TUMBAL

TUMBAL
Firasat


__ADS_3

"Orangtua gue sudah ngaku. Semuanya."


Arlan duduk berdampingan dengan Manda di dekat kantin sekolah. Berbeda dengan hari biasanya, mereka tidak berniat untuk makan siang kali ini. Arlan hanya ingin menghabiskan waktunya dengan Manda, ketimbang harus bicara dengan Dimas. Sampai detik ini, Arlan ataupun Manda masih bungkam mengenai kejadian sebenarnya pada Dimas. Manda tidak mau memancing Larasati keluar saat ini. Arlan pun ingin tahu, sejauh mana Dimas akan menipunya.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Manda.


"Bohong kalau gue bilang nggak apa-apa," jawab Arlan. Dia memandang langit biru tanpa awan sedikitpun. Hari tampak cerah. Ini adalah suasana yang bagus untuk jalan-jalan, atau berkencan dengan seseorang. Hal-hal yang dilakukan remaja pada umumnya, malah tidak bisa Arlan nikmati. Dia hanya duduk di sini sambil memikirkan caranya untuk bertahan hidup.


"Jangan lupa kalau gue di sini, Lan," Manda mengingatkan.


Arlan tersenyum mendengar perkataan Manda. Jujur saja, Arlan sendiri merasa aneh. Orang yang dia rasa paling dikenalnya, ternyata membuatnya kaget setengah mati. Sementara, Manda yang baru dikenalnya, malah mau membantunya seolah mereka adalah saudara.


"Lo ada rencana untuk ke depannya?"


"Mmm," Arlan ragu sejenak. "Sebenarnya, gue pengen nyari jenazah orang-orang yang sudah dijadikan tumbal sama mereka."


"Serius lo?" bisik Manda. Dia mengawasi sekitar, merasa perlu untuk berhati-hati karena mereka membicarakan hal yang sensitif. "Gimana caranya?"


"Gue browsing seharian tentang kasus-kasus orang hilang belakangan ini," aku Arlan. "Mungkin, kalau gue beruntung, gue bisa menemukan beberapa orang."


"Lalu?"


"Itu cukup menjadi bukti untuk polisi melakukan penyelidikan, kan?"


Manda meraih tangan Arlan dan menggenggamnya dengan erat. "Ini bukan pekerjaan mudah, Lan," Manda masih berbisik. "Risikonya tinggi banget. Lagipula, orangtua lo bukan orang sembarangan. Itu pun, kalau mereka teledor dan meninggalkan bukti pada jenazah yang berhasil lo temukan."


Arlan mengangguk. Dia sendiri mengerti konsekuensi yang akan dia peroleh dari melakukan tindakan nekat ini. Arlan bukannya tidak tahu bagaimana hebatnya orangtuanya dalam menyelesaikan masalah. Tidak hanya ayahnya, ibunya pun memiliki kendali atas orang-orang dan bisa saja menggunakan mereka sesuka hati. Benar kata Manda. Bisa saja orangtuanya tidak melakukan semuanya sendirian, sehingga tangan mereka tetap bersih.


"Setidaknya, gue mau berusaha walau hanya sebatas itu," kata Arlan. "Gue merasa bersalah setelah tahu semuanya."


"Hhh... Rasa keadilan yang lo punya, kadang nggak pada tempatnya," keluh Manda. "Oke, gue juga bakal bantu kalau itu yang lo mau."


Arlan duduk tegak di tempatnya. "Apa?"

__ADS_1


"Apa?" Manda balik bertanya. "Lo sudah memutuskan begitu, gue juga akan coba bantu. Setidaknya teror itu akan berakhir untuk sebagian orang."


Arlan baru menyadari bahwa ada kilasan rasa takut di mata Manda. Arlan menunduk, mencoba menjajarkan matanya dengan Manda. Sekalipun tidak pernah Arlan pungkiri, bahwa mata Manda adalah mata paling indah yang pernah dia lihat. "Ada yang lo khawatirkan?" tanya Arlan.


Manda menggigit bibir bawahnya. Dia merasa gugup karena Arlan terlalu dekat kali ini. Namun, Manda tahu ada yang berubah. Entah itu karena dia banyak menghabiskan waktu dengan Arlan, atau karena perkataan ibunya tentang masa depan mereka. Jantung Manda makin berdegup kencang, ketika semilir angin siang berhembus, membawa wangi parfum Arlan hingga memenuhi rongga parunya.


"Lo bisa cerita ke gue," Arlan berkata pelan tanpa melepas pandangannya dari Manda. Ini adalah kesempatan langka untuknya memandang wajah Manda berlama-lama.


"Gue... Takut..." Manda menjawab. Rasa malu menjalar ke dalam dirinya. Tapi, dia tidak bisa berhenti mengakui apa yang mengganggu pikirannya. "Sebenarnya... berita tentang banyaknya gadis remaja yang menghilang, sudah sampai di telinga gue sejak beberapa tahun yang lalu."


