
CHAPTER 34
Asoka di Serbu
Tentara Sangga Langit dengan kekuatan penuh terus merangsek menuju ke ibukota. Karena gembira, serangannya tidak menemui halangan dan semua berhasil dilucuti dan disapu bersih membuat mereka terlena, hilang kewaspadaannya.
Terus menuju ke ibukota dengan tentara ribuan jumlahnya. Tanpa pernah menyadari ada puluhan pasang mata menyaksikan tentara itu dari balik tempat aman yang tersembunyi.
Di mana tentara Sangga Langit muncul dan bergerak maju, pasangan mata selalu mengawasi dengan hati-hati.
Kedatangan tentara Sangga Langit mencapai luas daerah pesisir Utara bagaikan sebuah ceruk atau lubang jalan yang dilalui tentara itu.
Sebagai ujung lubang adalah kapal-kapal besar dan puluhan kapal kecil yang bersandar.
Kapal-kapal besar yang kali pertama datang telah menyalakan langit Asoka dengan tembakkan meriamnya.
*
Tembakan meriam yang datang bagaikan hujan di malam yang gelap, membuat langit Asoka benderang seperti sebuah perayaan dan pesta kembang api.
Para tentara Asoka yang menjaga di pos-pos strategis tidak mampu memberikan perlawanan dan dengan mudah disapu bersih. Tentara yang masih terlihat belum sadar benar, masih terjerat mabuk, karena pesta yang berlebihan merayakan naiknya Banara sebagai raja baru.
Kemenangan Banara adalah kemenangan mereka juga. Mereka yang belakangan tahun ini telah mengabdi kepada Banara, meskipun raja sesungguhnya adalah Baruna.
Saatnya berterang, tanpa harus melakukan tindakan sembunyi-sembunyi.
Bergembira, berpesta pora merayakan kemenangan tanpa pernah menyangka bahwa Buntaran telah melepas panah api membelah langit Asoka menuju arah Barat Laut, dimana pasukan besar Negeri Sangga Langit menunggu kode penyerbuan.
Kapal-kapal perang itu diam tersembunyi dibalik kabut malam, dan setelah tanda itu muncul, mereka serentak menyerbu Asoka dari pantai Utara.
*
Kilatan cahaya dan ledakkan meriam kapal, tidak lepas dari mata-mata Wijaya yang ditugaskan menjaga sepanjang pantai.
Langit Asoka penuh kilatan cahaya layaknya kembang api di malam perayaan.
Salah satu letikkan api meluncur pesat dilangit Asoka sambung menyambung hingga paling akhir melesat ke arah Grha Hening Jiwa. Tak berselang lama, panah api balasan memberikan komando bagi semua pasukan pendam Pangeran Ludiro bergerak sesuai perintah dan siasat yang telah disusun rapi.
Gerakan diawali dari ujung pesisir menutup leher ceruk di mana tentara Sangga Langit datang menyerbu.
*
Tanda untuk bergerak sudah dilepas dan dengan jelas ditangkap masing-masing yang diserahi tanggung jawab.
Randu Alas pemimpin yang diserahi tugas untuk meringkus semua tentara Sangga Langit yang berada di kapal dan menguasainya sepanjang pesisir pantai Utara dan sebagai pintu pelarian tentara musuh.
*
Para tentara yang menjaga kapal masih terdiri dari ratusan tentara yang bersenjata lengkap. Kegembiraan meliputi mereka juga. Karena merasakan perang kali ini sangatlah mudah. Musuh seakan tidak sebanding dengan mereka. Itulah yang membuat mereka lengah!
Mereka tidak menyadari, ada banyak bayangan hitam yang berenang mendekati kapal seperti ikan hiu pemangsa.
Mereka menyelam dari tempat tersembunyi kemudian muncul seperti hantu mengepung semua kapal yang bersandar di pesisir pantai Utara Asoka!
