TUMBAL

TUMBAL
Kakek


__ADS_3

"Lezatnya... Lezatnya..."


Makhluk berbentuk kabut hitam tebal itu memandang ke jendela kamar tidur Arlan. Mata merahnya yang melotot, makin melebar tiap tirai jendela Arlan bergerak. Semenjak beberapa bulan lalu, makhluk itu selalu memimpikan melahap daging Arlan. Wangi Arlan tidak pernah dia lupakan. Secara spontan, hidungnya mengingat bagaimana nikmatnya wangi Arlan.


"Tidak cukup... Manusia-manusia itu tidak cukup untukku... Aku ingin dia..." gumam makhluk itu. "Gggggrrrrrrrrr!" dia mengepalkan tangan. Lalu, melompat ke arah genteng rumah Arlan. Dia memukul atap rumah secara membabi-buta. Suara dentuman yang berasal dari pukulan beradu dengan atap rumah itu, menggema sangat keras. "KELUAR KAU! KELUAR KAU! KELUAAAAAAARRR!" serunya sambil terus menghantam atap rumah. Perlindungan yang membentengi rumah Arlan membuatnya tidak bisa masuk begitu saja.


Tidak lama setelahnya, Arlan keluar dari rumah. Makhluk itu melihat Arlan berdiri di halaman rumah bagian dalam. "Lihat... Anak itu lezat sekali..." makhluk itu menyeringai. Air liur mulai menetes dari mulutnya. Nafsunya langsung memenuhi isi kepala makhluk itu. Dia ingin melahap Arlan.


BUM! BUM! BUM!


Makhluk itu semakin murka karena pelindung yang mengelilingi rumah. Namun, mangsa ada di depan matanya. Keinginan untuk melahap Arlan saat itu juga, membuatnya gelap mata. Dia terus memukul-mukul dinding perlindungan yang menghalangi niatnya. Sekarang, setelah dia melahap beberapa jiwa manusia, dia merasa lebih kuat dari sebelumnya. Dia akan berusaha memukul perlindungan itu selama yang dia mampu.


***


Arlan berdiri di halaman rumahnya. Dia memandang berkeliling. Kabut tebal berwarna hitam menggantung rendah di atas atap rumahnya. Arlan tahu kalau itu bukanlah kabut biasa. Dia bergegas kembali masuk ke dalam rumah, mencoba mengabaikan suara dentuman keras yang sedaritadi terdengar.


Arlan berlari menuju kamar. Dia meraih handphone dan langsung menghubungi Manda. Tidak perlu waktu lama untuk Manda mengangkat telepon darinya. "Manda!" sambar Arlan saat mendengar sapaan dari seberang.


"Ada apa? Lo baik-baik aja?" Manda yang mendengar Arlan tergesa-gesa, menjadi panik. Dia bahkan sudah menyambar tasnya, hendak berangkat ke rumah Arlan.


"Lo dengar? Suara itu!"


Manda diam untuk beberapa detik. "Ya. Kenapa semakin keras?"


"Dan juga semakin lama," Arlan menambahkan. "Sejak kemarin, suara ini semakin keras dan semakin lama. Dulu gue nggak terlalu terganggu, karena ini nggak berlangsung lama. Tapi sekarang, dentuman itu benar-benar mengganggu."


"Nanda belum menemukan apapun," lapor Manda. "Apa lo merasa aman di sana? Nanda ada di sini. Gue minta dia ke rumah lo sekarang."


"Lo ikut?" tanya Arlan. Dia sendiri kaget karena pertanyaan itu meluncur dengan cepat dari mulutnya. "Mak-maksud gue... Mmm... Lo juga perlu tahu masalah apa yang kita bahas, kan?" kilah Arlan. Pipinya terasa panas hingga ke telinga.


"Itu benar alasan lo?"


"Mmm... Gue... Gue juga... mau lihat... lo..." Arlan berkata pelan.


Manda tidak menjawab untuk beberapa saat. Arlan bahkan tidak mendengar deru nafas atau apapun dari seberang. Arlan sudah siap ditolak untuk kesekian kalinya hari ini. Jantungnya seakan berhenti karena Manda lama tidak merespon.

__ADS_1


"Ah... Oke... Gue ke sana," jawaban Manda di akhir percakapan membuat Arlan ingin menghilang dari muka bumi.


Arlan memandang lama layar handphone di tangannya. "Manda... mau datang? Manda... Manda... nggak nolak." Arlan mengangkat wajahnya. Dia memandang pantulan dirinya di cermin. Arlan tidak membantah bahwa dirinya berantakan saat ini. "Gue harus ganti baju," gumam Arlan.


