
**CHAPTER 10
Persekutuan Pembawa Petaka**
*
Pagi belum beranjak tinggi..
Perguruan Bhumi Langit kedatangan tamu aneh lagi.
Kali ini berterang melalui gerbang utama.!
Seorang laki laki tinggi besar berambut panjang berwajah jantan. Berpakaian serba hijau.
Bersama seorang wanita muda cantik berpakaian serba merah.
Dengan pedang ronce merah tersandang dipunggungnya.
Hrustu Bhumi, sudah memberi perintah, barang siapa yang datang ke Perguruan, terima dengan baik dan hantarkan ke ruangan dalam. Di sebuah lapangan khusus, tempat dimana dirinya berlatih silat.
*
Dua tamu yang datang sudah ditunggu oleh Hrastu Bhumi .Joko Angkoro dan Bagus Handoko.
" Hua ha ha ha...selamat datang. Ayo silahkan duduk," Hrastu Bhumi, mempersilahkan tamunya. Sebuah meja panjang disamping lapangan.
Hrastu Bhumi memberi isyarat kepada Bagus Handoko.
" Selamat datang. Tuan yang gagah dan Nona yang cantik. Mari bersulang!," senyumnya terkembang.
Wajah tampannya menyapu selintas kepada Tuan Serba Hijau dan pandangannya yang tajam berhenti lama ketika menatap nona berbaju merah.!
Perlahan dua cawan anggur yang sengaja ia tuang untuk ucapan selamat datang, dengan ajian Segara Geni , anggur dicawan itu terlihat bergetar kemudian mengepulkan asap tipis, tanda anggur itu sekarang menjadi panas.
" Silahkan tuan dan nona. Anggur persembahan dari Guru Negara..huuppp," sekali tangan Bagus Handoko mengibas, meluncurlah kedua cawan itu kearah kedua tamu, melayang tanpa tumpah sedikitpun.
" Ha..ha..ha...segala permainan kanak kanak, dikeluarkan. Hupp," kedua tangan Tuan serba hijau mulur panjang menerima suguhan cawan arak, dua sekaligus....dengan ajian Kelabang Hijau Menyerang Mangsa....kedua cawan diterimanya...dan dikerahkan ajiannya...angggur itu tiba tiba berdesis, berubah warna hijau dan memadat. Ketika diterima diputar, sehingga mulut cawan menghadap kebawah, akan tetapi isinya tidak tumpah.
Semua yang melihat terkejut. Dengan ilmu yang dikeluarkan Tuan Hijau. Tangan bisa mulur panjang . Dan tenaga dalamnya. bisa merubah anggur yang cair menjadi padat. Luar biasa!.
Kemudian serunya lantang," Terima kasih suguhannya. Mohon dihangatkan dulu, anggurnya agar semakin lezat," tangan mendorong kedepan..kearah Bagus Handoko kembali. Dengan senyum sinis diwajahnya.
Kedua cawan meluncur deras ke arah Bagus Handoko, yang merasakan bahwa adu tenaga dalam tadi, ia yang kepecundang.
Si Tuan hijau ternyata lebih lihai dari dirinya.
Tak ayal Bagus Handoko menjadi kelabakan. Untung saja, sebelum kedua cawan itu menerjang dadanya..terdengar dengusan..
" Hhesssss.....!..arah kedua cawan berubah arah, berbelok keatas..melenting deras...kemudian.
" Tap...tap....," menancap ke langit langit, akibat kibasan lengan dari Joko Angkoro.
" Ha..ha..ha..ha...,pertunjukan yang menarik. Luar biasa," disambung dengan tepuk tangan yang keras sekali.
Muka merah Hrastu Bhumi nampak berkilat, ia senang sekali. Melihat kesaktian dari calon sekutunya.
" Siapa gerangan Kisanak dan Nisanak, yang sudi datang kemari? dan perkenalkan...ini Bagus Handoko dan yang itu gurunya, Ki Joko Angkoro," Hrastu Bhumi memperkenalkan keduanya.
Kedua tamu duduk dihadapan Tuan rumah dan sekutunya yang tadi telah menguji coba nya.
" Aku Gumarang dan ini muridku Cempaka," Gumarang memperkenalkan muridnya dan menatap dengan tajam Hrastu Bhumi, berusaha menjenguk isi hati yang paling dalam dari Ketua Perguruan Bhumi dan Langit.
