Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 30


__ADS_3

CHAPTER 30


Dua Kumbang Versus Dua Bunga


 


Sementara itu di tempat lain...


Pemuda tampan bersenyum


sinis yang berbaju hijau ketat terus melanjutkan larinya sepesat angin.


Ini di lakukan karena firasatnya ada yang tidak beres yang terjadi


setelah ia mendengar kabar dari para sekutu barunya.


Ada geger di Istana.


Ada keributan di istana karena Baginda Raja Baruna lenyap di culik musuh!


Ia harus cepat berada di


sekitar istana, untuk mencari kesempatan menjual jasa, atau diam-diam


berpihak kepada sisi manapun yang akan memberikan keuntungan terbesar


baginya.


Dengan pemikiran dan


pertimbangan seperti itu, pagi-pagi benar ia sudah meninggalkan tempat


tinggalnya di ujung Pantai Selatan sana untuk mengadu untung mencari


kesempatan dalam kesulitan.


Beberapa kali ia sudah


memasuki ibukota. Untuk keperluan mencari sekutu atau pun memenuhi


hasratnya. Mencuri atau mencari wanita.


Baskoro, sudah pernah ke


Istana Perdana Menteri Baruna, saat merayakan pernikahan anaknya


Paramitha dengan Lingga. Ya, Paramitha musuh bebuyutannya.


Yang menjadi sebab kematian Ibunya Cempaka ( baca : Pendekar Jari Sakti )


Dari kisik-kisik


sekutunya. Bahwa secara tersembunyi, para datuk, penjahat golongan hitam


banyak yang sudah direkrut menjadi kaki tangan kelompok yang merongrong


negeri Asoka. Sudah lama gerakan bawah tanah ini disiapkan.


Mereka direkrut sebagai


centeng, tenaga keamanan para hartawan jahat, juga direkrut oleh para


pejabat negara yang sarat kepentingan, untuk mengamankan diri sebagai


pelindung keselamatan. Sekalian sebagai tukang pukul atau tukang tagih


kepada rakyat jelata yang terjebak masalah dengan mereka.


Gerakan bawah tanah ini tinggal menunggu waktu saja untuk bergerak ketika mendapat komando.


Kemungkinan sebentar lagi saatnya akan tiba!


Baskoro, belum menentukan pilihan untuk ikut atau berpihak dengan siapa?


Ia ingin sekali pukul mendapatkan ikan yang besar.


Dendam-dendam kepada musuhnya terbalas dan ia mendapatkan kemuliaan dan kekuasaan.


Sebenarnya dengan cerdik ia sudah membaca gerakan bawah tanah itu bermuara kepada Sang Perdana Menteri Banara.


Kalau hanya mengejar


kemuliaan dan kekuasaan tanpa pikir panjang ia akan mengabdikan diri


kepada Perdana Menteri Banara. Namun yang membuatnya maju mundur


mengambil keputusan karena salah satu musuhnya adalah anaknya Perdana


Menteri ini.


Sambil terus melesat


menggunakan ilmu ringan tubuhnya Menggulung Langit Melipat Awan, Baskoro


terus menimbang untung rugi pilihannya. Dan sudah saatnya juga ia harus


berterang dalam bergerak. Ia harus cepat mengangkat nama, dan berperan


dalam peristiwa besar ke depan.


Ya, ia memutuskan


memendam hasrat balas dendam dulu, ia memutuskan untuk segera menghadap


Banara sang Perdana Menteri untuk menjual jasa.


*


Para Pendekar yang berniat memberikan bantuan untuk keselamatan negara sudah pula berbondong-bondong menuju istana.


Para penjahat pun tidak mau kalah langkah. Mereka memang sebagian besar adalah anggota gerakan bawah tanah itu.


Dari


instruksi terakhir, mereka harus cepat bergerak menuju istana, untuk


mengamankan pos-pos atau tempat strategis yang menjadi kantung-kantung


kekuatan mereka yang tersebar.


Negara Asoka dalam


keadaan kosong atau status quo karena Baginda Raja lenyap diculik musuh.


Untuk sementara semua urusan kerajaan dikendalikan oleh Perdana


Menteri. Berarti tujuan mereka pun tinggal di depan mata. Satu kali


langkah lagi!


*


Kembali kepada pertempuran yang berhasil dipisahkan sementara oleh Ganesha.


" Maaf, nona Baju Merah.


Kalau boleh lancang bukankah gerakan selendang kuningmu tadi, dasar


gerakan dari jurus Bianglala Pengejar Roh?" tanya Ganesha hati-hati.


Si Gadis Baju Merah, terkejut sekali terlihat dari sepasang matanya yang terbelalak dan alis matanya yang tertarik ke atas.


" Apa urusanmu, dengan segala jurusku?" suaranya ketus dengan menunjuk ke arah Ganesha.


