
Arlan pernah ke rumah ini sebelumnya. Berkali-kali. Namun, saat ini, ketika dia menginjakkan kaki di rumah Dimas lagi, dia merasa asing. Arlan tidak mengenali hawa dingin yang tidak mengenakkan yang dia hirup sedari tadi. Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Terakhir kali Arlan bertamu ke rumah itu, ruang tamu yang sekarang ada di bawah kakinya masih terasa hangat. Tidak ada hal mencurigakan sama sekali. Kakek dan nenek Dimas biasa duduk di sofa tua berwarna coklat sambil menonton televisi. Mereka akan menyambut kedatangan Arlan sembari menawarkan makan malam bersama.
"Sejak kapan tempat ini menjadi begini?" gumam Arlan. Dia mulai berjalan melewati ruang tamu.
Arlan berhenti di pintu pertama, yang merupakan kamar kakek dan nenek Dimas. "Permisi!" sapa Arlan dengan suara rendah. Arlan membuka pintu secara perlahan, berharap akan menemukan wajah familiar di sana.
Kosong.
Kamar itu seakan tidak berpenghuni selama bertahun-tahun. Debu menumpuk di semua permukaan. Lampu ruangan itu menyala temaram. Bau apek memenuhi ruangan itu. 'Bukannya bulan lalu mereka masih di sini? Dimas tidak pernah cerita tentang kakek dan neneknya yang bepergian,' batin Arlan, kemudian menutup kembali pintu kamar itu.
Arlan beralih ke pintu kedua yang berseberangan dengan kamar pertama. Itu adalah kamar Dimas. 'Astaga!' Arlan mundur selangkah, kaget dengan kondisi kamar Dimas. Noda darah ada di segala penjuru. Bau busuk sangat menyengat. Arlan menyusuri tempat itu dengan cepat. Bangkai tikus ada di mana-mana, menjelaskan darimana bau busuk itu berasal. Bangkai-bangkai yang tidak lagi utuh itu, bahkan dikerubuti belatung dan lalat.
BRAK!
Arlan menutup pintu kamar Dimas secepatnya. Dia tidak tahan dengan apa yang dia lihat. Arlan tahu bahwa Dimas sudah dirasuki iblis atau semacamnya hanya dengan melihat bagaimana kamar Dimas tadi.
"Semoga Dimas masih bisa diselamatkan," doanya sebelum beranjak.
Arlan menoleh ke kanan dan kiri. Ada pintu berjarak lima meter tadi kamar tadi. Setahu Arlan, dua kamar itu tidak terpakai. Kata Dimas, ketika orangtuanya masih hidup dulu, salah satunya adalah kamar merek. Satunya lagi, disiapkan untuk tamu-tamu yang datang menginap. Arlan tidak mengindahkan kedua kamar itu. Dia segera menuju ke belakang, ke arah dapur rumah Dimas. Arlan ingat, di sana ada satu pintu yang tidak boleh Arlan dekati semenjak dia bertamu ke rumah Dimas.
Drap! Drap! Drap!
Arlan menuruni tangga dua-dua agar cepat sampai di bawah. Dapur itu tidak begitu besar dan tampak seperti dapur pada umumnya. Hanya saja, saat ini, tempat itu terlihat seperti tempat jagal bagi Arlan. Tulang-belulang berserakan di lantai dan di atas meja makan. Kepala ayam membusuk di dekat tempat cuci piring. Bau apek bercampur bau busuk memenuhi udara.
Berusaha tidak terpengaruh pada hal itu, Arlan langsung melesat ke bawah tangga, tempat pintu terlarang yang selama ini tidak pernah dia jamah. Tangannya gemetar saat memegang gagang pintu. Arlan sudah bersiap untuk serangan yang akan dia terima. Namun, sampai ketika pintu itu terbuka lebar, tidak ada apapun yang terjadi. Di depan Arlan hanya membentang anak tangga menuju ke bawah dengan ujung yang tidak terlihat. Lampu kecil menyala berkedip-kedip di atas kepalanya. Arlan merogoh kantong celananya, mengeluarkan handphone dan menyalakan lampu flash.
"AAAAAAAKKKHH!!!"
"Manda!" Arlan menegang ketika jeritan Manda terdengar dari bawah kakinya. Tidak diragukan lagi, Manda pasti disekap di ruang bawah tanah itu. Arlan mempercepat langkahnya menuruni satu demi satu anak tangga. Tangan kirinya memegang handphone, sementara tangan satunya bersiap dengan perisai buatannya sendiri.
