TUMBAL

TUMBAL
Pintu Masuk


__ADS_3

Mata Arlan melebar. Laki-laki yang ada di teras rumah itu benar adalah Dimas. Pendaran cahaya yang bersinar dari pelindung yang Arlan buat, tidak cukup untuk memperjelas apa yang dia lihat, namun cukup membuatnya yakin bahwa Dimas yang ada di depannya bukanlah sahabat yang selama ini dia kenal.


"Dia bukan Dimas," bisik Nanda dari sebelah Arlan. "Dia cuma tampak seperti Dimas. Jangan terkecoh!"


Arlan menelan ludah. Dia juga sadar bahwa orang di depannya bukanlah Dimas. "Gue nggak mungkin bisa menyakiti Dimas," aku Arlan.


Nanda menoleh sekilas. Jujur saja, dia kaget mendengar perkataan Arlan. Namun, kenyataan bahwa Dimas adalah sahabat Arlan sejak mereka kecil, membuat Nanda maklum. "Lo emang nggak bisa. Tapi, dia sudah berani nyulik adik gue, yang artinya dia siap menyerahkan nyawanya ke tangan gue," balas Nanda.


Arlan tidak menjawab. Itu memang konsekuensi yang harus Dimas terima dari seorang kakak yang marah. Tapi, bagaimanapun, dia tidak bisa menyerang Dimas. Arlan sebenarnya cukup marah dengan apa yang harus Manda alami karena dirinya. Jika saja Arlan kehilangan kesabarannya dan ikut bertempur, Arlan akan melukai orang lain lagi.


"Gue yang maju, lo awasi belakang gue!" Nanda menepuk pundak Arlan, kemudian berjalan melewati pelindung.


Arlan mengikuti sambil memberi jarak. Dia memastikan dapat melindungi Arlan dan juga tidak ikut campur dalam adu fisik. Beberapa orang di belakang Arlan tiba-tiba ikut bersiap. Detik itulah Arlan sadar bahwa ada beberapa orang yang juga datang dari segala penjuru.


"Ternyata kita disambut dengan baik," kata Gina. "Lindungi punggung teman-teman kalian. Kita akan melewati malam yang panjang!" Gina menepuk tangannya tiga kali, kemudian hembusan angin berhembus cepat dari kakinya hingga sejauh tiga kilometer. "Bertarunglah dalam bentangan portal ini! Jangan tertarik pada pancingan musuh untuk keluar portal!"


"Sejak pertama lihat, gue nggak suka sama lo," geram Dimas.


Nanda mengepalkan tangan. "Baguslah! Gue juga nggak ada suka-sukanya sama lo!"


"GGGRRRAAAAHHHH!!!!" Dimas berlari ke arah Nanda. Arlan sempat kaget karena Dimas berlari dengan cepat. Tetapi Nanda seolah sudah siap dan menangkis pukulan pertama Dimas. Kemudian dia menunduk untuk menghindari pukulan kedua. Nanda benar-benar terlihat rileks namun penuh tenaga.


Arlan melirik ke belakang. Pertempuran tidak terhindarkan. Satu demi satu monster-monster itu bermunculan. Mereka tampak seperti mayat yang bangkit dari kubur. Rupa mereka membusuk, begitupun dengan kulit tangan mereka. Bau bangkai membaur dengan udara malam.


"Apa ada kuburan di dekat sini?" tiba-tiba Gina bertanya.


Arlan melemparkan perisai ketika Dimas ingin mendaratkan pukulan pada Nanda. "Ada!" jawab Arlan seadanya. Dia menoleh, melempar perisai lagi pada teman Nanda yang akan diterjang monster. Perhatiannya yang terbagi membuat Arlan harus lebih berkonsentrasi lagi, sehingga tidak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai kuburan yang Gina maksud.


Gina mengedarkan pandangan. Dia memperhatikan satu demi satu sekutunya. Merasa bahwa pertarungan itu berjalan imbang, Gina berlari melewati teman dan lawannya. Dia berusaha menghindar sebanyak mungkin. Gina sadar bahwa monster yang mereka lawan tidak begitu kuat, namun lama-kelamaan, mereka akan merasa lelah oleh lawan yang tiada habisnya. Dari bau dan aura yang Gina rasakan, dia sadar kalau semua monster itu berasal dari tanah. Larasati mencari kuburan yang merupakan kemungkinan besar asal dari makhluk dunia hitam itu.

__ADS_1


Gina melompat dan mendarat di atas pagar beton selebar lima sentimeter untuk melihat ke seberang. "Ketemu!" Gina tersenyum puas. Dia juga melihat tanah kubur menguak terbuka, ada yang mendorongnya dari dalam, membuat kuburan menjadi porak-poranda. Satu demi satu monster muncul. Tubuh busuk mereka tidak menghentikan langkah mereka untuk masuk ke dalam rumah Dimas. Gina menyusuri barisan mayat hidup yang masuk melalui pintu belakang. Rupanya, tim yang masuk lewat pintu belakang sudah terkepung karena banyaknya mayat hidup yang masuk. "Astaga... Dia membangkitkan mayat yang dikubur dari lima puluh tahun yang lalu, ya? Banyak sekali!"


DHUARRR!!!!


Sebuah ledakan besar membuat Gina menoleh ke belakang. Anak laki-lakinya berhasil menghempaskan Dimas sampai Dimas tidak bergerak lagi. Sekarang, masalahnya hanyalah para mayat hidup itu. Mereka tidak boleh buang-buang tenaga, sementara tokoh utama malam ini masih bersembunyi di dalam rumah.