" Hai, Gadis Liar.


Ditanya baik-baik, malah jawabanmu kasar seperti itu," tegur si Gadis


Hijau karena tidak tega melihat pemuda tampan menjadi salah tingkah


karena terus-terusan didamprat.


" Ooo, ternyata kamu sudah dapat sekutu. Mau mengeroyok ya.... Ayo maju... Siapa takut!" seru Gadis Merah semakin marah.


Di lolosnya pedang beronce yang tersoreng di punggungnya.


" Sreeet... Sring....


Ayo maju!" semprotnya gusar. Membentang kuda-kuda, tangan kanan


menggengam erat pedang, tangan kiri memutar selendang sebagai perisai


untuk bersiap-siap menjaga kemungkinan.


Tiba-tiba berkesiur angin dan berkelebat bayangan hijau di antara mereka.


" Ha... Ha... Ha... Dua


lawan satu, tidak adil namanya. Aku menjadi pelengkapnya. Jadi dua lawan


dua," suara tawa dan ucapannya datang diikuti sosoknya yang sudah


muncul di antara mereka.


Bertambah satu lagi, seorang pemuda tampan tinggi besar berambut ikal.


" Kamu... ?" tegur Ganesha mengenali siapa yang datang.


" Aha... ternyata kamu ada di sini juga, ya. Selamat bertemu lagi," ucapnya sombong dan merendahkan.


Melihat kelakuan pemuda


terakhir yang datang, membuat si Gadis Merah yang sebenarnya baik karena


dalam keadaan marah dan kesal, Ganeshalah menjadi pelampiasannya.


Ee... ini ditambah lagi, kehadiran pemuda aneh tanpa diundang dan tanpa diminta membantu. Semua membuatnya semakin marah.


Sambil membanting kakinya kesal, ia kembali mendamprat.


" Dasar, Orang Aneh. Siapa yang butuh bantuanmu.


Hai.... Gadis Sombong,


urusan kita belum selesai... Aku malas di sini banyak kecoa...!" setelah


menyemprot pemuda pendatang dan mengancam si Gadis Merah, sekali lagi


ia membanting kaki, berkelebat dan lenyaplah ia menuju ke Utara.


" Heii... tunggu. Kau maki aku, kecoa ya?" si Pemuda Baju Hijau melesat mengejar meninggalkan gelanggang tanpa menoleh lagi.


Tinggal Ganesha dan Gadis Baju Hijau di sana.


" Oh... Maaf sekali


nona, aku mengganggu urusanmu. Oya, namaku Ganesha. Aku hanya penasaran,


mengapa nona tadi mengeluarkan jurus seperti itu," dengan tulus Ganesha


meminta maaf dan memberikan penjelasan, akan tindakannya memisah


pertempuran tadi.


Si Gadis Baju Hijau, diajak bicara malah terkejut. Ternyata ia melamun.


" Ee... Apa maksudmu tadi?" tanya gugup dan malu.


" Namaku Ganesha, kalau


boleh tahu, Nona namanya siapa dan mau ke mana?" tanya Ganesha sopan


tanpa menyinggung kalau Si Gadis Baju Hijau tadi melamun.


" Oo, maafkan aku juga.


Namaku Larasati. Tidak masalah. Aku juga heran, hanya karena suara


kereta dan debu yang terhambur mengenai Si Gadis Baju Merah tadi saat ia


istirahat di ujung jalan sana, ia langsung marah besar," jelasnya


kepada Ganesha.


Mendengar penjelasan itu Ganesha hanya mengangguk saja dalam batinnya " Sama-sama galak bertemu."


Sepotong senyum manis tercetak di wajahnya.


Ia tidak memperhatikan bahwa Larasati juga wajahnya bersemu merah karena di dalam batinnya " Ih... Dua-duanya sama tampan. Kelihatan ia juga berilmu tinggi."


Larasati menjadi terkejut ketika didengarnya suara Ganesha.


" Nona Larasati mau kemanakah?"


" Aku mau ke Istana, karena dari kabar Baginda Raja Hilang," jawabnya cepat.


" Wah, tujuan kita sama. Bolehkah jika kita menjadi teman perjalanan," usul Ganesha.


Untuk sekian detik


pikiran Larasati memutuskan cepat, siapa tahu pemuda sakti ini bisa


menjadi sekutunya untuk melawan musuh bebuyutannya.


Lagian juga, Ganesha pemuda yang baik, sopan dan tampan...


Tanpa membuang kesempatan jawabnya cepat.


" Boleh, jika kamu tidak


keberatan, aku naik kereta?" jarinya yang runcing indah, menunjuk ke


arah kereta kuda besar yang terpakir di ujung jalan.


