
CHAPTER 13
Pesta Sesungguhnya di Mulai
1 bulan lagi...pesta hari lahir Hrastu Bhumi...
Pengejaran dan perburuan Denawa terus dilakukan...
Dari tilik sandi yang dikirimkan Ludiro yang ikut turun tangan melakukan pengejaran sekaligus mencari Paramitha keponakannya, terpaksa ia memberikan perintah susulan...untuk membagi dua jago jago istana yang telah lebih dulu dikirim, karena mendengar geger yang mengacaukan ibukota. Yaitu peristiwa pembunuhan di Rumah Plesiran..
Villa Sakura Merah..
Sebagian jago jagonya diperintahkan untuk kembali pulang, untuk meningkatkan keamanan di ibukota. Jangan sampai kecolongan lagi.
Ludiro melanjutkan perjalanannya....
Disepanjang jalan ia berusaha menyirap kabar tentang Paramitha.. ia sebenarnya was was juga...karena ia sangat paham, watak dari keponakannya...suka sembrono.
Akan tetapi yang banyak ia dengar adalah banyak penjahat penjahat yang ditemukan tewas misterius dan mayatnya selalu ditemukan bekas pukulan Bianglala Pengejar Roh...bekas terbakar ?
Ludiro selalu saja terlambat satu langkah dibelakang...
Di desa, di hutan, di gunung. Di bukit, di sungai sungai...korban korban selalu berjatuhan ..tidak penjahat saja.....juga para wanita dusun...istri..atau anak...pejabat daerah...mengerikan...
Arahnya setiap hari bergeser terus ke arah Barat...sudah diusahakan mempercepat perjalanannya...namun sepertinya kejadian itu bersifat acak...loncat loncat...di semua tempat ada..kejadian...
Ludiro mengetahui semua itu karena laporan anak buah yang disebar ke segala penjuru.!
Seolah olah Denawa Setan Berkabung ada dimana mana.?..
Ini lah yang membuatnya heran..dan..ia semakin curiga..bahwa kejadian ini adalah rekayasa. Ia semakin penasaran memusatkan perhatian untuk mengejar kearah Barat. Apalagi dari anak buahnya...jejak Paramitha sudah diketahuinya...seperti biasa..ia menyamar sebagai Permadi.
Dan ketahuan melakukan pengejaran ke arah barat menyisir dari bagian Utara, bersama pendekar muda yang belum lama muncul yang berjuluk Jari Sakti.
Hatinya menjadi tenang dan ia segera mempercepat perjalanannya menyisir dari tengah menuju ke arah Barat, apalagi undangan dari Perguruan Hrastu Bhumi, tinggal satu bulan lagi.
Ini bulan kedelapan..musim sedang panas panas...Sang Raja siang begitu riuh membagi sinarnya....
Musim yang panas, suasana negeri yang panas...dan entah apalagi kejadian di depan menanti ?
***
Dari perguruan Mawar Merah ditimur, Santika dan Kinanti melanjutkan perjalanan ke arah Dusun Cali..ke rumah orang tua Kinanti..Kepala Dusun..Ki Cemani dan istrinya.
Santika diterima dengan baik dan diberi restu oleh orang tua Kinanti.
Santika juga dengan terus terang menyampaikan bahwa ia sudah tidak mempunyai orang tua lagi...hanya mempunyai seorang guru sebagai walinya...yang nanti diharapkan untuk meminang secara resmi Kinanti...
Sayang gurunya sedang dirundung masalah dan difitnah. Di tidak tahu keberadaannya dimana ? Dan dia dan Kinanti sudah bersepakat untuk bersama sama menyelediki kebenaran semua ini.
Ki Cemani sebagai orang tua yang bijaksana....mengerti dan memahami persoalan yang sedang dihadapi Santika.
Hanya berpesan untuk selalu berhati hati dan memasrahkan Kinanti kepada Santika.
Walaupun ikatan secara resmi belum dilakukan...!
Agar Santika bersedia membimbing dan menjaga Kinanti sebaik baiknya...
Demikianlah setelah memperoleh restu dan beristirahat melepas kangen dan rindu kepada Orang tua, saudara dan teman temannya.
Tinggallah beberapa hari di dusun Cali yang tenang...
Di waktu yang singkat itu, Santika dan Kinanti...membekali pemuda pemudi disana beberapa gerakan silat untuk menjaga diri...dan menyampaikan cara cara...melakukan perlindungan diri...jangan sampai malapetaka itu menyasar sampai disana!..
