Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 21


__ADS_3

CHAPTER 21


Dendam Itu Masih Ada


Angin bertiup menerbangkan jari jemari kelapa


Matahari masih hangat, karena pagi belum beranjak


Debur ombak yang masih menjilati ujung pantai


Dan memecah di batuan tebing Laut yang masih pasang..


Air lautpun masih terasa dingin.


Namun pagi yang berharmoni, desau angin dan irama debur gelombang, pecah oleh teriakan yang membelah pagi.


Sosok pemuda tampan berambut ikal berlatih silat di atas pasir putih pantai Selatan yang berkilauan tertimpa sinar mentari.


Gerakan cepat, gesit, trengginas.


Pukulan tangannya menderu-deru. Mengusik pasir yang tenang, menjadi debu berterbangan.


Badannya tinggi tegap, berotot.


Wajahnya persegi dengan dagu kokoh. Matanya tajam, hidung mancung. Sayang ketampanannya ternoda dengan, tarikan bibirnya yang tipis, memberi kesan sinis. Dan tatapan matanya merendahkan.


Bajunya berwarna hijau dan bercelana hitam longgar. Bersandal kulit yang berdesis, ketika menyapu pasir dan bertumpu batu karang.


Ia berlatih sangat giat. Mengeluarkan aneka jurus dari kedua tangan dan kakinya, yang silih berganti mengeluarkan pukulan dan tendangan.


Setiap gerakan menerbitkan suara menderu, tanda tenaga dalamnya tinggi.


Pasir dan batu karang yang menjadi sasaran pukulan dan tendangannya, tampak berlubang, hancur berantakan.


Menimbulkan debu pasir membumbung, menggelapkan tempatnya berlatih.


Tubuhnya terselimut debu pasir. Perlahan menipis, dan lihat!  ia merapal ajian rahasianya.


Tangannya berubah hijau dan memanjang. Mengeluarkan bau amis menggedikkan.


Racun kelabang hijau yang meluncur deras ke arah batu karang besar di ujung tebing.


" Duaar ", suaranya meledak menggelegar tergempur tenaga dalam warna hijau yang keluar dari kedua tangan hijau melar yang di ayunkan.


Pukulan tepat sasaran. Namun, tidak ada perubahan atau serpihan karang pantai itu.


Tunggu!


Karang pantai yang keras berwarna keputihan berseling gelap, berubah menjadi hijau.


Bergetar lembut, ketika angin pantai meniup agak kencang kearahnya.


Batu karang pantai sebesar kerbau, yang berubah warna hijau, kemudian luruh, runtuh hancur lebur jadi debu yang segera tersapu angin lenyap ke arah Barat.


" Ha..ha..ha..," tawanya keras di lambari tenaga dalam tinggi.


Sepasang camar yang akan turun ke pantai mencari ikan, terkejut, dan menjerit terbang kembali ke langit, ketakutan.


Tawanya menggema, mengisi ruang di pantai Selatan yang sepi.


Tidak jauh dari bekas Perguruan Selaksa Racun, yang sudah lama di tinggal penghuninya.


Murid-murid perguruan yang bersepakat pulang kembali, ketempatnya masing-masing.


Setelah mendengar majikan sekaligus gurunya Cempaka Mawar Merah Berbisa dan kekasihnya Gumarang, tewas,  dalam malapetaka di perguruan Bhumi Langit di barat laut sana.


Ni Cempaka dan Ki Gumarang, gagal dalam usahanya membalas dendam dan makar Raja Asoka.


Takut tersangkut sebagai murid pemberontak. Para murid, segera membubarkan diri, menyelamatkan diri masing-masing. Melepas semua artibut perguruan dan kembali sebagai rakyat jelata.


Itu peristiwa tujuh atau delapan tahun yang lalu.


Semejak itu pantai selatan sepi tanpa penghuni.


Hanya kadang-kadang terdengar tawa yang luar biasa kerasnya.


Seperti saat ini.


Ternyata tawa itu keluar dari pemuda gagah tampan berambut ikal.


Baskoro adalah namanya.


Anak " haram " dari Gumarang dan Cempaka. Karena mereka hidup gulung gemulung sebagai sepasang kekasih dan bergaul layaknya suami istri tanpa hubungan perkawinan.


Usianya sudah beranjak dewasa kira-kira tujuh belasan tahun-an.


Tidak ada seorangpun yang tahu, tentang asal muasal pemuda ini.


Hanya " orang tua " nya dan Ki Yanu yang telah di titipi anak kecil laki-laki berumur enam tahunan.


