Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 26


__ADS_3

CHAPTER 26


Bertemu Untuk Berpisah


Pagi menggantung manis di hiasi suara beburungan yang asyik berkicau bersahutan


Embun masih bersisa di ujung dedaunan, belum luruh benar


Seperti selimut kabut sebagian masih terentang di antara sinar mentari yang keperakkan!


Suara


seruling itu begitu menyayat hati, mengiris dan mengoyak kenangan yang


paling tersembunyi. Sebuah kerinduaan yang begitu mendamba.


Mentari


yang semula mulai menerobos jari jemarinya menembus sisi bukit itu,


menjadi enggan. Dan bersembunyilah ia di balik mendung yang tiba-tiba


datang, merubah muram pagi ini.


Ganesha


memainkan serulingnya dengan segenap perasaan, seluruh jiwa menyatu


dalam harmoni dan irisan lagu yang begitu menyentuh. Ia terlena dalam


permainannya, karena perasaan rindunya begitu menggebu, rasa sepi yang


ngelangut... ah!


Hingga


kewaspadaannya berkurang. Ia tidak tahu ada sebuah kereta kuda yang


indah berhenti tidak jauh dari tempatnya bermain seruling gading.


Irama


dan nyanyian tanpa kata, berhasil memikat sepasang mata besar dan


bening, turun dari kereta dan berindap mencari sumber suara. Tubuhnya


indah semampai, wajahnya cantik jelita, berdandan seperti puteri


laiknya.


Rambutnya panjang hitam indah. Saat ini di sanggul dengan


ikatan tali rambut berwarna kuning keemasan. Pakaiannya warna hijau


pupus, membungkus lekak-lekuk tubuh indahnya.


Matanya bulat besar


berkerjap-kerjap, ada lelehan air mata bening di sudut matanya. Ia


terhipnotis, ia merasakan hatinya terkoyak oleh kerinduan yang begitu


menikam. Sehingga tanpa sadar dan terpesona berdiri terpukau di balik


sebuah pohon Jati di pinggir bukit itu.


Cuping hidungnya yang kecil indah bergerak, bibir tipisnya yang cantik bergetar menahan tangis.


Larasati


gadis itu tertawan oleh suara seruling yang di mainkan dengan penuh


perasaan oleh Ganesha yang sedang duduk santai menghadap matahari sambil


bersandar di sebatang pohon Randu Alas yang besar. Asyik masyuk,


memainkan sebuah kerinduan kepada orang tua yang ingin di temuinya.


Irama


dan suara itu masih mengalun lambat, dalam menarik sukma, berenang


dalam kerinduan yang menari-nari, kerinduan yang melambai-lambai. Tanpa


sadar, Larasati si Mawar Berduri dan Beracun dari Timur jatuh bersimpuh


dan menyebabkan sebatang ranting kecil terinjak patah, dan lenyaplah


suara seruling itu..karena dengan cepat Ganesha berbalik mencari asal


suara itu.


Dua


pandang mata bertemu. Dua hati bergetar. Saling mengukur dan saling


menilai. Sama-sama terpesona dan terjerat suasana sunyi yang hangat.


Mata yang lebar dan senyum yang tercetak menyadarkan Ganesha


"


Hai, adik manis. Kenapa kau menangis?" tegur Ganesha polos karena ia


melihat airmata meleleh di pipi gadis cantik yang menatapnya tidak


berkedip.


Larasati


terkejut sekali, ia cepat-cepat berusaha menyembunyikan tangisnya.


Dengan memalingkan muka dan menghapus airmata dengan ujung bajunya.


Larasati mendengar teguran polos tanpa sedikitpun ada nada kurang ajar atau merayu, menjadikan hatinya merasa aneh.


Sekali


lagi di lihatnya wajah pemuda tampan ini, yang masih tersenyum lebar


kepadanya. Tatap matanya biasa saja. Menegur layaknya kepada seorang


sahabat lama. Senyum Ganesha mempengaruhi hati Larasati.


