
"Pergi! Aku masih punya sisa kekuatan untuk melindungimu dari belakang!" perintah Arlan.
"Kamu gila, ya!" bentak Manda, jelas tidak setuju dengan perkataan Arlan.
"Setidaknya kita nggak mati berdua." Arlan tidak berani membalas tatapan Manda. Jika bisa jujur, tentu saja dia merasa takut dengan kematian. Sewaktu tahu bahwa dia akan mati ketika berumur tujuh belas tahun, dia merasa sangat ketakutan. Arlan ingin lari dari kenyataan.
Manda tidak bisa bicara lagi, hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya. Telinganya seakan menolak apapun yang Arlan katakan saat itu. Dia hanya ingin memeluk Arlan seerat mungkin. Manda tidak mau percaya kalau mereka terkurung di sini. Manda menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Arlan. "Apapun hasilnya, aku akan coba sekali lagi," bisiknya.
Arlan buru-buru menangkap tangan Manda sebelum Manda bergerak. Dia tidak setuju dengan ucapan Manda. Larasati sudah pasti akan mencabik-cabik tubuhnya jika Manda maju sekali lagi. "Manda, menjauhlah... Aku akan menyerah pada diriku yang lain. Dia bisa menyelamatkanmu."
Manda menggeleng. "Jangan!"
Arlan tersenyum sumbang. "Aku memang akan mati. Setidaknya, kamu bisa terus hidup." Arlan memejamkan mata, memanggil dirinya yang lain. Dia sudah siap jika dia harus kehilangan tubuhnya kali ini. Di kepalanya, Arlan hanya ingin Manda berhasil keluar dari rumah terkutuk ini. Manda tidak boleh mati karena dirinya, apalagi yang memulai semua ini adalah Arlan sendiri.
PLAK!!!
Sebuah tamparan mengagetkan Arlan. Matanya membelalak terbuka. Di hadapannya, wajah Manda dibanjiri air mata. "Manda?"
"Khan uwdhah akhu biyang nyangaaaaannn!!!" rengek Manda sambil menangis keras.
Memang konyol rasanya, namun Arlan sempat berpikir kalau itu adalah momen paling manis yang pernah dia lihat selama dia hidup. Arlan tersenyum, menikmati setiap detik yang Larasati berikan untuknya melihat wajah Manda lebih lama lagi.
"CUKUP!" seru Larasati. Dia melayang cepat menghampiri Manda dan Arlan. Manda segera mendekap Arlan ke dalam pelukannya. Mata mereka terpaut lama. Senyuman kemenangan di wajah Larasati membuat nyali Manda ciut. Larasati menjulurkan tangannya yang hancur.
"AKH!!!" Manda menjerit ketika tangan Larasati menjambak rambutnya. Meski tangan Larasati sudah setengah hancur, bahkan bahunya hitam menggosong, kekuatan Larasati masih tidak bisa ditandingi. Dengan mudah, Manda terseret menjauh dari Arlan.
"Tidak! Tunggu!!!" pinta Arlan saat genggaman tangannya pada Manda akhirnya terlepas. Arlan merangkak mengikuti perginya Larasati. "Jangan bawa dia! Saya mohon!"
"Hihihihihi," Larasati terkikik geli mendengar rintihan Arlan. Dia melempar Manda hingga terjatuh di kakinya. "Aku ingin kau menyaksikan bagaimana lahapnya aku memakan gadismu!"
DHAAAARRRRRR!!!
Suara ledakan dari arah belakang Arlan membuat semua membisu. Larasati diam untuk sekian detik. Begitu sadar akan apa yang terjadi, Larasati hendak mencengkram Manda kembali.
PHAAANGGG!!!
Tepat waktu! Pelindung menyelimuti tubuh Manda sebelum tangan Larasati berhasil meraih rambutnya kembali. Arlan tersenyum saat sadar dia berhasil menghalangi Larasati. Dengan sisa-sisa tenaga yang Arlan miliki, dia mengerahkan semuanya demi menciptakan pelindung yang sempurna untuk melindungi Manda.
Tanpa membuang-buang waktu, merasa posisinya dalam bahaya, Larasati terbang melesat menuju Arlan. Dia tidak bisa melepaskan buruannya yang sudah ada di depan mata. "MATI KAU!!!" seru Larasati saat tangannya hampir menggapai Arlan.
DHUAGG!!!
Keadaan berbalik. Larasati terlempar keras ke arah anak tangga sampai menghancurkan apapun yang dia tabrak. Arlan membuka mata kembali. Dia menoleh ke belakang, tempat di mana dia mendengar adanya suara ledakan. Seperti yang dia duga, Gina, Nanda, dan sekutu lainnya masuk satu demi satu.