" Ah, tidak masalah, aku


bisa mengikutimu, asal jangan cepat-cepat kudanya berlari. Aku bisa


tertinggal jauh. Ha... Ha.... Ha.... " sahut Ganesha riang.


Sepakatlah mereka. Larasati senang mendapat teman seperjalanan seperti Ganesha.


Dan, Ganesha entah mengapa bisa cocok dengan Larasati?


Akhirnya berangkatlah mereka menuju ke Utara, ke Istana Asoka.


Larasati dengan kereta kudanya.


Ganesha dengan ilmu ringan tubuhnya Naga Terbang Meniti Awan mengikuti di belakang lari kereta.


*


Semua datang berbondong, bergelombang dengan tujuan yang berbeda-beda.


Akankah Baginda Raja masih bisa diselamatkan?


 


 


Bersambung....


 


Kabut Mulai Tersingkap


Istana dan tempat


seputarnya penuh dengan tentara kerajaan yang berjaga-jaga. Semua tempat


strategis dilipatgandakan penjagaannya.


Para undangan dan sukarelawan yang dimintai bantuan sudah datang bergelombang dari penjuru Negeri Asoka.


Ada dua tempat yang


dituju yaitu, Istana Asoka yang sementara waktu dikendalikan oleh


Perdana Menteri Banara dan satu tempat lagi adalah Grha Hening Jiwa


milik Pangeran Ludiro.


*


Gadis Berbaju Merah atau


yang bernama Kemala Ayu, dengan kesal dan marah terus melanjutkan lari


ke tujuan semula, yaitu ke Grha Hening Jiwa milik Pangeran Ludiro dan


Puteri Xenia, sahabat ayah dan ibundanya.


Ia tidak memperdulikan bayangan hijau yang membayangi ketat di belakangnya.


Ia terus merapal ajian Naga Terbang Menggulung Angin, ilmu ringan tubuh warisan Ayahnya Santika.


Baskoro terkejut juga


melihat arah larinya si Gadis Baju Merah yang galak, malah berbelok


menuju Istana Grha Hening Jiwa milik Pangeran Ludiro, bukan menuju


Istana Asoka.


Larinya sangat cepat.


Saat mencapai persimpangan, terpaksa Baskoro menghentikan pengejarannya.


Ia memilih meneruskan tujuan yang lebih utama, sementara waktu mengesampingkan keinginan bersenang-senang.


Baskoro memilih arah sebaliknya dan dengan cepat tiba di depan istana yang dijaga ketat oleh tentara kerajaan.


Di depan gerbang, Baskoro dengan cerdik mengeluarkan tanda khusus rahasia yang dimiliki gerakan bawah tanah.


Tanda khusus yang ia


peroleh dari sekutunya, yang bisa dipakai suatu saat nanti jika Baskoro


mau mengabdi kepada Perdana Menteri Banara.


Penjaga sudah paham, dan memberikan jalan lancar kepada Baskoro untuk menghadap junjungannya.


*


Kedatangan Baskoro termasuk yang belakangan. Sudah beberapa tokoh golongan hitam sudah datang dulu menghadap.


Ki Warok Samber Nyowo dari telatah Tenggara.


Nyi Sagopi dari Bidadari Berbisa dari Timur.


Baskoro Kelabang Hijau Selaksa dirinya dari Selatan.


Ki Walang Sangit Dari Barat.


Baronang Sakti dari Utara.


Semua sudah berkumpul di dalam arahan Jumala si Pena Sakti, Guru Negara Asoka.

__ADS_1


Baskoro karena menjadi


teman baik Ki Walang Sangit, dan namanya pun sudah dikenal oleh mereka.


Langsung dengan cepat masuk dan bergabung dalam lingkungan itu.


Jumala memberikan instruksi yang telah di atur oleh Perdana Menteri Banara.


Terjadi perundingan dan pengaturan rencana masa depan Negeri Asoka.


*


Senja yang menjingga indah


Angin


berkesiur sejuk menerbangkan anak rambut si gadis cantik Pramesti yang


merasa tidak sabar merapal aji ringan tubuh Walet Merah mendahului Ayah


dan Ibundanya.


Sudah lama ia tidak


berkunjung ke tempat kakeknya Ludiro dan nenek Xenia. Yang membuat ia


tidak sabaran dan ingin cepat sampai adalah rasa kangennya kepada si


kembar Mahendradatta dan Mahagintadantta terhitung paman mudanya. Sudah


sebesar apa mereka?


Karena berlari sambil


melamun, ia tidak melihat keadaan di depannya... hampir saja ia


bertabrakan dengan bayangan Merah yang berkelebat cepat di arah


depannya.


Untung saja di saat terakhir ia mampu melentingkan tubuhnya tinggi ke udara untuk menghindari tabrakan.


" Heiii....!" terdengar


jeritan terkejut dari bayangan Merah itu. Melihat bayangan kuning muda


melejit tinggi melewati puncak kepalanya.


