Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 6


__ADS_3

**CHAPTER 6


Munculnya Pendekar Jari Sakti**


Di hutan Baron...hari masih begitu pagi..


Semilir angin menggoyangkan dedaunan yang masih diselimuti embun.


Luruhlah embun yang berkilauan diterpa sinar mentari pagi yang menerobas di kelebatan pepohonan.


Tidak biasanya di ranting pohon ketapang yang menjulang terdengar rintihan burung Kedasih...


Pagi yang berseri terasa kontradiksi....


*


Angin pagi yang menyisip rerimbunan perdu, menggoyangkan dedaunan sepasang pohon kamboja kuning.


Dibawah kerindangan pohon kamboja kuning, bersimpuh seorang pemuda yang sedang berdoa. Umurnya 25 tahunan,


Wajahnya bersih, matanya besar bening. Hidungnya serasi benar dengan mulutnya yang bergaris tegas. Nampak seorang yang pendiam.


Angin terus mengelus lembut dan mempermainkan rambut hitam panjangnya. Yang dibiarkan tergerai jatuh dipunggungnya.


Bajunya longgar berwarna abu abu dan celana warna hitam.


Badan sedang tegap, berkulit putih bersih, yang baru saja membersihkan sepasang makam dari semak dan rumput liar.


Makam itu milik sepasang suami istri yang dibunuh perampok di hutan Baron ini.


Makam orang tua pemuda yang bersimpuh itu. Pemuda itu adalah LINGGA.


*


Setelah berhasil keluar dari goa dibawah gunung melalui jurang diatas air terjun. Ia meninggalkan Nyi Mayang Sari " ibunya " atau juga gurunya, untuk menunaikan tugas kependekaraan, sekaligus memenuhi pesan ibunya. Menyirap kabar keberadaan YADARA dan DENAWA.


Ia menyempatkan diri untuk menengok makam orang tuanya.


Dihutan Baron.


" Ayah dan ibu, damailah berdua disana. Anakmu akan berusaha membela dan melindungi orang orang lemah. Agar mereka tidak menjadi korban seperti ayah dan ibu ," janjinya didepan makam.


Setelah dirasa puas melepaskan segala kerinduan, dan sekaligus kedukaan.


LINGGA melanjutkan perjalanan ke Perguruan MACAN PUTIH menengok KI SARDULO yang telah berjasa menolongnya ketika itu..


Apakabarnya beliau sekarang? tanyanya dalam hati, sambil bergegas mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat peristirahatan terakhir orang tuanya.


Langit kawasan hutan Baron semakin cemerlang. Udara yang hangat karena sinar matahari sudah semakin tinggi menunjukkan keperkasaannya.


Angin mendesau, menerbangkan rambut LINGGA yang dengan langkah pasti menuju ujung barat Hutan Baron, tempat perguruan Macan Putih berada.


*


Sementara itu..


Di perguruan Macan Putih..


Sedang terjadi keributan.


Seorang penyusup yang berbadan besar..tegap dan gagah..mencerai beraikan sepuluh orang penjaga gerbang Perguruan.


Meskipun tidak ada yang terluka, setidaknya kejadian itu membuat gempar murid murid perguruan yang sedang berlatih.


*


Para penjaga gerbang pagi tadi kedatangan tamu yang aneh.


Seorang kakek yang berbadan besar, gagah..Baju dan celana nya berwarna serba kuning. Rambutnya yang panjang digelung rapi diikat dengan tali rambut berwarna hitam.


Wajahnya bulat mulus, dengan mata dan hidung besar. Mulutnya lebar dan selalu tersenyum dan tertawa. Walaupun giginya sudah beberapa yang sudah tanggal di sana sini.


Tampangnya lucu tapi juga sangat mencurigakan.


" Ha ...ha...ha.....ha...apakah benar disini letaknya perguruan Macam Putih?," suara dan tawanya terdengar besar dan keras.


