
CHAPTER 37
Duel Terakhir
Santika dan Lingga menghadapi musuh yang berat. Kemunculan Buntaran membantu gurunya, membuat mereka kesulitan melakukan penyerangan.
Apalagi kedua musuhnya merapal ajian yang sama yang membuat tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar berubah ujud menjadi naga raksasa putih dan hitam akibat ilmu sihir mereka.
Praktis Santika berhadapan dengan Restu Bumi.
Lingga berhadapan dengan Buntaran.
Gabungan ilmu Jari Sakti yaitu Ajian Inti Gerhana telah dirapal oleh Lingga. Untung saja kemampuan ilmu ringan tubuhnya ajian Walet Merah masih berhasil menghadapi serangan Naga Hitam Raksasa jadi-jadian
Karena kecepatan gerak dari pertempuran mereka, hanya menyisakan suara geraman naga dan bayangan yang saling beradu, menangkis, mengelak di udara.
Bayangan hitam dan bayangan abu-abu saling melesat, terbang, meliuk mencari tempat kosong untuk saling mengalahkan.
Demikian juga keadaan Santika dan Restu Bumi. Walau pun Santika sudah mencapai tingkat tertinggi dari ajian Kasih Pemutus Duka menghadapi Restu Bumi yang merapal ajian Gangsing Maut dan menyerang dengan gabungan pukulan Bara Neraka dan Badai Es Menjerat Nyawa membuat Santika hanya mampu melindungi dirinya dengan bentengan cahaya perak seterang cahaya meteor jatuh.
Hanya bertahan dan agak kesulitan melakukan penyerangan.
Jika keadaan terus berlangsung seperti itu akan membahayakan posisi Santika... Untung saja...
Untung saja di saat yang kritis itu muncul Naga Kuning tandingan yang dirapal oleh Ganesha, Ajian Naga Menjelma Berganda Wujud.
" Hhhrrrggg.... Aku adalah lawanmu," Naga Kuning merangsek cepat memotong serangan Naga Hitam...
Naga Hitam Raksasa terpaksa melepas mangsanya meninggalkan Lingga yang masih belum menemukan ruang kosong untuk menyerang..
Lingga kehilangan lawan, segera meluncur cepat ke arah Santika yang sudah kehabisan akal menyerang Restu Bumi yang berputar dahsyat sambil melepas pukulan panas Bara Neraka dan pukulan dingin Badai Es Menjerat Nyawa.
Pertandingan ulangan seperti dulu tersaji kembali. Pertandingan pungkasan bagi mereka.
Santika merapal ajian tertinggi dari Pemutus Duka dan bergerak sebat melepaskan seruling baja birunya di tangan kanan dengan ajian Bayangan Seruling Mengejar Roh.
Lingga merapal ajian Inti Gerhana yang membuat langit tiba-tiba gelap dan dingin.
Melenting dengan peringan tubuh Walet Merah melakukan gerakan yang bersamaan dengan Santika.
Cahaya abu-abu melesat ke atas bukan terus menyerang ke atas namun hanya melakukan gerakan pancingan saja...
Tangkisan Gasing Maut mengenai tempat kosong, tenaga dalam telah lepas... namun sasaran menghilang....
Bayangan abu-abu itu menukik mengarah sasaran ke arah pusar.... cahaya kuning berkiblat bersamaan dengan bayangan biru yang menyabet ke arah ke dua kaki tumpuan Gasing Maut yang berputar... bukan pukulan mematikan namun sangat efektif menggempur kuda-kuda Restu Bumi dan keterkejutannya melihat serangan yang berbelok mengarah pusarnya...
Dalam bayangan gasing yang berputar nampak wajah Restu Bumi pucat... Ia menarik pukulan dan berusaha menangkis serangan ke pusar dengan tepukan tenaga dalam panas dan dingin yang keluar dari ke dua tangannya... tapi...
Sekali lagi ia kecelik...
Tanpa ia duga, sabetan ke arah kaki dari Santika tidak berhenti sampai di situ, semula ia percaya akan kekuatan kekebalan tubuhnya...
Hatinya mencelos, ketika ia melihat Santika melejit memantul ke udara dan dengan kecepatan kilat seruling baja birunya dilontarkan menembus putaran gasing maut dan menancap tepat di ulu hati Restu Bumi yang terbuka, karena kosentrasinya teralihkan untuk memblokir serangan Lingga ke arah pusar.
