Tiga Pendekar

Tiga Pendekar
Episode 15


__ADS_3

CHAPTER 15


Rencana Jahat di Balik Undangan


Kedok Hrastu Bhumi mulai terbuka dengan kehadiran Denawa dan Xenia....merasa kepalang tanggung..karena tujuan utama belum tercapai...Hrastu Bhumi memberikan isyarat...melalui gerengan tenaga dalam Biruang Merahnya....


Tiba tiba terdengar suara bergemuruh..dari arah panggung kecil yang sebelah kanan ...panggung itu bergeser dan membuka...meloncatlah dua bayangan putih keperakan dan kuning emas ke arah panggung utama...


Xenia terkejut mundur..dia mengenali dua orang aneh yang muncul dari bawah panggung di depannya..


Yang putih keperakan adalah Setan Es...Crastya...tubuhnya tinggi kurus..muka tirus berwajah pucat...


Yang kuning keemasan adalah Setan Api..Dragha...tubuhnya kebalikan gendut bulat..mereka adalah sepasang datuk sesat dari Negeri Tanpa Langit yang menjadi antek antek Hrastu Bhumi...sama sama jadi Buronan!


Di panggung sekarang ada enam orang..yang saling berhadapan.


Santika, Xenia dan Denawa..berhadapan dengan


Bagus Handoko, Crastya dan Dragha.


Tidak cukup di situ..gerangan itu memberi tanda juga kepada pasukan rahasia..yang tiba tiba muncul dari atas tembok..membawa panah api..mengepung dan mengarahkan anak panahnya ke arah panggung...


Dan yang lebih..menegangkan...


dari arah sekitar Raja Bengala muncul orang orang bersenjata .. segera menyandera Baginda Raja Bengala...


"Ha...ha..ha...ha...ha.....hrrrgghh.....Menyerahlah kau Denawa..kalau tidak raja mu akan ku habisi,!" tawa dan teriakan kurang ajar dari Hrastu Bhumi....


Para tokoh golongan putih yang hadir sangat terkejut...!


Ternyata rencana di balik undangan ini..tidak hanya merebut kedudukan Tokoh Nomor Satu dengan memfitnah Denawa..melalui penyebaran anak buahnya yang dipilih sesuai dengan sosok Denawa yang di bekali pukulan yang mirip dengan Bianglala Pengejar Roh..dan ulah si Tampan Sakti Bagus Handoko , yang terkenal sebagai penjahat pemetik bunga yang juga sekutunya itu!


Tidak cuma itu....


Ternyata ada tujuan yang lebih besar...


Hrastu Bhumi mengadakan makar kepada Penguasa Negeri Asoka..


Kejutan itu membuat tokoh tokoh golongan putih dan mereka diatas panggung mati langkah.


Namun ada dua orang yang selalu waspada akan keselamatan Baginda Raja Bengala....yaitu


*


" Kieeeeeekkkkkk kieeeeekkkkk! ,"


Pangeran Ludiro..dengan cekatan memberikan isyarat dengan suara pekikan Rajawali.


Pasukan rahasia yang disimpan disekitar Baginda Raja dan disebar di seluruh Perguruan Bhumi Langit. segera bergerak melumpuhkan pasukan rahasia Hrastu Bhumi..dan juga dengan cepat menguasai pasukan panah api diatas tembok..!


*


Satu lagi...Lingga yang dari pertama sudah menaruh curiga dengan Hrastu Bhumi...secepat kilat dalam hitungan helaan nafas saja, telah merapal ajian ringan tubuhnya yang tertinggi Walet Merah Menembus Langit...meluncur deras kearah Hrastu Bhumi..melakukan tusukan jarak jauh jari tangan kanan dan kirinya...yang mendesis dan bersuit melancarakan serangan dahsyat Jari Sakti Menusuk Matahari di Jari kanannya keluar tenaga panas..dan Jari Sakti Menusuk Rembulan di jari kiri keluar tenaga dingin...


Totokan pancingan yang membuat Hrastu Bhumi terkejut menghindar dan menjauhi posisi Baginda Raja Bengala...


Dan kesempatan itu di gunakan sebaik mungkin oleh Lingga..dengan melanjutkan lesatannya..ke arah Baginda Raja...memberikan tutukan lembut mengurangi rasa terkejut Raja dan menyambar nya meloncat jauh dan kemudian hilang di balik tembok..menyelamatkan Baginda Raja Bengala...!


