
Perisai yang Arlan buat mulai retak. Di sisi lain, diri Arlan yang selama ini tertidur meronta ingin dibebaskan. Isi kepala Arlan berkecambuk. Dia tidak bisa mengambil keputusan besar, dengan membiarkan dirinya yang lain menguasai tubuhnya lagi. Tapi, Larasati di hadapannya sangat menakutkan. Dengan kekuatan yang luar biasa setelah memakan banyak jiwa manusia, Larasati tidak henti-hentinya menerjang perisai Arlan, tidak peduli tangannya hancur.
"Kau harus mati di tanganku!!! Mati kau!!!" geram Larasati seraya membenturkan tubuhnya ke arah perisai Arlan.
Arlan melirik sederetan pisau yang tergeletak di atas meja. 'Gue bisa pakai itu!' batinnya. Arlan mengibaskan tangannya pada pisau itu dengan cepat, membuat lima pisau melayang di udara. Pisau itu mengayun mengikuti arah tangan Arlan dan dengan cepat menghujani Larasati.
Larasati menoleh ketika lima pisau menancap di punggungnya. "Khekhekhekhekhe..." dia terkekeh. "Kau pikir, pisau ini bisa melukaiku?"
Arlan menarik nafas panjang, lalu menggenggam tangannya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu, pisau-pisau yang menancap di punggung Larasati saling bersatu, membuat luka robek panjang.
"AAAAARRRGGHHHH!!!" Larasati melompat mundur dan berputar, mencoba melepaskan pisau dari punggungnya. Tangan Larasati menggapai-gapai tanpa hasil ke belakang punggung. Darah hitam kembali mengucur. Bau busuknya bukan main.
Arlan tidak menemukan senjata lain lagi untuk bertahan. Dia harus memanfaatkan pisau-pisau itu sebaik mungkin. Arlan mengangkat tangannya, membuat pisau yang menancap melesat ke udara. "Jangan diteruskan!" pinta Arlan lagi. Hati nuraninya masih menolak jika dia yang harus menghabisi Larasati.
"Hihihihihi," Larasati tertawa, wajahnya menunduk. Jika dia manusia biasa, pastinya dia sudah pingsan menghitung banyaknya darah yang sudah keluar dari tubuhnya. "Kalau kau mau berhenti, menyerahlah dan biarkan aku memakanmu!" Larasati terbang secepat kilat, menghantam perisai Arlan.
CRANGGG!!!
Perisai itu hancur berkeping-keping. Arlan yang tanpa pertahanan harus menerima cabikan dari Larasati pada lengan bawahnya. Kaki Arlan terangkat, dia menendang Larasati tepat di perutnya. Larasati terdorong mundur beberapa langkah. Kesempatan itu Arlan gunakan untuk melawan balik. Dia mengibaskan tangan, memerintahkan pisau-pisau yang melayang di udara kembali menyerang Larasati.
Kali ini, Larasati menghindar. Tidak satupun pisau itu mengenainya. Larasati terbang ke arah Arlan lagi. Arlan menangkis serangannya dengan pelindung. 'Ini tidak akan bertahan lama,' pikirnya. Luka-luka yang Arlan dapat mulai terasa sakit sekali, membuat konsentrasinya buyar.
'Biarkan aku keluar, sialan!'
Suara di kepalanya mulai muncul lagi.
'Kau lemah! Akulah yang bisa mengatasi makhluk itu!'
"TIDAK!!!" tolak Arlan. Dia meringkuk sambil memegang kepala. Kepalanya serasa akan pecah. Tetapi, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpengaruh dengan suara itu. Tidak tahu kenapa, dia merasa kalau kali ini dia akan sepenuhnya kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Hal buruknya, ketika Arlan sedang bergulat dengan dirinya sendiri, Larasati melihat ada celah dalam pelindung yang Arlan buat.
PRANGGGG!!!
__ADS_1
"MATI KAU!!!" Larasati melompat ke atas punggung Arlan dan menggigit punggungnya.
"AAAKH!!!" Arlan bangkit, meraih rambut Larasati. Dia mencoba melepaskan diri, tetapi gigitan Larasati terlalu kuat.
BUAGGG!!!
Tiba-tiba Larasati terlempar. Beberapa giginya tanggal, berhamburan ke lantai. Arlan ambruk ke depan. Pandangan matanya kabur karena detak jantungnya yang memburu. Punggungnya terasa semakin lama semakin hangat. Arlan mendongak karena sadar ada seseorang di sampingnya.
"Manda!?" cicit Arlan kaget, mendapati sosok perempuan yang dia cintai berdiri tegap dengan dagu terangkat. "Manda! Astaga! Kamu kenapa ke sini!?"
Manda menunduk sekilas. "Fokus!" perintahnya. "Pasang pelindung!"
Arlan cepat-cepat membentangkan tangan, membuat sebuah pelindung untuk mereka berdua. "Ka-kamu nggak apa-apa?"
Manda berlutut di sebelah Arlan. Pandangannya masih melekat pada sosok Larasati yang mengerang kesakitan tidak jauh dari mereka. "Bohong kalau aku jawab nggak apa-apa. Badanku hampir nggak bisa digerakkan."