Dan tak lupa Santika berjanji untuk mendatangkan..jagoan istana Pangeran Ludiro, jika nanti bertemu diperjalanan.
Berangkatlah Santika dan Kinanti melakukan pengejaran menyisir dari selatan menuju ke Barat.
***
Sepekan kemudian beberapa orang jagoan istana Ludiro datang untuk menjaga keamanan di dusun Cali.
Karena jagoan istana Pangeran Ludiro disebar untuk melakukan pengejaran...bertemulah beberapa jagoan yang mengejar di bagian selatan.
Mereka juga pernah bertemu dengan Santika dan Kinanti di Telaga Bidadari sebelumnya. Mendapat cerita Santika segera
bersedia melakukan permintaan Santika.!
Seperti pesanan junjungan mereka Pangeran Ludiro...bahwa dimanapun berada jika bertemu pendekar biru Santika...apapun permintaanya...segera laksanakan...karena Santika adalah saudara angkat junjungan mereka Pangeran Ludiro.!
***
Sepanjang perjalanan, Santika dan Kinanti...tak sekalipun mereka sempat bentrok atau bertemu muka dengan Denawa itu...Yang ia yakin bukan gurunya sendiri.
Mereka juga seakan ditinggali sebuah jejak atau teka teki..padahal jika sekali saja ia bertemu...ia akan dengan pasti bisa membuktikan bahwa " Denawa penyebar teror itu " benar gurunya atau bukan??
Ia menjadi gemas sekali...hanya ..jejak pembunuhan dan pemerkosaan yang ditemuinya sepanjang perjalanan ke Barat. !!
Bulan ke sembilan semakin dekat, tinggal sebulan lagi....
Jejak itu terus mengarah ke Barat, ke Lembah Kematian.
Tempat tinggal nya dan gurunya.
Santika dan Kinanti secepatnya mengarah ke Lembah Kematian.
***
Di Lembah Kematian...
Tempat yang sangat berbahaya dan mengerikan.
Bukan karena daerahnya yang berbahaya, bukan..! Sama dengan bukit bukit dan lembah lembah yang ada ditempat lain.
Sama tidak ada bedanya...!
Yang membuatnya berbahaya dan mengerikan adalah penghuninya.!
Lembah kematian adalah tempat kediamannya Denawa Si Setan Berkabung jago nomor satu di Negeri Asoka, yang terkenal telengas dan kejam kepada para penjahat....Tidak sembarang penjahat berani mencari penyakit.
Salah salah nyawa akan melayang...
Lembah Kematian yang biasa sunyi sepi...kali ini tidak seperti biasanya...
" Sreet...", sebuah bayangan tinggi besar melesat dari depan Lembah Kematian menuju Goa..yang banyak terdapat dilembah itu..
Bayangan itu serba hitam...berpakaian dan berjubah hitam, rambutnya panjang hampir menutup sebagaian wajahnya...tangan kanannya memegang tongkat naga hitam.
Belum sempat menikmati keangkeran Lembah Kematian.
" Guru......," sebuah teriakan panggilan yang dikirimkan melalui tenaga dalam...terdengar jelas oleh telinga sosok hitam tinggi besar itu...Dari gerakan tubuhnya kelihatan sekali Sosok hitam itu sangat terkejut...tanpa menoleh...ia segera mengenjotkan kakinya...karena dari kesiuran angin ia merasakan ada dua bayangan yang bergerak sangat cepat menuju kearahnya....
Sosok Hitam tinggi besar...meloncat tiga empat kali..lalu mengepos ilmu meringankan tubuhnya melesat kearah utara....
" Tunggu...guru..! ," teriakkan Santika malah menyebabkan Sosok Hitam itu berlari semakin cepat...!
Hanya beberapa kejap...hilang diantara rimbunan pohon di ujung Lembah Kematian.
***
__ADS_1
Beberapa saat sebelumnya..
Santika dan Kinanti mengejar ke Lembah Kematian...
Dengan ketajaman pengelihatan dan pendengarnya...ia melihat sosok bayangan Tinggi Besar melesat ke arah Lembah Kematian !
Santika menduga itu adalah gurunya. Setelah memberi isyarat kepada Kinanti untuk mengejar lebih dulu...melesatlah ia merapal ajian meringankan tubuhnya Setan Roh Penasaran mengejar bayangan yang disangka gurunya...
