
CHAPTER 33
Berpacu Dengan Waktu
Suara Kedasih lirih menyayat
Merintih seperti kehilangan kekasih
Langit Asoka muram-semuramnya
Letikan benih api muncul berbayang
Siap menghanguskan Asoka sekali lagi!
Suara titir bersahutan dan bergelombang memenuhi negeri Asoka membawa berita lelayu.
Bukan berita kematian biasa. Ini luar biasa.
Karena Baginda Raja Baruna telah wafat.
Istana untuk sementara disibukkan dengan persiapan prosesi pemakaman.
Tubuh dingin Raja Baruna sudah dimandikkan, dibalsam, dikenakan pakai kebesarannya. Dihias setampan mungkin. Kemudian diletakkan di tengah ruang keluarga istana di dalam peti mati dari kayu cendana berhias ukiran naga terbang di permukaan tutupnya, sudut-sudut dan sisi-sisi yang berwarna keemasan.
Tamu yang ikut berduka dan berbelasungkawa datang bergelombang dari seluruh negeri. Bahkan utusan dari negara-negara sahabat sengaja datang untuk memberikan penghormatan yang terakhir.
Hampir selama tujuh hari semua lapisan masyarakat diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada rajanya.
Dan rencana 100 hari ditetapkan hari berkabung bagi Negara Asoka.
*
Perdana Menteri menggelar pertemuan darurat, menyikapi perubahan yang terjadi di Negeri Asoka.
Walaupun semua rakyat sedang bergabung, namun Perdana Menteri Baruna tidak mengendurkan semangat untuk segera menjalankan suksesi kepemimpinan. Suksesi impian yang menjadi puncak rencananya.
Yang hadir dalam pertemuan itu adalah semua menteri dan jajarannya, para tokoh persilatan yang telah berada di dalam gengaman Perdana Menteri Banara.
Raja telah mangkat. Berarti terjadi kekosongan di puncak tertinggi.
Saat Raja diculik, semua kepemimpian dipegang oleh Perdana Menteri Banara. Tata kelola dan semua perintah untuk kelangsungan kerajaan ada ditangannya.
Saat seperti itu hati dan perasaan Banara seakan bergemuruh dan bersemangat. Ia sudah membayangkan cerita bagi dirinya ke depan. Tinggal hitungan hari saja. Setelah masa berkabung lewat, ialah yang akan menjadi raja pengganti.
Banara akan menjadi Raja Asoka selanjutnya.
*
Pertemuan ini berupa pematangan rencana untuk proses suksesi, penggantian raja di masa depan.
Banara memperintahkan untuk memperkuat semua di titik vital Negara Asoka.
Memperkecil semua celah atau menghilangkan sama sekali kemungkinan yang akan menyebabkan kegagalan semua rencananya.
Semua pemimpin dibawahnya sudah mengerucut bergerak ke satu titik, menguasai sepenuhnya Negeri Asoka.
Semua sudah berangan menduduki posisi yang telah menjadi kembang tidurnya selama ini.
Tanpa pernah memikirkan apapun lagi. Bahkan rencana berkaitan dengan penculikan rajanya.
Penghimpunan pasukan untuk melakukan balas dendam.
Bahkan yang lebih aneh mereka sudah merayakan keberhasilannya.
Tinggal menunggu hari saja! Pikir mereka.
*
Demikian juga yang terjadi di dalam istana pribadi Perdana Menteri Banara.
Alamanda begitu ceria dan bersemangat kini. Sepasang pendengarannya dipasang baik-baik. Menyisip kabar sekecil apapun mengenai keadaan istana. Tidak hanya kabar yang diperoleh lewat suaminya. Bahkan semua isu dan kabar angin yang bertiup kencang di Negeri Asoka tidak pernah sekecil apapun lepas dari pantauannya.
Seperti malam itu, Banara tertidur kecapaian setelah mengarungi samudera asmara yang selalu bergelora.
Alamanda dengan tubuh polosnya turun dari tempat tidur melenggok ke arah jendela. Sepasang buah pantatnya bergoyang ke kiri ke kanan menggoda. Badannya masih menyisakan keringat yang berkilau ketika terkena sinar rembulan malam yang menerobos lewat jendela. Rambutnya panjang terurai, jatuh menutupi sepasang buah dadanya yang bulat indah.