"Beberapa tahun lalu?" ulang Arlan. Dia tidak percaya kalau berita itu terlewat begitu saja di hadapannya.


"Berita seperti ini, memang nggak menarik bagi kalangan remaja. Gue juga sebenarnya nggak akan tahu, kalau gue nggak dikasih tahu sama Ibu," sambung Manda. "Semenjak ada berita gadis remaja yang hilang, Ibu jadi lebih ketat sama gue. Gue nggak boleh pulang malam, harus pakai angkutan umum yang ramai, dan nggak boleh keluar sama siapapun."


"Jadi, lo punya informasi tentang hilangnya remaja-remaja itu?" Arlan menjadi antusias.


Manda berpikir sejenak. "Mmm... Gue nggak tahu, apa ini informasi yang lo mau. Tapi, gue bisa carikan beberapa artikel yang gue curigai dilakukan sama orangtua lo."


"Bantu gue, ya!" pinta Arlan yang dijawab dengan anggukan dari Manda.


***


"Papa sendiri bilang, kalau anak itu nggak bisa berbuat banyak!"


"Mana aku tahu kalau akhirnya seperti ini!?"


"Mama juga merasa, semenjak Arlan mengenal perempuan itu, dia jadi berubah. Arlan bukan lagi anak yang penurut."


"Kita harus menyingkirkan anak itu."


"Tapi... Arlan sudah tahu kalau kita menumbalkan manusia. Apa nantinya Arlan tidak akan curiga pada kita, kalau tiba-tiba anak itu menghilang? Mama tidak mau kehilangan Arlan."


"Kamu pikir, aku sampai bertindak sejauh ini, hanya untuk kehilangan darah dagingku? Bagaimanapun, dia adalah penerus keluarga kita! Kita harus melindunginya bagaimanapun caranya!"

__ADS_1


"Lalu, apa yang Papa akan lakukan?"


"Biar Pak Imam yang turun tangan untuk menghabisi gadis tidak tahu diri itu!"


***


Arlan kaget dan terbangun dari tidurnya. Dia memperhatikan sekeliling. Langit mulai berubah kemerahan, menandakan bahwa senja telah tiba. Arlan menarik perhatiannya dari langit ke wajah yang ada di atasnya. Manda lagi-lagi membiarkan Arlan terlelap di pangkuannya, selama jiwa Arlan dibawa oleh Gina.


'Dia ketiduran,' batin Arlan ketika melihat mata Manda tertutup dan tidak bereaksi terhadap gerakan Arlan. Arlan memilih kembali diam. Dia menikmati setiap lekukan wajah Manda, mengukirnya ke dalam ingatan sebanyak mungkin. Arlan memang mendengar mengenai masa depan yang Gina ucapkan. Namun, tidak ada jaminan bahwa masa depan tidak dapat berubah.


Ternyata, kesempatan emas memandangi wajah gebetan itu, tidak berlangsung lama. Manda terbangun beberapa saat kemudian. "Udah selesai?" tanya Manda, waktu mendapati Arlan sudah sadar kembali.


"Iya."


"Ya, sudah! Bangun, dong!" protes Manda. "Kaki gue sampai kesemutan, nih!"


Arlan nyengir. "Boleh sebentar lagi?" tanya Arlan dengan nada memohon.


Manda mendengus mendengarnya. Tapi tidak juga menolak permintaan Arlan. Pemandangan Arlan yang tidur di pangkuan Manda setelah jam sekolah usai, menjadi pemandangan rutin siswa-siswa di sana, sehingga sekarang hal itu bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Rumor bahwa mereka berpacaran juga telah di dengar oleh setiap murid. Awalnya, banyak yang memberikan Arlan petuah agar sadar dan tidak mendekati Manda. Namun, belakangan hal itu berkurang karena Arlan tetap menempel pada Manda dan tampak tidak mengindahkan larangan teman-temannya. Karena hal itu juga, Dimas memilih menjaga jarak dengan Arlan.


"Manda, pulangnya gue antar, ya?" tawar Arlan.


"Gue nunggu Nanda aja," Manda menolak. "Sebentar lagi dia sampai, kok."


"Besok pulangnya gue antar, ya?" Arlan tidak menyerah.


Manda menghela nafas panjang. "Kasihan Pak Imam kalau harus antar gue juga. Gue bisa pulang sendiri."


"Gue ada waktu buat antar lo pulang, biar lo nggak sendirian." Bertepatan dengan akhir kalimat itu, sekilas Arlan menangkap ekspresi aneh dari wajah Pak Imam yang menunggu mereka dekat gerbang sekolah. Arlan menelan ludah dengan susah payah. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang Pak Imam sembunyikan.


"Kenapa, Lan?" tanya Manda, ternyata menyadari perubahan air muka Arlan.


"Gue punya firasat nggak enak."

__ADS_1


***


__ADS_2