
Bu Dewi memilih untuk menghabiskan malam di kamar Bima. Sudah berjam-jam ia duduk di lantai, menyandarkan punggung pada tepi ranjang sambil mendekap sebuah bingkai kecil.
Di sana ada foto keluarga mereka sebelum Pak Yanto memilih menggunakan pesugihan. Meskipun di foto itu pakaian mereka masih lusuh dan compang-camping, tapi senyum mereka tulus dan saling menyayangi satu sama lain.
"Mama kangen kamu, Nak."
Bu Dewi mengelus wajah Bima di dalam foto yang saat itu baru berusia tiga belas tahun. Sebagai seorang ibu, hatinya kini dipenuhi luka penyesalan.
"Maafin Mama ya, Sayang. Andai dulu Mama sanggup bersabar dalam kemiskinan, dan tidak menyetujui usul Papamu untuk menggunakan pesugihan, pasti semua hal buruk ini tak akan pernah terjadi."
Sebenarnya, bukan tak pernah mereka mencoba keluar dari pusaran dosa syirik ini. Bu Dewi dan kelima anaknya pernah nekat kabur dari rumah setelah mereka memberi Pak Yanto obat tidur. Mereka bahkan pernah beberapa kali minggat ke luar pulau hingga ke luar negeri, tapi hasilnya selalu sama.
Tak perduli kemana dan sejauh apapun mereka pergi, setiap mereka tidur dan terbangun keesokan paginya, mereka tiba-tiba saja berada lagi di rumah itu. Ajaibnya bahkan mereka sudah ada di dalam kamarnya masing-masing.
Pak Yanto dan keluarganya sudah terlanjur masuk ke dalam lingkaran setan ini, dan tak bisa keluar lagi.
"Mama masih tak percaya kamu sudah pergi meninggalkan kami, Sayang. Mama juga tak menyangka Papa yang dulu selalu sayang pada anak-anaknya, sekarang tega menumbalkan kamu hanya demi harta."
Bu Dewi terisak. Masih segar dalam ingatan saat mereka tetap bisa tertawa bahagia, meski makan nasi hanya berlauk garam dengan sedikit ditambah tetesan minyak jelantah.
Namun kini, semua ingatan manis itu hanya tinggal kenangan, yang mungkin saja sudah lama hilang atau bahkan sengaja dibuang dari hati Pak Yanto. Hingga seperti tak punya nurani, ia sampai hati mengorbankan Bima yang dulu merupakan anak kesayangan dan kebanggaannya.
"Mama dan adik-adik akan selalu sayang sama Bima," ucapnya penuh haru dan mengecup foto Bima yang dilapisi kaca.
Bu Dewi lalu memakaikan selimut pada Sari yang sudah lebih dulu terlelap di atas ranjang Bima. Entah sebesar apa trauma yang kini di alami putri kecilnya ini.
Bayangkan saja, anak sekecil ini menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Kakak yang disayanginya telah dikorbankan sang ayah demi menjadi tumbal pesugihan. Ia tak bisa bayangkan Sari tumbuh dewasa dengan menyimpan kenangan buruk ini seumur hidupnya.
Bu Dewi berbaring di ranjang sambil memeluk anak bungsunya yang cantik. Didekapnya foto berbingkai coklat itu dengan erat. Satu harapan Bu Dewi, semoga semua ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Dan saat esok pagi membuka mata, Bima sudah kembali lagi ke pangkuannya.
***
Pak Yanto mengamati sebuah istana yang berkilauan dengan rasa takjub. Istana yang terbuat dari emas murni itu adalah miliknya. Buah dari pesugihannya selama ini.
Ia duduk di atas sebuah singgasana besar yang bertabur berlian. Ada ratusan macam makanan lezat yang tersaji di sisi kanan dan kirinya. Gundukan-gundukan emas yang menjulang tinggi seolah menegaskan bahwa dirinya lah penguasa dunia ini.
Pak Yanto sedang mencicipi anggur yang lezat nan manis saat istana megah itu mulai berguncang. Kubah besar yang menjadi atap bangunan itu tiba-tiba retak. Guncangan seperti gempa semakin terasa kuat dan membuat tiang-tiang penyangga roboh.