'Tenanglah, Arlan! Ingat, lo nggak boleh sampai tersulut emosi!' kata Arlan di dalam hati. Arlan cukup khawatir saat ini, karena dia tidak memiliki siapapun untuk menyadarkannya. Dia bisa saja membunuh Larasati tanpa sadar, tapi nyawa Manda juga jadi terancam.
"MANDAAA!!!" panggil Arlan sewaktu dia sampai di anak tangga paling bawah. Arlan menyorot sekeliling, berharap menemukan sosok Manda.
BLAR!!!
Tiba-tiba kobaran api menyala pada obor yang tergantung di dinding ruangan. Jilatan lidah api membuat Arlan bisa melihat sekeliling lebih baik. 'Dia di sini,' batin Arlan, berusaha memperingatkan dirinya sendiri agar tidak teledor.
"Hihihihihi..."
Arlan menoleh ke kanan dan kirinya. Suara tawa melengking itu datang dari segala arah. "Di mana Manda!?" seru Arlan.
"Wah... Kamu mengkhawatirkan gadis itu?"
__ADS_1
Arlan berbalik ke belakang, walau dia tahu, tidak ada siapapun di sana. "MANDA!!!" serunya lagi.
"Bagaimana dengan nyawamu?"
"MANDAAA!!!"
"Maukah kamu menukar nyawamu dengan nyawa gadis itu?"
BRAK! BRAK! BRUG! BRUG! BRUG!
Dinding bata yang ada di depan Arlan tiba-tiba roboh. Arlan mundur beberapa langkah karena semburan debu yang muncul. Betapa kagetnya Arlan saat membuka mata dan mendapati Manda ada di sana. Bersimpuh dengan wajah pucat. Darah kering menutupi pelipis dan pipinya. Sorot mata Manda yang sangat Arlan sukai menjadi layu.
"MANDA!" Arlan berlari, hendak menghampiri Manda.
BUAG!!!
Arlan terpental hingga membentur anak tangga sangat keras karena Larasati tiba-tiba muncul dan menyarangkan sebuah pukulan di perut Arlan.
"Hihihihi... Siapa bilang kamu boleh mendekat?" ujar Larasati.
Arlan mengerang sembari memegangi perutnya. Rasa mual langsung memenuhi dadanya, hingga kepalanya berputar tidak karuan. Arlan mendongak dengan sisa kesadarannya. Larasati berdiri tidak jauh dari tempatnya. Sosok yang Arlan lihat, sangat berbeda dengan apa yang ada di mimpinya.
Larasati tampak sangat cantik. Kulit putihnya bersinar. Wajahnya yang rupawan terlihat sangat segar dan menggoda. Tubuhnya tinggi semampai, terbalut kebaya merah muda dan kamen batik cokelat. Arlan pun tidak bisa memungkiri bahwa wanita di depannya sangatlah sempurna.
"Waaah... Hebat!" puji Larasati. "Rupanya kamu memiliki bakat alami yang luar biasa. Pantas saja si Pareng itu juga ingin memangsamu."
Arlan tidak bisa menjawab. Kakeknya memang ingin memangsanya kemarin. Arlan mencoba menenangkan diri. Dia harus menemukan celah untuk mendekat pada Manda.
"Aku pikir, aku harus melawan Pareng untuk merebutmu. Aku mau dia merasakan tidak memiliki keturunan sampai akhir hayatnya. Tapi, semuanya menjadi lucu karena dia sendiri mau memangsa cucunya. Hahahahaha!"
"Kalau memang selucu itu, bukannya dendam Anda harusnya sudah selesai?" tanya Arlan.
Larasati berhenti tertawa. Senyuman di wajahnya langsung menghilang. "Kalau begitu, sama saja seperti kamu menyuruhku untuk melupakan bagaimana penderitaanku selama masih hidup karena fitnah kakekmu itu?"
"Apa sekarang, saat Anda sudah mati, Anda merasa tenang?" sindir Arlan. Dia sempat ingin memukul mulutnya sendiri karena berkata selancar itu dan terdengar seperti memprovokasi Larasati.
"Tidak. Tujuanku adalah memangsa semua keturunan Pareng. Setelah memangsa cucu-cucunya, aku juga akan memangsa satu demi satu anak-anaknya. Anak-anak Pareng yang hanya memandangku dalam diam yang dilecehkan oleh Pareng, harus merasakan bagaimana penderitaanku! Mereka tidak akan bisa menghindar dari takdir mereka!"
