
Setelah pertemuan mereka yang sangat emosional tadi pagi, akhirnya Manda mengundang Arlan untuk datang ke rumah mereka sepulang sekolah nanti. Seperti Arlan, Manda setuju bahwa waktu mereka tidak banyak lagi. Jika bisa, mereka ingin menyelesaikan masalah ini bahkan jauh sebelum menjelang hari ulang tahun Arlan.
Seperti biasa, Pak Imam melemparkan pandangan tidak suka setiap melihat Manda. Dia terlihat berhati-hati dengan Manda. Namun, sikap Arlan membuat Pak Imam tidak enak hati. Di lihat dari segi manapun, anak majikannya ini tengah mabuk kepayang dengan Manda. Arlan adalah tipe anak nekat. Pak Imam pernah dibuat repot ketika Arlan SMP dulu, hanya karena Lili tidak memberinya izin pergi bermain ke rumah Dimas. Jadi, yang bisa Pak Imam lakukan, hanyalah menjaga tuan muda kecilnya itu dari dekat.
Pak Imam yang mengantar Arlan hingga sampai di rumah Manda, memilih menunggu di depan rumah. Dia merasa tidak nyaman saat menginjakkan kaki di ruang tamu rumah Manda. Meski tidak berkomentar, Arlan tahu bahwa Pak Imam merasa tidak nyaman karena ilmu hitam yang dibawanya.
"Gue bawakan Pak Imam minum dulu," Manda pamit sambil membawa nampan berisi segelas jus jeruk dingin ke luar.
Arlan duduk santai di sofa ruang tamu. Tidak bisa dipungkiri, rumah itu membuatnya nyaman dan mengantuk. Wangi samar bunga mawar dari halaman depan, suara gemericik air di kolam, dan hawa sejuk ruangan, membuat Arlan terlena. Dia memejamkan mata, berniat istirahat sejenak sampai Manda kembali dari depan.
***
Arlan membuka mata. Dia kaget bukan main karena ada seorang wanita paruh baya tengah duduk di hadapannya, sambil menyeruput teh dari cangkir keramik berwarna putih. Arlan menoleh ke sebelahnya. Ada Manda duduk seraya bermain game di handphone.
"Ma-maaf, gue ketiduran," kata Arlan, panik.
Manda menggeleng santai, matanya tidak berpindah dari layar handphone. "Santai aja. Cuma sejam, kok," jawab Manda. Tidak lama kemudian, dia mematikan handphone-nya. "Gue sampai selesai dua puluh lever, hehehe," sambungnya.
"Nak Arlan," panggil wanita di hadapan Arlan.
"Ya? Ya, Tante? Maaf, Tante! Saya nggak sengaja ketiduran!" Arlan gelagapan.
Gina tersenyum lebar melihat Arlan yang panik sendiri. "Tenang saja. Kamu nggak lagi ujian, kok," jawab Gina. "Pasti capek banget, ya? Kalau berat, kamu harusnya curhat sama anak saya. Yang mana saja bisa diajak ngobrol."
Arlan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya berubah merah. Dia ingin meleleh dan menguap dari muka bumi saat ini, saking malunya. "Ta-Tante... ibunya Manda, ya?" Arlan mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Iya. Nama Tante, Gina," Gina menjawab dengan cepat. "Calon mertua kamu."
"Heh! Ibu!" protes Manda, kaget.
Gina menyeruput teh di tangannya lagi. "Nggak apa. Ibu kasih lampu hijau, kok."
"Ibu! Kenapa jadi ngomong yang di luar topik, sih!?" Manda jengkel. "Manda ajak Arlan ke sini karena Ibu yang suruh, kan? Ibu mau bantu Arlan, kan?"
"Iya," Gina membenarkan. "Sekalian cari mantu."
"IBUUU!!!"
Gina terkekeh mendengar anaknya yang salah tingkah. "Arlan sendiri," Gina beralih. "Suka sama anak saya?"
Manda buru-buru menutup mulut Arlan sebelum dia menjawab. "Ibu! Jangan diteruskan! Kita ada urusan yang lebih penting untuk diselesaikan!" Manda memberi peringatan.
"Hhh... Begitulah anak Tante. Nggak bisa diajak santai. Pikirannya lurus, nggak isi belok sana-sini." Gina meletakkan cangkir teh yang hampir kosong ke atas meja. "Baiklah, sekarang kita mulai ngobrol serius, ya."
__ADS_1
"I-iya, Tante!" Arlan menjawab dengan gugup.
Gina memandang Arlan lekat-lekat. Arlan teringat bagaimana Manda menemukan 'kesalahan' pada dirinya, di saat pertemuan pertama mereka. "Nak..."
"Ya?"
"Cari kerja dulu, baru nikahin anak saya, ya!"
"IBUUU!!!" Manda protes.
"Kenapa lo teriak-teriak, Man?" Nanda tiba-tiba saja muncul dari ambang pintu masuk. Dia menenteng ranselnya dengan asal. Penampilannya benar-benar seperti preman sekolah.
"Aduuuh, itu tas baru sebulan lalu Ibu belikan, sudah robek sana-sini?"
Nanda duduk di sebelah Gina dan menunjukkan ranselnya. "Ini gaya, Bu," belanya. "Keren, kan? Memang gayanya isi robek-robek begitu."