" Maaf....!" sahut


Pramesti yang berhasil melenting, kemudian mendarat tiga tombak lebih


jauhnya dengan lunak di samping tubuh Gadis Merah yang hampir tertabrak.


" Ma... Ah, rupanya


kamu, adik Pramesti," seru Kemala yang semula hampir melontarkan makian


dan untung saja ia segera mengenali gadis cilik yang cantik berpakaian


kuning sebagai sahabatnya sendiri.


" Ah, kakak Kemala Ayu, mengapa ada di sini?" serunya mengenali Pramesti juga.


Dua sahabat yang pernah


saling bertemu dulu. Walaupun usia mereka berbeda, Kemala Ayu lebih tua


tiga tahunan dibanding Pramesti. Karena kedua orang tuanya bersahabat,


mereka juga menjalin persahabatan sebagai kakak dan adik.


Mereka saling berpelukan, merayakan pertemuan yang tidak disangka-sangka.


" Ha... Ha... Ha.... Apakabar Kemala? Mana orang tuamu," tawa dan sapa ramah dari Lingga kepada Kemala.


Kemala segera berpaling, nampak Paman Lingga dan Bibi Paramitha sudah hadir.


Kemala segera melepas pelukannya kepada Pramesti dan menghambur ke arah Lingga dan Paramitha.


" Paman Lingga... Bibi Paramitha... !" salamnya seraya memberi hormat kepeda mereka berdua.


" Maafkan, Kemala,


Paman, Bibi. Beliau berdua masih ada di Barat. Ananda sendiri... Sedang


belajar mengembara... Kebetulan rindu sama si kembar, Ananda langsung


saja ke sini," lanjut Kemala.


Lingga dan Paramitha


hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar penjelasan Kemala.


Berhubung sudah berada di wilayah Grhe Hening Jiwa, semua memutuskan


akan melanjutkan perbincangan di sana saja.


*


Kereta Larasati sudah mendekati gerbang kerajaan dan Ganesha masih setia mengikuti di belakangnya.


Larasati yang lebih paham keadaan Negeri Asoka memimpin perjalanan.


Dengan gesit Larasati keluar dari kereta menemui Ganesha.


" Ganesha ini sudah


memasuki kawasan Istana. Itu gerbangnya. Bagaimana? Mau terus masuk ke


dalam? Aku dapat kabar, ibuku sudah ada di dalam. Kamu mau ikut ke


Istana," tawar Larasati.


Ganesha mendengar


tawaran Larasati, namun rasanya ia masih tertarik melihat keramaian


ibukota. Ia memilih menikmati suasana dulu.


" Oo... Ibumu juga sudah berada di sini, ya. Hmmm... ," Ganesha menimbang-nimbang.


" Ayolah, Ganesha...!" ajak Larasati cepat.


" Eh... Larasati,


mumpung aku berada di ibukota, dan ini adalah kesempatan emas bagiku.


Untuk sementara waktu, aku minta maaf, aku ingin berputar-putar dulu,


melihat keramaian ibukota bagaimana?," mohon Ganesha.


" Tapi, di ibukota


keadaannya lagi genting. Baginda Raja lenyap. Semua tempat


dilipatgandakan penjagaannya," potong Larasati cepat.


" Wah, kalau begitu, aku


harus menjauhi Istana yang penuh penjaga, ya? Dan... Sekali lagi maaf


tidak bisa lebih lama menemanimu Larasati, aku pergi dulu!" suara


Ganesha berpamitan dan berkelebat meninggalkan Larasati dalam rasa


kecewa.


Padahal sudah terpendam dalam hatinya, akan mengenalkan Ganesha kepada ibunya.


Namun semua gagal, dua kali sudah ia harus berpisah dengan Ganesha. Si tampan yang sakti ini.


Dengan gontai ia berjalan memasuki gerbang istana. Wajahnya yang cantik tidak mampu mengusir mendung kecewa di hatinya.


*


" Hai, Nona tunggu


dulu!," suara yang bening jelas menghentikan langkah Kemala Ayu dan


semua yang ada di depannya. Paman Lingga, Bibi Paramitha dan Pramesti.


Kemala Ayu mencari asal


suara laki-laki yang memanggil dirinya. Baru saja ia berpaling, bayangan


kuning sudah berdiri di sampingnya tanpa suara.


" Maaf, Nona, terpaksa


menganggumu sekali lagi!" suara lembut Pemuda tampan baju kuning memohon


maaf dan meminta pengertian. Senyum dikembangkan selebar mungkin, namun


reaksi yang di dapat membuatnya terkejut.


" Ah, kamu lagi, yang


mencari gara-gara. Sreettt... Hiaaaa... Hiaaa," teriak Kemala marah


sambil melolos pedang ronce yang tersoreng di punggungnya. Langsung


mengeluarkan ajian Bianglala Pengejar Roh yang di salurkan melalui jurus


pedang Bayangan Pedang Pencabut Nyawa.


