
Hari demi hari berlalu. Arlan menghabiskan sebagian waktunya dengan melatih kemampuannya dalam ilmu kebal dan ilmu penyembuh. Dia ingin, di saat yang tepat nanti, dia bisa melindungi Manda dan Nanda.
Beberapa kali Lili memergokinya pulang terlambat dan diantar Nanda. Pak Imam bukannya tidak melarang Arlan. Dia bahkan sudah menyerah untuk menyeret anak majikannya itu agar pulang tepat waktu. Arlan semakin berani untuk membangkang. Dia juga tidak segan-segan bertanya di mana lagi orangtuanya menyimpan jasad-jasad orang yang mereka gunakan sebagai tumbal.
Berbeda dengan Lili yang masih merasa khawatir dengan Arlan, Fahmi tidak begitu. Arlan berhasil membuatnya kesal dan angkat tangan dari kehidupan Arlan. Dia bahkan mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa dia tidak akan peduli lagi jika Arlan akhirnya mati di tangan Larasati.
Malam itu, suasana cukup dingin. Hawa dingin bahkan menusuk hingga ke tulang-belulang. Perkiraan cuaca mengatakan bahwa malam ini akan ada hujan badai.
Manda dan Nanda sudah ada di rumah Arlan sejak senja menjelang. Gina yang meminta mereka berada di sana malam ini. Gina mendapatkan mimpi buruk tentang Arlan. Namun, dia tidak mungkin berada di sana karena itu akan menimbulkan gosip yang tidak perlu. Jadilah hanya Manda dan Nanda yang pergi ke rumah Arlan sepulang sekolah dan menunggu kejadian buruk apa yang akan terjadi malam ini.
Manda menengok ke luar jendela, di mana awan hitam melayang-layang rendah. Suara gemuruh petir terdengar dari tempat yang tidak begitu jauh. "Pelindung rumahnya... menipis," ujar Manda.
"Orangtua gue sepertinya sudah tidak begitu peduli dengan keselamatan gue," sahut Arlan yang duduk di sofa ruang tamu.
"Tapi ini tidak baik," tambah Manda. "Lo tahu sendiri kalau perjanjian dengan jin, tidak semudah itu untuk dibatalkan ataupun diakhiri. Siapa kuat, dia yang menang."
"Gue pikir, mereka sudah tahu apa konsekuensi dari tindakan mereka. Mereka bukan anak-anak lagi," jawab Arlan. Sebenarnya, meski dia mengatakan hal itu, dia merasa sedih dengan apa yang orangtuanya lakukan. Arlan mengerti kalau orangtuanya ingin menolong dirinya. Tapi, cara mereka yang salah tidak bisa dijadikan contoh bagi Arlan.
"Ada kabar dari temen gue," Nanda yang sedaritadi menatap layar handphone-nya, mendadak duduk tegak. Matanya membulat. "Katanya, mereka menemukan 'sarang' jin lagi. Kali ini ada enam mayat dan satu diantaranya masih baru."
Arlan menelan ludah dengan susah payah. "Sudah lapor polisi?" tanyanya.
Nanda menoleh pada Arlan dan mengangguk. "Sedang menuju ke TKP."
"Lo nggak apa-apa?" Manda berjalan mendekati Arlan, kemudian duduk di sebelahnya.
Arlan mengangguk keras, meski hatinya menggeleng. "Gue harus menghadapi ini."
"Orangtua lo di mana?"
Arlan mengangkat bahunya. "Nggak tahu. Mungkin ngurus jin-jin mereka yang ngamuk?" Arlan menjawab asal.
"Kalau nanti lo nggak ada tujuan, lo bisa tinggal di rumah gue," celetuk Nanda tiba-tiba.
"Bukan lo yang memutuskan," sahut Manda.
"Nanti gue yang tanya sama Ibu dan Ayah," lanjut Nanda. "Berita-berita orang hilang dan penemuan jasad sudah berkurang belakangan ini."
Manda geleng-geleng kepala karena saudara kembarnya tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. "Artinya, memang tumbalnya berkurang."
__ADS_1
"Itulah sebabnya garis pelindung di rumah ini juga menipis."
"Apa itu alasan Ibu meminta kita ke sini?"
Nanda mengangguk. "Kita harus bersiap dengan kemungkinan paling bu--"
DHARRR!!!
Ketiga remaja yang ada di ruang tamu, refleks menunduk karena bunyi ledakan di atas kepala mereka. Tidak lama kemudian, suara gemuruh hujan terdengar memenuhi ruangan. Arlan, Nanda, dan Manda saling bertukar pandangan. Mereka bertiga merasakan hal yang sama. Bulu kuduk mereka meremang dan perasaan ngeri langsung menyergap mereka. Lama-lama, hidung mereka mencium bau busuk yang luar biasa.
"Ta-tadi itu bukan bunyi petir, ya?" Manda memecah kekakuan diantara mereka.
Arlan buru-buru meraih tangan Manda. "Pastikan lo selalu ada di dekat gue," pintanya.
"Mohon maaf, gue nggak kelihatan, ya?" sindir Nanda yang hanya dijawab cengiran dari Arlan. "Hhh, ayo kita siap-siap dengan apapun yang akan datang!"
