TUMBAL

TUMBAL
Kerja Tim


__ADS_3

Arlan merebahkan diri di atas tanah kering. Ototnya menjadi kaku. Kedua tangan dan kakinya kebas. Namun, dia sudah bisa mengatur nafas kali ini. Walau kepalanya agak pening, dia masih bisa mendengar suara gelak tawa Nanda dan Manda di sebelahnya.


Menang!


Hanya itu yang dapat Arlan simpulkan setelah melewati pertempuran mendadak di siang bolong. Arlan tidak menyangka kalau mereka akan menang melawan makhluk-makhluk itu tanpa bantuan Gina.


"Keren banget, kan?" Nanda bertepuk tangan riuh. Bajunya sudah tidak berbentuk lagi. Arlan sedikit iri dengan tubuh Nanda yang sexy.


"Kayaknya aku harus mulai olahraga yang benar," Manda menimpali, sambil sesekali tertawa.


Arlan menoleh ke arah Manda. Dia membiarkan matanya jernih untuk beberapa saat dengan memandang wajah tertawa Manda. Manda yang menyadari tatapan Arlan, langsung membalasnya dan tersenyum. "Makasih..." kata Manda dengan wajah teduh.


"Sejak kapan lo punya kekuatan penyembuh kayak gitu?" tanya Nanda.


"Nggak tahu," suara Arlan masih terdengar lesu.


"Nan! Cek sebelah sini!" salah seorang teman Nanda memanggilnya dari kejauhan. Nanda pun pergi tanpa berpamitan. Arlan merasa bersalah karena dia tidak bisa menyembuhkan luka-luka Nanda terlebih dulu sebelum Nanda pergi. Tapi, tenaganya sudah banyak terkuras. Untuk menampik seekor semut yang menggigit tangannya saja, Arlan sudah tidak sanggup.


"Kita baiknya nunggu Nanda supaya bisa pulang bareng. Gue sudah nggak punya tenaga lagi," ujar Manda. Arlan setuju saja. Dia juga mau beristirahat lebih lama lagi walau sinar matahari membakar wajahnya.


Hari mulai sore. Langit masih cerah kebiruan, tetapi matahari sudah mulai condong ke ufuk Barat dunia. Selama teman-teman Nanda kembali bekerja, Arlan dan Manda menghabiskan waktu mereka dalam diam. Arlan dapat melihat Manda tetap memperhatikan sekitar.


"Ugh!" Arlan memegang dadanya ketika hendak duduk. Dengan sigap, Manda membantunya bangun. "Badan gue pegel semua."


"Besok akhir pekan. Ayo pergi ke tukang pijat," sahut Nanda sembari tertawa pelan. "Kalau lo mau istirahat atau tidur--"

__ADS_1


"Nggak. Bukan waktunya untuk tidur," tolak Arlan. "Apa mereka mengumpulkan tulang belulang?"


"Iya. Mereka harus bergerak cepat, sebelum yang punya tanah datang. Pastinya yang punya tanah ini, saat ini sudah sadar kalau ada yang mengusik tempat mereka menyembunyikan mayat-mayat."


"Terus terang saja. Pasti yang punya tanah ini adalah orangtua gue."


Manda meraih tangan Arlan. Meski Manda mendengar Arlan bicara dengan nada suara mantap, namun Manda tetap merasa cemas dengan emosi remaja di sebelahnya. "Lo nggak sendirian."


Arlan tersenyum simpul. Dia menyukai cara Manda menghiburnya. "Gue tahu," jawab Arlan. "Lo bisa dengan bebas bilang kalau ini adalah ulah orangtua gue."


"Meski begitu... Sedikitnya, gue berharap kalau ini bukan karena orangtua lo," bisik Manda.


"Tidak apa. Gue bukan berpura-pura kuat. Tapi, ada lo di sisi gue. Itu sudah cukup." Arlan mengusap bahunya yang pegal. "Gue mau bantu mereka. Mungkin, gue bisa menyembuhkan beberapa luka kecil."


Bau busuk menyengat langsung tercium begitu Arlan berada dalam jarak tiga meter. Arlan mengangkat tangannya untuk menutupi hidung. Bau itu bahkan membuat kepalanya sakit.


