan mata berbinar, dan lidah berdecak senang.
Banara puas sekali hatinya. Ia sudah mampu menguasai hati Ki Jumala.
Ia sudah menggenggam hasrat dan keinginan Ki Jumala, dan apa-apa kelemahannya.
Cocok sekali di jadikan sebagai sekutunya nanti.!
***
Selanjutnya, Banara memilih para pejabat atau para menteri di kotaraja maupun di daerah yang mempunyai atau mencocokinya hatinya.
__ADS_1
Ia pilah-pilah dengan sangat halus. Ia memulai memetakan kekuatannya, merekrut kaki tangan atau pembantunya.
Perlahan, halus, dan tersembunyi.
Mendekati, menilai dan memilih.
Saking cerdiknya, orang yang dipilihnya tidak menyadari, niat terselubung di hatinya.
Ibarat laba-laba yang cerdik, menangkap semua mangsanya di sarang laba-labanya.
Jaring yang halus, yang menjerat dan tidak akan mudah lepas.
Bersambung..
Cinta Lama Bersemi Kembali
Cinta adalah nyanyian jiwa
Yang lahir dari relung terdalam
Sepi namun indah
Sunyi namun penuh damba
Cinta yang bersetia
Menunggu sampak tak berbatas usia
Seperti cinta dalam kehidupan dunia.
Cinta adalah awal alasan penciptaan
Cinta adalah alasan segala ihwal
Meskipun cinta cukup untuk cinta
Tetaplah diperjuangkan.
Hidup tanpa cinta adalah kematian yang sia-sia
Karena manusia mampu menikmati pelangi
Jika cinta ada di dalam hatinya.
Cinta adalah pembeda.
***
Matahari masih sangatlah ranum
Embun yang bergelayut manja
Bak untaian kristal masih manis
Belum kesemuanya luruh ke bumi
Sedang celoteh pagi sepasang kepodang riang di atas pohon kelapa begitu bergema indah
Bagaikan essemble musik dari se buah orkestra, di tingkahi cericit Pleci dan Colibri.
Lihatlah seekor angsa jantan menari di sebuah kolam alam
Di Lembah Penantian, sambil bernyanyi memanggil pasangan.
Semua berpasang-pasangan
Semua melakukan ritual cinta
Mengisi pagi yang begitu mekar semerbak.
Ia tidak bisa melihat semua itu. Semua tangkapan suasana hanyalah gambaran masa lalunya.
Ada keterbatasan di dalam panca inderanya. Namun hatinya yang mendamba, mampu menangkap dan menikmati aroma cinta di sekelilingnya.
Ia tidak memungkiri, ada cinta di hatinya.
Pohon mahoni itu cukup rindang. Batangnya besar dan bercabang melebar. Ini adalah saat yang terindah pada siklus hidupnya. Setelah merontokkan daun tuanya. Kini ia bersolek dengan daun baru, hijau muda, hijau pupus berseling hijau tua penuh pesona.
Di bawah pohon itu, diatas sebuah bangku dari potongan batang mahoni, duduklah.
Seorang nenek yang masih menyisakan kecantikan di masa mudanya.
Rambut putih panjangnya di gelung tinggi di hiasi tusuk konde hiasan sepasang walet merah terbang.
Baju nya lebar serba putih.
Wajahnya yang cantik tersenyum. Walaupun manik matanya yang tidak bergerak karena buta. Tidak menodai kecantikannya sedikitpun. Ia malah terlihat lebih anggun dan agung.
Si Walet Merah Mayang Sari di Lembah Penantian, sedang melamun dibawah pohon Mahoni.
Sesekali berkesiur biji buah mahoni yang pecah, terbang seperti baling baling.
Mayang Sari menyadari. Adakalanya hidup tak ubahnya sebuah baling-baling,ternyata.
Ia harus terus berputar jika ingin mempertahankan ketinggian atau keberadaannya.
Ia harus melakukan tindakan, tidak harus menunggu, jika ia ingin dirinya masih ada.
Sudah cukuplah 30 tahun lebih ia menyendiri.
Kembali tanpa sadar ia elus liontin walet merah di dadanya, ia terhanyut dalam lamunan dan benar-benar hilang kewaspadaanya. Ada dua pasang mata yang melihatnya dari kejauhan dari tempat yang berbeda dan dengan tatapan berbeda.
