Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 36


__ADS_3

CHAPTER 36


Pertempuran Sesungguhnya


Ki Warok Samber Nyowo dari telatah Tenggara dengan Senjata Kolor Maut menyerang Ki Rangga dengan jurus Tendangan Gajah Hoya dan Belalai Gajah Hoya dilambari ajian Gajah Agni...


" Dar... Dar... Treeet.... !" suara ledakan kolor menyerang ke arah Ki Rangga yang memutar tangannya membuat perisai pelindung sambil menggenjot tubuhnya kemudian melenting deras menyongsong ledakan kolor di udara.


Tendangan Kaki Gajah berantai dilepas meluruk hujan kolor maut yang menyambar-nyambar...


Dengan berani Ki Rangga menangkap Kolor beracun dan ditariknya kuat-kuat...


Ki Warok tidak menyangka kolor saktinya yang beracun dengan enteng ditangkap musuh, ia merasa mendapat angin karena racun yang dilumurkan bukan racun sembarangan..


" Ha... Ha... terima seranganku... Hia...!" teriaknya kegirangan dan berkurangnya kewaspadaannya. Ternyata Ki Rangga melakukan itu bukan tanpa perhitungan, ia sudah melumuri tangan dan lengannya dengan cairan anti racun yang biasa ia bawa-bawa ketika menggembara.


Ia sudah banyak pengalaman menghadapi penjahat, kebanyakan mereka mempunyai senjata atau pukulan beracun, dan perhitungannya sangat tepat...


Kelengahan sedikit saja membuka kesempatan yang dipergunakan secepat mungkin, kolor digulung tangannya yang bisa bergerak lembut seperti belalai gajah, menarik dan membetot dengan ajian Gajah Seribu Kati, tenaga betotan yang mampu menarik pohon raksasa sepuluh pelukan orang itu, berhasil menarik tubuh Ki Warok yang tersengat rasa kejut,


Perhitungan yang salah... Akibatnya fatal bagi dirinya...


Tubuhnya meluncur cepat...dan..


" Blam.... Aaaa!" suara tubuh besar Ki Warok disambut tendangan Gajah Mengamuk yang tepat mengedor dadanya...


Rasa panas, menyengat dan mencekik tenggorokan membawa dorongan luka dalam yang menyesak mengerikan bersama suara gelegak dan loncatan darah yang terlontar dari mulut bersama lepas nyawanya dijemput malaikat maut!


Tubuh Ki Warok Samber Nyowo terbang dua tiga tombak jatuh berdebum kehilangan nyawa.


*


Ki Walang Sangit Dari Barat. Dengan golok besarnya membelah udara dengan jurus Merobek Langit Menerjang Api, berhadapan dengan Karsih dan Sekar dari Bukit Mawar.


" Haa... Ha... rejeki nomplok... Ada dua bidadari cantik mau memijitiku... Ha.. Ha.. Ha...!" suara ketawanya nyaring dengan senyum mesum bermain di bibirnya.


Ki Walang menganggap enteng musuh, ia tidak menyadari bahwa dua gadis ini adalah murid andalan Nyi Dyah Puspa,  Dewi Mawar dari Timur.


Ilmu Selendang Mawar yang legendaris, Tarian Mawar Nan Harum dilambari Ajian Mawar Merah Murka, dan lontaran senjata rahasia Hujan Mawar.


Dua gadis ini memiliki kerjasama yang baik. Selendang biru milik Karsih dan selendang kuning milik Sekar bagaikan lengan-lengan panjang yang menari-nari.


Kadang lemas mampu membelit dan menampar, kadang keras mampu menotok jalan darah atau malah mengetok kepala atau kaki.


Serangan selendang secara selang-seling ini ternyata membuat Ki Walang keteter.. Saat di tangkis malah membelit, kalau ditebas malah berubah keras dan mengincar titik-titik bahaya dari tubuhnya.