"Arlan..." suara Manda bergetar. Dia memegang lengan Arlan agar berhenti mendekati bekas genangan air.


Mata Arlan membelalak melihat hamparan tulang belulang di hadapannya. Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa mayat yang membusuk. Ada juga yang nampaknya meninggal beberapa hari yang lalu. Arlan masih bisa melihat wajah cantik mayat itu meski kulitnya pucat. Tidak ada darah di mayat itu. Dia seperti tertidur.


Manda jatuh bersimpuh. Kakinya lemas. Arlan ikut berjongkok di sebelahnya. "Nggak masuk akal," desis Arlan, masih tidak percaya dengan tumpukan mayat-mayat itu. "Sudah berapa lama mereka menumbalkan manusia seperti ini?"


"Kita nggak mungkin bisa mengevakuasi semua tulang dan mayat ini," tambah Manda.


"Gue jadi sangsi. Jangan-jangan, musuh gue sebenarnya itu orangtua gue sendiri, bukan Larasati ataupun Kakek Pareng."

__ADS_1


"Tegarlah!" Nanda datang menghampiri Arlan. "Lo nggak bisa berhenti di sini. Mencari jejak orang-orang ini juga, adalah keputusan yang lo ambil. Ayo kita selesaikan!"


Arlan mengangguk setuju. Dia memilih jalan ini untuk menegakkan kebenaran yang dia yakini. Dia percaya adanya Tuhan, dan jin-jin sesat itu memang harus disingkirkan. Arlan juga sadar, dia ingin membuat orangtuanya membayar apa yang telah mereka lakukan. Arlan geram jika mengingat orang yang menebas leher adiknya merupakan ayahnya sendiri. Lalu, melihat hamparan mayat di depannya, membulatkan tekad Arlan untuk mengungkap semuanya.


"Bagaimana cara kita melaporkan mayat-mayat ini?" tanya Arlan.


Nanda mengangguk pada laki-laki tinggi jangkung di dekatnya. "Robi akan membuka portal ini selama mungkin. Beberapa orang juga akan berjaga di sekitar sini. Gue sudah menghubungi polisi. Mereka dalam perjalanan. Setidaknya, polisi akan menyelidiki siapa pemilik lahan ini dan identitas mayat-mayat yang masih bisa diidentifikasi."


Arlan menunduk. Dia merasa kecil setelah mendengar perkataan Nanda. "Padahal ini masalah gue," gumamnya. "Tapi kalian lebih mahir."


"Kami terlahir untuk ini," jawab Nanda. Dia tersenyum lebar saat Arlan mengangkat kepalanya. "Lo nggak tahu aja, gimana gue menunggu momen di mana gue bisa memakai kekuatan gue sesuka hati. Kemampuan yang selama ini gue sembunyikan, kekuatan tenaga dalam yang luar biasa, akhirnya bisa gue gunakan!" Nanda mengepal tangannya yang memancarkan cahaya merah. Mata Nanda berkilat. Dia nampak bersemangat.


"Tuh, lo denger sendiri apa jawaban Nanda," bela Manda. "Gue sendiri juga baru tahu, kalau gue punya kekuatan sebesar itu."


"Dan lo, daripada mengeluh, bukannya harusnya bersyukur?" tanya Nanda. "Lo jadi tahu kalau lo punya kemampuan khusus. Lo bisa bantu gue dan Manda. Kalau lo mau, kita bisa jadi tim yang dahsyat!"


"Kita masih perlu belajar," tambah Manda. "Dan kalau nggak keberatan..." Manda melirik dengan wajah agak memerah, "kita bisa belajar sama-sama."


"Lo minta dengan muka kayak gitu, nggak mungkin Arlan nolak lah!" goda Nanda.


Arlan tertawa kecil melihat dua orang yang tadinya adalah orang asing, mampu membuatnya nyaman dalam kondisi terburuk sekalipun. Dirinya amat bersyukur bahwa orang yang dia cintai adalah Manda.


Dari kejauhan, mereka dapat mendengar suara sirine mobil polisi. Arlan melihat semua orang berwajah lega sekarang. Polisi lebih dulu tiba daripada empunya lahan itu. Arlan sudah dapat menebak siapa pemilik lahan itu, meski tidak diberitahu sekalipun.


***

__ADS_1


__ADS_2