Tingkahnya ugal ugalan dan cengesngesan. Bertanya lantang dan tertawa lepas pula.


Membuat dua orang penjaga diluar pintu perguruan terkejut!.


" Selamat pagi Kakek yang terhormat. Benar, ini adalah Perguruan Macan Putih, kami.


Ada keperluan gerangan apakah, hingga Kakek yang terhormat mengunjungi kami,? " walaupun terkejut KI BARDI penjaga yang bertubuh gempal dan berkumis tebal, bertanya sopan kepada kakek aneh itu.


" Ha..ha...ha...ha..ha... SARDULO..SARDULO....tidak sia sia kau mengajari adat sopan santun pada muridmu ini. Tapi aku....GOMPALA dari dulu...tidak suka urusan basa basi seperti ini...Ha...ha...ha..ha," jawabnya disambung ketawanya yang besar dan lantang.


" Sampaikan kepada gurumu...Aku datang berkunjung. Jangan bersembunyi seperti kura kura,...ha...ha...ha..ha," tingkahnya kurang ajar dan membuat penjaga menjadi tambah curiga dan siaga.


Kakek aneh ini datang akan mencari gara gara rupanya.


" Kakek yang baik. Guru kami sedang tidak bisa diganggu. Guru kami sedang bersemedi.," timpal penjaga satunya KI MANGUT yang bertubuh tinggi berkumis melintang dan berambut keriting menjelaskan.


" Ala...sombong sekali SARDULO...aku akan tetap masuk sendiri...wuut..wuut," tangannya diayunkan kedepan...serangkum angin besar keluar dan melanda dua orang penjaga.


Untung dua orang penjaga, sudah memiliki ilmu yang lumayan tinggi. Akan tetapi tak urung, kedua penjaga itu tergempur kuda kudanya.

__ADS_1


Belum siap berdiri kukuh dengan kuda kuda.


" Splash.....!,!!! Bayangan kuning besar telah melesat menerobos pintu gerbang perguruan.


KI BARDI dan KI MANGUT terkejut...teriaknya sambil memburu kemana GOMPALA melesat..


" Awassss...penyusup...!!! teriaknya kencang. Bersamaan itu dari dalam muncul delapan penjaga gerbang menghalangi laju GOMPALA.


Tapi apa lacur...hanya dengan kibasan ke dua tangannya yang besar....ke delapan penjaga itu...terbang..melayang ..terbanting...seperti dilanda topan beliung..


Sambil melesat mengejar, KI MANGUT sempat menyambar kentungan yang tergantung dipintu gerbang.


Dengan cepat dipukulnya untuk memberikan isyarat sebagai tanda bahaya.


Bunyi kentungan yang satu, disambut oleh bunyi yang lain. Titir berirama sebagai isyarat datangnya orang asing. Memenuhi seantero perkumpulan Macan Putih.


GOMPALA menghentikan larinya ditengah perkampungan Macan Putih.


Mendengar irama titir yang bersahutan...ia malsh berjoget ria.


Badannya yang tinggi besar bergoyang mengikuti irama titir. Melenggak lenggok..lucu sekali..dan tak henti hentinya ia tertawa geli sendiri..


" Hi..hi..hi..hi..hi....begini rupanya SARDULO menyambut tamu?," sambil terus menari dan bergoyang tanpa memperdulikan murid murid perguruan Macan Putih membuat lingkaran berlapis lapis mengurungnya.


Ia asyik saja menari nari mengikuti irama titir.....


Sebenaranya pengepungnya ingin tertawa, melihat tingkahnya yang lucu. Tapi mereka sadar, bunyi titir itu.


adalah bunyi tanda bahaya kedatangan seseorang yang tidak dikenal.


Tiga orang murid kepala, ....yang mempunyai kedudukan sebagai murid utama..yang telah diberi tugas melatih murid murid perguruan, maju kedepan keluar dari lingkaran kepungan.


