
Arlan menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya, namun Arlan mencoba memanggil dirinya yang tengah tertidur. Arlan berjalan dengan langkah mantap mendekati Larasati, meninggalkan pelindung yang masih melingkar menyelimuti Manda.
"AAARGH!" Larasati mengayunkan sebuah pukulan ke arah kepala Arlan dan langsung ditangkis oleh perisai Arlan. "AAAAARRGGHH!!!" pukulan bertubi-tubi datang dari Larasati. Arlan yang tidak belajar cara bertempur, memilih bertahan untuk melindungi dirinya.
Melihat Larasati yang membiarkan daerah perutnya tanpa pertahanan, dengan cepat Arlan menyarangkan sebuah tinju ke perut Larasati.
Larasati mundur selangkah. Tentu saja pukulan Arlan tidak begitu berarti bagi iblis macam dirinya yang sudah memangsa banyak makhluk hidup. Larasati sempat tersenyum, sadar bahwa Arlan tidak pandai dalam bertarung. Dia kembali maju, menerjang Arlan tanpa ampun, berpikir bahwa suatu saat perisai Arlan akan tembus dengan pukulan yang dia berikan.
'Gue mohon, keluarlah!' rintih Arlan di dalam hati. Dia memejamkan matanya. Hanya beberapa detik kemudian, Arlan merasakan sesuatu yang aneh. Rasa panas menjalar dari dadanya, menyebar dengan cepat hingga ke seluruh tubuh. Arlan dapat merasakan dirinya seperti tersedot ke dalam pusaran angin hingga jauh ke atas.
Kemudian hening.
Arlan mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia terombang-ambing di udara, seolah tenggelam di dalam lautan tanpa air. Nafasnya menjadi teratur. Badannya rileks dan ringan. Arlan merasa sangat damai di sana. Pikirannya sesaat lupa dengan apa yang terjadi.
"Arlaaaan!"
Arlan menoleh ke kanan dan kirinya saat mendengar panggilan itu. Tapi, tidak ada siapapun di sekitarnya.
"Arlaaaan!"
Suara itu terdengar familiar di telinga Arlan. Suara yang membuatnya ingin bangun dari mimpi menyenangkan ini.
"Manda," gumam Arlan, sadar siapa pemilik suara tadi. Arlan memejamkan matanya kembali. Dia mencoba memusatkan pikiran tentang entitas mengenai dirinya. Dirinya yang sebenarnya tidak berada di sini. Dia tengah berhadapan dengan Larasati. Arlan meminta bantuan pada dirinya yang lain yang sedang tertidur.
"Bangun!" geramnya. "Bangun, Lan!" Matanya semakin erat memejam. Tangan Arlan mengepal, memusatkan tenaga pada tubuhnya yang semakin lama semakin panas. "BANGUN!" serunya.
BHAM!!!
Mata Arlan terbuka lebar sewaktu suara debam keras membuatnya kaget. Dia kembali ke dalam pertempuran. Arlan mencari sosok Larasati. Betapa kagetnya dia, saat melihat sosok Larasati yang berubah drastis. Sosok cantik tadi, berubah menjadi sosok yang Arlan lihat di dalam mimpi. Tangan kiri Larasati tergantung tidak pada tempatnya. Kulitnya membusuk dengan bau tidak sedap yang menyengat. Mata Larasati melotot keluar, seolah akan jatuh dari rongganya.
Arlan dapat merasakan panas di tangannya. Dia sedang menggenggam dua bola api yang sudah siap dilempar.
"GYAAAAAHHH!!!"
__ADS_1
Arlan mendongak. Larasati melesat ke arahnya dengan cepat. Tanpa pikir panjang, Arlan melempar bola api di tangannya. Satu bola api meleset, tetapi bola api lainnya tepat mengenai bahu kanan Larasati. Kobaran api memercik dari bahunya.
BRUG!
Larasati berhasil menerjang Arlan. Tangan kurusnya menerkam leher Arlan dengan kuat. Arlan bisa merasakan kuku-kuku Larasati menancap di kulitnya. Larasati tidak memedulikan bahunya yang terbakar. Bahkan, dia tidak terlihat mau memadamkan api yang tengah melahap daging busuknya.
Arlan memukul-mukul lengan Larasati. Tidak disangka, lengan kurus itu lebih kuat dari perkiraan Arlan. Arlan memejamkan mata lagi, membiarkan setengah kesadarannya menghilang dan dirinya yang lain muncul kembali. Arlan merasakan bahwa dia melihat Larasati yang ada di depannya seperti berada di sebuah layar bioskop. Tangan kanan Arlan bergerak, balik mencengkram lengan kiri Larasati. Arlan tidak melakukan hal itu. Dirinya yang lain tengah mengendalikannya saat ini.
"Jangan!" seru Arlan pada dirinya sendiri yang sudah setengah jalan menarik lengan Larasati.
"AAAARRRGHHH!!!" Larasati mengerang kesakitan saat Arlan menarik lepas lengannya. Larasati melepas cekikannya dan menjauh dengan cepat. "MANUSIA LAKNAAATTT!!!" pekiknya.
"HAHAHAHAHA!"
Arlan kaget dengan suara tawanya sendiri. Di satu sisi, Arlan dapat merasakan rasa puas seperti dahaga yang terpenuhi dengan air dingin yang manis. "CUKUP!"
BHAM!!!
