Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 16


__ADS_3

CHAPTER 16


Undangan Berujung Maut


Puteri Xenia di keroyok oleh penjahat yang berasal dari Negerinya sendiri, meski sudah mendapatkan ilmu tambahan dari Denawa si Setan Berkabung. Ia masih merasakan kerepotan. Apalagi ilmu yang di kuasai belumlah sempurna benar.


Keroyokan Setan Es...Crastya dan Setan Api..Dragha...membuatnya mati matian melawan dan bertahan. Untung saja bala bantuan segera datang.


Berkelebatlah bayangan putih berjubah lebar bak Rajawali dengan kibasan kipas baja emas bak kepakan Rajawali berhasil memukul mundur gempuran dua setan itu.


Pangeran Ludiro yang gagah dan tampan mendarat lunak di samping Puteri Xenia, mengangguk hormat, dan kemudian melanjutkan serangannya.


" Mari, puteri, kita ringkus, pemberontak pemberontak ini,' serunya kepada Puteri Xenia.


Puteri Xenia melihat pemuda tampan serba putih datang membantunya.


Pemuda bangsawan yang tampan dan gagah, membuat hatinya berdesir. Di lempar senyum yang tak kalah manisnya.


Dua setan dari Negeri Tanpa Langit sangat terkejut.


Baru saja mereka merasa mampu meringkus Puteri Xenia, karena setidaknya pengalaman dan ilmu keduanya masih satu dua usap lebih tinggi dari Puteri Xenia.


Mereka sudah girang, tinggal memberikan serangan terakhir, namun semua perkiraan mereka buyar.


Angin pukulan yang keluar dari kipas emas baja itu sangatlah kuat.


Tenaga dalam Pangeran Ludiro berhasil menahan laju serangan Crastya dan Dragha.


Dan selanjutnya Pangeran Ludiro menyerang Crastya si Setan Es.


Kipas Emas di tangannya di putar kencang seperti kitiran dari putaran itu meluncur totokan dan kibasan tenaga dalam Kipas Maut Tiupan Salju tenaga dalamnya bercuit membawa perbawa dingin.


Crastya yang malang melintang dengan gelaran si Setan Es, terkejut juga menerima serangan yang sama kuat dengan kekuatan yang di milikinya.


Loncatan totokan dan pukulan yang keluar dari bayangan kipas di terima dengan jurus andalannya Siraman Es Membekukan Jantung.


Sinar keperakan dari rapalan ajian itu berdesis menyongsong serangan Ludiro, dan bertemu di udara.


" Blam...Pyarrrrr," ledakan dan serpihan kristal es berloncatan dan hawa dingin melabrak ke arah Crastya.


Kuda-kudanya tergempur, tubuhnya yang kurus tinggi bergoyang goyang.


Sedangkan Puteri Xenia setelah berkurang satu musuh, tekanan serangan yang di rasakan hilang sudah.


Keadaan mereka berimbang.


Puteri Xenia mengeluarkan ilmu andalannya Sengatan Matahari Merah berselang seling dengan Pukulan Bianglala Pengejar Roh miliknya berhasil memukul mundur Dragha si Setan Api.


Dragha dengan ajian Api Pembakar Jiwa tingkat tertinggi semula menang melawan Sengatan Matahari Merah menjadi terdesak.


Dengan cerdik Puteri Xenia, merubah rubah pukulan dan cara bertempurnya.


*


Gumarang ke bagian lawan Ki Gompala.


Tangannya yang mulur berisi tenaga dalam beracun Kelabang Hijau menyerang dengan arah yang berubah ubah, pukulan kekanan tiba tiba berbalik kekiri.


Memukul ke arah bawah berubah menyedok ke ulu hati.


"Waalaaah...Lho....Aduuuhhh....Treet..Teett....lha......," Gompala yang gendut bulat lucu. Bertempur sambil berteriak teriak. Meloncat, berguling, jungkir balik menghindari serangan aneh Gompala.


Mulutnya tak henti bersuara, di selingi suara terompet gajah.


