Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 22


__ADS_3

CHAPTER 22


Ada di Pernikahan YangTertunda


Tidak ada yang menyadari, tidak ada yang memperhatikan, seorang pemuda tampan berambut ikal, dengan tarikan senyum sinis hadir dalam keramaian ini.


Baskoro, menyisip kabar, tentang Kinanti, Paramitha , Ki Gompala dan calon-calon lawannya nanti.


Setelah di rasakan cukup, ia berlalu tanpa mengucapkan selamat kepada kedua mempelai yang berbahagia.


***


Dua wanita kembar bak pinang di belah dua pun hadir di sana. Sama tujuan, dan sama rencana.


Larasati dan Nyi Puspa Sagopi.


Kalau bukan dalam keramaian seperti itu pasti ada yang mengenali mereka berdua.


Dua-dua cantik mempesona, pasti akan tampil menonjol.


Sehubungan perhatian terpusat kepada dua mempelai saja, mereka berhasil menyusup di acara ini.


Hanya si mata keranjanglah yang tidak akan melepas pandangan genit dan menggoda, mencuri-curi pandang, bahkan mencuri -curi kenal.


Dua wanita itupun berlalu tanpa memberikan ucapan selamat, karena merasa apa yang menjadi tujuannya telah tercapai.


Mengukur dan mengenali kekuatan lawannya. Nyi Dyah Puspa dan para pendekar" sial " itu.


***


Ada juga seseorang yang bertubuh tinggi kurus, dengan ikat kepala milik orang asing, seperti sorban membungkus kepalanya.


Sorban itu, menyembunyikan kepalanya yang gundul.


Wajah dan kulit nya tidak lagi merah seperti dulu. Badan tidak besar seperti dulu.


Tinggal satu-satunya yang merah adalah sorot matanya. Menyimpan gelegak dan gejolak dendam.


Delapan tahun yang lalu, ia mengalami kesengsaraan kalah dan terluka dalam, melarikan diri, menyembunyikan diri, mengobati luka-lukanya.


Ya, Hrastu Bhumi, Pendeta muka merah. Berubah menjadi muka pucat kini.


Luka tusukan ajian Jari Sakti Inti Gerhana, yang merubah fisik dan hatinya yang terbakar dendam seperti ini.


Saatnya ia membalas dendam.


Dan inilah langkah pertama, menyusup dan menyisip kabar, keberadaan musuh-musuhnya.


Lingga, Santika, dan si setan Denawa.


Ia kembali ke negeri Asoka, membawa dendam yang mengerikan.


Dalam keramaian pesta


Ada pusaran dendam kesumat


Udara dan hawa pembunuhan menguar


Namun semua tidak menyadari


Semua larut dalam pesta


Hrastu Bhumi meninggalkan pesta dengan rasa puas.


Ia tadi sudah memberikan selamat kepada kedua mempelai, di hadapan musuh-musuh besarnya.


Tidak ada yang mengenalinya.


Ia di sambut dengan hormat, karena disangka sebagai perwakilan dari Negeri Asing yang memberikan ucapan selamat dan hadiah.


***


Pesta suka cita usai sudah.


Kebahagian masih milik kedua mempelai. Yang telah di satukan oleh ikatan suci.


Perasaan cinta untuk saling memiliki, saling memberi, saling bahagia dan saling berbagi dalam derita.


Untuk berapa lama Lingga, tinggal di istana Panglima Banara.


Tiba saatnya ia harus memboyong Paramitha, sesuai kesepakatan yang ia ambil berkaitan dengan anugerah yang ia terima dari Baginda Raja.


Baginda Raja memberikan anugerah, pangkat, tanah dan tempat tinggal di dekat istana.


Karena Lingga di angkat sebagai Panglima perang menggantikan Banara, yang telah di angkat sebagai Perdana Menteri Kerajaan Asoka.