Para tentara khusus yang menguasai pertempuran darat dan laut. Selain mempunyai kemampuan dan menguasai ilmu perang. Rata-rata mereka mempunyai bekal ilmu silat yang tinggi.
Hampir bersamaan, mereka melinting ke udara. Menebar balasan totokan ataupun mencabut maut bila mendapat perlawanan.
Para penjaga kapal, tumbang tanpa perlawanan berarti. Yang melawan terpaksa dilumpuhkan. Hanya dengan waktu sepeminuman teh yang yang ada dikapal semua sudah dibereskan. Baik yang pingsan, terluka maupu yang tewas menjadi tawanan kini.
Bajunya dilucuti, dan dipakai oleh tentara pendam.
Randu Alas memberikan tanda ke langit. Tugas pertama menguasai pesisir berjalan sukses.
Jati Londo menerima tanda itu, pasukannya bergerak menyergap pasukan dari belakang. Lubang bubu sudah tertutup, selanjutnya merangsek menyapu bersih dari arah belakang yang tidak diduga-duga oleh musuh!
Siasat yang luar biasa dari Pangeran Ludiro. Pasukan Sangga Langit bagaikan masuk perangkap kini. Yang depan terus merangsek untuk menguasai Asoka, tanpa pernah tahu bahwa pasukan pendukungnya yang ada di belakang sudah dikuasai lawan.
Pasukan Jati Londo terdiri para prajurit setia yang mempunyai keahlian berperang dan sebagian para pendekar yang berhasil dikumpulkan dan dimobilisasi turun bela pati untuk hidup matinya negeri Asoka.
Mereka terus bergerak ke depan mengejar, sepanjang jalan jumlah pasukan itu semakin banyak, karena rakyat yang tersisa ikut sukarela menjadi bagian dari peperangan itu!
*
Raja Gomora adalah ahli siasat dan ahli perang. Karena ambisinya menguasai negara lain, sudah banyak negeri kecil dan lemah telah dicaplok untuk dikuasai atau dijajahnya. Mendengar penuturan Restu Bumi, yang menyatakan bahwa Negeri Asoka ini sekarang telah lemah dengan bukti mereka berhasil menculik dan menawan rajanya, membuat Raja Gomora bernafsu sekali untuk segera menaklukan Asoka, ia yang cerdik dan licin tidak merasa bahwa ia hanya diperalat oleh Restu Bumi untuk membalas dendam.
*
Raja Gomora sebenarnya sudah sedikit curiga dari mulai awal serbuan kali ini, mengapa semua berjalan begitu mudah?
Namun ketika ia melihat bahwa tentara musuh dalam keadaan setengah mabuk karena habis berpesta dan sehingga mudah sekali dilucuti. Ia maklum kini. Itulah yang menjadi penyebab serbuan kali ini berjalan dengan lancar.
Mereka lengah.
__ADS_1
Mereka lemah.
Menghadapi situasi itu,
kecurigaannya Gomora akhirnya lenyap.
*
Semakin mendekati istana, kecurigaannya kembali muncul. Ia heran, negeri sebesar Asoka yang dulu, ia tahu mempunyai bala tentara besar bisa berubah seperti ini.
Sambil terus maju, ia berusaha memberikan perintah kepada Restu Bumi, untuk melakukan komunikasi dengan pasukan yang ada dibelakangnya.
Apa yang terjadi komunikasi tidak mendapatkan balasan?
Ada yang tidak beres rupanya!
Melihat gelagat yang mencurigakan. Raja Gomora mendapatkan firasat buruk. Dan sebelum terlambat, ia mengambil keputusan yang cepat dan tepat.
" Restu, ringkus raja sialan itu, kalau melawan bunuh saja!" perintah kepada Restu Bumi. Tanpa membuang waktu, Restu Bumi melaksanakan perintah raja dengan berkelebat cepat mendahului, menyerbu istana, yang dulu pernah menjadi impiannya. Namun semua gagal, karena ulah para pendekar.