Ada bara berkilat kilat di mata Hrastu Bhumi dan hawa wibawa yang sangat kuat. Gumarang tidak menyadari bahwa Hrastu Bhumi memanfaatkan adu pandang itu dengan melancarkan serangan sihirnya Merebut hati Mencabut Roh.
Seketika saja Gumarang jatuh dalam pengaruh Hrastu Bhumi.
Walaupun dalam adu pandang tadi, Gumarang merasa ada yang lain yang sedang terjadi. Walaupun kesaktian Gumarang sudah tinggi tapi Ilmu sihir Hrastu Bhumi juga bukan ilmu sihir tukang sulap kacangan. Tetap saja Gumarang sudah jatuh dalam perangkap Hrastu Bhumi.
" Ha ha ha..ha..ha...mari bersulang. Dan selamat datang, bagi Gumarang dan Cempaka. Jangan ada dendam diantara kalian. Aku sengaja memerintah Bagus Handoko untuk mengujimu.
Gumarang memandang berganti dari Joko Angkoro ke Bagus Handoko, ada kilatan marah dimatanya walau cuma sedetik saja. Ia merasa diremehkan, karena diuji oleh anak bau bawang itu. Apalagi melihat mata liar Bagus Handoko, yang memandangi Cempaka, seakan seekor serigala yang bertemu domba gemuk!
Hatinya panas juga, karena ia merasa Cempaka adalah miliknya. Murid sekaligus kekasihnya.
Namun karena kecerdikannya, Gumarang berhasil mengendalikan emosinya. Demi tujuan yang lebih besar..ia menahan diri diperlakukan seperti itu.
Didepan Hrastu Bhumi ia tersenyum lebar, nampak gembira. Diliriknya Cempaka sekilas..terlihat Cempaka asyik dengan dirinya, tidak memperdulikan apapun yang terjadi disekitarnya.
Ia ikut gurunya bersekutu dengan Hrastu Bhumi, siapa tahu dia mendapat sekutu juga bagi dirinya sendiri.
Sambil menyisip kabar, siapa tahu musuh bebuyutannya si Pemuda Biru..ditemukan jejaknya!
*
Hari itu dan hari hari selanjutnya, banyak tokoh tokoh dari golongan sesat, bergabung dengan Hrastu Bhumi.
Bagi Hrastu Bhumi semua yang terjadi adalah langkah awal yang sangat baik.
Persekutuan yang sangat menguntungkannya.!
Apalagi rencana yang telah disusun bertiga dengan Joko Angkoro dan Bagus Handoko.
Hrastu Bhumi, bisa membayangkan, ....sebentar lagi akan ada geger di Negeri Asoka.
Tidak masalah, Undangannya akan dilupakan orang..Yang terpenting baginya...Ha..ha..ha..
Batinnya senang sekali.!
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.!
Mendung berarak bertiup dari barat..mengambang ringan..
Menghitamkan Negeri Asoka..
Prahara akan segera dimulai..
Bersambung....
Pendekar Jari Sakti On Action
Langit begitu biru.
Udara secerah cerahnya
Musim bergantung manis
Satwa dan tetumbuhan bergelimang cahaya
Keemasan....
Tidak terpengaruh oleh akan
Datangnya Prahara....!
Jejak perjalannya, membuat gerah, ciut nyali dan ketakutan para penjahat, perampok dan sejenisnya.
Dimanapun tempatnya ia lewat dan singgah, Pendekar Jari Sakti, selalu membela kebenaran dan keadilan.
Banyak penjahat yang terpaksa " bentrok " dengannya..berhasil di lumpuhkan dan disadarkannya.
Masih banyak pekerjaan lain yang lebih baik dan bermartabat yang bisa dilakukan dari pada harus menjadi musuh masyarakat.
Sepanjang perjalanan, Lingga juga mendengar berita tentang Denawa Si Setan Berkabung yang sedang mengganas !
Melakukan pembersihan dan menebar malapetaka bagi kaum wanita.
Ia merasa terkejut mendengar itu. Tujuan utama ia turun gunung adalah mencari kabar keberadan Ki Yadara dan Ki Denawa. Kebetulan sekali pikirnya.!
Ia harus cepat cepat bertemu Ki Yadara di Pegunungan Wilis. Untuk mengumpulkan keterangan dan selanjutnya, menyingkap kebenaran berita yang menggegerkan itu!.
*
Pagi masih belum beranjak
Riuh beburungan bersahutan
Menjadi harmoni yang indah
Menyiram dengan kicauan dan cahaya nan hangat..