Paramitha semula terkejut dan tidak menyangka Lingga melesat dan melakukan penyelamatan itu...setelah ia paham dan menangkap tujuan Lingga ia melesat juga mengejar ke arah kemana perginya Lingga sambil menyambar ayahnya Panglima Banara...!


Gerakan secepat itu..membuat Hrastu Bhumi ke colongan..ia marah besar ..berteriak marah...semua rencananya gagal....


" Haaaaarrrrrrrggggggg !," pukulan Bara Neraka di lepaskannya kearah Denawa...yang dia pikir sebagai biang kegagalannya...


Kelebatan udara panas yang mengedikkan meluncur cepat ke arah Denawa..tidak berani ayal Denawa memapaki serangan itu dengan merapal ajian Bianglala Pengejar Roh....panas ketemu panas..dan.." Blaaaaar.."!..suara ledakan dahsyat memgguncang Perguruan Bhumi Langit, menandai.. pertempuran dahsyat dimulai.


Hawa pedang, hawa pukulan, dan hawa kematian segera datang bergulung gulung ke tempat itu.


Di atas panggung, di lapangan luas, di sembarang tempat terjadilah pertempuran.


Undangan akan berujung maut.


Penonton menyelamatkan diri dari tiga panggung raksasa..itu...


Sejauh jauhnya karena hanya terkena sambaran pukulan atau angin pukulan saja.., nyawa mereka bisa melayang...


Belum lagi pukulan yang di keluarkan oleh tokoh tokoh golongan hitam...pukulan keji, dan mengandung racun pula..


Denawa berhadapan dengan Hrastu Bhumi..!


Yang lain tidak ketinggalan juga....sudah kepalang tanggung...siapa tahu masih ada harapan...Karena mereka percaya akan kesaktian Hrastu Bhumi dan kambratnya dari Negeri Tanpa Langit.


Segera tokoh tokoh golongan hitam itu..seperti Joko Angkoro, Gumarang, Cempaka, dan lainnya meloncat ke panggung mencari musuh masing masing...


*


Demikian juga dari golongan putih..segera turun tangan memberikan bantuan...karena mereka sudah lega...melihat Baginda Raja Bengala..sudah di selamatkan oleh Lingga..si Pendekar Jari Sakti.


*


Cempaka tidak melepas kesempatan emas..di lepaskan ajian Kelabang Hijau yang membuat tangannya memanjang.


Yang kanan menggenggam pedang merah beronce miliknya..dengan mengeluarkan jurus Tarian Bidadari Maut..tangan kiri mulur panjang..mengeluarkan pukulan Selaksa Racun !


" Santika keparat, terimalah pembalasanku," tubuhnya melenting gesit ke arah Santika langsung mengarahkan serangan dahsyat ke empat titik penting tubuh Santika. Lambung, ulu hati, leher dan dahi. Namun bayangan merah lain melesat memapaki semua serangannya.


Niatnya untuk membalas dendam belum kesampaian....karena tiba tiba tangan kanan nya yang memanjang membawa pedang..telah terlibat..selendang warna merah menyala yang melecut memunahkan ajian Kelabang Hijau!


Selendang merah milik bayangan merah yang melesat memapaki ternyata milik Kinanti..yang sudah terjun ke gelanggang..


" Hiya...hiya....wanita iblis...akulah lawanmu," teriaknya sambil melecutkan selendang merah..seperti ular merah yang mematuk matuk titik berbahaya dan...kadang menangkis keras ke arah pedang beronce merah. !..


Dan mengibas membentuk lingkaran benteng selendang merah..memunahkan serangan Selaksa Racun.


Betapa gusarnya Cempaka, semua serangannya dapat dipunahkan dengan wanita baju merah ini.


Dengan marah dikeluarkan semua kemampuan yang dimiliki, jurus dan ajian warisan gurunya. dan jurus ajian dari Gumarang. Tenaga dalam meningkat cepat, akan tetapi bukan tenaga murni yang sangat kuat. Tenaga yang diperoleh saat ia menjadi hamba nafsu gulung gemulung dengan Gumarang, guru sekaligus kekasihnya. Semua dikeluarkan silih berganti.


Tangannya yang memegang pedang yang bisa memanjang ini. Membuat Kinanti kerepotan.

__ADS_1


Belum lagi pukulan tangan kirinya yang mengeluarkan asap racun campuran pukulan selaksa racun dengan kelabang hijau.


