
Pagi harinya, matahari mulai menampakkan cahaya kuning keemasan, udara menjadi sedikit dingin, bau embun menguar memenuhi paru-paru saat Arlan membuka pintu kaca yang membatasi dapurnya dengan halaman samping rumah. Dia memandang lama ke arah matahari terbit. Menikmati indahnya dunia di pagi hari.
Arlan terbangun dari tidurnya sejak pukul tiga pagi. Dia hanya tertidur sekitar dua jam malam itu. Larasati tidak memberikannya waktu istirahat sama sekali. Setiap kali Arlan terlelap, mimpi buruk bertemu Larasati akan selalu muncul.
Arlan berjalan menjauhi pintu kaca dan duduk di minibar dekat dapurnya, untuk membuat segelas susu hangat. Itu membuatnya segar dan tenang ketimbang segelas kafein. Arlan membiarkan TV yang ada di hadapannya menyala, memberitakan kasus-kasus kriminal belakangan ini.
Arlan melahap setiap berita kriminal yang ada. Beberapa gadis belia masih diberitakan menghilang. Ditambah kematian mendadak beberapa orang di jalanan yang ditemukan pagi hari. Kasus-kasus itu terdengar aneh di telinga orang awam. Namun, bagi Arlan, semuanya masuk akal jika dikaitkan dengan orangtua dan kakeknya.
"Lo nggak tidur?" Nanda menghampiri Arlan, memecah konsentrasi Arlan pada TV. Dia duduk di samping Arlan dengan rambut berantakan.
"Sekitar dua jam," jawab Arlan. Dia menyesap susu hangat di tangannya secara perlahan. "Kalau lo mau sesuatu, buat aja. Bahan jus juga ada di kulkas."
"Nanti aja." Nanda meregangkan tubuhnya. Berbeda dengan Arlan, Nanda tidur cukup nyenyak malam itu. Meski tidur di sofa, ternyata sofa itu lebih empuk daripada tempat tidurnya di rumah. "Lo sekolah? Atau mau bolos aja? Nanti gue minta Manda bolos juga supaya lo bisa istirahat."
"Nggak perlu begitu," tolak Arlan. "Nanti gue bisa ketemu sama Manda, waktu jam istirahat." Arlan mendekap gelas dengan kedua tangannya. Matanya masih terpancang pada sliweran berita di TV. "Orang-orang itu, pastinya korban keluarga gue," dia berkomentar.
Nanda melirik sekilas ke arah TV, lalu meneliti maksud dari ekspresi wajah Arlan. "Secepatnya, kita akan menghentikan hal itu," jawab Nanda. "Lo sudah berusaha membenahi apa yang salah. Dengan bertindak secara kontras begini, lo nggak bisa langsung main hantam. Buka suara sana-sini. Kita harus memikirkannya matang-matang. Jangan sampai kita yang mau memperbaiki keadaan, malah kita yang kalah sebelum bertempur."
Arlan terdiam. Dia baru menyadari bagaimana mengerikannya kekuatan uang yang orangtuanya miliki. Arlan memang anak mereka. Namun, dia juga telah mendeklarasikan perang secara terbuka.
"Ngomong-ngomong, berita tentang penemuan mayat-mayat di ladang rumput itu, nggak ada sama sekali," ujar Arlan. "Gue sudah mengikuti banyak berita, tapi nihil."
"Uang mengalahkan segalanya. Media mungkin bungkam karena pengaruh orangtua lo." Nanda melirik ke arah ruang tengah yang sepi. "Orangtua lo nggak pulang? Dari semalam sepi."
"Sepertinya mengurus masalah yang kita buat."
__ADS_1
BUM!!!
BUM!!!
BUM!!!
Nanda dan Arlan mendongak bersamaan. Tidak perlu dipastikan lagi, suara itu pasti bersumber dari Kakek Pareng yang memukul-mukul lingkaran perlindungan untuk masuk ke rumah.
"Gila... Sepagi ini sudah ribut," gerutu Nanda. "Apa kita hantam saja makhluk itu?"
Arlan mendengus geli. "Lo sendiri yang bilang supaya kita lebih hati-hati. Sekarang, lo mau seenaknya nyeruduk kakek gue?" Arlan tertawa pelan. "Bisa-bisa kita yang mental."