" Aaaaaaa..... !" jerit menyayat keluar dari mulut Restu Bumi yang membuncah darah...
Gerakan gasingnya surut... berhenti.... dan tubuhnya goyang akan rubuh...
" Kelontangggg....!" suara seruling baja biru jatuh bersamaan dengan melesatnya bayangan merah besar... Menyambar tubuh Restu Bumi yang terluka parah, mungkin akan mati..
Bayangan itu melesat bagaikan Garuda Merah Raksasa...
Mengepit sebelah kanan sesosok yang bisa dikenali sebagai Larasati anak dari Nyi Sagopi yang telah terluka oleh Kinanti dan di sebelah kirinya adalah tubuh Restu Bumi yang dibawa melesat terbang menuju arah Barat dengan cepat.!
Peristiwa itu sangat cepat dan tidak pernah ada yang menduga... hanya menyisakan suara menggelegar yang sangat jelas kepada Ganesha.
" Ganesha, aku bawa Hrastu Bhumi untuk mempertanggungjawabkan semua tindakannya ke Negeri Tanpa Langit dan aku bawa juga gadis ini untuk aku selamatkan!
Jika semua urusanmu telah selesai aku tunggu, kamu di Pulau Kabut Sirna," suara itu sangat jelas.
" Kakek Guru, terima kasih atas budi pertolongannya. Ganesha mentaati perintah," terdengar sahutan balasan dari Ganesha yang sedang sibuk bertempur dengan Buntaran.
Ganesha tahu itu Kakek Pradalbo, gurunya.
Suara kereng itu lenyap, orangnya pun sudah tidak kelihatan bayangannya.
Santika dan Lingga hanya tertegun kehilangan lawan.
Santika sadar ternyata yang menyambar tubuh Restu Bumi adalah Pradalbo kakak perguruan dari Restu Bumi sendiri yang telah berjanji akan memberikan hukuman di Negeri Tanpa Langit. Ia kecewa belum sempat mengucapkan terima kasih atas budi cinta kasih Kakek Pradalbo kepada Ganesha anaknya. Ia sangat masygul dan menyesal.
Mundur sejenak..
Gerakan cepat dari Ganesha menyelamatkan Larasati dan kemudian membawa terbang ke sebuah goa di sebelah Timur Laut Negeri Asoka, ternyata ada sepasang mata yang mengikuti peristiwa itu. Semua gerak-gerik Ganesha memberikan pertolongan pertama kepada Larasati pun tak luput dari pengamatannya. Matanya kemudian berbinar dan bibirnya mengangguk-angguk senang.
Tidak salah ia memiliki pewaris yang berbudi luhur ini.
Sosok itu menunggu beberapa saat sebelum akhirnya bayangan kuning Ganesha melesat terburu-buru ke arah Istana Asoka.
Sosok tinggi besar itu berpakaian serba merah melayang ringan ke arah goa, di mana Larasati berada!
**
Kembali ke gelanggang pertempuran....
Dari ujung matanya Raja Gomora melihat jago-jagonya satu demi satu bertumbangan.
Menemui kekalahan dan kematiannya.
Apalagi saat kekalahan Restu Bumi yang kemudian di sambar bayangan merah raksasa itu.
Telak... Kekalahannya!
Tinggal satu jagonya yaitu Buntaran, yang nampaknya menemui musuh yang seimbang!
Raja Gomora sudah ratusan jurus tidak mampu mengatasi sepak terjang Ludiro, pangeran dari Asoka.
Perhitungan Raja Gomora ternyata meleset jauh dan hanya merugikan dirinya.
Mimpinya hanya semu, karena kenyataannya...
Musuh ternyata menyimpan jago-jago sakti.
Bolehlah tentara semua dilibas habis dan kerajaaan Asoka sempat ia taklukan dan kuasai.
Namun, sejatinya kemenangannya itu hanya semua belaka!
Ia menyadari habislah kesempatannya...
Ia menyadari habislah riwayatnya...
Ia tidak bisa maju lagi...
Mundur pun tidak mungkin..
Maka dengan menggertakkan giginya, digenggamnya erat-erat pedang dua matanya... Ia memutuskan mengadu nyawa... untuk mempertahankan kewibawaan dan harga dirinya....
" Hiaaaaaa.....," teriaknya lantang, bersamaan tubuhnya yang tinggi besar melesat menyongsong Ludiro yang segera menyelipkan kipas emasnya di pinggangnya, secepat kilat ia melolos pedang putih yang bergagang kepala Rajawali dari balik punggungnya dan tubuhnya melejit tinggi mengawang, tangan kiri melontarkan pukulan Inti Es tangan kanan melepas jurus pedang Lesatan Rajawali Emas.