Selendang merahnya , berkali kali terpukul balik. Dan terpaksa ia putar seperti baling baling untuk memecah asap beracun.


Walaupun masih belum mengkhawatirkan tapi pelan pelan Kinanti mulai terdesak.


Untung saja ada bayangan kuning hitam berkelebat memasuki pertempuran.


" Kakak Kinanti, jangan ragu. Ayo kita gebuk betina jalang ini bersama sama. Trang..trang.," terpecik bunga api dari tangkisan pedang Paramitha dengan pedang beronce merah.


*


Mundur beberap waktu sebelumnya


Paramitha dan Lingga berhasil menyelamatkan Raja Bengala dan Panglima Perang Banara, di bawa ketempat aman, disebuah desa yang tidak jauh dari Perguruan Bhumi Langit.


Atas petunjuk Panglima Banara beliau berdua disembunyikan oleh Ki Bardanaya kepala desa Bandar Jati. Dilindungi oleh pasukan rahasia Pangeran Ludiro yang segera menyusul pula kesana.


Lingga sangat gembira karena Permadi cepat tanggap dan cerdik tanpa memberikan isyarat maupun penjelasan.


Dengan kepintaran dan kecerdikannya tanpa ragu mengikuti apa yang dilakukannya.


Dengan menyelamatkan Panglima Banara, yang sesungguhnya adalah ayahnya sendiri.


Lingga sangat terkejut setelah Permadi melepas penyamarannya.


Seorang puteri yang cantik jelita bak bidadari yang menjelma turun dari kahyangan.


Sedang menatap dan memberikan senyum manis kepadanya.


Lingga hampir tidak percaya akan apa yang dilihat dan dialaminya.


Ternyata yang menjadi teman perjalanannya selama ini adalah Puteri Paramitha.


Puteri terkasih Panglima Perang Banara.


Untung ia segera sadar dan teringat akan keadaan yang sangat berbahaya di Perguruan Bhumi Langit.


Dengan memohon doa dan restu kepada Raja Bengala dan Panglima Banara, mereka berdua kembali ke Perguruan Bhumi dan Langit.


Melesatlah berdua dengan ajian meringankan tubuh yang sangat tinggi.


Bayangan Kuning Gading Hitam dan Bayangan Abu Abu Hitam melesat ke arah panggung dan memilih lawan.


Tepat saat Kinanti sudah mulai terdesak bayangan kuning gading hitam datang membantunya.


Paramita membantunya menghadapi Cempaka yang terus menggempur dengan melipat gandakan serangan dan pukulannya.


Satu lawan dua. Sama sama cantik, sama sama tangkas dan sakti.


Keadaan jadi berimbang.


Pertempuran dahsyat tiga naga betina yang seru. Bayangan naga betina merah yang saling menyerang, menangkis, membelit dengan bayangan merah dan kuning gading hitam.


Terdengar bentakan, teriakan dan suara beradunya pukulan dan benturan ataupun tangkisan pedang.


Asap merah dan hijau beracun bergulung disapu dan dipunahkan oleh gulungan sinar merah dan sinar putih keperakan dari pedang berkepala naga milik Paramitha yang berdenting dan berdesing mengancam setiap titik lemah di tubuh Cempaka!


*


Lingga melesat kearah pertempuran Denawa dan Hrastu Bhumi.


Dengan mengirimkan suara jarak jauh dengan lembut dan sopan yang khusus bisa didengar oleh Denawa.


" Paman Denawa, Maaf kan saya. Saya Lingga anak dari Nyi Mayang Sari. Harap paman mundur melepas Hrastu Bhumi. Karena saya melihat puteri yang datang bersama paman sedang kerepotan dikeroyok dua orang aneh itu," suara lembut itu sempat mengejutkan dan mengganggu perhatian Denawa, apalagi ia mendengar di sebutnya Nyi Mayang Sari.


Untung saja serangan panas yang membadai dari Hrasti Bhumi, segera mengembalikan perhatiannya.


Dan sambil melirik sekilas kearah panggung sebelah. Ia melihat, benar, ternyata Xenia sedang di kerubuti oleh dua orang aneh itu.


Bersamaan bayangan abu abu hitam muncul di sampingnya langsung memberikan totokan jarak jauh dari jari tangannya yang mendesing dan medesis.


Mengeluarkan ajian yang sangat dahsyat.


Yang membuat Hrastu Bhumi tersengat lagi dan mundur untuk memperbaiki kedudukannya.