KI MANGGALA yang bermuka persegi, tinggi besar, berkumis tebal, tampangnya gagah sekali. Dengan seragam perguruan yang berwarna putih. Rambut pendek ikal. Sebagai murid pertama.


KI WARSO bertubuh langsing, berwajah tirus, berkulit hitam mulus, sebagai murid kedua.


KI JAYABAYA sebagai murid ketiga bertubuh pendek berotot, kepala botak, tampangnya kereng, agak berangasan sifatnya.


Bertiga telah menguasai semua ilmu perguruan Macan Putih. Hanya dibedakan sesuai dari waktu bergurunya dan kepandaiannya.


KI JAYABAYA sudah tidak sabar melihat, GOMPALA yang masih asyik berjoget,...walaupun...dari tadi bunyi titir sudah sirap, hilang,, !


" Maaf, Kakek... bukan bersikap lancang....mengapa sepagi ini sudah membuat geger perguruan kami,?" tegurnya masih dengan sopan. Walaupun sebenarnya Ki Jayabaya, sudah gatal tangan. Masih menjunjung tinggi adat kependekaraan.


Yang ditegur bukannya menyahut malah.....


" Hiaaattttt......, kalian banyak cincong.," di serangnya Ki Jayabaya dengan tiba tiba. Dua telapak tangannya yang besar ditepukan....." Plaaakk......Duaaaaarrr," terdengar suara tepukan dan lesatan tenaga dalam sekuat gajah.


Tidak hanya Ki Jayabaya saja yang jadi sasaran. Kedua kakak seperguruannyapun kena  labrak Kakek yang konyol itu!


Tiga murid utama perguruan serabutan jungkir balik menghindar.


Tidak berhenti sampai disitu, tangannya yang besar tiba tiba berubah  lemas meliuk liuk seperti belalai gajah dengan ujung kepalan tangan yang besar digunakan menyerang ke tiga arah dan juga tendangan kaki yang besar pula digetarkan menginjak tanah dengan jurus  GAJAH HOYA...dilambari ajian GAJAH AGNI... membawa perbawa panas dengan suara menderu dari angin pukulannya. Dengan masih gaya seenaknya dan tertawa tak henti henti...diselingi suara jeritan gajah..."  Haa....ha..ha...teetttt...


treettt.....ha...ha...ha...," terima seranganku.


Ki Jayabaya baru saja merapal ajian Cakar Macan sudah terdorong oleh hawa panas dari tangan besar yang lemas itu...kepalan tangan sebesar itu ..sudah nyelonong ke wajahnya.....di angkat tangan kanannya menangkis," Dukkk....Auhh," tangannya bergetar bertemu lengan kakek Gompala dan terlontar jeritan kesakitan karena  tersengat rasa panas.


Ki Warso,  melancarkan jurus Cakar Macan Merobek Halimun untuk menghalau serangan kaki Gompala,..tapi..,". Aaah....cakarannya bertemu dengan kaki yang lunak dan panas.


Demikian juga Ki Manggala...dicecar dengan serangan tangan dan kaki yang datang silih berganti bak air bah, melabraknya.


Jurus dan ajian Cakar Macan Putih Membelah Hutan miliknya tak mampu meredam serangan Kakek Gajah ini.


Hanya dengan satu gebrakan saja. Murid murid utama perguruan kocar kacir dibuatnya.


Mereka sadar Kakek Gompala bukanlah lawan mereka.


Dari ujung matanya ia memberi isyarat kepada Bayu murid terkecil...yang dengan cepat Bayu lari melesat ke pondok Sardulo gurunya bersemedi. Untuk melaporkan kegawatan situasi.


" Ha...ha..ha...Sardulo...hanya segini...kemampuan murid muridmu....ha..ha..ha...treett," tawanya diselingi bunyi terompet gajah.


