
"Tapi, istrimu tak ada lagi di rumah ini, Gus."
"Apa maksud, Ibu?"
"Pak Yanto dan Rudi sudah membawanya pergi dari sini."
****
Satu jam sebelumnya ....
Rudi dan Aminah sampai di rumah Pak Yanto dalam lima belas menit. Sang pemilik rumah ternyata telah menunggu mereka di teras. Rudi memberi isyarat pada sang bos bahwa saat ini Aminah mempercayai kata-katanya.
Pak Yanto lantas mendekati Aminah sambil menyembunyikan senyumnya. "Aminah, ayo masuk ke dalam. Saya baru saja akan membawa Agus ke rumah sakit."
Aminah mengangguk, lalu mengikuti Pak Yanto dan Rudi masuk ke dalam rumah megah yang memiliki tiga lantai itu.
Sementara Pak Yanto mengalihkan perhatian Aminah, Rudi mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius dari dalam saku celana. Dan dengan sebuah lirikan mata, Pak Yanto menyuruh dirinya untuk segera membekap mulut Aminah.
"Papa!" panggil Bu Dewi yang berdiri di tengah tangga dengan wajah bingung. Sang nyonya rumah lalu memandang Aminah dari ujung kaki hingga kepala. "Siapa wanita ini, Pa?"
"Saya Aminah, Bu. Istrinya Agus."
Bu Dewi hanya diam tak merespon. Matanya sibuk mengamati gerak-gerik suaminya yang mencurigakan. Saat melihat sapu tangan yang digenggam Rudi, ia baru mengerti apa yang terjadi.
"Pergilah dari sini!" pekik Bu Dewi sembari menuruni anak tangga. "Sekarang juga!"
Aminah tersentak kaget, bingung karena Bu Dewi tiba-tiba langsung mengusirnya.
"Maaf, Buk. Saya kemari untuk bertemu Mas Agus dan mau membawanya ke rumah sakit. Tolong Ibu jangan salah paham. Saya nggak ada hubungan apapun dengan Pak Yanto."
Aminah yang begitu polos berusaha menjelaskan tujuannya kemari. Ia berpikir bahwa Bu Dewi tengah menuduh dirinya dan Pak Yanto main serong. Padahal, Bu Dewi justru sedang berusaha menyelamatkan dirinya.
"Bukan itu maksudnya. Apa kamu masih belum mengerti juga? Kamu sekarang sedang dijebak! Mereka mau menjadikanmu tumbal pesugihan!"
"Astaghfirullah." Aminah menatap Pak Yanto dan Rudi secara bergantian. Wajah mereka yang semula pura-pura cemas, kini sedang menyeringai kesal karena Bu Dewi telah membocorkan rencana mereka.
"Baiklah, kalau begitu kita tak usah pura-pura lagi."
Tanpa aba-aba, Rudi segera menarik paksa kedua tangan Aminah. Ia mencengkram lengan kurus itu dan menguncinya ke belakang.
"Aaawwww," jerit Aminah kesakitan.
"Lepaskan dia!" bentak Bu Dewi sambil memukul Rudi dengan payung yang tersampir di dekat tangga.
"Ma. Jangan ikut campur." Pak Yanto menarik tangan istrinya agar menjauh dari Aminah dan Rudi.
"Tolong. Tolong," jerit Bu Dewi sekuat tenaga sambil terus berusaha terlepas dari cengkeraman suaminya.
Namun Pak Yanto tak tinggal diam, tanpa segan ia segera membekap mulut Bu Dewi dengan tangan kanan, membungkamnya dengan erat.
__ADS_1
"Sakit, Rud," pekik Aminah saat Rudi menjambak rambutnya karena sejak tadi Aminah terus melawan.
"Kau memang sama seperti suamimu, Aminah. Memaksa kami bermain kasar!"
Rudi mengikat tangan Aminah dengan tali yang sudah lebih dulu mereka siapkan. Sedangkan Pak Yanto membawa istrinya ke kamar untuk di kurung.
Untungnya Bu Dewi tak tinggal diam. Ia menginjak kaki Pak Yanto dan menggigit lengan sang suami sekuat tenaga.
"Aaaarrrgggghhh." Pak Yanto menjerit sambil menatap tangannya. Gigitan Bu Dewi ternyata sampai menimbulkan bekas luka dan sedikit darah.
Menyadari Pak Yanto mulai lengah, Bu Dewi lantas tak ragu menendang alat vital suaminya hingga pria itu meraung-raung kesakitan.
"Dasar wanita kurang ajar," umpat Pak Yanto sambil meringis dan memegangi *********** yang terasa nyeri .