Untuk kali ini, ia tidak mau gagal lagi.
Ia berlari cepat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya menuju istana, tempat yang dulu sering dikunjunginya. Ia tidak tahu bahwa raja yang ia tawan sudah meninggal dunia dan digantikan oleh raja baru!
*
Di istana Asoka. Karena sibuk dengan penobatan dirinya me jadi raja. Malam itu ia baru teringat dengan nasib Alamanda yang di tawan Buntaran entah dibawa kemana ia tidak tahu?
Baru saja ia berniat memanggil Baskoro untuk melacak Alamanda, ia dikejutkan dengan suara ledakan dan kilatan warna terang di langit Asoka.
Asoka diserang.
Persis yang dikatakan Buntaran semalam. Ancamannya bukanlah isapan jempol.
Sangga Langit telah menyerbu Asoka!
Banara adalah rajanya!
Secepat kilat ia mengumpulkan pembantu-pembantunya. Usaha penyelamatan Alamanda istrinya untuk sementara ia kesampingkan dulu.
Jumala, Baskoro, Nyai Puspa Sagopi, dan para pembantunya yang lain segera dikumpulkan dan diberi perintah untuk secepat mungkin menyiapkan tentara dan para anak buah persilatan untuk menghadapi serbuan tentara Sangga Langit.
Istana Asoka diperkuat, dan dikirimkan pasukan untuk segera menyambut serbuan tentara Sangga Langit.
Semua bergerak cepat menuju pos masing-masing.
Restu Bumi yang masih hapal sekali keadaan kerajaan Asoka langsung menyerbu ke titik terlemah benteng istana dan menyebar maut dengan melontarkan pukulan Bara Neraka.
Para tentara yang menjaga istana, terpanggang panasnya tanpa sempat mengeluh dan lepaslah selembar nyawanya.
Restu Bumi bergerak dengan cepat menuju kediaman raja. Ia disambut oleh pasukan khusus istana yang bagi Restu Bumi bukanlah penghalang yang berat.
Hanya dengan kibasan tangannya yang menderu panas, semua bisa dipukul mundur.
Ia melihat Raja Asoka dari kejauhan. Itulah tujuan utama serangannya kali ini. Ia harus bisa meringkus raja Asoka.
Namun betapa terkejutnya Restu Bumi. Ketika raja memutar tubuhnya.
Raja yang berdiri di depannya adalah Banara, muridnya dulu dengan pedang baja kilat di tangan kanannya.
Banara segera melolos pedang baja biru. Melontarkan jurus pedang kilat dan membarengi dengan pukulan tangan kiri yang mengeluarakan hawa panas bergulung dari Ajian Bara Neraka.
" Ha... Ha... Ha.... Banara... Banara... mainan segala cakar ayam kau tunjukkan kepadaku," sambil tertawa dan mengejek Banara, Restu Bumi bukan mengelak akan serangan pedang kilat, malah memapaki gerakan pedang itu dengan tangan terbuka. Tenaga yang keluar dari sepasang tangan merah itu, adalah pukulan yang sama dengan yang dimilikinya bahkan lebih dahsyat, Bara Neraka.
Kepalanya yang botak dengan wajah putih pucat, badan kurus menyusut membuat Banara tidak mengenali bekas gurunya sendiri.
Ia hanya merasa heran mengapa lawannya bisa mempunyai jurus seperti dirinya? Juga mengenalinya. Ia tidak pernah menyangka yang dihadapinya adalah bekas gurunya Hrastu Bhumi, yang keadaannya sekarang jauh berubah. Semula berkepala botak berwajah merah tinggi besar menjadi seperti ini. Siapa yang tahu?
Banara merasakan kerepotan melayani serangan yang sama persis ,dengan ilmunya. Yang lebih sial lagi, pedang baja kilatnya tidak mampu melukai tubuh pendeta pucat ini. Tusukannya selalu memantul meskipun tepat mengenai perut yang kerempeng.