GGGRRRRRRRRR!
Mereka menoleh ke arah tangga yang terlihat dari ruang tamu, tempat di mana suara geraman itu berasal.
"Dia masuk!" desis Nanda dan langsung memasang kuda-kuda. Dia siap untuk bertarung.
Manda melakukan hal yang sama. Kini, dia lebih percaya diri karena sudah lebih banyak berlatih ketimbang tempo hari. "Jangan jauh-jauh. Lo harus segera menyembuhkan luka kami," bisik Manda pada Arlan.
"Makananku... Makananku... Aku lapar... Ggggrrrrr..."
Arlan tidak berkedip ketika melihat sosok bertubuh setinggi langit-langit rumah mereka, tengah menuruni tangga. Jari-jari kakinya yang panjang mencengkeram setiap kali melewati anak tangga. Tangannya bergelayut di kedua sisi tubuh, terseret setiap makhluk itu maju ke depan.
"Baunya busuk banget!"
Suara Nanda membuat Arlan sadar. Dia sempat ketakutan dengan sosok di hadapannya, sampai lupa apa yang sedang dia lakukan.
Semakin makhluk itu mendekat, Arlan semakin yakin kalau itu adalah kakeknya. Wajah kakeknya menjadi lebih tua dari terakhir kali Arlan melihatnya. Matanya hitam berkilat. Ketika menyeringai, gigi runcing memenuhi mulut Pareng. Bau busuk menguar semakin keras setiap langkah yang makhluk itu ambil.
"Akhirnya... Bisa masuk... Lapar... Gggrrrr..." Pareng menyeringai semakin lebar, sadar Arlan ada di hadapannya.
"Maju sekarang?" bisik Manda.
"Dia duluan," balas Nanda. "Lan, siap-siap dengan perisai!"
__ADS_1
"Oke." Arlan memusatkan pikirannya. Dia tidak melepaskan pandangannya dari Pareng. Dia juga memancarkan gelombang ke sekitar mereka untuk berjaga-jaga jika ada pergerakan agresif dari segala arah.
Seringai Pareng menghilang saat Arlan memancarkan gelombang pelindung. Rupanya, dia tidak menduga bahwa Arlan belajar menggunakan kemampuannya.
"Awas, Lan! Dia jadi waspada!" kata Nanda tanpa menoleh. Matanya meneliti setiap pergerakan Pareng.
"Makananku... Makananku..." geram Pareng. Liur menetes dari ujung mulut busuknya. Wajahnya lama-lama berubah menjadi wajah marah. "MAKANANKUUU!!!" serunya dan langsung lompat untuk menerjang tiga remaja di depannya.
PHAANGGG!!!
Arlan membentangkan tangannya, membuat perisai tepat di depan hidung Pareng. Detik berikutnya, Pareng terpental karena membentur perisai Arlan.
"AAAAARRRRGGGGGHHHHH!!!"
Arlan tahu bahwa Pareng murka. Dia memasang kuda-kuda, bersiap kalau-kalau ada benturan kekuatan antara mereka.
"SEKARANG!" Nanda tiba-tiba melesat, diikuti Manda yang tidak kalah cepatnya.
Arlan segera menyusul, tidak membiarkan Nanda dan Manda menjauh dari jangkauannya. Dia harus memastikan mereka berdua tidak terpental ke arah yang salah dah memberikan luka fatal untuk mereka. Jika bisa, Arlan akan membentuk perisai setiap kali Pareng melakukan serangan.
"AAAARRRGGHHH!!!! SIALAAAAANNN!!!!" erang Pareng ketika menerima pukulan bertubi-tubi dari Nanda dan Manda. "CURAAAANNGGG!!!"
"Hehehe," Nanda malah terkekeh. "Lo pakai kekuatan jin dan iblis, tapi masih bisa bilang kami curang?" sindirnya. "Terima saja!" Dia melesat lagi, diikuti Manda. Namun kali ini Pareng sudah siap. Dia menghindar dan hendak menancapkan cakarnya di punggung Nanda yang melewatinya.
PHANG!!!
'Nice timing!' batin Arlan sewaktu berhasil menghalau serangan Pareng. Tangan Pareng terpental, membuat beberapa cakarnya patah.
BHUAKKK!!!
Serangan mendadak dari Manda mendarat sempurna di belakang kepalanya. Pareng terhuyung ke depan. Dia jatuh berlutut. Arlan segera berlari mendekati Manda. Arlan teringat bagaimana Manda terluka ketika bersentuhan langsung dengan surai jin singa tempo hari.
Arlan memeriksa kaki kanan Manda dengan cepat. Lututnya berada di posisi yang tidak seharusnya. "Sakit?"
"Keseleo," kata Manda.
"Nan, tahan dia semenit!" pinta Arlan. Arlan tidak bisa menggunakan ilmu kebalnya jika ingin menggunakan kekuatan untuk menyembuhkan.
"Lihat... Apa itu..." Pareng bangkit dari jatuhnya. Matanya melebar saat melihat Arlan menggunakan kekuatan penyembuh. "Makananku... Hebat... Lapar... Lapar..."
__ADS_1
"Waduh... Masalah besar, nih," gumam Nanda, sadar bahwa Pareng makin menginginkan jiwa Arlan.
***