Arlan terdorong ke depan dengan keras. Dia menoleh ke sana-sini saat kembali berada di tubuhnya. Dia tidak bisa terus-terusan membiarkan dirinya yang lain muncul. Rasa puas yang Arlan dapatkan sangat mengerikan sekaligus membuatnya ketagihan.
Kali ini, Arlan menghindar tepat waktu. Dia melirik ke arah Manda sekilas, memastikan Manda masih aman di dalam pelindung. Larasati mengejar Arlan dengan amarah yang luar biasa. Secepat mungkin, Arlan melarikan diri dan kabur ke lantai atas. Dia sampai harus melompati beberapa anak tangga karena Larasati menghancurkan anak tangga dengan pukulannya.
Arlan melompat ketika melihat pintu keluar, berguling di lantai yang kotor dan menabrak tumpukan tulang belulang di bawah meja makan. Larasati mengejar, menyabet lengan Arlan dengan cakaran.
PHANG!!!
Perisai terbentuk tepat waktu. Beberapa cakaran dan pukulan dari Larasati bisa Arlan tangkis. Arlan panik karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Larasati hanya berjarak beberapa sentimeter di depannya. Makhluk itu mengamuk walau hanya dengan satu tangan. Wajahnya yang hancur membuat nyali Arlan ciut.
'Keluarkan aku!'
Tiba-tiba muncul suara di kepala Arlan. Arlan menggeleng, mencoba menepis suara dari dirinya yang lain.
'Kamu akan mati! Gunakan aku!'
__ADS_1
Arlan bimbang. Dia tidak ingin menggunakan kekuatan lainnya, namun juga tidak bisa hanya bertahan dalam melawan Larasati. Kekuatannya terbatas dan dia sudah mendapatkan beberapa luka. Arlan bahkan tidak sempat menggunakan kekuatan penyembuh untuk menutup luka-lukanya.
'Keluarkan aku! Aku akan memusnahkan makhluk itu!'
Arlan tersedot ke belakang, kembali melayang di udara. Saat itu, Arlan tahu bahwa dirinya telah kalah oleh sosok lainnya. Arlan memang memanggilnya, tetapi membuatnya menjaga jarak bukanlah perkara mudah. Bahkan sosok dirinya yang lain bisa dengan mudah menggantikan dirinya seperti sekarang.
Tangan kanan Arlan balik mencengkram leher kurus Larasati. Tidak hanya diam, Larasati mencoba mencabik-cabik tangan Arlan. Namun, baru menyarangkan beberapa goresan pada tangan Arlan, Larasati harus merelakan tangannya yang tersisa. Arlan menangkap tangan Larasati dan memuntirnya hingga terdengar bunyi patah mengerikan.
"AAAAAAAARRRRRGGGHHHH!!!" raungan pilu Larasati memenuhi udara.
Tidak hanya sampai di situ. Secepat kilat, ketika sudah dipastikan bahwa tangan kanan Larasati berada di posisi yang salah, Arlan mulai mencabik-cabik Larasati tanpa belas kasihan. Mulai dari kulit-kulit busuk Larasati, hingga ke wajahnya.
"TIDAK! CUKUP! CUKUP! AKU BILANG, CUKUUUUUPPP!!!" teriak Arlan.
BHAM!!!
Arlan kembali pada tubuhnya. Tidak seperti sedetik lalu, sekarang Arlan dapat merasakan tangannya kembali. Tangannya yang tengah menggenggam bagian tubuh Larasati yang tadi dia cabik. Kenyataan itu membuatnya gemetar. Dia mendorong Larasati sejauh mungkin dan kembali memasang kuda-kuda.
PHANGGG!!!
Tidak mau ambil risiko, Arlan kembali memasang pelindung di sekitarnya. Larasati jatuh terduduk tidak jauh darinya. Lengan kirinya meneteskan cairan hitam. Wajahnya setengah hancur, tercabik-cabik. Tangannya yang tersisa tidak berbentuk lagi. Bahu kanannya menebarkan bau hangus bercampur busuk.
"Aku akan membunuhmu..." rintih Larasati. "Kau dan keluargamu yang sudah membuatku begini..."
Jantung Arlan berdebar kencang. Tangannya menolak lupa dengan apa yang dia perbuat. Rasa haus akan kekuatan membuat kedua tangannya gemetar. Arlan mulai takut dengan dirinya sendiri setiap kali Larasati semakin marah.
"Larasati, apa tidak bisa kita sudahi sampai sini?" itulah permintaan paling bodoh yang pernah Arlan lontarkan. Dia tidak bisa memikirkan cara lain. Arlan tidak mau dirinya yang lain muncul untuk kesekian kalinya. Arlan takut dengan rasa puas dan ketagihan setelah mencabik-cabik Larasati.
Larasati bangkit kembali. Dia berjalan pelan ke arah Arlan. Niatnya untuk menghabisi Arlan meningkat berkali-kali lipat. "Kau harus mati di tanganku... Aku akan menikmati setiap jengkal dagingmu... Aku akan melahap semua kemampuan yang kamu miliki..."
Arlan berkali-kali memanjatkan doa kepada Tuhan, berharap suara-suara di kepalanya segera menghilang. Arlan menekan gejolak kegirangan saat merasakan aura dendam dari Larasati yang kian membesar. Keinginan untuk bertempur dan memusnahkan lawannya hampir menguasai dirinya.
"Oh, Tuhan... Bagaimana ini?" gumam Arlan.
__ADS_1
***