Lingga dan Paramitha


ajian dan jurus khas keluarganya. Jurus dan ajian yang tidak main-main.


Gabungan ajian dan jurus inilah yang pernah membuat geger Negeri Asoka (


Baca: Geger Pedang Pemikat Sukma dan Pendekar Jari Sakti ).


" Haiit... Ah... Sabar


Nona!" suara pemuda itu terkejut. Namun tak ayal ia harus melayani


serangan pedang yang ganas itu dengan melentingkan tubuhnya ke atas,


kemudian jungkir balik ke belakang, melayang dan turun lima depa dari


tempat semula dan memberikan perlawanan dengan seruling gading yang


sudah dilolos dari pinggangnya.


Merasa menemui tempat


kosong, dan gagal semua serangannya. Membuat Kemala semakin marah,


apalagi ia melihat pemuda cerewet itu mengeluarkan seruling gading dan


membelas serangannya dengan jurus yang sama dan lebih kuat.


Kemala Ayu menjadi


semakin marah dan bingung. Semua serangannya selalu kalah satu gerakan.


Selalu didahului atau dicegat dalam melancarkan jurus berikutnya.


Lingga yang melihat itu


menjadi terkagum-kagum. Dua orang yang saling serang dengan menggunakan


dasar jurus yang sama. Sepintas lalu seperti melihat dua orang ini,


sedang berlatih ilmu yang sama.


Namun dari pengamatan


yang awas dari Lingga, ia melihat bahwa si pemuda baju kuning ini,


mempunyai kemantapan gerakan dan ganasnya jurus pedang ini menjadi


hilang, menjadi lembut dan selalu mengincar titik lemah saja.


Pemuda baju kuning ini


lebih unggul, karena mampu menyerang dan mendesak Kemala Ayu walaupun


disaat kritis serangan seruling akan berubah arah agar tidak


mencelakakan lawan.


" Siapakah pemuda ini," tanyanya dalam hati.


Belum sepersekian waktu


ia membatin. Terdengar teriakan bagai guntur dan lengkingan marah seekor


naga muncul serta suara teguran keras.


" Arrgggh... siapa yang


berani mati menyerang anakku dan mencuri ilmu keluarga kami," suaranya


sudah datang, orangnya masih jauh di belakang dan sebentar kemudian


berkelebatlah bayangan biru memegang seruling baja biru memotong


pertempuran.


Tangan kirinya melontarkan tenaga lembut sehingga Kemala Ayu terdorong keluar dari arena pertempuran.


Kemudian dengan cepat,


sosok biru lelaki dewasa itu, melanjutkan serangan dengan kekuatan yang


lebih besar daripada Nona baju merah yang menyerangnya tadi.


Pemuda baju kuning merasakan perubahan itu.


" Maaf, Paman, saya... "


sahutnya terpotong, belum sempat menjelaskan siapa dirinya, sudah


diserang dengan tenaga lebih kuat dan datang bagaikan badai gelombang.


Santika sempat melihat dari jauh pertempuran Kemala melawan pemuda berpakaian kuning ini.


Pemuda berpakaian kuning, sudah terlanjur, kepalang basah dan tidak bisa mundur lagi.


Dengan


terpaksa merapal ajian dan jurusnya kembali. Diputarnya seruling


gadingnya mengaung mengeluarkan teriakan naga yang tak kalah dahsyat.


Jurus dan ajian yang sama.


Gelombang serangan datang bagai badai, silih berganti, saling serang, saling mengunci gerakan lawan.


Lingga sekali lagi


melihat pemandangan dari pertandingan yang sama. Jurus dan ajian sama,


namun kali ini lebih dahsyat! Karena sosok biru adalah Santika ahli


waris utama jurus Bianglala Pengejar Roh dan Jurus Bayangan Seruling


Pencabut Nyawa.


Namun setelah diperhatikan lebih teliti. Perbawa dari ajian yang dikeluarkan berbeda.


Santika cenderung membawa hawa dan gelombang panas.


Pemuda berpakaian kuning, perbawa ajiannya mengandung hawa dingin menyejukkan.


*


Suara lengkingan dua


seruling saling serang, saling tindih. Kadang mengaum, kadang merintih,


kadang menjerit-jerit menggetarkan jantung.


Kinanti sudah sampai


juga. Ia terkejut melihat bayangan naga biru yang ia tahu pasti itu


adalah Santika suaminya. Sedang menyerang secara kuat sebuah bayangan


laiknya naga kuning mengimbangi gempuran Santika.


Santika mempercepat


serangan dan merapal ajian level 9 dari Bianglala Pengejar Rohnya, namun


serangan itu dapat dibendung oleh tenaga bergelombang yang sama


kuatnya.