Dengan dua bungkus kain ikatan warna hijau. Satu berisi dua jilid buku dan satunya berisi perhiasaan untuk bekal hidup dan mengurusi bocah cilik yang bernama Baskoro ini.


Ki Yanu adalah sahabat Ki Gumarang di waktu muda. Mempunyai sedikit ilmu kesaktian, karena pernah berguru bersama, dengan Gumarang dan Cempaka.


Terhitung, masih satu perguruan.


Sedikit banyak Ki Yanu, dapat membantu dan mengarahkan Baskoro, berlatih silat peninggalan " orang tua " nya.


***


Baskoro, belajar silat dengan bimbingan Ki Yanu. Semua ilmu yang di kuasai oleh Ki Gumarang, telah di kuasainya, bahkan lebih hebat dari mendiang Gumarang.


Baskoro mempunyai kecerdasaan dan bertulang baik.


Sehingga dengan mudah dapat menguasai ilmu dan tenaga dalam turunan dari kedua orang tuanya,


Dua jilid buku itu, ternyata berisi  ilmu simpanan Cempaka dan Gumarang yang telah dirangkum dan di catat.


Ilmu silat dan ilmu tenaga dalam ganas.

__ADS_1


Dan di jilid terakhir adalah ilmu gabungan keduanya,


yang diberi nama Kelabang Hijau Selaksa Racun.


Telah di lihat di depan, hasil dari pukulan Kelabang Hijau Selaksa Racun.


Batu karang sebesar kerbau hancur jadi debu pasir, yang segera ditiup angin.


***


Ki Yanu sudah menceritakan semua hal ihwal tentang masa lalu Baskoro.


Saat dirasa tepat dan umur yang tepat, diceritakanlah semuanya.


Siapa sebenarnya " orang tua " biologisnya. Semua asal usulnya.


Dan tidak lupa, cerita yang di dengar akan kematian Cempaka dan Gumarang.


Cempaka ibunya, tewas oleh Kinanti dan Paramitha.


Gumarang bapaknya, tewas akibat kalah bertempur dengan Gompala.


Ia simpan baik-baik nama-nama itu di hatinya.


Yang tanpa ia sadari menimbulkan amarah dan sakit hati di hatinya.


Ia belum sempurna bernalar. Karena ujaran dan pelajaran baik dan buruk kehidupan, belum pernah ia pelajari.


Selama ini, dari kecil hingga beranjak dewasa, ia hanya tekun belajar silat dan segala macam ilmu kesaktianlah yang menjadikan dirinya seperti ini.


Beberapa kali ia terjun ke masyarakat mencoba ilmunya. Bukan untuk berdarma bakti membela kebenaraan akan tetapi hanya sekedar memenuhi keinginannya.


Ia ingin uang, tinggal mencegat para pedagang yang pulang berniaga. Meminta paksa, tidak jarang dengan kekerasan.


Karena ilmunya yang tinggi, tak seorangpun dapat menghalangi atau mencegahnya.


Ia datang dan pergi secepat angin.


Bergerak dan bertindak secepat bayangan hantu.


Meninggalkan jejak tapak tangan beracun berwarna hijau, dimanapun ia beraksi.


Baskoro adalah si Tapak Hijau Maut, yang meresahkan di daerah pesisir laut Selatan, negeri Asoka.


Kedatangannya selalu di tandai oleh gelombang bau amis yang sengaja ia keluarkan saat merapal ajian Kelabang Hijau Selaksa Racun.


Ia sengaja mengangkat namanya, untuk memancing para pendekar yang menjadi musuh orang tuanya. Dan kini, mereka menjadi musuh-musuhnya.


Baskoro memupuk rasa dendam di hatinya.


Bila nanti saatnya akan tiba.


Negeri Asoka akan kembali terbakar!


Kini kewajibannya adalah menunggu dan semakin mematangkan ilmu kesaktian yang dimilikinya.


Dan sekali-kali ia melakukan aksinya, tidak hanya di wilayah pesisir selatan saja.


Menyebar kepenjuru angin.


Melihat dan mencari, siapa-siapa saja, orang atau tokoh persilatan yang bisa di jadikan sekutunya.


Karena dari informasi yang ia kumpulkan. Musuh-musuhnya adalah tokoh persilatan muda tingkat atas, dan tokoh golongan pendekar tua di jamannya.


Belum lagi, para pasangan musuh-musuhnya.


Ia tidak boleh bertindak gegabah. Ia harus cerdik dan teliti.