" Ha ha ha baiklah Lingga. Aku serahkan Biruang gila ini padamu. Dan ingat..kamu masih punya hutang tentang Mayang Sari.


Jangan buru buru mati ya. Ha...ha...ha...!


Hai Santika bantu Lingga untuk menggebuk Biruang gila ini...hahahaha !_" tawanya keras membahana di lambari tenaga dalam yang kuat.


Lanjutnya juga memberikan perintah kepada Santika untuk membantu Lingga.


Ia tarik serangannya dan melenting kemudian melesatkan tubuhnya kearah panggung utama. Untuk menyelamatkan Puteri Xenia muridnya.


Belum sampai tiba, lentingannya sudah dicegat oleh pukulan panas bergulung gulung membadai.


Pukulan Segoro Geni milik Joko Angkoro si Penjahat Pemetik Bunga musuh lamanya yang ia sangka sudah mati terjatuh di jurang sekitar Bukit Mawar ternyata sekarang masih hidup dan menyerangnya dengan ganas.


" Ha ha ha ha..Joko Angkoro..belum kapok juga kau rupanya.


Aduh...kau dulu begitu tampan dan gagah..mengapa menjadi buruk rupa seperti ini?," dengan siasat memancing kemarahan.


Denawa memanasi Joko Angkoro dengan menghinanya. Akibatnya...


Dengan menggembor murka Joko Angkoro melepas ajian Segoro Geni level tertinggi, teriaknya kalap.


" Aaaarrgggggg....hiat...Denawa akan ku buat kau menjadi setan yang sebenarnya.


Akan ku cabut nyawamu dan kukirim keneraka,!" angin pukulan panas menderu...


*


Kita tinggalkan dulu, dua musuh bebuyutan yang saling bertempur. Lihat ke panggung yang lain.


Dengan terbongkarnya rahasia Hrastu Bhumi dan sekutunya, apalagi melihat Bagus Handokolah sebenarnya yang menjebak, menodai dan membunuh Kenanga murid utamanya, dengan teriakan marah dan meloncat cepat ke arah panggung.


Nyi Dyah Puspa melecutkan selendang merah andalannya.

__ADS_1


Mendesing mengeluarkan jurus Tarian Mawar Merah Nan Harum melepas totokan berbahaya ke arah Si Tampan Sakti.


Bagus Handoko, terkejut sekali mendapat serangan itu.


Ia agak lengah karena sedang asyik dan terpesona dengan gadis cantik aneh didepannya. Matanya yang lapar dan penuh nafsu, tanpa ragu " melahap " pemandangan indah di hadapannya.


" Taar....!," bunyi lecutan selendang, hampir saja melecut keningnya.


Untung saja dalam hitungan helaan nafas, ia masih sempat mendengar desingan tenaga dalam yang keluar dari lecutan selendang.


Di lolosnya sepasang pedang kembar barunya dari balik pinggangnya.


Di angkat dan dikibaskan menangkis serangan selendang.


Bagus Handoko mengeluarkan semua kemampuannya, semua ilmu yang di miliki di tambah ajian Segoro Geni Ajaran Joko Angkoro.


Yang dapat di salurkan melalui tebasan dan tusukan pedang kembarnya.


Jurus Pedang Kembar Membelah Bumi dan Ajian Segoro Geni dirapal bareng dengan jurus pedangangnya.


Hawa panas menyungkup, membumbung, berkesiur dan melesat membalas serangan Nyi Dyah Ayu.


Sekuatnya, karena dulu, ia sudah pernah merasakan kehebatan Wanita Cantik ini, dan hampir saja mati...


Untung waktu itu, Nyi Dyah Puspa melepasnya..


" Hiya..hiya..wuut..wirrr...," suara terikan dan hawa pedang yang panas melesat, begitu mengerikan.


Nyi Dyah Puspa, bukanlah pendekar wanita kemarin sore.


Ia sudah malang melintang, menunaikan darma bakti kependekarannya sudah sejak dari mudanya.


Menghadapi serangan yang membadai itu ia tidak menjadi gugup.


Di keluarkan semua ilmu simpannya. Tangan kanan melecutkan selendang, sekali kali dari tangan kirinya meluncur kuntuman kembang mawar dari besi tipis sebagai senjata rahasia mencecar dan mengarah titik kematian di tubuh Bagus Handoko.


Yang bergerak mundur kerepotan!


*


Santika belum jadi memilih lawan.


