Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 27


__ADS_3

CHAPTER 27


Pertemuan Sesaat Perpisahan Lebih Cepat


Bayangan


hitam tegap besar berkelebat di atas wuwungan rumah, seorang pembesar


daerah yang tinggal di Tenggara kerajaan Asoka. Pembesar juga seorang


hartawan, Cipta Hanggada. Walaupun kaya raya ia tidak pernah takut akan


kehilangan hartanya. Oleh karena itu, di rumah gedungnya yang besar itu,


tidak ada penjaga yang banyak menjaga di setiap sudut gedungnya. Ia


mempunyai penjaga seperlunya saja.


Cipta


Hanggada adalah pembesar dan hartawan yang baik dan murah hati. Sering


memberikan sumbangan ataupun sedekah bagi penduduk sekitarnya ataupun


orang yang membutuhkan. Berterang saja, jangan mencuri, pasti di


bantunya.


Nama Cipta Hanggada sangat terkenal sebagai orang yang dermawan.


***


Baskoro, bayangan hitam itu membuktikan kabar tersebut dengan menyantroni tempat kediaman Cipta Hanggada.


Benar


sekali, rumah di balik tembok besar itu, ternyata kurang ada penjaga.


Ia dengan ilmu kesaktian tinggi, berkelebat ke arah gudang penyimpanan


harta.


Bayangan Baskoro ternyata diikuti oleh sebuah bayangan ramping yang berjarak tidak jauh dengan Baskoro.


Geraknya gesit dan cekatan, tidak beda jauh dengan Baskoro sendiri.


Sampai-sampai Baskoro menjadi lengah, ia sangat terkejut setelah berhasil melepas tiga genteng dan bersiap meloncat ke bawah.


Ada kesiuran benda kecil yang menderu ke arahnya.


Angin


lontaran benda itu menyalakan saraf kewaspadaan Baskoro. Dengan sigap


ia memukul runtuh benda yang menyerang ke arahnya, beberapa batu yang


dipukulnya dengan pukulan jarak jauh, Ajian Selaksa Racun.


Batu itu menjadi debu dan berhamburan terbang di depan wajahnya yang tampan.


Matanya


terbelalak besar, di depannya tepat, ia menemukan sesosok tubuh ramping


biru gelap dengan sorengan pedang di punggungnya, menatapnya tajam.


Wajahnya cantik, mata yang bulat indah cemerlang memantulkan cahaya


rembulan. Rambutnya panjang ikal diikat di atas tengkuknya yang


cemerlang.


"


Pencuri busuk... ," tegurnya keras, dan langsung mengembangkan kedua


tangannya yang berjemari lentik itu. Angin pukulannya menerbitkan suara


yang menggetar, menyerang ke arah tempat Baskoro berdiri di atas


wuwungan rumah.


Baskoro tanpa berani ayal, karena merasakan kesiuran pukulan yang kuat.


" Huup... hiaaaa... duaar..."


Dua pukulan bertemu di udara. Meledak mengeluarkan asap merah dan merah berkerlipan.


Posisi


keduanya berubah. Baskoro terkejut ia sudah melancarkan pukulan Selaksa


Racun seperenam bagian, namun pukulannya masih dapat dipunahkan oleh


gadis cantik itu.


Sedang si gadis, melebarkan mata-matanya yang semula sudah bulat indah itu.


" Iihh...."


Ia


bergedik, ia merasa sedikit tergempur kuda-kudanya, meskipun ia tidak


terluka. Namun udara tangkisan itu mengeluarkan bau amis, dan ia cepat


sadar, bahwa pukulan dilancarkan lawannya adalah pukulan beracun.


" Hai, pencuri beracun, mencuri apa kau di rumahku ini," bentaknya sekali lagi.


Baskoro, tercekat hatinya. Ia tidak menyangka bahwa yang mencegah aksinya adalah gadis anak pembesar hartawan ini.


Gadis


cantik yang mempunyai kesaktian tidak jauh tingkatnya di bawahnya. Ia


dapat mengukur kekuatan lawan dari hasil bertemunya dua pukulan tadi.