Arlan menelan ludah dengan susah payah. Perutnya sudah kembali normal. "Anda salah. Orangtua saya saja berani membunuh anak gadisnya sendiri. Menurut Anda, apa mereka peduli dengan apa yang terjadi pada saya?"
"HAHAHAHAHAHA!!!" tawa Larasati semakin menjadi. Suara melengking itu memenuhi ruang bawah tanah, membuat telinga Arlan berdenging. "Itulah yang lucu dari keluargamu! Busuk! Kalian semua busuk!"
WHUUUSSSHHH!!! BLARRR!!!
__ADS_1
Arlan melemparkan sebuah bola api ke arah Larasati. Larasati yang telat menyadarinya walau sempat menghindar, terkena di bagian lengan kiri. Arlan bergegas menggunakan kesempatan itu untuk berlari ke arah Manda.
"Manda!" Arlan menarik Manda ke dalam pelukannya.
PHAAANGGG!!!
Secepat kilat, Arlan membuat pelindung. Untuk sementara waktu, Larasati tidak akan bisa melakukan apapun pada mereka. Arlan sudah melatih kekuatan pelindung yang dia buat selama ini.
"Manda, bertahanlah," pinta Arlan sambil menggunakan kekuatan penyembuhnya pada Manda.
"Kenapa... lo... sendiri?" Manda bertanya dengan suara terbata-bata.
"Cuma gue yang bisa masuk," jawab Arlan. Dia meneliti keadaan Manda. Gadis di pangkuannya itu tidak dalam keadaan baik. Tidak mungkin bagi Manda untuk menggunakan kekuatannya saat ini. Kalaupun Arlan rela memberikan nyawanya pada Larasati, tidak ada jaminan bahwa Manda bisa keluar hidup-hidup dari rumah Dimas.
"Lan..."
"Diam!" Arlan kembali berkonsentrasi.
"Cinta monyet yang mengharukan," Larasati sudah berdiri tegak di depan mereka. "AAARRGGHH!!!"
BUAG! BUAG! BUAG! BUAG! BUAG!
Larasati memukul-mukul pelindung Arlan dengan membabi-buta. Matanya berkilat menakutkan. Arlan kaget melihat tangan kurus Larasati bisa mengeluarkan tenaga sebesar itu. Pantas saja perutnya hampir hancur tadi.
"Pelindung gue cukup kuat," bisik Arlan pada Manda yang menatap khawatir ke arah Larasati. "Gue punya cukup waktu sampai lo merasa lebih baik."
Manda memegang tangan Arlan. "Gunakan kekuatan lo untuk memusnahkan dia, Lan!"
Arlan menggeleng lemah. "Gue nggak berani," akunya. "Nggak ada Ibu di sini yang bisa menyelamatkan lo dari amukan gue."
Air mata mulai menetes membasahi pipi Manda. "Maaf... Gue nggak hati-hati... Harusnya nggak begini..."
"Diam! Ini bukan salah lo!" Kalimat itu memang terdengar klise di telinga Manda. Tapi, bagi Arlan, kalimat itu juga yang menyelamatkannya dari rasa bersalah ketika Gina mengucapkannya beberapa saat lalu.
"Cukup, Lan..." pinta Manda. Dia mendorong tangan Arlan menjauh. "Pakai tenaga lo untuk menghancurkan dia."
"Tapi--"
Manda tersenyum. Senyuman yang membuat dada Arlan terasa teriris. "Gue akan bertahan di sini. Kita janji kencan, kan?"
Arlan menggigit bibir bawahnya. Tenggorokannya tercekat. Air mata tertahan di pelupuk matanya. Arlan melepas jaket yang dia kenakan dan meletakkan kepala Manda di atasnya. "Tunggu aku," ujarnya pada Manda. "Istirahat dan lihat aku yang mau terlihat keren ini!"
Manda tertawa pelan mendengar ucapan Arlan. Ini pertama kalinya dia merasa lega. Bukan karena putus asa dan siap menerima kematian, tapi berkat perkataan Arlan. Mereka memang tidak bisa memastikan kalau Arlan akan tetap sadar jika dirinya yang lain bangkit. Setidaknya, mereka masih memiliki Tuhan untuk berharap. Mereka yakin, jalan yang dipilihkan Tuhan adalah jalan terbaik bagi mereka.
__ADS_1
***