"Kenapa kamu ke sini?"
Arlan menunduk. Perkataan Manda benar adanya dan Arlan tidak bisa membantah sama sekali. Dia memang akan habis oleh Larasati. Masa depan yang sudah dia impikan memang akan sirna jika dia menghadapi Larasati seorang diri.
"Mana bisa bocah ingusan seperti kita, menang melawan seorang iblis yang sudah berenang di dalam ilmu hitam selama puluhan tahun dan memangsa banyak jiwa manusia," sambung Manda.
"Lalu kita harus gimana?"
Manda menoleh pada jendela kaca di belakang mereka. "Aku merasa, sudut itu adalah tempat yang paling lemah pertahanannya. Aku akan coba menghancurkannya."
"Tapi tenagamu--"
"Tidak ada pilihan," potong Manda. "Kita harus keluar dari sini. Setidaknya, kita harus berusaha untuk itu. Aku nggak mau mati sia-sia tanpa menikmati kencan sekalipun."
Wajah Arlan memerah karena malu. Namun, rasa senang membuat tenaganya pulih dengan cepat. "Aku akan menghalangi dia supaya kamu punya waktu untuk menjebol jendela itu."
__ADS_1
Manda mengangguk. Dia kembali berdiri kemudian memasang kuda-kuda. Larasati juga berusaha berdiri. Matanya menyorotkan sinar kebencian yang sangat besar pada Manda dan Arlan. Dengan mengabaikan rasa nyeri di sekujur tubuhnya, Arlan ikut berdiri. Dia siap menerjang Larasati.
PAK!
Manda menepuk pundak Arlan, seolah memberikan semangat. Manda melesat ke arah belakang, mendekati jendela dapur yang tampak rapuh. Arlan berlari ke arah Larasati. Dia mengepalkan tangan, membuat lima pisau bergerak bersamaan dengannya menuju Larasati.
BRAAKKK!!!
Arlan menciptakan perisai sedetik sebelum Larasati menggigit tangannya. Wajah Larasati membentur perisai dengan sangat keras. Arlan yakin beberapa tulang wajah Larasati hancur karena benturan itu. Pisau-pisau bergerak mengikuti tangan Arlan dan menancap dalam di sekujur tubuh Larasati. Arlan memutar tangannya, membuat lima pisau berputar di dalam tubuh Larasati.
"GGGAAAAAAAAAHHHHHHH!!!" Larasati jatuh ke tanah. Dia menggeliat, berusaha menyingkirkan pisau di tubuhnya.
Arlan mundur dengan cepat. Dia kembali memasang pelindung. Dalam hati, dia meyakinkan dirinya bahwa kekuatannya saat ini cukup untuk bertahan. Dia tidak memerlukan bantuan dari dirinya yang lain. Sisi gelapnya harus tidur di tempatnya semula.
Mata Arlan melirik Manda. Dengan mengejutkan, Manda berhasil membuat retakan pada kaca jendela. Semakin lama Manda memukul kaca itu, retakannya juga menjadi semakin banyak. Sebentar lagi kaca itu akan pecah. Dugaan Manda benar adanya.
Tidak mau sampai Manda diserang Larasati, Arlan memberanikan diri untuk maju duluan. Sekali lagi, Arlan berlari ke arah Larasati dengan perisai di tangannya. Dia bisa memukul Larasati dengan perisai itu. Sesuai dugaan, Larasati menabrak perisai Arlan dengan bahu kirinya. Bunyi benturan bercampur daging busuk yang lembek, membuat telinga Arlan jijik. Mata Arlan dan mata Larasati saling bertemu. Detik itu, Arlan merasa ada yang salah karena Larasati tersenyum lebar.
JLEB!
Sebuah tusukan menancap di pinggang Arlan. Semakin lama, semakin dalam. Senyuman Larasati berubah menjadi tawa rendah penuh kemenangan. "Kau hanya manusia biasa," ujarnya.
"AAAAKKH!!!" Arlan memegang pisau yang menancap di pinggangnya. Rasa sakitnya luar biasa, hingga tangan dan kakinya kebas.
"Tidak! Tidak! Arlan!" Manda berlari ke arah Arlan. Air mata sudah membanjiri wajahnya. "Arlan!"
Nafas Arlan tersengal-sengal. Dadanya sesak oleh rasa nyeri dari pinggangnya. "Lari, Manda..." pintanya.
Manda mendekap Arlan. Tangannya gemetar sekaligus lemas. "Arlan... Arlan..." rintihnya. Manda tidak tahu apa yang ingin dia katakan. Dia juga tidak bisa meminta Arlan untuk bertahan setelah melihat derasnya darah yang mengucur dari luka Arlan.
"Hihihihi... Aku akan memberi kalian waktu untuk mengucapkan salam perpisahan," Larasati mundur, menikmati pemandangan yang sedari tadi dia tunggu-tunggu. "Aku akan memakan perempuan itu dulu. Aku akan memberimu rasa sakit dua kali lipat sebelum aku melahapmu hidup-hidup."
__ADS_1
***