Gina melompat dan masuk ke dalam kompleks kuburan seluas dua hektar. "Kuburan apa ini luas sekali," gumam Gina. "Nenek tua itu pintar sekali mencari rumah. Sudah pasti dia menyiapkan hal ini untuk berjaga-jaga jika ada yang menyerbu rumahnya." Gina menghempaskan tangannya, membuat sebagian besar mayat hidup terbakar dan menjadi abu dalam hitungan detik. Gina melakukan hal yang sama di setiap langkah yang dia ambil, memusnahkan sebagian mayat hidup yang bangkit dari kubur mereka.


Setelah memastikan di sekitarnya cukup aman, Gina merapalkan doa, lalu membuat lingkaran yang membentang sejauh mata memandang, menyelimuti tanah kubur di sekitarnya. Tanah-tanah yang awalnya menyembul dan terbongkar, kini menjadi tenang. Suasana malam di tanah kubur itu, kembali tenang diikuti dengan suara binatang malam.


Gina berbalik, hendak kembali bersama sekutunya. Namun, sesuatu menghalangi langkahnya. Ada satu sosok berdiri di bawah sinar bulan yang hampir penuh. Seorang wanita tua dengan punggung bongkok. Ekspresi wajahnya menandakan bahwa dia tidak senang.


"Kau... Pengganggu..." suara serak yang keluar dari mulut nenek itu, membuat Gina merinding. "Mau apa kau ke sini?"


Mata Gina melebar. "Nenek serius bertanya begitu? Anak Nenek yang bernama Dimas itu menculik anak saya. Mana mungkin saya diam saja!"


"Anak perempuan dengan bau enak yang dibawa Dimas?" Nenek itu menyeringai.


Senyuman di wajah si nenek langsung lenyap. Gina tahu bahwa umpannya berhasil dan dia menyimpulkan bahwa makhluk di depannya adalah Larasati--orang yang selama ini mengincar Arlan. "Kau berbohong!" kilah nenek itu.


"Saya bisa melakukan apa saja jika anak saya kehilangan nyawanya," Gina menegaskan. "Mari bertempur dengan saya di sini!"


"Tujuanku bukanlah kau!" Larasati menggeram, lalu sosoknya memudar.


"Tunggu! TUNGGU!!!" Gina menerjang ke arah Larasati, namun makhluk di depannya sudah menghilang. "Sial! Makhluk itu terlalu kuat untuk Manda ataupun Nanda," gumamnya. Gina bergegas kembali ke dalam pekarangan rumah. Dia memeriksa setiap anggota yang dia lewati.


"Ibu!" Nanda berlari ke arah Gina. "Kami mencoba masuk. Tapi semua jalan masuk tidak bisa terbuka dan itu sekeras dinding. Bahkan, tidak ada yang hancur bagaimanapun kami mencoba menghancurkannya."


Gina menoleh pada Dimas yang sudah diikat oleh tali yang biasa mereka gunakan saat menangkap makhluk setengah manusia dan setengah iblis. Untuk sementara, sebelum disucikan, Dimas akan tetap seperti itu. "Lawan kita lebih kuat dari yang kita bayangkan," jawab Gina dengan suara pelan.

__ADS_1


"Lalu bagaimana, Bu? Apa ada cara untuk kita masuk?" desak Nanda.


Gina menatap wajah Nanda, lalu beralih pada Arlan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


"IBU!" bentak Nanda tidak sabar.


Arlan merasakan rasa ngilu yang luar biasa menyakitkan di dalam dadanya. Gina memang tidak mengatakan apapun, tetapi Arlan merasakan rasa putus asa. Di saat Gina masih memikirkan cara untuk masuk, Arlan berjalan cepat menuju pintu rumah Dimas. Nanda hanya menoleh saat Arlan mendekati pintu, karena dia yakin bahwa pintu itu tidak akan terbuka. Arlan meraih gagang pintu. Dia memutar kenop pintu dengan perlahan.


WHUUUUSSSSSHHHH!!!


Hembusan angin kencang berhembus ketika pintu terbuka. Hanya sedetik pintu itu terbuka, kemudian menyedot Arlan masuk ke dalam rumah.


BRAK!!!


Pintu itu kembali menutup. Meninggalkan Arlan yang terpaku di dalam ruang tamu rumah Dimas. "Gue... Masuk?"


"ARLAN! ARLAAAN!!!"


Arlan berbalik menghadap pintu. Suara Nanda jelas terdengar dari balik pintu di depannya. "Nanda! Gue nggak apa-apa!" jawab Arlan.


"GIMANA LO BISA MASUK SENDIRIAN!? CEPAT KELUAR!!!"


Arlan mencoba membuka pintu, namun gagal. Dia berjalan ke arah jendela, kemudian mencoba memecahkan kaca. Usaha itu juga tidak ada gunanya. "Gue akan cari Manda!" seru Arlan pada akhirnya.


"Nggak boleh sendirian!" Nanda memukul-mukul jendela. Mereka hanya terpisah oleh kaca setebal tiga sentimeter, namun tidak ada yang bisa memecahkan kaca itu. "Lo tahu, kan, kalau lo hilang kendali, lo bisa kehilangan diri lo!"


Arlan mengangguk. "Gue tahu!" jawabnya. "Tapi, cuma gue yang bisa masuk! Kita nggak boleh buang-buang waktu!" Arlan melirik ke arah Gina. Gina berdiri di belakang Nanda. Wajah Gina tidak kalah pucatnya dengan wajah Nanda. Anehnya, rasa khawatir yang Arlan terima dari mereka, malah membuat Arlan senang. Dia tidak pernah merasa disayang seperti itu sebelumnya.


"Nak..." Gina maju. Tangannya menjulur menyentuh kaca jendela. "Cepat kembali! Kami menunggu di sini!"

__ADS_1


"Ya, Bu!"


***


__ADS_2