Golok besar membelah dengan tebasan menyilang dan memutar. Jurus Merobek Langit dan Menerjang Api, mendengung dan membawa angin panas, ia sudah mengeluarkan tenaga dalamnya yang tertinggi, cukup sudah bermain-main.


Ia kecele... dengan tampilan musuh... Tapi semua terlambat!


" Hiaaaa... terimalah seranganku gadis binal... Hiaaa... Hiaaa.. Ooo..!"


Teriakan terputus karena tangan kanan yang memegang golok dijerat selendang kuning milik Sekar, bebarengan dengan selendang biru milik Karsih lolos dari putaran golok dan menotok ulu hati...


Ki Walang tidak sempat mengelak dan berteriak....


Seluruh tubuhnya kaku, nyawanya melayang!


*


Baronang Sakti dari Utara, mendapat musuh Ki Warso dengan Jurus Macan Putih, yang dengan tangan kosong berani menghadapi musuh bersenjata trisula kembar.


Baronang Sakti mempunyai jurus berperbawa dingin, Mengaduk Laut Mencuri Ikan, trisula kembarnya berputaran membawa angin dingin.


Ki Warso dengan gerakan yang cepat, menyerang dengan kedua tangan yang mencengkeram, lalu melenting dan meloncat seperti macan terbang.


Dengan kekuatan cakar, disampoknya trisula yang mengincar matanya, tenaga sampokan menggetarkan trisula yang meleset dari sasaran.


Dan tangan kirinya dengan cepat menangkap trisula yang mengarah perut.


Terjadi tarik-menarik...


Saling mengalirkan tenaga dalam... Hawa dingin dan hawa panas mengalir melalui trisula...


Tenaga panas melawan tenaga dingin semula seimbang....


Tangan yang bebas melepaskan cakaran dan tusukan trisula... kembali!


Sama persis keadaannya....


Saling dorong, saling tekan, membuat keduanya dalam posisi yang sama-sama berbahaya... Sedikit lengah taruhannya nyawa... Mati sebagai imbalannya...


Berkutetan, sama-sama ngotot, tenaga sama-sama terkuras..

__ADS_1


Bendungan serangan sama-sama bobol...


" Aaaa... Aaaa.. Huaaa... Hhhh..!" teriakan luka dalam yang menghajar keduanya, membuat mereka berdua seketika pingsan.


*


Mari kita melihat keadaan Gonjala dan Gonjali...melawan Ki Manggala dan Ki Kartiko.


Ratusan jurus sudah dilancarkan, tenaga dalam telah dirapal dititik puncak...


Gonjala merapal ajian Sengatan Matahari Sejengkal tingkat sepuluh cahaya panas keluar dari kedua tangannya, ia menemukan musuh yang seimbang. Keduanya sudah menerima pukulan dan cakaran yang sama. Luka cakaran membuat Gonjala limbung, musuhnya ternyata lincah dan cerdik... Perapalan ajian puncaknya agak tersendat karena luka yang dideritanya... Namun ia terpaksa untuk mengakhiri pertempuran itu...


" Hiaaaa.... Hrrrgggg... Aaaa....!" teriakan dari serangan itu bertemu di udara dengan Cakar Macan Murka milik Ki Manggala..


Sinar merah dan sinar kuning silang menyilang di udara.


Teriakan dan gerengan...


Sinar merah melesat lurus kehilangan sasaran... meledak di angkasa.. Karena dengan cerdik sinar kuning yang berkelebat menyongsong hanya pancingan, tubuh dan kedua cakar mengendap rendah dan meloncat deras menyobek tangan dan dada Gonjala... yang seketika melolong kesakitan... dan jatuh berdebum dengan tubuh luka parah, tewas seketika.


*


Mendengar teriakan Gonjala kembarannya, hati Gonjali bergetar, Semburan Es dipergencar dengan tujuan mengambil keuntungan lebih dulu. Namun apa yang didapat, ajian Rajawali Sakti Meniti Pelangi yang membuat Ki Kartiko seperti rajawali terbang ringan memutari tubuh Gonjali dengan pedang lenturnya menyabet dan memantul, membuat tubuh Gonjali terluka sana-sini.


