TUMBAL

TUMBAL
Part 9 : Kembali ke Masa Lalu


__ADS_3

Apa?" Agus terperanjat kaget. Ia bahkan sampai berdiri dari duduknya. Pandangannya seketika beralih ke pohon jambu di tepi sungai. "Jadi selama ini aku telah duduk di atas makam seseorang," ucapnya bergidik ngeri.


"Tenanglah. Kamu kan gak sengaja duduk di sana."


"Tapi, bagaimana kalau pemilik makam itu marah sama aku, Bang?" tanya Agus ketakutan.


Junaidi tersenyum melihat tingkah Agus yang menurutnya lucu. "Dia gak akan marah hanya karena kamu menduduki makamnya."


"Beneran, Bang?"


"Iya. Karena kalau dia marah, mungkin sudah lama kamu ditenggelamkannya di sungai."


"Bang, jangan nakutin gitu." Agus kembali duduk bersila di hadapan Junaidi dengan tubuh gemetaran.


"Mau aku kasih contoh lain dari kelebihanku?"


"Boleh," ucap Agus semangat. Jujur, baru kali ini Agus memiliki teman yang bisa melihat dunia lain, membuat dirinya kian penasaran.


Junaidi lalu menekan ibu jarinya di kening Agus. Dan di saat bersamaan, Agus seperti terseret dan dibawa melayang ke tempat yang penuh cahaya. Agus sampai harus menutup matanya karena cahaya itu amat menyilaukan.


Anehnya saat Agus membuka mata kembali, ia tak berada di rumah Junaidi. Bahkan pria itu tak lagi ada bersamanya. Agus menatap sekeliling ruangan yang terasa sangat familiar.

__ADS_1


Bagaimana mungkin dalam sekejap mata ia bisa berada di ruang tamu rumahnya?


Belum sempat Agus bergerak, terdengar suara nyaring seorang bocah yang tak henti bicara. Celotehan yang selama dua bulan terakhir begitu Agus rindukan.


"Andi?"


Mata Agus membulat kaget saat Andi muncul dihadapannya dengan membawa tiga buah piring plastik. Disusul Aminah yang membawa satu bakul nasi dan piring berisi tempe goreng.


Namun yang paling membuat Agus terkejut adalah kehadiran seorang pria yang berjalan di belakang Aminah. Pria itu terlihat membawa satu kendi air dan tiga buah gelas plastik.


Luar biasa! Wajah pria itu sangat mirip dengan Agus. Seperti pinang dibelah dua.


'Siapa dia? Kenapa dia sangat mirip denganku?' batin Agus tak mengerti.


Dan tak butuh waktu lama, Agus akhirnya mulai paham. Peristiwa yang sedang terjadi di depannya ini adalah bagian dari masa lalunya bersama Andi dan Aminah. Itu artinya ... pria itu adalah Agus sendiri!


Aminah sesekali sibuk membersihkan sisa nasi yang menempel di pipi Andi. Mereka makan dengan lahap walau hanya dengan nasi berlauk tempe goreng. Andi, Agus, serta Aminah terlihat sangat bahagia dan tanpa beban, meskipun hidup dalam kekurangan dan kesederhanaan.


Tidak seperti sekarang. Sekalipun kini Agus dan Aminah sudah memiliki perekonomian yang lebih baik, tapi mereka selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Ya, kepergian Andi menyisakan luka besar yang tak mudah untuk dilupakan.


Agus yang begitu merindukan Andi, mencoba mengelus kepala sang anak, tapi sayangnya ia tak bisa. Tangan Agus seperti bayangan yang menembus tubuh Andi tiap kali ia berusaha menyentuh bocah itu.

__ADS_1


Mungkinkah ini adalah roh Agus yang sedang ditarik kembali ke masa lalu?


Belum selesai melepas kerinduan dengan Andi, Agus sudah kembali diseret melintasi tempat yang penuh cahaya menyilaukan. Agus segera menutup mata karena tak tahan dengan jutaan sinar yang menusuk-nusuk netranya.


Namun saat matanya terbuka, hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah Junaidi yang tersenyum padanya. Agus memandangi sekeliling seperti orang kebingungan.


Ajaib! Entah bagaimana caranya, dalam waktu sekejap ia sudah kembali lagi ke rumah Junaidi.


"Kejadian yang tadi aku lihat adalah masa lalu, kan, Bang?" tanya Agus dengan jantung yang berdetak tak karuan.


Junaidi mengangguk. "Aku bisa menunjukkan padamu kejadian masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tapi tak seperti masa lalu dan masa kini, masa depan bisa berubah tergantung apa yang kau lakukan di masa sekarang."


Junaidi menatap Agus dengan wajah serius. Ia lalu kembali bersiap menekan kening Agus dengan jempol kanannya.


"Kejadian-kejadian dari masa lalu yang akan kutunjukkan ini mungkin akan membuka mata hati dan merubah pemikiranmu."


Bersambung


***


**Terima kasih buat temen-temen yang sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya juga ya.

__ADS_1


Facebook : Affrilia


Instagram : @afrilia_athaara**


__ADS_2