Pangkat, harta, tempat tinggal, semua ditinggalkan.  Dengan memohon dan meminta ampun,  Lingga menolak anugerah baginda.


Semula Baginda Raja, merasa marah mendapat penolakan Lingga.


Namun, dengan bujukan Pangeran Ludiro, yang sebenarnya sudah mengingatkan kemungkinan penolakan Lingga, Raja dapat menerima dengan bijaksana.


Lingga hanya menerima satu anugerah yaitu Raja menjadi walinya. Dan itupun sudah dianggap lebih dari cukup baginya.


Dan saatnya telah tiba, ia harus memboyong Paramitha untuk tinggal dengannya di Lembah Penantian.


Karena setelah mereka menikah. Ki Denawa dan Nyi Mayang menyusul menikah juga.


Tanpa perayaan, yang terpenting berdua juga telah di satukan dengan ikatan suci.


Dan Nyi Mayang ikut dengan Ki Denawa tinggal di Lembah Kematian.


***


Waktu berjalan dengan cepat.


Matahari dan Rembulan silih berganti menunaikan perannya masing-masing.


Musim demi musim, bergulir tanpa henti.


Kehidupan terus berubah dan berderap tanpa lelah.


Semuapun telah berubah.


Tiga tahun sudah waktu pergi tanpa berpaling.


Kehidupanpun di negeri Asoka begitu indah. Tenang, damai tanpa ada gejolak.


Ataukah ada bara-bara yang bersembunyi.


Menunggu waktu yang tepat.


Menunggu saat yang tak bisa berbalik.


Siap membakar Asoka sekali lagi?


***


Di Lembah Penantian.


Rumah yang dulunya sederhana. Kini tampak lebih besar, rapi dan indah.


Tiga tahun yang lalu, rumah itu telah di pugar dan di bangun kembali.


Pohon Mahoni tua, yang tinggi besar, masih ada di sana.

__ADS_1


Di biarkan terus hidup, karena pohon ini telah menjadi saksi, pasang surutnya cinta.


Naik turunnya gelombang cinta dan rindu.


Saksi abadi cinta yang tidak pernah mengenal musim.


Saksi abadi cinta yang tidak pernah mengenal kasta.


Cinta yang siap menerima dan cinta yang siap memberi.


***


Sepagi ini, teras rumah besar itu masih lengang.


Lalu lalang orang yang pergi ke sawah atau ke ladang sudah dari pagi belum berhenti.


Semenjak Lingga dan Paramitha, tinggal di sana. Lereng Pegunungan Samara ini menjadi Dukuh yang ramai.


Selain tanahnya yang subur, dukuh itu, adalah dukuh yang aman dan tentram.


Tiba-tiba ada jerit melengking yang menghambur dari pintu depan. Dan berlari menuju pohon Mahoni.


Seorang anak perempuan kecil dengan pakaian serba merah, wajahnya cantik dan lucu. Berteriak-teriak meloncat dan bergerak lincah, sambil memainkan sebatang pedang kayu kecil di tangannya.


Bocah perempuan mungil lucu ini, usianya belum genap, tiga tahun, namun sudah mempunyai dasar gerakan silat. Lihat cara memegang pedang, adalah salah satu dari jurus, Pedang Teratai Welas Asih.


Pramesti adalah nama bocah lucu itu, puteri Lingga dengan Paramitha.


" Hiaat..hiaat..hiaat," ia berteriak melengking, sambil menggetarkan pedangnya.


Lucu sekali gerakannya.


Lucu sekali tingkahnya.


Rambut kepangnya bergoyang-goyang, ketika ia bersilat di bawah pohon Mahoni.


Teriakannya membangunkan seekor burung Drekuku yang sedang bermalas-malasan.


Terkejut, mengepakkan sayapnya terbang ke arah Barat.


Ke arah Barat!


Ada peristiwa apa di sana?


Bersambung...


Hrastu Bhumi Muncul Lagi


Gunung Panca terdiri dari lima puncak yang mempunyai warna berbeda.