Jangan sampai tindakannya bagaikan serangga menerjang api.


***


Matahari kian meninggi panasnya telah tertiup dari ujung Selatan.


*Udara panas dan amisnya dendam. Berarak mengambang dari arah pantai menuju dan menyebar memenuhi angkasa Negeri Asoka.


Burung burung bergegas terbang berbondong menjauhi pesisir Selatan.


Bersambung*...


Dari Timur Panas Bertiup


Hangatnya mentari telah sirap sudah


Angin panas dari laut timur mengusir kehangatan pagi


Dan syahdunya pagi yang berembun


Semilir angin di pucuk dedaunan dan celoteh beburungan yang meramaikan pagi pun lengang


Semua menjadi panas mencekik


Benar, tidak seperti biasanya?


Matahari dari timur begitu teriknya. Di sebuah istana mungil indah di dekat Hutan Larangan di lereng gunung Renjana.


Seorang gadis remaja cantik dan lincah. Usianya belum menginjak 15 tahunan, tapi kecantikannya sangat menonjol karena ia sudah menguasai cara berdandan.


Rambutnya panjang hitam indah. Saat ini di sanggul dengan ikatan tali rambut berwarna merah.


Matanya bulat besar, serasi dengan hidungnya mungil dan pipi merahnya yang ranum.


Bibirnya tipis di sapu pulasan bibir warna merah terang.


Ketika tersenyum, senyumnya memikat dan mempesona penuh madu.


Siapapun orangnya, sekali lihat akan tertarik dan terpesona oleh kecantikannya.


Belum genap dewasa, namun bentuk tubuh melebihi umurnya, semua serba ranum dan montok.

__ADS_1


Pinggulnya besar berlenggok ketika berjalan.


Apalagi ke dua bukit kembarnya, begitu menantang, seakan tidak seimbang dengan bentuk tubuhnya yang langsing padat.


Namanya Larasati, anak tunggal Nyi Puspa Sagopi, kekasih yang ke sekian dari Si Tampan Sakti Bagus Handoko.


Sengaja ia membiarkan " benih " dari Bagus Handoko menjadi penyambung keturunannya.


Nyi Sagopi adalah penjahat wanita, penggoda dan penjerat laki-laki.


Bertemu dengan Bagus Handoko, bagaikan " tumbu bertemu tutup ". Setali tiga uang. Klop.


Mendiang Bagus Handoko, sebetulnya tidak pernah menyadari atau mengetahui bahwa hubungan asmaranya dengan Nyi Puspa Sagopi menghasilkan keturunan. Yaitu Larasati si gadis cantik yang sedang bersolek itu.


Sebagai anak Nyi Puspa Sagopi, ternyata tabiat dan kesukaan Larasati sama persis dengan ibunya.


Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.


Suka berdandan, suka bersolek, suka menggoda, suka di puja-puji dan selalu menonjolkan kecantikan dan kemontokan dirinya.


Ia sudah terkenal akan kecantikannya. Bagaikan sebuah bunga yang berkembang dan merekah, aromanya sudah tertiup angin sampai jauh.


Namanya sudah terkenal, namun tidak sembarang pemuda atau lelaki berani sembarangan mencoba memetiknya.


Larasati bagaikan bunga mawar indah harum dan berduri.


Cantik menarik hati, namun berbahaya.


Larasati, bukanlah gadis cantik yang lemah.


Ia mempunyai ilmu silat yang tangguh, dan jurus-jurus rahasia yang lebih dahsyat. Warisan dari Nyi Puspa Sagopi, jurus dan ajian yang di pakai melumpuhkan " musuh " sehebat apapun akan dengan mudah takluk di kakinya.


"Musuh" yang tidak mempunyai kekangan kepada nafsu akan mudah jatuh di tangannya.


Segala aji pengasihan, aji pemikat ia kuasai benar.


Ia mempunyai musuh bersama ibunya yaitu Nyi Dyah Puspa dari Bukit Mawar yang menjadi pesaing Nyi Puspa Sagopi di kala muda, dan sekaligus pembunuh ayahnya Bagus Handoko.


( lihat di Kisah Jari Sakti )


***


Kini dua wanita yang muda dan tua dalam usia, namun dari segi penampilan Larasati dan Nyi Puspa Sagopi, bagaikan dua wanita cantik, bak pinang di belah dua. Hampir persis sama.


Bedanya Larasati lebih ceria dan lincah, Nyi Puspa lebih matang dan tenang.


Satu yang belum diturunkan kepada Larasati, yaitu nafsu mengumbar dan mengejar kenikmatan.


