TUMBAL

TUMBAL
Mata Batin


__ADS_3

"Ayo masuk!" Arlan mempersilakan Manda dan Nanda untuk masuk ke dalam rumahnya. Kali ini, Arlan memperhatikan dengan seksama bagaimana ekspresi Manda ketika masuk ke dalam. Terakhir kali Manda masuk, dia tampak terganggu dengan adanya banyak suara dari jiwa-jiwa yang menjadi tumbal jin pelindung rumah itu.


"Hilang..." celetuk Manda begitu melewati ruang tamu.


"Suaranya?" terka Arlan, yang langsung dijawab dengan anggukan Manda. "Semoga kasus itu juga bisa segera dihasut oleh petugas kepolisian."


"Lo yakin?" tanya Nanda. Dia duduk duluan di sofa ruang tengah. "Bagaimanapun, mereka adalah orangtua lo. Kalau mereka terkena masalah, lo juga bakalan kena imbasnya." Nanda merentangkan tangannya. "Bisa jadi lo nggak bisa tinggal di rumah mewah ini lagi."


"Kita ke sini untuk bahas suara itu, Nan," potong Manda. "Urusan bagaimana nantinya hidup Arlan, kita akan bahas nanti. Ada hal yang lebih mendesak, kan?"


"Benar," jawab Nanda. "Suara ini nggak akan hilang dalam waktu dekat."


Arlan menengadah. Dia kaget karena merasa lupa dengan suara itu semenjak memikirkan Manda akan datang ke rumahnya. "Sampai kapan?"


"Sampai kakek lo capek, atau waktu munculnya habis."


Arlan menoleh cepat ke arah Nanda. "Ka... Kakek?"


Nanda dan Manda mengangguk bersamaan. "Kabut di atas itu, adalah kakek lo. Kakek lo berusaha masuk ke rumah ini. Dia ngiler lihat lo," jelas Nanda. "Mungkin, karena lo punya ilmu kebal dan ilmu penyembuh murni, dia jadi kepengen."


"Cara cepatnya, dengan makan gue?" tanya Arlan.


Nanda mengangguk lagi. "Untuk makhluk sesat yang sudah dikuasai hawa nafsu begitu, menunggu lo memberikan kekuatan dengan cuma-cuma, hanya buang-buang waktu. Ya, itupun kalau lo nggak duluan dilahap sama makhluk sesat yang lain."


"Tapi, gue nggak bisa lihat mereka dengan jelas. Tempo hari, waktu pertempuran dengan jin-jin itu, gue bisa lihat karena kita masuk ke dunia mereka, kan?"


"Iya, benar," Manda menjawab. "Kalau lo mau, gue bisa buka mata batin lo. Tapi..." Manda melirik ke arah Nanda. Nanda mengangguk saja, memberikan izin pada Manda untuk memberitahu Arlan apa konsekuensi yang akan dia terima. "Tapi, mata lo nggak akan ada filternya."


"Maksudnya?"


"Lo bakalan melihat semuanya. Entah itu hal yang ingin lo lihat, ataupun yang tidak ingin lo lihat. Benar-benar semuanya."


"Nggak semua hal terlihat indah di dunia ini," Nanda menambahkan.

__ADS_1


"Apa ada cara lain?" tanya Arlan. Tiba-tiba disuguhkan tawaran mengerikan seperti itu, tentu saja Arlan tidak bisa langsung menyetujuinya. Semenjak kecil, Arlan tidak melihat apapun yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Ketika dia bertempur dengan jin saja, dia berusaha mati-matian untuk menahan rasa ngerinya terhadap sosok-sosok berwujud tidak normal. Bahkan, dengan Larasati yang selalu muncul di mimpinya, Arlan masih tidak terbiasa. Bagaimana bisa dia langsung menyanggupi konsekuensi yang Manda katakan.


"Gue nggak tahu kedepannya bakalan seperti apa," sahut Nanda. "Lo punya bakat, tapi selama ini terpendam. Dengan bakat yang lo punya, lo jadi incaran makhluk-makhluk itu. Sedikit demi sedikit lo bisa mengasah kemampuan lo. Cepat atau lambat, kemampuan lo untuk melihat hal-hal seperti itu akan muncul juga. Manda cuma mempercepat prosesnya."


Arlan menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Suara dentuman di atas kepalanya sama kerasnya dengan detak jantungnya saat ini. "Ini adalah sesuatu yang harus gue lewati juga, kan?"


"Iya. Gue nggak akan ketawa kalau lo bilang takut," jawab Nanda. "Gue bahkan ngompol di celana waktu SMP karena lihat kuntilanak di depan kelas."


"Kikikikik!" Manda terkikik. Rupanya dia mengingat kejadian memalukan itu. "Bener banget, Lan! Seisi kelas heboh gara-gara teman sebangku Nanda jerit-jerit sepatunya kena kencingnya Nanda."


Arlan ikut tertawa. "Gue memang agak takut. Gue cuma pernah lihat hantu waktu gue nonton film horror."


"Perlu Nanda menginap di sini buat nemenin hari pertama lo melihat hal-hal gaib?" tawar Manda.


Arlan melirik pada Nanda yang duduk dengan santai. "Gue masih ingat ekspresi lo waktu pertama kali melihat rumah gue," kata Arlan. "Meski begitu, lo bisa menginap di sini?"


"Kayaknya gue nggak bakal tidur, sih," jawab Nanda.