" Ha... ha... ha... ternyata ada anjing penjaga cantik di rumah ini," ejeknya memanaskan telinga dan hati gadis itu.


"


Pencuri bermulut kurang ajar. Aku Kemilau Kemuning anak ayah Cipta


Hanggada, sebutkan namamu, biar tidak menjadi mayat tak bernama!" dengan


marah Kemilau balas memaki dan mengancam, bersama dilolosnya pedang


tipis panjang dari pinggangnya, senjata mestika Pedang Ledakan Meteor


yang berwarna putih berkilauan dan mampu menyerap hawa beracun.


Baskoro tersenyum sinis. Ia yang sudah banyak pengalaman, mampu menilai, bahwa pedang yang dilolos itu adalah pedang mestika.


Karena ia melihat bekas pukulan beracun tidak sedikitpun mempengaruhi kesadaran Kemilau yang ada didepannya.


"


Ha... Ha... Ha... aku Baskoro, tidak pernah takut akan gertakan dan


gonggongan anjing penjaga," Baskoro meluruskan kedua lengannya bersiap


membuka serangan.


Mendengar makian itu, Kemilau semakin marah.


"


Hiaaa... terima seranganku," pedang Meteornya berkeredep seperti


bintang jatuh yang meluncur cepat membagi tujuh tusukan ke arah tubuh


Baskoro.


" Hiaaa...siapa takut,"


Teriaknya


membalas serangan, diputarnya kedua lengannya bolak-balik setengah


lingkaran. Putaran itu menciptakan sebuah lingkaran cahaya yang berwarna


merah dan berbau amis, di lontarkan menerjang tujuh cahaya pedang yang


mengarah tempat berbahaya di tubuhnya.


Cahaya


merah beracun itu berhasil menjerat tujuh larikan cahaya pedang,


kemudian menghisapnya, mematahkan dan melanjutkan serangan yang


menerobos dari cahaya pedang itu.


Kemilau


menjadi terkejut, tidak menyangka si Baskoro maling busuk itu mampu


memunahkan serangan Tujuh Hujan Meteor nya. Bahkan cahaya merah beracun


itu melabrak terus ke dadanya. Angin pukulan itu **** berat, terus


menerobos pertahanan pedang Meteornya. Ia sedikit gugup... dan...


Angin pukulan tetap lolos ke arahnya.


Tiba-tiba


ia mendengar suara auman naga marah yang melengking tinggi memotong


lingkaran cahaya merah beracun pukulan Selaksa Racun milik Baskoro.


Suara


lengkingan yang keluar dari sebuah seruling bambu gading membawa angin


pukulan yang menderu-deru, mampu memudarkan serangan hebat Baskoro.


Pemuda


berbaju kuning dengan wajah tampan yang selalu tersenyum telah berdiri


tegak di antara Kemilau dan Baskoro. Di tangan kanannya tergenggam


sebatang suling gading yang mengeluarkan suara mengaum tadi


"

__ADS_1


Maaf, Nona, silahkan mundur ke tempat aman," dengan lembut dan ramah


Ganesha membungkuk dan mempersilahkan Kemilau menyingkir.


Kemilau


kembali bernafas lega. Ternyata pencuri itu, bukan orang sembarangan,


untung saja pemuda tampan bersenyum ramah ini datang tepat waktu.


Tanpa suara, ia hanya mengangguk dan menyingkir.


" Maaf, kisanak aku Ganesha. Terpaksa turun tangan," lanjut Ganesha ramah.


Baskoro


sangat cerdik. Kalau menuruti nafsu mudanya, ingin rasanya berduel


mati-matian dengan Ganesha. Ya... ya, Ganesha, nama yang akan ia ingat,


siapapun dia, bakal menjadi musuh yang berat baginya. Baskoro tahu,


hanya dengan kibasan dan suara seruling saja, pukulan Selaksa Racunnya


tingkat delapan dapat dipunahkan dengan mudah.


Dan


satu lagi, awas saja Kemilau Kemuning, hmmm... tanpa menjawab teguran


Ganesha, Baskoro cepat meloncat berkelebat membelah malam yang kebetulan


gelap. Karena sang rembulan sedang berselimut awan.


