
CHAPTER 26
Bertemu Untuk Berpisah
Pagi menggantung manis di hiasi suara beburungan yang asyik berkicau bersahutan
Embun masih bersisa di ujung dedaunan, belum luruh benar
Seperti selimut kabut sebagian masih terentang di antara sinar mentari yang keperakkan!
Suara
seruling itu begitu menyayat hati, mengiris dan mengoyak kenangan yang
paling tersembunyi. Sebuah kerinduaan yang begitu mendamba.
Mentari
yang semula mulai menerobos jari jemarinya menembus sisi bukit itu,
menjadi enggan. Dan bersembunyilah ia di balik mendung yang tiba-tiba
datang, merubah muram pagi ini.
Ganesha
memainkan serulingnya dengan segenap perasaan, seluruh jiwa menyatu
dalam harmoni dan irisan lagu yang begitu menyentuh. Ia terlena dalam
permainannya, karena perasaan rindunya begitu menggebu, rasa sepi yang
ngelangut... ah!
Hingga
kewaspadaannya berkurang. Ia tidak tahu ada sebuah kereta kuda yang
indah berhenti tidak jauh dari tempatnya bermain seruling gading.
Irama
dan nyanyian tanpa kata, berhasil memikat sepasang mata besar dan
bening, turun dari kereta dan berindap mencari sumber suara. Tubuhnya
indah semampai, wajahnya cantik jelita, berdandan seperti puteri
laiknya.
Rambutnya panjang hitam indah. Saat ini di sanggul dengan
ikatan tali rambut berwarna kuning keemasan. Pakaiannya warna hijau
pupus, membungkus lekak-lekuk tubuh indahnya.
Matanya bulat besar
berkerjap-kerjap, ada lelehan air mata bening di sudut matanya. Ia
terhipnotis, ia merasakan hatinya terkoyak oleh kerinduan yang begitu
menikam. Sehingga tanpa sadar dan terpesona berdiri terpukau di balik
sebuah pohon Jati di pinggir bukit itu.
Cuping hidungnya yang kecil indah bergerak, bibir tipisnya yang cantik bergetar menahan tangis.
Larasati
gadis itu tertawan oleh suara seruling yang di mainkan dengan penuh
perasaan oleh Ganesha yang sedang duduk santai menghadap matahari sambil
bersandar di sebatang pohon Randu Alas yang besar. Asyik masyuk,
memainkan sebuah kerinduan kepada orang tua yang ingin di temuinya.
Irama
dan suara itu masih mengalun lambat, dalam menarik sukma, berenang
dalam kerinduan yang menari-nari, kerinduan yang melambai-lambai. Tanpa
sadar, Larasati si Mawar Berduri dan Beracun dari Timur jatuh bersimpuh
dan menyebabkan sebatang ranting kecil terinjak patah, dan lenyaplah
suara seruling itu..karena dengan cepat Ganesha berbalik mencari asal
suara itu.
Dua
pandang mata bertemu. Dua hati bergetar. Saling mengukur dan saling
menilai. Sama-sama terpesona dan terjerat suasana sunyi yang hangat.
Mata yang lebar dan senyum yang tercetak menyadarkan Ganesha
"
Hai, adik manis. Kenapa kau menangis?" tegur Ganesha polos karena ia
melihat airmata meleleh di pipi gadis cantik yang menatapnya tidak
berkedip.
Larasati
terkejut sekali, ia cepat-cepat berusaha menyembunyikan tangisnya.
Dengan memalingkan muka dan menghapus airmata dengan ujung bajunya.
Larasati mendengar teguran polos tanpa sedikitpun ada nada kurang ajar atau merayu, menjadikan hatinya merasa aneh.
Sekali
lagi di lihatnya wajah pemuda tampan ini, yang masih tersenyum lebar
kepadanya. Tatap matanya biasa saja. Menegur layaknya kepada seorang
sahabat lama. Senyum Ganesha mempengaruhi hati Larasati.