" Hiyaa....hiyaaa..treeeet....uhh..," Gompala melanjutkan serangannya....akan tetapi dia sangat terkejut...ketika jurus belalai gajahnya disengat oleh tenaga yang sangat dingin..," Ceessss......," dan berkelebatnya bayangan abu abu memotong serangannya.


" Maaf, kakek yang baik...hentikanlah main mainmu!!," suaranya halus dan ramah dan sosoknya telah berdiri gagah ditengah arena pertempuran.


Kakek Gompala terkejut, terlongong longong, melihat pemuda sederhana berpakaian abu abu hitam, rambutnya yang panjang tertiup angin.


Wajahnya bersih, matanya besar bening...sedang tersenyum samar kepadanya.


" Hai, anak muda..siapa kamu,?


Mengapa ikut campur urusan ku? " tanyanya terkejut dan ingin tahu.


Karena ia sadar pemuda ini lah yang memunahkan serangannya dengan sengatan tenaga sedingin es tadi.


" Maaf kan saya, Kakek yang baik. Paman paman ini adalah saudara saya. Dan terpaksa saya lancang..Nama saya Lingga, kakek," jelasnya sambil merangkapkan tangan menyembah.


" Lingga..? ...benarkah kau Lingga?," terdengar suara terkejut dari seorang Kakek Bertubuh Pendek Gempal dengan wajah kereng cerah. Berbaju putih putih bergambar Macan didada kirinya.


Ketua perguruan Macan Putih..Sardulo sudah berada di situ.


Lingga segera datang menyembah kepada Sardulo..


" Maafkan atas kedatangan saya yang tiba tiba Ketua. Memang benar saya adalah Lingga yang mengabdi disini belasan tahun yang lalu. Terimalah salam hormatku," lanjut Lingga.

__ADS_1


" He..he...trett...treet...kurang ajar. Aku diacuhkan.. Hai.......


...  Sardulo..Lingga...kurang asem!!!!,"  teriaknya sewot_ kebakaran jenggot.


Setelah menerima hormat Lingga, Sardulo menatap lurus ke arah Gompala," ......dan kau kakek gila....sudah setua ini, masih saja, senang mencari gara gara," ujarnya sambil tersenyum masam.


Kemudian sekali berkelebat...Sardulo sudah berada tepat di depan Gompala. Dipeluknya Gompala dengan hangat....sedang Gompala membalas pelukan itu dengan tingkah yang konyol cengengesan.


" Anak anakku, beri salam dan hormat kepada Kakek Gompala, ketua Perguruan Gajah Hoya dari Danau Minai. Kakek ini adalah sahabat baikku," perintahnya segera kepada muridnya.


Semua memberi salam dan hormat kepada Kakek Gompala, yang diberi salam malah cengengesan.


Sergahnya tidak sabar.,


" Tunggu dulu, !!...Sardulo


.... tidak usah banyak peradatan.


Aku masih penasaran, apa mu kah Lingga, anak aneh ini,??" tunjuk kepada Lingga..yang hanya terdiam melihat apa yang terjadi.


Sardulo  tersadar. Dia juga merasa penasaran juga..?


Setelah mendapat laporan dari Bayu...dari kode rahasia yang ia terima untuk menghentikan semedinya.  Kode yang memberitahukan ada urusan yang gawat menimpa perguruan.


Serentak ia bergerak cepat melihat keadaan dan ia masih sempat melihat gerakan Lingga memotong serangan Gompala....


" Gompala..Lingga seketiar sepuluh tahunan yang lalu pernah ikut denganku. Tapi , kemudian ia hilang di air terjun di bukit itu. Tiga hari tiga malam, kami semua sibuk mencarinya dan tidak di ketemukan.


Dan sudah kami anggap hilang!!.


Tidak tahunya...muncul disini sehat wal afiat." terangnya kepada Gompala.


Semua murid yang hadir pun menjadi teringat kepada pembantu cilik sang Ketua dulu.


Yang hilang ditelan air terjun.