Dua titik cahaya melesat ke udara
Dua bayangan bertemu di udara...
Bayangan hitam besar bertemu dengan bayang putih.... Bentrokan cahaya dan tenaga dalam bertemu yang mengguncangkan langit..
" Duuuuar.... sringggg.... tranggg.... Trangggg.... Tranggg... Aaaaaa !" suara pukulan sedingin es melanda dada Raja Gomora yang terbuka karena ia bernafsu menyerang, tanpa... memperhitungkan pertahanan diri... Karena ia yakin serangannya kali tidak akan meleset lagi...
Namun apa lacur, yang dihadapi Raja Gomora adalah pangeran petualang yang kenyang pengalaman bertempur.... Pedang bermata dua terserempet pukulan jarak jauh Inti Es terus melabrak dadanya.. Membuat kepalanya tersentak ke belakang menahan nyeri dan benturan pukulan yang menyesap dingin, membekukan syaraf-syarafnya belum lagi pedang putih berkepala Rajawali terus melesat menusuk tenggorokan Raja Sangga Langit yang perkasa terpaksa mati oleh ambisi dan kepongahannya.
Tubuhnya yang tinggi besar terpental terbang, jatuh berdebum di depan istana Asoka...
Matanya masih menatap nanar istana Asoka yang masih mengepulkan asap...
__ADS_1
Tak lama kemudian selembar nyawanya terbang seperti asap yang bergulung-gulung ke atas langit itu!
Pangeran Ludiro mendarat dengan kuda-kuda kokoh tanpa suara. Disusutnya ujung pedangnya dengan sapu tangan yang ia ambil dari balik bajunya.
Kemudian....
Diangkat pedang tinggi-tinggi....
Bersamaan dengan suara ramai pecah menyambut kemenangannya.
" Dung... Dung... Breng... Breng... Treetet... Tretett... Hidup Asoka... Asoka... !" suara tambur, genderang dipukul, suara terompet ditiup, dan teriakan bersambung dan bergelombang dari tentara dan rakyat Asoka, yang berhasil menyaksikan Pangeran Ludiro mengalahkan musuh dari Raja Gomora Sakti dari Negeri Sangga Langit.
" Hidup Asoka.... Hidup Pangeran Ludiro.... !" suaranya datang bergemuruh, membakar semangat dan mengobarkan tekad.
Pangeran Ludiro tersentuh hatinya... Memandang ke sekelilingnya... Mayat, dan tubuh bergelimpangan mati ataupun terluka hanya untuk memenuhi nafsu segelintir orang saja.
Raja yang serakah dan mudah ditipu oleh Restu Bumi, menjadi kepanjangan tangan nafsu balas dendam yang memakan diri sendiri.
Mimpi terbang ke langit tinggi.
Badan sendiri mati binasa!.
*
Yang mati digotong mayatnya, yang terluka diobati atau dirawat mayatnya.
Musuh yang masih hidup, ditawan diikat tangan dan kakinya. tak berkutik.
Tinggal pertempuran puncak yang masih berlangsung...
Semua sekarang berpusat perhatian kepada duel terakhir.
Naga Hitam Raksasa berhadapan dengan Naga Kuning Raksasa.
Yang membuat langit Asoka menjadi bagaikan diamuk badai dan ledakan-ledakan dahsyat.
Sama-sama muda
Sama-sama gagah
Sama-sama tampan..
Pertempuran puncak yang sangat luar biasa...
Bagi mereka yang tidak mempunyai ilmu kesaktian tinggi, bayangan yang nampak di langit adalah pertempuran antara dua naga raksasa yang mengerikan.
Suara lolongan, suara beradunya pukulan bagaikan ledakan petir yang membelah langit...
Mereka menghindar mencari tempat aman..
Agar tidak terluka dari getaran serangan, angin pukulan yang bergulung-gulung. Yang datang dan pergi seperti badai layaknya.
Mereka mementang mata menahan nafas, takjub dan terpesona..
Tak ingin ketinggalan menyaksikan dan menjadi saksi pertempuran tingkat tinggi yang langka sedetik pun.
*
Bagi tokoh persilatan yang lain, tidak melepas juga kesempatan yang langka ini.
Generasi muda yang luar biasa. Sayang jika salah satu ada yang binasa!
