
Agus terduduk lesu di ruang tamu rumahnya yang beralaskan tikar. Meskipun Andi sudah dimakamkan, tapi ia masih tidak rela sang anak begitu cepat pergi meninggalkannya.
Rumah Andi yang sempit kini dipenuhi para pelayat yang ingin ikut mengucapkan duka cita. Tak terkecuali Pak Yanto. Pria tinggi besar itu duduk di sebelah Agus dan istrinya.
"Ini ada sedikit bantuan dari kami sekeluarga. Semoga bisa membantu." Pak Yanto memberikan satu buah amplop coklat yang berisi uang lima juta pada Agus. "Kamu juga saya izinkan cuti bekerja selama tiga hari selama masa berkabungmu, Gus."
Agus menerima amplop tebal itu sambil menunduk. "Terima kasih. Pak Yanto sudah begitu banyak membantu keluarga saya. Kami tidak tahu bagaimana harus membalas jasa dan kebaikan Bapak."
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Kita sebagai manusia harus saling membantu," ucap Pak Yanto sambil menepuk pelan bahu Agus. "Saya mau pamit pulang dulu. Toko gak bisa saya tinggal lama-lama."
Setelah berpamitan dengan Agus dan Aminah, Pak Yanto beranjak pulang. Agus memberikan amplop itu pada istrinya untuk disimpan di kamar.
Tak lama setelah kepulangan Pak Yanto, dua rekan kerja Agus yang semula duduk di pojok rumah, kini bergerak mendekati Agus.
"Gus, aku dan Imam mewakili teman-teman dari toko mengucapkan turut berduka cita." Rudi mengeluarkan amplop putih dari dalam saku celananya. "Ini ada sedikit ucapan belasungkawa dari kami."
"Tidak usah, Rud. Kalian sudah datang saja kami sangat senang."
"Tolong terimalah, Gus. Kami semua ikhlas," ucap Rudi tulus.
Agus menerima amplop dari Rudi dengan rasa haru. Teman-temannya di toko juga memiliki keadaan ekonomi yang tak jauh beda dari Agus. Namun ternyata mereka masih sempat menyisihkan sebagian penghasilannya untuk diberikan pada Agus yang sedang berduka.
"Kalau boleh saran, uang sumbangan dari Pak Yanto jangan kamu pakai ya, Gus," usul Rudi.
Agus mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa, Rud?"
"Mungkin maksud Rudi sebaiknya uang itu disimpan dan ditabung. Iya kan, Rud?" sela Imam sambil diam-diam mencubit perut Rudi.
Imam dan Rudi saling tatap. Mereka lalu sibuk bicara berdua sambil berbisik-bisik, yang membuat Agus makin keheranan.
"Kalian kenapa?"
"Oh, enggak. Anu ... ini si Imam mau ngajak pulang. Katanya dia gak sempat bilang sama orang di rumahnya kalau mau kesini. Imam takut istrinya nungguin dia pulang," jawab Rudi sambil menggaruk kepalanya.
"Oh. Kalau kalian sudah mau pulang gak apa-apa. Makasih ya sudah datang. Makasih juga untuk teman-teman yang lain atas bantuannya."
Imam dan Rudi bersalaman dengan Agus dan Aminah yang masih menangis. Mereka berdua segera keluar dari rumah kontrakan Agus yang masih dipenuhi para pelayat.
"Kenapa kamu bilang begitu sama Agus?" tanya Imam saat mereka sudah berada agak jauh dari rumah Agus.
"Aku gak tega melihat Agus dan istrinya, Mam."
"Tapi kamu juga harus mikir. Kalau sampai bos kita tahu, dia pasti bakal marah. Kamu mau dijadikan Pak Yanto korban selanjutnya?"
***
"Pak, tolong Andi."
Agus melihat anaknya Andi sedang berjalan di atas bara api. Ditangan dan kedua kakinya terikat rantai panjang. Agus juga melihat ada sebuah kalung besar dari besi yang mengikat leher anaknya.
__ADS_1
"Andi gak mau disini, Pak. Andi mau sekolah. Mau tinggal sama Bapak dan Ibu lagi."
Andi berhenti berjalan di atas kobaran bara api dan menatap bapaknya sambil menangis. Agus ingin sekali menolong sang anak tapi entah kenapa kakinya tak bisa digerakkan, seperti sudah terpaku di tanah.