Tapi apa lacur...begitu pengejaran sudah dekat dan ia berteriak memanggil gurunya...apa yang terjadi kemudian membuatnya begitu terkejut dan tidak mengerti...mengapa gurunya... mendengar panggilannya malah melarikan diri..seperti ketakutan.?
Aneh...sangat aneh..dan tidak masuk diakalnya?
***
Santika berdiri mematung, termangu memandang ke arah lenyap " Denawa " gurunya..!!
Untuk beberapa saat..ia hanya berdiri diam dan merenung...hingga ia merasakan sentuhan lembut tangan Kinanti di lengannya.
" Kinanti, aku semakin yakin ...sekarang...Bahwa semua itu yang melakukan bukanlah guruku.
Tidak mungkin guruku lari ketakutan ketika aku memanggilnya," kemudian lanjutnya: " Dan aku bisa meraba kemana misteri ini akan berujung.
Ayo, secepatnya kita menuju ke Utara.
Untuk bergabung secara diam diam, dan melihat keramaian disana!.
Di Perguruan Bhumi Langit di Barat Laut !," jelas Santika dengan yakin karena dengan kepintaran dan kecerdikaanya. Semua geger yang melanda Negeri Asoka dan Menebar dan merusak nama baik gurunya, pasti ada sangkut pautnya dengan Undangan Hrastu Bhumi.!
Melihat kesungguhan ucapan Santika, Kinanti hanya mengangguk setuju.
Kinanti sangat percaya dengan apapun yang dikatakan Santika.
Maka bergegaslah mereka berdua menuju ke Perguruan Bhumi Langit.
Langit biru cerah...akan tetapi ada sekumpulan awan kelabu berarak menuju Barat Laut.
***
Keramaian sebuah pesta sudah terlihat.
Orang datang berkelompok menuju Perguruan Bhumi Langit. Ada juga datang sendiri sendiri, karena tidak mewakili Perguruan ataupun kelompok tertentu.
Dari semua penjuru Negeri Asoka..
Ada yang sekedar melihat keramaian.
Ada yang tertarik karena mereka percaya Ketua Perguruan dan Guru Negara...pasti disana akan ada pertunjukan adu ketangkasan beladiri..
Ada juga yang datang karena tertarik akan kabar , Hrastu Bhumi akan membagi bagi uang dalam acara itu..
Ada juga yang membawa misi terselubung...karena mereka mendapat undangan khusus untuk persekutuan..dengan harapan untuk mendapat keuntungan akan kemuliaan dan pangkat...!
***
Tempat makan dan penginapan disekitar perguruan Bhumi Langit berada..juga ikut bersolek!
Mendapat cipratan rejeki dengan usaha makan dan minumnya..juga tempat tempat penginapan...!
Walaupun tuan rumah, sudah menjanjikan dan menyediakan tempat untuk istirahat cuma cuma !
Tapi banyak yang merasa sungkan dan tahu diri. Tidak selayaknya mereka menginap cuma cuma disitu.!
***
Perguruan Bhumi Langit yang terletak di ujung Barat Laut negeri Asoka nampak begitu gagah.
Semua bangunan dan seragam murid perguruan juga berwarna merah menyala?..
Sekitar perguruan keadaan begitu hidup...jalanan ramai oleh lalu lalang...pedati..kereta...ataupun kuda kuda pilihan yang menyongklang gagah...suara orang berlalu lalang pun ramai...membicarakan bangun terbesar diwilayah itu.
Bangunan merah menyala dengan pemandangan menyolok karena gerbang besar itu berhias sepasang singa emas kiri dan kanan sebagai penjaga pintu...
Ukiran indah khas dari Negeri Tanpa Langit..
Dan penjaga yang gagah dan tegap ada dikiri kanan menjaga gerbang masuk dengan sigap mempersilahkan tamu tamu masuk...
Sudah banyak tamu yang datang..tamu tamu undangan dan tamu kehormatan!
Semua kendaraan dan kuda berada ditempat khusus di sayap sebelah kiri..dari gerbang masuk.
Dengan sigap petugas yang berada disitu, cekatan mengamankan tali les...dan..segera memberikan makan dan minuman kuda kuda..itu untuk beristirahat...