Dirinya yang serakah, seakan tak rela meninggalkan singgasana berkilauan itu. Namun reruntuhan bangunan istana yang hampir menimpanya, membuat Pak Yanto tak punya pilihan selain berlari menyelamatkan diri.
Ia sampai di luar bangunan tepat saat istana itu telah ambruk ke tanah. Bangunan yang awalnya megah itu kini hancur dan menjadi puing-puing yang tak berharga.
Tiba-tiba dari tengah reruntuhan, terlihat jilatan api yang dengan cepat membumbung tinggi ke angkasa. Dari balik kobaran si jago merah, muncul puluhan orang dengan wajah yang mengenaskan. Ada yang matanya bolong, hidungnya bengkok, mulut yang lebar sampai ke telinga, dan wajah yang meleleh hingga menyentuh tanah.
Pak Yanto berlari kencang karena orang-orang aneh itu mengejar dirinya. Beberapa orang dengan wajah menakutkan itu mulai mengambil sisa-sisa puing istana. Diiringi teriakan marah, mereka melemparnya ke Pak Yanto, membuat pria itu terhuyung-huyung dan jatuh terjerembab ke tanah.
__ADS_1
"Kau pantas mendapatkan yang lebih dari ini, Yanto," pekik salah seorang di antara mereka.
Seorang anak kecil dengan tubuh gosong dan melepuh menjulurkan tangannya, bersiap mencekik Pak Yanto. "Jangan ganggu Bapak dan Ibuku," desisnya marah sembari melotot hingga bola mata itu hendak menyembul keluar dari tempatnya.
Pak Yanto masih merasa kebingungan dan belum mengenali siapa orang-orang dengan wajah mengerikan ini, hingga datang seorang pemuda dengan tubuh penuh luka.
"Bima?"
Mata Pak Yanto terbelalak kaget, ia pun lalu tersadar. Jadi ternyata mereka adalah para manusia yang dulu pernah ia jadikan tumbal pesugihan.
Pak Yanto hampir saja tak mengenali anaknya sendiri karena kulit wajah Bima yang telah terkelupas dan penuh cakaran. Bima membawa obor besar dengan api merah yang menyala-nyala.
"Papa pantas mati! Papa harus mati!" ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat Pak Yanto yang ketakutan.
"MEMBUSUKLAH KAU DI NERAKA," teriak orang-orang itu bersamaan.
"Jangaaaan. Toloooong."
Pak Yanto menyilangkan kedua tangannya di depan wajah saat orang-orang itu kembali melemparkan batu ke arahnya. Namun aneh, batu itu tidak seperti batu pada umumnya. Batu besar itu terasa amat panas seperti api saat menyentuh kulit Pak Yanto.
"Tidaaaaak ... tidaaaaak."
Pak Yanto terbangun dari tidurnya dengan napas yang terengah-engah. Ia minum segelas air di atas nakas dengan terburu-buru dan gemetaran. Membuat sebagian air tumpah berceceran, membasahi bajunya yang telah lebih dulu dibanjiri keringat.
"Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu. Kalau mereka sampai terus datang menerorku seperti ini, lama-lama aku bisa jadi gila."
***
Pagi-pagi buta Pak Yanto sudah pergi dari rumah mengendarai Pajero Sport kesayangannya yang berwarna hitam metallic. Ia memacu kendaraan mahal itu dengan kecepatan tinggi. Hatinya masih gusar karena mimpinya semalam. Semoga orang yang ingin ditemuinya, bisa memecahkan permasalahan ini.
Pak Yanto menempuh jalanan yang tak mudah. Ia melewati persawahan, tanjakan curam, jalanan berbatu dan becek. Setelah tiga jam berhasil menaklukan medan yang tak mudah, Pak Yanto berhenti di tepi hutan. Keadaan di sana sangat sepi, hanya ada satu rumah di antara ratusan pohon besar.
Pak Yanto memarkirkan mobilnya dan menuju rumah kayu itu. Tak ada banyak perubahan sejak terakhir kali pria berperut buncit itu datang kemari. Rumah itu masih terlihat sedikit reyot, lusuh dan jauh dari pemukiman penduduk.
