TUMBAL

TUMBAL
Menghilang


__ADS_3

"Masih lama?" Manda menengok ke belakang, melihat Arlan yang tengah berusaha berkonsentrasi penuh menyembuhkan luka di punggung Manda.


Jujur saja, tidak mudah bagi Arlan untuk melakukan penyembuhan, sementara di depannya adalah punggung Manda yang tidak tertutup oleh apapun. Kulit Manda yang bersih, khas kulit perempuan, membuat wajah Arlan memerah. Jantungnya bahkan berdegup sangat kencang.


"Luka yang kakek gue buat, rupanya lumayan dalam. Gue perlu waktu buat menyembuhkannya," jawab Arlan. Dia bahkan tidak bisa mengontrol nada suaranya.


Manda kembali memandang ke depan. Hari sudah mulai gelap. Matahari sudah tenggelam sejak tiga puluh menit lalu. "Orangtua lo gimana?"


"Gimana apanya?"


"Lo belum kasih tahu kalau lo ngelawan kakek lo?" tanya Manda. Arlan tidak langsung menjawab, membuat Manda melanjutkan. "Minimal, lo kasih tahulah kalau rumah lo hancur."


"Satpam-satpam di rumah pastinya sudah melapor. Gue nggak perlu repot-repot masalah itu. Mungkin saja, orangtua gue sekarang lagi nyari gue."


"Hah? Lo sengaja nggak ngasih tahu orangtua lo tentang ini?" Manda cengak mendengar suara Arlan yang tenang di belakangnya.


"Orangtua gue akan segera tahu semuanya. Tanpa gue cerita apapun, mereka pada akhirnya akan tahu apa yang mereka ingin tahu."


Manda mendengus kasar. "Sikap tidak peduli di keluarga lo memang sudah mendarah daging, ya?" sindirnya.


"Mungkin..." Arlan menelan ludah dengan susah payah sebelum meneruskan kalimatnya. "Sikap itu bisa berubah kalau ada seseorang seperti lo di hidup gue."


"Ciailaaaahh! Lo lagi ngobatin adik gue, atau ngerayu?"


"Nanda! Kapan lo masuk!?" cicit Arlan, kaget. Saking fokusnya pada Manda yang duduk di depannya, Arlan sampai tidak sadar kalau Nanda sudah kembali dari ruang CT Scan. Arlan buru-buru menutupi Manda, walaupun yang masuk bersama Nanda adalah seorang perawat perempuan.


"CT Scan nggak lama, bro!" Nanda dibantu perawatnya untuk pindah ke tempat tidur ruang rawat inapnya. Lalu, Nanda tidak membuka mulutnya sampai perawat pergi dari ruangan, begitupun dengan Manda dan Arlan.


Ruangan menjadi sangat hening untuk beberapa saat. Angin malam yang berhembus menimbulkan gemerisik daun yang bergesek. "Mau lanjut?" Manda akhirnya membuka mulut.


"Oh, oke," Arlan duduk kembali. Manda berbalik membelakangi Arlan, kemudian melorotkan piyamanya lagi hingga hanya menutupi badan depannya. Arlan mengerjap beberapa kali, mencoba menghilangkan kegugupan yang membuat tangannya gemetar.


"Fokus, Lan," goda Nanda sambil cekikikan.


"Lo jangan ikut-ikutan!" Manda memperingatkan. "Habis ini giliran lo!"


Nanda hanya mengangkat bahunya, kemudian menyalakan televisi agar ruangan tidak begitu sepi . Mungkin saja itu juga bisa mengurangi kecanggungan antara Arlan dan adiknya. Tidak ada acara televisi yang Nanda ingin tonton. Dia terus menekan tombol next setelah tiga sampai lima detik.


Tidak ada yang peduli dengan itu.


Arlan fokus menatap punggung Manda.


Manda fokus menahan diri karena malu memperlihatkan punggungnya.


Nanda fokus berpura-pura tidak geli melihat kelakuan remaja di depannya.