Jurus Gajah Hoya dan tenaga dalam Gajah Agni andalannya di pakai menahan dan menyerang balik musuh.


Tangan yang besar juga hampir mirip tangan Gumarang.


Bisa berubah lunak, dapat menangkis dan memukul seperti belalai gajah.


Mulutnya meniup niup dan lengan pakaiannya yang lebar di gunakan untuk menghilangkan hawa beracun.


Berdua seimbang baik jurus dan tenaga dalamnya.


*


Penduduk dan para undangan yang masih berada disekitar tembok perguruan, melihat tontonan " langka " dengan hati penasaran dan rasa ketakutan.


Penasaran,melihat pertempuran yang sangat luar biasa..tokoh tokoh dunia persilatan saling bertempur hidup dan mati. Semua jurus dan pukulan di keluarkan.


Kesaktian yang dipunyai semua di keluarkan untuk mengatasi serangan lawan lawannya.


Semua biasanya hanya didengar dari cerita orang orang, kini semua kejadian ada di depan mata.


Melihat dengan rasa penasaran dan ketakutan.


Jangan jangan pukulannya nyasar ke arah mereka.


Di sudut sebelah kanan di luar arena panggung.


Bayangan putih berkelebat, meloncat, meliuk, melayang bagaikan seekor rajawali layaknya.


Ki Yadara dengan pedang lentur di tangan kanannya dan Jurus Kepakan Sayap Rajawali di lambari tenaga dalam Rajawali Meniti Pelangi berhasil membendung serangan dari Marakas Si Pari Sakti, Bajak Sungai dari Utara.


Marakas yang berangasan dengan senjata pecut sakti dari ekor ikan pari.


Lecutannya membelit pedang lentur Yadara.


Dengan gesit pedang di getarkan kemudian meliuk dan memantul berusaha memotong pecut sakti..


" Criitttt....criittt ..," mengincar nadi di tangan Marakas.


Melihat serangan itu, Marakas terpaksa melepas lilitan dan memutar pecutnya. Menghalau mata pedang yang berubah arah dan gerakannya, menyambar, menotok sesekali berubah arah menusuk tempat tempat berbahaya.


*


Ki Manggala, Laki laki setengah baya yang gagah dengan rambut panjang sebahu. Wajahnya cukup tampan dengan kumis hitam yang rapi. Bajunya yang lebar berkibaraan, ketika ia menggetarkan pedang lenturnya dan merapal ajian Rajawali Meniti Pelangi, murid utama perguruan Rajawali Emas melawan


Tonggos Perampok Hutan Ganda Mayit.


Rambutnya yang panjang ikal tak beraturan dengan warna kulit yang hitam legam, di obat abitkan golok besar dan suara menggereng keluar dari sela sela gigi tonggosnya.


Mukanya seram menakutkan


Mata yang segede jengkol dan hidung sebesar jambu.


Sebenarnya lucu tampangnya.


Namun karena watak dan tabiatnya yang kasar dan jahat. Membuat ia di takuti oleh para petani dan pedagang yang lewat di hutan Ganda Mayit.


Namun kejahatan dan keganasannya tidak ada artinya didepan Ki Mangala.

__ADS_1


Dengan sabar dan penuh keyakinan semua serangan golok besar itu mampu di bendung. Malahan serangan pedang lentur yang memantul dan berubah arah itu, berkali kali mengenai sasaran.


Lengan, kaki, dadanya sudah tertoreh pedang dua sisi.


Tonggos menjadi limbung. Kosentrasinya berkurang banyak karena luka-lukanya yang mengucurkan darah.


Jurus Golok Setan dan Tapak Setannya seakan menemui jalan buntu.


Hingga suatu ketika. Dengan didahului teriakan yang menggetar, Ki Manggala mempercepat gerakan pedang Kepakan Sayap Rajawali..


"Sssrrrtt Hiaaatttt.......sutt..sutt..ting..ting......jleb...aaaaaaaa," teriakan panjang Tonggos menyudahi perlawanannya.


Pedang lentur milik Manggala menyelusup diantara sinar golok.