Penduduk biasa pun berbondong bondong turut hadir diacara tersebut, dengan harapan ...siapa tahu hari ini mujur dan mendapatkan uang dari Hrastu Bhumi yang katanya akan membagi bagikan uang..!
Mereka masuk dengan tertib, tidak berani berlaku ayal dan sembarangan...mereka tahu...ditempat siapa ini...?
Dari arah utara ..dengan berjalan santai terlihat 2 pemuda memasuki gerbang bercampur baur dengan penduduk yang datang. Agak menyolok karena yang satu adalah pemuda ramping dan sangat tampan. Berbaju kuning gading dan bercelana hitam..dengan jubah kuning yang diantara kibarannya terlihat sebuah pedang berkepala naga tersoreng dipunggungnya ..
Yang satu adalah pemuda sederhana ..yang tatapan matanya bening dan senyum tipis mengambang dibibirnya...
Mereka berdua adalah Permadi yang kecil dan Lingga pemuda sederhana itu...orang orang di wilayah barat belum begitu mengenal Lingga Pendekar Jari Sakti itu.
Melewati gerbang dengan lancar, tidak ada pemeriksaan yang rumit...semua bisa masuk dengan mudah..
Penduduk biasa, orang orang dari rimba persilatan ataupun dari para pejabat dari kotaraja.
Penjaga di sebar dimana mana hanya untuk mentertibkan saja...
Terlalu percaya diri...Sama junawanya dengan Gurunya....
Yakin tidak ada yang berani macam macam di kediaman Hrastu Bhumi...
***
Tidak lama berselang dari arah tengah muncul seorang bangsawan muda nan tampan berwibawa...berpakaian serba putih..dengan jubah putih melambai ditiup angin..
Dipinggangnya terselip pedang berkepala rajawali...pedang yang jarang sekali keluar dari sarungnya.
Wajahnya tampan dan bibirnya selalu tersenyum...Kipas baja berwarna putih bersulam emas ...yang ada ditangannya...menambah kegagahannya...di dada kirinya tersulam gambar rajawali emas mementang sayap...
Ia adalah Pangeran Ludiro dari Kotaraja...adik bungsu raja Asoka.!
Masuk melalui gerbang sendiri tanpa pengawalan..
***
Dari arah selatan tidak begitu lama...berselang...
Sepasang muda mudi yang tampan dan cantik jelita...Yang pemudi...berwajah cantik jelita berpakaian serba merah dengan hiasan sekuntum bunga mawar merah di atas dahinya yang indah....Kinanti...datang bersama pemuda tampan yang aneh luar biasa...Serba biru...pakaiannya, kulit badannya. Dan orang pasti tidak berani macam macam kepadanya...
Ia adalah Santika si Pendekar Biru..yang menggegerkan Negeri Asoka..dalam..serial sebelumnya..Pedang Pemikat Sukma....!
Tampan dan berpenampilan tenang terukur.
Selanjutnya berbagai tokoh tokoh persilatan dari golongan putih dan golongan hitam dengan tujuan dan niat hati masing masing, datang sendiri, ataupun berkelompok.!
Para penduduk yang bersemangat mengikuti acarapun...datang sendiri sendiri, ada yang berkelompok..
Bahkan ada yang datang membawa keluarganya..! Laiknya piknik saja!
__ADS_1
***
Terompet panjang ditiup mengaung bagai teriakan naga...tanda acara akan segera di mulai..
Panggung besar segi lima berada ditengah tengah lapangan.
Ada dua panggung berbentuk lingkaran dua buah lagi..yang berada lebih dekat dengan tempat tamu tamu utama dan tuan rumah..berada.
Semua panggung dihias dengan kertas warna warni yang menambah keindahan dan suasana meriah.!
Kursi tempat tamu undangan sudah berisi semua. Dalam posisi
setengah lingkaran..dengan Kursi dan meja berukir besar di dominasi warna merah dan emas juga.
Meja penuh dengan hidangan yang menarik selera..buah buahan, makanan kecil, serta anggur merah yang berkelas..hilir mudik di atur dan diisi oleh para gadis gadis cantik berpakaian ketat , terbuka...bagaikan puluhan kupu kupu cantik terbang diantara kumbang...menebar pesona!.
Hanya satu kursi yang paling tengah, sebagai pusat pandangan....yang kalau dilihat tepat lurus arahnya dengan bangunan utama tempat tinggal Hrastu Bhumi, sang tuan rumah..yang mempunyai hajat..dan saat ini belum hadir..!.
