Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 12


__ADS_3

**CHAPTER 12


Menanting Asmara


Pagi masih begitu ranum...suasana nya tidak seperti biasa...beburungan pagi yang biasanya riuh menyambut matahari pagi...sirap tidak ada suaranya...sepi..lengang..menampakkan suasana bergabung.!..


Ranti, Karsih dan lainnya berdiri mematung dan kelu....perlahan air mata mengalir disudut mata mereka...mereka saling berpelukan..menangis berpelukan...seperti yang lain..


Tidak tega melihat nasib Kenanga seperti itu.


Mereka di Perguruan Mawar Merah, hidup layaknya seperti saudara senasib dan sepenanggungan..


Sama sama datang ke perguruan itu untuk menimba ilmu ..untuk menjaga diri dan bekal panggilan hati untuk menjadi pendekar wanita.


Hati mereka tercabik cabik pilu...tanpa sadar..terloncat ucapakan menggetar diantara isak tangis mereka...


" Setannn.....Berkabung.....itu Setan Berkabung....aaahh," jerit mereka tak sadar...dan terkejut...


Nyi Dyah Puspa ..tersadar, apakah kejadian ini ada hubungannya dengan kabar yang dibawa angin tentang "Si Denawa Setan Berkabung " yang mengganas dan menebar teror..?? ..


Belum sempat ia mengambil kesimpulan terdengar teriakan memanggil namanya...suara yang amat dikenalnya...


" Guruuu.....,"


Suara Kinanti yang bening, memanggil dan terdengar kelebat tubuhnya yang menerobos memasuki kerumunan...dan berdiri..terkejut di depan Guru dan mayat yang terbaring ditutupi pakaian ala kadarnya.!..


Sambil mencium tangan Nyi Dyah Puspa, Kinanti bertanya berbisik kepadanya.." Siapakah dia Guru...?,"


Nyi Dyah Puspa menyahut...," lihatlah itu saudaramu Kenanga," Kinanti nampak terpukul sekali....karena ia dan Kenanga adalah sahabat dekat..sahabat erat sekali..bahkan dari murid murid yang lain ataupun penduduk kampung di sekitar perguruan..mereka berdua Kinanti dan Kenanga terkenal sebagai Sepasang Kembang dari Bukit Mawar.


Terlambat..terlambat ...kedatangannya batin Kinanti sedih. Dia sudah mempunyai firasat kejadian ini akan menimpa Perguruannya yang terkenal mempunyai murid murid wanita.


Seperti yang pernah ia sampaikan kepada Santika, akan kekhawatirannya...dan ternyata terbukti....Kenanga sahabatnya yang menjadi korbannya...


Dan..ia datang..sangat terlambat.


" Denawa Si Setan Berkabung...," Nyi Dyah Puspa perlahan menggumam...tapi tertangkap jelas oleh pendengaran Kinanti.


Seketika saja Kinanti teringat.


Kedatangannya kembali ke Perguruan Mawar Merah ini bersama Santika.


" Maaf...kebenaran dugaan Guru ..bisa dijawab dengan sahabat yang saya ajak kesini. Mohon ijinnya..akan saya panggil kesini..," Kinanti beranjak keluar pondok..dan dia melihat saudara saudara perguruannya berkumpul ditempat itu. Dalam keadaan sedih dan berkabung..


Dipandangnya ke arah Barat diantara jajaran pohon jati..kemudian di panggilnya..


" Santika.... ," serunya perlahan menggunakan ilmu mengirimkan suara.


Dari arah Barat berkelebatlah bayangan biru terbang cepat sekali dan hanya beberapa saat sudah berdiri di depannya Kinanti..hanya desir angin...tanpa suara...


Seorang pemuda tampan...dan gagah dengan sebatang seruling terselip dipinggangnya.


Matahari sudah semakin tinggi menampakan sinarnya...


Sinarnya menimpa wajah yang tampan dan berwarna biru...


Rambutnya biru, kulitnya biru, pakaiannya dan jubahnya juga berwarna biru..dia Santika si Pendekar Biru...


Ranti dan Karsih melongo melihat keadaan yang aneh dari Santika teman Kinanti. Juga saudara yang lainnya, terdengar bisik bisik diantara mereka...membicarakan keanehan dan ketampanan Santika. Akan tetapi Kinanti belum sempat memberikan penjelasan karena adalah hal yang lebih penting harus didahulukan.


