
"AKH!" Manda berdiri tiba-tiba karena dia merasakan bulu kuduknya meremang dan telinganya berdenging, hingga membuat Arlan yang tengah terlelap di pangkuannya terguling dari bangku taman sekolah. "Astaga!" Manda buru-buru menghampiri Arlan yang tergeletak di tanah dan berlutut di sebelahnya.
BUM!!!
Manda menahan nafas ketika dirinya dan Arlan tiba-tiba berada di dalam pusaran angin topan. Secara spontan, Manda menarik tubuh Arlan ke dalam pelukannya. Dia tidak boleh kehilangan raga Arlan dalam keadaan ini. Manda memejamkan mata, memeluk Arlan seerat mungkin, dan merapalkan doa-doa yang ibunya ajarkan.
SWUSSHHH!!!
Sebagaimana kemunculannya yang tiba-tiba, seperti itu pula hilangnya angin ribut itu. Manda membuka matanya perlahan. Alangkah kagetnya dia ketika melihat pertempuran sengit yang ada di sekelilingnya. Manda mendekap Arlan lebih erat lagi sambil menunduk, berharap tidak ada serangan yang tersasar pada mereka.
"Arlan..." Manda berbisik di telinga Arlan. "Arlan..." panggilnya lagi. "Arlan, bangunlah!" pinta Manda.
Arlan mengerjap. Matanya mencoba mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin. "Kita di mana?" tanya Arlan, begitu menyadari bahwa mereka tidak berada di tempat terakhir mereka seharusnya.
"Maaf," jawab Manda. "Gue juga nggak tahu kenapa bisa ada di sini. Tapi, gue perlu kekuatan lo buat--"
BUMMMM!!!!
Ledakan besar terjadi sebelum Manda mampu menyelesaikan kalimatnya. Manda meringkuk di atas Arlan, bermaksud melindungi Arlan yang baru saja siuman. Namun, dia tidak merasakan dampak apapun dari ledakan itu. Dengan perlahan, Manda membuka mata. Sebuah cahaya kuning bersinar berbentuk lingkaran menyelimutinya. Manda baru sadar kalau tangan Arlan terbentang ke atas.
"Lo nggak apa?" tanya Arlan.
Manda yang masih mendekap Arlan, langsung menjauhkan diri dari Arlan. Wajahnya yang sempat berjarak hanya beberapa senti dari Arlan, membuatnya hilang konsentrasi untuk sekian detik. "Ng-nggak. Gue nggak apa-apa."
Arlan mencoba duduk, namun pelindung yang dia buat jadi bergoyang tidak stabil. Arlan dapat melihat bahwa di sekitarnya masih belum aman.
"Nggak apa," Manda menarik Arlan agar kembali merebahkan diri di pangkuannya. "Tolong buat kita aman untuk sekarang ini. Gue nggak bisa melawan apapun yang ada di luar."
"Ehem!" Arlan berdeham, mencoba mencairkan kekakuan di antara mereka. Arlan diam dengan tangan masih di dalam posisi yang sama. Sulit sekali baginya untuk tetap fokus, namun jantungnya berpacu seperti kereta api yang tengah melaju. Dia ingin berjingkrak-jingkrak karena senang dapat melihat wajah malu-malu Manda.
"Manda! Arlan!"
Seruan itu menarik perhatian mereka. Saat melihat si empunya suara, Arlan langsung bangkit dan perisainya lenyap. Nanda yang menghampiri mereka dalam keadaan babak belur, tapi matanya mengobarkan semangat pertempuran.
"Kenapa kalian bisa di sini?" tanya Nanda.
Arlan kembali membentangkan tangannya, membuat pelindung untuk mereka bertiga. "Nggak tahu. Tiba-tiba gue bangun dan ada di sini." Arlan harus memastikan mereka tetap aman selama saling bicara. Dia belum bisa memahami situasi di sana.
"Ada yang nyeret kita ke sini," jawab Manda. "Tiba-tiba ada pusaran dan kami di sini."
__ADS_1
"Sial! Pasti karena gue lepasin kekuatan yang sangat besar, lo jadi teleportasi ke sini," gerutu Nanda. "Kita kembar. Kekuatan kita terhubung. Ingat kejadian waktu kecil dulu?"
