
Arlan memandang Dimas yang bersikap seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka. Namun, Arlan tidak bisa bersikap seperti itu. Setelah Nanda menceritakan bahwa Dimas adalah anak kandung Larasati dan digunakan oleh Larasati sendiri untuk membuat Arlan lengah, dia merasa semua kehidupannya hanyalah kebohongan belaka. Sikap orangtuanya yang begitu mencintainya pun, membuat Arlan ngeri.
Dia memejamkan mata. Memikirkan ingatan yang selama ini hilang dari hidupnya. 'Indah... Bagaimana bisa gue lupa kalau gue punya adik?' batinnya dengan rasa kesal hingga ke ubun-ubun. Tidak hanya kesal, perasaan bersalah juga menyelimuti diri Arlan. Dia melupakan Indah, melupakan kejadian memilukan di malam itu, dan hidup dengan baik selama ini.
"Gimana, Lan? Lo ikutan kemah juga?" tanya Dimas.
Arlan mendongak. Membalas pandangan Dimas dan dua orang lainnya yang berdiri di dekat meja Arlan. "Kemah?" gumam Arlan. Pikirannya sedang tidak di sana sedetik lalu.
"Lo nggak dengerin omongan gue?" Dimas bertanya lagi.
"Maaf. Gue lagi mikirin hal lain," jawab Arlan, terdengar tidak bersemangat.
"Hhh... Dimas menghela nafas panjang. "Lo jadi aneh semenjak kita ke mall minggu lalu," ujar Dimas. "Ini pasti efek negatif dari Manda. Gue sendiri kaget waktu bangun dari pingsan dan tiba-tiba ada di rumah sakit!"
"Emang ada kejadian apa?" tanya Edo.
"Lo pingsan gimana?" timpal Riko.
"Beuuhh, kalian nggak tahu aja, gimana seremnya waktu ketemu sama saudaranya Manda," sahut Dimas, tampak antusias ingin menceritakan kejadian di mall.
"Manda punya saudara?"
Dimas mengangguk. "Saudara kembar yang lebih seram daripada Manda! Gue salaman tangan doang, bisa langsung pingsan!"
"Seriusan lo!?"
"Ngibul!"
"Tanya aja sama Arlan. Dia ada di sana waktu itu," Dimas ngotot, tidak mau dicap sebagai tukang bohong. Perhatian Edo dan Riko berpindah pada Arlan, meminta Arlan memberi pernyataan memang benar adanya apa yang Dimas katakan.
"Nggak baik ngomong gitu, Dim. Gimanapun, Manda itu gebetan gue," Arlan menjawab.
__ADS_1
"Serius lo!?" Edo dan Riko cengak.
Arlan membuang wajah. Dia tidak ada semangat ataupun niat untuk membahas hal ini sekarang. Arlan ingat, ulangtahunnya yang ketujuh belas hanya tinggal tiga bulan. Tidak lama lagi, dia akan menemui ajalnya. Entah bagaimana cara dia melawan Larasati.
'Atau... gue bakalan mati di tangan Kakek?' batinnya.
Suara riuh dari pintu masuk kelas, merebut perhatian Arlan untuk beberapa saat. Betapa kagetnya dia, ketika melihat Manda berdiri di sana. Meski agak canggung, dia melambai kecil pada Arlan.
Seperti disambar geledek, suasana hati Arlan mendadak berubah. Tanpa repot-repot pamit pada yang lain, Arlan segera menghampiri Manda. "Nggak biasanya lo nyamperin gue pagi-pagi begini," sapa Arlan.
Manda melirik ke belakang Arlan. Beberapa anak mulai kepo dengan pembicaraan mereka. "Cari tempat aman, yuk!" bisik Manda.
Arlan menjawab dengan anggukan, kemudian berjalan berdampingan mencari tempat di mana mereka bisa bicara lebih leluasa. "Lo bisa tidur semalam?" Manda membuka percakapan.
"Nggak. Setelah lo pergi, gue nggak bisa tidur. Baru tutup mata sebentar, mimpi buruk itu langsung muncul."
"Jadi, lo milih nggak tidur?"
"Ketimbang gue tidur, tapi gue capek sendiri?" Arlan mencoba mencari pembenaran. Mereka berjalan lebih cepat menuju kolam ikan yang menghiasi ruangan guru bagian belakang. Tidak banyak murid di sana. Dua orang siswi tengah sibuk membaca buku, sementara tiga orang siswi yang duduk tidak jauh dari dua orang tadi, berbincang sambil sesekali tertawa. "Jadi, apa yang buat lo nyamperin gue jam segini?" tanya Arlan.