Tepat dalam posisi melingkar..dari pusat ..kekanan..di kursi yang khusus berukir naga emas...yang sedang melingkar ..duduk dengan wibawanya Raja Negeri Asoka yang tampan berwibawa dengan kumis tipis dan mata dan bibir yang selalu tersenyum..Raja bijaksana dan kecintaan seluruh Negeri Asoka..Raja Bengala.
Dibelakangnya terlihat beberapa pengawal sebagai jagoan istana yang melakukan pengawalan tersembunyi..tidak begitu dekat...namun sangat terlihat bedanya...karena tubuhnya yang gagah, tegap dan berpakaian ringkas, dengan berbagai senjata andalan terselip dan tersoreng di pinggangnya.!
Disampingnya adalah adiknya yaitu Pangeran Banara yang menjadi Panglima Perang Negeri Asoka..sekaligus menjadi murid utama..dari Hrastu Bhumi sang Guru Negara. Yang begitu kereng dan berwibawa.
Selanjutnya..Pangeran Ludiro si Bungsu yang gagah dan tampan...Berturut turut tokoh persilatan putih golongan tua.
Ki Yadara dari Perguruan Rajawali Emas.
Ki Sardulo dari Perguruan Macan Putih.
Ki Gopala dari Perguruan Gajah Hoya...tidak ketinggalan Nyi Dyah Puspa dari Perguruan Mawar Merah.
Dibarisan belakangnya terlihat Ranti, Karsih dan Kinanti..tiga gadis muda dengan kecantikan khas masing masing.
Disebelah Kinanti, nampak Santika yang duduk tenang melihat perkembangan...dan berderet disampingnya adalah murid murid utama dari Perguruan yang terkenal disitu!
Disebelah kiri tempat duduk utama, terlihat nyata...para tokoh golongan hitam.!
Dari mulai Joko Angkoro si Penjahat Pemetik Bunga.
Muridnya Bagus Handoko si Tampan Sakti.
Gumarang si Kelabang Hijau..
Di sampingnya Cempaka murid sekaligus kekasihnya.
Marakas Si Pari Sakti, Bajak Sungai dari Utara.
Tonggos Perampok Hutan Ganda Mayit.
Dan dibelakangnya berbaris tokoh golongan hitam yang bertampang menyeramkan dan aneh aneh.
Tiba tiba...terompet panjang ditiup kembali...memekik seperti Naga....pertanda tuan rumah Hrastu Bhumi segera menempati tempat khususnya.
Semua mata memandang kearah Hrastu Bhumi yang berjalan dengan Sombong dan Congkaknya. Ketua Perguruan Bhumi Langit dan Guru Negara..
Berpakaian merah menyala..dengan Badan yang tinggi besar..berjalan ke panggung kecil sebelah kiri dari kursi utama.
Sebelumnya ia bersoja dan menghormat dalam kearah Baginda Bengala...lanjutnya..dengan
" Hidup Baginda Raja Bengala...Hidup Baginda Raja Bengala...Hidup Baginda Raja Bengala...," teriaknya nyaring dengan suara yang besar dan kuat.
Seketika bergemuruhlah suara semua yang hadir di acara itu..meneriakkan dengan semangat doa dan puja puji bagi Raja Bengala...kecintaan mereka...
Suara yang menggetar penuh perasaan...memantul didinding dinding dan tembok tembok Perguruan Bhumi Langit...
Raja Bengala tersenyum arif dan sabar...mengangkat kedua tangannya yang putih bersih..
Seketika siraplah suasana gemuruh itu!..
Hrastu Bhumi telah berdiri tegak di panggung. .
Kembali suara yang besar dan lantang...
" Selamat siang....Salam sejahtera Bagi Baginda Raja Bengala, Panglima Perang Banara, Pangeran Ludiro...juga para tokoh tokoh dari rimba persilatan. Yang telah berkenan datang dan menghadiri perayaan kelahiran saya...Hrastu Bhumi yang sederhana ini.
Juga kepada tamu undangan ataupun tamu tanpa undangan, juga seluruh penduduk sekitar yang telah berkenan hadir untuk memberikan berkah dan doa bagi saya.," kata katanya perlahan, jelas dan tegas...
" Mohon maaf jika dalam pelaksanan acara ada kekurangan dan kesalahan...mohon dibukakan pintu maaf seluas luasnya," kata katanya berirama dan memberikan sentuhan kesopanan namun sikapnya berbeda dari ucapannya...permintaan maafnya disampaikan dengan jumawa sekali.