Hijau, Hitam, Biru, Ungu dan Putih. Puncak tertinggi berwarna putih dan selalu diselimuti kabut.


Tidak ada seseorang pun, bisa kembali turun dari puncak Putih.


Berhasil naik, tidak pernah turun.


Bisa turun, tidak akan selamat.


Turun luka berdarah, robek anggota badan. Turun keracunan, dan aneka sebab yang lain. Turun dalam kepayahan, tak lama kemudian, dijemput kematian.


Yang paling sering, naik tidak turun lagi. Hilang....tidak tahu kemana?


Tempat yang misterius ini yang di pilih oleh Santika dan Kinanti untuk membesarkan Ganesha.


Tempat yang membahayakan, namun menjadi tempat yang teraman bagi mereka bertiga!


***


Gunung Panca masih tegak menjulang tertutup kabut.


Beda sekali dengan keadaan di puncak Putih yang selalu tertutup kabut, ternyata ada sebagian kecil tempat yang cemerlang di timpa sinar matahari pagi, hanya seluas sepuluh meteran persegi. Kabut tinggal samar, di sini.


Angin menderu, bergulung gulung. Suaranya seperti lenguhan dari makhluk dari dunia lain.


Menerpa pepohonan, semak belukar, berderit, bersuit saling berlomba, menuju ke satu titik.


Sosok manusia yang duduk diatas batu datar.


Bersemedi!


Diam, mematung, larut dalam


penyerahan diri , menyatu dengan alam. Tubuhnya berpendar warna biru menyilaukan tertimpa sinar matahari.


Kontras dengan latar belakang yang putih berkabut.


Santika larut dalam penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa.


Menyerap energi alam sebebas-bebasnya.


***


Sementara itu, di belakang Rumah Kecil yang terpencil itu.


Di ujung tanah datar, tidak jauh dari Santika bersemedi.


Nampak anak laki-laki yang berusia hampir sepuluh tahun.


Tubuhnya tinggi sedang, Wajahnya bulat tampan. Hidungnya mancung. Bibirnya selalu tersenyum.


Matanya bening berbinar binar, kulitnya putih dengan rambut berombak.


Sedang berlatih ilmu silat seruling. Kuda-kudanya mantap. Gerakannya lincah, dan cekatan.


Tusukan seruling, dan belahan seruling menimbulkan suara bagai jeritan naga kecil yang terbang melintasi langit, bermain dengan awan yang berarak.


Ilmu Bayangan Seruling Pencabut Nyawa, di mainkan. Semua jurus dan kembangan sudah sempurna di kuasainya.


Gerakannya matang. Tinggal tenaga dalam yang melembari jurus itu, yang masih harus di latih.


Walaupun begitu, tidak akan dengan mudah orang bisa mengalahkan bocah lucu yang selalu tersenyum itu.


Sifat dan wataknya berbanding terbaliknya dengan Ayahnya, Santika, Pendekar Seruling Biru, yang serius, jarang tersenyum.


Ganesha, suka tertawa, suka tersenyum, suka sekali bercanda dan menggoda.


Sifat yang diturunkan oleh Kinanti, ibunya. Yang sedang menemani Ganesha berlatih dengan duduk di samping rumah.


Kinanti si Bidadari dari Timur, terlihat semakin matang. Usianya kian bertambah namun kecantikannya tidaklah memudar.


Semakin cantik dan bersinar.


Kehidupan yang bahagia membuatnya selalu tersenyum, dan wajahnya selalu berseri-seri.


Rambutnya yang hitam panjang di gulung dengan tali sutera merah, senada dengan hiasan mawar merah ciri khasnya.


Baju berwarna putih cemerlang kontras dengan hiasan, tali rambut, dan selendang merah yang melingkar di pinggangnya yang langsing.


Itu selendang merah adalah senjata andalan. Yang mengangkat namanya sebagai pendekar wanita.