"Ya, Tuhan!" Manda menepuk keningnya. Dia mengingat kejadian yang Nanda maksud. Kejadian itu memang sudah sangat lama, namun itu pertama kalinya mereka sadar dengan kekuatan supranatural yang mereka miliki. Jika Nanda dalam keadaan bersemangat dan membutuhkan banyak tenaga, entah bagaimana Manda akan berteleportasi begitu saja ke tempat di mana Nanda berada. Semenjak itu, Gina selalu mengingatkan Nanda untuk tidak adu kekuatan, hingga akhirnya Nanda lupa alasan ibunya mengatakan hal itu karena saking seringnya Nanda mendengarnya.
Arlan menatap kedua saudara kembar itu secara bergantian. Meski tidak dijelaskan secara gamlang, Arlan mengerti bahwa yang menyeret mereka ke dalam situasi ini adalah Nanda. "Jadi... kita harus gimana?" tanya Arlan.
"Singkatnya, gue menemukan beberapa tulang belulang yang lo cari. Tapi, tempat ini dijaga puluhan jin dan gue harus menang kalau mau dapat apa yang gue mau. Lo bisa bantu jadi tameng?" Nanda bicara blak-blakan.
"Gue akan awasi bagian belakang," Manda menambahkan.
"Jadi kita bergerak bertiga," sambung Nanda.
Tenggorokan Arlan tercekat. Dia tidak bisa mengeluarkan jawaban apapun saking gugupnya. Jadi, hanya anggukan yang berhasil dia lakukan sebagai jawaban setuju. Begitu Nanda kembali berdiri, Arlan dan Manda juga langsung membentuk formasi di belakang Nanda. Ini adalah pertempuran pertama mereka. Arlan sendiri sadar, bahwa hasilnya tidak akan sesempurna seperti cerita di dalam komik. Namun, tekadnya untuk berlatih secara nyata, membuat pikirannya dapat fokus dengan mudah.
'Tugas gue adalah melindungi yang bisa bertempur,' batin Arlan. Matanya awas, tidak membiarkan celah sekecil apapun.
Nanda mulai berlari menghampiri satu makhluk tinggi hitam yang bahkan tidak berbentuk, lalu mengayunkan tinju ke arahnya. Arlan dapat merasakan bagaimana besar tenaga dalam milik Nanda. Setiap memastikan Nanda baik-baik saja di posisinya, Arlan langsung memeriksa Manda yang berdiri tidak jauh darinya. Arlan dibuat kaget karena ternyata Manda memiliki tenaga yang tidak kalah dahsyatnya dengan Nanda.
'Gilak! Nih, cewek keren banget! Astaga, astaga! Fokus! Fokus!!!' Arlan menggigit bibir bawahnya agar dia tetap memperhatikan Nanda juga.
"LAN, KIRI!"
Nanda melompat dari belakang Arlan, menghadang seekor kuda berkepala singa yang hendak menerkam Manda. Nanda melayangkan tinjunya lagi dan lagi, tepat ke arah kepala singa. Auman singa itu terdengar jelas dan memekakkan telinga. Manda jatuh bersimpuh sambil menutup telinganya. Tangan Arlan terpental ketika makhluk itu mengaum. Arlan memijit pergelangan tangannya yang terkilir.
"Ini dia bosnya," desis Nanda dari depan. Kuda-kudanya terpasang sempurna. Bajunya sudah tercabik-cabik, memperlihatkan beberapa luka di tubuhnya. Arlan sempat merasa kagum dengan kekuatan yang Nanda miliki.
"Nan, tenaga gue sisa lima puluh persen," bisik Manda. Bagi seorang perempuan yang tidak pernah adu otot dengan siapapun, apalagi dengan makhluk astral, tentu saja pertempuran ini terasa lumayan berat. Arlan sempat menghitung, ada delapan jin yang telah Manda kalahkan. Manda bukannya menang tanpa goresan sedikitpun. Perisai Arlan bahkan tidak cukup sempurna untuk melindungi kekasihnya.
"Cukup," jawab Nanda.
Mata mereka bertiga terpaku pada makhluk berkepala singa. Dengusan nafasnya yang memburu sama kencangnya dengan degupan jantung mereka. Arlan melirik sekeliling. Ada sekitar sepuluh laki-laki tengah beradu kekuatan denggan jin-jin yang bermunculan. Arlan tidak yakin kalau dia bisa menahan serangan jin di hadapannya jika ada salah satu saja anak buah jin itu yang tiba-tiba menyerang mereka.