Dalam lingkungan dan turunan yang begitu busuk dan liar.


Ternyata Larasati masih perawan suci, belum ternoda.


Ia suka menggoda laki-laki, tapi bukan untuk memenuhi hasrat kewanitaannya.


Ia hanya menginginkan, harta, perhiasaan dan pakaian-pakaian bagus.


Ia akan bersedia menemani laki-laki yang mencocoki hatinya.


Hanya menemani makan, menemani berlibur, menemani melancong, itu saja.


Sekali-kali bukan menemani tidur.


Jika ada yang memaksa. Nyawa laki-laki itu akan lepas dari raganya.


Semua laki-laki pencinta dan pengagum " Mawar Berduri dan Beracun " ini, sudah mahfum. Sudah paham benar.


Asal bisa di temani makan, di temani melancong, mereka laki-laki " hidung belang " itu, sudah gembira dan bangga.


Tidak perduli, berapa emas dan perak ia keluarkan untuk menyenangkan si gadis pujaan.


Belum lagi sebuah istana mungil nan indah, para pelayan wanita yang rata-rata berpenampilan seksi dan cantik, semua biaya yang di keluarkan untuk semuanya, di peroleh Larasati, dari memanfaatkan keroyalan para pemujaannya.


Larasati dan ibunya, hidup layaknya seorang puteri dan ibundanya, yang dilayani puluhan pelayan di istana mungil nan indah.


***


Sama yang dilakukan oleh Larasati, mengangkat nama dengan cara yang berbeda. Dengan harapan menyirap kabar, tentang musuhnya. Karena ia tahu, musuhnya adalah tokoh pendekar golongan tua yang di segani. Banyak murid-muridnya dan pasti mempunyai sahabat para pendekar yang akan siap membantu dan membelanya.


Ia dengan sabar, mencari dan memilih, siapa-siapa saja yang bisa ia kuasai dan bisa dijadikan sekutunya. Jika suatu saat nanti yang tepat, ia bergerak dan membelas dendam.


Ia belum berminat untuk menikah dan memilih pasangan. Selain umurnya yang masih muda, ia mempunyai pandangan dan tujuan masa depan yang lebih jauh.


Saatnya sekarang, ia harus mencari " teman " atau sekutu sebanyak-banyaknya.


Dari manapun asalnya. Baik dari golongan hitam, maupun dari golongan putih, jika bersedia atau bisa di manipulasinya.


Untuk mencapai tujuan atau mengejar cita-cita dan mimpinya.


Anak gadis cantik bermimpi memetik rembulan!.


Bersambung..


Sementara itu..


Negeri Asoka kembali berpesta. Bergembira ria, meramaikan Pesta Pernikahan, pahlawan muda Asoka, Lingga, pendekar Jari Sakti dengan Puteri Paramitha, bidadari dari Villa Rembulan, puteri Panglima Perang Asoka, Banara.


Istana Panglima Banara, di penuhi undangan, dari pelosok Negeri Asoka, para pejabat, para pendekar, rakyat jelata, bahkan ada utusan dari negeri asing, memberikan ucapan selamat bagi kebahagian dua mempelai.


Pernikahan yang sebelumnya membuat Lingga takut. Bermimpipun ia takut. Takut hanya menjadi mimpi, dan tidak pernah menjadi kenyataan, yang akan menyakiti hatinya.


Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Lewat kebijaksanaan Sang Baginda Raja Bengalalah, yang bersedia menjadi wali dalam pernikahan itu, semua mimpi indahnya menjadi kenyataan.


Semua larut dalam kegembiraan, sehingga ada beberapa pasangan mata, yang ikut dalam pesta itu, dengan tujuan pribadi yang sangat menakutkan tersamar dalam ribuan orang yang berduyun-duyun menyampaikan ucapan selamat.


Dalam acara ini, semua tokoh golongan putih, tua atau muda, datang memberikan selamat.


Dari mulai Denawa, si Setan Berkabung, Nyi Mayang Sari, si Walet Merah, Ki Yadara Si Rajawali Sakti. Ki Sardulo si Macan Putih, Ki Gompala si Gajah Agni, Nyi Dyah Puspa, Santika, Kinanti dan Ganesha, beserta anak buahnya masing-masing.


Belum lagi para pendekar lainnya. Semua tumplek blek di dalam pesta tersebut.

__ADS_1


Tidak ada penjagaan, tidak ada pengawasan, karena inti acara adalah sebuah pesta, suka cita.


Bersambung...


__ADS_2