TUMBAL

TUMBAL
Dimas


__ADS_3

Gina berlari kecil masuk ke dalam rumah sakit. Nafasnya tersengal-sengal. Wajahnya sepucat bulan purnama di langit malam itu. Di belakangnya, seorang laki-laki tambun menyusul, tidak kalah paniknya. Mereka menghampiri Arlan dan Nanda yang masih mengenakan baju pasien dan duduk lemas di kursi dekat pintu keluar gedung rumah sakit.


"Bagaimana kejadiannya?" sambar Gina, tanpa berbasa-basi menanyakan keadaan Nanda ataupun Arlan.


Nanda menggeleng lemas. Arlan menunduk, tidak berani memandang wajah Gina. Dia sendiri takut kalau-kalau dirinya ikut tenggelam ke dalam kekhawatiran itu juga. Bagi Arlan yang kehilangan kekasihnya di depan mata saja, sudah membuatnya ingin mati. Apalagi membayangkan bagaimana sedihnya Gina sekarang.


Gina memegang kepalanya yang berputar. Suaminya langsung menangkap Gina ketika dia hampir ambruk. "Anak itu... Padahal sudah aku peringatkan untuk selalu waspada!" gerutunya.


"Ma-maaf, Bu! Ini karena saya--"


"Bukan karena kamu," Gina memotong kalimat Arlan. Dia mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan mata Arlan. Gina secara tulus ingin memastikan bahwa Arlan tidak merasa bersalah akan hal ini. "Ibu sudah memperingatkan dia berkali-kali, bahwa dia adalah sumber kelemahanmu. Larasati pastinya akan mengincarnya karena dia bisa dipakai sebagai tawanan. Apa kalian tidak pernah nonton drama?"


Arlan dan Nanda hanya diam. Tidak ada yang berani menjawab. Kenyataannya, mereka memang merasa rileks tadi, sampai mereka kehilangan Manda.


"Kita harus bagaimana sekarang, Bu?" tanya Nanda.


Gina mengusap wajahnya dengan gusar. Pikirannya melayang jauh, ketakutan dengan apa yang akan terjadi pada anaknya saat ini. "Kita harus cari, di mana Larasati bersembunyi."


"Rumah Dimas!" sahut Arlan cepat. Dia sudah akan berlari kalau saja Gina tidak menangkap tangannya. "Kenapa, Bu? Kita nggak boleh buang-buang waktu lagi!"


Gina menggeleng pelan. "Cara inilah yang memang Larasati mau. Dia menggunakan Manda untuk memancing kita agar tergesa-gesa datang dan tanpa persiapan."


Arlan bingung. Apalagi yang harus dia siapkan, sementara nyawa Manda berada dalam bahaya saat ini. Tentu saja mereka harus menerjang kediaman Dimas dengan segera.


"Nanda, hubungi teman-temanmu! Minta tenaga sebanyak mungkin untuk datang ke sini secepatnya!" perintah Gina, lalu dia menoleh pada laki-laki paruh baya di sebelahnya. "Ayah harus pulang! Tidak boleh ada lagi yang disandra malam ini! Ayah harus bersembunyi di rumah sampai kami pulang!"


"Apa tidak ada yang bisa aku lakukan?"


Gina menggeleng sambil tersenyum sumbang. "Ayah harus bisa menjaga diri sendiri saat ini," jawabnya setengah berbisik.

__ADS_1


"Tiga orang meluncur ke sini, Bu," timpal Nanda. Handphone di tangannya bergetar tiada henti. "Dua orang akan menunggu di sekitar sana."


"Mereka membawa gelang yang Ibu berikan?"


"Ya!"


"Ibu akan membuat teleportasi di dekat sana. Minta mereka bersiap-siap!" Gina melepas pegangan tangan suaminya. "Ayah, pulang sekarang!"


Suaminya mengangguk tegas. Sorot matanya mengatakan bahwa Gina tidak perlu khawatir akan dirinya. Lalu, Beliau berlari kecil ke luar rumah sakit untuk pulang.


Gina mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Nanda. Arlan buru-buru mengikuti. "Kalian yakin dalam keadaan prima?" Gina memastikan.


Nanda mengangguk. "Dadaku nggak sakit lagi. Tenagaku juga penuh, seolah nggak terpakai."


"Saya tidak terluka sama sekali," lanjut Arlan.


Gina memandang Arlan lumayan lama. Matanya seakan meneliti apa yang Arlan pikirkan kala itu. "Arlan..." panggilnya dengan nada lembut seperti biasa. "Tenanglah. Sudah Ibu bilang, ini bukan salahmu. Kita akan bertempur dengan Larasati, makhluk yang ingin mengambil nyawamu. Ini bukan perkara mudah. Kamu harus berusaha tetap sadar dan berkepala dingin. Ibu tidak yakin bisa membawamu kembali, jika dirimu yang satunya muncul lagi."


Detik berikutnya, pusaran angin langsung menyelimuti mereka. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, hanya dua atau tiga detik. Saat sadar, Arlan sudah berada di sebuah jalan kecil. Bau obat langsung tergantikan dengan bau aspal basah. Arlan mengedarkan pandangan. Dia mengenal jalanan itu. Lampu jalan kecil yang bersinar temaram membuatnya sadar bahwa mereka berada tidak jauh dari rumah Dimas.


"Ibu tahu rumah Dimas?" tanya Arlan, tidak percaya.