__ADS_1
Langkah perjalanan Lingga akhirnya sampai juga di Pegunugan Wilis di Perguruan Rajawali Sakti.
Gerbang perguruan megah. Dengan tulisan papan nama perguruan berwarna emas dan berlatar belakang merah sangat indah.
Diatasnya terlihat patung burung Rajawali Emas yang sangat gagah.
Ada dua penjaga yang sedang bertugas disana.
" Selamat pagi..Paman sekalian," salamnya ramah kepada kedua penjaga itu.
" Aku Lingga dari Bukit Baron ingin bertemu Ki Yadara. Membawa pesan dari Ki Sardulo dan Nyi Mayang.
Tolong , Paman sampaikan kepada beliau..,!" meminta ijin dengan ramah.
Penjaga yang berbadan tegap berkumis rapi Ki Jumala, memandang Lingga dengan tersenyum ramah. Pemuda yang sederhana berpakaian abu abu hitam. Wajahnya bersih dan tingkah lakunya sopan..membuat orang yang melihatnya ikut terbawa suasana keramahannya.
" Paijo, panggil Bawor, untuk menggantikan ku berjaga disini.!
perintahnya kepada Paijo.
" Aku mengantarkan tamu ini," pesannya kepada temannya sebelum beranjak kedalam bersama Lingga.
" Mari, nak Lingga , Paman antarkan untuk bertemu Ketua!,".
Mereka berdua melintasi lapangan yang luas. Ada jalanan yang lebar membelah lapangan tepat mengarah ke bangunan utama, tempat tinggal sang Ketua.
Sepagi ini...
Secerah ini....
Suara teriakan bersemangat!
Suara desing pedang!
Suara beradunya senjata!
Mewarnai dan meramaikan suasana.
Gerakan yang bersemangat!
Gerakan yang seragam!
Berlatih ilmu pedang.
Berlatih ilmu pukulan.
Anak murid yang banyak terbagi dalam berbagai latihan.
Ada bagian yang berlatih ilmu pedang..Kepakan Sayap Rajawali..ilmu pedang yang khas..gerakannya..bukan menusuk...tapi gerakan menyabet seperti golok, membelah, dan menampar. Gerakan yang terinspirasi dari gerakan sayap rajawali.
Tangan kanan memegang pedang, tangan kiri menyiapkan pukulan ataupun cengkeraman yang dilambari tenaga dalam..Rajawali Sakti Meniti Pelangi.
Pedang yang cocok adalah sebuah pedang lentur yang mempunyai bagian yang tajam dikedua sisi....sehingga..bisa memantul dan melengkung...merubah arah sabetan pedang.
Ajian dan ilmu pedang inilah yang mengangkat nama Perguruan Rajawali Sakti dan Ketuanya, Ki Yadara. Sebagai pendekar Pedang.
Pintu perguruan ini banyak melahirkan para pendekar. Salah satunya, murid yang berbakat seperti Tegar Prakoso dan murid luar Barja....Sayang karena keserahkahan,..rasa iri dan cemburunya, membuat Tegar Prakoso harus mengeroyok Barja
Yang berkesudahan dengan tewasnya Barja dan penyesalan Tegar Prakoso yang akhirnya mengasingkan diri!
Sampai saatnya Santika sebagai keturunan Bajra muncul menagih dendam berdarah.
Tegar Prakoso mengorbankan diri, untuk memutus lingkaran dendam. Dengan membawa " moksa" hilang, Pedang Pemikat Sukma dalam duel melawan Santika.!
Selain ajian dan ilmu pedang diatas, sebenarnya ada ilmu yang ajaib yang berasal dari Perguruan Rajawali Sakti.
Ilmu yang dipahami oleh Ki Yadara dan diciptakan oleh Tegar Prakoso yaitu Ajian Kasih Pemutus Duka yang diwariskan hanya kepada Santika bukan kepada murid yang lain.
Semua kisah ini bisa dibaca didalam kisah " Pedang Pemikat Sukma,"
*
" Mohon ijin menghadap guru,"? Ki Jumala berbisik lembut kearah Ki Yadara yang dilihatnya sedang duduk bersemedi di
teras rumah kediamannya. Lanjutnya:" Ada tamu ananda Lingga dari Bukit Baron, membawa kabar dari Ki Sardulo dan Nyi Mayang," .
Meskipun batinnya sudah terlatih dan kuat, ketika mendengar bisikan Ki Jumala tak urung ia menjadi sangat terkejut.
Kabar mengenai Nyi Mayang, yang membuatnya cepat keluar dari keheningan semedinya.
