TUMBAL

TUMBAL
Part 10 : Kenyataan yang Terungkap


__ADS_3

Rudi mengendarai motor sendirian menuju rumah Agus. Dijaganya erat barang pemberian Pak Yanto semalam. Kali ini mereka harus berhasil.


Rudi mengamati sekeliling rumah Agus yang nampak sepi. Hari ini, semesta seakan ikut mendukung rencananya.


Rudi mengetuk dengan kencang pintu yang terkunci sebanyak tiga kali. Lalu terdengar sahutan dari dalam dan suara pintu yang berderit.


"Rudi, ya? Ada apa?" tanya Aminah keheranan saat teman kerja suaminya itu muncul di siang bolong.


"A ... Agus. Di ... dia ...." Rudi sengaja menggantung ucapannya untuk membuat Aminah cemas.


Dan tepat seperti perkiraan, guratan rasa khawatir yang besar langsung muncul di wajah Aminah saat nama suaminya disebut.


"Ada apa, Rud? Jangan bikin aku takut. Mas Agus kenapa?"


"Agus mengalami musibah di toko. Kepalanya bocor tertimpa besi."


"Astaghfirullah." Tubuh Aminah seketika lemas mendengar kabar buruk tentang suaminya. "Jadi keadaan Mas Agus sekarang gimana, Rud?"


"Agus di bawa ke rumah Pak Yanto untuk dilakukan pertolongan pertama oleh dokter. Setelah itu, baru akan dibawa ke rumah sakit. Aku kemari mau menjemputmu untuk menemani Agus."


Mata Aminah berkaca-kaca. Ia takut hal yang lebih buruk akan menimpa suaminya. "Terima kasih banyak kamu sudah mengabariku, Rud. Ayo kita pergi sekarang."


Aminah lalu tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar dan mengambil dompet yang berisi sejumlah uang. Ia pikir mungkin di rumah sakit nanti mereka akan mengeluarkan banyak biaya.


Aminah begitu panik hingga tak menyadari guratan senyum kemenangan yang tersungging di wajah Rudi. Ia sangat gembira karena telah berhasil mengelabui wanita itu dengan mudah.


Aminah bergegas mengunci pintu rumah dengan tubuh gemetaran dan perasaan yang tak karuan. Tak sadar bahwa sebenarnya ia sedang masuk ke dalam perangkap macan. Sedangkan Rudi yang sudah bersiap di atas motor, pura-pura memasang wajah cemas.


"Cepatlah, Aminah. Akan aku antar kamu ke rumah Pak Yanto."


***


Kepala Agus terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri meskipun matanya masih terpejam. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di dahi, lalu mengalir melewati rahangnya. Bibir Agus bergetar seperti sedang menggumamkan sesuatu.


Di saat Junaidi menarik jempolnya, mata Agus langsung terbuka lebar. Napasnya terengah-engah seperti habis berlari dan dikejar-kejar seseorang. Wajahnya yang biasa murah senyum, kini menyiratkan ketakutan yang luar biasa.

__ADS_1


"Apa itu benar, Bang?" tanya Agus dengan nada tegang. Raut mukanya sampai terlihat pucat pasi.


Junaidi mengangguk. "Kamu harus cepat, Gus. Istrimu dan janin yang sedang dikandungnya sekarang dalam bahaya."


***


Agus berlari sekuat tenaga menyusuri sungai untuk menuju ke rumah Pak Yanto. Dadanya berdegup kencang. Membayangkan istri dan calon anaknya sedang berada dalam bahaya besar.


Dengan napas yang naik turun, Agus akhirnya sampai di depan rumah sang majikan yang berlantai tiga. Diperiksanya gerbang tinggi berwarna keemasan.


Dikunci!


Agus berpikir keras mencari cara untuk melewatinya. Pemuda tiga puluh tahun itu lalu menarik napas panjang, bersiap untuk memanjatnya.


Agus memanjat gerbang itu dengan hati-hati, terutama saat melewati ujung runcing yang menghiasi bagian atasnya. Salah pijakan sedikit saja, ujung lancip itu siap menembus perutnya.


Rintangan yang tak mudah untuk dilewati!