Kinanti mengajak Santika masuk menemui gurunya.


" Perkenalkan sahabat saya Guru...Santika...dan ijinkanlah ia memeriksa ...bekas pukulan yang menewaskan Kenanga." Santika mendekat ke arah Nyi Dyah Puspa dan memberikan salam hormat.


Dyah Puspa juga terkejut melihat penampilan Santika dan ia agak ragu meluluskan permintaan Kinanti. Akan tetapi karena Dyah Puspa sudah mengenal luar dalam murid kesayangannya ini...ia mengangguk kepada Santika untuk memeriksa mayat Kenanga...


Dengan memberikan hormat sekali lagi..kepada Nyi Dyah Puspa..


Santika beranjak mendekati tempat tidur dimana tubuh Kenanga terbaring.


Tanpa canggung di singkapnya kain penutup mayat Kenanga..hanya beberapa saat..saja ia memeriksa bekas luka pukulan di dada Kenanga.


Dan ia sudah mampu mengambil kesimpulan, pukulan yang menyebabkan kematian Kenanga.


Santika memberikan isyarat gelengan kepala kepada Kinanti.


" Guru, pukulan yang menewaskan Kenanga bukan dari pukulan Denawa...silahkan Guru mendengar langsung dari Santika yang sebenarnya adalah murid langsung dari Ki Denawa !" ucapan Kinanti membuat kaget Nyi Dyah Puspa.


Secara reflek..ia memegang erat selendang merah untuk berjaga jaga..Tapi dengan cepat ia berpikir ulang....kalau datang dengan itikad baik..tidak mungkin ia berani masuk ke sarang harimau...!!


" Maaf Nyi...saya Santika murid Ki Denawa...dan saya juga menguasai ilmu yang dikabarkan dipakai Guru untuk membunuh para penjahat dan membunuh para wanita...yaitu..


pukulan Bianglala Pengejar Roh...


Dan bekas pukulan ini saya yakin, walaupun hampir sama ..tapi sangat jauh berbeda, bekas dari pukulan itu.


Nyi Dyah ...boleh memeriksa kembali bekas pukulan itu.


Pukulan itu menggunakan tenaga berhawa panas sama dengan Bianglala Pengejar Roh juga.


Namun bekas yang ditinggalkan sangat jauh berbeda...


Kalau pukulan Bianglala Pengejar Roh..yang hancur adalah bagian dalam yang terkena pukulan...dari luar..terlihat hanya lembab merah saja sebagai jejak pukulan itu...


Nyi Dyah dapat membuktikan omongan saya...bekas luka itu terlihat membakar dadanya.,"


Santika memberikan penjelasan dengan hati hati. Ia melihat pegangan Nyi Dyah Puspa mengendor pada selendang merahnya.

__ADS_1


Dipandangnya Kinanti yang berada disebelah Santika...Kinanti mengangguk.kearahnya..memberikan keyakinan...


Sehingga untuk membuktikan mau tidak mau ia sekali lagi membuka kain penutup mayat Kenanga.


Untuk beberapa saat memeriksa, dan memastikan kebenaran yang disampaikan Santika..


Terlihat Nyi Dyah Puspa mengangguk angguk dan kembali menutupi mayat Kenanga.


" Benar..benar..persis yang disampaikan Nak Santika. Maaf jika aku terlanjur berpraduga yang salah kepada Gurumu," Nyi Dyah Puspa kemudian memerintahkan anak muridnya untuk memindahkan mayat Kenanga.


" Maaf Nyi..kalau mengijinkan, boleh saya yang mengangkat dan memindahkan," Santika meminta ijin.


Nyi Dyah Puspa mengangguk memberi ijin.


Santika melepas jubahnya yang lebar..dibantu dengan Kinanti dipakai untuk membungkus mayat Kenanga.


***


Hari itu..Perguruan Mawar Merah dalam keadaan bergabung.


Sampai menjelang siang...penguburan Kenanga selesai sudah.


Dikuburkan di bagian Utara didekat pohon Kemuning tidak begitu jauh dari Perguruan Mawar Merah.