Ajian Semburan Es mulai mengendur, semangatnya juga menurun digerogoti rasa nyeri di sekujur tubuhnya.


Hingga lengkingan tinggi dan bayangan pedang dalam delapan mata angin serangan, tidak bisa di antisipasi dengan baik..


Enam arah serangan berhasil di punahkan dengan tenaga dalamnya yang semakin merosot berkurang... Ia kembali menangkis namun... pedang lentur berubah arah melengkung dan memantul menusuk pangkal lehernya...


" Kiaaa..... Hiaaarrr... Cesss... Aaaa !" suara pilu Gonjali menyusul saudara kembarnya ke neraka dengan leher berlubang tertusuk pedang.


Tubuhnya tumbang, nafasnya lepas.


*


Buntaran melihat gurunya dikeroyok dua, langsung melejit masuk gelanggang membantu gurunya.


" Hiaaaa.... aku datang guru.... Hai... Pengecut...lihat naga raksasa hitam menyerangmu....


Duaar... Duaarr.... Haaarrrgggg!" suara Buntaran mengandung kekuatan sihir merapal dengan ajian sihir Naga Hitam Menerjang Api, membuat langit Asoka sekejap gelap, kemudian muncul naga raksasa berwarna hitam dengan mulut yang lebar mengeluarkan api menyerang ke arah Santika dan Lingga.


Santika dan Lingga terkejut melihat langit tiba-tiba hitam kemudian muncul Naga Hitam Raksasa menyerang keduanya. Serangan sihir itu membuat mereka melepas tekanan serangan kepada Restu Bumi..


Dengan mempercepat gerakan dan mempertebal tekad dan semangat **** tenaga sihir yang menyerangnya...


Dua lawan dua, membuat pertempuran jalan berimbang.


*


Dewi Wilis terdesak serangan pedang beronce merah milik Paramitha yang dirapal dengan ajian Pedang Welas Asih dan peringan tubuhnya yang hebat.


Membuat tubuh Paramitha melesat terbang di antara badai cambuk ekor tujuh yang beracun... bahkan dengan cerdiknya dua ekor cambuk telah putus pula terbabat ketajaman pedangnya..


Dewi Wilis terdesak oleh hujan serangan yang datang dari atas dan bawah.... Karena Paramitha mampu bergerak sangat cepat... seperti capung yang mengambang... seperti lebah yang menyengat...


" Hiaaaa..... Oo..!" teriakan Paramitha mengeluarkan serangan terdahsyat...


Dewi Wilis yang sudah jatuh nyalinya... salah mengambil posisi pertahanan...


Putaran cambuknya yang timpang, berhasil direntas ambrol... putus berderai sisa cambuknya.... dan ujung pedang ronce merah milik Paramitha sudah menyentuh dahinya.... Menggetar... bagaikan sengatan palu godam panas...


Tidak perlu tertusuk, hanya tersentuh... namun selembar nyawanya pun terbang meninggalkan raganya, yang terbelalak tak percaya... ia harus mati kali ini!


*


Larasati sampai juga di gelangang, ia kebingungan ketika mendengar ibunya berteriak menunjuk ke arah Kinanti yang tengah bertempur dengannya..


" Larasati, bantu ibu... dia murid utama Nyi Dyah Puspa, musuh kita...!"


Melihat ibunya terdesak oleh serangan selendang merah yang mengejar ke mana pun ia mengelak, membuat iba juga hati Larasati, spontan ia melesat terjun ke gelanggang membantu ibunya.


Kinanti masih sempat mendengar kesiuran angin yang membawa tubuh gadis cantik muncul yang menganggu serangan selendang merahnya.


Ternyata gadis itu bak pinang dibelah dua dengan musuhnya.