Dielus-elus perutnya yang sedikit ada perubahan. Alamanda sudah mengandung jalan tiga bulan.
" Anakku, semoga kamu laki-laki. Kamu akan jadi putera mahkota," batinnya gembira sekali.
Alamanda sekarang mempunyai kegiatan baru. Selain ia mengelus perutnya, ia sekarang rajin memberikan tanda coretan di dinding, menghitung datangnya 100 hari, saat penobatan suaminya Banara menjadi Raja Asoka.
Dan, kini coretan baru memasuki hitungan kesembilan.
Besok Raja Baruna akan dikebumikan.
Rembulan begitu indah mengawang menerangi langit Asoka yang penuh gemintang
Rembulan tersenyum ceria
Seceria senyum Alamanda menjemput impian.
*
Akhirnya Raja Baruna dikebumikan di komplek pemakaman istana.
Rakyat Asoka tumpah ruah memenuhi tepi jalan. Dari mulai istana hingga ke Bukit Terakhir Jiwa, komplek pemakaman raja-raja Asoka. Sepanjang jalan mereka berdesakkan untuk melepas dan melihat terakhir kalinya raja mereka.
Iring-iringan rombongan berjalan menyusuri jalan di pagi yang sendu. Tiba-tiba langit terbelah oleh sebuah kilat petir yang mengawali turunnya gerimis sepanjang pagi.
Gerimis merinai menyendukan perjalanan prosesi pemakaman.
Rakyat tidak ada yang beranjak, membiarkan gerimis menyiram kepala-kepala mereka. Mendinginkan hati dan perasaan yang penuh duka dan amarah yang bercampur padu.
Mereka ingin berontak, mereka bersepakat dalam diam untuk membalas Negeri Sangga Langit yang sombong!
Mereka siap melakukan belapati. Meski mereka tidak mempunyai kepandaian berperang atau mempunyai kesaktian bersilat.
Mereka siap, menunggu diberangkatkan.
*
Rombongan kereta jenazah bergerak dikawal tentara berkuda dan diikuti kereta berkuda dari lingkar istana, seperti kereta Perdana Menteri Banara, Kereta Pangeran Ludiro dan selanjutnya kereta para pejabat kerajaan.
Ada dua kereta yang terakhir ikut dalam prosesi pemakaman yang telah disiapkan oleh Pangeran Ludiro untuk dua sahabatnya yaitu kereta untuk keluarga Santika dan kereta untuk keluarga Lingga.
Selanjutnya para tokoh dunia persilatan semua golongan juga turut serta.
Menyusuri jalan dengan siraman gerimis.
Melatari Asoka raya yang sedang berduka!
*
Hampir satu harian penuh hingga senja turun di langit Asoka, gerimis telah reda dan langit Asoka menjadi warna lembayung indah.
Prosesi pemakaman telah sempurna semua kembali ke tempat masing-masing membawa kenangan duka.
Hari-hari berkabung terus menoreh di dalam sejarah kelam Asoka, menunggu waktu berlalu untuk menyongsong fajar baru.
Raja baru?
Meluruk Negeri Sangga Langit?
Hampir semua rakyat tenggelam dalam duka dan bergolaknya magma dalam jiwa untuk melepaskan dendam dan pembalasan.
Namun ada juga sekelompok orang yang mulai menancapkan mimpi baru tanpa pernah merasa sedikit pun duka dan getar amarah atas kehilangan sang raja!
*
Rembang malam sudah turun sempurna.
Di Villa Rajawali ada pertemuan santai antar tiga sahabat.
Hadir di sana, Pangeran Ludiro, Santika, Lingga dan Ganesha.
" Sahabat Santika dan Lingga. Hasil dari penyelidikan Wijaya, menemukan kejanggal-kejanggalan yang begitu kentara jika dicermati dengan teliti," suara Ludiro membuka pertemuan.
" Menurut Wijaya, para penculik bergerak sangat cepat dan tidak menerima halangan sama sekali. Tidak ada bentrokan. Mulus dan lancar. Penculik seakan mengetahui dengan pasti keadaan istana. Tempat penjagaan, sampai-sampai kebiasaan yang terjadi di dalam istana," lanjutnya Ludiro dengan runtut.
" Kapan saatnya pesta-pesta dilakukan, yang membuat penjaga menjadi mabuk dan mudah dilumpuhkan,"suara sedikit dalam dan tajam menunjukkan emosi kegeraman hatinya.