Beradu, menggetar dan memantul...sreetttt ujung pedang bermata dua menusuk leher Tonggos.


Tubuhnya limbung dan jatuh terkapar dengan nyawa melayang.


**


Marakas si Pari Sakti. Terdesak mundur.


Serangan gencar Yadara dengan Jurus Rajawali Kepakan Sayap membuat pedang lentur bermata duanya tinggal bayangan, di tambah ilmu ringan tubuh Rajawali Menerjang Awan, bayangan tubuh serba putih bergulung gulung dengan pedang lenturnya.


Suaranya mendengung.


Dari balik gulungan dan angin putih yang membadai muncul tusukan dan kibasan yang mencecar Pari Sakti.


Pecut Parinya tidak berkutik di kurung oleh bayangan pedang.


Dan sesekali dari tangan kiri Yadara keluar asap putih yang dingin dari Rapalan Ajian Rajawali Meniti Pelangi.


Beberapa kali bendungan tenaga dalam itu lolos. Hawa dingin menghantam dada Pari Sakti.


Pukulan dingin itu menganggu aliran darahnya. Sekuat apapun ia tahan rasa dingin terus mengganggunya.


Pari Sakti terpecah kosentrasinya dan membuatnya lengah.


Untuk terakhir kalinya, belitannya mencengkeram ketat pedang lentur Yadara, niatnya ingin mematahkan pedang.


Tapi apa lacur, pedang bergetar dan menebas dengan tenaga dalam penuh.


" Preett....tasss....cesss!" pedang mengulir dan berbalik memutus pecut pari menjadi tiga bagian.


Tidak berhenti sampai disitu..


Pedang lenturnya menusuk dada kiri dengan aliran tenaga dalam dingin yang langsung membekukan jantung Pari Sakti.


Bajak Sungai yang ditakuti karena keganasannya.


Tewas di ujung pedang si Pendekar Rajawali Emas Yadara tanpa sempat untuk berteriak.!


**


Gumarang dan Gompala dalam posisi saling mengerahkan tenaga dalam.


Tangan Gumarang yang bisa memanjang terkunci ketat oleh tangan yang besar milik Gompala.


Pukulan Kelabang Hijau beracun saling tekan dan dorong dengan ajian Gajah Angi.


Tenaga dalam berwarna hijau berasap menekan Tenaga dalam berwarna merah.


Kuda-kuda Gumarang tergempur. Dan ia tidak menyangka bahwa musuhnya yang sebesar gajah bisa melenting ringan melayangkan tendangan nekat, meskipun kedua tangannya terkunci..oleh tangan musuh.


Sepasang kaki sebesar kaki gajah, menggedor kedua paha gumarang yang terlambat bereaksi.


Dengan cekatan Gumarang melepas kunciannya dan melepaskan tamparan beracun mengenai kedua paha Gompala.


" Duuk...settt..Desss...aaaaa," jerit kesakitan keluar dari mulut Gumarang yang merasakan tulang kakinya berderak patah.


Gumarang jatuh terpental dengan luka parah di kedua pahanya. Dan pingsan!


Demikian juga nasib yang di alami oleh Gompala..tamparan tangan beracun Gumarang..menyengat kedua paha Gompala yang serasa terbakar..dan gatal menyakitan.


Gompala jatuh terpelanting.


Untung saja segera di tolong oleh Yadara.


Di totok aliran darah yang menuju ke jantung.


Supaya racun tidak menyerang keatas.


Dan diberikan obat anti racun yang selalu ada di ikat pinggang Yadara kepada Gompala.


Pertolongan pertama oleh Yadara.


Segera Gompala bersemedi dan mengatur aliran darahnya supaya tidak menyerang jantungnya.


Sesaat kemudian Gompala sudah lolos dari keadaan berbahaya.


**


Dragha si Setan Api sudah ratusan jurus dikeluarkan. Dan tenaga dalam yang digunakan sudah tingkat yang terakhir Api Neraka Pembakar Jiwa.


Pertempuran antara Draghan dan Puteri Xenia adalah murni beradunya ilmu tenaga dalam.