Lingga si Pendekar Jari Sakti dari teras depan rumah sederhana milik ibunya.
Pagi masih belum beranjak, tapi ia tidak menemukan keberadaan ibunya.
Yang biasanya, di waktu seperti ini, ibunya masih berada di depan jendela kamarnya sambil menikmati racikan teh hangat, yang ia ambil dari kebun teh di belakang rumah.
Tapi, ketika memasuki kamar ibunya, tidak nampak keberadaan ibunya disana. Ia melihat ibunya duduk di bawah pohon Mahoni kesayangannya.
Lingga melihat wajah cantik yang melamun. Tangannya yang putih kurus mempermainkan liontin walet merah dengan begitu penuh perasaan.
Sekarang Lingga bisa memahami perasaan orang telah atau sedang jatuh cinta.
Seperti yang di rasakannya kali ini.
Perasaan Nyi Mayang, pasti sama dengan dirinya. Bahkan mungkin lebih mendalam.
Cinta dan rindunya kepada Paramitha, membuatnya selalu terbayang-bayang akan wajah dan senyum kekasihnya.
Jika perasaannya tidak mampu di bendung lagi, ia akan dengan mudah menemui Paramitha di Kotaraja.
Berbeda dengan Nyi Mayang, perasaan rindu dan cintanya kepada Yadara membuatnya menanggung rindu puluhan tahun. Padahal dia juga tahu ada seseorang yang mencintainya, tidak kenal waktu dan masa.
Cinta dan rindu hanya mengisi relung hatinya.
Setelah pertemuan terakhir di Bukit Hutan Baron diatas air terjun, ketika mengetahui bahwa Yadara telah berhasil melupakan dirinya, dengan menyunting wanita lain.
Nyi Mayang berusaha, mengikis dan melupakan cinta dan kenangan lalu. Berat tapi harus dan terus di coba.
Dan Lingga melihat perubahan di diri ibunya.
Kebiasaan baru yang suka mengelus liontin walet merah itu, dengan wajah dan senyum yang muncul, membuat Lingga sangat bersyukur dan bergembira.
Ia mulai dapat berharap bahwa Ki Denawa sebenarnya masih ada di hati ibunya.
Mungkinkah cinta yang semula untuk seorang kakak, dapat berubah menjadi cinta kepada kekasih?
Padahal mereka berdua sudah lanjut usia.
Apakah benar, cinta itu buta dan tak pernah mengenal usia?
Biarlah waktu akan menjawabnya. Biarlah akan indah bila saatnya tiba. Doanya dalam hati dengan sungguh-sungguh untuk kebahagian ibunya.
Kalau boleh Tuhan, untuk Ki Denawa juga.
Lingga kembali kekamarnya sendiri, untuk mempersiapkan diri, sebentar lagi ia harus berladang dan berburu, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
***
Sepasang mata yang lain, yang berbinar-binar bahagia adalah milik Denawa.
Dari sebuah pohon Dadap alas raksasa yang tinggi tidak jauh dari pohon Mahoni tempat Nyi Mayang melamun, tempat yang khusus ia pakai untuk melihat dan mengawasi Nyi Mayang dari kejauhan.
Ia masih setia menunggu, sampai kapanpun. Walau harus seribu tahun lagi ia harus menunggu.
Tinggal satu ini keinganan dan mimpinya harus tetap diperjuangkan.
Kesohoran nama, kesaktian dan urusan ***** bengek dunia, telah mulai menghambarkan hatinya.
Semua itu sudahlah mencapai titik tertinggi di hatinya.
Ia sudah mempunyai dua orang pewaris dalam dunia persilataan yang luar biasa. Bisa di sebut Pendekar-pendekar muda tanpa tanding. Dibawah sedikit dari Lingga si Pendekar Jari Sakti.
Santika si Pendekar Seruling Biru dan Puteri Xenia adalah pewaris ilmu-ilmu yang ia kuasai. Ilmu yang mengangkat namanya dan malang melintang sebagai Tokoh Nomor Satu di negeri Asoka.
Kemunculan Lingga sebagai penerus kejayaan, sudah cukup membahagiakan hatinya.