Waktu berjalan cepat saat itu. Kemampuan Arlan meningkat pesat setelah ledakan amarah yang dia alami semalam. Luka bagian dalam Manda benar-benar sembuh. Hanya sedikit goresan yang tersisa. Manda menolak saat Arlan ingin menyelesaikan semuanya saat itu. Manda tidak mau tenaga Arlan terforsir untuk dirinya. Jadi, Arlan berganti pada Nanda. Arlan mencoba menyatukan semua tulang rusuk Nanda yang dibuatnya patah.


"Cepet banget?" Manda kaget saat mendengar Arlan mengatakan bahwa dia telah selesai menyembuhkan Nanda.

__ADS_1


"Lukanya hanya tulang rusuk yang patah," jawab Arlan.


Manda menoleh pada Nanda. "Serius?"


Nanda mengangguk. "Gue terbaring memang cuma karena nggak boleh banyak bergerak karena tulang rusuk yang patah."


"Hah? Terus, lo pingsan kemarin itu?"


"Lo nggak dengar penjelasan dari Ibu?" Nanda balik bertanya. "Makanya, kalau Ibu ngomong, lo harus dengarkan baik-baik. Waktu itu lo mikirin apa, sih?"


Manda memalingkan wajahnya. Sebenarnya, dia memang tidak mendengarkan penjelasan ibunya sewaktu mereka tiba di rumah sakit. Manda sibuk memandangi wajah pucat Arlan, atau memastikan dada Arlan bergerak naik-turun. Arlan yang tidak sadar semalaman hampir membuatnya pingsan karena ketakutan.


"Sekarang, gue bisa pakai kekuatan gue buat menyembuhkan bekas luka di punggung lo," sambung Arlan.


Manda menggeleng sambil berdeham. "Cuma sisa luka kecil. Lo baru baikan. Mending lo istirahat. Ulang tahun lo--"


Hening kembali. Kalimat Manda melayang di udara, membuat gema di masing-masing telinga mereka.


"Sisa dua hari lagi," Arlan menyelesaikan.


"Setidaknya, kita sudah bersiap," lanjut Nanda.


"Benar. Kita sudah berlatih untuk hari itu," sambung Manda.


Mereka saling melempar pandangan untuk menyemangati diri mereka. Gina telah menyiapkan mereka untuk bertarung. Gina juga menjelaskan bagian yang harus mereka kuasai. Berhasil atau tidaknya mereka dua hari lagi, semua tergantung pada keteguhan hati mereka, terutama Arlan. Dia harus mampu mengendalikan amarahnya.


"Kalian lapar?" Manda bangkit dari duduknya.


"Lo nggak bosen sama makanan rumah sakit?" Manda meraih tas selempangnya, kemudian menyampirkan tas itu di bahunya. "Mau sesuatu dari kantin rumah sakit? Mereka pasti punya banyak pilihan makanan yang lebih berasa."


"Gue ikut!" Arlan ikut berdiri, namun Manda mendorongnya hingga kembali duduk.


"Mau ke mana lo sambil bawa-bawa infus begitu?" tolak Manda. "Lo istirahat yang banyak! Nggak ada waktu lagi untuk memulihkan tenaga lo. Waktu kita terbatas."


"Lan, jangan buat ini jadi pertengkaran suami-istri yang nggak pengen gue dengar," pinta Nanda.


"Nanda, tutup mulut lo!" Manda menarik garis di lehernya menggunakan ibu jari. Nanda langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Kalian nggak boleh nitip! Gue akan belanja buat diri sendiri dan kalian cuma bisa cium aromanya!" ejek Manda, kemudian dia berlalu ke luar kamar.


"Hahahaha! Hebat banget, kan, temperamen adik gue," Nanda tertawa.


"Dia lucu."


Nanda melotot tidak percaya dengan jawaban Arlan. Bahkan, bulu kuduknya meremang saat melihat Arlan memandangi pintu di mana Manda menghilang beberapa detik lalu. "Seriusan, tipe lo lumayan unik."


"Manda adalah perempuan paling cantik yang pernah gue lihat," aku Arlan.


"Hmm, sekarang lo bisa terang-terangan muji Manda di depan gue, ya? Lo beneran bakalan nikah sama Manda?"


Arlan menunduk dengan senyuman lebar terulas di wajahnya. "Kita masih kecil. Bicara soal menikah lain kali saja."