"Cepat jalan."
Sesosok makhluk berbadan besar, tinggi dan hitam tak segan mencambuk tubuh Andi, karena bocah itu berhenti berjalan di atas tumpukan bara yang teramat panas. Makhluk itu terlihat sangat mengerikan dengan mata yang merah menyala seperti bola api kecil, dan sepasang tanduk besar yang sedikit melengkung di bagian ujungnya.
"Andi!" panggil Agus nyaring. Dilihatnya sang anak meringis kesakitan terkena cambukan. Kaki dan tubuhnya yang mungil bahkan sampai melepuh.
"Andi, ini Bapak, Nak."
Agus kembali berteriak. Ia tak sanggup menyaksikan anak sekecil itu mendapat siksaan yang amat pedih. Namun sayangnya, Agus tak sanggup untuk melakukan apapun. Bahkan untuk bergerak sedikit saja ia tak mampu.
"Andi!"
Agus kembali mencoba meraih tubuh Andi, tapi hanya udara yang bisa ia genggam. Pria itu lalu memejamkan mata sebentar karena hawa api yang sangat panas. Saat mata itu kembali terbuka, Agus keheranan sendiri menatap sekelilingnya. Ia tak lagi berada di tempat yang penuh nyala api. Kini dirinya sedang berada di atas ranjang, di dalam kamar tidurnya yang sederhana.
"Astaghfirullah," ucap Agus sembari mengusap wajahnya. Ternyata hal buruk yang tadi disaksikannya hanya sebuah mimpi.
"Kenapa, Pak?" tanya Aminah yang terbangun karena teriakan Agus. "Bapak mimpi Andi, ya?"
Agus hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kita salat tahajud ya, Pak. Biar Bapak tenang, sekalian kita kirim doa untuk Andi."
Agus dan Aminah segera turun dari ranjang dan mengambil wudhu. Saat sajadah telah digelar, mereka mulai khusyuk dalam menunaikan salat. Di atas sajadah panjang, Agus tak kuasa menahan tangisnya.
***
Beberapa malam setelah kematian Andi, Pak Yanto menuju sebuah kamar di dalam rumahnya. Kamar itu bukan kamar biasa, karena Bos pemilik lima toko bangunan itu tak pernah membiarkan seorang pun masuk ke dalam sana selain dirinya. Kamar misterius itu juga dibiarkan tak terawat dan tanpa penerangan.
Pak Yanto mengambil kunci kecil dari saku kemeja dan membuka gembok yang tergantung pada rantai besi. Setelah gembok terbuka, ia menggulung rantai itu yang sebelumnya digunakan untuk mengikat gagang pintu.
Saat pintu kamar dibuka mulai tercium bau apek yang menyengat, karena kamar itu selalu dibiarkan gelap gulita, tanpa ventilasi dan jendela.
"Aku sudah menjadi pengikutmu selama bertahun-tahun. Ada begitu banyak tumbal yang telah aku berikan. Tapi kenapa kekayaanku hanya bertambah sedikit? Aku mau harta yang banyak." Pak Yanto mulai bicara sendirian di dalam kamar kosong dan pengap itu.
"TUMBAL YANG BESAR AKAN MEMBERIKAN HASIL YANG BESAR JUGA. Kau tahu itu sejak awal, Yanto," jawab sebuah suara tanpa wujud. Suaranya begitu besar, menggelegar dan mengerikan.
Namun Pak Yanto tak gentar sedikitpun. Ia sudah biasa mendengar suara makhluk tak kasat mata yang selama ini telah memberikan kekayaan padanya.
"Tumbal yang besar," ulang Pak Yanto sambil berpikir. Ia mulai memahami apa arti dari perkataan makhluk halus itu.
"Baiklah. Akan aku berikan kau tumbal yang besar."
Pak Yanto keluar dari kamar itu dan menguncinya kembali. Tak lama berselang setelah Pak Yanto meninggalkan kamar gelap itu, terdengar teriakan nyaring dari lantai dua.
"Papa mau bawa aku kemana?" tanya Sari, putri bungsu Pak Yanto yang baru duduk di kelas enam SD. Ia menjerit dan meronta-ronta saat Pak Yanto memaksanya keluar kamar.
__ADS_1
"Sudah, jangan banyak tanya. Kamu itu sebagai anak harusnya nurut sama orang tua. Lagi pula ini juga untuk kelangsungan hidup keluarga kita," ucap Pak Yanto sambil tetap mencengkeram lengan Sari dengan kuat.