Namun dengan kecerdikan puteri Xenia yang memadukan ilmu Sengatan Matahari Merah dengan Bianglala Pengejar Roh sungguhlah luar biasa.


Perlahan sedikit demi sedikit Dragha melemah posisinya. Apalagi yang dihadapi adalah gadis muda dan bersemangat tinggi.


Dragha kecolongan di adu nafas.


Ia menggempur dengan tenaga dalam tertinggi dengan maksud mempercepat pertempuran untuk memgambil keuntungan.


Akan tetapi perhitungannya keliru.


Adu tenaga dalam terakhir.


Dadanya mulai sesak. Kuda kudanya amblas dilantai panggung. Ada asap merah keluar dari kaki dan ubun-ubunnya. Keringatnya sudah sebesar biji jagung.


Puteri Xenia melihat keadaan Dragha yang sudah kelelahan.


Di tingkatan tenaga dalamnya.


Diserangnya dengan ilmu gabungannya sekarang.


Tangan kiri dan tangan kanan.


Berbeda pukulan tenaga dalamnya. Di bolak balik.


Antara Sengatan Matahari Merah dengan Bianglala Pengejar Roh...

__ADS_1


sampai suatu saat dengan teriakan panjangnya Puteri Xenia mengepos tenaga tertinggi yang ia punya dan akibatnya..


" Hiaaaaaaaaaa........... Auggghhh!" Dragha terpental bagikan layang layang putus. Jatuh keluar panggung.


Dengan dada remuk terbakar..Tewas seketika.


**


Kembali ke pertempuran Pangeran Ludiro dengan Crastya


Pangeran Ludiro sudah menyelipkan kipas baja emasnya di pinggang.


Ia telah melolos pedang putihnya berkepala rajawali. Ini pedang mestika yang diperoleh dari gurunya Ryiozu dari Negeri Es Sejauh Mata.


Putaran pedangnya membawa angin dingin yang menggedikan.


Ia berloncatan dan laksana terbang dengan ilmu meringankan tubuhnya yang dahsyat Lesatan Meteor mengepung gerak Crastya dengan tusukan-tusukan yang mencicit dingin sedingin salju.


Walaupun Crastya adalah si Setan Es, serangan Ludiro diluar perhitungannya.


Ia menyesal sekarang. Tidak di sangka Negeri ini penuh jago-jago yang memiliki kesaktian tinggi.


Ia tidak bisa mundur lagi. Apalagi ia mendengar dan melihat kambratnya Draghba telah terbujur mati di luar panggung sana.


Crastya meningkatkan serangan. Diantara hujan es yang membadai dari Ludiro.


Pukulan Siraman Salju Membekukan Jantungnya seakan terpental balik.


Ia merasa masih kalah tingkat dengan musuhnya.


Diambilnya keputusan untuk mengadu jiwa sebagai langkah terakhir.


Di bukanya sedikit pertahananya, membiarkan tusukan pedang Ludiro lolos dan ditangkapnya sambil mengerahkan tenaga dalamnya melalui pedang Ludiro.


Hup.. Ahh. .jantungnya seketika terasa terlepas...serangan tenaga dalamnya hilang lenyap diserap pedang mestika milik Ludiro.


Dan yang membuat matanya terbelalak tidak percaya..ujung mata pedang yang dingin sedingin salju itu sudah...nyessss....menembus jantungnya....


Jantungnya membeku dan nyawanya melayang terbang!


**


Bayangan merah di kurung oleh bayang kuning gading dan bayangan merah lainnya.


Teriakan ..suara senjata rahasia dan lecutan selendang ...memanaskan siang yang mulai ketengah.


Cempaka walaupun semula lebih unggul melawan Kinanti perlahan lahan terdesak. Ia harus membagi perhatian antara serangan selendang, senjata rahasia kuntuman mawar dan angin pedang yang membawa tusukan dari atas dan bawahnya.


Paramitha sangat cerdik. Ia dengan mempergunakan ilmu ringan tubuhnya Awan Putih Berarak dan jurus pedang Teratai Welas Asih menyerang Cempaka, sambil melenting berloncatan.