" Pasukan pengawal raja adalah orang-orang pilihan. Mengapa begitu mudah dipecundangi?
Dan, penculik itu juga dengan bebas bisa lepas dari pengepungan dan pengejaran. Yang lebih anehnya adalah tanda bahaya yang menyalakan bukan pasukan keamanan, melainkan penculik itu.... Gila... Bruuk!" suara Ludiro
geram dan melepaskan emosi dengan memukul meja.
Yang hadir tidak menyela sedikitpun. Hanya mendengarkan dengan hati prihatin.
" Sampai juga, tempat di mana perahu penculik disembunyikan dan panji yang terjatuh.
Semua semakin aneh. Tidak ada pertempuran, tidak ada usaha merebut kembali raja.
Tidak ada jejak yang memperlihatkan penculik mampu dikejar oleh pasukan yang digerakkan Perdana Menteri.
Menurut pendapat Wijaya, jangan-jangan panji itu bukan terjatuh akan tetapi sengaja dijatuhkan?" suara Ludiro semakin mengawang. Ia yang biasanya tenang terlihat tersulut emosinya.
" Kesimpulan sementara Wijaya, ada keterlibatan orang dalam atau orang yang pernah tinggal di lingkungan istana," suaranya bergetar berusaha menahan emosi. Ditatapnya kedua sahabatnya meminta pendapat atau masukkan, akan semua peristiwa yang terjadi, berkaitan dengan penculikkan raja.
__ADS_1
" Sahabat Ludiro, kalau boleh aku menambahkan. Aku juga menemui kejanggalan di lingkungan istana saat aku menyelidiki dan mencari jejak," Lingga membuka suara, pelan dan terukur.
" Hampir seperti analisa Wijaya. Dari cerita atau kesaksian yang aku kumpulkan. Penculik itu datang dan pergi melalui sisi benteng istana yang memang ada sela waktu sekitar sepenanakan nasi tidak ada penjaganya.
Karena di waktu yang sempit itu, penjaga benteng selalu melakukan rutinitas memeriksa keadaan di sepuluh tombak jaraknya dari pos. Baik ke sisi kanan maupun ke sisi kiri pos penjagaan. Sehingga waktu yang lowong itu dimanfaatkan untuk penculik masuk dan secepat kilat keluar dari benteng istana. Tidak ada pertempuran, tidak ada usaha merintangi penculik," Lingga dengan tenang menyampaikan hasil penyelidikannya.
" Benar, yang terjadi pengawal raja yang sudah mabuk, penari maupun pemain musik, dengan mudah dilumpuhkan dengan ajian sirep dan timpukan kerikil batu untuk membuat mereka pingsan. Hampir tidak masuk akal, namun itulah yang terjadi. Seperti juga yang disampaikan oleh ayahanda Banara," Ludiro mengakhiri laporannya.
Ludiro mendengar itu hatinya semakin kalut, ia tidak menyalahkan jika Wijaya menyampaikan kecurigaannya seperti itu, memang kenyataan yang terjadi dilapangan seperti itu.
" Ludiro...," suara Santika jelas dan tenang.
" Persis, tidak ada aksi pengejaran yang mampu menangkap penculik, jejaknya terlalu jelas. Pasukan dan pengejar selalu berjarak yang cukup jauh hampir setengah hari. Padahal pasukan pengejar adalah prajurit pilihan, kudanya kuda pilihan. Mereka mengetahui jalanan atau wilayah Asoka. Dan yang lebih aneh lagi adalah kejadian saat kita berusaha membebaskan raja," suara Santika bersemangat ketika menceritakan semuanya.
Keanehan-keanehan yang terjadi saat pembebasan itu.
Semua cerita semakin menjadikan kuatnya kesimpulan, bahwa penculikan raja ini, adalah sudah direncanakan matang, dan disengaja untuk mengacau atau mempermalukan Negara Asoka.
Apalagi ketika Ganesha ikut angkat bicara menyampaikan apa yang pernah dialaminya.
" Mohon maaf paman Ludiro. Saya menemukan penculik itu adalah orang yang sama dan pernah saya temui sebelum beberapa hari penculikkan. Namanya Buntaran dengan lima orang temannya, bahkan sempat bentrok dengan adik Kemala Ayu," Ganesha lalu menceritakan yang dialami sebelumnya.
