
Agus pergi kerja keesokan harinya dengan membawa segunung beban pikiran di kepala. Cerita Aminah tentang kehadiran anak mereka yang sama persis dengan mimpi Agus, perlahan mulai membuatnya sadar bahwa ini bukan sebuah kebetulan.
Mungkinkah ini sebuah pertanda dan peringatan yang sengaja dikirimkan Andi pada mereka?
"Hai, Gus. Kok kamu kelihatan gak semangat hari ini. Apa kamu sakit?" sapa Rudi sambil menepuk punggung Agus saat mereka bertemu di pintu gerbang toko. Ia menunjukkan sikap ramah sambil tersenyum. Walaupun tujuan yang sebenarnya adalah untuk mencari tahu isi pikiran suami Aminah itu.
"Gak, kok. Aku cuma kecapekan," jawab Agus dan berusaha bersikap baik-baik saja.
Kali ini, Agus memang memilih untuk tidak menceritakan tentang Andi pada Rudi, karena baginya itu termasuk rahasia rumah tangga yang harus disimpan rapat-rapat. Agus paham betul bahwa hal-hal yang menyangkut urusan pribadi rumah tangga, sebaiknya tidak diberitahukan pada orang lain.
"Oh, baguslah. Aku pikir kamu sakit," ucap Rudi bersikap seolah perduli.
Mereka lantas segera menuju lapangan dan bergabung dengan rekan kerja lain untuk langsung bekerja. Ada tiga truk pasir, dua truk batu bata dan satu truk bermuatan semen yang sudah menunggu untuk diangkut. Pekerjaan yang cukup banyak untuk dikerjakan Agus serta keempat pekerja lainnya.
Dan beruntung, pekerjaan yang banyak itu berhasil mengalihkan kekhawatiran Agus tentang Andi untuk sementara waktu. Membuat dirinya fokus bekerja demi segenggam nafkah untuk istri dan calon anak mereka.
Hingga tibalah jam makan siang. Agus berniat untuk kembali menemui Junaidi. Namun hari ini ia berencana mengajak Rudi untuk ikut bersamanya.
"Kemana Rudi?" Agus celingukan mencari-cari Rudi di sekitar halaman toko. Namun pria itu tak jua nampak batang hidungnya. Agus bahkan bertanya pada pegawai lain, tapi mereka juga tak tahu kemana Rudi pergi.
'Ya sudahlah. Besok saja aku ajak dia kesana,' batin Agus.
Dengan langkah cepat ia lalu berjalan menuju tepi sungai untuk menemui sahabat barunya yang ramah. Dalam sepuluh menit, Agus sudah sampai di tepian sungai dan terlihat Junaidi sedang duduk di teras rumahnya.
"Baaangg," panggil Agus dari bawah batang pohon jambu sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
"Agus, ya? Ayo kesini saja," pekik Junaidi sembari memberi isyarat agar pria itu datang ke rumahnya.
Agus menurut dan berjalan penuh semangat mendekati Junaidi. Entah mengapa ia merasa cocok berteman dengannya walaupun mereka baru bertemu kemarin siang.
Sebenarnya, tempat tinggal Junaidi hanyalah sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Tiang-tiang penyangga pintu dan jendela bahkan sudah terlihat keropos dimakan waktu.
Junaidi nampak sedang duduk santai di salah satu kursi rotan di teras, sambil menikmati hembusan angin yang datang dari arah sungai. Dengan hati-hati, Agus menaiki empat anak tangga yang sudah rapuh untuk menuju tempat Junaidi berada.
Saat Agus sudah sampai di teras rumah, Junaidi segera menyuruh Agus untuk duduk di sampingnya.
"Apa kabar, Gus?"
"Baik, Bang. Alhamdulillah," jawab Agus dengan wajah ceria.
Mendengar sindiran Junaidi, senyum Agus mendadak hilang. "Kenapa Abang bisa tahu?" tanya Agus dengan wajah polos.
"Karena Aku berbeda denganmu."
Agus mendengkus. Lagi-lagi ia hanya mendapatkan jawaban penuh teka-teki itu.
"Bang, jujur aja. Dari kemarin aku tuh bingung. Apa maksud Abang bilang bahwa kita berbeda? Tolong kasih tau aku, Bang. Aku bener-bener penasaran."
Junaidi hanya tersenyum melihat Agus yang sedang merengek seperti anak kecil. "Apa kamu yakin sudah siap mendengarnya?"
Agus mengangguk mantap. Ia sudah siap jika Junaidi akan mengatakan hal-hal yang mungkin di luar nalarnya. Itu tetap jauh lebih baik dari pada harus mati penasaran.
__ADS_1
Junaidi lalu duduk bersila di lantai rumahnya yang terbuat dari kayu, dan menyuruh Agus juga untuk ikut duduk bersila di hadapannya.
"Aku bilang padamu bahwa kita berbeda, itu karena aku bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus."
Agus terperangah takjub. Tak menyangka Junaidi memiliki keahlian unik seperti itu. "Serius, Bang? Dari mana Abang bisa memiliki kelebihan seperti ini? Apa itu bakat sejak lahir?"
Junaidi menggeleng. "Aku memilikinya sejak tujuh tahun lalu. Aku bahkan bisa mengenali sifat seseorang hanya dengan melihat wajahnya. Dan saat pertama kali kita bertemu, aku melihat ada banyak aura hitam yang menyelimutimu. Mengikuti kemana pun kamu pergi. Itulah kenapa saat kamu cerita tentang temanmu, aku langsung tahu kalau dia meninggal secara tak wajar."
Selama Junaidi memberikan penjelasan, Agus hanya bisa diam ternganga. Mulutnya terbuka lebar, tak menyangka ada aura mistis jahat yang selama ini mengikutinya.
Mungkinkah itu yang menyebabkan Agus akhir-akhir ini sering ditimpa musibah? Apa itu juga penyebab hal-hal tak masuk akal yang sering terjadi pada dirinya dan Aminah belakangan ini?
Agus terdiam memandangi Junaidi. Rasa kagumnya semakin bertambah pada pria baik dan ramah ini.
"Aku tahu, Gus. Mungkin kamu sulit untuk percaya kata-kataku. Tapi itulah kenyataan yang sebenarnya. Sebagai contoh, pohon jambu yang sering kau duduki itu, dibawahnya terkubur jenazah seseorang."
Bersambung
***
Terima kasih buat temen-temen yang sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya juga, ya.
Facebook : Affrilia
Instagram : @afrilia_athaara
__ADS_1