"Papa mau bawa Sari kemana?" tanya Dewi, istri Pak Yanto yang menghadang mereka di ujung tangga.
"Jangan ikut campur," bentak Pak Yanto sambil mendorong istrinya hingga terjatuh ke lantai. Kening Bu Dewi tak sengaja terbentur ujung meja, menimbulkan luka lecet dan memar. Bahkan mulai ada tetesan darah segar yang muncul di dahinya.
"Berhenti! Lepaskan Sari, Pak!" teriak Bima, putra sulung Pak Yanto.
Bima yang baru pulang kuliah dibuat terkejut dengan keadaan mamanya yang tersungkur di lantai dengan kening yang berdarah. Ditambah melihat Pak Yanto yang tega menyeret adik bungsunya.
"Bima tahu, Papa mau bawa Sari untuk diberikan pada makhluk laknat itu, kan?" ucap Bima dengan nada berapi-api.
"Makhluk laknat kamu bilang?" bentak Pak Yanto. "Makhluk itulah yang memberikan kita harta kekayaan. Uang yang selama ini keluarga kita nikmati."
"Andai bisa memilih, Bima lebih suka kehidupan kita yang dulu."
"Kehidupan yang mana? Yang miskin? Yang melarat? Yang untuk makan saja pun susah? Selalu dipandang rendah oleh orang lain dan dikucilkan? Bermimpi pun Papa tak mau!" tegas Pak Yanto dan kembali menyeret anak perempuannya untuk dibawa ke kamar menyeramkan itu.
"Kalau Papa memang harus mengorbankan anak sendiri sebagai tumbal, biarlah Bima saja yang melakukannya."
"Apa kamu yakin?" Pak Yanto menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap tajam pada Bima.
"Ya, asalkan Papa berjanji tak akan pernah mengorbankan Mama dan adik-adik Bima."
"Tolong jangan lakukan itu, Nak." Bu Dewi memeluk pria berusia sembilan belas tahun itu dengan erat. Diusapnya wajah tampan putranya diiringi air mata yang menganak sungai.
Panas, hujan, susah, dan senang sudah mereka lewati bersama. Bu Dewi telah berjuang keras membesarkan sang anak, ia tak rela melihat hidup putranya berakhir menyedihkan seperti ini.
"Gak apa-apa, Ma. Bima rela jadi tumbal asalkan Mama dan adik-adik selamat," lirih Bima sambil mengusap air mata di pipi wanita yang telah melahirkannya.
Bima mencium pucuk kepala Sari dan memeluknya dengan erat, seperti sebuah salam perpisahan. "Abang titip Mama ya, Dek."
"Ayo, Bima." Pak Yanto menyeret Bima menuju kamar terkutuk tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Untuk terakhir kalinya Bima memandang Mama dan adiknya yang menangis sambil saling berpelukan. Bima tak menyesal melakukan ini jika itu bisa melindungi Mama dan keempat adiknya. Semoga saja pengorbanan besar dari Bima ini nantinya tak sia-sia.
Sedangkan Pak Yanto yang sudah gelap mata, mendorong Bima masuk ke dalam kamar pengap nan gelap itu. Pintu segera dikuncinya dari luar, ia takut Bima berubah pikiran dan melarikan diri.
Jangankan anaknya Agus, anak sendiri saja rela ia korbankan. Mata dan hati Pak Yanto telah lenyap, tertutup kabut tebal harta duniawi. Ia seakan lupa bahwa harta yang ia perjuangkan mati-matian tak akan kekal.
Pak Yanto mencengkeram gagang pintu saat terdengar teriakan Bima yang menyayat hati dari dalam kamar. Saat ini makhluk buas itu pasti sedang mencabik-cabik dan menyantap tubuh anaknya hidup-hidup. Namun Pak Yanto mengeraskan hatinya. Sebentar lagi ia akan mendapatkan ganti berupa harta dan kekayaan yang melimpah ruah.
TUMBAL YANG BESAR AKAN MEMBERIKAN HASIL YANG BESAR JUGA.
***
**Terima kasih buat temen-temen yang sudah membaca cerita ini. Jangan lupa vote dan komennya juga.
Facebook : Affrilia
__ADS_1
Instagram : @afrilia_athaara**