Pedangnya berputar cepat, secepat lentingannya.


Cempaka sudah kehabisan jarum beracunnya. Pukulan Kelabang Hijau dan Selaksa Racun ilmu ajian yang tersisa.


Setiap tangannya mulur panjang. Selendang merah Kinanti, dengan cepat sekali, menguncinya!


Tangan terkunci, pedang ronce merahnya, sibuk menangkis pedang teratai dengan Jurus Teratai Welas Asih.


Kinanti menarik keras tangan yang berubah hijau itu, menghentak dengan tenaga dalamnya, akibatnya tubuh Cempaka terpelanting ke atas lepas dari kuda kudanya yang kukuh di lantai.


Ia terkejut, dan dahinya terasa nyeri, kemudian seluruh tubuhnya terasa lumpuh.


Tubuhnya yang tadi melayang tertarik selendang, kini jatuh berdebum ke atas panggung.


Ia tidak menyadari, bahwa pedang teratai milik Paramitha tadi sempat menyentuh dahinya.


Hanya menyentuh, namun sengatan tenaga dalam yang si lancarkan menghancurkan isi kepalanya.


Paramitha terkejut dan terlambat menarik tusukan pedang. Ia sangat menyesal melihat Cempaka tergeletak tanpa nyawa.


Matanya terbuka penasaran karena dendam tidak terbalaskan.


Berbarengan dengan jatuhnya Cempaka, terdengar jeritan kematian yang sangat mengerikan dari arah pertempuran antara Nyi Dyah Puspa melawan Si Tampan Sakti Bagus Handoko.


Apapun tambahan ilmunya. Kalau menghadapi Nyi Dyah yang sudah kenyang oleh asam garam pertempuran.


Ilmu Bagus Handoko, masih terpaut jauh olehnya.


Mengapa pertempuran keduanya lebih lama?


Nyi Dyah masih terpecah kosentrasinya. Ia bertarung sambil melihat dan berjaga-jaga mengkhawtirkan keadaan Kinanti, murid kesayangannya.


Akibatnya serangan masih belum sepenuhnya di keluarkan.


Ia melihat Kinanti sering terdesak oleh Cempaka, ia sudah berniat melepas Bagus Handoko untuk membantu Kinanti.


Untung saja keadaan pertempuran Kinanti segera berubah dengan munculnya Paramitha membantu Kinanti.


Nyi Dyah Puspa lega melihat keadaan Kinanti.


Setelah ia menganggap aman Kinanti, barulah ia memusatkan perhatuannya kepada musuhnya.


Yang menyebabkan kematian muridnya Kenanga.


Ia mempercepat serangan selendangnya. Selendang merah bergerak cepat seperti patukan naga merah, menyambar, memukul dan mengibaskan ekornya.


Pedang kembar Bagus, tidak mampu mengimbangi gerakan cepat Nyi Puspa.


Akibatnya pedang kembarnya terperangkap dalam belitan selendang dan..


" Kreekk.Kreek.." sekali lagi pedang kembarnya patah oleh libatan selendang dan tidak berhenti cukup di situ..


"Sruuutttt ...des..dess.." ujung selendang meluncur deras berubah sekeras baja menggedor dadanya dua kali..rasa sakit yang membuatnya ia berteriak keras karena tulang dadanya remuk dan nyawanya terbang melayang!


***


Gumarang tersadar dari pingsan. Melihat keadaan dirinya yang lumpuh dan kambratnya semua mati. Tinggal Hrastu Bhumi sendiri yang masih di kerubuti dua jagoan muda.


Gunarang merasa usaha gagal dan hukuman berat akan diterimanya. Karena ia telah bersekutu untuk membunuh Raja.


Hidup sama saja. Karena ia akan di hukum mati.


Lebih baik..


" Sreett...prak.," tangannya yang panjang mulur menghantam kepalanya sendiri.


Ia memilih bunuh diri dengan memukul kepalanya sendiri.


Tumbanglah ia, bukan pingsan lagi. Tapi pingsan untuk selama-lamanya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2