"Nggak usah merasa nggak enak," Arlan menimpali. "Gue sudah sejauh ini. Gue tahu banyak fakta belakangan ini. Kalau ada hal yang baru, gue memang harus tahu. Setidaknya, gue nggak akan terlalu kaget."
Manda meneliti air muka Arlan untuk sesaat. "Yakin?" dia sangsi.
Arlan mengangguk saja. Sebenarnya, dia sendiri tidak yakin. Kenyataan yang dia dapat dalam beberapa bulan, menghantamnya begitu saja. Membuat kepalanya terasa akan pecah. Arlan sendiri bingung, kenapa dia masih bisa berjalan seperti biasa di saat dia tahu bahwa ayahnya telah membunuh Indah.
"Lo tahu, kan, kalau gue bisa dengar suara-suara di rumah lo?"
"Ya, tahu."
"Ternyata itu suara ribut gadis-gadis yang dijadikan tumbal sama--" Manda berhenti sejenak. Dia benar-benar memperhatikan perubahan ekspresi wajah Arlan.
__ADS_1
"Orangtua gue," Arlan menyelesaikan kalimat Manda.
Manda mengangguk kecil. "Jiwa mereka terperangkap di sana. Mereka ditumbalkan untuk iblis yang menjaga rumah itu."
"Berapa banyak?"
Manda menggeleng. "Gue nggak tahu. Yang pasti, sangat banyak."
"Apa nggak ada jejak keberadaan tubuh mereka?"
Manda terkejut mendengar pertanyaan Arlan yang tiba-tiba. "Maksudnya?"
"Kalau jiwa mereka diambil, tentunya tubuh mereka akan ada di suatu tempat. Mati."
"Lo mau apa kalau tahu hal itu?" tanya Manda.
"Lapor polisi. Setidaknya, itu akan ganggu apapun yang orangtua gue lakukan."
"Lan," Manda memegang pergelangan tangan Arlan. "Mereka begitu buat jagain lo. Semuanya bisa kacau kalau lo bertindak sendiri. Gue tahu, betapa orangtua lo perhatian sama lo. Meski cara mereka salah, mereka sayang sama lo."
"Heh! Sampai bunuh adik gue sendiri?" geram Arlan.
Manda dapat melihat air mata mulai menggenang di pelupuk mata Arlan. Manda mengerti, apapun yang dia katakan saat ini, hanya akan ditanggapi dengan emosi oleh Arlan. Tiba-tiba saja, Manda merasa kasihan pada remaja laki-laki di hadapannya. Selama ini, dia tidak bicara terlalu banyak tentang perasaannya. Namun, saat ini, Manda dapat melihat bagaimana Arlan terluka.
"Gue nggak percaya orangtua gue bisa seperti itu."
"Tapi, Lan. Untuk saat ini, rumah lo adalah tempat teraman yang lo punya. Lo harus menghindar dari kakek lo sampai lo siap. Sementara itu, kakek lo juga nggak tinggal diam. Dia pasti sedang melakukan sesuatu untuk menambah tenaganya, hingga pelindung di rumah lo hancur."
"Gue nggak mungkin pura-pura nggak tahu, Man!" ujar Arlan. "Cepat atau lambat, gue akan bilang ke orangtua gue bahwa gue tahu mereka main tumbal. Gue juga bakal cerita bahwa gue ingat kejadian waktu ayah gue bunuh Indah!"
Manda mencengkram lengan Arlan kuat-kuat, memberi peringatan bahwa suaranya terlalu keras. Dia sudah mulai menarik perhatian dua siswi yang membaca buku tadi. "Tenanglah," pinta Manda. Hal paling benar yang Manda lakukan kemudian, adalah menarik Arlan ke dalam pelukannya. Manda mendekap Arlan kuat-kuat sambil menepuk punggungnya.
__ADS_1
Arlan mengerjap. Di tengah emosinya yang meluap-luap beberapa saat yang lalu, tiba-tiba saja dia sudah berada di dalam pelukan Manda. Arlan dapat merasakan bagaimana hangatnya tangan Manda di punggungnya. Tepukannya yang berirama, memaksa Arlan kembali tenang. Hanya dalam beberapa detik, Arlan sudah melupakan hal yang membuatnya marah tadi.
***