***


"Kenapa lo bengong?" Nanda yang memasuki dapur, heran melihat saudara kembarnya menatap layar handphone sambil melamun. Nanda hendak mencuci tangan untuk makan malam. Perutnya sudah berlubang saking laparnya. "Kenapa lo belum ganti seragam? Nanti dimarah Ibu, lho!"


Manda menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Barusan Arlan telepon."


Tangan Nanda langsung menutup keran. "Arlan kenapa?" air mukanya berubah. "Dia baik-baik saja, kan?"


"Mmm... Gue nggak yakin."


"Kenapa jawaban begitu?" Nanda mengusap tangannya dengan tissue. "Kita ke rumah dia sekarang?"


"Gue memang bilang bakal ke rumahnya, sih... Tapi tadi, waktu gue bicara lewat telepon, gue nanya alasan dia minta gue datang juga. Maksud gue, mungkin dia merasa takut karena sendirian di rumah. Maunya sekalian gue minta lo nginep aja di sana."


Alis Nanda berkerut. "Terus, apa yang bikin lo bingung?" Nanda merasa tidak mengerti.


"Ah! Elaaaaaahhh!!!" Nanda menepuk keningnya. "Males, deh, gue ada di antara pasangan yang lagi kasmaran!"


"Gua sama Arlan bukan pasangan!" bentak Manda.


"Yah, belum resmi aja. Tinggal tunggu waktu Arlan nembak lo, kan?"


Manda mendengus sebal. "Kalau emang nunggu itu, kenapa lama banget?" gerutu Manda.


"Hah? Apa? Gue nggak denger."


"Dibanding gue, Arlan itu lebih cocok sama kakak kelas yang namanya Karin. Kalau masalah ini selesai, gue yakin dia bakalan lebih deket ke Karin ketimbang ke gue."


Nanda tersenyum miring. "Cieh, cemburu," godanya.


"Bukan cemburu. Gue cuma bicara realita." Manda menyampirkan tas selempangnya. "Kita bahas hal lain saja."

__ADS_1


"Lo nggak ganti baju dulu, baru kita berangkat ke rumah Arlan?" usul Nanda. "Penampilan lo agak lusuh. Muka lo kucel. Dan..." Nanda mengendus bau Manda, "... agak tidak sedap."


"Seriusan!?" Manda mengendus dirinya-sendiri. "Gue ganti baju dulu. Lo siapin motor, ya!"


"Oke, oke~" jawab Nanda sembari terkikik geli. "Jangan terlalu lama, ya. Kasihan Arlan nunguin."


***


Manda dan Nanda berdiri di depan gerbang rumah Arlan. Tidak seperti dulu, saat mereka hanya bisa melihat kabut hitam tebal di atas rumah Arlan, kini mereka menyaksikan sebuah makhluk bertangan empat dengan badan setinggi tiga meter, tengah memukul-mukul batas pelindung rumah Arlan.


"Apa itu, Nan?" tanya Manda, meski Nanda sendiri tidak pasti tahu apa yang sedang matanya lihat.


"Rupanya dia sudah memiliki bentuk sekarang. Bahkan, kita bisa melihat mata bernafsunya dan liur menetes dari mulutnya--apa benar itu mulut?" sahut Nanda.


"Apa Arlan dalam bahaya kalau sudah seperti ini?"


Nanda mengangkat bahunya. "Gue lihat, perlindungan itu masih utuh. Yah, walau kita sudah menemukan 'kandang' tempat tumbalnya di simpan."


"Apa mungkin ada 'kandang' yang lain?"


"Bisa saja. Orangtua Arlan kaya. Mereka pasti memiliki beberapa tanah. Masalah kita sekarang adalah makhluk ini yang semakin kuat. Gue sama lo nggak akan cukup kuat melawan dia."


"Kenapa? Tempo hari, kita bisa mengalahkan jin-jin itu, kan?"


Nanda mengangguk membenarkan. "Iya. Memang kita mengalahkan jin-jin itu. Tapi, makhluk ini berbeda dengan jin. Masih ada jiwa manusia yang gue rasakan. Bisa saja makhluk ini bersekutu dengan beberapa iblis."


Manda terkesiap mendengar perkataan Nanda. "Beberapa? Maksud lo, nggak cuma satu?"


"Ya. Melihat perkembangannya yang sangat cepat, pastinya dia mendapat 'makanan' yang diminta iblis-iblis di dalam dirinya. Tidak butuh waktu lama sampai perlindungan ini hancur."


"Apa itu... Kakeknya Arlan?" Manda bertanya lambat-lambat.


Nanda mengangguk sekali. Matanya tidak lepas dari makhluk besar menakutkan di depannya. "Mengerikan. Kakeknya sendiri ingin memakan Arlan."


***

__ADS_1


__ADS_2