*
" Yang lebih aneh lagi, para Paman. Saat membebaskan raja di Sangga Langit, tentara yang dikerahkan banyak sekali. Tapi mereka bertempur bukan sungguh-sungguh. Seakan mereka diperintah untuk sekedar merintangi bukan mempertahankan atau merebut kembali tawanannya. Raja Baruna seakan sengaja dilepaskan.
Ada susulan sebagai buntut penculikan dan pembebasan ini, Paman. Akan ada badai gelombang susulan yang akan datang. Menurut hemat saya, Paman," suara Ganesha mantap memberikan laporan dan pendapatnya.
Mereka yang hadir juga bukanlah orang-orang yang bodoh. Kejanggalan-kejanggalan itu begitu kentara. Tidak sulit dan penuh rahasia. Gamblang dan jelas.
Seakan ini adalah sebuah peristiwa pancingan atau jebakan dan kecurigaanpun mengarah ada peran orang dalam, orang sekitar lingkup istana. Namun itu praduga... praduga yang kuat bahkan ada peran Perdana Menteri Banara didalamnya?
Benarkah?
Sesuai analisa Wijaya?
Sesuai pemikiran Ludiro juga?
Villa Rajawali hening untuk sekian waktu. Hanya menyisakan tarikan nafas dalam yang mewakili keresahan dan keruwetan pikiran dan perasaan yang hadir di sana.
Namun keheningan itu dipecahkan oleh suara Radar pengawal khusus Pangeran Ludiro yang datang menghadap.
" Mohon beribu ampun... Pangeran. Ada kabar yang sangat mengkhawatirkan. Ribuan rakyat bergerak ke arah istana. Mereka menuntut Asoka, untuk melakukan serangan balasan ke Sangga Langit. Mereka tidak terima dilecehkan dan dihina.
Penculikan raja adalah hal yang sangat memalukan bagi negara Asoka," lapor Radar dengan jelas dan tepat.
" Mereka sudah tidak sabar menunggu waktu berkabung terlalui. Mereka ingin atau menuntut pihak yang berwenang untuk segera mengambil langkah pembalasan itu," Radar mengakhiri laporannya.
Buntut penculikan, pembebasan dan meninggalnya Baginda Raja Baruna mulai terlihat.
Bersambung....
Asoka di Ujung Tanduk
Rakyat mendesak pemimpin Asoka sementara untuk segera bergerak melakukan pembalasan. Menunggu masa berkabung selesai dirasakan terlalu lama.
Menunggu pengangkatan dan penobatan raja baru juga dianggap terlalu lama.
Pemegang kekuasan dan pemerintahan sementara menjadi sasaran ketidak puasan rakyat.
Rakyat mendesak, pemerintah untuk segera melakukan serangan balasan atau menyerang negara Sangga Langit yang telah mempermalukan Asoka.
*
Lautan manusia berdesakkan dengan membawa senjata aneka macam. Apa yang ada, dibawanya. Punya pedang, pedang yang dibawa. Punya tombak, tombak yang dibawa.
Punya pacul, ya cangkul yang dibawa. Semua bergerak ke depan istana Asoka.
Pangeran Ludiro, Santika, Lingga dan Ganesha, juga ikut dalam rombongan itu, dalam penyamaran sebagai rakyat jelata. Mereka ingin melihat dari dekat, bagaimana caranya, atau tindakan apa yang akan diambil oleh Perdana Menteri Banara dalam menghadapi tuntutan rakyat seperti itu. Mereka berempat mengambil posisi menyebar supaya tidak kelihatan menyolok.
Perdana Menteri Banara keluar dari istana menenangkan rakyat yang datang semakin banyak.
Didamping oleh Jumala si Guru Bangsa, Menteri-menteri baru bawahannya. Juga hadir juga Baskoro, Nyi Sagopi dan para datuk sesat yang lain.
Pemandangan itu bagi rakyat tidaklah menjadi perhatian dan permasalahan serius.
Tapi bagi Pangeran Ludiro.
" Haah... Keterlaluan... Mereka semua itu siapa? Mengapa ada di istana dengan lagak yang begitu sok dan angkuh," batin Ludiro gusar.
Meskipun gusar, Ludiro hanya diam mencoba mengikuti perkembangan selanjutnya!
*
Rakyat semakin tidak sabaran. Berteriak-teriak penuh semangat.