"GGGGRRRRRRRR!" makhluk itu menggeram.
"Heh! Sombong sekali makhluk sesat satu ini," cibir Nanda.
"Kenapa?" tanya Arlan. Dia tidak mengerti arti geraman itu.
"Dia melarang jin lainnya mendekat. Dia sadar kalau lo punya ilmu kebal murni."
__ADS_1
"Gue lagi!?" keluh Arlan tidak percaya. Sekarang nyawanya adalah incaran makhluk gaib lainnya. Selain harus melindungi dua orang remaja di depannya, Arlan juga harus memastikan dirinya tidak menjadi makanan penutup lawannya.
"Lo jangan lengah," Manda memperingatkan. "Bisa saja ada yang menyelinap dari belakang. Mereka makhluk sesat yang suka berdusta."
Arlan mengangguk, mengerti dengan apa yang Manda katakan. Tidak hanya makhluk ini. Kakeknya sendiri bisa saja muncul dan juga menyerangnya dalam keadaan lengah. "Ayo selesaikan ini dengan cepat!"
Nanda melompat tanpa aba-aba. Mengarahkan sebuah tendangan ke arah kaki makhluk itu. Di saat bersamaan, Manda juga melesat. Berlari secepat kilat ke arah samping. Kemudian melompat ke belakang makhluk itu saat dia lengah dengan serangan Nanda. Makhluk itu mampu menangkis Nanda, hingga Nanda terlempar sejauh sepuluh meter. Tubuhnya terhempas ke tanah keras.
BUAK!!!
Manda mengenai bagian belakang kepala jin berkepala singa. Jin itu terhuyung ke depan, hingga dagunya membentur pertiwi. Namun, kakinya masih berpijak dengan mantap dan dia bangkit tanpa memerlukan banyak waktu. Nanda buru-buru melompat kembali. Tinjunya mengeluarkan sebuah lingkaran berwarna merah, lama-lama berubah menjadi tinju api. Sewaktu makhluk itu menoleh, tinju Nanda sudah berada beberapa senti dari mata kirinya.
DHARRR!!!
Tanah di kaki Arlan bergetar. Pertarungan di depannya berlangsung sangat cepat. Dia sadar kalau dia tertegun untuk beberapa detik. Kemudian dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Manda masih baik-baik saja. Nanda juga mendarat dengan sempurna dengan kedua kakinya. Arlan berlari mendekati Manda. Perempuan itu lebih memerlukan bantuannya daripada Nanda.
"Aman?" tanya Arlan ketika sampai. Dia berdiri di sebelah Manda yang bertumpu dengan satu lutut. Tangan Manda mengepal, menandakan dia siap untuk serangan berikutnya.
"Aman!" Manda menjawab mantap.
Arlan menunduk untuk memeriksa kondisi Manda. "Ta-tangan lo!" Arlan terkesiap melihat tangan kanan Manda yang ternyata memiliki beberapa luka robek.
"Surai singa itu tajam. Tidak seperti yang terlihat," jawab Manda. "Gue masih punya sisa tenaga. Kita harus bereskan yang ini."
Arlan tidak bisa bernafas. Rasa kecewa menjalar di dalam dirinya. 'Kenapa bukan gue yang bisa bertarung?' batinnya. Arlan berjongkok di sebelah Manda, menyentuh tangan Manda tanpa sadar.
SRIIIIIINNNNGGGG!
Cahaya putih menyilaukan muncul dari telapak tangan Arlan. Mereka berdua terdiam, kaget dengan apa yang terjadi. Hanya dalam beberapa detik, luka-luka di tangan Manda menghilang.
"Buseeettt!" Arlan tidak bisa mempercayai matanya. "Apaan tadi itu!?"
Manda ternganga. Dia merentangkan tangannya ke depan. "Te-tenaga gue juga rasanya nambah!" sahut Manda.
"MANDA!"
Seruan Nanda membuat Manda sadar bahwa mereka masih ada di dalam pertempuran. Arlan yang duluan melihat ada sebuah serangan mendekat, langsung membentuk perisai di atas kepala Manda. "Nggak apa-apa?" tanya Arlan.
"Makasih, Lan!" Manda bangkit. Dia kembali memusatkan kekuatan pada kedua tangannya. "Waktunya menghajar makhluk itu!"
__ADS_1
***