Ia tersenyum bahagia, melihat anaknya yang rajin berlatih dan dari kejauhan melihat suaminya sedang bersemedi.


Gunung Panca, kali ini sangat lengang. Walaupun matahari manis cemerlang. Membagi sinarnya dengan sejuta kehangatan.


Namun, suara satwa yang biasanya mengisi keheningan dengan jerit dan celotehnya, kali ini tidak terdengar.

__ADS_1


Sepi..hanya suara angin!


Alam memberikan pertanda?


***


Gunung Panca adalah tempat yang sembarang orang tidak bisa seenaknya datang dan pergi.


Tempat yang sangat berbahaya.


Selain banyak jurang terjal, keadaan tanah yang labil, jebakan-jebakan alam yang tersembunyi. Menyembunyikan binatang beracun, asap atau air beracun.


Bahkan tumbuhanpun hidup di situ, banyak yang beracun.


Tidak mudah untuk naik ke tempat itu.


***


Namun di pagi yang hening itu, dari sisi gunung sebelah barat.


Tepat di tebing yang curam dan berbahaya, terlihat empat titik warna, biru, kuning, hijau dan putih, bergerak cepat mendaki gunung Panca.


Empat tamu yang tidak di undang, menyantroni kediaman Santika.


Tamu-tamu yang berkepandaian tinggi.


Dengan lincah, seakan sudah terbiasa menghadapi medan perjalanan yang terjal dan berjurang curam.


Yang berpakaian putih tinggi kurus. Adalah Hrastu Bhumi, dan tiga yang lainnya adalah kambratnya yang baru.


Yang ia temukan di persembunyiannya, ketika ia terluka parah oleh Lingga si Jari Sakti.


Bersembunyi di seberang yang jauh dari Negeri Asoka.


Di sebuah pulau, yang sesungguhnya adalah gunung es yang muncul kepermukaan laut.


Kontur tanah yang curam, terjal, dan tertutup salju abadi.


Tusukan jarak jauh Inti Gerhana, mengacaukan aliran darahnya.


Merubah susunan di dalam tubuhnya. Memporak perandakan, tenaga dalamnya.


Kesengsaraan begitu hebat.


Untuk nyawanya bisa terselamatkan, dengan berendam di kawah gunung yang bersalju itu.


Ia selamat, namun fisik dan tenaga dalamnya berkurang banyak.


Tubuhnya menjadi kurus. Ilmunya yang tertinggi yang mampu merubah dirinya menjadi raksasa dan ajian Gasing Maut, sudah tidak mampu di rapalnya lagi.


Kekuatanannya berkurang. Namun dendamnya semakin tinggi menyentuh langit.


Lingga, Denawa dan Santika, adalah nama-nama yang selalu membuat mimpi-mimpi buruk sepanjang persembunyiannya.


Ia harus membalas dendam. Apapun yang terjadi.


Maka setelah ia sembuh, meski kesaktiannya berkurang banyak, ia mencari bala bantuan. Para Tokoh Sesat di Pulau itu, dengan iming-iming harta.


Hrastu Bhumi, sejatinya kaya raya.


Ia pernah menemukan harta karun di suatu kali petualangannya. Harta itu di sembunyikan. Dan sekarang di pergunakan untuk memikat kambratnya yang baru.


Dengan kecepatan yang di luar nalar, mereka berempat, dengan diam-diam berhasil mencapai puncak gunung Putih.


Dari hasil penyelidikan Hrastu Bhumi, jalan naik yang ditempuh itu adalah jalan yang tersulit. Namun jalan yang paling aman.


Tidak ada jebakan-jebakan alam yang beracun dan berbahaya.


Mengapa Santika yang di pilihnya sebagai sasaran pertama?


Hrastu Bhumi, menganggap Santika adalah musuh yang terlemah. Apalagi ia di bantu kambratnya, yang ia pilih, bukan penjahat-penjahat kacangan.