Dibukanya matanya yang dinaungi sepasang alis yang berwarna putih..dan disapukan pandanganya kepada Ki Jumala muridnya dan pemuda sederhana yang tidak dikenalnya. Mungkinkah ini tamunya itu, batinnya keheranan.
Wajahnya tuanya yang masih begitu segar. Masih menyisakan ketampanannya diwaktu muda.
Rambutnya putih panjang diikat dengan tali sutera berwarna emas. Hidungnya yang mancung, dagu persegi yang dihiasi janggut panjang putih rapi. Senyum dan pembawaannya yang tenang. Sempat terusik dengan kabar yang dibawa Ki Jumala.
Ki Yadara dengan ramah dan senyum menggembang , mempersilahkan Ki Jumala dan Lingga duduk dihadapannya.
" Ananda yang bernama Lingga kah? Dan apa hubunganmu dengan Ki Sardulo dan Nyi Mayang. Benarkah..Nyi Mayang...yang kau katakan tadi..?" suaranya halus dan tegas.!
" Maaf Ketua...saya adalah Lingga," jawab Lingga dengan hormat.
" Saya, dulu pernah menjadi pembantu Ketua Sardulo.
Dan saya adalah anak Nyi Mayang Sari. Meski hanya anak angkat juga murid beliau," lanjut Lingga perlahan, yang membuat Ki Yadara melebarkan matanya. Dan terlihat sekali wajahnya yang terkejut dan tidak percaya.
Melihat reaksi Ki Yadara seperti itu, Lingga memutuskan untuk memberikan bukti.!
" Maaf, Ketua." setelah meminta maaf, berkelebatlah tubuhnya secara cepat.
Melenting, melejit, berputar dengan trengginas...
Kecepatan gerakannya membuat tubuhnya, hilang, berganti menjadi bayangan abu abu. Dirapalnya ajian Walet Merah, ilmu khas dari Nyi Mayang, ibu angkatnya.
Untuk beberapa saat, ia bergerak cepat seperti itu, dan Ki Yadara semakin terbelalak melihat semua yang dilakukan Lingga. Ia mengenal ilmu meringankan tubuh itu.
Sangat mengenalnya, .....! ...meski sudah beberapa puluh tahun yang lalu.
Tapi, ia tidak bisa lupa.
Akan selalu ingat.!
Ilmu Walet Merah itu adalah ilmu Andalan Nyi Mayang Sari, kekasihnya dulu.!
Ia terpana tanpa sadar, sampai ia tersadar kembali, saat didengarnya suara Lingga..
" Maaf...sekali lagi maaf...bukan bermaksud memamerkan kebodohan diri.
Ini, saya lakukan, agar Ketua percaya akan berita yang saya bawa.
Nyi Mayang Sari masih hidup. Beliau adalah guru dan sekaligus ibu saya ," Lingga melihat semua yang terjadi pada Ki Yadara.
Perubahan emosi yang keluar dari wajah dan gerak tubuhnya, begitu kentara!.
Ki Yadara kelihatan mau bicara banyak, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Ia hanya terdiam.
Batinnya terguncang. Sangat terguncang.!
Bayangan masa lalu berkelebat cepat diruang ingatannya. Semua kesadarannya seakan terseret ke masa lalu untuk beberapa saat lamanya.
Batinnya terpukul...Lama...dan..akhirnya..
Hingga..ia mampu menguasai batinnya.
Ditariknya nafas panjang dan dalam....hupppp,...aahhh..
Ditatapnya Lingga lekat lekat..dijajaki cerita Lingga dengan melihat sikapnya..
" Lingga, benarkah semua yang kau ucapkan? " ia bertanya sekali lagi, untuk meyakinkan diri.
Lingga hanya bisa mengangguk pasti.
" Nyi Mayang,..sekarang ada dimana?, " tanyanya hati hati.
" Maaf, Ketua. Ibunda Mayang, sekarang tinggal di ujung selatan Jurang di bukit Baron. Ada digua bawah tanah didalam bukit," mendengar penuturan Lingga, Ki Yadara kembali tertegun...Bayangan Mayang semakin jelas dipelupuk matanya. Matanya nanar..
Terbata bata karena gundah...
" Tolong Lingga ...ceritakan semuanya,!"
__ADS_1
" Baik..Ketua,".sahut Lingga cepat.
***
Mulailah Lingga menceritakan semuanya. Dari pertemuan pertama dengan Nyi Mayang.