Tapi nasi sudah menjadi bubur...
Buntaran pasti tidak akan terima akan kematian tiga gurunya, Gonjala, Gonjali dan Dewi Wilis, apalagi kekalahan Restu Bumi yang tidak pernah disangkanya. Demikian juga kematian tragis dari junjungannya Raja Gomora!
Rasa dendam membakar dadanya, dirapalnya semua ajian yang dimiliknya sampai tertinggi.
Gasing Maut, Bara Neraka dan Badai Es Menjerat Nyawa, udara menjadi berubah-ubah. Gelombang angin bergulung-gulung, udara panas drastis bisa berubah dingin dan sebaliknya...
Tubuh Raksasa yang berputar di bawah kadang melejit ke atas mengejar Naga Kuning yang terbang berputar menghindar dan melakukan serangan balasan.
Dua ilmu yang mempunyai dasar dan sumber yang sama. Hanya kebersihan diri dan pengendalian nafsu yang mampu membuat semua ilmu itu sempurna dirapal dan dilancarkan dalam setiap penyerangan.
Ilmu miliknya tidak sebersih dan sesempurna milik Ganesha. Apalagi Ganesha memiliki ilmu simpanan yang akan dikeluarkan di saat kritis. Ilmu pungkasan yang disiapkan Kakek Pradalbo yang tidak dimiliki Restu Bumi sebagai adik perguruannya.
Dan... saatnyalah telah tiba...
Sudah ratusan jurus yang dilancarkan. Jual beli pukulan dan saling serang ilmu kesaktian dan ilmu sihir pun sudah silih berganti meneror dan mendobrak pertahanan yang sama-sama kuat... hingga suatu ketika...
' Aaaarhhhh.... !" teriakan Naga Hitam yang melengking tinggi... membuat Naga Kuning raksasa itu terpental tinggi menembus awan....
Semua yang hadir terkejut...
Kemala Kemuning matanya melebar cemas..
Kinanti tergetar hatinya...
Santika diam-diam menggertakan rahang..
Lingga memandang takjub akan serangan Naga Hitam itu...
Kemala Ayu dan Pramesti cemas saling berpelukan... Apalagi ketika...
Pangeran Ludiro berteriak lantang...
" Lihat..... !"
Semua mata memandang Naga Kuning yang semula terpental ke atas menembus awan, berbalik jatuh dengan memudar bentuk Naganya.... berubah dan hilang....
Menyiksakan tubuh Ganesha yang terlihat bayangan kuning jatuh cepat tanpa daya... tak bergerak... matikah?
" Ganeshaaaaa.... !" tak tahan Kemilau Kemuning bergerak ke arah jatuhnya Ganesha... sambil berteriak menyebut namanya...
Tidak ada perubahan kejatuhan tubuh Ganesha.... meluncur bagaikan seekor burung yang terpanah mati oleh pemburu...
Semua yang hadir sudah akan bergerak mendahului Kemuning...
Semua potongan peristiwa itu tidak lepas dari pandangan senang dari Buntaran yang masih berputar dengan ilmu Gasing Mautnya... ia bersorak dalam hati... Musuhnya kecundang juga olehnya... tanpa sadar ia tertawa keras... Mengumandangkan tawa kemenangan....
" Ha... Ha... Ha... Ha... Ha... Uuh!"
Namun akibatnya sangat fatal...
Jatuhnya Ganesha tanpa daya setelah bentrok terakhir... tepat... masuk diputaran jurus Gasing Maut Buntaran...
Bayangan kuning tertelan oleh putaran.... tersedot masuk... bagaikan buih gelombang ditelan badai.... Ikut berputar... Menyatu.... Diantara tawa kemenangan dari Buntaran yang membahana...
Semua yang hadir menjadi cemas... Tidak bisa bergerak menyelamatkan atau melakukan sesuatu....
Mereka semua paham... Bahwa detik-detik pertempuran hidup dan mati sedang berlangsung...
Ikut dalam gelanggang masuk akan berakibat fatal...
Untung saja Kinanti dengan sigap melepas selendang jingganya menjerat tubuh Kemilau Kemuning yang melayang ke arah gelanggang pertempuran...
Dijerat, dilibat... dan sekali tarik tubuh Kemilau Kemuning kembali terbang dan jatuh tepat di pelukan Kinanti...
Tangis Kemuning pecah... kecemasan hatinya melihat Ganesha jatuh tak berdaya, membuka semua rahasia perasaan hatinya...