" Memangnya ada apa Gompala,"? Sardulo bertanya kepada Gompala.


" Gerakannya aneh...dan tenaga dalamnya luar biasa....sedingin es," bisiknya kepada Sardulo. Yang diam diam terkejut mendengar penjelasan Gompala.


" Aku..akan mengetes sekali lagi...bolehkan,"? kejarnya penasaran.


Sardulo hanya bisa manggut manggut mengiyakan dan ujarnya kepada Lingga.


" Lingga , jangan sungkan..tunjukkan kemampuanmu.,"!! belum selesai bicara..Gompala sudah pasang kuda kuda dan langsung menyerang Lingga.


" Lihat seranganku...Gajah Hoya Membabat Hutan...hiyaaa....tret...trettetet," walapun bertubuh besar, tapi gerakannya lincah dan cekatan.


Tangannya yang meliuk lemas dan tendangan kakinya yang berat menyerang ke empat sasaran. Dialiri tenaga dalam Gajah Agni yang menderu panas.


Tanpa sungkan, Lingga mengepos semangat mengeluarkan jurus Walet Merah.


Tubuhnya melenting, kebelakang, ketika kepalan tangan yang besar menderu panas mengincar dadanya. Dilanjutkan dengan egosan kiri menghindari sabetan lengan sebesar batang kelapa.


Gerakannya lincah dan ringan, secepat burung walet meliuk liuk. Dipantulkan ujung kakinya, kemudian melejit keatas seringan kapas menghindari tendangan berantai yang datang susul menyusul.


Angin pukulan menderu bagai amukan lahar panas...


" Jangan hanya menghindar Lingga,! tahan seranganku", Digoyangkan tubuhnya yang besar. Dikerahkan tenaga dalam tujuh perdelapan .... Kedua tangannya berwarna merah.


" Hiyaaaa.....desss.....eeeh!!," dua tangan bertemu....Gompala sangat terkejut...benturan kedua tangan , sama sama berisi pukulan panas membara.!


Diluar dugaan tangkisan Lingga berhawa panas. Bukan dingin seperti yang diharapkan.


Tenaga yang keluar seimbang.


" Maaf, Kakek, sekarang terimalah serangan ku....srett..sreet..cuss..cusss!!," Lingga mempercepat gerakan Walet Merahnya..dan dari ujung jari telunjuk kanan dan kiri...keluar totokan jarak jauh.


Hebatnya...telunjuk kanan keluar tenaga dalam inti api....


Yang telunjuk kiri..melesat tenaga dalam inti salju...


"Huaaaah.....lhadalah...trett...treet...ilmu macam apa ini," Tubuhnya  yang besar terpaksa menggelinding kesana kemari..menghindari serangan ajaib Lingga.


Jurus Jari Sakti Menusuk Matahari dan Membelah Bulan dilancarkan bebarengan.


Bukan alang kepalang dahsyatnya. Gompala yang termasuk jagoan tua, kalang kabut menghadapinya.


" Cukup..Lingga tahan seranganmu," Untung saja melihat gelagat yang tidak baik buat kehormatan sahabatnya.


Sardulo dengan cepat menengahi adu ilmu dan tenaga dalam itu.


" Jari sakti...hebat...Jari sakti...Lingga si Jari sakti," melihat hasil yang luar biasa itu. Mulai lah dari mulut kemulut yang hadir terlepas kata kata itu.


Dan Sardulo mendengar itu mengangguk setuju.


Sambil mendekati sahabatnya yang masih sibuk mengebut debu diseluruh pakaiannya. Dengan nafas ngos ngosan dan kepala geleng geleng, tanda tidak percaya, apa yang telah terjadi padanya.


Untung hanya mencoba ilmu, bukan bertempur sungguhan.


Dasar lancang pikirnya dalam hati menyesal. Mengagulkan kesaktian sendiri, tidak sadar kalau telah muncul bibit baru.


Lingga si Jari Sakti..


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2