Setelah di Santika, ia berencana menumpas Denawa. Dan yang terakhir, Lingga, yang telah menyelakai, hingga dirinya seperti ini.


***


Udara dan panas yang menghangatkan tubuh. Semua energi alam di serap sempurna oleh Santika.


Semua energi itu, di pergunakan untuk menyempurnakan ajian Kasih Pemutus Duka.


Dalam hening semedinya, tiba-tiba firasat buruk menerjang kesadaraannya.


Apalagi ketika ia mendengar teriakan perkelahian, dan suara melecut selendang milik Kinanti istrinya.


Secepat kilat di sambarnya seruling biru yang ada di depannya. Tubuhnya berkelebat seperti meteor, melesat membawa cahaya putih. Ia langsung merapal ajian Kasih Pemutus Duka, dengan mengalirkan jurus, Bianglala Pengejar Roh.


Perasaannya memberitahukan bahwa ada musuh-musuh tangguh menyerbu kediamannya.


***


Sebelumnya..


" Ha..ha..ha..wanita cantik, masih ingatkah dengan aku?," Hrastu Bhumi dan tiga kambratnya muncul di hadapan Kinanti yang sangat terkejut. Dari belakang jurang yang curam dan terjal dapat muncul orang-orang yang aneh.


Pasti, mereka berkepandaian tinggi. Dan bermaksud buruk.


Tidak ada seorang tamupun, yang datang bertamu lewat belakang.


Kinanti mengingat-ingat siapa Laki-laki gundul kurus bermuka pucat ini. Tertawanya yang keras membahana, sepertinya ia pernah mendengarnya. Lupa-lupa ingat.


" Hai..anak montok siapa itu, waduh..pandai bersilat pula," pandangan Hrastu Bhumi, tertarik dengan Ganesha yang berlatih silat.


" Hiya..ayo seranglah, Paman Hrastu,.hiaatt..," Hrastu Bhumi melenting ke arah Ganesha.


Melancarkan serangan, sunguh-sungguh.


Kinanti terkejut ketika ia mendengar laki-laki kurus pucat itu mengaku sebagai Hrastu Bhumi.


Ohh..Kinanti melengak kaget. Hrastu Bhumi, pemberontak itu. Pantas tawanya seperti ia kenal.


Dengan sebat Kinanti melenting ke arah Ganesha, berusaha menyelamatkan anaknya. Namun lentingannya terlambat satu langkah.


Wanita cantik berbaju hijau menor itu, mencegah geraknya. Karena tiba-tiba dari balik punggungnya, terlontar cemeti ekor sembilan bak tangan-tangan gurita beracun.


Dengan sigap..


Kinanti menggeletarkan selendang merahnya, memapaki serangan dari wanita aneh yang berpakaian hijau pupus. Wanita yang bersenjata cemeti ekor sembilan yang beracun.


Wajahnya cantik, tapi dandannya sangat menor. Seronok.


Setiap gerakan cemeti ekor sembilan itu, selalu menerbitkan bau amis yang menjijikan dan beracun. Remona Iblis Cantik Ekor Sembilan, kambrat Hrastu Bhumi, menyerang dengan ganas.


Kinanti, kosentrasinya terbagai antara menyerang, mempertahankan diri atau ia menyelamatkan Ganesha.


Ganesha yang sedang berlatih silat, berhasil di tangkap oleh Hrastu Bhumi yang berubah tinggi kurus botak berkulit pucat, berbaju putih longgar!


Hrastu Bhumi berhasil meringkus Ganesha,


" Ha..ha..ha..bocah tengik. Lihat ibumu, sebentar lagi akan mampus," tawanya mengerikan, dan cengkeraman di rambut panjang Ganesha semakin di perketat.


Ganesha, tergantung-gantung dalam cengkeraman Hrastu Bhumi. Bocah itu tertotok rupanya.


Kinanti semakin terdesak.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2