"


Hai, siapa bilang aku adik dan lebih muda darimu! Apa..apa.. kamu sudah


kakek-kakek?" balas Larasati tidak mau kalah. Setelah mengatakan itu,


semua kesedihan dan rasa sendu di hatinya lenyap sudah. Bibirnya yang


tipis indah merengut kesal. Melihat itu Ganesha, malah tertawa


terpingkal-pingkal.


" Apanya yang lucu?" tegurnya marah.


Ganesha


tertawa terpingkal-pingkal, kesedihan hatinya juga hilang. Seperti awan


gelap, mendung yang tertiup angin. Gadis cantik yang bersikap


angin-anginan ini, seperti angin sejuk meniup semua rasa kangennya.


Saat merengut dan marah, gadis itu semakin cantik, hingga tidak sadar Ganesha terpana!


" Hai, genit..kamu sedang melihat apa..malah bengong?" suara gadis cantik itu melecut lamunannya. Aih, Ganesha tertangkap basah.


" Kamu cantik kalau marah," jawab Ganesha jujur. Ia mengatakan keadaan yang sebenarnya tanpa ada maksud merayu atau kurang ajar.


Larasatipun


karena pengalamannya berhubungan dengan laki-laki, dapat menangkap


kejujuran dari ucapan pemuda tampan yang murah senyum ini. Ia tidak


marah. Karena ia menangkap kejujuran yang tersirat dari balik ucapan


pemuda itu. Hatinya berbunga, siapa sih, wanita yang tidak ingin dipuji


kecantikannya.


Hatinya berbunga, tapi luarnya sengaja ia buat semakin galak dan judes.


" Dasar mata keranjang," sungutnya pura-pura marah.


Ganesha yang memang aslinya polos tidak pernah berprasangka buruk sama orang lain.


Menjadi


terkejut melihat sikap gadis kecil cantik. Hatinya menjadi tidak nyaman


untuk lebih lama bersama dengan gadis yang pemberang itu.


" Maaf... maafkan aku.


Aku tidak bermaksud kurang ajar," Ganesha mohon maaf, dan segera


berbalik untuk melanjutkan perjalanannya.


Tanpa berani menengok lagi. Langkahnya lebar dan cepat.


Larasati terkejut


sekali, ia tidak pernah menyangka, bahwa pemuda ceriwis tampan itu,


bersikap seperti itu. Padahal ia hanya berniat menggoda saja. Ingin

__ADS_1


berteriak memanggil, dirinya malu. Apalagi, ingin mengejarnya.


Ah... hatinya sangat kesal. Dan ia hanya bisa membanting-banting kakinya, karena keisengannya malah merugikannya.


Aduh... siapa pula


namanya, pemuda tampan itu? Mereka belum sempat berkenalan. Sesal


Larasati, sambil bersungut-sungut kembali ke arah kereta mewahnya.


Melanjutkan perjalanan dengan hati kesal.


Pagi terus beranjak naik menerangi seantero bukit, menebar sinar, menebar kehangatan.


Ganesha setelah merasa


jauh jaraknya dengan gadis cantik galak itu, segera merapal ajian


Terbang Meniti Angin, ajian ringan tubuhnya untuk mempercepat perjalanan


ke arah barat, mencari asal usul dirinya. Ia berhasil memperoleh


keterangan bahwa Gunung Panca berada di ujung barat sana. Masih satu


bulananlah jaraknya jika ditempuh dengan berkuda. Dengan tiga kali


beristirahat dan malam hari beristirahat penuh tanpa melanjutkan


perjalanan.


Tapi dengan hitungannya, jika ia merapal ajiannya mungkin kecepatan perjalanannya melebih jarak yang ditempuh oleh seekor kuda.


Ia sebenarnya ingin


segera tahu dan bertemu orang tuanya, namun ia juga ingin merasakan,


bahwa perjalanan ini adalah perjalanan pertamanya ke dunia ramai.


Setelah hampir 10 tahunan lebih berada di pulau Kabut Sirna bersama


kakek gurunya Pradalbo.