Tebasnya selalu meleset hanya dengan kibasan tangan yang mengeluarkan tenaga panas dari ujung bajunya yang longgar.
Hingga suatu ketika Restu Bumi sudah puas mempermainkan mangsanya. Tubuhnya melenting tinggi, tangan kiri menangkap pedang, tangan kanan mengembangkan jemarinya menguarkan tenaga dalam panas Bara Neraka tingkat delapan.
" Kraakkk... Aaaa... !" pedang baja kilat ditangkap dan dipatahkan.
Tangan kanan mengeluarkan cahaya merah panas, bertemu dengan tangan kiri Banara, ajian yang sama namun beda tingkat tenaganya.
Banara atau raja Asoka tidak mampu menahan serangan itu, ia menjerit ngeri, ketika cahaya merah itu lolos dari pertahanannya dan menghantam dadanya. Rasa sesak dan panas menyengat dadanya.
Ia terpental jatuh, dan muntah darah terluka dalam sangat parah. Ia tidak menyangka penyerangnya bertindak keras kepadanya.
" Siapa... Kamu... Mengapa mencelakaiku?" tanyanya gemetar sambil menahan sakit. Kemudian ia terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya.
__ADS_1
" Ha... Ha... Ha... Kamu tidak mengenaliku Banara?" suara tawa itu membangunkan ingatannya. Cara tertawa yang khas, cara memanggil yang sangat ia kenali.
Dengan nafas satu-satu menahan nyeri, Banara masih mampu mengingat satu nama sebelum akhirnya ia pingsan.
" Gu... ru... Hrasss.... Ah," suaranya putus dan pingsanlah Banara Baginda Raja Asoka yang baru.
*
Baskoro, dengan Nyai Sagopi, segera menggerakkan teman-temannya.
Ki Warok Samber Nyowo, Ki Walang Sangit, Baronang Sakti dan para anak buahnya yang terdiri para bajak, rampok, pembunuh, berharap untuk berebut jasa. Dengan harapan mereka mendapat tempat di mata Raja Baru Banara. Siapa tahu nanti jika musuh dapat diusir akan diberikan kedudukan atau sekecil-kecilnya kebagian hadiah.
Dengan semangat mereka menyongsong tentara musuh yang dipimpin oleh Raja Gomora Sakti yang mengamuk.
Pasukannya yang bergerak bagaikan air bah bertemu dengan pasukan bawah tanah yang telah disiapkan oleh Banara.
Terjadi pertempuran seru. Tentara lawan orang-orang persilatan.
Tentara musuh bergerak rapi, maju dan bertahan sesuai dengan komando pimpinannya.
Tentara berkuda, tentara bertombak, tentara berpedang, juga tentara berpanah api.
Tentara berpanah, melepas anak panah api, menyerang benteng istana dengan tujuan membakar istana.
Yang dibalas dengan pasukan panah yang disiapkan Jumala.
Genderang terus ditabuh.
Terompet terus ditiup.
Membakar amarah.
Membakar nyali.
Membakar Asoka yang sebelumnya terlelap tidur.
*
Raja Gomara Sakti mengamuk diatas kudanya. Pedang yang besar dan bermata dua, berkelebat, dan melayanglah nyawa tentara Asoka yang sial di depannya.
Melihat ganasnya Raja Sangga Langit membuat Ki Warok Sambar Nyowo segera melesat mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak. Badannya yang tinggi besar, hitam mukanya seram dan kumis tebal melintang tampak beringas.
" Hiaaaa.... Werr... Werr... ," ia berteriak kencang sambil memutar senjatanya yang khas, lilitan tali baja berbandul bola duri, merangsek ke arah Gomora.
Ki Walang Sangit menemukan musuh Gonjala yang kurus tinggi berkulit hitam.