Ibu anak yang menyerangnya dengan bernafsu, karena ingin membalas dendam.


Untung saja ia mempunyai ilmu baru gabungan dari ilmu simpanan Santika,... Serangan anak beranak mampu dihadapi dengan baik.


Datangnya musuh baru membuat Kinanti semakin semangat...


Selendang merahnya menderu pesat dengan ajian Tarian Bidadari Pengejar Roh... menghantam pinggul Nyi Sagopi yang terlambat mengelak...

__ADS_1


" Breet... Aaa...!" suara kepretan selendang dan jerit kesakitan membawa tubuh Nyi Sagopi melayang terbang... tersungkur ke semak-semak...


Kinanti mengisi selendang merah dengan tenaga dalam yang membuat selendang merah itu menjadi sekuat tombak untuk melancarkan serangan...


Larasati memburu cepat mencegah serangan lanjutan dari Kinanti untuk memberi pukulan terakhir kepada ibunya..


" Hiaaaa.... ," teriaknya lantang memecah perhatian Kinanti. Larasati melancarkan serangan senjata rahasia dilambari ajian Seribu Jarum Asmara Buta, puluhan jarum melayang terbang cepat bagaikan curahan gerimis yang membawa aroma manis melenakan...


Kinanti yang mempunyai level kesaktian yang tinggi, hanya sekilas saja, pendengarannya menangkap luncuran yang ia yakin bahwa itu senjata jarum menyerang ke arahnya... Kinanti selain jago bersilat selendang, ia juga menguasai pemakaian senjata rahasia juga.


Senjata mawar merah adalah andalannya tidak beda jauh dengan puluhan jarum yang ditimpukan ke arahnya.


Dengan tenang, diputarnya selendang jingganya membentuk dinding penghalang menerima semua jarum, dan dengan sekali kebas jarum-jarum itu berbalik meluncur kepada pemiliknya, datangnya luncuran bahkan lebih dahsyat.


Larasati kecelik, bukan ia berhasil mengambil keuntungan dari serangannya, akan tetapi serangannya malah berbalik lebih cepat, dahsyat dan berbahaya...


Ia terkejut, karena sebelumnya tidak pernah menyangka..


Pengalaman tempurnya yang masih mentah membuatnya terpaku mati... Hanya mata indahnya yang bulat terbelalak...


Wajahnya pucat... dan...


" Hiaaaaa....  jangan ibu!... ,"suara menggeletar keluar dari bibir Ganesha, di detik terakhir ia berhasil melayang terbang mencegat returan jarum asmara yang dikebas ibunya ke arah balik, ke Larasati.


Kinanti, terkejut melihat apa yang dilakukan Ganesha yang memukul runtuh returan jarum dan dengan cepat menyambar tubuh Larasati dan melenting tinggi ke udara bagaikan Naga Kuning Raksasa dan melesat jauh ke arah Barat.


Peristiwa itu hanya dalam hitungan detik saja, belum sempat menegur anaknya... Kesiuran tenaga dalam yang bergelombang datang menerjangnya!


" Hiaaa.... Aaarrgg... akulah lawanmu!" suara teriakan Kinanti tertindih oleh angin pukulan yang kuat dan berbau amis... teriakan Baskoro yang melayang masuk gelanggang, bertepatan dengan Paramitha yang memasuki gelanggang...


Satu lawan dua, pertempuran baru antara Baskoro dikerubuti oleh Kinanti dan Paramitha.


" Kinanti, hati-hati, ini manusia beracun!"teriak Paramitha memperingatkan Kinanti.


" Ha... Ha... Ha... terimalah pembalasanku hai wanita sial...


Ibu Cempaka... terimalah persembahanku!" tawa Baskoro begitu menakutkan.


Kinanti dan Paramitha saling melindungi dan menjaga. Berhati-hati, ternyata pemuda tampan ini adalah anaknya Cempaka rupanya. Aih.. sayang muda tampan sakti... terjerumus ke dalam perbuatan yang salah!