Sesekali ia menggunakan


ajian larinya, bukan semata untuk mempercepat perjalanannya, semua ia


lakukkan hanya untuk menguji semua ilmu yang dimilikinya.


Sambil berlari, ia


mengerahkan semua indera yang ia miliki. Pendengarannya yang tajam,


mendengar teriakan pertempuran, suara seorang wanita, dan lima atau


lebih suara berat laki-laki. Tepat di sisi depan... di sebuah hutan yang


cukup lebat.


Ia melihat seorang gadis kecil yang di keroyok lima orang berbadan besar dan bertampang kasar dan seram, terlihat asing.


Ganesha


tidak lancang turun tangan, ia bersembunyi di atas sebuah cabang pohon


besar, di dekat tempat pertempuran itu. Mengamati, dan bersiap, jika ia


harus turun tangan membantu.


" Hiaa... hiaaa...,"


lengking suara gadis cilik berpakaian serba merah itu. Ganesha menaksir


umurnya tidak jauh berbeda dengan gadis kecil galak yang tadi. Aihh...


plakk, tanpa sadar dipukul dahinya sendiri. Kenapa tanpa sadar


ingatannya malah kembali kepada gadis cantik galak itu.


Sementara, lima


pengeroyok bertubuh besar itu terus merangsek seakan ingin menangkap


gadis kecil serba merah itu yang bergerak lincah dan tanpa takut.


" Hahaha... kelinci


merah cantik yang gesit. Ayo, tangkap jangan main-main saja," teriak


yang berkumis melintang bermuka codet di pipi kirinya memberi perintah.


Logat suara yang asing. Sepertinya ialah yang menjadi pemimpin dari


empat orang sangar lainnya itu.


Melihat tampang-tampang


orang itu, Ganesha sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa, 5 orang itu


seekor kelinci yang mudah ditangkap.


Ganesha melihat gerakan gadis


itu, yang gesit dan lincah, gerakan silat yang cekatan dan mempunyai


kecepatan tinggi. Gadis merah yang mempunyai kesaktian yang tidak boleh


di pandang ringan meski masih terlihat kurangannya pengalaman bertempur.


Seperti dirinya. Serangan awal pengeroyoknya kadang membuatnya masih


bingung. Namun karena dasar gerakkan ilmunya adalah ilmu tingkat tinggi,


beberapa jurus selanjutnya ia mampu menyesuaikan dan malah balas


menyerang, tak kalah hebatnya.


Gadis baju merah itu


melolos selendang kuning yang semula melilit dipinggang rampingnya.


Ganesha salah perhitungan, ia sangka, semula gadis merah itu akan


melolos pedang beronce emas yang tersoreng di punggungnya, tapi tidak...


ia malah melepas selendang kuning sebagai senjata, yang membuat dirinya


berjarak dengan pengeroyoknya. Ia seakan tidak mau bentrok jarak dekat


dengan mereka. Tampangnya seram? Keringatnya bau? Atau... Ha... ha...


Ganesha tertawa sendiri mempunyai kesimpulan seperti itu.


" Jpreett... preett...


tar... tar..." suara selendang kuning membelah udara dan memukul,


mendesak pengeroyok mundur menjauh dari jangkuan selendang.


Berempat melolos


senjatanya masing-masing. Dua pedang, satu golok dan satunya ruyung


baja. Membuat formasi mengepung kembali, dengan tujuan meringkus atau


memotong selendang.


Serentak mereka bergerak


bersama-sama dengan gerakan lebih cepat dan bertenaga. Karena dari


suara kibasan golok. tusukan pedang dan putaran ruyung menerbitkan suara


menderu yang berarti semua serangan itu berisi tenaga dalam.


Ganesha sangat terkejut,


ia sudah ingin segera turun tangan membantu, tapi... gerakkannya


urung... dengan munculnya bayangan biru besar bagaikan garuda menerjang


ke tengah pertempuran, bergerak cepat dan mendesing sebilah pedang


panjang di tangannya, menangkis, menusuk, ke arah empat senjata yang


menyerang cepat.