"Apa kamu berpikir, Ibu tidak menyelidiki apapun selama ini dan duduk tenang di balik meja?" jawab Gina sambil tersenyum. "Kita tidak langsung tiba di depan rumah Dimas. Pastinya ada jebakan di sana. Beberapa orang lagi akan muncul. Kita tunggu anggota kita lengkap dulu."


Nanda mengangguk, sementara Arlan hanya diam. Dia masih takjub dengan hal-hal semacam ini karena belum terbiasa. Seperti apa yang Gina katakan, beberapa orang mulai muncul. Tiga orang muncul dari gang gelap yang ada di sebelah kiri. Empat orang muncul dari jalan kecil di belakang mereka. Lalu, dua orang terakhir berlari kecil dari taman bermain sekitar tiga meter dari titik berkumpul mereka.


Gina memandang satu demi satu wajah orang-orang yang datang. Mereka tidak lebih tua daripada Gina, namun tidak lebih muda daripada Nanda. Tidak ada yang datang dengan tangan kosong. Ada yang membawa cambuk, tongkat, panah, dan senjata lainnya. Satu hal yang sama pada diri mereka adalah sebuah gelang berwarna hitam dengan mata batu berkilat berwarna hijau gelap. Wajah mereka tegang, tetapi dipenuhi rasa percaya diri.


"Baiklah, ini cukup!" Gina terlihat senang. "Kalian pastinya sudah mendengar cerita tentang Arlan dan tahu sekiranya makhluk apa yang kita akan hadapi kali ini," Gina memulai pidatonya dengan suara pelan, sementara semuanya berkumpul membentuk lingkaran kecil. "Aku harap, kalian tetap berkepala dingin. Hindari terpancing!"

__ADS_1


Semuanya mengangguk serentak. Cahaya mata mereka bersinar di dalam gelapnya malam. Arlan dapat merasakan kobaran semangat membara pada masing-masing orang. "Lan," Nanda menyenggol bahunya, membuat Arlan sadar dari rasa kagum. "Lo nggak boleh jauh-jauh dari gue!"


Arlan mengangguk mengerti. "Kalau ada yang mengancam, gue hanya akan melindungi diri," jawab Arlan. Dia tidak mau melawan, jika itu sama saja dengan menukar dirinya dengan diri yang tengah 'tertidur'.


Akhirnya, mereka bergerak. Mereka dibagi menjadi tiga empat kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga orang. Dua kelompok akan memutar dan mencoba masuk dari pintu belakang. Sementara dua kelompok lain, termasuk Arlan di dalamnya, mencoba peruntungan lewat pintu depan. Berkali-kali Gina membisikkan bahwa pintu depan akan sama berbahayanya dengan pintu belakang. Arlan menjadi lebih waspada dalam mengeluarkan kekuatannya.


Setibanya di depan rumah Dimas, mereka disambut dengan gerbang besi coklat berkarat yang tergembok. Halaman rumah di dalamnya tampak tidak terawat. Ilalang tumbuh setinggi lutut. Ada satu pohon mangga yang tinggi dan berdaun lebat menaungi rumah berlantai satu itu. Daun-daunnya yang gugur tampak lapuk memenuhi teras rumah.


"Apa rumah ini berpenghuni?" bisik Nanda.


Arlan mengalihkan perhatiannya pada rumah Dimas. Memang tidak ada tanda-tanda kehidupan. Rumah itu gelap. Bahkan, suara binatang sekalipun tidak terdengar. Arlan sendiri menjadi sangsi dengan keberadaan Dimas ataupun Larasati di sana.


"Jangan terkecoh!" sahut Gina tiba-tiba. "Tempat ini terlalu hening jika dikatakan tidak berpenghuni."


Arlan menelan ludah dengan susah payah. Dia teringat dengan mimpi yang selama ini hadir di dalam tidurnya. Ilalang tinggi, malam hari, dan tidak terdengar suara apapun. "Ini tempatnya," gumam Arlan. Bulu kuduknya berdiri. Semilir hawa dingin merayap di tengkuknya. Arlan mengangkat wajah tepat ketika puluhan kerikil tajam mengarah ke arah mereka.


PHANGGG!!!


Tanpa pikir panjang, Arlan merentangkan tangannya, membuat sebuah pelindung yang menyelimuti lima orang di sampingnya. Kerikil-kerikil yang terbang ke arah mereka, melayang di udara. Setengah dari kelikil itu menembus pelindung Arlan, hampir tidak bisa ditahan. Jika saja Arlan tidak menyadari hal itu, bisa saja tubuh mereka sudah terkoyak.


"Lan!" seru Nanda sembari memasang kuda-kuda, pertanda lawan mereka telah menampakkan dirinya.


Arlan memicingkan matanya. Dia perlu berkonsentrasi untuk melihat ke arah teras rumah. Keadaan benar-benar gelap gulita, membuat matanya tidak bisa melihat apapun.


"Hehehehe..."


Suara tawa itu membuat Arlan tahu bahwa tidak hanya mereka yang ada di sana. Arlan tetap mempertahankan pelindungnya. Sedetik kemudian, suara berat langkah kaki terdengar. Lama-lama, Arlan dapat melihat sahabatnya muncul dari teras rumah. Arlan mengenali wajah Dimas walau lingkaran hitam menggantung di bawah matanya. Senyum Dimas menjadi aneh dengan sudut bibir melebar seperti robek. Bahunya tergantung, seakan menenteng dua tangan yang amat berat.


"Arlan, ngapain malam-malam ke sini?" tanya Dimas.

__ADS_1


***


__ADS_2