***


Ganesha


tidak menyangka, dengan mudah ia mengebah pergi pemuda yang sudah


melancarkan pukulan mengerikan itu. Ia membiarkan pemuda aneh itu hilang


di balik kegelapan malam.


Perlahan ia berbalik, menemukan wajah yang cantik sedang menatapnya.


Ganesha malah tertegun, kehilangan kata-kata, setelah tadi ia berniat menanyakan apa yang terjadi.


Dua


pasang mata saling bertemu, saling tatap, saling menilai, namun Kemilau


tidak kuat menatap lebih lama. Dan tanpa terasa kedua pipinya berasa


hangat. Pasti bersemu merah. Ia lantas menunduk.


"


Maaf, nona, aku telah lancang, mencampuri urusanmu. Sekali lagi, aku


mohon maaf dan pamit," Ganesha menunduk sedikit, berbalik dan meloncat


cepat meninggalkan Kemilau Kemuning termenung sendiri di atas genting


rumahnya.


Tanpa ia sadari, ia membandingkan Baskoro dan Ganesha.


Sama-sama gagah, tampan dan sakti.


Baskoro maling tampan yang sakti.


Ganesha si tampan ramah yang sakti.


Ah... keluhnya menyesal, belum sempat berterima kasih. Ganesha sudah pergi entah kemana.


Untung saja, ia pulang ke rumah.


Sudah


lima tahunan ia belajar silat dari perguruan Pedang Pelangi, di


seberang laut Selatan. Atas ijin Ki Arya Sentana, si Pendekar Pedang


Kilat memberi ijin untuk pulang melepas kangen kepada Ayah dan Ibunya.


Baru


bergebrak sebentar. Ternyata ia menemui musuh yang ilmunya lebih tinggi


darinya. Apalagi ilmu Ganesha, ia tahu pasti berada jauh di atasnya.


Ah,.. sayang. Ia belum sempat berkenalan.


Dengan


perasaan yang gundah, ia melayang turun dari atas genting. Dan melihat


kedua orang tuanya terbangun. Mendengar keributan di atas genting.


Ia


segera menghambur kedalam pelukkaan ibunya. Ayahnya hanya geleng-geleng


kepala. Melihat yang bertempur diatas rumahnya, salah satunya adalah


Ada apa, tiba-tiba ia pulang ke rumah?


Bersambung....


 


 


Bara Dalam Sekam


 


 


Mendung menggantung, suara hiruk pikuk halilintar melecut langit yang gelap..


Suaranya menggetarkan, cahaya benderang membelah langit seketika benderang. Suara angin menderu bergulung gulung.


Hujan belum turun, badai belum mengamuk. Pertanda alam menghantui Negeri Asoka.


*


Tidak terasa waktu menggulung begitu cepatnya.


Ada perubahan.


Ada pergantian.


Ada perbedaan.


Yang merupakan dasar dari kehidupan itu sendiri.


Kemudian bergulir tidak pernah berhenti.


Musim demi musim berganti.


Melaju tidak pernah berhenti sesaatpun.


Demikian juga Negeri Asoka yang aman dan damai.


Berkat Baginda Raja Bengala yang mimpin dengan adil dan bijaksana.


Masa gilang gemilang. Masa cemerlang.


Berkah dan pahala dan Tuhan rupanya. Karena mempunyai pemimpin dan penguasa yang selalu mementingkan kesejahteraan rakyat.


Itu dulu, berbeda sekali dengan saat ini.


Negeri Asoka di rundung mendung yang mulai menggelapkan Negeri Asoka yang semula cemerlang.


Sang pemimpin besar, Baginda Raja Bengala telah mangkat.


Rakyat berduka. Semua rakyat kehilangan.


Negeri Asoka di selimuti kesedihaan.


Payung hitam menggantung di Negeri Asoka.


***


Fajar menyingsing adalah perlambang harapan. Harapan baru. Tunas baru pengganti.


Setelah Baginda Raja wafat. Di angkatlah penggantinya.


Putera Mahkota Baruna sebagai penerus tahta Kerajaan Negeri Asoka.


Semula rakyat meletakkan harapan kebahagian kepada Baginda Raja Baruna yang masih muda dan perkasa.