" Tringg... tranggg...


wuutt... wiir...," bunga api berloncatan akibat beradunya ke lima


senjata di udara. Membuat mata si pemimpin berkumis melintang itu


terkejut. Anak buahnya hanya sekali gerakkan saja terpukul mundur oleh


seorang pemuda tampan berwajah asing berbaju longgar biru dan celana


biru tua, sudah berdiri menghalangi antara gadis berbaju merah dan empat


orang sangar pengeroyoknya. Pedang berwarna hijau panjang di pentang


lurus ke arah pengeroyok itu.


" Da... dasar, laki-laki pengecut, mengeroyok wanita muda, beraninya," tegurnya dengan logat bahasa yang kaku.


Tubuhnya tinggi besar dan gagah, semakin terlihat jantan dengan pedang di tangannya.


" Ayo, lawan aku, Buntaran, lepaslah gadis cilik ini, jika kalian masih punya rasa malu," tegurnya semakin keras.


Ganesha yang di atas

__ADS_1


pohon, melihat gerakan pemuda itu. Gerakannya indah dan dilambari tenaga


yang kuat. Gerakan pedang yang singkat, tepat dan menemui sasaran.


Sedang si Kumis melintang semakin kesal dan penasaran, teriaknya gusar,


" Dasar kalian tidak berguna, menangkap kelinci saja tidak becus," makinya kepada anak buahnya.


" Dan, kau... ," tunjuknya dengan golok besar yang sudah dihunus ke depan wajah pemuda asing itu.


" Buntaran, hah...?


Bocah yang tidak tahu diri, dan mencari mampus. Hiaaa...," Kumis


melintang meloncat melakukan serangan dengan goloknya, membuat siang


yang mulai terik, bertabur sinar golok yang berkeredep menyilaukan.


Tanpa dikomando anak buahnya merubah arah serangan mengiblat ke satu tubuh.


Buntaran yang dengan mendengus dalam, segera mengangkat pedang dan melakukan jurus pedang yang begitu cepat dan mantap.


" Nona, mundurlah!"


teriaknya sambil melakukan perlawanan.


Serangan berkelompok


yang rapi. Melakukan gerakan yang ringkas dan tepat. Serangan datang


bergelombang susul-menyusul. Semua serangan senjata mengincar semua


titik lemah Buntara.


Bergebrak hampir 15


jurus lamanya. Buntaran terkejut, menemukan beberapa gerakan menusuk dan


menangkis menggunakan pedang, sama seperti yang ia kuasai. Ilmu pedang


Putaran Angin ** Beliung,...


Tusukan bergelombang yang menyerang silih berganti, jurus yang sama, tapi dikembangkan dengan golok yang membelah bukan menusuk.


Dengan cepat Buntaran


merubah jurus yang dipakai, ia mengeluarkan jurus pedang yang sama


bahkan lebih dahsyat dilambari ajian tenaga dalam Sejuta Topan Menerjang


Gunung.


Si Kumis melintang dan empat temannya begitu terkejut, ia mengenali serangan itu. Mengenal ilmu pedang yang sama.


Buntaran melihat wajah


yang terkejut milik lawan-lawannya. Ia sudah yakin bahwa mereka berlima


pasti ada hubungannya dengan dirinya.


Sambil menyerang lebih hebat,


ditariknya sebuah panji berwarna kuning dari balik bajunya. Panji itu


berkibar bergambar Naga Merah Menelan Matahari.


Kelima orang semakin terkejut melihat panji itu.


" Mundur, ada topan badai," teriaknya memberi aba-aba mundur, segera mereka berserabutan melarikan diri, keluar dari hutan.


Semua yang dilakukan


Buntaran, Ganesha melihatnya dengan jelas. Dari pertama, Ganesha sudah


memperkirakan Buntaran pasti mampu mengalahkan pengeroyok itu. Adegan


panji yang berkibar dan yang membuat pengeroyoknya kabur melarikan diri,


ia juga tahu. Namun, entah mengapa, pandangannya selalu tak ingin lepas


ke arah gadis cantik baju merah itu. Seakan ada daya tarik yang


tersembunyi, yang memaksanya untuk mengawasinya. Ada debar-debar halus,


seakan ia pernah melihat wajah dan senjata selendang itu.


