TUMBAL

TUMBAL
Part 1 : Ayam Goreng Dada


__ADS_3

"Buk. Ibuk."


Agus berlarian masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil istrinya. Sedangkan sang istri yang sedang sibuk mencuci piring di bagian belakang rumah, tergopoh-gopoh mendekati suaminya.


"Ada apa Pak teriak-teriak?" tanya Aminah, istri Agus.


"Bapak akhirnya dapat kerjaan, Buk. Jadi kuli panggul tetap di toko bangunannya Pak Yanto."


"Alhamdulillah." Aminah memeluk suaminya dengan erat. "Setelah sekian lama Bapak nganggur akhirnya Bapak dapat kerjaan lagi."


"Iya, Bu. Alhamdulillah. Kalau nanti penghasilan Bapak sudah lumayan, Ibu gak usah lagi kerja jadi tukang cuci ya, Bu."


Aminah menangis, terharu dengan rezeki besar yang tiba-tiba mereka dapat. Dulu, Agus sempat bekerja selama beberapa tahun sebagai tukang parkir dengan penghasilan yang tak menentu. Namun tiba-tiba ia harus kehilangan pekerjaan karena lahan parkirnya di ambil oleh preman kampung sebelah.


Agus sudah puluhan kali mencoba mencari pekerjaan lain, tapi ia tidak berhasil. Agus merasa tak tega jika terus-terusan melihat istrinya yang kelelahan, karena harus bekerja di beberapa rumah tetangga sebagai tukang cuci agar dapur tetap terus mengebul, dan Andi anak mereka bisa tetap sekolah.


Agus bahkan beberapa kali pernah ditawari pekerjaan sebagai kurir yang bertugas mengantar narkoba. Meskipun ia dijanjikan bayaran besar, tapi ia menolaknya. Agus tak mau memberikan nafkah haram untuk anak dan istrinya.


"Assalamualaikum."


Andi yang mengenakan seragam putih merah terlihat letih seusai pulang sekolah. Aminah segera menghapus air matanya dan mencium pipi Andi.


"Bu. Andi laper. Ibu masak apa?"


Aminah dan Agus saling pandang. Tak tega untuk memberitahu anaknya bahwa lagi-lagi mereka hanya makan dengan telur.


"Hari ini ibu masak telur dadar, Nak."


Terlihat gurat kekecewaan di wajah Andi yang baru duduk di kelas dua SD. "Yah, telur lagi."


"Andi harus bersyukur kita masih bisa makan," ucap Agus seraya mengelus kepala anaknya. "Besok, Bapak sudah mulai kerja. Andi gak perlu makan nasi sama garam atau bahkan sama telor lagi."


"Hore." Andi melonjak-lonjak kegirangan. Letih yang ia bawa pulang dari sekolah seakan sudah hilang. "Nanti kita makan ayam goreng ya, Pak."


"Iya. Nanti kita beli ayam goreng. Tapi untuk hari ini Andi makannya sama telur dadar dulu, ya. Nggak apa-apa kan?" pinta Agus sambil tersenyum.


"Iya, Pak."


"Ya, sudah. Sekarang Bapak dan Andi ganti baju terus cuci tangan. Nanti biar Ibu yang siapin nasi dan piringnya."


Aminah bergegas ke dapur menyiapkan tiga piring plastik dan mengaduk nasi setengah kilo yang ada di bakul. Satu buah telur dadar setipis kertas langsung ia bagi tiga agar cukup untuk lauk makan mereka.


Sambil memindahkan nasi ke atas piring, Aminah berdoa. Semoga pekerjaan baru Agus besok mendatangkan rezeki yang lebih baik lagi untuk mereka.


***


Aminah bergetar, ditatapnya selembar uang berwarna merah yang diberikan oleh Agus kepadanya.

__ADS_1


"Ini gaji Bapak hari ini? Banyak banget, Pak."


"Iya, Bu. Soalnya kata Pak Yanto kebetulan hari ini banyak kerjaan," jawab Agus sambil duduk di atas tikar.


"Alhamdulillah. Ibu izin pakai uang ini untuk bayar hutang di warung Bu Ijah ya, Pak. Gak enak, hutang kita sudah menumpuk."


"Iya, Bu."


"Pak, ayam gorengnya mana?" Andi yang mendengar Bapaknya sudah pulang, langsung menghampiri dengan wajah ceria.


"Nanti ya, Nak. Uangnya Ibu pakai untuk bayar hutang dulu. Nanti, kalau hutang kita sudah lunas, Ibu akan masak ayam goreng yang enak," bujuk Aminah lembut.


"Yang banyak ya, Bu."


"Iya, Andi boleh makan sepuasnya."


"Asiiikkkkkk." Andi kembali melonjak-lonjak kegirangan. Ia memang selalu berjingkrak-jingkrak setiap kali hatinya senang.


Hari-hari selanjutnya, Agus mulai sering memberikan uang ratusan ribu pada Aminah, membuat perekonomian keluarga mereka berangsur membaik. Bahkan tak jarang, Agus pulang membawa berbagai macam makanan pemberian bosnya.


"Pak Yanto baik banget ya, Pak. Sering kasih kita makanan enak," ucap Aminah sambil menggigit martabak manis dengan taburan coklat kacang.