Kinanti memutar selendang jingganya untuk menjaga serangan racun dan meladeni serangan mulur panjang tangan Baskoro.


Paramitha dengan ajian ringan tubuh Walet Merah dan jurus Pedang Teratai Putih Welas Asih, bergerak gesit dan ringan. Meloncat, melenting dan berputar cepat dari arah atas menebar serangan pedang ke tempat kosong dari Baskoro.


Baskoro menemukan lawan yang pas, karena kedua wanita itu adalah penyebab kematian Cempaka, ibunya.


Sebelumnya...


Dengan variasi ilmu yang aneh dan beracun, Baskoro berhasil memukul jatuh Ki Wijaya. Tangannya yang mulur hijau beracun sudah meluncur cepat akan memberikan pukulan terakhir bagi Wijaya... namun...


" Desss.... !" pukulannya berhasil ditangkis oleh pemuda yang sama yang pernah bertempur di atas wuwungan gedung hartawan di ibukota malam itu.


Ya, Ganesha pemuda yang sama!


Ia sangat geram melihat hasil pukulannya yang gagal.


Apalagi Ganesha dengan cepat menyambar tubuh Ki Wijaya yang telah keracunan untuk segera diobati oleh Ki Manggala.


Baskora kehilangan lawan, dan kebetulan sekali, dengan cepat ia berkelebat dan muncul di saat yang tepat untuk menemukan musuh yang tepat pula!


" Ini jangan-jangan ada hubungannya dengan Si Kelabang Hijau!" batin Kinanti dan Paramitha bersamaan melihat jurus dan kehebatan tangan hijau yang mulur itu.


Baskoro mengeluarkan semua kemampuannya untuk membalas dendam. Tangan mulur hijau beracun selalu berhasil dicegat dan dipunahkan oleh selendang jingga yang dilambari ajian Bianglala Pengejar Roh, tidak hanya membendung, menggagalkan, bahkan berhasil mengejarnya dengan totokan dan sabetan ujung selendang yang berbahaya.


Apalagi serangan yang datang dari tempat yang selalu kosong di posisinya,... Cicitan angin pedang membuat ia sibuk untuk menyampok dan menangkis.


Namun semua keinginannya gagal, Parmitha dengan cerdik segera menarik serangan dan selalu disusuli dengan serangan yang jitu dari Kinanti, ketika Baskoro menyerang maka ada beberapa titik lowong yang digunakan dengan pintar oleh Kinanti.


Baskoro diam-diam bergetar hatinya. Dua musuhnya ini ternyata sangat kuat dan mampu bekerja sama dengan baik.


Kehebatan racunnya sudah tidak mempan, silat tangan mulur juga terpatahkan, ia menjadi gelisah.


Kegelisahan itu mengendurkan serangan dan pertahanannya...


Saat ia mendengar teriakan melengking dari Kinanti yang meloncat dengan melepas ajian Bianglala Pengejar Roh, ia salah mengantisipasi serangan.


Ia ikut meloncat menyongsong serangan keras lawan keras... namun apa yang terjadi... ia kecelik...


Pandangan matanya tertutup kibaran selendang jingga milik Kinanti... dan bersamaain itu...


" Crassss.... Uuuh..!" pedang beronce merah milik Paramitha berhasil menguntungi tangan kanannya, ia hanya bisa mengeluh dan tidak bisa mengerti, bagaimana tadi pedang itu muncul dan berhasil menebas kuntung tangannya...


Belum habis sakit yang ia rasakan... ia melihat kembali berkembangnya selendang jingga  selanjutnya menyatu meluncur dan telak menggedor dadanya...

__ADS_1


" Duukkk.... Aaaa... !" suara gedoran dan teriakan menyayat Baskoro yang mengiringi lepasnya selembar nyawa dalam ikatan dendam yang berakhir dengan kematian.


Bersambung...


__ADS_2