Kreeeekkk.
Pak Yanto membuka pintu kayu rapuh yang tak terkunci, sehingga menimbulkan suara berderit. Bau kemenyan yang menyengat langsung tercium saat ia memasuki rumah itu.
"Apa kabarmu, Yanto?" sapa seorang pria tua yang duduk di atas ranjang rotan. Wajahnya sudah keriput dan memiliki jenggot panjang berwarna putih menjuntai hingga dada.
"Salam, Ki Joko."
Pak Yanto mengatupkan kedua telapak tangan, memberi salam hormat pada pria itu.
Ki Joko mengamati wajah Pak Yanto yang murung. "Ada masalah apa lagi? Bukannya setelah kau menumbalkan anak sendiri, disaat yang sama kau langsung mendapat kekayaan sepuluh kali lipat dari biasanya?"
__ADS_1
Pak Yanto menatap Ki Joko dengan takjub. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tak berkomunikasi dengan pria tua itu, tapi ternyata Ki Joko masih bisa mengetahui kabar dirinya.
"Semalam untuk pertama kalinya orang-orang yang pernah saya tumbalkan mulai datang ke mimpi saya, Ki. Wajah mereka sangat menyeramkan. Mereka semua bahkan ingin membunuh saya," jelasnya dengan nada gelisah.
"Sebenarnya saat ada manusia yang kamu jadikan tumbal, mungkin jasadnya akan mati dan dikubur. Tapi tidak dengan jiwa mereka yang terpenjara. Makhluk yang memberikan kekayaan kepadamu, akan langsung mengambil jiwa dari orang-orang itu untuk dijadikan budak di alamnya. Mereka mendatangimu dengan wajah hancur karena para tumbal itu terus disiksa tanpa henti bagai di neraka."
Pak Yanto tercengang. Sudah lama ia menjalani pesugihan, tapi baru sekarang dirinya mengetahui kenyataan ini.
"Jadi saya harus bagaimana? Tolong bantu saya, Ki. Saya tidak sanggup jika terus-menerus diteror seperti ini."
Ki Joko diam sejenak sambil mengelus jenggotnya yang lebat.
"Ada satu cara untuk menghentikan ini. Kamu harus segera menumbalkan janin jika ingin cepat terbebas dari gangguan mereka."
Pak Yanto mengangguk-angguk tanda mengerti. "Baiklah, sekarang saya sudah paham. Terima kasih atas bantuannya, Ki," ujar Pak Yanto sambil menyalami tangan pria yang mengenakan ikat kepala hitam itu. "Ini saya bawa sedikit oleh-oleh untuk Ki Joko."
Pak Yanto mengeluarkan satu kotak kayu kecil dari saku jaket. Diberikannya benda itu pada Ki Joko yang langsung membukanya.
"Mutiara hitam." Ki Joko mengeluarkan benda bulat itu dari dalam kotak dan mulai memandanginya dengan mata bersinar. "Kau masih ingat barang kesukaanku."
Pak Yanto lantas tersenyum senang karena Ki Joko bersedia menerima barang pemberiannya.
"Kalau begitu saya mohon permisi pulang, Ki."
Pria setengah baya itu kembali mengatupkan kedua tangannya dan sedikit menunduk pada Ki Joko. Dalam lima menit, Pak Yanto sudah kembali berada di dalam mobilnya.
Ia mencengkram setir sambil menoleh ke arah rumah Ki Joko. Teringat kembali nasihat yang diberikan oleh sang dukun yang telah banyak membantunya.
"Dimana aku bisa menemukan janin itu?" Pak Yanto mengetuk-ngetuk setir sambil sibuk berpikir.
"Ah, atau aku suruh saja si Dewi berhenti pakai alat kontrasepsi. Dan saat dia nanti sudah mulai hamil segera akan aku tumbalkan janinnya, agar bisa terbebas dari teror orang-orang itu."
Pak Yanto menyeringai lalu tertawa jahat. Ia senang karena akhirnya berhasil menemukan jalan keluar dari permasalahannya.
Bersambung
***
**Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya.
☺️☺️☺️💗
Facebook : Affrilia
Instagram : @afrilia_athaara**
__ADS_1