Melihat Aminah yang sedang diikat, tanpa pikir panjang Bu Dewi memukul kepala Rudi dengan vas bunga besar yang terbuat dari keramik. Membuat pria itu sempat mengerang sebentar lalu terjatuh sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Ayo pergi dari sini." Bu Dewi dengan sigap melepaskan ikatan tangan Aminah. Mereka berdua berlari kencang menuju ke luar rumah.
Namun tiba-tiba ada seseorang yang menarik rambut Aminah dari arah belakang. Membuat istri Agus itu tersungkur ke lantai.
"Mau lari kemana kau? Hah?" Pak Yanto mendekati Aminah yang terbaring di lantai.
Tanpa rasa iba, ia menginjak telapak tangan Aminah hingga beberapa tulangnya patah. Membuat wanita itu menjerit kencang.
"Jangan, Pa!" Bu Dewi berusaha mendorong Pak Yanto tapi pria itu ternyata lebih kuat dari dugaannya. Pak Yanto menatap Bu Dewi dengan mata nyalang penuh kemarahan.
Dua buah tamparan keras di pipi Bu Dewi sampai meninggalkan bekas kemerahan. Bahkan ada beberapa tetes darah di ujung bibirnya.
"Istri tak berguna! Bukannya mendukung suami kau malah membela orang lain."
"Papa, jangan sakiti Mama."
Tiba-tiba dari arah tangga, keempat anak Bu Dewi serempak turun dan menahan tangan Pak Yanto agar tak lagi menyakiti ibu mereka.
"Kalian anak kecil tau apa? Jangan ikut campur masalah orang tua."
Pak Yanto menyentakkan tangannya, membuat si bungsu Sari sampai terpental ke lantai.
"Sari!" pekik Bu Dewi sambil memeluk putri kecilnya yang mulai menangis.
Sambil menatap anak-anaknya, Pak Yanto kembali menyeringai.
"Sekarang aku berikan kesempatan padamu untuk memilih. Masih mau melindungi wanita itu, atau salah satu dari mereka akan aku tumbalkan untuk pesugihan!"
Bu Dewi tergagap. Iya sangat kasihan pada Aminah yang telah diperalat suaminya. Namun sebagai seorang ibu, ia juga tak sanggup melihat anaknya kembali dikorbankan ke makhluk terkutuk itu.
Pak Yanto tersenyum menang melihat istrinya yang hanya bisa diam tanpa suara. Ia lalu mengambil sapu tangan yang tadi dibawa oleh Rudi.
Pak Yanto membungkam istri dan anak-anaknya dengan obat bius, membuat mereka satu persatu terkulai di lantai.
__ADS_1
Dengan mata yang mulai mengabur, Bu Dewi melihat Pak Yanto dan Rudi membius Aminah dan membawanya keluar rumah.
Hingga akhirnya, mata Bu Dewi benar-benar tertutup dengan tubuh yang lemas.
Terbaring lemah tak sadarkan diri ....
****
"Maafkan aku tak bisa menyelamatkan istrimu, Gus. Aku tak kuasa karena Pak Yanto akan mengorbankan anakku sebagai gantinya," ucap Bu Dewi sambil terisak memeluk Sari.
Agus menghela napas panjang. Tak mungkin juga dirinya akan menyalahkan Bu Dewi. Karena ia dan anak-anaknya juga merupakan korban kekejaman Pak Yanto.
"Sekarang, sebaiknya Bu Dewi dan anak-anak tenangkan diri kalian dulu. Hal ini pasti telah melukai psikis kalian, terutama Sari. Saya akan minta bantuan teman saya dan Ustaz Sanusi. Mereka punya kelebihan melihat alam gaib. Semoga mereka bisa membantu saya menemukan Aminah."
"Hati-hati, Gus. Pak Yanto akan melakukan apapun untuk meraih tujuannya. Kalau nanti kamu perlu bantuan, jangan sungkan. Saya pasti membantumu."
"Terima kasih, Bu Dewi. Kalau begitu saya permisi. Saya harus cepat, karena setiap detiknya, Aminah berada dalam bahaya."
Setelah berpamitan, Agus segera melangkahkan kakinya menuju tepian sungai. Tentu saja tempat pertama yang ia tuju adalah rumah Junaidi.
Saat ini, hatinya penuh kecemasan dan tanda tanya. Sejujurnya, mulai muncul sedikit keraguan di hatinya.
Mampukah dirinya melawan sihir hitam ini?
***
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Jangan lupa like, komen dan votenya, ya!
Aku sayang kalian semua
Terima kasih, 🙏
✍️
(Afrilia Athaara)
😘😘😘😘😘
****
Facebook : Affrilia
Instagram : @afrilia_athaara
__ADS_1