__ADS_1
Negeri Asoka yang ia cintai akan tetap aman dan damai selama Lingga, Santika, Ludiro dan lain-lainya masih ada.
Sudah lama ia melupakan kehidupannya sendiri. Menyesal dan menghukum diri sendiri selama ini. Harapannya yang semula mati, kini kembali hidup kembali. Bersama hadir Mayang Sari dikehidupannya.
Ia tidak pergi jauh-jauh dari sisi Mayang Sari.
Ia membuat gua sederhana di lereng Pegunungan Samara, tidak jauh dari Lembah Penantian.
Kapan saja, ia akan dengan mudah menikmati pemandangan cintanya.
Seperti saat ini. Ia dengan hati-hati menikmati perubahan sikap dari Mayang. Cukup jelas, dari tempatnya bersembunyi.
Harapannya kembali hidup dan bersemi kembali. Cinta yang lama bersembunyi didasar hatinya, mengeliat kembali. Mendesak keluar memenuhi semua ruang hatinya.
Begitu indah. Begitu manis.
Sosok hitam tinggi besar, yang menggegerkan dan menakutkan dunia dengan sepak terjangnya, begitu terlihat rapuh disergap oleh cinta.
Denawa..Denawa..oo kaulah pendamba dan pejuang cinta sejati.
Apapun hasil dari perjuanganmu, dulu dan kini, tidak pernah mengendurkan semangatmu. Malah semakin kuat.
Dari kejauhan ia melihat Mayang berdiri, membereskan pakaian dan rambutnya, bergerak ke arah rumah. Dan menghilang kedalam.
Denawa, tersenyum tipis. Bahagia. Melihat perubahan dari hari ke hari hati dan tingkah laku Mayang.
Sebenarnya ia merasa malu, harus melakukan perbuatan seperti ini. Pendekar jantan seperti ini, harus melakukan pengintaian atau boleh dibilang mengintip..ah!.
Tapi ini adalah cara yang terbaik baginya untuk bersabar dan menunggu. Ia hanya bisa memandang dari kejauhan saja. Dan sesekali ia hadir mampir ke Lembah Penantian dengan alasan mampir atau ingin bertemu Lingga saja.
Padahal semua itu. sengaja di lakukannya seakan ia meninggalkan jejak keberadaanya bagi Mayang.
Menyatakan aku ada didekatmu Mayang!
Dan Mayang pun tahu, bahwa Denawa ada didekatnya. Ia yakin Denawa tidak akan melepaskan kesempatan kali ini.
Selagi Mayang meyakinkan diri akan cintanya, biarlah Denawa untuk kesekiankalinya ia harus menunggu.
Siang sudah mulai beranjak. Alam semesta telah bermandikan sinar sang Perkasa.
Suara beburungan sudah lama menghilang
Telah pergi berburu di hari ini
Ia pun harus sementara waktu beristirahat..
Mayang memasuki pondoknya. Tidak lama kemudian berkelebatlah dari atas pohon Randu Alas raksasa, bayangan hitam besar melesat menuju pegunungan Samara.
Denawa kembali ke gua tempat tinggalnya untuk bertapa dan menunggu.
***
Waktu tak terasa begitu cepat bergulir
Purnama demi purnama berlalu
Pagi sekarang telah menjadi pagi yang kemarin.
Suasana tetap indah dan mekar
Pagi yang segar dan merekah
Ramai sekali, suara beburungan yang mampir di atas pohon Mahoni besar di Lembah Penantian
Denawa se pagi ini, tidak biasanya sudah ada menunggu dibangku kesayangan Mayang.
Untuk sesaat yang lalu ia sempat berbincang dengan Lingga, sebelum Lingga kemudian meminta ijin harus berkebun dan berburu.
Tinggallah ia sendiri menunggu.
Menunggu kemunculan Mayang.
Mayang sudah tahu akan kedatangan Denawa saat Lingga meminta ijin tadi.
Dan tidak seperti biasanya, mengapa hari ini hati Mayang terasa gelisah dan berdebar?
Dan berkali-kali ia mematut dirinya dan merasa, ada yang tidak sempurna di rasa. Berkali-kali di rubah ikatan rambutnya, dirubah letak jatuhnya lipatan gaunnya, di gantinya selendangnya, ah..Mayang merasa hari ini sangat gugup.