***


Santika diterima baik oleh Nyi Dyah Puspa.


Kinanti menceritakan lebih lengkap tentang Santika, pertemuan pertamanya, bisa mengutarakan maksud kedatanganya ....


Dan menyampaikan penyesalannya karena kedatangannya terlambat, padahal ia sudah mempunyai firasat akan kejadian ini.


Kinanti juga menjelaskan kepada Gurunya bahwa Santika adalah bukan sekedar sahabat. Akan tetapi mempunyai hubungan yang lebih dalam.


Santika adalah pilihan hidup dan cintanya.


Kinanti mohon ijin dan restu..akan hubungan mereka...sekalian ..mohon doa untuk membantu Santika membongkar fitnah keji yang menimpa Ki Denawa guru Santika.


" Santika, aku mempercayakan Kinanti kepadamu. Jaga dia baik baik..ia adalah murid kesayanganku. Dan jangan lupa, kamu harus datang mohon restu kepada orang tua Kinanti di desa Cali.


Nanti..kita bertemu lagi..di Perguruan Bhumi Langit..untuk mengabulkan undangannya...walaupun aku sudah dapat meraba..tujuan apa dibalik undangan itu. Akan tetapi...akan kita lihat bersama..sampai di mana..sepak terjang Hrastu Bhumi itu," setelah itu Kinanti dan Santika menerima wejangan dan nasihat yang berharga dari Nyi Dyah Puspa.


Setelah tiga hari kemudian, Kinanti dan Santika memohon pamit meneruskan perjalananya. Pulang kedusun Kinanti dan memburu kemana larinya..pembunuh Kenanga atau perusak nama Ki Denawa guru Santika.


***


Ditempat yang lain.


Wilayah selatan dari negeri Asoka...


" Hai,...tunggu jangan lari..!," Pemuda tampan dengan mengepos tenaga dalam ajian Kijang Kencana Menunggang Angin...melejit cepat...mengejar ke arah sosok hitam tinggi besar..yang telah gagal memperkosa korbannya...karena keburu ketahuan sama pemuda tampan ini.


Oo..bocah tengik tadi rupanya..yang mengganggu kesenangannya. Kepalanya jadi pusing, karena hasratnya tidak terpenuhi..


Untuk menghilangkan kekesalannya...ia akan mengamuk...menggebuk pemuda ceriwis yang tidak tahu diri.


" Hai...mau apalagi bocah tengik. Cari mati saja," gertaknya..sambil melancarkan pukulan tangan kosong...


Hawa panas mengiblat mengarah ke empat titik berbahaya di tubuh pemuda tampan.


Belum saja menghentikan larinya, pemuda tampan itu harus menghindar kesamping dan jungkir balik..empat serangan itu pun lolos.


Pemuda tampan melambung sekali lagi, dan mendarat manis..tanpa suara dengan gagahnya


Wajahnya tampan...bahkan sangat tampan..rambutnya digelung pita biru..bajunya biru tua ringkas dengan jubah lebar warna kuning ditiup angin.


Sebatang pedang berkepala naga, tergantung di balik jubahnya.


Oo ...Permadi rupanya atau samaran Puteri Paramitha kalau sedang mengembara.!


" Hai, setan hitam..jangan lari...rasakan tajamnya pedangku. Sretttt.......," pedang tipis berkepala naga keluar dari sarungnya..berkeredip..tertimpa sinar matahari...rapalan jurus Welas Asih dan Pedang Teratai..pedang ditangan kanan berdesing....tangan kiri berisi tenaga dalam ajian Welas Asih..ia melejit kedepan kearah sosok hitam tinggi besar...


Tusukan pedang mengarah dada dan perut,..pukulan jarak jauh mengincar leher dan kepala..


Sangat cepat serangan itu...


Sosok hitam itu tak bergeming, dengan menguatkan kuda kuda kakinya... Tangannya di bentang berputar..mengumpulkan energi panas..dikibas dan didorong kedepan...dua larik sinar merah berhawa panas meluruk dan memotong serangan ..cepat dari Permadi....


" Hiat...hiat....srettt....sing...sing...,' terjadi saling serang dan adu tenaga dalam...


Tusukan tusukan pedang dengan ringan berhasil dipunahkan..