Kemilau Kemuning ternyata diam-diam telah mencintai Ganesha...
Kinanti mengerti benar perasaan gadis muda ini... jatuh dipelukannya lalu dihibur dan dikuatkan....
" Uuhhh.... Aaaaaaa!" suara keluhan dan teriakan yang keras terdengar, membuat yang hadir tersentak hatinya...
Semula sudah berkesimpulan bahwa Ganesha akan tewas dalam pertempuran ini, namun...
apa yang terjadi....
Bukan keajaiban.... Bukan tipu daya...
__ADS_1
Hanya kecerdikan dan ketepatan mengambil kesempatan... yang akhirnya bisa mengubah keadaan...
Benar....
Ganesha terpental terbang tinggi menembus awan karena gabungan pukulan Bara Neraka dan Badai Es milik Buntaran....
Ganesha terkena pukulan itu, namun kekuatan daya tahan tubuh Ganesha lebih tinggi akibat gemblengan alam di Pulau Kabut Sirna... Tahan panas... Tahan dingin.... Tahan racun...
Saat ia turun kembali, dirapalnya jurus pamungkas miliknya... Ajian Hening Sukma... Ia membuat diri dan jiwanya tenang, pasrah dan berserah diri kepada Tuhan.
Ia jatuh kebawah seperti sebuah kapas ringan yang bisa dengan mudah diterbangkan angin... melayang jatuh... dan dengan mudah tersedot putaran ajian Gasing Maut Buntaran...
Karena ajian kepasrahannya itu... tubuh Ganesha sudah tidak dikendalikan oleh dirinya lagi... Alam dan kuasa Tuhan yang mengendalikan, alam dan Tuhanlah yang membangkitan kekuatan dahsyat yang tersembunyi... yang keluar dan memancar...
Ganesha dalam bentuk bayangan yang mengeluarkan cahaya putih cemerlang terus berputar mengikuti pusingan Gasing Maut... perlahan... lahan... menyesap bayangan Naga Hitam Raksasa.. menyerap semua ilmu hitam yang menjadi dasar semua ajian dan jurus Buntaran.... tak berhenti.... terus....
menghantam tak lepas... dan kemudian memeluk ketat tubuh Buntaran yang sudah merayakan kemenangannya... terlalu cepat?
Cahaya putih cemerlang memasuki tubuh Buntaran membuat dirinya terbelalak terkejut bersama rasa dingin yang menyergap tubuhnya.... menusuki tulang.... membekukan jantung!
Terus berputar....
Terus memancar terang...
" Aaaaaa.... ," jeritan Buntaran karena di balik bayangan cahaya cemerlang yang berputar, nampak ke dua lengan Ganesha terkembang dan kemudian mengunci mati tubuh Buntaran yang kembali ke ujud aslinya...kemudian...
jatuh bersama dari ketinggian ke tanah yang segera mengepulkan debu.
" Bruuukkkk.... Bruukkkk..!" jatuh berdebuk, tidak ada yang bergerak... Tidak ada perubahan... Tidak ada pergerakkan....
Santika, Lingga dan Ludiro secepat terbang, melesat bersamaan ke arah mereka jatuh!
Lima tombak di depan tubuh Buntaran dan Ganesha yang jatuh.
Mereka tidak menemukan luka apapun.
Mereka tidak melihat percikan atau bekas lontaran darah karena luka..
Hanya... dua tubuh yang terbujur diam...
Semua terdiam... angin berhenti bertiup...
suara alam seperti ikut mati!..
.........
" Tidakkkkk.... !" jeritan pilu yang membuat suasana menjadi bergetar...
Tubuh wanita yang berlari ke arah dua tubuh yang terbujur diam... Rambutnya yang terurai lepas menutupi wajahnya yang cantik dan bersimbah air mata... saat ia akan menubruk tubuh Buntaran, tiba-tiba tubuh seperti tersengat...
Matanya liar berputar... dan
Badannya cepat berputar... lalu berlari cepat melupakan tubuhnya yang telah mengalami perubahan... Namun semua orang tahu... Wanita itu adalah Alamanda, istri Banara atau permaisuri Negeri Asoka!
Ia berlari secepat bisa...
Menuju ke arah tubuh raja Asoka yang tergeletak tewas... tanpa melihat dan memperhatikan potongan senjata, golok, tombak yang berserakan di antara tubuh-tubuh yang tewas itu...