Setelah berhasil menaklukan gerbang setinggi tiga meter, Agus segera menuju pintu utama rumah yang didominasi warna hijau itu.


Namun sial! Lagi-lagi terkunci.


Agus lantas mundur beberapa langkah. Ia mengatur napasnya dan mengambil kuda-kuda.


Satu. Dua. Tiga.


Braaaakkkk.


Pintu yang di dobrak itu menimbulkan suara yang amat keras. Orang-orang yang ada di dalam pastilah juga bisa mendengarnya.


Namun ternyata pintu yang terbuat dari kayu tebal itu lebih kuat dari kelihatannya. Pintu itu hanya bergetar saat Agus menendangnya dengan kaki kanan.


Agus terlihat kembali mengatur napas. Demi Aminah dan calon anaknya, ia harus bisa menaklukan pintu bercat cokelat ini. Agus sedikit menunduk dan berlari cepat, menabrakkan dirinya ke pintu utama.


Braaakkkk. Braaaakkkk.

__ADS_1


Daun pintu pun akhirnya terbuka. Tanpa pikir panjang Agus langsung menerobos masuk ke dalam. Ia memeriksa ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Semua ruangan yang ada di lantai satu sudah diperiksanya dengan teliti. Namun nihil. Belum terlihat tanda-tanda kehadiran Aminah di sana.


Hingga akhirnya Agus melihat sebuah ruangan dengan pintu yang dirantai dan dikunci dengan gembok besar. Mungkinkah Aminah ada di sana? Atau di lantai dua? Atau malah ada di lantai tiga?


Entah mengapa seperti ada kekuatan besar yang mendorong Agus untuk masuk ke ruangan itu. Ia menyentuh ujung rantai besar dengan gembok yang terkait. Agus mulai merasa bimbang. Haruskah ia membukanya?


Agus terperanjat saat mendengar ada suara berisik seperti pintu yang ditendang. Suara gaduh itu cukup keras sehingga berhasil mengalihkan perhatian Agus dari kamar itu, dan segera pergi mencari sumber suara.


Agus mengurungkan niatnya untuk naik memeriksa lantai dua saat mendengar ada sebuah suara berisik dari bawah tangga. Ia menempelkan telinganya di pintu lemari yang terletak di kolong tangga.


Suara itu semakin lama semakin kencang. Seperti ada orang di dalam sana yang sedang menendang-nendang lemari itu.


'Jangan-jangan itu Aminah?!'


Agus dengan sigap membuka lemari yang dikunci dari luar. Betapa terkejut dirinya saat melihat ada wanita di dalam lemari itu. Kedua tangan dan kakinya diikat dengan tali tambang. Bibirnya di tutupi plester hitam besar hingga ke ujung pipi.


Dan ternyata, wanita itu bukan Aminah.


"Bu Dewi?"


Agus membuka plester yang menutupi mulut Bu Dewi secara perlahan. Di sampingnya ada empat orang anak-anak, dua laki-laki dan dua perempuan yang juga diperlakukan sama sepertinya.


"Siapa yang mengurung Ibu dan anak-anak di tempat seperti ini? Apa Pak Yanto?" cecar Agus sambil melepaskan tali yang mengikat wanita itu serta anak-anaknya.


Bu Dewi mengangguk lemah. Lalu memeriksa keadaan anak-anaknya yang terlihat lemas dan ketakutan. Wajah anak-anak itu sampai pucat, mungkin karena dikurung dalam tempat sempit dan kekurangan udara.


"Apa tadi Pak Yanto datang bersama Rudi? Dengan seorang wanita?"


"Iya itu benar. Bagaimana kamu bisa ...." Bu Dewi menghentikan kata-katanya dan menatap Agus dengan mata membulat. "Apa dia istrimu?"


"Iya, Buk. Dia istriku, Aminah. Pak Yanto dan Rudi berhasil menipu dan membawanya kemari."


"Tapi, istrimu tak ada lagi di rumah ini, Gus."


"Apa maksud ibu?"

__ADS_1


"Pak Yanto dan Rudi sudah membawanya pergi dari sini."


****


__ADS_2