Seperti saat pertama dulu, ia jatuh cinta dengan Yada...ahhhh
Cepat-cepat Mayang mengusir nama itu dalam benak dan lingkaran cintanya. Ia sudah masa lalu. Masa lalu dan lupakan.
Di tariknya nafas dalam-dalam dan..melangkahlah ia keluar dari kamar dan keluar dari pondoknya.
Baru saja ujung kaki kanannya keluar dari pintu, didengarnya kesiur angin dan aroma khas tubuh atau keberadaan Denawa.
" Mayang..," tegur Denawa lunak. Tubuh yang tinggi besar ia rasakan berada didepannya.
Mayang hanya mengangguk dan tersenyum manis kearah mana suara Denawa terdengar.
Mayang melangkah ke arah tempat kesayangan di bawah pohon Mahoni di ikuti oleh Denawa, yang berjalan ringan tanpa suara.
Suara Prenjak dan Cipao yang bersahutan dan saling mengisi membuat pagi ini terasa ceria benar.
Udara masih segar beraroma embun dan rerumputan basah. Mayang menyesap dalam-dalam dan memenuhi rongga dadanya. Dan menetramkan hatinya yang gelisah.
Ia duduk di ujung kiri dan Denawa di ujung lainnya. Saling diam tanpa suara. Saling membenahi hatinya, kiranya.
Untuk beberapa saat udara tenang mengambang.
Sesekali di tingkahi kotek ayam betina yang dikejar ayam jantan.
Berkejaran.
Dan di ranting pohon Mahoni sepasang Kutilang sedang memadu kasih.
Denawa yang menenangkan diri sambil mengedarkan pandangan ke arah atas pohon, malah bersemu malu. Aih..ada ada saja, batinnya.
Akhirnya.
Sambil berdehem, Denawa memecahkan kebisuan dengan perlahan mengeluarkan sekotak perhiasan dari kayu jati berukir indah dari balik jubah panjangnya.
Di sorongkan kepada Mayang yang diam menunggu.
Desiran gerakkan tertangkap oleh ketajaman pendengaran Mayang.
Tapi Mayang tak bergeming. Sampai terdengar suara berat Denawa.
" Mayang, ini perhiasan dari batu merah delima yang khusus aku pesan dari kota untukmu," Denawa meraih tangan lembut Mayang meletakkan kotak perhiasan ditelapak tangannya.
Dengan gemetar dirabanya perhiasan itu. Semua dikerjakan dengan halus dan bermutu tinggi.
Mayang tahu ini ungkapan cinta Denawa untuk kesekian kalinya kepadanya.
Ia menangkap tangan Denawa dan di genggamnya.
Disambut dengan Denawa dengan sukacita. Ah..penantiannya berujung juga.
Kesabarannya membuahkan hasil juga.
Cinta yang bersemi kembali.
Lingga melihat dari ujung jalan menuju pulang. Ia melihat adegan antara Denawa dan Ibunya.
Dengan perlahan-lahan ia melintas tanpa mengeluarkan suara. Tidak mau mengusik bersatunya dua hati dalam cinta yang baru.
Walaupun Denawa tidak lepas kewaspadaannya, melihat kepulangan Lingga.
Ia memberi kode dari kedipan ujung mata kanannya.
Yang dengan jeli di tangkap dan dipahami oleh Lingga.
Lingga mengangguk gembira dan bahagia.
Mengangkat kedua jempol jari tangannya, ke arah Denawa, dan melesat cepat untuk mengambil alat yang tidak sengaja tertinggal.
Matahari mulai merayap naik.
Mahoni yang rindang, berdesir dipermainkan angin
Beburungan tiba-tiba bermunculan dan bernyanyi riang.
Angin meliuk menerbangkan dedaunan seakan menari senang
Pagi yang bernas
Pagi yang bersemangat
Pagi menjadi saksinya
Cinta yang lama bersemi kembali
Dengan warna dan sentuhan yang berbeda!
Cinta Mayang Sari yang berubah ujud dengan cinta Denawa yang mendalam dan setia.
Bersambung....
__ADS_1