"Mending nggak usah kalau begitu," timpal Arlan.


"Bolos sehari nggak akan mempengaruhi nilainya," tambah Manda meyakinkan. "Nanda itu otaknya encer. Saking encernya, bisa meleleh lewat lubang telinganya."


"Nggak gitu juga..." dengus Nanda. "Gue nginap aja, ya? Gue nggak mau lo kena serangan jantung karena kaget-kagetan."


"Oke," akhirnya Arlan setuju. Dia juga tidak mau ditemukan sebagai mayat keesokan paginya karena mendapat serangan jantung. Apalagi, orangtuanya entah pulang jam berapa malam ini.


"Sekarang, gue mulai, ya?" Manda berdiri di hadapan Arlan. "Tutup mata lo," pinta Manda. Arlan menurut saja. Manda mengusap mata Arlan dengan cepat. Proses itu hanya beberapa detik. Seketika, kelopak mata Arlan terasa dingin. "Buka mata lo pelan-pelan," perintah Manda selanjutnya.


Arlan membuka matanya secara perlahan. "SIAL!" serunya ketika melihat seorang perempuan setinggi atap rumahnya berdiri di pojok ruang tengah.


"Sudah gue duga," sahut Nanda. "Lo memang perlu ditemenin malam ini."


"Temenin gue tiga hari, bisa, nggak?" tawar Arlan. Dia tidak yakin bisa menghadapi semuanya sendirian setelah malam ini berlalu. "Buset, dah! Apaan, tuh!?" cicit Arlan saat melihat kepala bergelantung menggunakan rambut di depan pintu kamar orangtuanya. "Astaga! Astaga! Gue bakalan kena serangan jantung beneran!" Arlan meraih bantal di punggungnya dan menutup mata menggunakan itu.

__ADS_1


"Sebelum suara dentuman ini hilang, lo mau lihat sosok kakek lo?" tawar Nanda.


"Sini!" Manda mengulurkan tangannya. "Bakalan banyak yang lo lihat. Lo bisa gandengan tangan sama gue supaya nggak terlalu takut," usul Manda. Wajahnya sedikit memerah. Dia merasa malu menawarkan hal itu pada Arlan.


"Uhuk! Uhuk!" Nanda menggoda lagi.


"Kalau pegangan tangan sama lo, bisa-bisa lo pingsan lagi!" Manda mencari pembenaran.


"Gue cuma batuk, kok!" bela Nanda, lalu dia ikut berdiri. "Ayo, Lan! Kita buktikan apa itu benar kakek lo."


Arlan mengangguk, bersamaan dengan itu, dia membulatkan tekadnya untuk menerima apapun yang dia lihat nanti. Dia tidak boleh lari dari kenyataan dan menghadapi semua hal yang sudah ditakdirkan untuk dirinya, bahkan jika benar kakeknya ingin menyantap dirinya.


Mereka berjalan beriringan menuju ke luar rumah. Sesekali, Arlan menggenggam tangan Manda terlalu kuat karena kaget dengan hal-hal baru yang bisa dilihat matanya saat ini. Manda tidak menampakkan reaksi keberatan. Diam-diam, Arlan berjalan semakin mendekat. Dia sangat menyukai wangi mawar yang terkuar dari rambut hitam Manda. Langkah tegap Manda di depannya seolah memberinya kekuatan lebih.


"Lihat di sebelah sana!" Nanda menunjuk ke atas ketika mereka sampai di halaman depan rumah.


Saking kagetnya, Arlan terjatuh ke tanah. Matanya terbuka lebar meskipun dia ingin menutup mata. Makhluk besar yang ada di atap rumahnya, memang benar adalah kakeknya. Dia bisa melihat wajah Kakek Pareng, meski bentuknya sudah tidak wajar lagi.


"MAKANANKU!!!" seru Kakek Pareng ketika melihat Arlan di depan matanya. "LAPAAAR!!! KELUAR KAAAUU!!!"


"Untuk sekarang, lo masih bisa tenang. Perlindungan rumah ini masih kuat," kata Nanda.


Arlan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada lingkaran cahaya berwarna merah yang menyelimuti rumahnya. Auranya membuat dia sesak. "Kenapa gue tiba-tiba ngerasa nggak enak?" tanya Arlan. Sebelumnya, dia baik-baik saja selama di rumah ini.


"Yaaa, karena mata batin lo sudah dibuka," Nanda menjawab enteng. "Kakek lo itu, sudah memangsa beberapa manusia untuk menguatkan tenaganya. Tidak lama lagi, dia bakalan bisa menembus perlindungan rumah ini. Saat itu, kita harus sudah siap menghadapinya."


"Selain Larasati, gue juga harus melawan kakek gue sendiri," Arlan bicara pada dirinya sendiri. Jelas saja dia tidak percaya dengan hal ini. Dia bahkan belum lama belajar ilmu kebal. Ilmu penyembuh yang tiba-tiba muncul, bahkan belum tentu bisa dia gunakan di saat yang tepat nantinya. "Gue belum siap."


"Harus siap!" seru Manda. Suaranya yang tegas membuat Arlan berpaling dari sosok Kakek Pareng. "Lan, kita ada di sini buat lo! Lo harus siap!"


"Benar kata Manda," Nanda setuju. "Apa lo nggak mau kencan sama adik gue ini?"


"Nanda! Serius, dong!" protes Manda dengan wajah memerah.

__ADS_1


***


__ADS_2