" Balas... Balas... Balas... Serang... Hancurkan Sangga Langit... ," teriakan-teriakan itu yang datang bergelombang sebagai tuntutan rakyat. Mereka heran mengapa pihak istana hanya diam. Tidak ada sedikitpun persiapan untuk melakukan perang. Menghancurkan negara yang telah menghina kejayaan Asoka!
" Kita pasti membalas. Kita pasti membayar tuntas penghinaan ini. Tapi... Bersabarlah dulu sebentar. Kita masih dalam keadaan berkabung," bujuk Banara.
" Jika kita ingin melakukan sesuatu harus ada satu komando, satu perintah. Agar semua yang kita lakukkan mempunyai arah dan kesatuan gerakkan.
Tunggu, sebentar lagi akan ada penobatan raja baru. Sebagai penerus kejayaan Asoka. Dibawah komandonya, kita akan bergerak bersama melawan segala musuh," suara Banara berapi-api.
Rakyat mendengar itu bersorak-sorai. Berteriak bersahutan dan bergelombang.
" Hidup Perdana Menteri... Hidup Asoka... Kami siap mati.... Demi Asoka!" teriak mereka penuh semangat dan berapi-api pula.
Mendengar sorak-sorai rakyat, hati Banara bergetar, bangga dan bahagia.
" Ha... Ha... Ha... Sebentar lagi... Akulah Rajamu," batin Banara dengan senyum tipis dan mata berbinar.
Perubahan ekspresi itu masih mampu ditangkap oleh mata tajam Pangeran Ludiro.
Yang dengan kepintarannya mampu menangkap kata-kata bersayap yang diucapkan Banara.
Rakyat berhasil dikendalikan untuk sementara waktu. Bersedia bersabar untuk menunggu, apa yang telah Perdana Menteri janjikan!
*
Malamnya...
Lain di mulut, lain pula di hati.
Banara menjadi pusing tujuh keliling. Sebenarnya ia ingin mengulur waktu, sampai penobatan dirinya terjadi. Setelah itu, ia yang berkuasa. Apapun nanti bisa dipikirkan belakangan?
Yang penting ia menjadi raja dulu. Suksesi impiannya menjadi nyata dulu.
Ia yakin, ia yang akan menggantikan Baruna menjadi raja. Raja Asoka. Yang selama ini sudah ia jalankan dan kuasai.
Ia tidak khawatir akan adiknya Ludiro, karena ia tahu, Ludiro dari dulu tidak tertarik akan singgasana Asoka.
Namun suara rakyat, desakkan dan keinginan rakyat membuat hatinya bimbang.
Hingga di dalam tidur malamnya kali ini, rasa cemas dan gelisah. Membuat tidurnya tidak nyenyak. Sampai ia merasakan rasa dingin dan bersisi tajam menyentuh lehernya.
Ia semula menganggap itu hanya mimpi. Mimpi buruk!
Namun ketika lamat-lamat ia mendengar jerit Alamanda, seketika ia terbangun, dan menemukan dirinya dalam kekuasan seorang pemuda tinggi besar berwajah tampan dan terlihat asing. Melekatkan sebilah belati di lehernya.
Dan ia melihat di dekat sudut jendela, Alamanda dijerat oleh cambuk yang melilit tubuh polosnya oleh seorang wanita cantik dan kelihatan genit mengancam urat lehernya dengan totokan maut yang telah disiapkan. Urat bicara Alamanda sudah ditotok, tidak mampu bicara. Hanya sepasang matanya membelalak lebar, ketakutan!
Mengapa Buntaran dan Dewi Wilis bisa memasuki kamar Perdana Menteri Banara?
*
Sebelumnya di Negeri Sangga Langit....
Setelah menghadap Baginda Raja Gomora dan menyampaikan rencananya untuk segera menyerbu Negara Asoka. Restu Bumi sangat gembira karena Raja Gomora sangat setuju akan rencana itu dan akan turun tangan sendiri.
Raja yang gila kekuasan ini ingin menghancurkan Negeri Asoka dengan tangannya.
Ia bangga akan keberhasilan dari Restu Bumi yang mempunyai ide dan rencana yang cemerlang untuk menjadikan kerajaan Asoka sebagai negara jajahannya, nanti!
Ia memerintahkan Restu Bumi untuk memastikan pematangan rencana penyerbuan sekali lagi, dengan mengirimkan Buntaran dan Dewi Wilis untuk memantau keadaan Asoka setelah kehilangan rajanya. Agar dapat dipastikan Asoka telah lemah dan nanti akan mudah untuk dihancurkan.