Ketika diselamatkan dari keracunan Buah Kala Jingga dan gigitan Ular Pethak Naga.
Kehidupan sehari hari di gua di bawah gunung.
Belajar ilmu Walet Merah.
Belajar ilmu Jari Sakti Menusuk Matahari, hingga saat saat akhir perpisahannya dengan Nyi Mayang.
Lingga menceritakan dengan detil, jelas runtut tanpa jeda. Hampir setengah harian ia bercerita.
Reaksi Ki Yadara sangat luar biasa.!
Kadang matanya menerawang, alisnya berkerut, nafas memburu, berbagai emosi campur baur. Begitu dahsyat...!
Setelah sekian waktu, cerita Lingga selesailah sudah.
Saat Lingga bercerita, Ki Yadara sama sekali tidak menyela. Tidak berkomentar. Ia asyik merangkai semua cerita dalam layar ingatannya.
Nyi Mayang...Mayang Sari...seakan nyata didepannya. Meskipun ia sudah berkeluarga dan pernah melupakan semua cerita itu..namun..ketika nama Mayang...disebut....
Kenangan itu lolos dari kotak ingatannya...mencari jalan keluar menjadi potongan potongan cerita dan gambar.
" Lingga, aku percaya ceritamu. Lantas, apakah selanjutnya akan kau lakukan?" tanyanya kepada Lingga.
" Ketua,..saya diperintahkan mencari kabar tentang keberadaan Ketua Yadara dan Ki Denawa. Seperti yang diperintahkan Ibunda Mayang.
Ketua Yadara sudah berhasil saya temui..dalam keadaan sehat dan sejahtera. Terimalah pesan Ibunda Ketua," Ki Yadara tersenyum mendengar semua penuturan itu..
" Untuk selanjutnya, mohon bantuan dan nasehat dari Ketua. Adakah kabar atau apapun hal , yang berhubungan dengan Ki Denawa.
Pasti Ketua sudah mendengar kabar tentang malapetaka yang menimpa Ki Denawa.
Menurut Ki Sardulo, walaupun Ki Denawa orangnya keras...akan tetapi..berita itu..beliau yakin..
Itu berita bohong...Itu fitnah...
Oleh karena itu, Ki Sardulo menyarankan kepada saya untuk menghadap kepada Ketua, untuk memohon arahan dan petunjuk," Lingga dengan gambalang menyampaikan tujuannya selanjutnya yang berkaitan dengan Ki Denawa.
" Benar, Lingga. Aku tahu persis sikap dan watak Ki Denawa.
Aku telah mendengar kabar itu, dan aku garansi. Pasti bukan perbuatan Ki Denawa.
Maka sebagai golongan muda..aku minta kepadamu, singkap dan bongkar kebenaran berita itu.
Bekerja samalah kau dengan Santika...murid tunggal Ki Denawa,...juga murid luar dari Perguruan ini,
Ia mempunyai ciri ciri...seumuran dengan mu..mempunyai seruling baja biru sebagai senjatanya. Yang beda dengan pemuda lainnya. Wajah dan kulitnya berwarna biru.
Di luaran ia dikenal sebagai Pendekar Biru.
Carilah ia di wilayah Barat. Ditempat tinggal gurunya Ki Denawa di Lembah Kematian.
Ki Denawa sendiri, tubuhnya tinggi besar, wajahnya tertutup rambutnya yang panjang..pakaiannya serba hitam dan jubah longgarnya berwarna hitam pula. Senjatanya , sebuah tongkat berkepala ular
!," Ki Yadara memberikan pesan dan arahan secara jelas.
Sehingga keesokan harinya, Lingga melanjutkan perjalanannya ke Barat, ke Lembah Kematian.
***
Angin timur bertiup panas...gerah dan gersang..bertiup berputar ke arah Barat
Matahari sang raja siang tengah terik teriknya...
Mewakili keadan dan suasana yang tengah memanas di Negeri Asoka.
Tiba tiba di ujung desa di dekat sebuah kali panjang dan lebar Kali Wiso namanya...terdengar jeritan wanita yang ketakutan.
Lingga yang mendengar jeritan itu segera berkelebat cepat kearah suara.
Jaraknya masih jauh, namun dengan ketajaman pendengaran dan kecepatan gerak...
Lingga melesat bagaikan terbang!
Dari jauh Lingga melihat seorang wanita muda desa...sibuk menyilang kan kedua tangannya, untuk menutupi dua bukit dadanya yang terlihat..akibat sobekan tangan...lelaki berbaju dan berjubah hitam tinggi besar dan berambut panjang...