" Sreetttt.... " dengan kecepatan tangan yang tidak terlihat mata..ke dua tangannya yang besar bergerak berulang kali memasuki kantung celana dan bajunya yang lebar..kemudian menaburkan keatas...maka terlontar lah.....
Uang logam emas dan perak kearah depan panggung yang jauh..kearah penduduk yang memadati ...dan berkerumun didepan panggung utama.
Uang logam emas dan perak tercurah seperti hujan layaknya.
Serentak terjadi kegemparan disana..Penduduk yang sengaja datang berebut uang yang dilemparkan oleh Hrastu Bhumi..
Untuk sekian waktu..pemandangan laiknya segerombolan ikan emas dikolam diberi pakan...saling berlomba dan berebut.!
" Treeeetttttt.....," untuk ketiga kalinya terompet naga ditiup...berdiri salah seorang murid utama yang tinggi langsing berpakaian merah menyala...wajahnya tirus tipis..rambut tipis di gulung. Matanya sipit dan tarikan bibirnya sesekali menampakan senyum liciknya...bertindak sebagai pembawa acara..
Suaranya tinggi melengking...berteriak setelah melihat sekilas Hrastu Bhumi sudah duduk angkuh dikursinya.
" Selamat pagi....semuanya...yang tadi adalah tanda terima kasih dari Tuan rumah, akan kehadiran Anda di acara peringatan hari kelahiran beliau..Terimalah sajian acara selanjutnya..dan silahkan para hadirin sambil menyaksikan acara ..silahkan di cicipi hidangan ala kadarnya yang telah disediakan...Tarian pedang,"!..terdengar tepuk tangan yang meriah dari yang hadir.
Pagi merangkak dan waktu terus bergeser...
Udara tidak terasa panas...Sang Penguasa Siang juga tidak begitu garang membagi sinar..ada gerombolan awan kelabu menghalangi sinarnya..
Sajian acara demi acara digelar..penuh keindahan dan daya tarik...yang luar biasa..!
Para pengisi acara adalah muda mudi pilihan yang sengaja di datangkan dari Negeri Tanpa Langit tempat asal dari Hrastu Bhumi...
Mempunyai kecantikan dan ketampanan yang khas...menyuguhkan...tarian, musik dan nyanyian yang memukau...bagi pencinta seni seperti Pangeran Ludiro dan Permadi atau Puteri Paramitha....ini adalah jamuan yang sangat luar biasa...cocok buat mereka..eb
Bagi Gumarang, Joko Angkoro dan Bagus Handoko...penampilan itu juga memenuhi selera mereka...gadis gadis yang cantik di balut pakaian ketat warna warni, menampilkan gerakan yang indah dan merangsang bagi mata mereka...membuat jakun mereka naik turun menelan ludah...pemandangan yang me ggiurkan menggugah semangat dan nafsu mereka...haaahhh!!
Musik perlahan sirap lenyap..
Si muka tirus pembawa acara tampil lagi kemuka..gayanya berubah petentang petenteng sekali...
" Untuk acara puncak yang ditunggu tunggu...pesan dari Tuan rumah..untuk saling berkenalan lebih mendalam..
Sebagai Guru Negara sekaligus sebagai Ketua Perguruan Silat...
Tidak lengkap kiranya jika masing masing kita tidak saling berkenalan...dengan saling beradu pukulan atau pun mencoba tajamnya pedang...Hahaha...," tawanya tinggi melengking.. ditingkahi oleh teriakan penonton dan tepuk tangan yang bergemuruh..
Selain datang untuk mendapatkan pembagian uang...para penduduk juga menunggu acara seperti ini.
Adu kepandian ....dan ketangkasan.
Sedangkan tokoh tokoh dunia persilatan yang hadir..juga telah sadar dan bersiap...inilah salah satu tujuan mengapa Hrastu Bhumi mengadakan undangan dan jamuan acara seperti ini..
" Aturan permainannya sangatlah sederhana...bagi siapa saja yang keluar dari panggung besar segi lima itu...berarti dianggap kalah...!.
Sebagai..awalan kami panggil wakil dari tuan rumah...Wiro Lodro...,"....musik pengiring di mainkan memberikan semangat bagi si penampil..
Bersambung.....
__ADS_1