__ADS_1


Nanda ikut tersenyum. Bukan karena senang mendengar Arlan akan menikahi kembarannya, namun senang mendengar Arlan bicara mengenai masa depan. Setidaknya, Arlan memiliki semangat untuk hidup meski harus bertarung melawan Larasati terlebih dulu.


"Waktu Manda balik nanti, kita rebut makanan yang dia beli!" ajak Nanda sambil tersenyum licik.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi," seorang perawat masuk. Di tangannya ada baki dengan tiga suntikan. "Waktunya Pasien Nanda mendapat suntikan pereda nyeri," ujar si perawat.


"Makasi, Sus!" jawab Nanda.


Perawat itu memulai pekerjaannya dengan cepat. "Saya kira, Mbak Mandanya akan balik ke sini bersama temannya. Ternyata nggak ada, ya?"


Arlan dan Nanda saling bertukar pandang. "Maksudnya, Sus?"


"Oh, tadi saya lihat sekilas Mbak Manda lewat di depan konter perawat. Jalan sama laki-laki. Saya pikir, itu teman kalian."


"Manda jalan sama laki-laki? Siapa?" Arlan bangun dari duduknya.


"Yaaa, mana saya tahu, Mas," jawab perawat itu sambil tersenyum kecut. "Tapi memang agak aneh, sih. Mbak Manda kayaknya tegang sekali waktu jalan sama laki-laki itu. Apa itu gebetannya Mbak Manda?"


"Nggak mungkin!" Nanda menjawab dengan cepat. "Lan! Ada yang salah!"


Arlan berjalan cepat menuju perawat yang masih menyelesaikan tugasnya. "Sus! Tolong buka ini!" pinta Arlan sambil menyodorkan tangannya yang terlilit selang infus.


"Buka apa, Mas?"


"Buruan, Sus! Saya nggak punya banyak waktu!"


"AAAW!!!" Nanda yang tiba-tiba memekik membuat perawat dan Arlan menoleh bersamaan. Darah bercucuran dari luka bekas tusukan infus. "Gila! Gue kira nggak akan sakit kayak di film-film!" katanya seraya menekan tangannya dengan tangan yang lain.


"ASTAGA, MAAAASSS!!!" perawat itu jadi gelagapan dan buru-buru menekan darah yang keluar dengan kasa. "Apa, sih, yang kalian pikirkan! Main cabut infus sendiri begitu! Kalian ini--"


"WADAAWW!!!" Arlan ikut-ikutan mencabut sendiri infusnya. "Gila! Beneran sakit!"


"BUSEEEEET!!! NIH ANAK NGGAK BISA DIBILANGIN, YA!" perawat itu ngomel, namun dia bergerak cepat menutup luka di tangan Arlan.


"Gas, Lan!" Nanda lompat dari atas tempat tidur. Arlan berlari duluan melewati pintu ruangan mereka, diikuti Nanda. Mereka tidak memedulikan teriakan protes dari perawat di belakang mereka.


Arlan dan Nanda tahu bahwa ada yang salah. Manda yang mereka kenal, tidak akan pergi dengan sembarang orang. Terlebih lagi, Manda tidak dekat dengan siapapun sampai mau mengikutinya pergi.


Mereka langsung menuju kantin rumah sakit, tempat yang awalnya Manda tuju. Selama perjalanan ke sana, mata mereka menyapu semua sudut yang mereka lewati. Siapa tahu, mereka melihat Manda dalam perjalanan.


Namun, nihil. Manda tidak ada di tempat yang mereka tuju. Arlan bertanya pada beberapa orang dengan menyebutkan ciri-ciri Manda, tetapi tidak ada yang memberi kesaksian bahwa Manda pernah berada di sana.


"Kita... Kita berpencar!" usul Arlan. Kepanikan mulai menguasai dirinya.


Nanda mengangguk setuju. "Mungkin Manda belum terlalu jauh dari sini. Gue ke arah sana. Satu jam lagi, kita ketemu di sini."


Arlan tidak menjawab, melainkan langsung berlari ke arah sebaliknya dari yang Nanda tunjuk. Dia mencoba untuk tenang, meski kepalanya dipenuhi dengan rasa takut karena Manda menghilang. Air mata mulai mengalir di pipinya, meski Arlan menghapusnya berkali-kali.

__ADS_1


***


__ADS_2