"
Hai, siapa bilang aku adik dan lebih muda darimu! Apa..apa.. kamu sudah
kakek-kakek?" balas Larasati tidak mau kalah. Setelah mengatakan itu,
semua kesedihan dan rasa sendu di hatinya lenyap sudah. Bibirnya yang
tipis indah merengut kesal. Melihat itu Ganesha, malah tertawa
terpingkal-pingkal.
" Apanya yang lucu?" tegurnya marah.
Ganesha
tertawa terpingkal-pingkal, kesedihan hatinya juga hilang. Seperti awan
gelap, mendung yang tertiup angin. Gadis cantik yang bersikap
angin-anginan ini, seperti angin sejuk meniup semua rasa kangennya.
Saat merengut dan marah, gadis itu semakin cantik, hingga tidak sadar Ganesha terpana!
" Hai, genit..kamu sedang melihat apa..malah bengong?" suara gadis cantik itu melecut lamunannya. Aih, Ganesha tertangkap basah.
" Kamu cantik kalau marah," jawab Ganesha jujur. Ia mengatakan keadaan yang sebenarnya tanpa ada maksud merayu atau kurang ajar.
Larasatipun
karena pengalamannya berhubungan dengan laki-laki, dapat menangkap
kejujuran dari ucapan pemuda tampan yang murah senyum ini. Ia tidak
marah. Karena ia menangkap kejujuran yang tersirat dari balik ucapan
pemuda itu. Hatinya berbunga, siapa sih, wanita yang tidak ingin dipuji
kecantikannya.
Hatinya berbunga, tapi luarnya sengaja ia buat semakin galak dan judes.
" Dasar mata keranjang," sungutnya pura-pura marah.
Ganesha yang memang aslinya polos tidak pernah berprasangka buruk sama orang lain.
Menjadi
terkejut melihat sikap gadis kecil cantik. Hatinya menjadi tidak nyaman
untuk lebih lama bersama dengan gadis yang pemberang itu.
" Maaf... maafkan aku.
Aku tidak bermaksud kurang ajar," Ganesha mohon maaf, dan segera
berbalik untuk melanjutkan perjalanannya.
Tanpa berani menengok lagi. Langkahnya lebar dan cepat.
Larasati terkejut
sekali, ia tidak pernah menyangka, bahwa pemuda ceriwis tampan itu,
bersikap seperti itu. Padahal ia hanya berniat menggoda saja. Ingin
__ADS_1
berteriak memanggil, dirinya malu. Apalagi, ingin mengejarnya.
Ah... hatinya sangat kesal. Dan ia hanya bisa membanting-banting kakinya, karena keisengannya malah merugikannya.
Aduh... siapa pula
namanya, pemuda tampan itu? Mereka belum sempat berkenalan. Sesal
Larasati, sambil bersungut-sungut kembali ke arah kereta mewahnya.
Melanjutkan perjalanan dengan hati kesal.
Pagi terus beranjak naik menerangi seantero bukit, menebar sinar, menebar kehangatan.
Ganesha setelah merasa
jauh jaraknya dengan gadis cantik galak itu, segera merapal ajian
Terbang Meniti Angin, ajian ringan tubuhnya untuk mempercepat perjalanan
ke arah barat, mencari asal usul dirinya. Ia berhasil memperoleh
keterangan bahwa Gunung Panca berada di ujung barat sana. Masih satu
bulananlah jaraknya jika ditempuh dengan berkuda. Dengan tiga kali
beristirahat dan malam hari beristirahat penuh tanpa melanjutkan
perjalanan.
Tapi dengan hitungannya, jika ia merapal ajiannya mungkin kecepatan perjalanannya melebih jarak yang ditempuh oleh seekor kuda.
Ia sebenarnya ingin
segera tahu dan bertemu orang tuanya, namun ia juga ingin merasakan,
bahwa perjalanan ini adalah perjalanan pertamanya ke dunia ramai.
Setelah hampir 10 tahunan lebih berada di pulau Kabut Sirna bersama
kakek gurunya Pradalbo.