Namun harapan rakyat bagaikan awan yang berarak di kelabunya langit.


Awan itu tertiup angin dan menghilang.


Harapanpun hilang tanpa bekas!


Baruna berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ayahnya mendiang Bengala.


Muda, perkasa dalam hal fisik namun kearifan dan kebijaksanan kosong melompong.


Raja Muda ini telah terjebak oleh nafsunya sendiri.


Semenjak


masih menjadi Putera Mahkota, nafsu akan wanita, foya-foya di tambah


lagi pengaruh orang-orang sekitarnya, malah semakin menjerumuskan


Pangeran Muda itu.


Baruna, tidak sekalipun menampilkan pribadi agung sebagai calon pewaris tahta Kerajaan Asoka yang jaya.


Sampai beliau di angkat menjadi Raja. Tidak merubah keadaan apapun.


Kegemarannya masih seperti dulu. Wanita dan foya-foya.


Urusan di pemerintahan di serahkan kepada Perdana Mentrinya, Banara Pamandanya sendiri.


***


Hidup kala itu sudah tidak ada lagi kedamaian.


Tidak ada lagi ketenangan. Penuh huru hara.

__ADS_1


Penuh teror.


Pemerintahan


Raja Baruna yang diangkat menjadi raja, menggantikan Raja Bengala yang


telah mangkat di anggap kurang MAMPU meneruskan kehebatan, kewibawaan


dan kebijaksanaan Ayahandanya.


Memang


telah di " ramalkan " sebelumnya jika Pangeran Mahkota naik tahta


nantinya. Kerajaan akan mengalami kesuraman dan kejatuhan.


Benarlah


adanya, akhirnya terbukti, Raja Muda itu tidak mampu mengendalikan roda


pemerintahan, Raja Muda selalu di " setir " pamandanya Banara sebagai


Perdana Mentrinya. Dengan kecerdikaanya dan gerakan yang halus


terselubung.


Negeri Asoka sebenarnya telah jatuh di dalam tangan Banara.


Sepenuhnyalah Banara yang mengendalikan roda pemerintahan.


Negara


mulai kuasai oleh petinggi-petinggi yang korup. Rakus akan kekuasaan


dan kekayaan. Yang jauh-jauh hari telah di pilih dan dipersiapkan oleh


Banara.


Di pimpin oleh Perdana Mentri , dan sekutunya para menteri yang sepaham.


Dengan halus di singkirkannya para menteri senior yang jujur dan setia kepada Raja Bengala terdahulu.


Dengan cara licik, fitnah, ataupun pelenyapan nyawa secara keji dan penuh misteri.


Menteri menteri setia itu di"lenyapkan " dari Istana.


Carut marut dan aroma busuk, skandal dan persekutuan dari istana menyebar kemana-mana.


Untuk menjaga segala kemungkinan pembalasan dan pengamanan jabatan dan kemuliaannya.


Para


pejabat korup dan penguasa wilayah mempersenjatai diri masing-masing.


Untuk menjaga keamanan, direkrutnya para pencundang yang dulu di tekan


dan di tumpas habis oleh masa sebelumnya.


Pecundang yang kebanyakan adalah tokoh sesat, muncul kepermukaan lagi.


Para


Datuk Sesat dan penjahat bersekutu dengan para pejabat Korup. Menjadi


pengawal pribadi, centeng, tukang pukul, menjadi anjing-anjing penjaga


para pejabat korup.


Memboceng kemuliaan, menumpang kekuasaan.


Ikut menjadi kaki tangan kelaliman.


Penindasan bagaikan wabah pageblug, menyebar cepat kemana-mana.


Dimana mana rakyat di bebani, upeti dan pajak yang tinggi. Rakyat menjadi miskin, dan kelaparan.


Rakyat tidak di ayomi malah diperas dan dicekik habis!


Sementara para pejabat bergelimangan harta dan kesenangan.


Keadaan semakin memburuk, karena para penjahat yang tidak kebagian jatah kemuliaan memilih memperkeruh suasana.


Menebar kejahatan, menyebar teror, pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan.


Bagaikan makan sehari-hari.