Ide Baginda Gomora disambut baik oleh Restu Bumi. Maka dikirimnyalah Buntaran muridnya dan Dewi Wilis kambratnya melaksanakan titah raja dan sekalian melaksanakan rencana gila yang tiba-tiba melintas di otaknya.
Berangkatlah saat itu juga Buntaran dan Dewi Wilis untuk mendahului datang ke Asoka.
*
" Siapa kalian...?" tanya Banara gugup. Ia tidak habis mengerti, mengapa mereka bisa lolos masuk ke dalam kamarnya dan berhasil mengancam dirinya. Yang lebih parah, Alamanda sudah jatuh di tangan mereka.
Dari ujung matanya, ia melihat Alamanda istrinya menangis tanpa suara.
Pandangnnya yang nanar kembali ke arah penawannya yang sekarang duduk di ujung tempat tidurnya.
Wajah tampan yang asing. Wanita cantik yang terlihat jalang dan wajahnya asing juga.
Sekali lagi Banara mencoba menguasai keadaan.
" Siapa kalian yang berani lancang masuk ke sini?" suaranya menggertak menutupi kecemasannya.
" Ha... Ha... Ha... Aku adalah Buntaran, dan itu Dewi Wilis, utusan khusus Sangga Langit," tertawanya keras dan bicara nampak kaku dengan logat asing.
" Kamilah yang menculik rajamu dan menyiksanya. Ha... Ha... Ha...," tawanya jumawa sekali. Sangat keras dan jelas, di malam yang sepi dan tanpa rembulan dan gemintang di langit.
Banara sangat terkejut mendengar penjelasan itu. Apalagi setelah mendengar lanjutan dari pengancam itu.
__ADS_1
" Kami, tahu apa yang telah kamu lakukan. Membiarkan rajamu diculik. Bukan mengejar dan merebut kembali, malah kamu lepaskan. Kamu sengaja, bukan?
Ha... Ha... Ha... Kami tidak bodoh.
Luar biasa, apa yang ada di otak licikmu itu. Ha... Ha... Ha...
Memukul dengan meminjam tangan orang lain.
Luar biasa, licik!" suara pemuda asing benar-benar menelanjangi keinginannya.
Banara hanya melotot marah dan tak berkutik. Mati kutu. Semua kartunya seakan sudah terbuka oleh lawannya.
" Kami, tahu, kamu sangat berambisi menjadi raja, bukan?" ejeknya kemudian.
Banara giginya bergemeretak, menahan luapan isi hatinya.
" Hai, Banara, kamu masih bisa menjadi raja. Setelah kami serbu dan kami kuasai negeri Asoka ini. Bagaimana?" tawar mengejek dan sangat kurang ajar sekali. Anak muda luar biasa kurang ajar.
Tapi semua ucapan pemuda asing itu, benar adanya. Ia tidak bisa berkutik dan menyangkal sama sekali.
Matanya hanya melotot melihat semua tingkah penawannya yang kurang ajar.
" Bagaimana, jika kamu menjadi raja. Raja boneka tentunya?
*
Setelah rakyat bubar dan bersedia bersabar untuk menunggu langkah selanjutnya.
Pangeran Ludiro, menggelar pertemuan di Villa Garuda. Tidak semua hadir. Hanya Santika, Lingga, Wijaya dan Ganesha.
" Menurut firasatku, akan ada peristiwa besar menyusul sebagai ekor kejadian penculikan yang lalu. Mungkin bisa datang dari luar Asoka dan dari dalam negeri Asoka yang sudah sering menjadi bahan pemikiran dan kesimpulan sementara kita. Adanya gerakkan bawah tanah yang berusaha menguasai istana.
Wijaya, kita harus bersiap. Kumpulkan, atur dan siapkan seluruh bagian rakyat, baik tentara, menteri-menteri lama, pejabat-pejabat lama, rakyat dan semuanya yang masih setia kepada negeri Asoka untuk berjaga-jaga. Menunggu, apapun yang terjadi jangan bergerak dulu. Tunggu, agar siapa yang sebenarnya menjadi dalang semua ini, terbuka kedoknya semakin nyata.