Gerakan Bayangan


seruling baja birunya yang membawa tenaga panas dipergencar. Santika


juga merasakan ilmu dan perbawa lawannya berbeda dengan yang


dimilikinya. Namun ia tahu dasarnya sama persis.


Karena desakannya tidak


menampakkan hasil, Santika merubah jurusnya diselipkan seruling baja


birunya di pinggangnya. Dirapalnya ajian Kasih Pemutus Duka.


Keduanya tangannya


mengeluarkan cahaya putih cemerlang. Kuda-kudanya pendek setengah


lingkaran, dengan tolakan kaki yang kokoh tubuhnya melejit terbang


menyerang pemuda baju kuning yang masih sibuk menghilangkan sisa tenaga


yang menguar panas.


" Awas... !" teriak Santika keras, memperingatkan lawannya yang kelihatan belum siaga.


Namun


ia kecelik, pemuda baju kuning itu merandek pendek ke bumi, seakan


kelihatan mengecil, dan kemudian menggoyangkan badan kakinya seperti


liukan ular naga. Bergoyang terus bergoyang, sambil menyelipkan seruling


gadingnya di pinggang.

__ADS_1


Luar biasa, tubuhnya mulai berubah ukuran semakin besar, ya semakin membesar.


Semua yang hadir melihat itu sangat terkejut dan kagum.


Tubuh pemuda baju kuning


membesar menjadi empat kali semula, tanganya yang besar terpentang


menyampok luncuran lontaran tenaga putih mirip meteor yang dilepaskan


Santika.


Yang dahsyat, bola putih


meteor itu tidak memantul atau berubah arah, namun hasil sampokan bola


meteor itu seakan hancur berkeping-keping tinggal kerlipan cahaya putih


yang hilang ditiup angin.


Melihat perubahan tubuh


lawannya, ingatan Santika melesat ke masa lalu. Ia ingat musuh lamanya


dulu, Hrastu Bhumi yang mampu berubah ujud seperti ini.


Kepalanya bagaikan tersiram air dingin... Jangan... Jangan pemuda aneh ini ada hubungannya dengan Hrastu Bhumi.


" Lingga, coba kamu bantu aku, kelihatan pemuda aneh ini, mempunyai hubungan dengan Hrastu Bhumi, kita serang dari dua bagian," kiriman suara jarak jauh Santika kepada Lingga.


Lingga sebenarnya juga


menemukan kesamaan ilmu pemuda aneh ini dengan Hrastu Bhumi. Sebenarnya


ia pantang untuk mengeroyok. Namun ia juga penasaran kepada pemuda ini.


" Hia... Hia... Hia...


Cret... Cret...," sambil berteriak keras dilancarkan tusukan jari


saktinya. Tubuhnya melenting tinggi merapal ajian Walet Merah menyerang


bagian atas pemuda yang telah menjadi raksasa ini.


Pemuda aneh berbaju


kuning, meskipun mendapat lawan baru, wajahnya tetap tenang dan selalu


tersenyum. Ajian yang merubah tubuhnya menjadi besar adalah ajian


gabungan dengan ilmu sihir yang dimilikinya.


Naga Menjelma Berganda


Wujud. Ilmu rahasia yang diajarkan Kakek Guru Pradalbo kepadanya,


terpaksa ia keluarkan untuk menghadapi paman biru yang sakti ini.


Ia juga melihat gerakan


lincah seperti burung abu-abu yang terbang mengelilinginya dan dari


ujung-ujung jarinya keluar tenaga panas dan dingin yang melambari


tusukan jarak jauhnya.


Untung saja dirinya


tinggal di Pulau Kabut Sirna, segala macam udara ekstrim, panas dan


dingin sudah mampu ia serap dan kendalikan. Belum lagi segala macam


racun pun sudah tidak mempan kepadanya.


Namun serangan dari atas


dari paman abu-abu dan serangan dari bawah oleh paman biru, membuatnya


seakan menjadi sasaran yang empuk.


Walaupun semua serangan itu sangat dahsyat, mampu diterima dan diserap tanpa sedikit pun ter luka.


Pemuda kuning mengeliat


dan merapal ajian Naga Langit Pusaran Badai Bumi. Tiba-tiba tubuhnya


yang besar berputar bagaikan gangsing raksasa. Lebih hebatnya, putaran


ini bisa memantul tinggi seakan terbang menyongsong serangan Lingga,


atau menghindari dari serangan Santika.


Bagi Santika dan Lingga, tak alang terkejutnya mereka.


Semua


serangan, tepat mengenai sasaran. Namun seakan semua serangan itu


memasuki kapas yang lembut, atau terserap oleh gelombang tak terlihat


yang melindungi tubuh raksasa itu. Dan menggulungnya dalam putaran dan


hilang tak bersisa.


