TUMBAL

TUMBAL
Manis (End)


__ADS_3

"Bu?"


Gina berbalik dan melemparkan senyuman pada Arlan yang baru saja bangun dari tidur siangnya. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga sore. Arlan tertidur selama dua jam seperti bayi. Dia bahkan tidak mendengar Gina masuk ke ruangannya. Gina meletakkan vas bunga yang dipenuhi bunga mawar merah di dekat jendela, lalu berjalan menghampiri Arlan.


"Sudah lapar?" tanyanya. "Mau apel?"


Arlan menggeleng. Kilasan mimpi sedetik lalu, masih membayang di kepalanya. "Bu... Saya mau lihat Manda."


Senyuman Gina makin melebar. "Baru lima hari nggak ketemu, sudah sekangen itu, ya?"


Arlan tersipu malu. Dia memang merindukan Manda, sampai tidak ada satu mimpipun yang terlewatkan tanpa adanya Manda. Bagi Arlan, merindukan Manda terasa lebih menyiksa jika dibandingkan dengan mimpi buruk bertemu Larasati dulu.


"Manda lagi siap-siap. Sebentar lagi dia ke sini," ujar Gina.


Arlan buru-buru bangun dari tidurnya. Dia merapikan rambutnya yang berantakan. Arlan tidak mau kalau Manda melihatnya dalam keadaan kacau seperti sekarang, apalagi sudah lima hari mereka tidak bertatap muka. Selama di rumah sakit, Gina bersikeras agar Arlan lebih banyak beristirahat. Bahkan, Gina melarang Arlan menggunakan kekuatan penyembuh dan meminta Arlan bermalas-malasan saja.


"Sa-saya mau ke kamar mandi sebentar, Bu!" Arlan panik sendiri.


BRAK!


Terlambat. Manda sudah ada di ambang pintu ruangannya. Berbeda dengan Arlan, Manda tampak sudah bersiap diri dan tampil sangat cantik. Arlan sampai bengong ketika melihatnya. Manda berjalan cepat menuju tempat tidur Arlan. Dia langsung melingkarkan sebuah pelukan untuk Arlan.


"Kamu baik-baik aja? Ada yang masih sakit?" tanya Manda.


Wajah Arlan memerah, persis seperti kepiting rebus. "Ng-nggak... A-aku sudah ba-baik-baik aja," Arlan menjadi sangat gugup. "Ka-kamu gimana?"


Manda melepas pelukannya. "Aku udah bisa pulang," jawabnya sambil mengangkat tangan, memperlihatkan bekas infus yang tertempel plester kecil. "Lukaku tinggal dirawat dua hari sekali. Selain itu, aku sehat!"


Arlan melirik pada Gina yang mengawasi dari belakang. "Kalau aku sudah lebih baik dari ini, aku akan gunakan kekuatan penyembuh untuk hilangkan semua luka itu."


"Nggak perlu," tolak Manda. "Aku mau punya bekas luka ini."


"Kenapa?"


"Ini keren!" Manda kegirangan. "Nanti, waktu aku punya anak, aku mau cerita tentang bagaimana aku dapat luka-luka ini!"


"Anak?" mata Arlan melotot.


Manda yang awalnya tersenyum girang, langsung memalingkan wajahnya yang kian memerah. Gina hanya menimpali dengan tawa puas, tidak tahu bahwa perkataan Manda barusan melambungkan harapan di dada Arlan.


"Ehem! Aku lapar! Aku mau beli makan dulu di kantin bawah!" Manda segera kabur dari suasana canggung yang sudah dia ciptakan.

__ADS_1


"Mau ke mana?" Cahya muncul ketika Manda melewati pintu. Namun, karena Manda tidak memberi jawaban, Cahya masuk ke dalam diikuti Nanda. "Kemana anak itu?" tanyanya.


"Beli makan, Yah. Mungkin lapar banget," jawab Gina sambil terkikik geli.


Nanda meletakkan tas besar yang berisi pakaian Manda di dekat pintu. "Bu, aku ikut Manda, ya!" pamitnya dan langsung beranjak tanpa menunggu jawaban dari Gina ataupun Cahya.


Cahya geleng-geleng kepala melihat Nanda yang terburu-buru. "Semenjak kejadian Manda diculik, Nanda nggak bisa santai. Dia selalu ngintilin Manda. Bahkan, dia sudah mengurus untuk pindah sekolah ke sekolah kalian," kata Cahya pada Arlan.


"Biarlah anak-anak kumpul di satu sekolah. Setidaknya, jadi gampang saling jaga. Pulangnya juga bisa bareng-bareng," timpal Gina.


"Bagaimana keadaanmu, Lan?" tanya Cahyo. Dia duduk di sebelah Arlan sembari meneliti Arlan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cahyo tidak pernah sekalipun lupa bertanya tentang keadaan Arlan ketika mereka bertemu, walau itu setiap hari.