"Hihihihi!" Nanda terkikik. "Bercanda, bercanda. Mana bisa gue lawan monster kalau nggak ada Manda di sebelah gue." Nanda berjalan mengitari minibar, berusaha tidak mengindahkan suara ribut di atas kepalanya. "Gue buat sarapan, ya? Lo biasa sarapan, kan?"
"Gue punya pengurus rumah yang bakalan buatin sarapan," jawab Arlan. "Lo tunggu aja. Sebentar lagi datang, kok!"
Alis Arlan terangkat. "Lo beneran bisa masak?" dia sangsi.
"Gue nggak kayak lo yang dari lahir sudah bawa sendok emas," Nanda membuka kulkas dan meneliti isinya untuk beberapa detik. "Kalau orangtua gue lagi sibuk, gue dan Manda biasa buat makanan sendiri. Lebih hemat. Kita juga jadi bisa makan makanan yang kita mau."
Arlan melipat tangannya di atas meja minibar. "Oke, gue bakalan jadi juri masakan lo pagi ini."
"Hahaha! Lucu juga. Kita ngobrol santai begini, padahal di atas kepala kita ada monster yang mau masuk ke dalam rumah."
"Lo sendiri kelihatan lebih santai. Padahal, lo bilang kalau rumah gue nggak nyaman karena perlindungan tumbal manusia," sindir Arlan. Namun, dalam hati Arlan merasa bersyukur karena Nanda ada di sini. Kalau saja Nanda tidak ada, dia pasti sudah meringkuk sendirian di dalam kamar sambil menutup telinganya rapat-rapat, menunggu dentuman di atap menghilang dengan sendirinya.
__ADS_1
Ternyata, Nanda lebih ahli dari yang Arlan bayangkan. Tangannya ketika memegang pisau ataupun mencampur bahan-bahan ke dalam wajan, membuat Arlan menganga tidak percaya.
Tidak butuh waktu lama, Nanda sudah menyiapkan sepiring mie goreng berisikan sayur-mayur di atas meja makan.
"Buat yang kayak gini adalah yang paling mudah," Nanda berkata dengan bangga. Wangi dari masakannya memang membuat perut Arlan meraung-raung ingin diberi makan. "Kalau ada Manda, mungkin kita bisa makan udang goreng tepung dan telur dadar juga."
Arlan buru-buru menghampiri Nanda dan bergabung di meja makan. "Boleh gue coba?" tanyanya.
"Nggak perlu minta izin. Lo yang punya rumah," Nanda menyerahkan garpu dan piring pada Arlan. "Makan sepuas lo."
Tanpa menunggu Nanda mengambil piring bagiannya, Arlan langsung menyantap masakan Nanda. Rupanya, rasa masakan Nanda lebih enak daripada wanginya. Arlan tidak bisa berhenti mengunyah hingga setengah porsi bagiannya habis. "Lo nggak ada niat buka restoran?"
"Ada. Gue mau lanjutin usaha kuliner ayah gue."
"Uhuk! Uhuk!" Arlan menutup mulutnya karena tersedak. "Siapa?" tanyanya.
"Ayah gue. Beliau punya restoran kecil di tengah kota." Nanda mulai sarapan. "Walau bukan restoran masa kini dan nggak terlalu mewah, kita punya pelanggan tetap dan restorannya selalu ramai. Ayah kadang lembur juga, karena ada beberapa pelanggan yang pulang kerjanya telat. Ayah gue itu hobinya unik. Beliau suka lihat orang makan. Apalagi kalau makannya lahap."
"Oooh... Pantesan lo jago masak," Arlan mengakui. Dia menghabiskan sarapannya dalam beberapa kali suap. "Lain kali, gue mau coba masakannya Manda juga."
"Main aja ke rumah pas jam makan malam. Manda biasa buat makan malam untuk kami," ajak Nanda.
Pagi itu, Arlan mampu mengalihkan pikirannya pada hal-hal lain. Nanda tidak berhenti mengajaknya berbincang-bincang, sampai Arlan tidak sadar kapan tepatnya suara dentuman itu akhirnya berhenti.
Tepat tiga puluh menit sebelum bel pelajaran dimulai, Arlan sudah tiba di sekolah. Manda juga telah menunggunya di pintu gerbang sekolah. Wajah tersenyum Manda di pagi hari, menambah ketenangan di dalam diri Arlan.
__ADS_1
'Tuhan, tolong berikan hamba umur yang cukup untuk melihat senyuman di wajah itu lebih lama lagi,' batin Arlan di dalam hati.
***