Pertandingan satu lawan dua masih seru berlangsung sama-sama mencari celah untuk mengambil keuntungan dan menyarangkan pukulan.


Di


sekitar pertempuran angin putaran tenaga dalam panas dingin silih


berganti datang. Suara lengkingan dan geraman naga berkali-kali muncul


sahut-sahutan.


Tubuh yang besar itu


sekarang sudah berubah ujud menjadi seekor naga raksasa yang bisa


berputar dan terbang meliuk-liuk, dengan mulutnya yang lebar, mampu


mengeluarkan lontaran panasnya api dan dinginnya salju.


Semua yang hadir mundur menjauh mencari tempat yang aman.


Kemala terpana, tidak menyangka pemuda yang dianggap enteng olehnya ternyata mempunyai kesaktian yang luar biasa.


Pramesti hanya bisa


berdecak kagum, baru pertama kali ini ia menyaksikan pertempuran hebat


yang sesungguhnya. Walaupun ia hanya bisa menangkap bayangan naga


raksasa yang diserang oleh bayangan abu-abu milik ayahnya dan bayangan


biru milik paman Santika.


Paramtiha dan Kinanti,


setali tiga uang, mereka berdua tidak menyangka bahwa ada orang yang


lebih sakti dari suami mereka berdua.


Benar pepatah tua berkata:" Di atas langit ada langit". Di depan mata mereka sekarang ujaran itu terjadi.


Walaupun saling menyerang dengan sengit, namun ketiga orang itu, seakan bersepakat tidak akan melukai lawannya.


Hingga... Suatu ketika


terdengar teriakan suara yang mengandung tenaga dalam besar dan sangat


berwibawa, Pekikkan Rajawali Sakti membelah lengkingan naga yang sedang


bertarung.


" Cukup... Cukup...


Hentikan semuanya. Jangan membuat orang yang melihat ketakutan!" tegur


suara itu. Dan muncullah sosok berbaju putih berwibawa, Pangeran Ludiro


adanya.


Mengapa Pangeran Ludiro bisa sampai di tempat ini?


Mari memundurkan waktu sebentar...


Seperti biasa kalau


senja Pangeran Ludiro mengisi waktunya melukis atau memvuat syair di


taman tak jauh dari Villa Rajawali, sedang asyik-asyiknya melukis,


bayangan biru muda berkelebat dan Radar sudah berdiri menghormat tidak


jauh dari tempatnya melukis.


" Mohon maaf, berani


lancang Pangeran. Terjadi keributan di jalan menuju istana Grha Hening


Jiwa. Hasil laporan teman keamanan, ada Santika Pendekar Seruling Biru


sedang bertempur dengan seseorang. Dan di sana juga ada Lingga Pendekar


Jari Sakti, dua orang sahabat dan keluarganya dari Baginda Pangeran


sendiri," suara Radar jelas membuat laporan. Dan tanpa menunggu lama,


Pangeran Ludiro bergegas membuktikan laporan itu, sekalian menyambut


kedatangan sahabatnya sekalian.


Bayangan putih besar berkelebat meluncur menuju tempat kejadian.


Demikianlah Pangeran Ludiro, tiba-tiba bisa muncul di tempat itu.


Suara itu sangat berpengaruh. Masing-masing yang bertarung segera menarik serangan dan menarik pula ajiannya.


Lingga cepat berkelebat mendekati Ludiro.


Santika pun dengan serta merta memunahkan ajian Kasih Pemutus Duka dan melenting tinggi dan hinggap di samping Lingga.


Pemuda baju kuning, bergetar juga mendengar suara itu, apalagi ia kini kehilangan dua lawannya. Ditariknya ajian dan sihirnya.


Wujud naga raksasa menghilang dan berganti menjadi sosok pemuda baju kuning dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.


Begitu serunya bertempur, namun tak setitik keringat pun terlihat membasahi wajah dan seluruh tubuhnya.


Baru menarik nafas sesaat pertanyaan gencar menyerangnya:


" Siapa kamu yang mencuri ilmu pedang keluarga kami?" tegur Santika si Pendekar Seruling Biru dengan nada keras.


" Dan, apa hubunganmu dengan Hrastu Bhumi?" lanjutnya tak kalah tajamnya.


Pemuda berbaju kuning


tidak menjawab, malahan terlihat syok, memandang bengong dan tidak


percaya kepada laki-laki tampan serba biru di depannya.


Ingatannya bergulung


cepat, kembali ke penuturan Kakek Guru Pradalbo, mengenai asal usul


dirinya dan ciri-ciri kedua orang tuanya. Mungkinkah ini orang tuanya?


Sosok serba biru tampan


berdiri gagah dengan kuda-kuda dan seruling baja biru terselip di


pinggangnya, dengan mata setajam elang, menatap kepada pemuda berbaju


kuning menunggu jawaban.