Tenaga dalamnya juga mampu **** dorongan tenaga dalam Ajian Welas Asih yang bersifat lembut.


Keras lawan lembut.


Tusukan cepat lawan kibasan tangan yang berputar menderu deru...


Dari beberapa serangan saling pukul dan saling tangkis..juga saling menghindar..terlihat Permadi agak kerepotan...


Ketika tusukan pedang ditangkis atau disampok oleh tangan yang besar itu....ia rasakan tangannya agak kesemutan...


Belum lagi pukulan panasnya...beberapa kali beradu..ia merasakan kalah tenaga...


Sosok hitam tinggi besar..tertawa lepas...melihat posisinya yang unggul...


" Ha..ha...ha....bocah tengik..rasakan pukulanku Bianglala Pengejar Rohku..," ditingkatkan rapalan tenaga dalamnya...kedua belah tangan...memerah mengepulkan asap kemerahan...betapa dahsyat kekuatan tenaga dalam itu...

__ADS_1


Permadi tergetar hatinya...kelincahan gerak, permainan pedang dan tenaga dalamnya ..seakan membentur dinding tidak kasat mata berhawa panas...


Sekarang keadaannya diujung tanduk..!...


Pukulan merah panas membakar merangsek deras ke arah Permadi....sekuat tenaga ..Permadi berusaha menghindar dari serangan itu...


Bukannya berkurang....tenaga dalam merah membara itu semakin ditingkatkan.....


" Terimalah kematianmu..bocah tengik,".....Permadi mati langkah.


Dan ia pasrah, tetapi ada yang disesalkan kenapa ia harus mati secepat ini....dipejamkan matanya menerima kematian...


" Buumm..Buummm..cit..cit..cit..ces..cesss...cret cret.... " terdengar ledakan beradunya dua tenaga dalam dahsyat. Bahkan disusuli suara cericit...totokan jarak jauh ..


Permadi tidak merasakan akibat pukulan merah yang mengerikan..ia merasa tidak terluka apa apa....yang membuatnya membuka matanya...


Seorang pemuda berbaju abu abu dan bercelana hitam memotong laju pukulan sosok hitam...rambut panjang sebahunya berkibar ditiup angin pukulan yang panas itu.


Wajah yang bersih dan sederhana, akan tetapi nampak sekali kegagahan..telah menyelamatkan Permadi dari kematian.


Pemuda itu menghadang dan membalas serangan..dengan tusukan atau totokan jarak jauh dengan ujung jari tangannya yang mengeluarkan sinar merah dan sinar biru bergantian...


" Tahan...dulu..Ki Denawa...tahan..!," sambil menahan dan menghalau pukulan lawan. Pemuda itu yang tak lain dan tak bukan Lingga si Pendekar Jari Sakti, berteriak lantang memanggil sosok hitam itu ..Ki Denawa...


Permadi terkejut sekali...ternyata penjahat hitam tinggi besar itu adalah Denawa Si Setan Berkabung. Yang sakti dan kejam itu.


Tanpa sadar bulu kuduknya berdiri..Untung saja Pemuda gagah itu datang tepat pada waktunya.!


" Ki Denawa...!," sekali lagi Lingga memanggil kearah sosok hitam tinggi besar itu....sambil melancarkan tusukan jarak jauhnya.....Lingga mengenali..sosok itu adalah sosok yang sama saat itu..yang terkena totokan jarak jauhnya...


Mendapat balasan yang dahsyat..Sosok hitam tinggi besar itu..teringat akan pemuda sederhana itu..Ia terlihat jerih...karena sudah merasakan kehebatan pemuda itu!


Dari saku jubahnya diambilnya sebuah benda bulat sekepalan tangan...dan dibantingnya...


" Buumm....!," suara ledakan dan asap hitam bergulung gulung menggelapkan pandangan.


Lingga mengibaskan kedua tangannya dengan tenaga dalam yang besar ...


Asap hitam hilang...dan Denawa pun hilang tanpa bekas!


Sekali lagi lolos!.


***


Lingga mendekati ditempat Permadi berdiri.Masih muda dan sangat tampan pemuda ini, batin Lingga dalam hati.


Belum sempat menyapa...