Dan, untuk Santika dan Lingga, tolong siapkan juga barisan para pendekar dan patriot karena dari analisaku, para tokoh persilatan juga akan berperan dalam gerakkan ini.
Apapun yang terjadi, tunggu... Biarkan ikan masuk bubu dulu.
Kemudian tutup jalan keluarnya.
Dan, bersiap-siaplah berjuang habis-habisan!" pesan sekaligus perintah dari Pangeran Ludiro untuk memghadapi semua perubahan keadaan Asoka nantinya.
*
Ada kejadian besar yang menjadi perubahan diluar perhitungan, di Istana Asoka. Seperti yang menjadi perhitungan Ludiro.
Dengan persetujuan tokoh-tokoh tua, dan tetua kerajaan Asoka tentunya yang mendukung dan dalam cengkeraman Banara, keesokan harinya di hari ke 83 masa berkabung, kerajaan menggelar upacara penobatan Perdana Menteri Banara menjadi pengganti Baginda Raja Baruna yang telah mangkat menjadi Raja Baru.
Penguasa baru yang sah di Negeri Asoka!
Rakyat menyambut gembira pergantian ini. Dengan harapan tuntutan mereka waktu itu akan segera dipenuhi. Dengan Raja Baru, komando baru, penyerbuan ke Sangga Langit untuk menghukum negara itu akan segera terlaksana.
*
Dengan diangkatnya Baruna sebagai raja, para sekutu berpesta pora akan keberhasilan itu. Mimpi jadi nyata sekarang!
*
Bagi Ludiro, perubahan ini, sebenarnya sudah menjadi buah pikirannya, sudah meraba peristiwa ini akan terjadi. Namun ia tidak menyangka, ternyata terjadi lebih cepat. Kakaknya Banara ternyata sudah tidak sabar!
Menjadi raja, adalah tujuan akhir yang ingin diraihnya.
Hmm... mari kita lihat apa yang selanjutnya terjadi lagi...?
*
Mundur malam sebelumnya...
Buntaran di malam itu berhasil membuat kesepakatan dengan Banara.
Banara setuju untuk menyerah kalah dan bersedia menjadi raja boneka dari Raja Gomora dari Sangga Langit.
Kalau ia menolak pertama-tama Alamanda istrinya akan ditotok urat kematiannya oleh Dewi Wilis yang menawannya.
Demi menyelamatkan istrinya, Banara pura-pura menyetujui tawaran Buntaran.
Namun perhitungan Banara salah. Ia dilepas, namun Alamanda istrinya masih tetap menjadi tawanan musuh.
Setelah kesepakatan itu, Buntaran, Dewi Wilis meninggalkan istana Banara dengan menawan Alamanda.
*
Terjadi perubahan yang menjijikkan. Melihat suaminya Banara berada diujung kehancuran. Alamanda yang dasarnya hanya mementingkan diri sendiri, membuat hitung-hitung di otaknya yang licin.
Ia merasa kesempatan Banara menjadi raja sudah habis. Untuk apa ia harus mempertahankan Banara. Ia toh, tidak pernah mencintainya. Semua dilakukan untuk mengejar cita-citanya, ingin menjadi permaisuri raja.
Ada yang harus dikorbankan untuk mencapai tujuannya.
Korban pertama adalah Banara suaminya yang ia khianati.
Dengan cerdik Almanda berhasil menarik perhatian Buntaran yang muda, gagah dan sakti. Seorang panglima perang yang mempunyai masa depan cemerlang.
Apalagi Buntaran memang sesungguhnya adalah hamba nafsu. Nafsu kekuasaan dan nafsu akan wanita.
Menjadi murid dari empat orang sakti, yang merupakan datuk sesat. Tingkah laku guru-gurunya mempengaruhi watak dan perilakunya juga.
Gurunya Dewi Wilis, ia lihat selalu gulang-gemulung dengan si kembar Gonjala-Gonjali.
Dewi Wilis adalah kekasih bersama dari guru-gurunya itu.
Meskipun Dewi Wilis sudah berumur 50 tahunan, namun karena ilmu hitam yang dimilikinya mampu membuat dirinya tampil awet muda dan tetap cantik mempesona.
Buntaran sebagai muridnya pun jatuh juga ke dalam pelukannya. Guru murid, menjadi kekasih luar dalam.
Buntaran diajarkan ilmu silat dan sihir, juga diajarkan ilmu bercinta.