"Iya, Bu. Waktu pertama Pak Yanto kasih Bapak makanan, Pak Yanto sempat cerita. Dulu, sebelum usahanya sukses dan besar seperti sekarang, Pak Yanto sempat beberapa kali bangkrut. Pak Yanto dan keluarganya juga pernah tinggal di kontrakan reyot dan makan nasi berlauk garam seperti kita. Karena itu saat sudah kaya raya, Pak Yanto sering bagi-bagi makanan karena dia juga pernah ngerasain hidup susah," jelas Agus panjang lebar.


"Kalau gitu sampaikan ucapan terima kasih dari Ibu untuk Pak Yanto ya, Pak."


Aminah mengelap wajah Andi yang belepotan selai kacang. "Duh, Nak. Kalau lagi ngunyah jangan ngomong. Makan yang benar."


Diam-diam, Agus memandang istri dan anaknya yang sedang makan. Alhamdulillah mereka sekarang sudah bisa makan dengan lahap. Tak ada lagi suara perut-perut yang keroncongan dan kelaparan.


Agus sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik Pak Yanto. Karena berkat pertolongan dan kebaikannya, sekarang keluarga Agus bisa merasakan hidup yang jauh lebih baik.


***


"Agus," panggil Pak Yanto saat Agus hendak berjalan pulang kerumah selepas kerja.


"Iya, Pak," sahut Agus sambil sedikit menunduk.


"Ini, kebetulan saya ada lebih ayam goreng satu." Pak Yanto menunjukkan dua potong ayam goreng yang ada di dalam sebuah kotak makan. "Kamu mau pilih paha atau dada?"


Agus diam sejenak sembari menelan ludah. Ayam goreng itu tampak sangat menggiurkan. Melihat makanan lezat itu Agus langsung teringat putranya yang sangat ingin makan ayam goreng.


"Dada aja, Pak."


Pak Yanto tersenyum mendengar jawaban Agus. Diambilnya sepotong ayam goreng dada dan dimasukkan ke dalam kantong putih bening.


"Ini ambillah." Pak Yanto memberikan ayam goreng dada berbungkus plastik itu dengan senyuman ramah.

__ADS_1


Agus menerimanya dengan tatapan haru. Setelah berbasa-basi sebentar, Agus segera berjalan pulang ke rumah. Setiap hari ia pergi dan pulang kerja dengan berjalan kaki selama lima belas menit.


Namun hari ini ia memilih untuk mempercepat langkah. Sudah terbayang raut wajah ceria Andi di dalam benaknya. Sang anak pasti akan melompat-lompat kegirangan lagi saat melihat bungkusan plastik berisi ayam goreng kesukaannya.


Sampai di depan rumah, terlihat kerumunan banyak orang. Hati Agus sedikit was-was. Jangan-jangan preman kampung yang dulu sempat bersitegang dengannya karena berebut lahan parkir, datang ingin mengganggunya lagi karena masih menyimpan dendam.


Saat Agus telah sampai di teras rumah, semua orang serempak melihat ke arahnya. Mereka bahkan menepi agar Agus bisa masuk ke dalam.


Di rumah kontrakannya yang berbentuk bangunan semi permanen, Agus melihat sang istri ditemani para tetangga sedang memangku Andi. Namun ada yang berbeda pada diri anaknya itu.


Andi yang biasa ceria kini terbaring lemah dengan mata terpejam. Ada begitu banyak darah memenuhi wajahnya. Bocah yang biasanya selalu berceloteh itu, kini bungkam seribu bahasa.


"Andi," pekik Agus kencang. Dihempaskannya kantong plastik berisi ayam goreng dan mengambil Andi dari pelukan istrinya.


"Andi kenapa, Buk?" tanya Agus pada istrinya.


Namun sang istri hanya bisa diam sambil terus menangis.


"Andi meninggal tertabrak truk, Gus," jawab Mak Ijah sambil sibuk menenangkan Aminah yang terlihat sangat terpukul.


Seketika tubuh Agus terasa lemas. Ditatapnya tubuh sang anak yang sudah kaku.


"Kenapa kamu pergi, Nak? Bapak sudah bawa ayam goreng kesukaanmu," lirih Agus dengan air mata yang menggenang.


Agus menangis dalam sesal. Ia bahkan belum sempat mengabulkan permintaan terakhir putranya. Padahal anak semata wayangnya itu hanya menginginkan ayam goreng.


Dan Ayam goreng pemberian Pak Yanto, yang dulu merupakan makanan mewah bagi mereka, kini sudah tergeletak di lantai, tak lagi ada harganya.


***


Di rumahnya yang mewah, Pak Yanto menyantap makan malam ditemani istrinya.


"Pa, Mama sempat dengar katanya anak pegawai kita yang baru, Agus, meninggal karena ditabrak truk. Kasihan ya, Pa."


Pak Yanto memalingkan wajahnya dari atas piring. Ia lalu mengelap bibirnya yang sedikit berminyak.


"Ya itu salahnya sendiri, kenapa tadi sore dia ngambil ayam goreng dada. Coba kalau yang dia ambil ayam goreng paha, pasti yang akan jadi tumbal pesugihan kita adalah istrinya. Setidaknya, kalau istrinya yang meninggal, Agus masih bisa kawin lagi, kan?"


Bersambung


****


**Terima kasih untuk teman-teman sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya, ya.


Terima Kasih.


Facebook : Affrilia

__ADS_1


Instagram : @afrilia_athaara**


__ADS_2