"Arlan! Lo nggak apa-apa!?" Nanda menghampirinya sewaktu melihat Arlan di lantai. "Astaga! Lo bakalan mampus kalau nggak segera ke rumah sakit!"
TAK!
Gina menyarangkan pukulan ke kepala anak laki-lakinya yang bicara sembarangan. "Arlan, istirahatlah! Teman-teman yang lain akan membantumu menuju ke rumah sakit." Gina mengangguk pada dua orang di belakangnya. Mereka memapah Arlan untuk berdiri. "Lan," Gina memanggil sebelum Arlan beranjak. "Terima kasih sudah melindungi Manda."
__ADS_1
"Arlan!" Manda berlari ke arah Arlan.
"Bukannya nyapa Ibu, kamu malah nyamperin pacarmu duluan," goda Gina.
"Ibu!"
"Iya, iya. Sana antar Arlan ke rumah sakit. Kamu juga perlu diobati. Biar urusan di sini, Ibu dan Nanda yang selesaikan."
"GAS, HAJAR!!!" Nanda menjawab dengan mata berapi-api.
"Nenek tua itu harus diberi pelajaran supaya nggak sembarangan nyulik anak orang lain!" Gina maju mendekati Larasati yang berusaha berdiri lagi.
***
Arlan diam sambil menatap langit-langit rumah sakit. Dua orang perawat tengah membantunya membersihkan luka di sekujur tubuh. Bau obat-obatan membuatnya tenang. Dia sangat rindu suasana tenang ini.
"Mbak bukannya yang kemarin punggungnya luka itu, ya?"
Arlan menoleh saat salah satu perawat mengomentari Manda yang terbaring di ranjang di sebelahnya.
"Kenapa bisa luka-luka begini, Mbak? Kasihan kulitnya, nanti membekas."
Arlan memandang Manda lekat-lekat. Dia bertekad untuk segera memulihkan diri dan menyembuhkan luka-luka di tubuh Manda dengan kekuatannya.
"Nggak apa-apa, Mbak," Manda menjawab kekhawatiran perawat itu. "Ini sebagai kenang-kenangan bahwa saya pernah melakukan hal hebat untuk menyelamatkan orang di sebelah itu."
Perawat tadi menoleh pada Arlan. "Kalian jatuh di jurang mana, sih?"
"Kamu bisa istirahat. Ibu dan Nanda sebentar lagi akan datang."
Arlan tersenyum kecil. Dia tidak pernah meragukan Gina ataupun anak-anaknya sejak awal. Gina adalah wanita yang hebat, begitu pula dengan Manda dan Nanda.
'Gue harus nraktir Nanda makan daging habis ini,' batin Arlan sebelum kembali tertidur.
***
Arlan terbangun karena mendengar percakapan beberapa orang di dekatnya. Kepalanya pusing karena obat penghilang rasa nyeri yang diberikan. Arlan teringat pesan dokter anestesinya bahwa dia tidak boleh bergerak tiba-tiba jika tidak ingin muntah. Arlan menoleh ke arah sumber suara. Gina di sana. Begitupun dengan dua orang dewasa yang tampak familiar di matanya.
"Anda seharusnya tidak ikut campur dalam urusan keluarga kami! Anak saya jadi harus mengalami hal ini karena hasutan dari Anda!" Fahmi berseru dengan wajah memerah.
Gina mengangguk sekali. "Maaf jika Anda sampai merasa demikian."
"Anak kami bisa saja kehilangan nyawanya kerena insiden itu!" sambung Lili. Air mata mengalir di wajah cantiknya.
"Syukurlah, Arlan bisa melewatinya dengan baik," jawab Gina dengan senyuman kecil. "Anak kalian lebih hebat daripada yang kalian duga. Saya bangga pada Arlan yang memiliki prinsip dan tekad yang baik. Dia mau berusaha dengan kekuatannya sendiri, tanpa bergantung pada ilmu hitam padahal cara itu lebih mudah."
"Apa maksud perkataanmu!?" seru Fahmi. "Apa Anda mengatakan bahwa kami salah dalam menjaga anak kami sendiri!?"
Gina mengangguk. "Ya, benar," jawabnya dengan nada mantap, membuat Arlan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Aku setuju dengan perkataan Ibu," Arlan angkat suara.
Semua mata tertuju pada Arlan. Lili berhamburan memeluk Arlan seraya menangis sesenggukan. "Anakku... Anakku... Apa kamu tahu bagaimana paniknya kami waktu tahu kamu tidak di rumah? Lalu, rumah yang hancur itu, membuat kami semakin cemas!"
"Aku yang menghancurkan rumah," aku Arlan.
Lili menarik diri. "Apa maksudmu? Security bilang, ada gempa yang sangat besar."
"Apa Mama percaya dengan alasan itu?" Arlan balik bertanya. "Aku membunuh Kakek Pareng dan menghancurkan rumah. Manda dan Nanda membantuku."