Gina geleng-geleng kepala saja untuk menanggapi celoteh Nanda. "Mumpung kamu di sini. Ayo ceritakan apa yang kamu lihat di masa lalu Dimas!"
"Wih, langsung ke topik, nih? Nggak pakai basa-basi dulu?" tawar Nanda.
"Basa-basinya udah lewat! Lo yang telat datang!" Manda menggerutu. "Buruan cerita ke Ibu! Arlan nggak bisa lama-lama di sini. Emaknya serem!"
"Wah... Kalau kamu ngomongnya begitu, gimana bisa dapat restu dari calon mertuamu nanti?" Gina menasehati.
Gina menunjuk Manda. "Manda sama Arlan."
Nanda bertepuk tangan sambil geleng-geleng kepala. "Cari kerja dulu, Lan! Nikah itu nggak gampang."
Berbeda dengan Manda yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus, Arlan malah tertawa pelan mendengar percakapan Gina dan Nanda. "Makasih sudah menghibur saya," ujar Arlan. "Tapi, saya sendiri nggak yakin apa masih hidup tiga bulan lagi."
Gina tersenyum lebar menanggapi ucapan Arlan, membuat Arlan bingung. Ketika dia menoleh pada Nanda, Nanda juga tersenyum sambil memamerkan giginya. Merasa tidak mengerti, Arlan berpaling pada Manda.
"Ibu bisa lihat masa depan," gumam Manda pelan.
"EEEEEEEHHHHH!?"
"Tapi saya spill sampai sana saja. Kalau terlalu banyak, masa depan juga bisa berubah," sambung Gina.
"Oke, jadi aku yang mulai cerita," Nanda menutup godaan dari ibunya. "Sejauh yang aku lihat, Dimas masih berhubungan dengan Larasati setiap malam jumat. Mereka membicarakan Arlan. Mencari celah sebanyak-banyaknya. Rencana mereka sudah dimulai sejak tiga bulan lalu."
"Di saat gue alami kecelakaan?" tanya Arlan.
Nanda mengangguk setuju. "Itu ulah Larasati. Bahkan, Dimas ada di sekitar sana untuk memantau situasi. Dia berharap Arlan koma, namun tidak sampai mati. Sehingga, Larasati mudah mengambil jiwa Arlan, ketika ilmu kebalnya siap diusia tujuh belas tahun.
__ADS_1
"Kakekmu belum ketemu?" tanya Gina.
Arlan menggeleng. "Nggak ada yang bisa menemukan Kakek."
"Dia juga mengincar ilmu kebal kamu, kan?"
Arlan melirik pada Manda. "Begitu hasil diskusi kami," jawabnya.
"Kamu bisa pakai ilmumu? Tahu caranya?"
Arlan menggeleng lesu. "Pertama kali muncul, itu seperti ledakan. Oh, ya! Saya juga tidak cerita tentang hal ini pada orangtua saya."
Gina menggaruk-garuk dagu runcingnya. "Ayo kita belajar menggunakan ilmu itu dulu. Setidaknya, sebelum pertempuran itu dimulai, kamu sudah punya pegangan untuk melindungi diri sendiri. Atau, bisa juga melindungi orang lain."
"Manda bakalan butuh itu," Nanda menambahkan.
"Kamu juga, Nan," Gina mengoreksi.
"Aku bisa melawan," Nanda memperlihatkan otot-ototnya, merasa bangga dengan latihan fisiknya selama ini.
"Ibu yakin kamu bisa menang melawan manusia. Tapi, kali ini yang kamu lawan adalah makhluk sesat berumur puluhan tahun. Itu nggak akan mudah."
"Lalu, aku latihan berantem sama siapa?" tanya Nanda.
Gina menepuk dadanya. "Sama Ibu juga, dong!"
"Emang Ibu bisa berantem?" Nanda terdengar sangsi. Bagaimana tidak? Gina memiliki perawakan tinggi langsing, seolah tubuhnya akan terbang jika tertiup angin.
Gina berdiri. Dia tersenyum lebar, tampak cantik di mata Arlan, sama seperti Manda. Tiba-tiba Gina mengibaskan tangannya ke arah kanan.
PRANG!!!
Cermin yang tadinya berdiri kokoh di sudut ruang tamu, hancur berkeping-keping. Tidak sampai di situ saja. Telapak tangan Gina yang terbuka, memancarkan cahaya merah muda yang membuat pecahan cermin tidak berhamburan ke mana-mana, hanya di dalam lingkup yang Gina inginkan saja. "Aduh, aduh... Kalau Ayah tahu, Ibu bisa kena marah karena menghancurkan barang lagi," ujar Gina sambil geleng-geleng kepala.
Ketiga remaja yang menjadi penonton, menganga tidak percaya. Mereka bisa merasakan luapan energi yang sangat besar terpancar di sekitar Gina.
"Udah, ya, main-mainnya," Gina menggenggam udara, membuat serpihan cermin berputar cepat searah jarum jam. Tiga detik kemudian, cermin itu telah kembali seperti sedia kala, seolah tidak pernah ada kejadian apapun di sana.
"Ibu lo keren..." gumam Arlan tanpa berkedip.
"Gue juga baru tahu," jawab Manda dan Nanda bersamaan, tidak kalah kagetnya.
***
__ADS_1