"Sudah lebih baik, Oom," jawab Arlan seperti biasa.


"Ini sebenarnya lumayan mengganggu. Kamu manggil istri saya dengan sebutan 'ibu', tapi manggil saya dengan sebutan 'oom'? Bukannya itu namanya pilih kasih?"


"Hihihi, nggak usah cemburu gitu, Yah!" goda Gina. Dia membawa apel yang sudah dikupas dan meletakkannya di meja dekat tempat tidur Arlan.


"Anak ini, kan, yang kamu lihat jadi suaminya Manda?" Cahya bicara terang-terangan.


"Ih, Ayah! Kok buka kartu AS, sih!" Gina meninju lengan Cahya, gemas dengan tingkah suaminya yang tidak bisa menjaga rahasia.


"Saya pasti jaga Manda baik-baik, A--" Arlan menelan ludah dengan susah payah, "Ayah!" sebutnya. Saking gugupnya, suara Arlan sampai bergetar.


"Cieeeh, sudah dapat restu, nih!" Gina ikut tersenyum. "Tapi, bukan berarti kamu bisa macam-macam, ya, Lan! Manda itu tetap anak gadis kesayangan Ibu. Kalau kamu berani buat dia nangis, kuburan jawabannya!"


Arlan mengangguk dengan pandangan mata lurus dan yakin, membuat Cahya dan Gina tertawa gemas.


***


"Lan! Akhirnya lo sekolah juga!"


"Selama ini dirawat di mana? Wali kelas nggak ngasih kita jenguk dan Dimas juga ngilang."


"Bener, tuh! Kita jadi nggak bisa nanya siapa-siapa!"


"Lo sakit apa sampai banyak tempelan perban begini?"


"Lo habis kecelakaan?"


"Kecelakaan anak konglomerat memang harus ditutupi, ya? Takut buat skandal?"

__ADS_1


"Lha? Arlan, kan, udah buat skandal sama Manda!"


"Jadi, beneran lo kecelakaan sama Manda? Lo bawa mobil apa motor?"


"Manda nggak terlalu parah lukanya. Dia masuk duluan daripada Arlan."


"Tuh, kan! Kalau dekat-dekat Manda, nanti lo bisa celaka kayak begini!"


"Kalian pergi berdua, tapi cuma lo yang babak belur, Lan?"


Arlan menghela nafas panjang mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari teman sekelasnya ketika dia duduk di bangku yang sudah kosong selama sebulan. Perawatan di rumah sakit hanya memakan waktu sekitar dua minggu, tapi Gina meminta izin pada sekolah untuk meliburkan Arlan dengan alasan kesehatan. Orangtua Arlan yang dihubungi pihak sekolah juga tidak merasa keberatan, malah orangtua Arlan terkesan tidak begitu peduli lagi. Tentu saja mereka sibuk dengan urusan tindak pidana dan saham perusahaan mereka merosot seiring ditemukan banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan perusahaan mereka.


"Guys, ini semua bukan karena Manda," jawab Arlan. Meski tahu bahwa jawabannya tidak akan mempan di telinga teman-teman sekelasnya, Arlan tetap melindungi Manda. Selama itu bukanlah jawaban yang mereka mau, mereka tidak akan pernah percaya dengan Arlan.


"Tapi, Lan, buktinya lo sampai begini semenjak dekat sama Manda."


"Gue setuju!"


"Lo nggak fresh kayak dulu lagi."


"Jangan-jangan, Manda menyerap jiwa lo sedikit demi sedikit."


"Manda bisa begitu?"


"Ini Arlan sampai lemas begini!"


"Kalian juga, mau gue serap jiwanya?"


Kalimat terakhir membuat seisi kelas terdiam. Mereka menoleh cepat ke sumber suara dan mendapati Manda sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Wajah Manda yang tanpa ekspresi dan rambut hitamnya yang dia biarkan terurai membuat seisi kelas merinding. Satu per satu mulai pergi dari hadapan Arlan. Mereka tidak mau berurusan dengan Manda barang sedetik.


"Kalau kamu bertingkah begitu, mereka semakin salah paham," Arlan memberi nasehat saat Manda berdiri di sampingnya.


"Dari awal aku sudah bilang, langit tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi dan laut tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya dalam. Apapun yang mereka katakan, biarkan saja. Bila perlu, berikan sedikit 'bumbu' agar menjadi lebih seru."


Arlan tersenyum mendengar ocehan Manda. "Apapun kata mereka, kenyataan bahwa aku cinta sama kamu, nggak akan berubah."


"Ehem! Ehem!" Manda berdeham dengan wajah bersemu. "Jawaban kamu nggak ada hubungannya sama pernyataanku barusan!"


"Kamu manis banget!"


"Arlan!!!"

__ADS_1


***TAMAT***


__ADS_2