Di mana ya? Ia berusaha menggali ingatannya.


Sementara itu.


" Nona... apakah kamu


terluka?" tanyanya ramah. Buntaran terkejut melihat gadis berbaju merah


yang ia tolong. Mukanya merah, terlihat marah sekali.


" Dasar lancang, siapa sih yang butuh pertolonganmu," semburnya marah. Buntaran melengak. Ganesha yang di atas pohon tertegun.


Tanpa basa-basi dengan


kesal dan marah, gadis baju merah itu berbalik badan dan meloncat cepat


menggunakan ilmu ringan tubuhnya Menunggang Mega berkelebat lenyap.


" No... na... tungguuu!"


Buntaran gagal mencegah kepergian gadis galak ini.


Buntaran masih terbengong, memandang jauh ke arah hilangnya gadis itu.


Ganesha menjadi geli sendiri. Gadis-gadis cantik. Galak dan pemarah.


Aha... tunggu dulu.


Semula


Ganesha ingin pergi meneruskan perjalanannya. Akan tetapi niatnya


diurungkan. Karena dilihatnya lima orang yang mengeroyok tadi berbalik


dan bersikap hormat kepada Buntaran.


" Ampun, pangeran.


Siapakah Anda sesungguhnya, yang mempunyai Panji Naga dari kerajaan


Sangga Langit. Utusan khusus dari kerajaan?" tanya Si Kumis melintang


tanpa basa-basi.


Buntaran menimpakan rasa penasaran terhadap gadis galak tadi ke orang-orangnya.


" Huuhh... makanya jangan sembrono!" semprotnya marah.


" Kalian diberi tugas


apa, hah? Malah menganggu gadis pribumi di sini?" nadanya masih kesal.


Ia melihat wajah yang tersinggung di muka kelima utusan itu.


" Aku Buntaran. Murid


tunggal Guru Negara Restu Bhumi. Aku adalah anak laki-laki Menteri


Harjamurti dari Sangga Langit," jelasnya cepat.


Si Kumis dan anak buahnya terkejut, untuk saja mereka tidak jadi bentrok, ternyata pemuda itu termasuk junjungannya juga.


Tiba-tiba Buntaran


berteriak ke arah atas pohon tempat Ganesha bersembunyi. Dengan


pendengaran yang tajam, Buntaran berhasil menyirap suara nafas yang


dihela.


" Siapa disana?"


Buntaran sudah bersiap meloncat ke arah pohon yang dicurigainya.


Untung Ganesha dengan cerdik dan cekatan merapal ajian sihirnya Merupa Sejuta Raga. Huup....


Buntaran hanya menangkap bayangan seekor monyet besar yang berkeresek di dedaunan dan berayun pergi. Sambil menjerit-jerit.


" Nyiit... Nyiit... Ngukk... nguk."


Buntaran mempunyai ilmu sihir juga sebenarnya. Namun ilmu sihirnya terpaut jauh dengan yang dimiliki Ganesha.


Ia


tidak sadar bahwa Monyet besar itu adalah jelmaan Ganesha yang segera


melarikan diri, karena hampir saja tertangkap basah mencuri dengar.


Ganesha berkelebat ke arah Barat, meneruskan perjalanan. Diingatnya sosok dua gadis cantik yang sama galaknya.


Buntaran dan lima orang ternyata berteman. Dan satu lagi, Negeri Sangga Langit.


Ada urusan apa, orang-orang asing itu, datang ke negeri Asoka?


Ah... sudahlah. Ia masih mempunyai tugas sendiri.


Sekali


lagi diemposnya semangatnya, bayangan monyet sudah berubah menjadi


Ganesha lagi, melesat dengan Ajian Naga Terbang Meniti Angin


Bersambung....

__ADS_1


 


 


__ADS_2