Berita kejahatan tidak pernah sepi di Negeri Asoka.


Bayang hitam kehancuran, mengambang kental di udara Negeri yang dulunya damai, aman dan sejahtera.


Para penjahat yang tidak mau menjadi pesuruh, mereka memilih menjadi raja raja kecil di setiap sudut Negeri Asoka.


Keadaan Negeri Asoka bagai bara dalam sekam.


Bila saatnya tiba..meledaklah bara itu menjadi perang saudara.


***


Banara sang Perdana Mentri, sebagai " penguasa " Negeri Asoka, ternyata belum puas.


Ia membutuhkan pengakuan.


Tapi bagaimanakah caranya?


Baruna adalah Raja yang secara sah di pilih sebagai penerus Negeri Asoka.


Maka di lakukan siasat diatas. Pelan dan pasti, semua tempat startegis di kuasai Banara dan anteknya.


Baruna adalah Raja Boneka semata.


Selir Alamanda yang muda dan cantik, yang mempunyai ambisi terselebung, sudah berani memperlihatkan keinginannya.


Bak gayung bersambut.


Alamanda


adalah selir yang pandai menempatkan posisi. Pandai mengambil hati,


pandai melihat situasi dan tepat mengambil kesempatan.


Ia bisa cepat menyimpulkan, apa yang sedang terjadi.


Ketika Banara beberapa kali mengadakan pertemuan di istananya.


Tidak seorangpun, boleh masuk.


Semua keperluan pertemuan di siapkan oleh pelayan, sebelum semuanya di mulai.


Ruang Kemukus yang ia pilih sebagai tempat pertemuan.


Untuk mematangkan rencana, menguasai Asoka secara total.


Ia selalu mengatur, mengawasi secara ketat, penguasaan pos-pos penting di Istana.


Alamanda tahu semua itu. Dengan kecerdikannya, ia berhasil mengorek isi maupun keputusan dari setiap pertemuan.


Dengan


melayani suaminya dengan sebaik-baiknya. Saat mandi bersama, makan


bersama ataupun saat tidur bersama yang selalu panas, Almanda berhasil


membuat Banara bercerita sendiri.


Semua itu, membuat hatinya berbunga-bunga gembira.


Angan


dan impiannya telah melambung jauh ke awang. Andai Banara bisa menjadi


Raja Asoka, maka anaknya nanti yang akan menjadi Putera Mahkota.


Istri Banara yang pertama, Sri Laksmi, ibu Paramitha, hanya mempunyai satu anak saja.


Dan


ia tahu Paramitha, lebih bahagia menjadi pendekar wanita, mengikuti


suaminya tinggal di Lembah Penantian, daripada menjadi puteri istana


yang terhormat dan di hormati oleh orang.


Ini


adalah kesempatan emas bagi Alamanda. Ia harus secepatnya membuat


dirinya mengandung. Anak dari Banara. Anak laki-laki tentunya.


Alamanda


tersenyum puas diam-diam. Di palingkan wajahnya yang cantik dengan


rambut yang berantakan dan keringat masih belum kering dari tubuhnya


yang telanjang di bawah selimut.


Pergulatan yang panas, dan ledakan asmara yang bertubi-tubi membuat Banara tertidur pulas sekali.


Banara mengalami kelelahan dan kepuasan yang bersamaan.


Alamanda masih dalam posisinya telanjang turun dari tempat tidur. Menuju jendela kamar yang terbuka.


Sinar bulan raya, cahaya menimpa tubuhnya yang mulus bagaikan pualam.


Lengan


dan kakinya yang ramping indah. Pinggangnya yang kecil ramping di


lengkapi sepasang paha yang mulus dan gundukan sepasang yang aduhai.


Belum lagi, sepasang buah dadanya, yang besar di biarkan terbuka di permainkan angin malam.


Angin meniup gordyin jendela yang melambai-lambai menyentuh puncak dadanya.


Ia tidak menghiraukan, terus memandang rembulan dan tersenyum begitu penuh kemenangan.


Rembulan begitu manis menggantung


Menyinari dengan sinarnya yang hangat


Sementara Asoka dalam sepi yang menyekam..


Bersambung...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2