Sesekali ia menggunakan
ajian larinya, bukan semata untuk mempercepat perjalanannya, semua ia
lakukkan hanya untuk menguji semua ilmu yang dimilikinya.
Sambil berlari, ia
mengerahkan semua indera yang ia miliki. Pendengarannya yang tajam,
mendengar teriakan pertempuran, suara seorang wanita, dan lima atau
lebih suara berat laki-laki. Tepat di sisi depan... di sebuah hutan yang
cukup lebat.
Ia melihat seorang gadis kecil yang di keroyok lima orang berbadan besar dan bertampang kasar dan seram, terlihat asing.
Ganesha
tidak lancang turun tangan, ia bersembunyi di atas sebuah cabang pohon
besar, di dekat tempat pertempuran itu. Mengamati, dan bersiap, jika ia
harus turun tangan membantu.
" Hiaa... hiaaa...,"
lengking suara gadis cilik berpakaian serba merah itu. Ganesha menaksir
umurnya tidak jauh berbeda dengan gadis kecil galak yang tadi. Aihh...
plakk, tanpa sadar dipukul dahinya sendiri. Kenapa tanpa sadar
ingatannya malah kembali kepada gadis cantik galak itu.
Sementara, lima
pengeroyok bertubuh besar itu terus merangsek seakan ingin menangkap
gadis kecil serba merah itu yang bergerak lincah dan tanpa takut.
" Hahaha... kelinci
merah cantik yang gesit. Ayo, tangkap jangan main-main saja," teriak
yang berkumis melintang bermuka codet di pipi kirinya memberi perintah.
Logat suara yang asing. Sepertinya ialah yang menjadi pemimpin dari
empat orang sangar lainnya itu.
Melihat tampang-tampang
orang itu, Ganesha sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa, 5 orang itu
seekor kelinci yang mudah ditangkap.
Ganesha melihat gerakan gadis
itu, yang gesit dan lincah, gerakan silat yang cekatan dan mempunyai
kecepatan tinggi. Gadis merah yang mempunyai kesaktian yang tidak boleh
di pandang ringan meski masih terlihat kurangannya pengalaman bertempur.
Seperti dirinya. Serangan awal pengeroyoknya kadang membuatnya masih
bingung. Namun karena dasar gerakkan ilmunya adalah ilmu tingkat tinggi,
beberapa jurus selanjutnya ia mampu menyesuaikan dan malah balas
menyerang, tak kalah hebatnya.
Gadis baju merah itu
melolos selendang kuning yang semula melilit dipinggang rampingnya.
Ganesha salah perhitungan, ia sangka, semula gadis merah itu akan
melolos pedang beronce emas yang tersoreng di punggungnya, tapi tidak...
ia malah melepas selendang kuning sebagai senjata, yang membuat dirinya
berjarak dengan pengeroyoknya. Ia seakan tidak mau bentrok jarak dekat
dengan mereka. Tampangnya seram? Keringatnya bau? Atau... Ha... ha...
Ganesha tertawa sendiri mempunyai kesimpulan seperti itu.
" Jpreett... preett...
tar... tar..." suara selendang kuning membelah udara dan memukul,
mendesak pengeroyok mundur menjauh dari jangkuan selendang.
Berempat melolos
senjatanya masing-masing. Dua pedang, satu golok dan satunya ruyung
baja. Membuat formasi mengepung kembali, dengan tujuan meringkus atau
memotong selendang.
Serentak mereka bergerak
bersama-sama dengan gerakan lebih cepat dan bertenaga. Karena dari
suara kibasan golok. tusukan pedang dan putaran ruyung menerbitkan suara
menderu yang berarti semua serangan itu berisi tenaga dalam.
Ganesha sangat terkejut,
ia sudah ingin segera turun tangan membantu, tapi... gerakkannya
urung... dengan munculnya bayangan biru besar bagaikan garuda menerjang
ke tengah pertempuran, bergerak cepat dan mendesing sebilah pedang
panjang di tangannya, menangkis, menusuk, ke arah empat senjata yang
menyerang cepat.