Mendengar teriakan Denawa gurunya. Ia langsung mengangguk mengiyakan.


Tubuhnya segera melenting tinggi meninggalkan panggung utama, melesat ke arah Hrastu Bhumi yang sedang bertempur seru dengan Lingga.


" Lingga, mari kita gebuk bersama sama biang keladi dari semua malapetaka ini," suaranya terdengar jelas dan dilatari suara lengkingan seruling biru, yang dilancarkan dengan jurus Bayangan Seruling Pencabut Nyawa, modifikasi serangan yang harusnya memakai sebatang pedang.


Tidak berkurang dahsyatnya, apalagi tenaga dalam Bianglala Pengejar Roh sebagai lambaran semua serangan itu.


Hawa panas menderu bersama meluncurnya bayangan biru memasuki gelanggang pertempuran.


Dua naga muda.


Naga biru dan Naga Abu abu melawan Biruang Merah yang sedang marah.


Hrastu Bhumi juga mengeluarkan ilmu ilmu simpannnya.


Ia juga mengeluarkan gerangan Biruang Merah, mengeluarkan ilmu sihirnya.


Suaranya gerangan dari Biruang Merah Gila menggentar jantung. Tubuhnya yang semula sudah tinggi besar. Perlahan lahan berubah menjadi lebih besar.


Menjadi raksasa Merah 2 kali lebih besar dari semula.


Serangan gerengan dari Hrastu Bhumi sangat kuat. Sampai sampai, penduduk yang melihat dari kejauhan menjadi terkejut berlari berserabutan melarikan diri. Keluar dari perguruan Bhumi Langit.


" Siluman....siluman..," teriaknya ketakutan.


Karena di depannya mata mereka melihat ada Biruang Raksasa Merah besar sedang marah. Menggereng dan melancarkan pukulan Bara Neraka tingkat tertinggi.


Bagi yang tidak sempat berlari, gerangan mengguncangkan jantung mereka, membuat mereka terluka pingsan. Padahal mereka sudah berada jauh di ujung menjauhi arena pertempuran.


Bagi yang berilmu masih rendah, fatal akibatnya. Kurang cepat bereaksi, luka dalam akan menghantamnya.


Beberapa anak buah perguruan tokoh golongan putih dan golongan hitam kambrat Hrastu Bhumi yang sedang bertempur terlambat bereaksi. Terhantam gelombang yang tidak terlihat, memotong gerak dan serangan mereka dan " aaaaaaa...," suara terikan kesakitan mengawali tumbang nya tubuh mereka dengan luka dalam yang menggetarkan jantung mereka.


Lingga semula terkejut dan tergetar jantungnya, mendengar gerengan dan perubahan wujud Hrastu Bhumi menjadi raksasa yang besar.


Ada yang tidak beres. Apalagi ia melihat penonton yang lari kalang kabut sambil berteriak ada siluman.


Belum lagi yang jatuh bertumbangan luka dalam.


Ia berteriak memberi peringatan dan selanjutnya mengeluarkan dua jurus sekaligus.


" Awas....tutup telinga dan mata kalian. Hrastu mengeluarkan sihirnya.


Hiyaaaaat.......Aaaaauuummmmmmmm.......Arrrrrghhhhh.....treeeeeeeettttttt...treeeeettttttt..," auman macan Jurus Gerengan Macan Penggetar Jiwa dan suara teriakan Terompet Gajah Hoya yang dahsyat meluruk ke arah serangan sihir Birung Marah Gila!


Memecah pengaruh sihir yang begitu mengerikan.


Lalu terdengar juga suara seruling yang melengking lengking tinggi, seperti teriakan makhluk makhluk dari dasar neraka.


Santika juga menyadari ada hawa gelap dan serangan dari gerengan Hrastu Bhumi, ia cepat sadar dan segera merapal ajian Tangisan Roh Dari Neraka. Ilmu seruling simpanannya yang di keluarkan jika terdesak oleh serangan sihir.


Suara suara penuh getaran tenaga dalam, mengacaukan serangan sihirnya. Membuat Hrastu Bhumi terkejut sekali.


Dua musuh mudanya, ternyata sangat sakti.


Ia kecelik!


Semula ia menganggap remeh pendekar pendekar di Negeri Asoka ini.


Maka timbul rencana jahatnya, menguasai rimba persilatan dan merebut tahta kerajaan.


Ia memandang diri tinggi sekali.


Paling sakti dan paling hebat.


Sekarang....ia kena batunya !

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2