Karena buru-buru, kakinya tersangkut ujung kain yang dipakainya... kurang beberapa langkah dari mayat Raja Asoka.... ia jatuh limbung dan...
" Creeppp.... Kanda Banara...," suara ujung tombak memasuki lambung dan jerit terakhir memanggil nama Raja Asoka...
tersungkur tepat di atas mayat Banara.
Alamanda bergetar sebentar dan kemudian diam untuk selamanya, begitu tragis!
Semua mata terpaku menyaksikan akhir yang tragis bagi permaisuri Alamanda...
Tiba-tiba tanpa tahu dari mana arahnya... Sepasang burung Kedasih terbang dengan menyisakan rintihan yang mengambang dan akhirnya hilang ke arah Utara!
**
Semua mata masih memandang miris kepada mayat Raja Banara dan Permaisuri Alamanda....
Hanya satu orang saja yang tetap memperhatikan keadaan Ganesha dengan cemas dan khawatir... Kinanti... sang ibunda yang tak lepas memandang ke arah mereka berdua jatuh...
" Gan... Ganesha.... anakku... !" suara Kinanti lirih hampir tidak terdengar... namun cukup membuat Kemilau Kemuning memalingkan mukanya yang penuh air mata.... mereka melihat kepala Ganesha bergerak dan kemudian membuka matanya...
Tanpa dikomando lagi, spontan berdua langsung melesat menubruk ke arah Ganesha yang telah sadar kembali...
Awan hitam tersibak dan pergi begitu saja...
Membuat senja yang semula pekat bau anyir darah... menjadi sedikit indah....
Teriakan berulang tak pernah berhenti hingga senja rebah menjadi gelap dan kemudian digantikan cahaya obor dari ribuan prajurit, ribuan rakyat bersorak-sorai merayakan kemenangan dan mengelu-elukan pahlawan baru Pangeran Ludiro dan Ganesha...
Ganesha si Pendekar Siluman yang berhasil mengalahkan penyantron dari Negeri Sangga Langit...
Pangeran Ludiro yang berhasil menyelamatkan negeri Asoka dari ke hancuran...
maka layaknya... jika seruan Wijaya disambut suka cita dan bahagia...
" Pangeran Ludiro... Raja baru Asoka.... Hidup Baginda Ludiro... Hidup Asoka... Hidup Asoka... !"
Tanpa ambisi hanya karena kecintaan akan kejayaan tanah dan negeri leluhur... akhirnya
Ludiro dinobatkan menjadi raja Asoka malam itu juga.
Raja baru yang akan membawa negeri Asoka kembali kepada kejayaan masa lalu.
Negeri Asoka yang besar dan jaya!
*
" Ibu dan Ayah, ananda mohon ijin untuk menepati janji kepada Kakek Guru Pradalbo sekalian menjemput Larasati...," suara lembut dan tegas dari Ganesha ketika menghadap Kinanti dan Santika ayah ibunya.
Disampaikan niatnya... Dan kedua orang tuanya tidak bisa menolak kemauannya...
Ganesha sudah dewasa mampu menentukan pilihan yang terbaik bagi dirinya....
Pilihan yang akan menjadi tanggungjawab dirinya selanjutnya...
Kinanti tidak terlalu kecewa, karena ia melihat Ganesha ditemani Kemilau Kemuning, gadis cantik baik hati pergi ke Pulau Kabut Sirna!
Gadis putera hartawan Citragada yang ia tahu sangat mencintai Ganesha.
Karena cintanya, ia rela berkorban demi kebahagian Ganesha.
***
Pulau Kabut Sirna yang tidak sembarang orang bisa menemukan keberadaanya.
Pulau misterius yang selalu diselimuti angin topan dan badai...
Tidak mudah hidup di sana...
Tidak mudah tinggal di sana...
Namun saat matahari menggantung rendah di cakrawala dan langit terang berwarna kesumba...
Nampak seorang pemuda tampan dengan selalu tersenyum, muncul dari balik ombak di temani di kanan dan kirinya dua gadis cantik yang asyik bermain di pucuk-pucuk gelombang menikmati senja yang indah dengan kebahagian, kesadaran dan keindahan cinta...
Demikian akhir cerita dari Serial Pedang Pemikat Sukma, Pendekar Jari Sakti dan Pendekar Siluman...
Terima kasih atas like dan komennya...
Telajung, 22 Januari 2019..
Sampai jumpa dalam kisah-kisah yang lain.
Segera!
__ADS_1
Jagat Alit