" Tringg... tranggg...
wuutt... wiir...," bunga api berloncatan akibat beradunya ke lima
senjata di udara. Membuat mata si pemimpin berkumis melintang itu
terkejut. Anak buahnya hanya sekali gerakkan saja terpukul mundur oleh
seorang pemuda tampan berwajah asing berbaju longgar biru dan celana
biru tua, sudah berdiri menghalangi antara gadis berbaju merah dan empat
orang sangar pengeroyoknya. Pedang berwarna hijau panjang di pentang
lurus ke arah pengeroyok itu.
" Da... dasar, laki-laki pengecut, mengeroyok wanita muda, beraninya," tegurnya dengan logat bahasa yang kaku.
Tubuhnya tinggi besar dan gagah, semakin terlihat jantan dengan pedang di tangannya.
" Ayo, lawan aku, Buntaran, lepaslah gadis cilik ini, jika kalian masih punya rasa malu," tegurnya semakin keras.
Ganesha yang di atas
__ADS_1
pohon, melihat gerakan pemuda itu. Gerakannya indah dan dilambari tenaga
yang kuat. Gerakan pedang yang singkat, tepat dan menemui sasaran.
Sedang si Kumis melintang semakin kesal dan penasaran, teriaknya gusar,
" Dasar kalian tidak berguna, menangkap kelinci saja tidak becus," makinya kepada anak buahnya.
" Dan, kau... ," tunjuknya dengan golok besar yang sudah dihunus ke depan wajah pemuda asing itu.
" Buntaran, hah...?
Bocah yang tidak tahu diri, dan mencari mampus. Hiaaa...," Kumis
melintang meloncat melakukan serangan dengan goloknya, membuat siang
yang mulai terik, bertabur sinar golok yang berkeredep menyilaukan.
Tanpa dikomando anak buahnya merubah arah serangan mengiblat ke satu tubuh.
Buntaran yang dengan mendengus dalam, segera mengangkat pedang dan melakukan jurus pedang yang begitu cepat dan mantap.
" Nona, mundurlah!"
teriaknya sambil melakukan perlawanan.
Serangan berkelompok
yang rapi. Melakukan gerakan yang ringkas dan tepat. Serangan datang
bergelombang susul-menyusul. Semua serangan senjata mengincar semua
titik lemah Buntara.
Bergebrak hampir 15
jurus lamanya. Buntaran terkejut, menemukan beberapa gerakan menusuk dan
menangkis menggunakan pedang, sama seperti yang ia kuasai. Ilmu pedang
Putaran Angin ** Beliung,...
Tusukan bergelombang yang menyerang silih berganti, jurus yang sama, tapi dikembangkan dengan golok yang membelah bukan menusuk.
Dengan cepat Buntaran
merubah jurus yang dipakai, ia mengeluarkan jurus pedang yang sama
bahkan lebih dahsyat dilambari ajian tenaga dalam Sejuta Topan Menerjang
Gunung.
Si Kumis melintang dan empat temannya begitu terkejut, ia mengenali serangan itu. Mengenal ilmu pedang yang sama.
Buntaran melihat wajah
yang terkejut milik lawan-lawannya. Ia sudah yakin bahwa mereka berlima
pasti ada hubungannya dengan dirinya.
Sambil menyerang lebih hebat,
ditariknya sebuah panji berwarna kuning dari balik bajunya. Panji itu
berkibar bergambar Naga Merah Menelan Matahari.
Kelima orang semakin terkejut melihat panji itu.
" Mundur, ada topan badai," teriaknya memberi aba-aba mundur, segera mereka berserabutan melarikan diri, keluar dari hutan.
Semua yang dilakukan
Buntaran, Ganesha melihatnya dengan jelas. Dari pertama, Ganesha sudah
memperkirakan Buntaran pasti mampu mengalahkan pengeroyok itu. Adegan
panji yang berkibar dan yang membuat pengeroyoknya kabur melarikan diri,
ia juga tahu. Namun, entah mengapa, pandangannya selalu tak ingin lepas
ke arah gadis cantik baju merah itu. Seakan ada daya tarik yang
tersembunyi, yang memaksanya untuk mengawasinya. Ada debar-debar halus,
seakan ia pernah melihat wajah dan senjata selendang itu.