Ki Walang Sangit yang bertubuh pendek kecil berkulit hitam juga. Menggunakan golok berkepala ular sebagai senjatanya. Tangan kirinya diisi tenaga dalam Lautan Api bertemu ajian Halilintar Membakar milik Gonjala. Sama-sama perbawa panas saling menyerang mencari kelengahan dan titik lemah lawan.
Ki Baronang Sakti menghadapi musuh Gonjali kembaran dari Gonjala. Badan Ki Baronang Sakti yang gempal pendek dengan senjata dayung baja, dilambari ajian Ombak Merobek Laut, merangsek Gonjali yang bergerak lincah sambil melancarkan ajian Semburan Es Menjerat Jiwa. Dayung baja yang membawa gelombang udara dingin beradu dengan ajian Semburan Es, beradu memercik butiran dan serpihan es ke delapan penjuru.
Nyi Dyah Sagopi bertempur dengan Dewi Wilis si cambuk ekor tujuh. Seumuran, sama-sama cantik, seronok, genit dan beracun.
Dewi Wilis serangannya beracun melalui cambuk tujuhnya yang mengeluarkan panas dan beracun. Bertemu dengan Pedang tipis yang berujung racun dan tenaga dalam Semburan Cobra Maut melalui tiupan dan ludah dari Nyai Sagopi. Udara disekitar menjadi berkabut dan berbau amis.
*
Tentara Sangga Langit bertempur campuh dengan pasukan Asoka yang dikomandoi oleh Jumala, dan Baskoro melalui orang-orang persilatan.
Baskoro mengamuk untuk menunjukkan jasa. Tentara Sangga Langit yang sial, tewas dengan tubuh kehijauan terkena ajian Kelabang Hijau Seribu Racun. Gerakannya trengginas dan menebar maut. Tentara adalah orang yang memiliki kemampuan olah perang, gerakan silat adalah gerakkan yang mendasari olah perang dan keprajuritannya. Menghadapi Baskoro, bagaikan mereka menyetor nyawa saja.
Melihat gelagat itu, Raja Gomora yang bertempur didekatnya menjadi cemas, bisa habis tentaranya jika dibiarkan terus. Untung ada serangkum angin besar datang dan mengeluarkan ringkik suara naga besar.
Bayangan tinggi besar berpakaian hitam ringkas si Buntaran meluncur menghalangi sepak terjang Baskoro.
" Ah... kamu juga ternyata. Biang keroknya!" seru Baskoro ketika melihat Buntaran yang memotong gerak amukkannya.
" Ha... Ha... Ha... memang aku yang mengobrak-abrik negaramu," ejek Buntaran sambil melepaskan ajian Bara Neraka yang membawa angin panas bergulung menghalau gulungan tenaga hijau beracun.
Sama-sama muda. Sama-sama berilmu tinggi. Sama-sama tampan gagah.
Melepas pukulan yang mengeluarkan suara menderu-deru. Tentara yang naas terjebak dalam pusaran hawa racun Kelabang Hijau, jatuh terkapar, berkelojotan dengan tubuh berubah hijau dan semua lubang di tubuhnya mengeluarkan darah hijau kehitaman mengantarkannya menemui malaikat maut.
Demikian juga pukulan Bara Neraka milik Buntaran, lolos menghantam Baskoro, malah lebih celaka, karena pukulan itu tidak berhenti di situ saja. Satu lolos terus melaju menghajar sasaran di belakangnya. Tak ayal terdengar jerit kematian susul menyusul di arena pertempuran.
Perang campuh yang luar biasa.
Malam yang terus mengelincir.
Pagi berembun mulai muncul.
Asoka yang semula hening.
Asoka yang kemudian membara.
__ADS_1
Menjadi ladang pembantaian dan pesta poranya burung bangkai, yang melayang rendah mengintai dari langit yang mulai terang mengincar mangsanya!
Bersambung....