" Oh..tuan penolong yang budiman. Terima kasih atas pertolonganmu. Kalau tidak ada kau..aku pasti sudah mati. Perkenalkan nama ku Permadi," Permadi sudah memotong dengan ucapan terima kasih. Matanya yang bening tajam berbinar binar..


Pemuda yang sederhana, akan tetapi gagah dan sakti. Tidak kalah dengan Santika, tanpa sadar ia membanding penolongnya dengan Santika.


" Oh...syukurlah kalau kau selamat.


Ah..tidak perlu berterima kasih. Kebetulan aku bisa mencegahnya. Janganlah berlebihan Permadi. Mati dan hidup..ada ditangan Tuhan. Tuhan juga lah yang mengatur aku sampai disini," jawabnya ramah dan sederhana. Tanpa sedikitpun ada kesan dia lah Sang Penolong.


" Oya, namaku Lingga..perkenalkan juga.


Dan...bagaimana ceritanya kau bisa bertempur dengan Ki Denawa itu ?,"...


Permadi lalu menceritakan pertemuanya dengan Ki Denawa..ketika menyelamatkan gadis dusun yang diculik..kemudian dia mengejarnya kearah Ki Denawa lari..bertempur disini..ternyata Denawa terlalu kuat...ia hampir saja celaka kalau tidak ditolong Lingga.


Kemudian Lingga pun menceritakan perjalanannya...Lingga memang sengaja mengikuti jejak dan melakukan pengejaran Ki Denawa yang berlari kearah selatan menuju barat...


Untung dia datang disaat yang tepat, sehingga bisa " mengebah " pergi Denawa!


" Lingga...apa benar itu Denawa yang dikenal si Setan Berkabung?," tanya Permadi tiba tiba.


" Permadi, aku sebenarnya sangsi bahwa itu Denawa. Memang dari ciri fisiknya sama, senjatanya sama, dan pukulannya sama. Akan tetapi aku menangkap keanehan....setiap aku panggil...seolah dia seperti orang lain...


Ilmunya juga tidak begitu tinggi...dua kali aku bentrok dengannya.. dan dua kali..juga dia melarikan diri...


Padahal dari cerita Ki Yadara , Ki Denawa adalah tokoh nomor satu di Negeri Asoka.," Lingga menyampaikan keraguannya tentang Ki Denawa yang ditemuinya.


" Oh...seperti dugaan Santika," tanpa sadar, Permadi mengucapkan itu. Suara itu pelan, akan tetapi Lingga dengan pendengarannya yang tajam, mampu menangkapnya.


" Apa kau bilang, Permadi. Santika?," tanyanya cepat..


" Iya..Santika...aku pernah bertemu dengannya. Santika menduga gurunya, bukan yang menjadi biang keladinya...Sekarang ia mengejar kearah timur, sebagai tempat pertama munculnya petaka itu," kepalang tanggung kelepasan. Permadi menjelaskan semua yang diketahuinya..


Mendengar penjelasan Permadi, Lingga nampak berpikir keras..bolak balik berusaha menyimpulkan semua kejadian ini.


" Permadi, aku lihat kamu juga mempunyai tujuan yang sama denganku. Alangkah baiknya kita berkerja sama dan melakukan pengejaran ke arah Barat.


Dua orang akan lebih baik dan kuat. Bagaimana,?" Permadi hanya bisa mengangguk setuju. Apalagi yang diburunya bukan orang sembarangan.


Jalan bersama Lingga...akan lebih aman baginya.


***


Mulailah dua " pendekar " muda melanjutkan perjalanan menyisir jejak...dan menanting asmara...


Dalam pergaulan selama beberapa hari ini.. Permadi merasakan keamanan dan kenyamanan bersama Lingga. Walaupun tidak setampan Santika...namun keramahan, ketulusan, sifatnya yang pendiam dan tenang...selalu membuat Permadi...lebih...ah....tiba tiba...pipinya bersemu merah...memikirkan itu...Untung saja Lingga sedang berjongkok membelakanginya...sedang menyalakan api unggun..saat mereka harus menginap di hutan.


Langit malan kelabu bersih..Bulan sepotong manis bergantung...Kerlipan bintang nan jauh disana...mendesirkan perasaan Permadi...


Jangan jangan ia telah jatuh cinta kepada Lingga yang sederhana?.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2