"Apa? Apa maksudmu dengan membunuh Kakek?" Fahmi maju. "Dia adalah kakekmu!"
"Lalu, aku harus diam saja ketika Kakek Pareng mau melahapku hidup-hidup?" tantang Arlan. "Bagaimanapun, Kakek Pareng yang aku lawan bukanlah Kakek yang aku kenal."
"Makanya! Sejak awal, harusnya kamu tidak bergaul dengan mereka! Kami sudah membuatkan sebuah perlindungan yang sempurna untukmu! Semuanya jadi kacau setelah kamu bertemu mereka!"
Arlan membalas pandangan mata Fahmi dengan berani. "Apa sampai sekarang Papa tidak sadar dengan kesalahan Papa?" tanya Arlan, heran melihat ayahnya yang marah. "Menumbalkan Indah untuk jin pelindungku, menumbalkan orang-orang tidak berdosa untuk iblis yang melindungi rumah, lalu apa lagi yang kalian lakukan? Aku yakin, tidak hanya dosa itu saja yang kalian perbuat!"
PLAK!
Lili mendaratkan sebuah tamparan pada Arlan. "Ayahmu melakukan itu untuk melindungimu!" belanya.
"Dengan cara yang salah," jawab Arlan ketus. "Aku tidak akan ikut campur lagi dalam urusan kalian. Kalian sudah dewasa dan aku tidak punya hak dalam menggurui."
"Bu!" Nanda tiba-tiba turun dalam obrolan. "Kamarku cukup besar kalau Arlan mau menginap."
"Hmmm... Apa Arlan tinggal di rumah kita saja untuk sementara, ya?" sambung Gina. Dia menoleh pada suaminya. "Ayah, anak ini perlu waktu untuk merasa tenang. Istirahat di rumah kita bisa jadi pilihan yang bagus."
"Aku setuju-setuju saja. Asal dia bisa menjaga perilakunya pada Manda," suami Gina setuju.
Gina menoleh pada Fahmi dan Lili secara bergantian. "Arlan belum sembuh total. Untuk sementara, biarlah dia beristirahat di rumah kami. Saya akan memastikan bahwa dia dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang. Kalian bisa memakai waktu kalian untuk menjernihkan pikiran."
"Aku tidak setuju!" seru Lili. "Dia anakku! Dia harus berada di dekatku!"
"Mama, aku mohon," Arlan mulai menangis. "Aku capek dengan sikap kalian yang tidak tahu malu," lanjutnya.
Nanda membuka pintu ruang perawatan Arlan. "Oom, Tante, maaf. Tapi teman saya nangis gara-gara kalian. Saya nggak suka lihat dia lebih tertekan daripada ini. Silakan Oom dan Tante pulang dulu."
Fahmi sudah hampir mendebat ucapan Nanda, namun Lili buru-buru memegang lengannya. Lili pikir, sudah tidak ada gunanya di sini karena mereka kalah suara. Arlan yang merupakan anak mereka pun sudah tidak berpihak pada mereka lagi. Fahmi menghela nafas dengan keras, lalu dia pergi begitu saja. Lili sempat melirik ke arah Arlan, tetapi Arlan membuang muka. Lili mengikuti langkah suaminya untuk pergi dari ruangan itu.
Nanda menutup pintu di depannya. Dia geleng-geleng kepala setelah pembicaraan alot tadi. "Bokap lo serem banget! Gue kira, gue bakal ditabok karena berani ngomong begitu."
"Memang harusnya kamu ditabok karena mulut pedasmu itu," sahut ayah Nanda. Beliau berjalan mendekati Arlan yang berbaring di ranjang rumah sakit. "Kita belum kenalan secara resmi. Saya ayahnya Nanda dan Manda. Nama saya Cahya."
Arlan mengangkat tangannya, ingin salim pada Cahya. Tapi, bukan salim yang Arlan dapatkan. Cahya malah mendekap erat tangan Arlan dan mulai menangis. "Terima kasih sudah melindungi Manda sampai akhir. Hutang budi ini akan saya balas dengan cara apapun."
Arlan ternganga dengan ucapan Cahya. Dia tidak pernah berpikir bahwa ayah Manda akan bicara seperti itu padanya. Jika dirunut dari awal, semua ini adalah salah Arlan. Dia yang menempel pada Manda, hingga akhirnya keluarga Manda harus turut campur dalam masalah pribadinya. Tapi, yang dia dapatkan saat ini malah ucapan terima kasih?
"Ti-tidak, Oom! Ini semua salah saya! Saya yang--"
__ADS_1
Cahya mengangkat wajahnya. "Keluargaku yang turun tangan dalam kejadian ini adalah takdir," potongnya. "Namun, keputusanmu untuk melindungi Manda di detik-detik terakhir, adalah pilihan."
***