Di mana ya? Ia berusaha menggali ingatannya.
Sementara itu.
" Nona... apakah kamu
terluka?" tanyanya ramah. Buntaran terkejut melihat gadis berbaju merah
yang ia tolong. Mukanya merah, terlihat marah sekali.
" Dasar lancang, siapa sih yang butuh pertolonganmu," semburnya marah. Buntaran melengak. Ganesha yang di atas pohon tertegun.
Tanpa basa-basi dengan
kesal dan marah, gadis baju merah itu berbalik badan dan meloncat cepat
menggunakan ilmu ringan tubuhnya Menunggang Mega berkelebat lenyap.
" No... na... tungguuu!"
Buntaran gagal mencegah kepergian gadis galak ini.
Buntaran masih terbengong, memandang jauh ke arah hilangnya gadis itu.
Ganesha menjadi geli sendiri. Gadis-gadis cantik. Galak dan pemarah.
Aha... tunggu dulu.
Semula
Ganesha ingin pergi meneruskan perjalanannya. Akan tetapi niatnya
diurungkan. Karena dilihatnya lima orang yang mengeroyok tadi berbalik
dan bersikap hormat kepada Buntaran.
" Ampun, pangeran.
Siapakah Anda sesungguhnya, yang mempunyai Panji Naga dari kerajaan
Sangga Langit. Utusan khusus dari kerajaan?" tanya Si Kumis melintang
tanpa basa-basi.
Buntaran menimpakan rasa penasaran terhadap gadis galak tadi ke orang-orangnya.
" Huuhh... makanya jangan sembrono!" semprotnya marah.
" Kalian diberi tugas
apa, hah? Malah menganggu gadis pribumi di sini?" nadanya masih kesal.
Ia melihat wajah yang tersinggung di muka kelima utusan itu.
" Aku Buntaran. Murid
tunggal Guru Negara Restu Bhumi. Aku adalah anak laki-laki Menteri
Harjamurti dari Sangga Langit," jelasnya cepat.
Si Kumis dan anak buahnya terkejut, untuk saja mereka tidak jadi bentrok, ternyata pemuda itu termasuk junjungannya juga.
Tiba-tiba Buntaran
berteriak ke arah atas pohon tempat Ganesha bersembunyi. Dengan
pendengaran yang tajam, Buntaran berhasil menyirap suara nafas yang
dihela.
" Siapa disana?"
Buntaran sudah bersiap meloncat ke arah pohon yang dicurigainya.
Untung Ganesha dengan cerdik dan cekatan merapal ajian sihirnya Merupa Sejuta Raga. Huup....
Buntaran hanya menangkap bayangan seekor monyet besar yang berkeresek di dedaunan dan berayun pergi. Sambil menjerit-jerit.
" Nyiit... Nyiit... Ngukk... nguk."
Buntaran mempunyai ilmu sihir juga sebenarnya. Namun ilmu sihirnya terpaut jauh dengan yang dimiliki Ganesha.
Ia
tidak sadar bahwa Monyet besar itu adalah jelmaan Ganesha yang segera
melarikan diri, karena hampir saja tertangkap basah mencuri dengar.
Ganesha berkelebat ke arah Barat, meneruskan perjalanan. Diingatnya sosok dua gadis cantik yang sama galaknya.
Buntaran dan lima orang ternyata berteman. Dan satu lagi, Negeri Sangga Langit.
Ada urusan apa, orang-orang asing itu, datang ke negeri Asoka?
Ah... sudahlah. Ia masih mempunyai tugas sendiri.
Sekali
lagi diemposnya semangatnya, bayangan monyet sudah berubah menjadi
Ganesha lagi, melesat dengan Ajian Naga Terbang Meniti Angin
Bersambung....
__ADS_1