Sejak pertama bertemu, Buntaran sudah terpesona dengan kecantikan dan tubuh molek mulus dari Alamanda istri Banara yang ditawan gurunya dalam keadaan telanjang bulat itu. Sesekali ia mencuri lihat ke arah Alamda sambil menekan dan mengancam Banara.
Alamanda walau dalam keadaan menangis dan ketakutan, ia masih bisa menangkap kilatan nafsu di mata Buntaran.
Inilah yang menjadi dasar hitung-hitungan Alamanda. Dijerat dan dipikatnya Buntaran saat dirinya ditawan dan dibiarkan berdua di kamar penginapan yang telah disewa Buntaran sebelumnya.
Dewi Wilis telah pergi malam itu mencari lelaki lain untuk melampiaskan nafsunya yang tidak pernah puas!
Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Alamanda dan bagaikan wadah bertemu tutupnya. Klop!
Pikatan itu bersambut, akhirnya malam panjang yang panas itu diisi desah nafas dan kikikan genit Alamanda yang bergumul panas dengan Buntaran.
Alamanda mendapat kendaraan baru untuk mencapai mimpinya.
Namun hitungan Alamanda salah. Hitungan Buntaranpun tidak ada bedanya.
Karena semalaman mereka mereguk panasnya asmara yang dahsyat berulang... dan berulang lagi... Mereka berdua terkapar kecapaian. Saat matahari turun di sisi barat, sinarnya membias masuk melalui kisi-kisi jendela menimpa kulit mulus Alamanda dan menyentak kesadaran Buntaran karena mendengar suara hiruk pikuk di luar. Suara orang berpesta di penginapan yang besar itu.
Pesta merayakan Banara menjadi raja baru.
Bagi Buntaran...
Semuanya telah terlambat... Semua terjadi di luar perhitungannya.
Banara dinobatkan menjadi raja baru di Asoka atau menobatkan dirinya sendiri menjadi raja.
Buntaran merasa dirinya kecolongan dan marah besar.
Bergegas menyambar panah api yang disimpan di kolong tempat tidur. Bergegas menuju jendela, segera dilepaskannya panah api sebagai tanda penyerbuan Asoka di mulai.
Panah api membelah malam yang mengelabu karena tirai malam sudah sempurna turun.
*
Malam yang baru muncul membuat langit gelap.
Langit Asoka yang semula gelap, hening dan tertidur.
Berubah menjadi terang benderang
Pasukan besar dari Kerajaan Sangga Langit di pimpin oleh Raja Gomora Sakti dan di dampingi oleh Restu Bumi. Datang menyerbu dari arah Utara. Serangan itu muncul dari arah laut. Puluhan kapal perang Sangga Langit, muncul bagaikan hantu. Meringkus kapal-kapal penjaga, kapal patroli milik kerajaan Asoka dengan mudah. Tanpa perlawanan yang berarti.
Lima kapal induk besar dengan Panji Naga Menelan Matahari berkibar-kibar dipermainkan angin. Belum lagi kapal-kapal yang berjumlah puluhan, berisi tentara, senjata dan perbekalan.
Kekuatan perang yang luar biasa besar.
*
Dulu, di masa kejayaan Raja Bengala, pasukan sebesar itu tidak ada artinya bagi Kerajaan Asoka.
Kerajaan Asoka kekuatan angkatan perangnya ada di semua lini serangan dan pertahanan.
Dari darat, dari laut dan pasukan sipil yang berisi para pendekar dan rakyat yang siap bela pati untuk negera yang siap bahu membahu mempertahankan tanah air dari serbuan negara asing.
Namun keadaan sekarang jauh berbeda. Setelah wafatnya Raja Baruna dan mandat pemerintahan di serahkan kepada Perdana Menteri Baruna, yang secara cepat dinobatkan sebagai raja pengganti.
Belumlah melakukkan konsolidasi, pembenahan di segala bidang.
Serbuan tentara asing yang memang biasa menjadi bangsa penakluk dan juga menjadi bangsa penjajah sudah merangsek datang.
Semua pertahanan berhasil diobrak-abrik. Semua penjagaan berhasil ditembus oleh Pasukan Negara Sangga Langit, yang mengalir bagaikan rombongan semut membanjiri negeri Asoka.
Rombongan semut kuning yang besar!
__ADS_1
Dan, malam ini Negeri Asoka yang dulu jaya menjadi pertaruhan!
Bersambung...