Mereka saling berhadapan.


Yang satu seperti naga biru garang, tegap, matang dan gagah.


Yang satunya seperti naga kuning, lembut dan tidak kalah gagahnya.


Tiba-tiba bayangan merah berkelebat dan berdiri tepat di samping pemuda tampan berbaju kuning.


Panggilnya lirih dan gemetar.


" Ganesha...?" suara Kinanti tercekat tak kuasa menahan tangis.


Mendengar namanya


dipanggil pemuda berbaju kuning semakin yakin, apalagi wanita cantik


berpakaian merah ini dengan selendang di pinggang dan bunga mawar merah


terselip di ujung keningnya, membuat Ganesha semakin yakin, bahwa inilah


kedua orang tuanya.


Serta merta, pemuda baju


kuning, menjatuhkan diri bersujud. Karena buru-buru bersujud, seruling


gadingnya yang terselip di pinggangnya meloncat dan terpental jatuh di


depan kaki Santika yang berdiri tertegun.


Dan, dengan jelas Santika bisa melihat bekas guratan jari yang mengukir nama di badan seruling itu. Nama yang terukir adalah Ganesha. Anaknya yang hilang dulukah?


" Ayah... Ibu, terimalah hormat Ananda Ganesha," suara Ganesha bergetar.


Memanggil sebutan Ayah dan Ibu yang ia cari dan rindukan selama ini.


Kinanti tidak kuasa membendung perasaannya, ditubruknya pemuda tampan yang selalu menjadi bayang dan harapan seumur hidupnya.


Tangisnya pecah, dipeluknya anaknya yang sepuluh tahun menghilang.


Ia tidak pernah


meragukan bahwa pemuda itu adalah anaknya. Sang ibu sejati mempunyai


firasat dan getar hati untuk mengenali anaknya. Apalagi saat ia melihat


sepasang mata dan senyum yang selalu menghiasi bibirnya. Aih... Itu


milik Ganesha anaknya.


Santika hanya bisa


memandang terharu, anak yang hilang telah kembali. Betapa bahagia


hatinya, melihat Ganesha tumbuh dewasa sehat tak kurang suatu apapun dan


gagah perkasa, sakti luar biasa.


Dan, baru saja ia juga merasakan sendiri betapa hebatnya anaknya ini.


Ia dan Lingga saja belum tentu bisa mengalahkan anaknya.


Ia semula curiga dan


marah, mengapa pemuda itu bisa menguasai ilmu kesaktian keluarganya.


Ternyata, ia adalah Ganesha anak laki-lakinya sendiri.


" Ha... Ha... Ha...


ternyata orang sendiri rupanya. Keponakanku si Ganesha," suara gembira


keluar dari Pangeran Ludiro. Tawanya lebar lalu digapainya Kemala untuk


mendekat.


" Kemala Ayu, itu kakakmu Ganesha yang dulu hilang," katanya cepat.


Kemala Ayu nampak


bimbang, perasaannya menjadi tak karuan. Semula ia marah dan heran,


mengapa semua ilmunya seakan terbaca. Ia selalu kalah satu langkah saat


merapal jurus dan ajian miliknya.


Ternyata yang


diserangnya adalah kakak kandungnya sendiri. Dari bingung, bimbang


hingga hanya bisa diam mematung saja, sampai jemari halus Pramesti


menyentuh dan menyadarkannya.


" Ayo, kakak


bergembiralah, ternyata dia itu kakakmu sendiri," kata-kata Pramesti


menimpali Kakeknya Ludiro, membuat Kemala tersipu dan malu.


" Selamat Santika,


anakmu yang hilang sudah muncul di sini. Lihat, sudah 20 tahunan kiranya


usianya, ya. Gagah dan perkasa seperti dirimu," suara Lingga sambil


menepuk bahu Santika lembut.


Semua merasakan kegembiraan dan suka cita akan pertemuan yang tidak disangka ini.


Pramesti menyeret tangan Kemala Ayu menuju ke arah ibu dan kakaknya.


" Ayo, minta maaf kepada


kakakmu. Tidak ada angin tidak ada hujan hampir saja kamu mencelakai


kakakmu sendiri dengan jurus dan ajianmu,"katanya lincah membuat Kemala


Ayu kembali tersipu malu.


Senja begitu indah, menandai peristiwa pertemuan yang membahagiakan.


Matahati sebentar lagi tergelincir ke sudut Barat.


Membuat dua keluarga, tiga sahabat bergegas mempercepat langkah menuju ke Grha Hening Jiwa yang sudah nampak di depan mata.


Bayangan rombongan itu segera hilang dipeluk oleh kabut malam yang telah turun!


Bersambung....


 


 

__ADS_1


__ADS_2