Wanita desa itu menangis ketakutan, meringkuk di semak semak kangkung rabi..dipinggir sungai...
" Ha...ha..ha...sini manis jangan takut," Lelaki itu mempermainkan calon korbannya dengan menyobek sedikit demi sedikit pakainya. korbannya.
Pakaian atas sudah koyak lebar dibagian dada...sehingga bukit dadanya yang putih nyata terlihat!
Pakaian kebayanya sudah compang camping ...memperlihatkan paha yang putih mulus..ditempat mana ..kain kebaya itu robek!
Lelaki itu, sudah mulai terbakar nafsunya sendiri. Nampak jakunnya sudah naik turun..menahan gejolak birahinya.
Wajahnya tertutup rambut panjangnya yang jatuh kemukaanya.
Lelaki itu...sudah akan menubruk wanita yang sudah tidak berdaya itu....namun ketajaman pendengarannya masih menangkap bercicitnya suara pukulan jarak jauh yang berhawa panas akan melabrak punggungnya.
Ia menghindar sebat, melinting tinggi, jungkir balik terpaksa melepas mangsanya. Tangannya mengibas dan mendorong..serangan tusukan jarak jauh Lingga yang tidak berani ayal..melepas ajian Jari Sakti Menusuk Matahari, demi menolong wanita desa itu dari malapetaka.
Dua pukulan sama sama bertemu...Creettt... Duar.....ahh,"! Teriakan terkejut dari Sosok Hitam Besar karena tersengat totokan jarak jauh yang masih lolos menyelisip dari bendungan pukulannya sendiri.
" Bocah tengik...pengganggu urusan orang... Terimalah ajian Bianglala Pengejar Roh..!," dengan gusar dilepasnya ajian itu. Panas mengiblat berwarna merah membara...meluruk sebat mengincar empat titik serangan yang berbeda.
Tanpa basa basi serangan yang mematikan dilancarkan kepada sang pengganggu.
Sangat telengas dan kejam!
Akibat pukulan itu...bisa membakar mati pohon sebesar dua pelukan tangan...
" Tunggu Ki Denawa...!," teriak Lingga sambil merapal ilmu meringankan tubuhnya. Gerakannya segesit burung walet, melejit melenting, terbang dan jungkir balik, menghindarkan pukulan ke empat sasaran yang kesemuanya lolos berdebum menghantam tempat kosong..dan ...semak semak maupun pepohonan dibelakang Lingga.
Serentak semua terbakar. Lingga sangat terkejut..diingatnya wanita muda yang ada dibelakangnya yang sebelumnya telah terhindar dari malapetaka!..apalagi terdengar suara jeritan ketakutan wanita itu....
Lingga mengurungkan niatnya membalas serangan Ki Denawa...segera melentingkan tubuhnya berbalik, menyelamatkan wanita desa itu.
Di lihatnya api telah membakar ujung kebayanya..dan wajahnya telah pucat dan ketakutan ..
Lingga mengibaskan kedua tangannya bukan menotok, melepaskan ajian Jari Sakti Membelah Rembulan yang membawa tenaga dan angin dingin, untuk memadamkan api.
Api padam, dan wanita desa itu selamat...namun..ketika ia berbalik...Ki Denawa sudah lenyap dari tempat itu....
***
Langit begitu kesumba
Dihiasi awan yang berarak ke Barat...
Sepi..tidak seperti biasanya..
Setelah menyelamatkan wanita desa dan mengantarkannya pulang...Lingga melanjutkan perjalananya..
Sepanjang perjalanan dirasakan keanehan yang berkaitan dengan pertempuran tadi...
Kenapa Ki Denawa. tidak bereaksi ketika dipanggil namanya?
Kenapa Ki Denawa seakan " melarikan diri " menghindarinya dengan cara mengalihkan perhatian?...
Dengan keanehan keanehan yang ditemukannya...tanpa sadar lesatan larinya membawanya ke arah Barat.
Kearah mana larinya Ki Denawa!
***
Sepanjang perjalanan dilakukan pembersihan..setiap penjahat yang ditemuinya..disadarkan..untuk kembali kejalan yang benar..tanpa melukai berat dan membunuh..hanya sekedar melumpuhkan dan memberi pelajaran yang keras...
Angin yang bertiup ke Barat...juga mengibarkan nama Pendekar Jari Sakti. . ...
Pendekar Jari Sakti on action..
Bersambung..
__ADS_1